Title : Our Loves (sequel of Loves You)
Writer : Oline
Pair : Yunjae
Genre : romance, sweet
Length : Oneshoot

Disclaimer : This story purely mine and Yunjae's not mine.

WARNING !
BOYS LOVE ! BOYSxBOYS ! lil bit NC scene !

DON'T LIKE DON'T READ !

:::YUNJAE:::

Desember, 12 20xx

Musim salju menghiasi suasana kota Seoul serta butiran salju yang kini menyelimuti seluruh area perkotaan membuat beberapa orang bahkan malas untuk keluar dari rumah mereka.

Namun berbeda dengan dua orang pria tampan dan cantik yang sedang berjalan dikawasan komplek rumah yang cukup sepi sambil bergandengan tangan.

"Kau kedinginan ?,"

Suara bass Yunho membuat Jaejoong menoleh dan menatap wajah pria tampan yang sangat ia cintai itu. Tidak terasa, hubungan mereka sudah menginjak 2 tahun, dan sebentar lagi Yunho akan lulus dari Toho High School.

"Tidak, hyung."

Jaejoong menggeleng cepat sambil tersenyum manis kearah Yunho. Namun, kelihatannya pria tampan itu tidak percaya dengan pengakuan Jaejoong. Terbukti pria tampan itu berhenti berjalan sambil melepaskan syal merah yang sejak tadi melingkar dilehernya.

Jaejoong hanya diam memperhatikan Yunho yang sedang melepaskan syal merah itu dan mulai melingkarkan syal itu dilehernya tanpa banyak bicara hingga membuat syal itu hampir menutup mulut hingga hidung Jaejoong.

"Tidak dingin tapi hidungmu sudah memerah seperti itu."

Yunho tersenyum sambil menarik hidung mancung Jaejoong dengan lembut.

"Bagaimana dengan hyung ? Tidak dingin ?,"

Jaejoong berucap khawatir sambil menangkupkan kedua tangan mungilnya dipipi Yunho yang terasa dingin walaupun tangan Jaejoong sudah terbungkus sarung tangan bergambar gajah pemberian Yunho tahun lalu.

"Tidak apa-apa. Asal kan kau tidak sakit."

Jaejoong cemberut saat mendengarkan ucapan Yunho. Selalu saja pria tampan itu hanya mementingkan kepentingan Jaejoong ketimbang kepentingannya sendiri, kadang Jaejoong merasa sangat membebani Yunho.

"Sudah. Kita harus cepat pulang, pipimu sudah memerah."

Cup

Yunho mengecup bibir Jaejoong singkat lalu kembali meraih tangan Jaejoong dan memasukkan tangan mungil Jaejoong kedalam kantung sweater yang dikenakannya.

Jaejoong diam lalu tersenyum dan menyandarkan kepalanya dipundak Yunho dan memeluk lengan pria tampan itu dengan salah satu tangannya yang bebas.

"Aku mencintaimu, hyung."

"Aku juga,"
.

.

"Masuklah, kau sudah kedinginan."

Yunho memeluk tubuh Jaejoong lalu mengusap topi Jaejoong yang terkena salju yang makin banyak turun.

"Hyung~,"

"Apa, sayang?,"

"Popo."

Yunho tertawa kecil sambil menutup bibirnya dengan punggung tangannya. Betapa manisnya kekasihnya ini walau sudah 2 tahun berlalu namun sifat polos dan manis Jaejoong tetap tidak berubah.

"Arra."

Yunho perlahan menempelkan bibirnya diatas bibir Jaejoong dan mulai melumat bibir manis Jaejoong dengan gerakan lembut. Seperti biasa, Yunho sama sekali tidak pernah mencium Jaejoong dengan nafsu, ia selalu mencium pria itu dengan penuh cinta dan selembut mungkin.

Setelah beberapa menit berciuman, Yunho perlahan menjauhkan wajahnya namun leher kemeja yang dipakai Yunho ditarik oleh Jaejoong seolah pria cantik itu enggan berpisah dengannya.

"Hyuuung~jangan pulang."

Yunho tersenyum geli lalu mencubit pipi Jaejoong.

"Kau sudah kedinginan, sayang. Masuklah. Besok aku akan kemari lagi, aku ingin membawamu kesuatu tempat yang indah."

"Sungguh?,"

"Apapun untuk'mu."

Jaejoong tersenyum manis lalu secara perlahan melepaskan syal yang diberikan Yunho tadi.

"Pakailah, hyung masih jauh sampai kerumah."

Jaejoong berucap sambil memasang syal itu dileher Yunho. Meninggalkan pria tampan itu tersenyum penuh karisma padanya.

"Terima kasih, aku mencintaimu."

"Aku juga sangat mencintai'mu, hyung."

.

"Woaaa~tempat ini indah sekali hyung!,"

Jaejoong membentangkan kedua tangannya kesisi tubuhnya saat ia melihat sebuah danau yang sudah beku menjadi es disertai hiasan bola dan boneka salju disekelilingnya.

"Kau menyukainya ?,"

"Sangat ! Terima kasih, hyung."

Jaejoong menghampiri Yunho dan memeluk tubuh tegap Yunho yang berbalut sweater tebal itu. Namun, rasa hangat yang begitu khas tetap menguar dengan jelas dari tubuh Yunho.

"Sebentar lagi aku akan lulus."

Kedua pria yang awalnya berpelukan itu langsung berpandangan.

"Lalu apa yang akan hyung lakukan setelah lulus?,"

Yunho terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya tersenyum.

"Aku ingin kuliah di Universitas Dong Bang dan mengambil jurusan bisnis."

Jaejoong mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum kearah Yunho lalu kembali memeluk tubuh Yunho.

"Aku setuju saja asal hyung tidak pergi jauh dari Joongie."

Yunho tersenyum lalu membalas pelukan Jaejoong lalu mengusap punggung pria itu dengan lembut.

"Tentu saja. Setelah itu, aku akan menikahimu."

"Apa?!,"

Jaejoong mengangkat wajahnya dan memandang wajah tampan Yunho, membutnya mendapatkan sebuah kecupan manis dibibirnya.

"Iya, aku sudah tidak sabar memilikimu. Bahkan sejak aku pertamakali melihatmu."

Jaejoong tersenyum lebar kearah Yunho dan mengeratkan pelukannya kearah pria tampan itu.

"Aku mau, hyung."

Biarlah, cinta yang begitu manis itu akan tetap bertahan hingga akhir.

.

"Perkenalkan Jae, ini adalah Boa noona."

Jaejoong membungkukkan tubuhnya kepada seorang wanita yang merupakan mantan kekasih Yunho sewaktu SMP dulu.

"Perkenalkan noona. Ini Jaejoong, dia-"

"Aku kekasihnya Yunho hyung."

Jaejoong memotong ucapan Yunho sambil memeluk otot lengan Yunho dengan erat. Seolah ia ingin menegaskan bahwa Yunho kini memiliki pendamping dan orang itu adalah dirinya.

"Ah, salam kenal Jaejoong-ssi."

Keadaan tidak seperti yang dibayangkan oleh Yunho. Ia mengira Jaejoong akan bisa akrab dengan Boa namun nyatanya sejak tadi Jaejoong terlihat tidak menyukai Boa dan terus menempel padanya.

"Jadi, kalian sudah 2 tahun pacaran ?,"

"Ya, sejak Jaejoong masih dikelas 1dan aku dikelas 2."

Yunho menjawab pertanyaan Boa lalu melirik Jaejoong yang masih memandang sinis kearah Boa sambil memeluk lengannya dengan begitu erat.

"Oh, kuharap kalian akan awet."

"Terima kasih."

.

"Apa yang akan kuberikan pada Yunho dihari ulang tahunnya Su-ie ?,"

Junsu yang sedang membaca komik diatas ranjang Jaejoong terlihat berpikir lalu menjentikkan jarinya pelan.

"Bagaimana dengan tubuhmu?,"

"APA ?!,"

Jaejoong mengangakan mulutnya mendengar penuturan Junsu yang menurutnya gila. Kenapa sahabatnya menjadi begitu mesum seperti sekarang.

"Apanya ? Tidak masalahkan jika seorang kekasih menghadiahkan keperawanannya kepada kekasihnya sendiri?,"

"Tapi itu salah, Su-ie. Sejak kecil aku selalu menjaga diriku hingga ada pria seperti Yunho hyung yang menikahiku dan mengambil keperawananku."

Jaejoong merenggut lalu kembali membolak-balik majalahnya.

"Ya sudah kalau kau tidak mau. Aku'kan hanya menyarankan."

Junsu mengendikkan bahunya lalu kembali meneruskan kegiatannya.

"Ah ! Bagaimana menurutmu dengan jam tangan Su-ie ?,"

"Hmm, bagus. Kebanyakan pria menyukai jam tangan."

"Bagus !,"

Jaejoong bertepuk tangan pelan sambil membayangkan saat ia merayakan ulang tahun Yunho berdua dan ia memberikan jam tangan ini, ini pasti terlihat sangat romantiskan?

.

"Halo sayang?,"

"Hyung, kau dimana ?,"

Jaejoong membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Dari kemaren ia tidak bertemu dengan Yunho dan ia merasa sangat rindu hingga memutuskan untuk menelepon Yunho saja.

"Oh, aku dirumah. Aku baru saja bangun tidur, sayang. Aku sangat lelah."

"Lelah kenapa hyung ? Bukannya kemarin libur?,"Tanya Jaejoong pelan.

"Aku baru saja mengantar Boa noona berbelanja,"

Deg !

Jantung Jaejoong seketika berpacu dengan cepat, pria manis itu menggigit bibir bawahnya. Perasaan takut akan kehilangan Yunho kembali timbul didalam hati Jaejoong.

"Hy-"

"Ah, sudah dulu ya sayang. Kau tidurlah, ini sudah malam. Aku mencintaimu."

Pip !

Jaejoong memandang nanar handphone yang berada ditangannya sedetik kemudian, pria cantik itu melemparkan handphone'nya kelantai lalu berbaring diatas ranjang dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.

"Hiks,"

Dan menangis.

.

.

Yunho berlari menelusuri kompleks perumahan itu dengan cepat. Sesaat ia merasa sangat khawatir ketika Heechul-ibu Jaejoong-mengatakan jika Jaejoong sedang sakit.

Selama beberapa hari ini Yunho sangat disibukan berbagai tugas dan belajar untuk ujiannya nanti hingga waktu luangnya bertemu dengan Jaejoong menjadi berkurang.

'Tok tok tok'

Yunho mengetuk pintu kayu itu dengan cepat, sebelum akhirnya seseorang memebukakan pintu untuknya.

"Umma, dimana Jaejoong?,"

Heechul tersenyum kearah Yunho yang terlihat sangat khawatir, tapi Heechul sangat tahu jika Yunho tengah kelelahan dan sangat mengantuk karena mengerjakan tugas akhir dan belajar untuk ujiannya.

"Dia dikamar, sejak tadi ia menangis terus." Ucap Ibu Jaejoong khawatir.

"Mwo ? Menangis?,"

.

'Ceklek'

"Hiks,hiks."

Yunho tersenyum saat aroma manis kamar Jaejoong kembali menyapa indra pembau'nya. Namun pandangan Yunho seketika tertuju pada sesosok pria manis yang tengah berbaring telungkup diatas ranjang.

Dengan gerakan pelan Yunho berjalan menghampiri Jaejoong dan duduk ditepi ranjang. Tangan Yunho yang besar perlahan mengusap kepala Jaejoong dengan lembut membuat tubuh Jaejoong menegang akibat kaget.

"Sayang,"

Seperti biasa Yunho menyapa Jaejoong dengan lembut sambil terus mengusap kepala pria manis itu. Kejadian ini kembali mengingat Yunho pada 2 tahun yang lalu saat Jaejoong juga menangis karena dirinya.

Yunho melihat Jaejoong tidak mau berbalik dan malah meraih selimut tebal miliknya lalu menyelimuti sekujur tubuhnya yang berbalut piyama soft blue.

Yunho menghela nafas pelan sambil tersenyum lembut.

"Sayang, ayo buka. Ini, aku Yunho'mu."

"..."

"Kau tidak rindu padaku?,"

"..."

Yunho masih tersenyum. Walaupun Jaejoong yang salah atau bersikap egois seperti sekarang, belum pernah sekalipun Yunho marah dan emosi kepada Jaejoong. Yunho selalu berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat Jaejoong bahagia.

"Aku sudah 1 minggu ini belajar keras untuk ujian. Bahkan kantung mata'ku sudah sangat besar seperti panda.."

Ucap Yunho sambil terus mengusap kepala Jaejoong yang tertutupi selimut.

"...kadang aku merasa sangat lelah dan ingin berhenti belajar, namun, saat melihat figura dirimu diatas mejaku membuatku kembali bertekad untuk lulus,"

"..."

"Tadi aku ditelepon oleh Heechul umma jika kau sedang sakit, kau tau bagaimana reaksi'ku tadi sayang ?,"

"..."

"Aku sangat khawatir dan berlari dari rumahku sampai kesini, rasa kantukku menghilang berganti menjadi rasa khawatir."

Yunho masih mempertahankan senyum lembutnya. Ia melihat tubuh Jaejoong mulai bergetar dibawah selimut diiringi suara tangisan yang terdengar lirih.

"...Saat aku berlari kerumahmu, yang aku pikirkan hanya, aku ingin cepat melihat wajah manismu dan memelukmu."

"..."

"..tapi, ternyata bidadariku ini tidak mau bertemu denganku."

"..."

"Apa Kim Jaejoong sudah tidak mencintai Jung Yun-"

HUP !

Tubuh tegap Yunho hampir saja terjungkal kebelakang saat Jaejoong tiba-tiba saja memeluknya dengan erat.

Yunho akhirnya tersenyum lalu mengusap-ngusap punggung Jaejoong dan membenamkan wajahnya dileher Jaejoong menghirup aroma manis yang begitu khas disana.

"Aku rindu pada hyung,-hiks"

Yunho tersenyum lembut lagi, lalu mengusap rambut Jaejoong beberapa kali.

Pria tampan itu melepaskan pelukannya pada Jaejoong lalu menangkup wajah Jaejoong yang sudah penuh dengan air mata lalu mengusap wajah itu dengan jarinya.

"Aku juga merindukan bidadariku ini,"

Blush~

"Aku mencintai Yunho hyung~huhu~Yunho hyung hanya milik Joongie~huhu~,"

Yunho hendak tertawa saat melihat ekspressi Jaejoong yang tengah menangis sambil mengucapkan betapa ia mencintai Yunho dan takut kehilangan dirinya.

"Arraso..aku juga sangat mencintaimu sayang, Jaejoong hanya milik Jung Yunho. Eum?,"

Yunho tersenyum lalu mengusap air mata Jaejoong dan mengecup pipi halus itu dengan lembut.

"Uljimarayo. Jangan menangis lagi eum ? Kau membuatku seperti pacar yang tidak berguna. Kau tau sayang ? Bahkan disini sangat sakit saat melihat air mata'mu menetes setiap saat."

Yunho meletakkan tangan Jaejoong didadanya dan memandang penuh kelembutan wajah cantik Jaejoong.

Jaejoong mengerjap-ngerjapkan matanya saat Yunho mencium jari jemari'nya dengan lembut.

"Aku takut Boa noona merebut hyung dari ku."

What ?

Yunho sontak memandang wajah Jaejoong namun sedetik kemudian pria tampan itu tertawa sambil menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya.

Yunho merasa begitu gemas dengan kepolosan Jaejoong. Jadi, karena ini pacarnya itu menangis ? Hanya karena mantan'nya itu ?

"Mana mungkin wanita yang sudah menikah merebut Jung Yunho-mu ini darimu, sayang."

Yunho mencubit pipi Jaejoong dan memandang mata besar Jaejoong dengan lembut, mencoba mengatakan jika ia tidak berbohong. Yunho sama sekali tidak pernah berbohong pada Jaejoong, ia selalu berusaha untuk jujur dan apa adanya.

"Sungguh?,"

"Iya."

Jaejoong tertawa sebelum akhirnya menangkupkan wajah Yunho dengan jari jemari mungilnya dan ia mengamati wajah Yunho yang terlihat kusut namun tidak mengurangi ketampanannya.

"Hyung lelah?,"

Tanya Jaejoong lalu menatap mata Yunho yang terdapat kantung mata yang cukup besar bergelayut dibawah matanya.

Yunho tersenyum lembut lalu membawa tubuh Jaejoong kepelukannya.

"Iya, sudah 1 minggu aku tidak tidur dengan benar sayang."

"Mian, hyung."

Yunho sontak melepaskan pelukannya pada tubuh Jaejoong dan mengernyit heran.

"Mian kenapa, hmm ?,"

"Mian, karena Joongie egosi, Yunho hyung jadi bertambah lelah."

Yunho tersenyum dan menggeleng pelan.

"Tidak. Kau sama sekali tidak egois, bahkan rasanya aku sangat bahagia saat setiap saat kau mengirimkan sms bahwa kau sangat merindukanku."

Jaejoong bersemu merah saat mendengar ucapan Yunho, pria manis itu kemudian berbaring lalu menepuk sebelah kasur kecil miliknya.

"Hyung, tidurlah disini."

Yunho tersenyum dan mengangguk pelan. Pria tampan itu kemudian ikut berbaring sebelumnya melepaskan jaket tebal miliknya. Yunho meraih selimut dan menutupi tubuh mereka.

Kasur itu serasa sempit untuk tubuh mereka, namun mereka berdua masih dapat tersenyum bahagia saat tubuh mereka berdekatan dengan begitu manis.

Jaejoong meletakan kepalanya dilengan Yunho dan tersenyum kearah Yunho.

"Jika kita menikah nanti, kasur kita akan lebih besar dari yang ini."

Jaejoong tertawa mendengar ucapan Yunho lalu ia mengangguk kecil.

"Iya, aku ingin yang bergambar gajah dan beruang."

"Semuanya sesuai keinginanmu, sayang."

Iya, selamanya cinta ini akan terasa manis bagi diriku dan untuk dirinya..

.

.

"Masuklah."

Jaejoong perlahan masuk kedalam kamar Yunho yang terdapat poster motor-motor sport serta pemain bola, walau begitu, kamar Yunho terlihat rapi. Dan kamar ini sungguh berbeda dengan kamar Jaejoong yang dipenuhi boneka gajah dan hello kitty. Tentu saja.

"Duduklah disitu."

Yunho tersenyum kearah Jaejoong sambil berlalu keluar kamarnya untuk mengambil makanan dan minuman.

Yah, hari ini adalah hari kelulusan Yunho dan hari ini adalah pertama kali Jaejoong masuk kedalam kamar Yunho setelah 2 tahun menjalin asmara.

Rumah Yunho begitu sepi. Karena kedua orang tua'nya sudah lama tinggal di Jerman untuk mengurus bisnis mereka disana, dan tinggallah Yunho disini sendiri bersama para maid dan pelayan rumah.

Jaejoong duduk diatas ranjang Yunho lalu mulai memperhatikan seisi kamar itu. Wajah Jaejoong memerah ketika melihat fotonya saat musim salju tahun lalu terpajang dengan begitu manis diatas meja belajar Yunho.

Serta beberapa foto dirinya bersama Yunho juga ada disana. Entah kenapa hati Jaejoong menjadi menghangat.

"Ini, minumlah."

Jaejoong menoleh saat melihat Yunho datang sambil membawa segelas es jeruk serta beberapa cemilan.

"Terima kasih hyung."

"Sama-sama, baby."

Lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, Yunho berdiri lalu mulai melepaskan seragam yang kini tidak akan pernah dipakainya lagi.

Jaejoong yang melihat Yunho hanya menunduk malu sambil memainkan sebuah cincin emas yang dulu diberikan Yunho saat ulang tahunnya.

Ulang tahun ?

"Hyung."

Yunho yang tengah memilih beberapa kaus yang akan dipakainya menoleh kearah Jaejoong.

"Apa baby ?,"

"Ini."

Yunho mengernyit lalu berjalan menghampiri Jaejoong. Pria tampan itu meraih sebuah benda kotak yang diberikan oleh Jaejoong.

"Apa ini sayang?,"

"Maaf aku terlambat memberikannya hyung, ini untuk hadiah ulang tahunmu dua bulan yang lalu."

Jaejoong tersenyum malu kearah Yunho, bagaimana tidak ? Pria tampan masih shirtless didepannya.

Yunho balas tersenyum kearah Jaejoong lalu mengecup dahi Jaejoong dengan lembut.

"Terima kasih, aku sangat menyukainya."

Memang hanya sebuah jam tangan biasa dan Yunho tahu harga jam tangan itu tidak semahal harga jam tangan lain miliknya. Namun, Yunho sudah bertekad. Hanya jam tangan ini yang akan dipakainya mulai sekarang.

"Maaf hyung. Jam tangan itu tidak mahal seperti jam tangan hyung yang lain, namun Joongie tetap bangga bisa memberikannya pada hyung karena Joongie membelinya dengan uang tabungan Joongie sendiri."

Yunho serasa meleleh saat mendengar penuturan Jaejoong. Ia merasa makin mencintai pria yang sudah ia jadikan kekasih selama 2 tahun ini.

"Tidak apa-apa. Asalkan itu darimu, aku pasti sangat menyukainya."

"Aku mencintaimu, hyung."

"Aku lebih mencintaimu."

Perlahan wajah Yunho mendekat kearah wajah Jaejoong dan menyatukan bibir tebalnya dengan bibir Jaejoong yang serasa begitu manis dan lembut.

Perlahan Jaejoong memejamkan matanya saat Yunho melumat bibirnya dengan lembut. Jaejoong begitu suka ketika ketika Yunho mencium bibirnya dengan lembut seperti sekarang, membuat dirinya serasa disayangi dan dicintai.

"Ehmm.."

Jaejoong mendesah lirih saat lidah Yunho masuk menembus pertahanannya. Bisa dikatakan, ini pertama kalinya Yunho menciumnya menggunakan lidah.

"H-hyuungg~,"

Yunho yang tersadar kemudian melepaskan ciuman mereka, ia dapat melihat dengan jelas wajah merona Jaejoong yang begitu cantik dan mempesona membuat dirinya jatuh cinta untuk yang ke 10ribu kalinya pada pria cantik itu.

"Jae, bolehkah aku memilikimu sekarang?,"

"..."

"Aku sudah lulus dan sesuai janjiku pada ibumu, aku tidak akan menyentuhmu sebelum aku lulus dan bekerja."

Yunho berkata jujur. Ia sudah lulus dan sebentar lagi ia akan menjadi calon direktur diperusahaan Jung Corporation yang ayahnya warisan padanya. Walaupun masih SMA, kemampuan Yunho dalam mengurus perusahaan tidak dapat diragukan lagi, terbukti beberapa kali ia menggantikkan ayahnya memimpin rapat bersama kolega perusahaan mereka.

"Jadi, bolehkah ?,"

"..."

Yunho tersenyum tipis walaupun agak kecewa saat melihat wajah gugup Jaejoong, membuat dirinya menjadi tidak tega untuk memaksa Jaejoong. Yunho merasa menjadi kekasih yang buruk, seharusnya ia tahu Jaejoong masih belum siap untuk hal 'itu'.

Tangan Yunho bergerak mengelus rambut Jaejoong agar membuat Jaejoong kembali tersenyum.

"Tidak apa-apa. Tidak seharusnya aku memaksamu, sayang."

Yunho tersenyum lagi lalu beranjak dari ranjang itu namun..

"Aku belum menjawab, hyung. Dan aku, mau."

Yunho kembali menolehkan kepalanya kearah Jaejoong dan menatap tidak percaya kearah pria manis yang tengah menunduk malu itu.

Yunho tersenyum lalu menghampiri Jaejoong sebelum bibirnya mencium bibir Jaejoong lembut dan membawa tubuhnya dan tubuh Jaejoong jatuh diatas ranjang miliknya.

.

"Nghhh..ahh~,"

Mata besar Jaejoong yang indah mengeluarkan air mata saat akhirnya pertahanannya ditembus oleh Yunho.

Jaejoong bukan menangis karena menyesal, namun ia menangis karena bahagia. Lelaki yang begitu ia cintai yang pertama menyentuh dirinya dan hal itu terasa begitu manis.

Yunho menyentuhnya begitu lembut tanpa paksaan membuat Jaejoong dapat ikut merasakan kenikmatan saat tubuhnya dan tubuh Yunho bersatu.

"Ah~ah~aku mencintaimu,hyungg."

Jaejoong merasakan jari jemarinya menyatu dengan jari jemari panjang Yunho saat ia merasakan tubuhnya tersentak-sentak akibat gerakan Yunho.

"Aku juga mencintaimu, sayangku. Aku sangat mencintaimu."

.
.
.

"Ahh~,"

Jaejoong melengkungkan tubuh telanjangnya saat ia merasakan tubuh bagian dalamnya tersiram oleh benih Yunho yang memenuhinya.

Tubuh Yunho ambruk diatas tubuh Jaejoong. Kedua pria itu sama-sama terengah sebelum akhirnya sama-sama tersenyum dengan pancaran bahagia diwajah mereka.

Yunho meraih jari Jaejoong dan memakai sebuah benda bulat berkilau yang ia pasangkan dijari manis Jaejoong. Cincin cartier.

Perlahan bibir Yunho mencium jari itu dengan lembut.

"Jadilah pendamping hidupku, Jae."

"H-hyung~,"

Yunho tersenyum lagi, ia merasa tidak pernah lelah tersenyum kearah Jaejoong. Ia ingin menunjukan betapa ia sangat mencintai pria cantik itu melalu senyum manisnya.

"Aku mencintai'mu."

Yunho mencium kening Jaejoong dan membawa tubuh Jaejoong kedalam pelukannya.

"Aku juga sangat mencintai'mu, Yunho hyung."

'...Hidup akan terasa hambar tanpa hadirnya cinta,'

'..Jika duri untuk melindungi sang mawar, maka cintaku padamu adalah untuk melindungi dirimu dari luka rindu..'

'..Denganmu aku bahagia hidupku di penuhi banyak warna, namun jika kamu tinggalkan'ku mungkin yang terisa hanya derita yang hanya akan mencabik jiwa'

END

Note : terima kasih buat yang sudah rivew dan baca ff saya. Saya senang karena ternyata ff saya cukup diterima disini. Awalnya saya tidak punya cukup kepercayaan diri untuk posting disini, tapi saya berjanji akan berusahan lebih bagus nantinya.

YeChun, DahsyatNyaff,atarashi11,xena hwang,

Aaliya Shim, joongmax, manize83, bambiJung

Fb : Caroline Febriana Inka

Twitter : carolineinka