Chalice : *guling-guling* Chalice back di TSPLS (singkatannya gak elit amat) X3, maaf kalau cerita chalice gaje X3

Kali ini giliran Len dan Rin!

Len : *sigh* apakah aku akan mati?

Chalice : Yup! manis bukan XD mukamu yang imut, badan mungil yang cantik dan tinggal dikasih bumbu merah di badanmu X3

Len : *merinding* he, hei... ini rated T bukan M...

Chalice : ya udah, tinggal di ganti, susah amat sih XD.

Len & Rin : 'Terlalu santai...dasar...'


BALASAN REVIEW :


Kuro 'Kaito' Neko :

Benarkah? baguslah kalau fav pairing semua XD.

Ah, pengennya buat mereka kissu cuman kaga jadi, nanti kepolosan Piko dan Miki berhenti sampai situ lagi XD chalice suka dengan Piko yang polos XD.

Sudah update,

Terimakasih atas reviewnya, nya~ *ikutan bilang 'nya'*


Kazumi20 :

Chalice juga ketawa waktu ngetiknya XD

terimakasih atas reviewnya~.


Saitou Kemiko-Arishima Joruri

Salah Len banyak! dia sudah menolak cinta chalice, makanya chalice menyuruh Rin bunuh Len XD HAHAHA *ketawa psikopat lalu kena lempar kaleng sarden*

LONL belum bisa... ide buntu sementara dan waktu tidak mendukung, ngelanjutin nih Fic aja setengah mati *pundung* musti rebutan dengan kakak dan adek.

Sudah update~

terimakasih atas reviewnya~


Yatogami Kuroh Hana :

Iya, sebenarnya pengen buat dia jadi maid cuman udah ada Haku, Iya, mereka beneran Shota yang gemesin XD

makanya itu chalice buat perampok itu ketangkep soalnya mereka muntah-muntah lihat Lenny XD.

Kelihatannya Pairingnya dari terkecil sampai terbesar, Chap selanjutnya DellxHaku XD habis itu KaitoxMiku, bersabar ya XD,

sudah update

terimakasih atas reviewnya


Chalice : Disclaimer : Vocaloid kalau milik chalice, Oc chalice bakal saya jadiin Vocaloid (mimpi kebesaran) tapi sayang tuhan berkehendak lain, Yamaha dan crypton lah yang punya.

Warning : GaJe, abal, aneh, TYPo, kesalahan mengeja EYD, Lebay, Kaga jelas, kaga nyambung, bahasa campur, dll.

main pairing this chap : LenRin.

Note : Semua Chap di Fic ini selalu Author POV kecuali kalau ada tulisan POV untuk chara lainnya XD.

Genre : Romance, Fantasy, Slight Gore(maybe, atau mungkin Gore bukan Slight), Dll (chalice bingung mau tambahin apa lagi #gaploked)

~Happy Reading~


Prologue Chap : Siapa yang kenal Len di kota VocaVoca? semua gadis disana mengenalnya, karena ketampanan, ke narsisannya, ke pintarannya lha yang membuatnya terkenal, tapi bagi Kerajaan lain atau bangsawan yang ingin menggulingkan Kerajaan VocaVoca, bagi mereka Len adalah penghalang yang musti dibunuh karena kharismanya yang diatas saudara-saudaranya.

mari kita lihat kisah Len yang suka mempermainkan perempuan bertemu cinta sebenarnya?


Chap 2 : The prince and The assasin.


Tepat malam hari jam 12 malam.

di istana VocaVoca (?).

Di depan sebuah pintu.

Terlihat 2 penjaga berada disana.

Tap...Tap...

datang seorang penjaga alias penjaga patroli (?)

"Apakah aman?" tanya penjaga patroli itu.

"Iya tuan, Pangeran keenam aman, tidak ada tanda-tanda mencurigakan" ucap dua penjaga itu.


-lets see inside this door-

"Lalalala~~" terlihat Len sedang membaca majalah playboy (the hell! abad pertengahan ada majalah playboy?!) "Ah~ aku sudah mengalahkan tokoh utama majalah playboy ini, dia ada 500 aku ada 700 (gile! ini mah playboy cap kakap atau playboy profesional (?))" ucapnya dengan santai.

Dibelakang Len terdapat seseorang memakai jubah berkerudung, yang berjalan tanpa suara dan memegang sebuah pedang.

"Aku tahu kau ada disitu" Ucap Len menganggetkan orang itu.

GREEEK!

Len memutar arah Bangkunya (kaya bangku buat main komputer itu lho yang ada rodanya itutuh,eh... kok ada yang kaya gitu di jaman ini?/ reader : Udah ngaco nih fic! dasar author sarap!/ Chalice : udah anggep aja jaman ini ada, namanya juga fiksi =3=/ Reader : *ngebacok chalice*)

"Nona Pembunuh" ucapnya dengan senyuman.

Ucapan Len membuat pembunuh itu kaget.

orang itu melepaskan kerudungnya, terlihat gadis berambut honeyblond, bermata azure, memakai pita di kepalanya.

"Kenapa kau tahu aku ini wanita dan tahu kehadiran ku? padahal aku yakin tadi berjalan tanpa suara dan menghilangkan aura keberadaan ku" ucap gadis itu bingung.

"Aku tahu kau wanita karena kerudungmu ada bentuk kaya pita kelinci itu jadi aku tahu kau wanita karena kalau cowo kaga mungkin pakai pita, bukan~~ dan aku tahu keberadaanmu karena hanya insting~~" ucap Len dengan senyuman bak matahari.

Gadis itu hanya tersenyum dan berjalan pelan ke arah Len.

"Kau manis sekali ya, kalau dilihat-lihat walau ruangan ini gelap tapi aku yakin kau anak yang manis~" ucap Len sambil tetap tersenyum dan menopang dagunya

Len bukannya mundur atau kabur dia hanya duduk dengan tenang sambil bertopang dagu dan tetap melihat gadis itu berjalan perlahan kearahnya.

"Karena aku sudah ketahuan, tanpa keraguan aku akan membunuhmu dengan cepat!" ucap Gadis itu (dia kaga teriak, takut penjaga mendengarnya) dan mengayunkan pedangnya kearah Len.

Len dengan sigap menghindarinnya dan menarik tangan gadis itu dan menaruhnya dibelakang badan gadis itu.

"cih!" decih gadis itu.

"Waw~ kulitmu halus sekali~~~" ucap Len.

Gadis itu hanya menampilkan kata Terus-apa-masalah-lu-kalau-kulit-gua-halus?! (pembunuh gaul XD *di tebas*)

"Le...lepaskan tanganku" omel gadis itu dengan amarah.

Len membalikkan tubuh gadis itu (hah? gimana caranya? emang ini pemagangan daging apa? *di bunuh reader*)

dan mendorong gadis itu jatuh dan tetap memegang (baca : mengikat tangan gadis itu dengan tangannya (?)) tangan gadis itu diatas kepala gadis itu.

posisi Len ada di atas gadis itu.

"Hm~~ aku penasaran rasa bibir pembunuh manis seperti apa ya?~" ucap Len dengan suara menggoda.

Gadis itu menatap Len dengan pandangan horror.

"Sa...sampai kau menciumku... aku..tida..k menanggung akan membunuhmu dalam detik itu juga!" ancam gadis itu.

"Kita lihat saja~~" ucap Len dan mendekatkan mukanya ke gadis itu.

Chu!

Len mencium gadis itu.

"!" Gadis itu kaget dan dengan kekuatan yang entah dapat dimana dia berhasil melepaskan tangannya dan...

"Kyaaa!" pekik gadis itu dengan pelan (hah?)

PLAK!

Len mendapatkan jiplakan tangan gratis di mukanya.

"Baka! Lihat saja! aku akan membunuh suatu saat!" teriak gadis itu dan hendak loncat dari jendela.

"Hei!" panggil Len.

Gadis itu menoleh ke Len.

"Apa?" tanya gadis itu sinis.

"Aku punya permainan untuk mu" ucap Len.

"Apa itu?" tanya Gadis itu.

"Kau musti jadi kekasihku" ucap Len.

"Whaat?! hell no!" pekik gadis itu dan menyilangkan tangannya berbentuk X.

"Bukannya kau bisa leluasa membunuhku? kalau kau berhasil membunuhku kau menang, tapi kalau kau gagal kau mendapat hukuman dari ku~ setuju kaga~?" tanya Len.

Terlihat gadis itu menimbang-nimbangkan permainan yang di berikan Len.

"Baiklah, aku setuju, tapi karena aku bisa leluasa dapat membunuhmu bukan karena aku su, suka dengan mu lho!" teriak gadis itu dan terlihat gadis itu terdapat semu merah di wajahnya.

"Oke deal! kita akan bertemu besok di air mancur kota~ oh ya, siapa namamu?" tanya Len.

"Rin, Rin Kagamine" ucap gadis itu.

"Jaa ne, Rinny~" ucap Len dengan senyuman.

Terlihat Rin mengeluarkan semu merah di pipinya lalu membuang mukanya.

"Pangeran yang aneh" ucap Rin dan loncat keluar.

Len di ruangan gelap itu hanya tersenyum lembut.

'Gadis yang manis dan berbeda dengan yang lain, gadis yang sangat menarik" ucapnya sambil tersenyum dan memegang bibirnya.

"Ah~ first kiss ku di ambil gadis itu~~ tapi kaga apa dah~ aku rela, soalnya gadis itu menarik, sih~~" ucap Len sambil tersenyum.


Di lorong istana terlihat para penjaga cengo.

"Rinny~~~~ Ayo sini~ kenapa malu-malu memegang tanganku~?" tanya Len sambil mengandahkan tangannya,

"Umm... tapi aku malu memegang tangamu, pangeran len" ucap Rin sambil menutup mukanya yang memerah (akting bohongan) 'Sial! masa aku harus memegang tangannya, go to hell, six prince bastard!' batin Rin dengan bahasa kasar,

Semua penjaga disana langsung matanya keluar lope-lope melihat Rin seperti itu

'Uwaaah Manisnya! ini pertama kalinya kami melihat gadis semanis ini dibanding Luka megurine!' Batin mereka semua.

"Aw~ Rinny tidak usah malu-malu~" ucap Len dan menggenggam tangan Rin.

Rin hanya diam saja dan memberi death glare ke Len.

'Len... bisakah kita ke lorong yang sepi?" tanya Rin dengan senyuman mautnya.

"Tentu saja, Rinny~ kawaaaii~~~" teriak Len dan memeluk Rin.

PLETAK!
Len mendapat jitakan maut dari Rin.

Semua penjaga hanya cengo.

"Kau... beraninya memelukku!" bentak Rin kesal 100 oktaf (?).

"Aw~ Rinny malu-malu~~" ucap Len.

GREP!

Kerah baju Len di tarik Rin dan Rin menyeret Len kesuatu tempat.

Semua penjaga hanya cengo.

Para gadis yang menjadi kekasih Len hanya diam dan melihat dengan pandangan cemburu.


JLEB!

Len hanya tersenyum santai walau di sampingnya ada pisau nancap di dinding.

"Beraninya kau memelukku, kemarin kau mencium paksaku sekarang peluk! Kau akan kubunuh!" Teriak Rin kesal.

"Aw~ Aw~ Rinny manis sekali kalau marah~ aku jadi suka ngelihatnya~ tapi bagiku Rinny kalau tersenyum pasti manis~" goda Len.

Terlihat muka Rin memerah mendengarnya.

"Aku mengikutin permainan apa kaga jelas ini untuk membunuhmu, Len Shion! ingat bahwa aku ini adalah assasin yang di perintahkan seseorang!" teriak Rin dan menyeran len dengan pisau yang ia pegang ke Len.

JLEB!

Lagi-lagi Rin gagal membunuh Len, Pisau tersebut nancap di dinding tersebut, Len berada di belakang Rin.

"Kau gagal membunuhku~ kau mendapat hukumannya" ucap Len dengan nada menggoda.

Terlihat 4 siku-siku numbuh di kepala Rin.

"Aku tidak akan gagal kali ini! terimalah ini! hiat! hiat!" teriak Rin dan menyerang Len secara beruntun.

Dengan cekatang Len menghindarin serangan itu dengan cepat.

"Kau gagal lagi, gagal, gagal, hmm... ini sudah berapa ya?" ucap Len sambil menghitung dan menghindarinnya.

"Ah~ udah 5 kali~ tapi kaga apa ku hilangkan 4 jadi.. kau kena hukuman 1 kali saja, kasihan kamunya" ucap Len sambil tersenyum.

"Heh!" Terdengar Rin tersenyum sinis.

"JANGAN MEREMEHKANKUUUU, LEN SHIOOOON!" teriak Rin dan membalikkan badannya dan menyerang pedang pisaunya ke arah Len.

GREP!

Len memegang tangan Rin yang ada pisaunya dan taruh tangannya keatas seperti orang mau mengatakan "BANZAI!" cuman ini satu tangan.

Chu!

Lagi-Lagi Rin di kissu Len.

Rin kaget dengan serangan mendadak itu.

klontang.

Pisau yang Rin pegang jatuh di lantai karena shock.

Len melepaskan bibirnya yang bertaut dan melepaskan genggaman tangan rin.

"Hmm... rasa jeruk~" ucap Len sambil menjilat bibir bawahnya.

Rin hanya bermuka blushing mendengarnya.

"KYAAAAAAAAAAAAA! YOU ARE A BAKAAA!" teriak Rin dan menampar Len.

PLAK!

Alhasil Len mendapatkan jiplakan Tangan di pipinya lagi...

poor Len...

Rin segera lari dengan cepat alias pergi dari situ.

Len hanya diam saja dan memegang pipinya yang ada jiplakan tangan gratis.

"Hmm... seperti biasa, Rinny sangat menarik dan manis" ucap Len sambil tersenyum.

Len melihat pisau yang Rin pakai tadi untung membunuhnya, dan ia mengambilnya.

"Hm~ hm~ Aku simpan ah, pisau ini~ pisau yang Rinny pegang~ aku buat jadi kenangan ah~" ucap Len dan pergi kesuatu tempat sambil memutar-mutarkan tuh pisau (Chalice : Gile! kaga takut apa kena tusukan tuh pisau?!)


Rin berlari keluar dari istana dan menuju ke suatu tempat dengan kecepatan tinggi.

Rin berada di depan gerbang sebuah rumah bangsawan yang megah.

CKLEK! KREEET!

Rin membuka gerbang itu dengan badan gemeteran dan menutupnya lagi

'A, Apakah aku akan dihukum tuan muda karena gagal membunuh Len Shion itu?' batinnya dan berjalan dengan ketakutan dan menuju ke pintu depan mansion itu.

CKLEK!

Rin membuka pintu itu, tiba-tiba di depannya terdapat seorang lelaki berambut Kuning bersama gadis berambut sama dengannya cuman diikat kesamping.

"Rin! apakah kau sudah membunuh Len Shion itu?!" teriak Lelaki itu

"Be, Belum, Nero-sama... Aku gagal... tapi aku janji aku akan membunuhnya besok!" ucap Rin dengan mantap.

"Kau... kemarin kau membawa kabar kau gagal hari ini gagal, dasar!" umpat Nero dan mengeluarkan cambuk.

PLETAK!

Rin mendapat cambukan keras ke tangannya sehingga berdarah.

PLETAK! PLETAK! PLETAK! PLETAK!CTAR! CTAR!

Rin terus di cambuk Nero tanpa ampun.

"Ma..afkan saya.. tuan..Nero..." ucap Rin sambil terus di cambuk Nero.

"Jangan di beri ampun, tuan Nero. dia dengan santainya minta ampun padahal dia gagal ngebunuh pangeran keenam itu!" ucap Neru.

Nero mendengarnya mengangguk dan terus mencabuk Rin.

"Kau ingat Kau adalah budak yang kami beli di pasar budak dan membesarkanmu saat kau berumur 7 tahun jadi kau harus membunuh len Shion, dia adalah musuh yang sangat susah sebelum kita menghancurkan kerajaan VocaVoca!, jadi kalau kau belum membunuh Len Shion kau tidak boleh pulang!" omel Nero sambil terus mencambuk Rin.

"Mengerti?" tanyanya dan menghetikan cambuknya.

Rin badannya penuh luka, bajunya tercabik-cabik, pipinya berdarah dan dengan takut dia mengangguk.

"Bagus, sebelum pergi ganti baju mu itu" perintah Nero.

Rin dengan takut mengangguk dan pergi kesuatu tempat.

'Dasar, budak tidak berguna." umpat Nero.

"Neru" panggil Nero.

"Ya, Tuan Nero?" tanya Neru.

"Kalau Rin belum kembali dalam 3 hari tugas ini kuberikan kepada mu" ucap Nero

Neru yang mendengarnya mengangguk "As you wish, Sir" ucap Neru.


Malam hari, di istana.

SRAK! JLEB!

Len kaget dengan apa yang terjadi dan dengan untungnya dia berhasil menghindar dari serangan mendadak itu, alhasil kasurnya yang terkena mata pisau tersebut, Len dengan tenang melihat siapa pelaku tersebut.

"Rinny? Kau pintar juga menyerangku saat aku tidur~ My~my~ gadis yang nakal~" Ucap Len dengan senyuman manis.

Tapi senyuman itu terganti melihat tatapan Rin.

Tatapan Mata Rin adalah tatapan mata sang pembunuh.

kini Raut wajah Len adalah tatapan serius yang jarang ia keluarkan.

"hmm... jadi begitu ya" ucap Len dan dia segera menendang Rin sehingga Rin terpental dan terjedot Meja.

DUAK! BRAK!CRING!

Len mengambil pedangnya

"Ini bukan saatnya bermain-main yakan? kali ini saat yang serius, aku akan serius jadi aku tidak menanggung kau mati karena kau tidak hati-hati. " ucap Len sambil memasang kuda-kuda.

"..." Rin hanya memilih diam dan mengeluarkan sebuah katana di pinggangnya.

"Eh? Katana? mari kita lihat mana yang menang, Katana atau Pedang" ucap Len dengan senyum sinis.

"..." Rin hanya memilih diam dan berlari ke arah Len dan...GOOOL! kini skor 1 : 0!*chalice dibunuh reader*


~Break Time~

Reader : Dasar author sarap! bukannya nulis yang bener, malah bercanda-canda!

Chalice : Gomen... habis kebiasa, kalau tegang-tegang maunya bercanda melulu =A=V

Reader : *buang semua kaleng sarden dan ikan bandeng presto punya chalice*

Chalice : IKAAAAN KUUU! *kena timpuk kaleng*

~Back to Story~


~Replay ~

"..." Rin hanya memilih diam dan berlari ke arah Len dan menyerang Len dengan katanannya.

CRANG! TRING! TRANG!

Terdengar suara adu pedang di kamar itu, tapi anehnya tuh... suara adu pedangnya kencang tapi kok penjaga di luarnya kaga nyadar ya?

mari kita pindah lokasi *plak*


-di luar-

"Uwaah! aku kalah lagi!" teriak penjaga 1.

"Hahahaha aku menang" ucap Penjaga 2.

"Ayo kita main uno (?) saja! main poker mulu bosen, udah 100 hari kita main poker nih!" ucap Penjaga 1 kesal.

"Benar juga ya, yaudah ayo kita main uno (?) dan pakai baju item lalu main uno (?) 100 hari (Lu kata mau melayat hah? memang ada yang mau mati? / Len : Gua kan yang mati? / Chalice : Kaga, si Rinny yang bakal meninggal Xp / Rin : *bakar ikan-ikan persediaan makan chalice lalu kasih ke kucing liar*/ Chalice : *pundung*)


-back to LenRin-

CRANG! TRING! TRANG!

Len dan Rin masih beradu pedang.

"Kau masih hijau rupanya, Payah! Kekuatan masih hijau kenapa jadi pembunuh? apalagi melawan yang kuat seperti ku!" ucap Len dan Menyerang dengan sekuat tenaga.

CRING!KLONTANG!

Pedang Rin terlempar dan terjatuh cukup jauh dari Rin.

"Cih!" decih Rin.

BUG!

Len menendang Kaki Rin dengan kuat dan membuat Rin jatuh karena kesakitan.

"Kau kalah, Rinny" ucap Len dengan tenang dan mengarah mata pedang nya ke arah muka Rin (oh ya, Len sudah di depan Rin)

"Kau... boleh membunuhku... aku kalah" ucap Rin sambil menutup mata, ya, dia mengaku kalah karena sudah skakmat (?).

CRING!

Terdengar suara mata pedang, Rin tahu dia akan dibunuh Len kali ini.

Eh? tunggu? kok ada yang basah di bibirku?, batinnya.

Rin membuka matanya dan terkejut.

Len... Len men-kissu RIN!

Baru 4 detik, Len langsung melepaskan kissunya.

"KYAAAa!" Teriak Rin.

PLAK!

Len mendapat tamparan maut di pipinya lagi.

"Aww... Rinny kau sangat jahat, menamparku untuk ke tiga kalinya" ucap Len sambil mengelus pipinya.

"Ka, Kau men-kissu ku! tau! dasar baka Prince! kenapa kau menciumku!" teriak Rin marah.

"Karena kau gagal membunuhku~" ucap Len santai.

"BUKANNYA KATAMU INI BUKAN SAATNYA PERMAINAN, HAH?!'' bentak Rin naik darah.

"Maksudnya bertarungnya kaga bermain-main tapi serius~ aih Rinny salah mengerti~ permainan kita masih berlanjut~" ucap Len senang.

Rin hanya menampilkan wajah kesal dan masih ada 4 siku-siku di kepalanya.

BAG BUG! DUAK!

"LENNY NO BAKAAAAAA!"

"aih~ Rinny manggilku Lenny, ini adalah bukti cinta mu rupanya~"

"A, APA?! HELL NO! SA, SAMPAI DUNIA KIAMATPUN AKU TIDAK AKAN SUKA DENGAN MU!"

DUAK! PLAK! PLOK! SLAP! DUAK! DUAK! PLAK!

"AUCH, SAKIT RINNY~ PELAN-PELAN~"

"HENTIKAN SUARA MENGGODA DAN MENJIJIKANMU, SHOTA!"

"AKU BUKAN SHOTA, RINNY~ TAPI TAMPAN DAN KECE~"

"DIAM SAJA KAU SHOTA!"

BUAK! BUAK! BUAK! PRANG!

Acara bertarung mereka terhenti akan sesuatu Karena...

BRAK!

"Pangeran, ada apa?! ada penjahat kah?!" teriak 2 Penjaga.

...dua penjaga itu cengo apa yang ia lihat.

Len ada di bawah Rin sedangkan Rin ada diatasnya, kasurnya berantakan, baju Len di bagian pundak melar udah kaya mau di perkosa paksa (*chalice di lindes*).

Dua penjaga ini berblushing ria dan segera membalikkan badannya.

"Ma, Maaf mengganggu acara kalian..." ucap mereka dan menutup pintu.

"..."

"..."

"..."

"..."

"Aku merasa mereka salah paham" ucap Rin.

"Tidak apa, Salah paham itu baik, bagaimana kalau membuat tidak salah paham alias membuat sesuatu yang mereka pikirkan?" tanya Len dengan smirk

Dia memegang kepala Rin bagian belakang dan mendorongnya .

CHU!

Yap, mereka Kissu lagi~

Seketika wajah Rin memerah.

"BAKAAAAAAAAAAAAAAAA!" Teriak Rin dan menampar pipi Len lagi di sisi yang lain.

PLAAAAAAAAAAAAAAAAK!

kini 2 pipi Len kena fotokopian (?) tangan Rin.

Rin segera mau meloncat dari Jendela tapi di tahan Len.

"Wha?! Lepaskan!" teriak Rin saking kagetnya.

"Rin, siapa yang melukai mu?" tanya Len sambil mengakat sedikit lengan baju Rin, terlihat banyak luka.

"I, Ini bukan urusanmu!" pekik Rin.

"Rin, Bagaimana kalau selama permainan ini kau tidur di kamar tamu?" tanya Len dengan mata serius.

"Ti, tidak!" bantah Rin.

"Tenang saja, sudah banyak gadis tidur di ruang tamu kok, jadi para penjaga kaga bakal curiga, jadi mau kaga?" tanya Len.

"..." Rin terlihat bimbang.

"Aku tidak tahu" ucap Rin.

Terlihat Len sedang menghela nafas panjang.

"Baiklah, besok kita ketemuan lagi di air mancur kota, seperti biasa oke~" tanya Len sambil mengedipkan matanya yang membuat Rin blushing.

"Aku tidak tahu!" ucap Rin dan segera Loncat setelah merasa Len melonggarkan pegangannya.

Len diam saja di depan jendela dan bergaya ala berpikir dan muka serius.

'Siapa yang melukai Rin?' batinnya dan dia merasa sakit di dadanya setelah melihat luka Rin.

"Akan kubuat penjahat itu tidak bisa lari dari selidikkan ku walau mereka kabur, karena aku tidak bisa dianggap remeh" ucap Len dengan seringai dan muka serius (gimana caranya?)


(kita skip saja 3 hari, chalice malas =3= *digampar reader*)

Rin terus-terussan gagal membunuh Len, kalau dihitung... (Chalice : sebentar chalice hitung dulu *hitung pakai jari*) mungkin sudah 6 kali gagal, dan enam kali dia mendapat hukuman yaitu 'kissu'.

berati Bibir Rin udah kaga perawan (*chalice di lindes*)

Di sebuah Lorong sepi (lagi?)

JLEB!

Lagi-lagi Rin gagal membunuh Len, karena mata pisaunya yang untuk membunuh Len menancap kepada Dinding, Poor Dinding (?) karena kau selalu jadi korban salah sasaran dari rin. (*chalice di tabok dinding (?)*)

Len berada di belakang Rin.

"Kau gagal lagi, Rinny~" ucap Len di depan telinga Rin dengan suara menggoda.

"Be,Berisik!" Teriak Rin dengan muka semerah cabe merah (?) dan ia menendang kaki Len alhasil dia jatuh.

Rin langsung lari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat dan mukanya masih tetap memerah


Sore hari, terlihat Rin berjalan di lorong istana mencari Len tentunya untuk menyelesaikan misinya.

'Kemana bocah Shota si Pangeran menyebalkan itu' batin Rin kesal.

Dia celingak-celinguk mencari Len a.k.a bocah shota a.k.a Pangeran menyebalkan.

Rin melihat Pintu sedikit terbuka, dan ia sedikit mnegintip disana karena mendengar sebuah suara.

Terlihat Len berbicara dengan gadis berambut kuning dan rambutnya diikat 1 kesamping.

"Jadi kau pedagang keliling yang minta surat ijin untuk bisa melewati pembatasan daerah? baiklah, tapi apakah kau punya benda jualan seperti cincin yang ada permata topaz?" tanya Len.

"Tentu saja ada, memang buat apa?" tanya Neru sambil tersenyum.

Terlihat Len menggaruk-garuk kepala belakangnya yang tidak gatal.

"A, Aku mau melamar seorang gadis" ucap Len dengan muka sedikit ada semu merah.

"Oh ada, mendekatlah kesini dulu sebentar" ucap Neru sambil menyuruh Len mendekat.

Len berjalan mendekat dengan wajah bingung.

'Oh tidak! pasti Nero-sama menyuruh Neru yang membunuh Len karena menganggap aku sudah gagal, tidak! aku tidak mau Len meninggal!' batin Rin.

"LEN!" panggil Rin dan ia membuka pintu.

Len menolehkan kepalanya ke arah Rin.

"Ah, Rinny~ ada apa?" tanya Len.

"Dia, Dia pembunuh yang sama sepertiku yang mengincarmu!" teriak Rin.

"Eh?" Len kebingungan.

Terlihat Neru mengeluarkan sebuah pedang dan berlari ke arah Rin.

"Sayang sekali, misiku berbeda denganmu! Aku diperintahkan untuk membunuhmu, Rin!" teriak Neru dan bersiap menusuk Rin.

Rin hanya terkejut apa 'Ja, Jadi yang di targetkan itu a, aku...' Batinnya.

Rin menutup matanya 'Yokatta, Bukan Len yang diincar sekarang... tapi aku' batinnya.

CRAT!

Terlihat Neru Kaget dengan di depannya.

Rin juga tidak kalah kaget.

Terlihat Len melindungin Rin dengan cara berada di depan Rin dan terkena sabetan pedang Neru.

BRUK!

Len terjatuh di tanah dengan cairan merah.

"LEN!" Teriak Rin dan menggoyang-goyangkan tubuh Len.

"Cih!" Neru berdecih kesal.

BRAK!

Pintu di buka secara tiba-tiba.

Terlihat Gakupo bersama beberapa prajurit.

"Tangkap Gadis itu!" Komando Gakupo.

"Baik!" jawab prajurit-prajurit itu dan menangkap Neru.

"LEPASKAN!" TEriak Neru sambil memberontak,

Kelihatan para prajurit itu kewalahan menghadapi Neru yang memberontak dan berhasil melepaskan dirinya.

Neru menyerang beberapa prajurit itu sehingga lantai sedikit ada bercak-bercak cairan merah.

"Geez... dia keras kepala sekali sih" gumam Gakupo.

TAP!

Kaito datang sambil memegang sebuah pedang dan disampingnya terdapat Gadis berambut Teal.

"Kalau keras kepala ya... kita bunuh dia... Susah amat" ucap Kaito sambil memegang pedangnya.

"Eh?!" Gakupo kaget dengan perkataan Kaito "Tu-tunggu dulu, Kaito! Itu..." Sayangnya Ucapan Gakupo sudah telat di dengar sang adik yang 1 tahun lebih muda darinya.

Kaito menyambet pedangnya sehingga badan Neru kena sambetan yang cukup dalam dan tergores cukup panjang.

Kaito terkena bercak-bercak darah Neru, pandangannya dingin,

"Mission Complete" ucap Kaito(Chalice : Umm... chalice kok jadi ingat game inotia ya *sweadropped*) sambil mengibas-ngibaskan pedangnya agar hilang bercak-bercak darahnya.

Kaito menoleh ke arah Prajurit yang cengo, Gakupo yang sweadropped, Gadis teal yang sedang meng-healing Len.

"Kau sangat ceroboh, Kaito. Kita belum menanyakan informasi kepada gadis itu." Ucap Gakupo.

"Hei" Panggil Kaito ke salah satu Prajurit disana yang membuat prajurit yang dituju tersentak kaget,

"Bereskan tubuh gadis itu, atau perlu di bakar jadi persediaan kayu bakar (?)" perintah Kaito.

Prajurit ditunjuk memberi hormat dan menyeret Tubuh Neru ke suatu tempat.

"Aku tidak peduli, kalau mau informasi tanya Len, dia yang dapat semua informasi yang kau butuhkan, aku mau makan es krim dulu" ucap Kaito dan berjalan pergi.

Gakupo hanya diam saja sambil menghela nafas.

Setelah Kaito sudah cukup jauh dari jangkauan mata, Gakupo segera menghadap Penyihir yang sedang mencast magic.

"Bagaimana, apa dia baik-baik saja?" tanya Gakupo.

"Iya, Luka nya sudah sembuh cuman belum maksimal, aku cuman berhasil menyembuhkan sebagian, jadi sisanya tubuhnya yang berkerja, jadi dia butuh istrirahat 10 hari kalau mau sembuh total" ucap gadis penyihir itu.

"Ah, terimakasih, Mii-chan" ucap Gakupo sambil tersenyum.

"Sama-sama" jawab gadis itu sambil tersenyum

Gakupo merasa ada aura gelap dari arah pintu, dengan keberanian yang ada dia menghadap ke arah pintu dan tersentak kaget.

Kaito ada disitu dengan aura yang mengatakan "Akan kubunuh kau".

"Lho, Kaito? bukannya tadi kau sudah pergi?" tanya Gadis itu.

Kaito menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Aku tadi tersesat, dan akhirnya balik lagi kesini" jawabnya dengan jawaban yang SANGAT tidak logis.

Terlihat gadis itu terkekeh pelan.

"Baiklah, aku pergi dulu ya, Gaku-chan~" Ucap gadis itu sambil tersenyum.

Sedangkan Kaito memberikan Gakupo death glare mematikan.

Gakupo hanya sweadropped lalu dia menoleh ke arah Rin.

Terlihat Rin sedang menangis.

"Ini salahku! salahku sehingga dia terluka" ucap Rin sambil menangis.

Gakupo menepuk kepala Rin.

"Tenang saja, dia baik-baik saja, dia sudah di sembuhkan Miku si penyihir tingkat tinggi kok" ucap Gakupo sambil mengelus kepala Rin.

"Benarkah?" tanya Rin.

Gakupo mengangguk sambil mengelus kepala Rin.

Rin tersenyum, Gakupo juga, Luka cengo (eh?) , Len marah besar (?).

Terlihat Luka masuk keruangan dan melihat Gakupo sedang mengelus rambut Rin, Len yang bangun segera bersiap mau 'membunuh' Gakupo.

"Gaku-nii, kau beraninya memegang atau mengelus kepala RIN!" Ucap Len dengan nada gelap dan senyuman gelap dan penekanan kata Rin

Luka hanya pergi sambil bilang "Maaf mengganggu acara menggoda wanita, Gaku-sama"

"UWAAAH, LUKAAAA! MATTE KUDUSAAAAI!" Teriak Gakupo dan pergi mengejar Luka yang salah paham.

"..."

"..."

"..."
hening...

Terlihat Rin dan Len bermuka memerah.

"Umm... Rin..." Panggil Len.

"...Kau istrirahatlah, kata penyihir itu kau musti istrirahat 10 hari" ucap Rin.

"Itu bisa nanti, aku mau ngomong sesuatu yang penting..."

"Apa itu?"

"aishiteru"

"Apa?"

"Aishiteru'

"apa?"

"Aishiteru"

"apa?"

"AISHITERUUUU RIIIIN!" Teriak Len pakai Toa entah dapat dari mana.

Terlihat Rin dengan muka memerah.

"Bo, Bohong! kau kan gak pernah serius! aku yakin kau sering bicara itu keperempuan lain!" Ucap Rin dan membuang mukanya.

"Aku serius Rin! Aku sangat menyukaimu!"

"BOHONG! AKU TIDAK PERCAYA!"

"AKU MENYUKAIMU SEJAK KAU DATANG PERTAMA KALI UNTUK MEMBUNUHKU!"

"APA BUKTINYA?!"

"BUKTINYA AKU MENCIUMMU!"

"ITU MAH HAL YANG BIASA KARENA TUAN LENNY KAN SUDAH SERING KISSU!"

"ITU FIRST KISS KU BODOH!"

Terlihat Rin memerah mirip Cabe merah.

"Aku serius Rin, aku menyukaimu" ucap Len "Maukah kau menerima perasaanku?"

Terlihat Rin bimbang lalu dengan pelan dia mengangguk.

"...Ya..."

Terlihat Len tersenyum senang.

Dan mereka Kissu tanpa pemaksaan dari Len...

~Chap 2 End~


-Omake-

"Jadi Len..." Ucap Gakupo.

Terlihat 7 bersaudara berkumpul di ruang rapat (termasuk Piko, sebagai figuran *dibunuh*)

"YA~?" tanya Len dengan suara bernada.

"Mana informasi yang dikatakan Kaito itu?' tanya Gakupo dengan selidik.

"Oh maksud orang yang mengirim Pembunuh itu?" tanya Len.

Gaku, Akaito , Dell, angguk-angguk.

"Iya, bisa dipastikan mungkin saja dia akan mengirim pembunuh lagi" ucap Akaito.

"Ah~ dia sudah ku basmi kemarin, jadi kaga apa" ucap Len sambil menaruh tangannya di belakang kepalanya.

DOEEEEEEENG! 2 shion ini gubrak ria (kenapa dua? soalnya dell tidak ikutan jatuh ala anime XD).

"Pengirim pembunuh itu adalah, Nero Akisato," ucap Len sambil bertopang dagu.

"walau Nero sudah mati (karena dibasmi Len) tapi aku yakin masih ada lagi bangsawan yang mengirim pembunuh untuk membunuh kita" ucap Len dengan muka serius.

Mereka mengangguk berati iya. (min Piko yang bingung)

...

Di depan Pintu terlihat gadis berambut putih salju sedang menguping.

"Kenapa kau menguping, Haku-san?' tanya Gadis berambut hitam, Rui Kanade.

"Ah, aku hanya penasaran kenapa mereka serius seperti itu, aku jadi khawatir" ucap Haku.

"Ahahaha, kau khawatir dengan Dell-sama kan?" tanya Rui dengan tawa.

Haku hanya salting.

-Omake end-


Chalice : Hahahaha, entah kaga jelas omakenya buat apa XD ini chalice ngebuatnya butuh waktu yang lama, kelihatannya chalice bakal lama sekali update-update semua fic chalice XD soalnya chalice udah sibuk sekolah dan rebutan kompie dengan saudara XD jadi kaga ada waktu buat ngetik XD.

Len : *numpang Lewat* REVIEW YA MINNA XD.

Mind To Review?