Disclaimer : Masashi Kishimoto

Halo. Akhirnya fic ini Yuu apdet juga. Maaf ya, kayaknya Yuu apdetnya lama. –ditimpuk kertas-

Akhir kata, read and review, please. :)

Warning : AU

LUPUS

Aku termenung sendiri di bangku taman. Dia juga tidak datang lagi hari ini. Aku menyesal sudah bertanya macam-macam kepadanya. Selama tiga hari ini, dia tidak datang untuk menulis puisi. Selama tiga hari ini, aku terus berharap dapat melihat senyumnya kembali. Dan selama tiga hari ini pula, aku berada diantara angan-angan antara melihatnya kembali atau tidak. Aku mengatupkan kedua tanganku di depan dada dan memejamkan mata. Aku berharap keajaiban akan terjadi. Ya Tuhan, aku mohon…

"Kau sedang apa?"

Mendengar suara lembut tersebut, sontak aku membuka mata.

"Ah, kau…"

"Kakak sedang apa?"

Bukan. Bukan dia. Yang berdiri di hadapanku sekarang adalah seorang gadis kecil berambut coklat ekor kuda dan bermata emerald. Tangan kanannya membawa sebuah tas kecil yang aku lirik isinya adalah beberapa tangkai bunga Lily putih kecil.

"Ah, aku hanya sedang melihat awan. Kau sendiri sedang apa, gadis kecil?"

"Apa kakak mau membeli bunga?" tanyanya dengan mata sendu. Aku terpana. Aku pikir bunga-bunga yang ada di tas kecilnya itu untuk ia berikan kepada ibunya.

"Berapa harganya?"

"1 Yen,"

"Ah, aku beli semuanya, gadis kecil."

"Benarkah?" tanyanya dengan wajah berseri-seri. Ia lalu mengambil semua Lily putih yang ada ditasnya dan memberikannya padaku. Aku membalasnya dengan menyerahkan uang 10 Yen.

"Terima kasih, kak." ujarnya seraya membungkukkan badannya. Aku tersenyum melihat tingkahnya. "Boleh kutahu, kenapa kau menjual bunga?" tanyaku pelan.

"Aku menjual bunga untuk membantu meringankan biaya pengobatan ibuku."

"Ibumu sakit apa?"

"Lupus."

Aku tersentak. Mendengar nama penyakit itu membuatku kembali mengingatnya. Gadis kecil di hadapanku tiba-tiba berlari menjauh sambil melambaikan kedua tangannya. Aku memandangnya sampai dia berbelok ke kanan di pertigaan. Aku kembali termenung. Menundukkan kepala sambil memandangi sepuluh tangkai bunga Lily putih yang ada di genggamanku. Aku menghela nafas.

"Kenapa kau terdiam sambil memandangi Lily putih begitu?"

Aku terkejut melihat seorang gadis manis yang kini duduk di sampingku. Rambut biru tuanya berkibar ditiup angin. Sore ini dia mengenakan rok putih panjang dengan baju hangat berwarna biru muda. Ingin sekali aku memeluknya saat itu juga.

"Hinata!" teriakku. Dia hanya menatapku dengan raut wajah heran.

"Kenapa selama tiga hari ini kau tidak kemari?"

"Aku harus menjalani beberapa pemeriksaan." jawabnya sambil tersenyum simpul. Dia lalu melirik bunga Lily putih yang ada di genggaman tanganku. "Untuk apa bunga itu?"

"Oh, tidak. Aku membelinya dari seorang anak kecil."

"Bunga Lily putih yang indah. Naruto, apa kau tahu artinya bunga Lily putih?" tanyanya dengan wajah sendu. Tidak. Aku tidak ingin melihat wajah sendu itu lagi.

"Aku tidak tahu. Apa artinya?"

"Lily putih itu melambangkan cinta sejati yang diliputi duka."

Aku kembali terpana. Aku tak pernah tahu makna sebuah bunga sebelumnya. Dulu aku hanya menganggap bunga sebagai hiasan. Tak pernah kupikirkan apa makna yang terkandung di dalamnya.

Aku kembali memandangi Lily putih dalam genggamanku. Sementara itu, Hinata mulai membuka buku biru muda kecilnya dan menuliskan sesuatu disana. Kupandangi wajah Hinata yang terlihat sendu. Tunggu, apa aku salah melihat? Kenapa pipi Hinata terlihat bengkak? Dan kenapa kulit wajahnya berwarna kemerah-merahan? Aku lalu mengalihkan pandanganku kearah tangan kanan Hinata yang kini sibuk menulis. Tangan kanannya pun berwarna kemerah-merahan.

"Hinata, ada apa dengan kulitmu?" tanyaku. Raut wajah terkejutku sama sekali tak bisa kusembunyikan. Hinata hanya tersenyum menanggapi ucapanku.

"Inilah Lupus, Naruto." Jawabnya pelan. Aku merasakan bahwa mataku panas, dan tanpa kusadari, air mataku telah jatuh mendengar perkataannya.

"Apa reaksinya secepat ini?! Hanya dalam tiga hari saja kau sudah seperti ini?! Kenapa?!" tanyaku setengah berteriak. Dia terkejut melihatku. Air mataku yang mengalir deras tidak kuperdulikan. Aku menyesal tidak mengenal dirinya sejak dahulu. Sejak pertama kali aku melihatnya menulis di bangku taman ini. Sejak aku masih melihatnya menulis sambil tersenyum kala itu. Aku tidak mau mengenalnya disaat terakhirnya. Aku tidak mau hadir hanya di akhir hayatnya. Aku tidak mau.

"Reaksinya memang cepat, Naruto. Tahukah kau mengapa aku tidak datang selama tiga hari ini?" Aku menggeleng.

"Bukan karena pemeriksaan yang harus kujalani. Tapi karena matahari. Aku tidak bisa berlama-lama di bawah sinar matahari." jawabnya pelan. Kedua bola matanya kini berkaca-kaca.

Otakku mengolah ucapannya tadi. Sinar matahari? Ya, tiga hari yang lalu sinar matahari memang cukup menyengat. Sementara hari ini langit dihiasi awan hitam tebal.

"Kenapa hanya tiga hari ini saja kau tidak bisa berlama-lama di bawah sinar matahari? Kenapa tidak dihari-hari sebelumnya?" tanyaku dengan nada bicara yang cukup keras. Bisa kulihat dia terluka atas perkataanku.

"Aku divonis dokter sembilan hari yang lalu! Apa kau tahu bahwa ibuku meninggal karena penyakit ini enam bulan yang lalu? Apa kau tahu sebenarnya aku sangat menderita? Apa yang kau tahu tentang penyakit ini?!"

Aku terdiam. Enam bulan yang lalu. Ya, aku ingat sekarang. Tepat enam bulan yang lalu, dia datang ke bangku taman dan menulis dengan raut wajah sendu. Tepat di minggu ke empat bulan Desember. Di sore hari di tengah derasnya salju yang turun, dia menulis dengan wajah yang teramat sendu. Aku heran melihatnya.

Biasanya, dia datang ke bangku taman dengan wajah ceria. Senyum lebar pasti akan selalu terhias di wajahnya. Sesaat di sela-sela kesibukannya menulis, dia pasti mengambil biji-bijian dari tasnya dan menaburkannya di depannya. Tak berapa lama, burung-burung kecil akan menghampirinya, dan dengan lahap mematuki biji-bijian yang ia tabur. Dia akan tertawa lebar melihatnya. Apabila tulisannya sudah selesai, dia akan memandangi burung-burung kecil di hadapannya. Terkadang dia akan meletakkan biji-bijian tersebut di tangan kirinya dan menunggu seekor burung kecil menghampirinya. Dan dia akan membelai burung kecil yang hinggap di tangannya. Biasanya aku hanya bisa melihatnya dari balik pohon sambil tersipu. Manis.

Tapi saat itu wajahnya sendu dan matanya sembab. Dengan pakaian berwarna hitam dia menulis sendiri di bangku taman. Menuliskan huruf demi huruf, kata demi kata, dan kalimat demi kalimat. Tangan mungilnya menulis dengan cepat. Aku hanya bisa memandangnya dengan tatapan heran. Aku ingin tahu apa yang terjadi dengannya.

Ya, tepat di hari itu. Hari dimana dia berhenti tersenyum dan tertawa lebar. Sejak hari itu raut wajahnya selalu sendu. Sampai sekarang.

Hinata kini menangis di hadapanku. Kedua tangannya menutupi wajahnya. Aku tersentak melihatnya. Apa yang tadi kulakukan? Kenapa aku membentaknya? Kini perasaan bersalah meliputiku. Aku lalu mengusap kedua pipiku dan mendekati Hinata. Reflek aku memeluknya dengan kedua lenganku.

"Maaf.." ucapku lirih. Hinata hanya mengangguk pelan. Selama sepuluh menit kami bertahan dengan posisi seperti ini. Aku merasa janggal. Hinata sama sekali tidak bergerak. Apa dia tidur?

"Hinata?" tanyaku sambil mengguncangkan bahu kanannya. Hinata tidak merespon sama sekali.

"Hinata? Hinata?" teriakku panik.

To be continued

Gimana ceritanya? Aneh kah? Kayaknya mereka berdua OOC ya? Maaf ya. Makasih buat yang ngasih review chap 1. Apa chap ini masih kurang panjang? Maaf lagi ya. Akhir kata, review please? :)