Akhirnya fic yang hampir terlantarkan ini bisa update juga! ah senangnya :D

disini Akatsuki belum muncul. mungkin di chap depan. gomen ya!

Happy reading :D


Disclaimer: Masashi Kishimoto

Fic ini punya saya :)

Don't like don't read


Chap 2: Sayonara

Pagi hari yang cerah kembali membangunkanku dari tidurku yang tidak lelap. Kubuka jendela kamarku. Tersirat dipikiranku, saat aku membuka gorden jendela merah mudaku itu, kulihat wajahnya yang pucat dan mata onyx-nya. Tapi semua itu mungkin hanya khayalan belaka yang tak mampu dirasuki oleh akal pikiran sekalipun. Karena yang aku lihat bukan dia, melainkan,

"Ohayou, Sakura." Sapa orang yang sedang berdiri menatapku diluar. Ya, Naruto Uzumaki. Terkadang aku bingung, disaat apapun, ia tetap tertawa. Aku ingin menjadi seperti dirinya, tapi hatiku yang lemah ini hanya bisa apa? Menangis dan menangis. Aku bosan.

"Ohayou, Naruto..." jawabku sambil tersenyum. Ia menyunggingkan cengiran khas-nya. Membuat rasa pedihku sedikit terobati.

"Mau jalan-jalan?" tawarnya. Aku tahu ia mengajakku hanya untuk membuatku melupakan pria yang aku cintai. Tapi jujur, itu percuma saja. Akhirnya aku menggelengkan kepala.

"Gomen, Naruto."

"Ahh, padahal aku ingin berduaan denganmu," ujarnya. Disaat seperti ini ia masih bisa saja membuatku tertawa kecil. Mungkin ia memang lelaki menarik.

"Hm, memangnya mau kemana?" tanyaku akhirnya. Melihat tampang 'puppy face'nya, aku kasian juga.

"Mau aku traktir ke Ichiraku Ramen? Khehehe," kata Naruto sedikit bersemangat, menunggu jawaban 'iya' dari bibir ranumku.

"Hm, boleh."

"Asik!" teriaknya tiba-tiba. Lalu ia pun mengulurkan tangannya dan aku membalasnya. Aku pun meloncat keluar jendela. Yang tidak aku sadari, aku masih memakai pakaian tidur. Hah, memalukan.

.

"Itadakimasu!" seruku dan Naruto serempak. Lalu ia pun tertawa sementara aku hanya tersenyum. Naruto mulai menyeruput ramen yang dipesannya dengan lahap dan rakus. Sedangkan aku hanya memperhatikannya.

"Ada apa Sakura-chan? Nanti ramennya dingin lho!" ujarnya. Aku menggeleng.

"Tidak apa-apa." Jawabku. Lalu aku mulai mengambil sumpit dan bersiap untuk makan.

Gluguk gluguk.

Suara apa itu? Saat aku menoleh, kulihat Naruto yang sudah menghabiskan satu mangkuk ramen penuh! Dengan kuah-kuahnya. Aku dibuat bengong olehnya.

"Ah, kenyang~"

"Naruto, bagaimana kau menghabiskan ramen itu hanya dalam waktu beberapa menit... err, maksudku, beberapa detik?" tanyaku heran. Dia punya kekuatan terpendam atau apa sih?

"Ah, itu sih gampang, Sakura-chan. Aku kan punya mulut karet. Sekarang, cepat habiskan ramen punyamu, atau mau aku bantu habiskan?" jawabnya PeDe. Aku kembali melanjutkan kegiatan makanku yang belum saja dimulai.

.

"Sudah selesai, Sakura-chan?" tanyanya. Aku mengangguk lalu mengambil tissue dan menyentuhkannya perlahan ke bibirku.

"Khehehe," Naruto tertawa sambil merogoh kantung celananya, tapi tiba-tiba wajahnya memucat. Aku yang merasakan hawa tidak enak, langusng bertanya,

"Ada apa, Naruto?"

"Sakura-chan... kau janji tidak akan marah?" tanyanya. Aku bingung.

"Iya, memangnya kenapa?"

"Janji ya?" Naruto mulai mengulang pertanyaannya. Aduh, dia ini kenapa sih?

"Iya-iya Naruto. Kau kenapa?"

"Dompetku tertinggal..."

BUAGH!

Yap, satu pukulan sukses melayang di pipi Naruto baka itu, sampai ia terpental keluar Ichiraku Ramen. Paman Teuchi yang melongo melihatku hanya aku sunggingkan cengiran termanisku. Sial, apa dia sengaja supaya aku yang membayarnya? Huh, kalau begini sih tidak ada cara lain. Terpaksa aku yang membayar. Untung saja aku membawa beberapa ryo, kalau tidak, akan kubunuh anak rambut kuning itu ditempat, sekarang juga. Tapi mungkin itu terlalu sadis, karena bagaimana pun juga, ia sahabatku.

Aku mulai berjalan keluar untuk melihat keadaan Naruto. Seperti biasa, kepala ada di bawah dan kaki ada di atas. Selalu itu saja gaya yang ia pamerkan setelah mendapat bogem mentah dariku.

"Kesini kau!" seruku. Membuat Naruto bergidik.

"Ah~ Sakura-chan... kau kan janji tidak akan marah," ujarnya. Aku hanya mendengus.

"Aku tidak marah,"

"Tapi kenapa kau membuatku babak belur begini?" tanyanya seraya berdiri lalu memegangi pipinya yang bengkak sambil meringis. Hm, dilihat dari sisi mana pun juga, luka yang ada di pipinya itu termasuk parah, harus segera diobati.

"Iseng aja. Sekarang, ayo ikut aku." Ajakku. Tapi ia tetap diam di tempat.

"Gak mau, Sakura-chan galak."

"Kau mau aku obati tidak...?" ujarku sambil menunjukkan ekspresi mengerikan layaknya seseorang yang sedang berkomunikasi dengan setan di neraka. Naruto pun akhirnya menurut dan menghampiriku.

.

"Aw! Sakit..." ringis Naruto. Entah sudah berapa kali kata itu terlontar dari mulutnya.

"Sabar, Naruto! Kau ingin sembuh tidak?" tanyaku agak kesal. Bisa-bisanya ia membuat mood-ku tambah rusak disaat begini.

"M—mau..."

"Kalau begitu, diam!" teriakku lantang.

"Aw! Aw!" ringisnya lagi saat aku mulai menaruh sebungkus es batu di pipinya yang bengkak.

"Tahan," ujarku berusaha menenangkannya. Tapi percuma.

"Sakura-chan, pelan-pelan..." pintanya.

"Ini sudah pelan, Naruto."

"Nah, sudah..." ujarku saat aku sudah selesai dengan kegiatanku.

"Arigatou, Sakura-chan." Balas Naruro sambil tersenyum. Heran, kan aku yang membuatnya jadi begini, kenapa ia berterimakasih?

"Douitashimashite," jawabku.

"Sekarang lebih baik kau pulang." Lanjutku. Aku dan Naruto sekarang memang berada di rumahku.

"Oke, Jan-nee!" ujar Naruto sembari berdiri lalu melambaikan tangannya dan aku membalas hal yang serupa.

-000-

Malam sudah tiba. Biasanya, malam-malam begini, penduduk Konoha akan meramaikan seluruh jalan setapak hany untuk berjalan-jalan atau sekedar berbincang-bincang. Tapi aku? Aku hanya duduk di kasurku dengan sebuah foto berbingkai di tanganku. Fotoku, Naruto, Sasuke-kun dan Kakashi-sensei.

Tes.

Tak terasa air mataku pun mulai mengalir jatuh di permukaan foto yang terlindungi kaca dari bingkai tersebut. Aku menangis. Aku tidak tahan dengan semua ini. Kami-sama, kenapa kau memberikan cobaan yang tidak bisa aku lalui? Tiba-tiba otakku berpikir keras. Aku raih ransel berukuran besarku dan mulai kubuka lemari penuh baju-bajuku. Aku ambil beberapa pasang baju yang mungkin aku butuhkan nanti. Nanti, eh?

Tak tahu mengapa. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku mulai merapikan kasurku dan kututup sleting ransel besarku. Aku mulai berganti baju dengan atasan merah dengan bawahan merah muda. Ya, baju ninjaku. Baju yang biasa aku pakai ketika sedang menjalankan misi atau hanya sekedar berjalan keluar Konoha. Lalu aku masukkan kunai, shuriken dan berbagai macam barang-barang ninjaku di kantung kecil yang berada di belakangku.

Aku menatap kembali ke arah foto itu lalu aku raih dan kumasukkan ke dalam ranselku.

"Sayonara, Naruto..."

To Be Continued

Gimana gimana? sampah ya? hue :(

haduh fic saya selalu gak memuaskan.

hm, padahal fic ini udah di publish luaaaaaamaaa banget, tapi pas di update pendek ya?

gomenasai gomenasai!

chap selanjutnya udah ada akatsuki :) sabar yaa

RnR?