Dark Soldier
Disclaimer : Action Together KoG
Rate : T
Genre : Adventure , Friendship, (Romance)
Pair : Sieghart
Warning: gaje, OOC(maybe), OC, AU, typo(s)
A/N: Oke, ini chap berikutnya sudah di update. Bagi kakak-kakak yang sudah selesai main GC(?) baca fict buatanku yaaaaa….
N: Berdasarkan tahun manusia umur Sieghart udah 19 tahun, tapi berdasarkan tahun Highlander(manusia langit) umurnya udah lebih dari 850 tahun.
Don't like don't read!
Enjoy it, guys!
Chapter 2: Great Memori
Hari ini bergitu cerah, tanpa ada awan setitikpun di langit yang biru. Dengan hamparan padang rumput yang bergoyang di tiup angin, menyebarkan aroma khas dari rumput.
Pohon Oak yang sangat besar dan rindang, tengah meneduhkan 2 manusia yang kelelahan. Mereka seperti kakak dan adik yang sedang bergurau dengan mainan baru mereka, yaitu Pedang.
"Huaah, panas sekali hari ini." ucap seorang gadis berambut hitam panjang sambil tiduran di bawah pohon Oak yang sangat rindang. Batu yang terbentuk sempurna menjadi sandaran kepalanya.
"Haha, mungkin matahari sedang gembira." balas pemuda yang dari tadi memegang botol air minum mineral.
"Huh, aku lagi serius tau. Dasar orang aneh." ejek gadis itu kepada orang yang seperti kembaarannya.
"Hei, jaga kata-katamu, hitam" balas pemuda berambut hitam sambil menjitak kepala gadis di sampingnya yang sedang asyik tidur-tiduran.
"Kau juga, menyindir dengan sebutan 'hitam'!" balas gadis itu tak mau kalah sambil memukul pemuda di sampingnya.
"Mau bagaimana lagi. rambutmu kan berwarna 'hitam'." ucap pemuda itu dengan menekankan kata hitam.
"Dasar 'prajurit hitam bodoh'. bukannya rambutmu juga hitam?"
"Tidak."
"Dasar orang aneh."
"Hitam."
"Prajurit yang aneh."
"Putri raja yang hitam."
"Sieghart si pengawal yang aneh."
"Nova putri raja yang hitam."
"Bodoh."
"Hitam."
"CUKUP, apa-apaan kau? pengawal yang sangat aneh." Teriak Nova, dengan Emosi Lv 3. Dia sangat, sangat, sangaat kesal dengan Sieghart yang tertawa penuh kemenangan setelah mengejeknya.
"Hahahaha, ada apa?" tanya Sieghart sambil memakan buah apel yang entah dia dapat dari mana.
"Huh," Nova ngambek. Sieghart yang sudah tau dengan kebiasaan Nova sehari-hari, langsung mengambil langkah-langkah agar Gadis itu tidak seperti itu lagi.
"Baiklah, kau mau makan Grape-pan?" tanya Sieghart sambil mencari sesuatu di dalam kantong saku celanannya
"Tidak." jawab Nova, padahal dalam hatinya, ia sudah tidak sabar ingin menyantap roti bakar yang dilapisi selai anggur dan vanilla yang lezat itu.
"Kau yakin? Aku bawa 3 nih. Buatan toko Jepang Kumi" kata Sieghart sambil memamerkan 3 bungkus Grape-pan buatan Kumi.
"Baiklah, mana? mana?" ucap Nova gembira dengan roti yang dipegang Sieghart.
"Eits, tidak akan ku berikan." balas Sieghart sambil menyembunyikan roti itu di belakang badannya.
"Huaaaa. pelit.." ucap Nova. Dia mulai ngambek lagi seperti tadi.
"Roti ini akan ku berikan setelah kau minta maaf kepada ku." kata Sieghart seperti penjajah yang merebut kembali tanah jajahannya.
"A, apa? Bukannya kau yang harus minta maaf?"
"Oh, kau tidak mau ya? akan ku makan sendiri saja roti ini." ucap Sieghart sambil bersiap-siap membuka bungkus roti nya.
"Ti, eh, baiklah. Aku minta maaf." ucap Nova minta maaf sambil membungkuk tanda hormat.
"Hm, ulangi." balas Sieghart hampir membuka bungkusan roti itu.
"A, apa?"
"Ulangi lagi, dengan formal dan jelas."
"Hah, baiklah."
"Prajurit hitam yang baik, Saya minta maaf atas kelancangan saya terhadap anda. Apa boleh saya minta roti yang anda punya?" kata Nova sambil membungkukkan badannya berkali-kali.
"Hyahahahaha. kau tak perlu minta maaf saja akan ku berikan roti ini. Akting mu sangat hebat, hahahahhaa." balas Sieghart tertawa ria. Wajah Nova memerah, entah karena malu atau marah. Ia merasa dipermainkan dengan pemuda di depannya ini.
Begitulah keseharian mereka berdua. Mulai dari hal kecil sampai mereka bertengkar hebat. Pernah suatu hari mereka membuat kekacauan di pusat kota dikarenakan Sieghart memanggilnya dengan sebutan hitam.
Orang yang mendengar sebutan baru putri raja itu, lantas tertawa terbahak-bahak sampai-sampai membuat Nova naik darah. Dia langsung mengambil pedangnya dan menebaskannya ke arah Sieghart.
Tapi Sieghart dengan mudah menghindar. Sehingga tebasan dari Nova mengenai gembok yang digunakan untuk mengurung banteng liar. Gembok itu hancur, dan yah, banteng itu berkeliaran di mana-mana.
XxxxxxxxxxxX
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Tetapi matahari masih tidak mau berhenti menyinari bumi. Langit yang tadi siang bersih sekarang penuh dengan awan yang berwarna abu-abu.
Di jalan setapak menuju pusat kota, terdapat dua manusia yang sedang berjalan menuju gerbang masuk kota Xenia.
"Oh, kalian berdua." ucap penjaga gerbang. Di sebelah kiri seragamnya terdapat tanda pengenal, dengan tulisan 'Erik'.
"Maaf, kami agak terlambat." ucap Sieghart.
"Tidak, kalian tepat waktu." balas Erik sambil bersiap menutup pintu gerbang yang besar itu.
"Terima kasih." kata Nova. Dia masih memakan Grape-pan nya.
"Ya." balas Erik tersenyum.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka menuju kediaman yang hangat, di mana lagi kalau bukan istana megah kota Xenia. Mereka disambut hangat dengan pelayan-pelayan istana.
"Sieghart, kemarilah. Ada yang ingin kubicarakan denganmu." ucap sang raja yang tiba-tiba muncul dari belakang pintu ruangan raja.
"Ada apa ayah?" tanya Nova. Ia sangat penasaran dengan apa yang akan dibicarakan ayahnya.
"Ah, tidak, bukan apa-apa. Oh, ayah lupa, tadi ibumu membelikanmu Grape-pan." balas sang raja.
"Wah, benarkah? Ibu masih di dapur kan?" tanya Nova kepada pelayan di sampingnya.
"Iya, putri Nova." balas pelayan di sampingnya.
Nova dan beberapa pelayannya pergi ke belakang menuju dapur, sementara itu, sang raja dan Sieghart sedang berbicara.
"Baiklah. ikutlah denganku." ucap sang raja sambil memberi isyarat agar Sieghart ikut di belakangnya.
Mereka berdua memasuki tempat Negoisasi 3 tahun yang lalu. Kamar pribadi raja. Di sana terdapat beberapa orang yaitu Jin, Ronan, Ryan, Lass, Dio, Elesis, Lire, dan Arme.
Sieghart mengambil tempat duduk di samping Jin yang memiliki rambut berwarna merah, disamping Jin terdapat pemuda berambut biru sebahu bernama Ronan. Dan disampingnya lagi ada Elesis, Ryan, Dio, Lass, Arme, Lire.
"Baiklah, kalian tahu apa maksudku mengumpulkan kalian semua di sini?" tanya sang raja sambil menatap satu-satu orang yang ada di ruangan itu.
"Sesuatu yang penting dan harus segera disampaikan." jawab gadis berambut ungu bernama Arme. Dia sebenarnya adalah dokter yang paling hebat di Xenia. Tapi, dia juga bisa bertempur dengan tongkat ajaibnya.
"Benar. Kalian tahu apa yang ingin ku sampaikan?" tanya sang raja lagi kepada orang yang berada di dalam ruangan itu.
"Pertempuran yang sangat hebat akan segera dimulai." jawab Sieghart asal-asalan.
"Benar sekali. Tetapi kurang tepat. Yang sebenarnya adalah.." ucapan sang raja terputus. semua orang yang berada di ruangan itu serius mendengar kata-kata sang raja.
"Pertempuran yang sangat hebat akan segera dimulai oleh Kaze'aze." sambung sang raja.
"Mana mungkin. Kaze'aze sudah lama dikalahkan oleh Dewa Highlander 80 tahun yang lalu." balas Jin, ia merasakan firasat yang tidak enak tentang Kaze'aze. Terjadi suara kegaduhan di dalam ruangan itu.
Semua orang pasti akan merasa heboh, terlebih lagi para petinggi Negara yang telah hidup selama 100 tahun lebih. Sieghart yang sudah yakin dengan ramalan Kaze'aze hanya memilih diam saja. Ia tidak ingin statusnya sebagai keturunan dewa Highlander diketahui manusia bumi.
Kaze'aze sebenarnya adalah keturunan dewa Highlander. Tetapi ia melanggar aturan dewa tinggi Highlander dan dia di usir dari negri langit menuju bumi. Kaze'aze berusaha kembali ke negri langit agar dia bisa mengambil alih kerajaan langit.
Dewa tertinggi Highlander yang mengetahui hal itu, langsung menyegelnya bersama bahan hasil eksperimennya ke dalam dimensi lain. Tapi sebelum disegel, dia sempat membuat catatan yang berisi bahwa, ia akan kembali ke bumi 80 tahun yang akan datang.
Dan menghancurkan semua mahluk yang hidup di dalamnya menggunakan monster hasil eksperimennya bersama God of Rule Thanatos. Thanatos yang juga ikut berkhianat dari Highlander, berusaha membunuh dewa tinggi Highlander bersama Kaze'aze, demi terwujudnya dunia mereka.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?" tanya Elesis adiknya Jin.
"Kaze'aze sangat sulit untuk dihentikan. Kemungkinan besar Kaze'aze akan menunggu sampai segel dimensi nya melemah." ucap sang raja. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Segel dimensi dewa Highlander tidak mudah melemah, perlu waktu tiga abad hingga segelnya melemah. Kaze'aze juga tidak mungkin menunggu segel dimensi itu melemah." balas Sieghart kepada sang raja. Semua orang menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
"Jadi..?"tanya orang semakin berdebar-debar dengan cerita Sieghart.
"God of Rule lah yang akan merusak segel dimensi waktu yang mengurung Kaze'aze." ucap Sieghart. Suara gaduh terjadi lagi di dalam ruangan itu.
"Tenang." kata sang raja. Suara gaduh itu berhenti setelah sang raja berkata tenang.
"Sieghart, apakah yang kau maksud God of Rule Thanatos?" tanya sang raja.
"Ya, itu sudah pasti." balas Sieghart.
"Hm, baiklah aku akan menyusun rencana ini. Sekarang bubar." perintah sang raja. "Sieghart, kau tetap di sini." sambung sang raja lagi. Sieghart hanya mengangguk.
XxxxxxxxxxxX
Kini di dalam ruangan itu hanya ada sang raja dan Sieghart saja. Mereka berdua akan berbicara dengan soal yang tadi di bicarakan.
"Mau teh hangat?" tanya sang raja. Sambil mengambil teh dari lemari dekat mereka duduk.
"Terserah." kata Sieghart kepada sang raja. Ia sekarang seharusnya sudah berada di kasur kamarnya yang empuk dan tenang.
"Ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan kepadamu." ucap sang raja sambil menuangkan teh hangat ke cangkir Sieghart.
"Baiklah, aku dengarkan." balas Sieghart.
Sang raja lalu menatap tajam kepada Sieghart. Tatapan yang seolah-olah ingin mencari tahu sesuatu dari pikirannya. Sieghart yang mengetahiunya, merasa tidak enak dengan sang raja.
"Maaf, apa yang akan anda katakan?" tanya Sieghart. Mendengar ucapan Sieghart, sang raja berkata.
"Apa benar kau…" ucapan sang raja terputus. Sieghart merasakan firasat yang sangat, sangaaat tidak enak.
"Keturunan dewa Highlander." sambung sang raja kembali.
DEG
Sieghart kaku mendengar apa yang diucapkan oleh sang raja kepadannya. Ia tak tahu harus berbicara apa lagi.
"Jawab aku Sieghart." ucap sang raja lagi. Ia menatap Sieghart lebih tajam lagi dari sebelumnya.
"A, aku…" balas Sieghart. Sang raja masih menatapnya dengan tajam. Sieghart menggunakan cara jitunya.
"Hoam, sudah malam. Aku ingin tidur dulu." ucap Sieghart berpura-pura menguap seraya berdiri menuju pintu keluar. Saat hendak berjalan, tiba-tiba tangannya ditahan oleh anggota kelompok Chase yang muncul dari belakang.
"A, apa-apaan ini? Lepaskan!" bentak Sieghart.
"Hehehe, kau tak akan bisa tidur sebelum menjawab semua pertanyaan ku." balas sang raja sambil tersenyum. senyuman ganjil yang jarang diperlihatkan kepadanya.
"Apa?" tanya Sieghart. Sang raja mulai meminum tehnya
"Tenang lah Sieghart. Kau akan baik-baik saja. Duduk dan minumlah teh ini." balas sang raja mempersilahkan Sieghart duduk. Lass dan Ryan yang mempiting badan Sieghart langsung melepaskannya.
"Aku hanya ingin kau jujur saja, tentang masalah pembicaraan kita tadi." ucap sang raja. Di belakang Sieghart ada Lass, Ryan, dan Dio. Sementara di samping sang raja ada Jin, Ronan, Arme, Lire, dan Elesis.
"Heh, kalau aku memang keturunan dewa Highlander kenapa?" balas Sieghart. Ruangan yang tadi sunyi kembali lagi ribut. Mereka tidak percaya bahwa Sieghart adalah keturunan dewa Highlander.
"Memang benar, sesuai dugaanku. Pantas saja, kau tahu tentang ramalan Kaze'aze." ucap sang raja. Suasana gaduh itu langsung berhenti.
"Hahahaha, kalian sudah tahu aku adalah keturunan dewa Highlander ya? Jadi, apa mau kalian manusia bumi?" balas Sieghart. Sang raja berpikir sejenak. Lalu muncullah ide nya untuk bertanya.
"Ceritakan semua yang kau ketahui tentang Highlander serta kenapa kau berada di bumi ini." balas sang raja.
"Hah. Baiklah." balas Sieghart.
Flashback
Sieghart's pov~
"Sieghart, kau akan kutugaskan untuk menjaga bumi dari monster-monster yang pernah di ciptakan oleh God of Rule. Kaze'aze akan ku segel sebelum eksperimennya sempurna, kau juga harus menyelidiki tentang pergerakan-pergerakan Kaze'aze. Apa kau mengerti?" ucap seseorang dari balik tirai putih yang sangat besar itu.
"Baik, saya mengerti tugas dan tujuan saya." balasku sambil membungkuk tanda hormat.
"Hm, baiklah. Informasikan kepadaku bila Kaze'aze sudah hampir selesai dengan eksperimennya." ucap nya lagi. Ini mungkin adalah tugas yang cukup berat, tapi aku juga tak akan bisa menolak perintah dewa tertinggi Highlander
"Akan saya sampaikan." balasku. Aku hendak keluar dari ruangan yang sangat mewah itu. Tetapi dia berkata lagi.
"Selamat berjuang. Anakku." ucapnya lagi.
"Maaf, saya sedikit lancang. Tapi.."
"Kau adalah anakku. Aku yang menciptakanmu." ucapanku diputus olehnya.
"A, apa itu benar?" tanya ku.
"Ya."
"Terima kasih. Ayah." balasku seraya meninggalkan dewa Highlander yang ternyata adalah ayahku.
XxxxxxxxxxxX
"Apa kau akan pergi ke bumi?" tanya Sellion peliharaan sekaligus teman terbaikku.
"Ya, aku tidak bisa menolak permintaan ayah." jawabku. Memang, aku sebenarnya ingin lebih lama tinggal di negri ini. Tetapi ada hal lain yang harus kulakukan.
"Kapan kau akan kembali ke sini?" tanya peliharaanku lagi. Memang, dia sangat over protectif kepadaku.
"Setidaknya, setelah ramalah Highlander selesai." jawabku. Aku bersiap-siap dengan peliharaanku untuk turun ke bumi. Tetapi, Sellion hanya mengantarkan saja. Kalau dia ikut denganku, bisa-bisa dia di jual dengan orang bumi.
"Baikalah, kau sudah siap Sieg?"
"Ya." balasku. sambil berpegangan di pundak Sellion.
Dia langsung meluncur ke bawah dengan cepat, hingga membuat percikan api di depan kepalanya.
"Oke, Sellion. Aku akan loncat dari sini. Kau pergi saja ke tempat dulu kita bermain, di sana ada Lilith, peri yang akan menjagamu." ucapku kepada peliharaanku yang sangat manja ini.
"Baiklah. Pulanglah dengan selamat Sieghart."
"Ya. mungkin beberapa tahun lagi. Selamat tinggal, teman." balasku memeluknya lalu melompat.
Aku membuka mataku dengan perlahan. Badanku terasa sakit semua, tapi seperti ada sesuatu yang melekat pada diriku. Aku meliaht ada banyak perban dan plester melekat di badanku. Yang aku ingat aku melompat dari badan Sellion lalu… Tidak ingat apa lagi setelah itu.
Tak lama kemudian datanglah kakek dan nenek yang sudah sangat kelihatan tua membawakan aku segala makanan dan minuman.
"Oh, kau sudah bangun rupanya, Nak?" tanya kakek itu. Dia membawakanku minuman dan beberapa buah-buahan.
"Nah, makanlah ini. Kau terluka saat kami temukan di sekitar pohon bamboo di sana." ucap nenek itu menunjuk pohon bamboo yang lebat.
"Terima kasih, nenek, kakek." kataku berterima kasih.
"Sebagai balas budi, bagaimana kalau saya membanyu perkerjaan kakek dan nenek?" tanyaku. Aku tidak ingin di cap sebagai orang yang tidak tahu berterima kasih.
"Ohohoho, kau baik sekali, Nak." ucap kakek tua itu.
"Oh, Nak. Apakah kamu seorang prajurit?" kata nenek itu sambil mengeringkan baju yang habis dicucinya.
"Ah, bukan. Aku hanya orang biasa." balasku. Saat ku lihat di sampingku. Pedangnya hilang. Sang kakek yang tahu pun langsung memberikan pedang ku.
"Ini." balas kakek tua itu.
"Terima kasih. Oh, iya kakek setiap hari berkerja sebagai apa?" tanyaku dengan harapan bisa berkerja secepatnya.
"Hanya mencari kayu bakar dan rotan." balas kakek itu. Aku hanya mengangguk.
"Baiklah. kakek membantu nenek saja. Biar aku yang mencari kayu bakar dan rotannya." ucapku. Kakek itu tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
"Kau sungguh baik, anak muda." ucap kakek itu terharu.
Jadi, setiap hari aku hanya mencari rotan, kayu bakar, dan karet. Lalu ku jual semuanya dan kubelikan nenek dan kakek bahan makanan, baju yang bagus, bahkan saking semangatnya aku membuatkan mereka berdua rumah yang indah di bukit yang rindang.
Satu tahun sudah berlalu. Hingga terjadilah insiden yang tak akan pernah kulupakan. Kakek dan nenek, mereka tewas di tangan perampok yang mengincar harta mereka.
Keadaan semakin tidak terkendali, bahkan aku sendiri tidak sadar apa yang terjadi dengan diriku dan perampok itu. Mereka tergeletak dengan keadaan yang tidak wajar. Anggota tubuh mereka berlepasan dari kepala, tangan, dan kaki.
Aku baru sadar. Bumi adalah tempat paling kejam yang pernah aku tempati. Manusia bumi membunuh sesamanya hanya untuk mendapatkan kekayaan pribadinya, tanpa memikirkan penderitaan orang lain.
Walaupun hanya sebagian manusia yang berbuat baik. Tetapi kejahatan di bumi ini telah mendarah daging dari keturunan sebelumnya.
"Di sini. Kita akan berpisah. Kakek, nenek." ucapku. Aku tak dapat menahan air mata yang terus mengalir keluar dari mataku.
"Aku. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian." sambungku sambil berdiri.
"Menghentikan kejahatan, serta peperangan yang terus berlangsung di bumi ini. Adalah tujuanku sekarang!" teriakku. Aku tidak peduli dengan masa depan yang sudah menungguku. Hanya ada satu, Mengakhiri semuanya.
Aku pergi ke belakang, mengambil kuda hitam yang sudah menjadi teman baruku di bumi. Walaupun tidak bisa berbicara, aku tahu dia sangat menyukaiku. Cengirannya seperti sebuah senyuman.
Pergi tanpa arah. Mungkin bodoh jika seseorang pergi tanpa arah dan tujuan. Sama sepertiku. Berjalan menelusuri bumi yang luas ini. Menghentikan peperangan yang terjadi di bumi. Sudah dua tahun berlalu.
Tetapi ingatanku dengan kakek dan nenek tak pernah terlupakan. Kebaikan yang mereka berikan, bila ada kesalahan, merekalah yang membenarkannya. Tidak pernah memarahiku.
Sudah delapan puluh lebih perang yang kuhentikan. Mulai dari Negara Bermesiah, Silver land, Ellia, Xenia, Archmedia, dan Atum. Mereka menganggapku sebagai pengganggu dalam peperangan.
Masing-masing Negara menyebarkan poster buronanku dengan harga yang mahal. kepalaku dihargai 101 Triliun GP. Tim pencari dari masing-masing negarapun mencariku di mana-mana.
Aku dan kudaku yang kuberi nama Sellimon, tengah berlayar di lautan. Tetapi, angin berkata lain. Badai besar terjadi di jalur kapalku berlayar, aku membawa Sellimon ke dalam dek agar dia tidak sakit karena kebasahan.
Pagi ini badai besar sudah berhenti, tetapi kapalku membentur karang tajam, menyebabkan kapalku bocor dan terpaksa, kami harus menaiki sampan penyelamat. Sudah 2 hari kami berdua terombang ambing di lautan. Hingga hari berikutnya.
Kami sampai di pulau yang tak pernah ku kunjungi sebelumnya. Aku merasakan firasat buruk tentang pulau ini. Aku menginjakkan kakiku di pulau yang sama sekali tidak perpenghuni ini.
Aku mulai berjalan menyusuri pulau ini dengan menunggangi Sellimon. Di tengah perjalanan, seekor burung aneh terbang mengejarku. Burung itu seperti tidak normal. Kepalanya berbentuk ular dan berkaki empat.
Aku mulai mempercepat langkah perjalananku tetapi, semakin aku masuk ke pulau ini, semakin banyak monster-monster aneh mengejarku. Mulai dari laba-laba berukuran jumbo, singa yang bisa terbang, sampai Golem berukuran raksasa. Tetapi mereka sangat lemah, sehingga aku dengan mudah menghancurkannya.
Mungkin ini monster hasil percobaan Kaze'aze. Berarti Kaze'aze berada di pulau ini. Aku mulai berjalan kembali. Saat hendak melewati hutan, Sellimon mendadak berhenti. Dia tidak ingin melewati jalur hutan, mungkin memang ada bahaya yang cukup besar di dalam sana.
Aku mengambil jalan setapak di sebelah kiri yang terbuat dari es. Walaupun dari es, aku tidak merasa kedinginan sama sekali.
"Ayo, kita harus cepat pergi ke tengah pulau ini." ucapku sambil menunggangi Sellimon. Ia mempercepat langkahnya.
Aku terus berjalan, hingga ke pusat pulau ini. Di sini begitu menyeramkan. Langit yang biasanya biru, kini berwarna ungu. Bulan merah terbentuk dengan sempurna dan terlihat lebih besar dari biasanya.
Bangunan-bangunan di sini juga sudah rusak semua. Seperti habis terkena ledakan dari musuh. Tetapi hanya satu bangunan yang tidak rusak. Bangunan yang begitu tinggi. Dengan core-core menjadi lampu penerangan.
"Khuhuhuhu. Akhirnya, utusan dewa Highlander datang ya?" ucap suara entah dari mana asalnya. Aku mencari sumber suara itu tetapi, tidak dapat menemukannya. Tapi mendengar suaranya, aku tahu kalau itu Kaze'aze.
"Kaze'aze, Di mana kau. Kau akan membayar semua yang telah kau perbuat!" teriakku entah kepada siapa. Dia hanya tertawa mendengar kata-kataku.
"Khuhuhu. Kau ingin membunuhku? Silahkan. Khuhuhuhu," ucapnya sambil terus tertawa. Aku langsung menuju lantai atas dengan menunggangi Sellimon.
Banyak monster-monster yang menghalangi jalanku, tetapi aku tidak akan menyerah. Aku mengambil dua pedangku, lalu menebas monster itu sampai mati. Sebelum sampai di lantai paling atas, Orc Lord dan Black fairy Queen menghadangku.
Mereka berdua adalah monster yang paling sempurna yang pernah di ciptakan oleh Kaze'aze. Orc lord yang memulai serangan pertama, melempar batu yang sangat besar ke arahku. Aku berhasil menghindari serangannya.
Aku lalu menyerangnya dengan skill Lv.2 Orc Lord yang terkena skillku itu, hancur menjadi serpihan halus. Black fairy juga tidak diam, dia menghilang kebelakangku dan berusaha membekukanku. Tapi serangan itu tidak pernah berhasil karena menggunakan delay yang cukup lama.
Dia menjadi lelah ketika mengeluarkan jurus menghilangnya terus, kesempatan itu kugunakan untuk menghancurkannya. Sellimon menanduknya, membuat Black fairy itu membentur tembok dan jatuh ke bawah tanah.
Aku melihatnya mejadi serpihan kecil berwarna ungu, lalu aku dan Sellimon melanjutkan perjalanan lagi. Akhirnya, aku sampai di lantai paling atas. Di sana aku melihat Kaze'aze dan Seorang gadis yang bernama Elena.
Kaze'aze menyuruh Elena untuk membunuhku. Tetapi bukan halangan bagiku. Hanya dengan Skill Lv.2 dia terjatuh tak sadarkan diri. Tapi, Kaze'aze masih tersenyum. Dia mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.
"Khuhuhu, level 1 selesai. Nah, lawanlah kembali orang ini." ucapnya sambil memegang sesuatu seperti remot. Elena yang tak sadarkan diripun, tiba-tiba berubah menjadi monster yang sangat besar. Dia dikendalikan oleh Kaze'aze dari belakang.
"Sekarang, dia bukan Elena lagi. Tetapi Kamiki. Monster eksperimenku. Elena sudah mati. Kalau kau mau, kau bisa menjadi seperti dirinya. Bagaimana?" tanyanya sambil tersenyum. Tak kusangka, dia sampai mempermainkan nyawa bawahannya.
"Hah, hah, tak kusangka, kau sampai mempermainkan nyawa bawahanmu. Apa kau tidak punya hati?" teriakku. Dia hanya tertawa, tidak mempedulikanku.
"Ya, ya, terserah kau mau bilang apa. Baiklah Kamiki, bunuh orang di depanmu." ucap Kaze'aze. Aku lalu mengambil dua pedangku lagi. Serangan dan benturan hebat terjadi antara aku dan Kamiki.
Kamiki sangat kuat. Dia menghilang di belakangku seperti Black fairy dan menyerangku dengan tiba-tiba. Tetapi dengan mudah aku menghindarinya. Saat Kamiki lengah, aku langsung menghilang ke belakang nya, dan sukses mengalahkannya dengan menggunakan Skill Lv.4
Kaze'aze terkejut melihatnya.
"Bagaimana bisa? Itu sangat mustahil." ucapnya sambil mengambil pisau yang ada di sampingnya. Dia siap-siap menyerangku dengan pisaunya.
Tring
Suara pedang beradu terdengar sangat nyaring. Dia menyerangku berkali-kali menggunakan pisau yang berukuran sedang itu. Serangan pisaunya itu sangat cepat, sehingga membuat percikan api di sekitar pedangku.
"Khuhuhuhu. Sebentar lagi eksperimenku dan God of Rule akan berjalan dengan sempurna." kata Kaze'aze. Ia terus tertawa. Aku lalu menyerangnya, berusaha menggagalkan eksperimennya.
"Hah, hah, hah, kau percaya dengan kekuatanmu ya?" tanyaku sambil mencari oksigen yang terpakai akibat menyerang Kaze'aze tadi. Kaze'aze yang merasa tidak senang langsung berkata.
"Tahu apa kau tentang kekuatanku?" tanyanya. Dia membuat kuda-kuda untuk menyerang. Aku juga bersiap-siap untuk menangkis serangannya.
Tring
Dia menyerangku berkali-kali hingga aku termundur sedikit. Aku juga tidak mau kalah, aku membalas menyerangnya dan menendang tepat di dadanya, membuat ia termundur kebelakang.
"Aku tahu. Karena kita…" ucapanku terputus "Saudara." Kaze'aze terdiam kaku, kesempatan ini tidak ku sia-siakan. Aku terus menyerangnya, tetapi dia sadar dengan gerakanku.
"Huh, jadi? Apa yang akan kau lakukan dengan saudaramu ini? Membunuhnya?" tanyanya sambil siap-siap menyerang dengan pisau.
Tring
Suara pedang beradu berbunyi lagi. Aku terkena serangan pisaunya. Gerakannya sangat cepat, hingga membuat perut kiriku mengeluarkan darah segar.
"Uhuk, uhuk, hehehe. Kau tahu, bila ada dua saudara sedang berkelahi seperti ini?" tanyaku kepada Kaze'aze. Dia hanya menggeleng dan berkata.
"Itu berarti, salah satu dari kita harus mati." ucapnya. Dia tertawa dengan keras. Aku tesenyum mendengarnya.
"Uhuk, bila dua saudara itu berkelahi, Ayahlah yang harus melerainya." ucapku. Dia kelihatan terkejut seperti ingat sesuatu.
"Ja, jadi kau ingin menyegelku di dimensi waktu ya?" tanyanya. Aku hanya mengangguk seraya mengeluarkan kalung permata berwarna biru. Aku lalu membaca mantra agar ayah mendengarnya.
"Grrrr. Tak akan kubiarkan." dia mengambil pisaunya dan melemparnya. "Matikau!" Teriaknya, dan…
Crass…
Pisau itu sukses membuat lubang di dada kiriku. Dia tertawa sambil memaki-maki.
"Hahahaha, Ayah tidak akan datang. Dia bosan denganmu, kau selalu mengadu kepadanya." balasnya sambil mengambil pisau yang kedua. Dia melemparnya lagi, dan..
Crass…
Serangan keduanya sukses membuat tusukan di dada kananku. Aku terjatuh ke lantai dengan darah yang masih mengalir dengan deras. Dia tertawa semakin keras. Dia terus memaki-makiku. Tak lama kemudian, kalung yang ku pegang mengeluarkan cahaya biru terang, hingga menembus langit yang berawna ungu.
Aku melihat wajah Kaze'aze begitu pucat dan sangat ketakutan. Cayaha putih yang ternyata adalah dewa tertinggi Highlander, membuat sebuah lingkaran besar merwarna merah. Lingkaran itu ternyata adalah portal dimensi waktu. Portal itu menghisap semuanya.
Sebelum Kaze'aze terhisap aku melihat Kaze'aze memberi sesuatu kepada ayah yang menjadi dewa Highlander. Entah itu kertas atau apa. Saat itu aku tidak sadarkan diri lagi.
Aku tidak merasakan apapun. Aku hanya melihat garis Horizontal membentang tanpa batas. Aku berpikir bahwa aku sudah mati. Saat itu muncullah cahaya yang sangat terang. Dewa tertinggi Highlander, dia menghampiriku.
Aku membungkukkan badanku, tanda hormat. Aku melihat dia sedang tersenyum kepadaku.
"Sieghart. aku sudah memperhatikanmu selama kau berada di bumi." ucapnya.
" mengecewakan anda." ucapku sambil menunduk. Aku takut dengan hukuman yang menanti diriku.
"Tidak. Kau berhasil, kau sama sekali tidak mengecewakanku." balas dewa Highlander. Aku begitu terkejut.
"Terima kasih." ucapku. Ayah tersenyum.
"Sieghart, sebagai hadiah. Kau mau ikut denganku ke negri langit atau tinggal di bumi?" tanyanya. Aku sangat bingung. Tetapi aku masih belum menepati tujuanku untuk membalas budi kakek dan nenek yang sangat baik itu.
"Untuk membalas budi kakek dan nenek. Aku akan tinggal di bumi. Menghentikan peperangan yang masih berlangsung sampai saat ini." ucapku yakin. Ayah tersenyum lagi dan mengambil sesuatu di belakangnya.
"Baiklah, jika itu maumu. Kau telah melakukan pilihan yang mulia, Sieghart." katanya. Di tangan kanannya terdapat secarik kertas. Dia lalu memberikan kertas itu kepadaku.
"A, apa ini?" tanyaku. Aku melihat kertas yang kelihatan lusuh itu.
"Surat dari saudaramu." ucap ayah. Aku lalu membaca isi dari kertas itu. isinya seperti ini.
Khuhuhuhu
Aku tahu, ayah pasti akan menyegelku di dimensi waktu.
Tapi ingat ini ayah, suatu saat aku akan mengambil alih
kekuasaan negri langit, dan menciptakan dunia baru yang
kupimpin bersama God of Rule. Aku akan kembali ke
bumi 80 tahun lagi. Menghancurkan segel dimensi waktu
bersama God of Rule yang juga ikut disegel bersamaku.
Oh, Untuk saudara ku yang menjaga planet bumi. Aku harap
kamu bisa mempertahankan bumi ini lagi setelah aku
keluar dari dimensi yang menysakkan ini. Jangan pernah
mengadu lagi kepada ayah, Sieghart.
Khuhuhuhuhuhu Sampai jumpa 80 tahun lagi.
Aku begitu terkejut dengan apa yang ditulis oleh Kaze'aze ini. Dia akan kembali lagi ke bumi ini? Mana mingkin dia bisa merusak segel dimensi yang dibuat Highlander.
"Kau mengerti Sieghart?" tanya Ayah. Aku hanya mengangguk.
"Baiklah kau akan ku hidupkan kau kembali. Aku akan menghidupkanmu 19 tahun sebelum Kaze'aze kembali ke bumi.
"Baik ayah." balasku
"Naiklah ke kuda hitammu." perintah ayah.
"Oh, iya bagaimana dengan Sellion?" tanyaku sambil bersiap-siap pergi dari hadapan dewa Highlander.
"Dia sangat sehat. Kalau kau ingin kembali ke negri langit, pakailah jubah teleportasi ini." balas Ayah
"Terima kasih ayah. Oh, iya apa aku boleh mengajak orang dari bumi ke negri lagit?" tanyaku kepada ayah.
"Boleh saja, tetapi dia harus benar-benar dekat denganmu. Bersikap jujur, dan bersikap sopan." balas Ayah.
"Hm, Baiklah ayah. Sampai jumpa." aku melambaikan tangan kepada ayah. Aku hanya melihat cahaya yang terang. Mengiringku dan Sellimon menuju dunia yang nyata.
XxxxxxxxxxxX
Aku membuka mataku dengan perlahan. Pemandangan pertama yang kulihat adalah sekelompok orang membawaku entah ke mana. Mereka berlima, dengan menunggangi kuda.
"Hei, dia bangun, tuh!" kata prajurit yang berada di belakang. Aku sadar, aku masih di buron oleh orang-orang. Tak kusangka, burononku masih berlaku sampai sekarang.
Aku segera bangkit, mengambil pedangku dan menjatuhkan orang-orang yang membawaku pergi. Aku melihat Sellimon diikat dan diseret kuda-kuda yang lain.
Aku mengambil topeng yang menutupi wajah mereka dan memakainya agar tidak ketahuan oleh orang-orang. Lalu membebaskan Sellimon dari ikatan tali-tali yang mengganggu itu. Saat di dekat sebuah kota, aku melihat orang yang sepertinya atasan prajurit yang tadi ku kalahkan.
Dia terlihat menyeramkan. Ide jahilku muncul untuk menjahili atasan prajurit itu.
"Hah, hah, cepat cari dia, jangan biarkan dia kabur!" teriak atasan prajurit itu kepada anak buahnya. Aku lalu datang menghampiri orang itu dan berkata.
"Ma, maaf pak, kami kehilangan jejak orang itu." balasku.
"Bodoh! kenapa kau bisa kehilangan jejak orang yang sama sekali tidak menunggangi kuda?" balas kepala prajurit itu sambil memaki-maki ku.
"Ta, tapi, dia menghilang dengan cepat saat sampai di perbatasan." balasku membela diri. Padahal dalam hatiku, aku sudah tertawa terbahak-bahak.
"Haah. Sudah jangan banyak komentar. Biar aku saja yang membunuhnya sendiri! Kau memang payah!" kata kepala prajurit itu sambil menaiki kudanya. Saat tahu kepala prajurit itu sudah menjauh. Dengan cepat aku membuka topeng yang menutupi wajahku.
"Huh, Dasar bodoh." balasku sambil berjalan terus hingga sampai di tempat yang tidak diketahui.
Sudah tiga bulan, aku berjalan tanpa arah. Aku sampai di kota yang kelihatan indah dan membeli sedikit persediaan makanan untuk ku dan juga kuda hitamku. Aku lalu berjalan menuju hutan yang tak jauh dari kota itu untuk melanjutkan perjalanan.
Sebenarnya firasatku tidak , aku tetap terus berjalan menelusuri hutan yang lebat ini. Di tengah jalan, aku melihat seseorang gadis sedang menangis di bawah pohon. Aku sebenarnya sudah tahuckalau ini pasti jebakan seseorang.
"Ada apa? Kau menangis bukan untuk menangkapku kan?" tanyaku kepada gadis berambut ungu yang sedang menangis itu. Hahaha, aku memang bodoh ya. Menyerahkan diri kepada musuh.
"Hahahahahaha… Kena kau." ucap seseorang dari atas pohon. Ia adalah seorang pemuda berambut biru tua dengan panjang sebahu.
"Apa aku boleh lari dari sini?" tanyaku sambil tertawa. Orang-orang yang melihatku mungkin menganggap aku ini gila.
"Hei, apa benar kau Sieghart?" tanya pemuda berambut putih pucat dari atas pohon. Aku lalu mengangguk.
"Kau tak boleh lari, jadilah batu!" ucap gadis yang tadi menangis. Dia membaca mantra supaya kakiku tak bisa bergerak.
"Ya, ya, ya aku tahu itu. Tapi kau jangan menyentuh kuda hitamku. Biarkan dia mengikutiku" balasku dengan malas. Aku penasaran akan di bawa kemana oleh orang-orang yang kelihatannya hebat ini.
"Tenang saja." balas seseorang berambut biru sebahu.
Aku berjalan menuju istana yang sangat besar. Di dalamnya pasti terdapat beribu-ribu manusia.
"Oh, iya, jaga kudaku baik-baik ya." ucapku disertai anggukan pemuda berambut biru sebahu itu.
Di dalam sana aku melakukan hal-hal yang tak pernah diduga orang, mulai dari memecahkan gelas, menyandera sang raja, sampai melakukan negoisasi. Aku yang keturunan dewa Highlander, berubah 180 derajat menjadi pengawal putri raja yang merepotkan.
Begitulah cerita nya. Kisah hidupku yang kalau ku ceritakan akan saaaangat panjang.
End of Flashback
End Sieghart's pov~
XxxxxxxxxxxX
"Nah, begitu ceritanya." ucap Sieghart kepada sang raja dan orang-orang yang ada di ruangan itu. Orang-orang yang mendengarnya hanya menganggukan kepala. Sudah 4 jam lebih Sieghart bercerita tentang Highlander dan tujuan dia turun ke bumi.
"Wahh, Sieghart aku ingin ke negri langit. Boleh nggak?" tanya Arme.
"Eh, aku juga ya? Di mana kau menyimpan jubah teleportasi itu?" tanya Lire.
"Hei, yang boleh ikut itu adalah orang yang sopan seperti aku." balas Elesis.
"Sieg, apa di sana ada Samurai yang sangat hebat?" tanya Lass.
"Ng? Aku lapar. Minta teh nya dong yang mulia." kata Dio.
"Sieghart. Sebenarnya kamu hidup di tahun berapa sih?" tanya Jin.
"Di sana pasti tidak menerima siluman ya?" tanya Ryan dengan sedih.
"Ohh, jadi kamu memiliki peliharaan Naga ya? Aku ingin melihatnya." ucap Ronan
"Loh, Sieghart nya mana?" tanya sang raja
Cklek
Pintu ruangan itu dibuka Sieghart. Dia menguap terus dari tadi karena menahan kantuknya.
"Tenang saja. Pertanyaan kalian akan ku jawab satu-satu besok." balas Sieghart sambil melambaikan tangannya. Orang-orang yang melihatnya terpesonadengan sifat khas nya Sieghart keturunan langsung dewa tertinggi Highlander itu.
TO BE CONTINUE
Behind the scene (Sebagai bonus)
Adegan1:
Erik: Oh, kalian berdua
Sieghart: Maaf, kami agak terlambat
Erik: Agak terlambat? Ini sudah jam 3 pagi, bodoh!
Sieghart&Nova: 'WTF'
Adegan2:
Raja: Sieghart, kemarilah. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.
Nova: Ada apa ayah?
Raja: Nggak, ayah gak nanya kamu koq, oh iya ibu tadi membeli Grape-pan
Nova: Benarkah? Ibu masih di dapur kan?
Pelayan: Nggak lagi di WC
Nova: *Sweetdrop*
Adegan3:
Sang raja menatap Sieghart dengan tatapan tajam seolah-olah ingin tahu apa yang sedang dipikirkan
Sieghart: Apa yang akan anda katakan?
Raja: Apa benar kau…
Sieghart: Apa?
Raja: 'Hamil'
Sieghart: *nebas author pake soluna*
Adegan4:
Sellion: Apa kau akan pergi ke bumi?
Sieghart: Iya, ini perintah dari dewa Highlander
Sellion: Kapan kau akan kembali?
Sieghart: Mungkin besok.
Sellion: *makan Sieghart*
Adegan5:
Kaze'aze: Khuhuhuhu. Akhirnya utusan dewa Highlander datan ya?
Sieghart: Kaze'aze kau akan membayar semuanya.
Kaze'aze: Wahh, jangan dong. Nanti aku bangkrut
Author: *gigit jari*
Adegan6:
Highlander memberi Sieghart secarik kertas
Sieghart: A, apa ini?
Khuhuhuhu
Aku tahu ayah lah yang memakan mie ayam yang aku beli di warung mbok Darmi.
Maka dari itu aku dan Thanatos akan menagih ayah agar mau ganti rugi, kalo
tidak, aku dan Thanatos akan minggat dari rumah
Khuhuhuhuhu Sampai jumpa di warung mbok Darmi.
Sieghart: Weq, dasar ayah gak modal.
A/N: Yang mau nulis Review silahkan klik di bawah ini ya.
