ROCKS

Naruto©Masashi Kishimoto

Story©Aulia Auriz

Sakura begitu syok sehabis mendapatkan telpon dari Ino tadi. Ponselnya terhempas jatuh begitu saja ke kasur bersprei putih itu. Bukan Hinata yang disyokkannya. Bukan Hinata, melainkan Naruto. Adalah Naruto, laki-laki yang dulu selalu menghiasinya dengan segala hal konyol dan tingkah bodohnya juga cengiran rubahnya. Naruto adalah pacarnya sebelum ia melihat Naruto berselingkuh dengan Hinata.

Setelah semua ini, setelah Naruto dan gadis indigo itu menghancurkan hatinya, mengapa ... mengapa mereka berdua tidak menikah saja? Mengapa sekarang Hinata memilih menikah dengan Kiba? Lalu bagaimana dengan nasib Naruto? Naruto ... apa yang terjadi padanya? Bagaimana kabarnya?

Sakura menghentak-hentakkan tangan kanannya ke dadanya. Dadanya–lebih tepatnya hatinya–terasa sakit sekali. Naruto harusnya bahagia dengan Hinata. Meskipun ia tak sepenuhnya merelakan hubungan keduanya, tapi itu lebih baik daripada kenyataan yang sekarang ia dengar.

Sakura terus saja menghentakkan tangannya, rasanya ada sesuatu yang menganjal berat di hatinya dan ia harus mengeluarkan sesuatu itu. Wanita bermata emerald itu meringis, memanggil-manggil nama Naruto. Air matanya yang entah dari kapan munculnya telah mengalir di pipinya.

Hinata ... mengapa gadis itu meninggalkan Naruto? Apa yang terjadi?

Sadar akan hal yang lebih penting daripada menangis seperti ini, Sakura pun menyeka air matanya menggunakan punggung tangannya. Sejak sepuluh menit yang lalu yang ada dalam benaknya hanyalah pria berambut pirang dengan mata biru dan tiga garis di masing-masing pipinya yang seperti kumis kucing.

"Naruto ..." ucap wanita itu dengan lirih.

Masih dengan terusan daster berwarna merah, ia kemudian bangkit untuk mengambil mantel berwarna coklat muda yang tergantung di sisi kamarnya. Ia meraih ponsel yang tergeletak di kasur lalu berjalan menuju keluar kamar sambil berusaha mengenakan mantel yang cukup tebal tersebut.

Ia menutup pintu kamarnya dan menuruni tangga dengan cepat. Ia ingin segera tahu apa yang tengah terjadi. Tak perlu memakan waktu yang lama, ia telah sampai di pintu depan rumahnya. Ia meraih sepatu selutut yang warnanya senada dengan mantelnya dan memasangnya di kakinya dengan cepat. Baginya, tak ada waktu lagi untuk tidak berlaku cepat.

Setelah mengunci pintu rumahnya, ia menekan beberapa digit angka yang telah ia hapal diluar kepala. Ia bermaksud menelpon pemilik nomor tersebut. Tak lama ia menunggu, panggilannya telah tersambung.

"Ino, aku akan ke rumahmu."

.

Sakura duduk dengan gelisah di kursi meja makan di rumah Ino. Sedangkan empunya rumah dengan santainya sedang mengaduk masakannya. Ino menarik pengaduk itu dan meneteskan kuah dari masakannya ke tangannya lalu mencicipinya. Merasa masih agak hambar, Ino pun menaburkan sedikit garam dapur ke masakannya.

Melihat masakannya sudah matang dan tingkah laku Sakura yang sudah tidak sabar, ia pun mematikan kompornya. Ino mengambil mangkok putih berukuran sedang dari dalam lemari piring dan memasukkan masakannya yang berupa sup itu kedalam mangkok tersebut.

"Kau mau makan dulu, Sakura?" tanya Ino sambil menaruh mangkok berisi sup itu ke meja makan dihadapan Sakura.

Sakura mendengus, "Oh, ayolah Inooo~ kau memperlambat waktuku. Katakan saja alamat rumah Hinata yang sekarang padaku maka aku akan pergi."

Ino melepaskan celemeknya lalu menggantungnya di sebuah gantungan di dinding dapur. Lalu merapikan kaos berwarna jingga dan celana panjang putihnya.

"Kau tahukan kalau aku tidak memasak maka Shikamaru, Shikari, juga Shikachu tidak akan makan siang. Mana mau si pemalas itu memasak, meskipun untuk anaknya sendiri."

"Kalau begitu katakan saja alamat Hinata, biar aku pergi sendiri," jawab wanita pemakai sabuk hitam karate itu.

Ino menggeleng pelan, "Tidak akan. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri lalu bertingkah nekat. Aku akan menemanimu. Beruntung sekali kau karena Shikamaru sedang ada dirumah, jadi aku bisa meninggalkan Shikari dan si kecil Shikachu pada ayahnya."

Sakura memutar bola matanya bosan, tahu begini ia tak perlu datang ke rumah Ino jika harus mendapatkan omelan dari wanita "Ya kalau begitu, cepatlah. Aku ingin segera bertemu dengan gadis itu."

"Baiklah, baiklah. Tunggu aku mengambil jaket dulu, yaa," kata Ino sebelum ia berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya di lantai kedua rumahnya.

.

Saat ini Sakura bersama Ino sedang duduk menaiki kereta menuju kediaman Hinata yang ternyata cukup jauh itu. Sakura yang duduk di dekat jendela, mengarahkan pandangannya menuju pemandangan yang tersaji diluar sana. Memorinya menerawang menuju masa lalu, disaat pertama kali ia dan Naruto bertemu.

.

Hari itu adalah hari pertama masuk SMA. Sakura yang baru pindah ke kota ini pun masih belum mempunyai teman. Tiba-tiba Sakura melihat seorang laki-laki berambut pirang yang ia belum pernah temui sebelumnya. Lelaki itu duduk menyendiri di bangku yang berada di halaman sekolah.

Tak lama datanglah dua makhluk berkuncir menghampiri lelaki itu. Setibanya gadis cantik berambut pirang ponytail dan lelaki tampan berambut hitam yang menyerupai nanas itu, lelaki pirang yang menyendiri tadi langsung berubah menjadi ceria. Sakura terusmengamati lelakipirang itu. Ia begitu tertarik dengan lelaki pirang itu sampai-sampai ia tak sadar kedua sahabat si lelaki pirang tengah melihat ke arahnya.

Gadis berambut pirang ponytail itu melambaikan sebelah tangannya kepada Sakura yang berdiri sekitar 10 meter dari mereka, "Hei, rambut merah muda, kemarilaah!"

Sakura tersentak kemudian ia kelabakan. Ia menoleh kesekitarnya dan tidak ada orang lain selain dirinya yang berambut merah muda yang dipanggil oleh gadis itu.

"Eh? A-aku?" tunjuknya pada dirinya sendiri.

Gadis pirang itu mengangguk pasti, "Iya, kemarilah. Ayo gabung dengan kami!"

Si cantik Sakura perlahan berjalan menghampiri ketiga orang yang duduk di bangku panjang dari kayu yang di cat putih tersebut.

"Hei, Naruto. Kau kenal dengan dia?" bisik si laki-laki rambut hitam ke telinga seseorang yang ia panggil Naruto.

Naruto menggeleng lemah, "Tidak, aku belum pernah kenal dengan gadis secantik dia."

Gadis ponytail itu berdiri lalu mengulurkan tangan kanannya pada Sakura, "Namaku Yamanaka Ino, kalau kamu?"

"Ino yaa ... Aku Sakura, Haruno Sakura," jawab Sakura sambil berjabat tangan dengan Ino, gadis yang tak lama akan menjadi sahabat karibnya.

Ino melepaskan tangannya lalu menunjuk ke arah Shikamaru dan Naruto, "Oh ya Sakura, ini teman-temanku. Perkenalkan, si pemalas yang berambut hitam itu Shikamaru dan si bodoh yang berambut kuning itu Naruto."

"Inooo ..." Shikamaru mengeluh disebut oleh Ino dengan 'si pemalas' seperti itu pada orang yang baru ia kenal, sedangkan Ino hanya menjulurkan lidahnya pada Shikamaru.

"Aku Nara Shikamaru. Aku bukan pemalas."

Dan kata-kata Shikamaru refleks membuat Sakura tertawa mendengarnya. Sakura mengamati interaksi antara Shikamaru dan Ino, dan ia tahu mereka memiliki perasaan lain selain perasaan seorang teman.

"Aku Uzumaki Naruto, si bodoh yang tampan. Salam kenal Sakura-chan."

Lagi-lagi Sakura tertawa, Naruto memang sedikit narsis. Tapi ia benar, Naruto itu tampan. Dengan mata biru indahnya juga rambut pirang yang kerennya dan kulit kecoklatannya yang membuatnya terlihat maskulin. Bagi Sakura, Naruto bukan hanya tampan tapi juga seseorang yang mempunyai wajah yang manis.

"Iya, salam kenal juga Shikamaru," Sakura tersenyum manis sebelum melanjutkan kata-katanya, "Dan ... Naruto".

.

To be continued.

.

Bales ripiu duluuu~:

monalisa8 : makasih udah dibilang keren, semoga tambah keren yaa~ :D hayoo, penasaran yang mana coba? xD ini udah update kilat pan? Tapi chapter depan gak janji kilat lho, kemungkinan guntur doang *ngaco* makasih udah nge-fave #bow

Kelanix 99 : hehe, naruto-nya perlahan-lahan muncul kok, alurnya udah fokus ke naruto nih :D

Klay Asther : makash udah dibilang menarik, semoga tambah menarik yaa~ :D ini udah update chapter 2 ^^

Dear God : haha, semoga seru yaa :D ini sudah super kilat ^^

Kayaknya chapter depan masih tentang flashback sih. Fict ini memang sebagian besarnya tentang mengingat dan mengenang masa lalu, jadi mungkin akan banyak scene flashback. Aau tahu fanfic ini banyak kekurangannya, maka dari itu bisakah reader sekalian memberikan komentar, kritik dan sarannya atau apapun? Terima kasih bagi yang sudah baca terutama yang bersedia me-ripiu.

Dear regards,

Aulia Auriz.