DISCLAMER - MASASHI KISHIMOTO

Yuko harap, Yuko nggak ngecewain para pembaca.

Arigatou.

SILAHKAN MEMBACA


Pagi itu adalah pagi yang tenang di rumah minimalis berwarna biru tua itu. Disana lah Hinata dan Kaori tinggal. Hinata memang memilih rumah minimalis bukan karena waktu itu uang nya tidak mencukupi untuk membeli apartemen, hanya saja Hinata berfikir jika rumah akan lebih efektif untuk mereka berdua dari pada apartemen yang mencangkup teknologi modern yang mungkin saja Kaori belum bisa memakai nya.

"Ohayou, Kaa- san. " Sapa Kaori sambil duduk di kursi makan yang tersedia di ruang makan, Kaori lalu mengambil roti dan mengoleskan nya dengan selai Tomat (?). Kaori memang sangat menyukai Tomat, bahkan seprai dan bantal nya saja bergambar Tomat. Hinata pernah bertanya pada Kaori kenapa ia menyukai Tomat, tapi Kaori hanya menjawab nya dengan sangat singkat, seperti "Karena Tomat manis. " atau "Karena Tomat enak. " jawaban- jawaban singkat seperti itu sudah biasa Hinata dapat kan saat ia bertanya pada Kaori tentang Tomat.

"Ohayou mo, bagaimana tidur mu..? " Tanya Hinata sambil tersenyum kepada putra nya itu. Hinata juga mengambil roti, namun ia mengoleskan nya dengan selai strawbery. Hinata memang membeli dua selai karena Kaori menyukai selai yang berbeda dari nya.

"Baik " Jawab Kaori setelah mengunyah roti nya. Hinata memang sudah terbiasa akan sikap acuh tak acuh bocah itu. Biar bagaimana pun ia yang membesarkan Kaori, jadi dia pasti tau sikap Kaori dari luar maupun dalam. Tatapan nya berubah jadi sendu saat menginggat sikap dan rupa wajah Kaori yang sangat mirip dengan ayah nya membuat nya mau tidak mau menginggat sikap ayah Kaori yang sangat menyakiti nya.

"Kaa- san besok kita jadi kan..? " Tanya Kaori dengan tatapan polos nya, mata Hitam yang bulat nya memandang nya dengan pancaran keingin tahuan. Hinata hanya tersenyum dan mengangguk atas jawaban kepada putra semata wayang nya tersebut. Senyum tipis menghiasi wajah Kaori yang tampan. Rambut Hitam Hinata ikut bergoyang saat mengangguk.

setelah itu tidak ada percakapan, suasana sarapan diisi dengan tenang. Kaori selesai makan dan langsung ke rak sepatu untuk mengambil sepatu nya .Hinata berjalan ke arah Kaori, dan berlutut sehingga sejajar dengan tubuh mungil Kaori. Hinata lalu mengambil dasi yang diikat oleh Kaori asal- asalan dan dengan cekatan memasangkan nya kembali sehingga rapi.

"Ne, kau sudah selesai kan. Ayo kita pergi. " Ucap Hinata masih dengan senyum yang terpatri di bibir mungil nya. Hinata mengamit tangan kecil Kaori untuk menuntun nya ke halaman depan yang terparkir oleh sepeda biru yang sering ia gunakan untuk mengantar Kaori ke sekolah atau pun bekerja.

Hinata menaiki sepeda itu dan menunggu Kaori untuk menaiki nya. Mata Merah nya memandang Kaori dengan lembut. Ia bersiap menggayuh sepeda nya sebelum Kaori berucap.

"Jangan melamun lagi seperti kemari. Aku tidak ingin jatuh. Lagi pula aku tidak apa- apa, bukan kah aku sering di sebut seperti itu. Toh, aku sudah biasa mendengar nya. " Ujar Kaori datar di sertai dengan senyuman tipis. Hinata tau di balik kata itu Kaori mengkhawartir kan nya, Hinata mengangguk kan kepala nya serta fokus kembali ke jalanan untuk mengantarkan Kaori ke sekolah TK nya.

.

.

.

.

.

Di jalan, Kaori melihat sepasang keluarga yang sedang duduk di taman dengan sendu. Dari kecil ia tidak mempunyai seorang ayah. Ibu nya tidak pernah menceritakan apapun mengenai ayah nya, ia memang bahagia bersama ibu nya, namun hati nya berkata lain saat melihat keluarga orang yang lengkap.

Kaori menunduk menyebabkan rambut Raven nya menurun hingga menjuntai di kening nya. Kaori hanya mencoba bersikap tegar dan kuat agar ibu nya tidak mengkhawatir kan nya. Ia tidak mau melihat ibu nya khawatir apalagi sampai menangis.

Kaori menatap punggung ibu nya. Ia tau ibu nya sering menangis malam- malam karena ayah nya, ia juga tau ibu nya kadang- kadang melamun di dapur saat memandangi buah tomat, yang ia tau buah Tomat lah buah kesukaan ayah nya, ia juga menyukai Tomat.

CKITTT

Lamunan Kaori buyar saat ibu nya mengerem sepeda nya. Kaori turun dari sepeda dan menuju samping sepeda untuk berpamitan pada ibu nya.

"Belajar yang benar, aku tidak mau kau-, " Ucapan Hinata terpotong karena Kaori memotong nya dengan cepat.

"Jajan sembarangan karena itu tidak sehat. Makan lah bekal karena aku sudah menyiapkan nya. Jangan di buang jika tidak habis. Aku sudah hapal kalimat mu Kaa-san. " Ujar Kaori memotong kalimat Hinata. Kaori berbalik untuk menunggu ibu nya memasukan bekal nya kedalam tas nya.

"Baiklah Kaori- kun. Kaa- san pergi dulu ya. Jaa ne. " Ujar Hinata sambil menepuk rambut Raven Kaori. Kaori menatap sinis ibu nya yang tengah menepuk puncak kepala nya. Setelah itu Kaori langsung pergi berbalik untuk ke kelas nya.

Hinata menatap punggung kecil Kaori dengan sendu. Ia merasakan bayang- bayang ayah dari putra nya mengawasi nya. Entah kenapa hati Hinata mendadak tidak enak, tanpa memikirkan lebih jauh, Hinata segera menggayuh sepeda nya untuk pergi bekerja.

Hinata bekerja di perusahaan Sabaku Corp. Awal nya Hinata memang tidak di terima karena tidak memiliki ijazah, namun karena sang bos yang merupakan 'Teman' nya menguji nya dulu, dan walla, Hinata bekerja menjadi badan keuangan di perusahaan Sabaku.

Hinata mempercepat laju sepeda nya saat melihat perusahaan Sabaku Corp ada di depan mata. Hinata memarkirkan sepeda nya di tempat parkir yang tersedia di halaman khusus parkiran sepeda.

Ada beberapa karyawan yang menyapa nya saat ia berjalan di koridor yang ramai. Hinata memang tidak terlalu di kenal selain seorang Single parent. Hinata melangkah kan kaki nya menuju meja yang sudah menjadi tempat bekerja nya selama 5 tahun. Hinata mendudukan diri nya di kursi sebelum ada suara semangat menyapa nya.

"Ohayou Hinata. Bagaimana kabar mu..? " Tanya Ayame yang sudah menjadi teman kerja nya saat ia menginjakan kaki di perusahan ini.

"Ohayou Hinata. " Tanya suara yang lebih kalem sambil tersenyum. Dia adalah Yugao Uzuki, berbeda dari Ayame, dia adalah teman nya Hinata saat Hinata pertama kali menginjak kan kaki di kyoto, bahkan saat itu Yugao yang membantu Hinata mencarikan rumah.

"Ohayou mo, Ayame- chan, Yugao- chan. Dan aku baik " Jawab Hinata sambil tersenyum. Ayame dan Yugao duduk di tempat kerja nya masing- masing.

"Ne, Hinata, Yugao. Apa kau tau, kudengar perusahaan Sabaku akan kedatangan tamu penting. " Ujar Ayame sambil memutar kursi duduk nya hingga menghadap Hinata dan Yugao yang memang bersebelahan. Ayame memang selalu up to date dalam menerima gosip, jadi wajar saja kalau Ayame selalu tau.

"Hm, tapi aku tidak tau siapa orang nya. " Jawab Yugao yang berbalik menghadap Ayame.

"Aku belum mendengar kabar itu. " Ucap Hinata sambil berbalik mengikuti kedua nya. Ayame dan Yugao berpandangan dan menyirit ka alis nya sebelum menatap Hinata intens yang membuat Hinata salah tingkah.

"Oh Kami- sama, Hinata. Semua orang sekantor sedang membicarakan nya dan kau tidak tau.. " Ujar Ayame sambil menggeleng- gelengkan kepala nya. Hinata hanya mengangkat bahu nya cuek, Toh, itu bukan urusan nya kan.

"Hinata tampak nya tidak teralu peduli. Dan Ayame, itu bukan menjadi urusan mu juga kan. Lagi pula aku binggung kenapa semua orang sekantor membicarakan nya. " Ujar Yugao kalem dengan angkatan bahu nya cuek. Yugao memang kalem, namun jika dia marah, ia bisa menjadi iblis yang siap menerkam siapa saja.

Pernah Hinata melihat Yugao yang mengamuk marah pada Haku karena telah menggoda Hayate, Kekasih nya. Dan bisa di pastikan, Haku terkena bogeman mentah Yugao dan tidak masuk kerja selama seminggu karena di bawa ke rumah sakit akibat tulang nya bergeser di bagian bahu.

Hinata memang tidak terlalu peduli bagaimana sifat teman nya itu, asal dia memiliki teman yang pengertian itu sudah cukup.

"Hei. Disini tempat bekerja bukan tempat mengobrol " Ujar seseorang dengan suara pelan, namun dari perkataan nya sarat akan ancaman. Hinata memutar kursi nya dengan takut- takut. Yugao dan Ayame juga perlahan- lahan memutar kursi nya agar menghadap komputer.

"Gomen Kankuro- sama. Kami tidak akan mengulangi nya lagi. " Ujar Hinata dengan nada yang menyesal. Kankuro menghela nafas mendengar nya, Hinata memang salah satu pegawai kesayangan nya karena selalu mengerjakan tugas nya dengan baik.

"Kali ini kalian aku maaf kan, dan Hinata, kau ke ruangan Presdir sekarang. " Ucap Kankuro tanpa bantahan. Hinata berkeringat dingin mendengar perkataan Kankuro. Ayame dan Yugao menatap Hinata dengan pandangan Gomen- kami- menyesal, Hinata hanya mengangguk kan kepala nya sekali.

Hinata menghela nafas pasrah, toh, ia memang salah. Tapi, kenapa harus ke ruang Presdir segala sih. Hinata mengutuk diri nya berkali- kali, atas apa yang terjadi sekarang. Ia melewati koridor yang akan menuju lift untuk ke ruang Presdir di lantai 12. Di jalan, para laki- laki yang mengenal Hinata -sebatas nama- menyapa nya dengan ramah dan mata berbentuk love. Hinata memang masih cantik di umur nya yang sudah 26 tahun.

Hinata berjalan menuju lift yang sudah ada di depan mata. Ia memencet tombol yang akan membawa nya masuk kedalam lift. Di dalam lift, Hinata mengatup kan kedua tangan nya di depan dada nya dan memejamkan mata nya, dalam hati ia tidak henti- henti nya berdo'a semoga ia tidak di pecat.

TING

lift berhenti di ruang yang ia tuju. Hinata segera keluar dari lift diikuti beberapa orang di belakang nya dengan berbeda tujuan. Hinata berjalan di koridor dengan tampang berkaca- kaca. Dalam hati ia sudah bersumpah tidak akan mengobrol lagi saat bekerja. Hinata menyusuri koridor yang lenggang, tentu saja lenggang karena Hinata saat ini sedang berada di wilayah sang Presdir Sabaku Gaara.

"Oh, Kami- sama. Kenapa cuma mengobrol saja, aku harus di panggil ke ruangan Presdir. " Gumam Hinata dengan mata yang berkaca- kaca. Hinata meneruskan langkah nya menuju ruangan yang ada di depan mata nya. Ruangan Presdir memang ada di ujung koridor, jadi dia harus berjalan sepanjang 30 meter dari lift untuk ke ruangan Presdir yang lenggang itu.

Hinata menguatkan hati nya saat dia berada di depan ruangan Presdir.

TOK TOK TOK

Hinata tidak henti- henti nya berdoa kepada Kami- sama agar tidak di pecat dari pekerjaan nya. Bukan hanya karena gaji yang besar, Hinata juga takut di pecat karena tidak punya ijazah.

"Masuk. " Terdengar suara dari dalam yang membuat Hinata gugup setengah mati, terlihat dari ia yang menggigit bibir bawah nya serta keringat dingin yang keluar dari pori- pori kulit nya. Hinata menguatkan diri nya untuk memegang kenop pintu walau pun dengan tangan yang bergetar. Hinata melangkah masuk dengan kaki yang bergetar karena gugup.

"Hinata" Hinata memejamkan mata dan menundukan kepala nya saat ia di panggil dengan suara datar sang Presdir.

"Kau akan menjadi orang yang akan menemani Uchiha Sasuke selama Uchiha- san disini. " Lanjut nya membuat Hinata terbelalak.

"Uchi-ha Sa-su-ke. " Hinata mengeja nama sang Uchiha bungsu lamat- lamat.

"Hn. " Ujar seseorang dari sofa samping, membuat Hinata memalingkan kepala nya ke asal suara. Disana, seorang yang menjadi masa lalu nya kembali, duduk bersandar di kursi yang nyaman dan pasti nya mahal . Memakai kemeja putih bergaris dan jas yang di sampaikan di pinggir kursi. Duduk angkuh dan menatap remeh Hinata.

Hinata meremas gugup baju kemeja yang di kenakan nya demi menetralisir rasa gugup nya. Rasa itu datang lagi, rasa yang selalu datang saat sang Uchiha bungsu ada di dekat nya. Rasa yang membuat nya tidak nyaman. Hinata menundukan kepala nya agar mata nya yang berkaca- kaca tidak terlihat oleh orang yang ada di ruangan itu.

Perlahan suasana yang tenang berubah mencekam saat Uchiha bungsu itu menatap Hinata remeh.

"Baiklah, Sabaku- sama. Saya akan keluar jika tidak ada hal yang akan di sampaikan lagi. " Ujar Hinata membungkuk kan badan nya namun sebelum itu, sang Uchiha berkata dan membuat Hinata berhenti seketika. "Temui aku ketika makan siang. Aku ingin berkeliling di kota ini " Ucap Sasuke dengan memperhatikan tubuh Hinata dari atas sampai bawah, membuat Hinata risih karena merasa di pandangi.

.

.

.

.

.

Hinata melangkahkan kaki nya keluar dari ruangan Presdir dengan mata berkaca- kaca, dia berniat ke toilet dulu sebelum pergi ke ruang kerja nya. Hinata berjalan dengan kaki yang seperti terseret paksa. Ia memang tidak ada niat sama sekali untuk kerja setelah mood nya rusak seperti sekarang. Hinata melangkahkan kaki ke arah kiri saat ia melihat palang tanda Toilet yang mengarah ke kiri.

Hinata masuk ke dalam Toilet dengan perasaan kacau. Hinata melangkahkan kaki nya menuju wastafel yang ada di kamar mandi di sana. Ia melihat pantulan diri nya di cermin, Mata yang merah dan berkaca- kaca, rambut Hitam dengan model Ponytail, Hidung yang kemerahan karena menahan tangis, Pipi yang chubi walau umur nya sudah bisa di bilang dewasa. Hinata menghapus air mata yang mengalir di sudut mata nya. Hinata menguatkan hati nya untuk menerima apapun yang terjadi. Hinata merapikan baju nya sebelum melangkah keluar Toilet.

Hinata berlari dengan gelisah saat jam sudah menunjukan pukul 10.15, ia benar- benar menyesal karena begitu lama di dalam Toilet.

BRUKK

Hinata terjatuh saat ia menabrak orang secara tidak sengaja, ia jatuh terduduk dan orang itu pun tidak berbeda jauh dengan nya. Hinata segera mendekat dan berjongkok untuk merapikan kertas yang terjatuh karena tadi ia tabrak

"Ah, Gomen. Saya tidak sengaja. " Ujar Hinata dengan buru- buru tanpa melihat siapa orang yang di tabrak nya. Hinata memang terlihat buru- buru sekali. Selain karena tugas ia akan menemani sang Uchiha bungsu makan siang, Hinata juga harus mengecek bagian daftar keuangan. Biar bagaimana pun, Hinata bukan orang yang menyerahkan tugas kepada orang lain, walau ia sendiri mempunyai tugas yang lebih penting.

Hinata membantu orang yang di tabrak nya untuk merapikan kertas yang tadi sempat terjatuh karena ia tabrak.

"Pakai mata mu saat berjalan, Hinata- san. " Ujar seseorang dengan suara datar yang membuat Hinata berkeringat dingin. Hinata mengangkat kepala nya menatap orang yang sedang menatap diri nya tajam, sang bungsu Uchiha AK.A Uchiha Sasuke menatap Hinata tajam karena menabrak nya yang sedang membawa laporan map untuk di serahkan ke Presdir Sabaku sebagai kerja sama proyek baru. Hinata menundukan kepala nya kembali setelah ia tau siapa yang di tabrak nya, Hinata menggigit bibir bawah nya dan melanjutkan kembali memunguti kertas yang berserakan. Hinata hendak mengambil kertas yang ada di dekat kaki sang Uchiha, namun Uchiha itu juga ingin mengambil nya, tangan nya bersentuhan dengan sang Uchiha. Dan saat itulah cupid yang ada di tengah- tengah antara mereka tersenyum .Hinata segera menarik tangan nya kembali dan dengan cepat menunduk. Mata nya terasa panas, air mata sudah menggenang di pelupuk mata nya.

Hinata menyerah kan kertas- kertas itu kepada sang Uchiha. Sang Uchiha berdiri dan pergi tanpa memperdulikan Hinata yang masih berjongkok. Hinata segera berdiri dan memejamkan mata nya agar air mata tidak terjatuh dan mengalir dari sudut mata nya.

"Tunggu aku di cafe seberang perusahaan. " Ujar Sasuke sebelum hilang di tikungan koridor. Dan setelah itu Hinata benar- benar tidak bisa menghentikan air mata yang mengalir di sudut mata nya. Ia segera menghapus air mata nya dan mulai melangkah untuk ke cafe yang tadi di sebut kan oleh sang Uchiha.

Hinata menginggat kembali masa lalu nya. Masa lalu yang mungkin saja terlalu kelam untuk di ingat. Masa lalu yang melahirkan seorang anak bernama Kaori. Ya, masa lalu nya bersama sang Uchiha bungsu.

TING

bunyi lift terbuka membuat Hinata tersadar dari lamunan nya. Hinata melangkahkan kaki nya masuk ke dalam lift. lift kosong, tidak ada siapa siapa disana. tepat saat Hinata hendak menekan tombol untuk menutup lift, sosok itu muncul. Hinata mematung melihat nya, air mata kembali menggenang di pelupuk mata nya .Sasuke masuk ke dalam lift tanpa menghiraukan Hinata yang mematung. Sasuke langsung menekan tombol untuk menutup lift. Lift tertutup, menyisakan dua orang yang sama- sama kenal namun tertutup oleh masa lalu. Hinata segera melangkah mundur agar tidak berdampingan dengan Sasuke.

"Hinata- san. " Ujar Sasuke membuat Hinata mendogkak melihat nya. Pandangan mereka bertemu. Hitam bertemu Merah. Onyx bertemu merah semerah batu Garnet.

"Kau terlihat pucat. " Lanjut Sasuke memperhatikan wajah Hinata yang pucat. Hinata hanya tersenyum hambar mendengar nya.

"Kulit ku memang pucat. " Ucap Hinata dengan menundukan kepala nya.

"Hn. " Ujar Sasuke. Tidak berapa lama setelah itu Sasuke menerima panggilan, entah dari siapa, yang Hinata dengar hanya ucapan singkat seperti "Ya" atau "Hn", Hinata menundukan kepala nya saat panggilan itu berhenti.

"Hinata- san. Kurasa acara berkeliling kota ini batal. " Ujar Sasuke pada Hinata. Hinata hanya mengangguk kan kepala nya sekali sebagai jawaban. Tidak lama setelah itu lift berbunyi tanda mereka sampai. Hinata segera melangkah kan kaki nya keluar dari lift. Kepala nya terasa pusing saat ini, ingatan masa lalu nya kembali berputar seperti kaset yang rusak di kepala nya.

BRUKK

Hinata mundur beberapa langkah saat ia menabrak seseorang yang didepan nya, ia merutuk diri nya -lagi- beberapa kali saat ia menabrak orang -lagi.

"Hinata- san. " Ujar seseorang membuat Hinata mendongkak, di depan nya Kankuro berdiri dengan beberapa map warna- warni yang ada d tangan nya, Kankuro menatap Hinata curiga sebelum menghela nafas panjang.

"Gomen, Kankuro- sama. " Ujar Hinata menunduk hormat pada Kankuro. Kankuro menghembuskan nafas panjang pada kelakuan pegawai yang menjadi kesayangan itu.

"Sudahlah, toh aku tidak apa- apa kan. Dan Hinata- san, kau terlihat pucat. " Ujar Kankuro menyentuh pipi Hinata, Hinata yang merasa risih akan perlakuan Kankuro memalingkan wajah nya ke samping.

"Tidak, kulit ku memang pucat. " Ujar Hinata memandang mata Hitam Kankuro. Hinata memang merasa sedikit pusing karena tiba- tiba orang dari masa lalu nya datang kembali ke kehidupan nya.

"Tidak Hinata, lebih baik kau pulang. Aku tidak ingin pegawai kesayangan ku sakit. " Ujar Kankuro dengan menarik tangan Hinata dan menarik nya ke loby depan. Hinata berusaha memberontak dari cekalan Kankuro, namun apa daya.

"Ah aku lupa, kau membawa sepeda ya. Mhn, lebih baik aku menyuruh pegawai lain mengantar sepeda mu ke rumah mu sendiri dan kau pulang dengan mhnn-, " Kankuro bergumam sendiri tanpa melepaskan tangan nya dari Hinata, Hinata berusaha memberontak dengan memukul tangan Kankuro, namun semakin kuat ia memberontak, semakin kuat pula cekalan nya.

CKITT

mobil ferrary f12 berlinetta berwarna Hitam terparkir di depan nya dengan anggun. Kaca pinggir mobil itu di buka, membuat Kankuro dan Hinata tau siapa yang ada di dalam nya. Sasuke Uchiha duduk dengan rapi di mobil itu. Hinata semakin mencoba memberontak dari cekalan Kankuro, namun Kankuro semakin mencekal tangan Hinata hingga membuat tangan wanita itu memerah.

"Anda mau kemana, Uchiha- sama..? " Tanya Kankuro berbasa- basi pada Sasuke. Sasuke mengacuhkan nya dan malah menoleh ke arah intensitas yang berada di belakang Kankuro.

"Kenapa kau menarik nya seperti itu, Kankuro- san..? " Tanya Sasuke datar dengan mengarahkan dagu nya ke arah Hinata yang sedang memukul- mukul tangan Kankuro. Ia mencoba memberontak dari genggaman Kankuro mulai dari memukul, menarik bahkan ia mencoba menggigit nya namun ia urungkan karena siap- siap saja terima surat pemecatan.

"Ah, Hinata. " Hinata yang sedang menarik tangan nya hanmpir terjatuh karena Kankuro tiba- tiba melepas nya, beruntung ia mempunyai Refleks yang bagus.

"Dia sedang sakit, jadi aku ingin menyuruh beberapa karyawan ku untuk mengantar nya. " Ujar Kankuro menatap Hinata yang sedang memegangi pergelangan tangan nya yang memerah karena di tarik terlalu kuat oleh Kankuro.

"Bagaimana di dengan ku saja. Kebetulan aku ingin pulang, jadi aku bisa sekalian mengantar nya walau kami berbeda arah, mungkin. " Ujar Sasuke pada Kankuro dengan menunjukan seringai tipis di wajah nya. Kankuro tampak menimbang- nimbang dan mencekal lengan Hinata ketika Hinata ingin beranjak pergi.

"Baiklah, kurasa itu bagus. " Kankuro menoleh kan wajah ke belakang nya. Hinata menggeleng tidak setuju.

"Tidak, aku tidak sakit Kankuro- sama. " Hinata berucap pelan pada Kankuro.

"Tidak Hinata- san. Kau sakit jadi kau harus pulang. " Ujar Kankuro tegas pada Hinata. Ia menarik -menyeret- Hinata menuju pintu mobil di samping Sasuke. Kankuro juga mendorong Hinata duduk sigap di kursi nya.

"Baiklah, Jaa- " Ujar Kankuro melambaikan tangan nya pada Sasuke saat ia sudah menutup pintu nya. Kankuro tidak tega saat Hinata tampak memelas melihat nya saat ia menutup pintu mobil itu.

"Ah, aku lupa harus menyerahkan map ini sebelum rapat. Oh tidak, lima menit lagi. " Ujar Kankuro menatap horor jam tangan nya, Kankuro langsung berlari ke arah lift di dalam perusahaan.


Mobil itu berjalan dengan kecepatan sedang. Tampak dua orang berbeda gender yang sedang duduk diam di dalam. Hinata sedang menatap ke lauar jendela, rasa nya ia tidak mampu untuk menatap ke arah Sasuke. Sasuke sendiri terlalu acuh untuk menatap ke arah Hinata.

Ia serasa ingin menangis saat menatap orang di sebelah nya -Sasuke. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata nya saat ingatan nya memutar tentang pria yang di di sebelah nya itu.

"Dimana rumah mu..? "

"Dimana rumah mu. "

memori itu mengulang kembali bagai kaset yang terputar dengan rusak. Bahkan nada ucapan nya tidak berubah masih sama seperti dulu.

"Berhenti di dekat toko swalayan saja di depan. " Ujar Hinata dengan pelan, Hinata hanya takut kalau nada bicara nya bergetar. Sasuke mengerutkan kening nya heran atas sikap Hinata. Sikap nya seolah menunjukan penolakan secara tidak langsung.

"Kenapa tidak ke rumah mu saja..? "

"Kenapa tidak ke rumah mu saja..? "

perkataan dari nya masih sama seperti dulu. Hinata tersenyum miris saat terbayang wajah Sasuke saat mereka pertama bertemu.

"Aku ada urusan di toko swalayan. " Ujar Hinata masih dengan pandangan yang terfokus ke luar jendela. setitik air mata mengucur dari mata nya, Hinata buru- buru menghapus nya agar tidak terlihat oleh Sasuke. Hinata merutuk diri nya kenapa ia begitu cengeng.

CKITT

mobil itu berhenti di toko swalayan yang buka 24 jam. Hinata berniat turun jika Sasuke tidak menghentikan nya.

"Hinata- san, apa besok kau ada waktu luang..? " Tanya Sasuke yang sedang mencekal lengan Hinata. Hinata berbalik dan menggigit bibir bawah nya.

"maaf, tapi besok aku ada acara. "

"Oh, mhhn, aku menawarkan mu besok malam, bagaimana..? " Tanya Sasuke tetap kekeh atas pendirian nya. Hinata tampak menimbang- nimbang sejenak atas tawaran Sasuke yang cukup menggiurkan itu.

"Sekertaris ku tidak bisa di ajak ke pesta kolega besok, jadi yah, Sabaku mempercayakan kau untuk mendampingi ku. " Lanjut Sasuke buru- buru takut Hinata berpikiran macam- macam.

"Baiklah. " Ujar Hinata pasrah, dia segera melepaskan tangan Sasuke dari tangan nya dan mulai memasuki toko swalayan itu. Mobil Sasuke melaju setelah Hinata keluar dari mobil.

Sasuke merutuk diri nya, bisa- bisa nya ia menawarkan orang lain yang baru ditemui nya sekarang untuk ke pesta kolega. Ia benar- benar di luar kendali diri nya, awal nya saat ia bertemu dengan Hinata di ruangan Gaara, Sasuke hanya melihat tubuh nya saja. Namun ketika ditabrak oleh Hinata di koridor perusahaan, ia baru menyadari bahwa suara Hinata mirip dengan suara 'Hinata'- nya.

Sasuke memberhentikan mobil nya dan membuka Dasbor mobil nya, ia mengambil sebuah figura. Didalam foto itu, seorang gadis yang mempunyai warna mata keperakan lavender dan rambut indigo dan sang pria yang mempunyai mata Onyx dan rambut raven. Sasuke dan 'Hinata' waktu itu sedang ada di taman untuk kencan, Hinata yang berpose ria dengan membentuk huruf V oleh jari nya sedangkan Sasuke sedang mencium pipi Hinata.

Sasuke mencium pipi Hinata pada saat hitungan terakhir foto, jadi disana ada wajah Sasuke yang sedikit merona dan Hinata yang setengah kaget. Sasuke tersenyum melihat figura itu, ia mengusap lembut gambar Hinata yang sedang kaget di figura itu. Sasuke benar- benar menyesal mengatakan 'itu' hingga 'Hinata'- nya pergi.

ia benar- benar diluar kendali diri nya saat ia mengajak untuk pesta kolega, hanya karena suara nya yang mirip dengan 'Hinata' -nya ia jadi berlaku seperti itu pada orang lain yang kebetulan nama dan suara nya sama.

Sasuke menghela nafas dan menaruh figura itu di dalam Dasbor kembali. Ia mulai melajukan kembali mobil nya untuk mencapai apartemen yang di sewa nya selama ia disini.


Yuko mau balesin yang Review nih.

Nafita 137 : Di chapter depan bakalan di jelasin.

Coro- chan : Ini udah Update kok. Makasih udah Review.

Mufylin : Hahaha, Yuko juga berharap bakalan nguras air mata, tapi mungkin menguras air mata nya bakalan di chapter depan. Makasih udah Review.

RisufuyaYUI : Ya begitulah, arti nya diambil dari bahasa perancis yang arti nya tidak pernah mengharapkan. Jadi Hinata itu tidak pernah berharap, ia macoba melawan arus dengan bertahan pada kepercayaan nya bahwa kehidupan selanjut nya akan lebih baik. Niat nya Yuko mau ngasih tau tema nya di chapter depan, tapi yaudah deh . Makasih udah Review.

Hyou Hyouichiffer : Makasih udah ngasih tau, dan soal spasi, Yuko nggak srek rasa nya kalo nggak pake spasi. Makasih udah Review.

Yola- ShikaIno : Ya, Yuko udah panjangin kok. Makasih udah Review

Thanks for = Nafita 137, Coro- chan, mufylin, RisufuyaYui, Hyou Hyouichiffer, Yola- ShikaIno. yang udah Review, jangan lupa Review lagi ya.

yang membaca harap Review Ya.