Ellos, Reader.

Selamat datang di Fanfiction Mirai Nikki buatan Kamigami.

Fict ini Kamigami buat saat Kamigami sedang nonton 'Mirai Nikki' *telat banget ya saya -_-. Terus pas lagi nonton, kebetulan saya lagi demen-demennya sama PewDiePie. Itu loh Let's Player terkenal di Youtube yang Subscribernya sudah menempati peringkat 1 dunia, menggeser SMOSH

Akhirnya saya putuskan untuk membuat Fanfiction Cross Over 'PewDiePie X Mirai Nikki' ini.

Yay, sekarang udah Chapter 2. Dan terima kasih buat Master 'Tian Long' dan 'Vey' yang sudah datang untuk Mereview Fanfiction buatan Kamigami. Aku mau menanggapi Reviewnya Master 'Tian Long' dan 'Vey'nih.


'Tian Long' : Maasih master udah datang untuk mereview Fanfiction aba bin gajhe buatan Kamigami. Masalah Rules, saya juga bingung nih, katanya gak boleh make karakter yang non-fiksi ya? Saya kurang paham sih. Tapi ada kok yang bikin Amnesia X PewDiePie. Iya Master. Plot nya terjadi di dunia nyata, bukan khayalan si Pewdi. Si Pewdi ngira si Deus itu teman Imajinasi, padahal si Deus itu Dewa betulan. Soal Genre, enggak jadi Parodi. Itu udah saya apus soalnya salah. TTOTT.

'Vey' : Judul Game disini kebanyakan buatan Author (Jadi ceritanya Sequel dari Game yang emang sudah ada, tapi ada juga yang murni buatan Author). Fans PewDiePie di Indonesia lumayan banyak loh. Okedah, Ultimate Brofist.


Oh iya….. No Flame ya, Kalo kena flame nanti aku Hiatus tingkat dewa lagi nih….. DX….

Jangan lupa Review ya….. ^^v…

Disclaimer : Mirai Nikki buatan Esuno Sakae, PewDiePie punyanya CutiPieMarzia, PS Vita punya Playstation, Amnesia& DreadOut bukan punya Kamigami, yang Kamigami punya Cuma fict ini ^^v.

Summary : Setelah kecelakaan yang menyebabkan Marzia meninggal, Felix Kjellberg memutuskan untuk tinggal di Jepang, di sana dia mempunyai teman Imajinasi yang mengaku sebagai dewa, 'Deus'. Deus mengundang Felix dalam 'Survival Game' yang ia buat. Akankah Felix dapat bertahan hidup dan menjadi Dewa pengganti Deus? *Gak Pandai bikin Sumarry -_-.

Warning AU, Gajhe, dan Typo Rese yang disebabkan oleh Autocorrectnya Micropot Word, dan Author yang males ngoreksi *hammer, Abal, Keren (bohong), ^^v….. Mind to Read and Review….. ^^v.


PewDiePie's Survival Game!

2013 (c) Kamigami


Chapter Two !


[[[ Felix aka PewDiePie POV ]]]

Malam itu, aku sedang tertidur lelap dan terbangun oleh bunyi Notice yang keluar dari Handphone ku. 'YeYe Fist Pump'. Masih setengah tersadar, aku merogoh Handphoneku yang ada di saku celana panjang bahan kain yang belum sempat aku ganti semenjak tadi siang. Aku memaksakan mataku yang masih merekat sangat erat satu sama lain untuk melihat Handphone yang sudah aku dapatkan dari saku celana.

"Owh SMS dari gadis stalker itu….. Oh, iya aku belum menanyakan alamat sekolahnya. Aku bisa bertemu dengannya disana." Gumamku, seraya meng-unloack SmartPhone ku yang terproteksi dengan 15 Digit Huruf dan 20 Digit Angka.

"Dat BEACH Stalker"

"Ferix, aku bersekolah di SMP tidak jauh dari rumahmu. Ehm… Apakah kamu mau bertemu sepulang sekolah."

Aku bahkan belum sempat bertanya dimana sekolah. Sepertinya dia sudah menggunakan Diarynya untuk mengetahui apa yang ingin aku tanyakan, Stalker….. Tapi ya sudahlah, Pulsaku jadi tidak terbuang percuma. Aku membalas SMS nya. "Ya. Bolehlah. Sekarang aku mau Tidur dan ingat, Call me Pewds." Setelah itu aku segera melanjutkan tidurku yang terganggu oleh SMS masuk.

Keesokan harinya, sekitar pukul 12, aku segera pergi ke SMP tempat Yuno bersekolah. Sepertinya sekarang belum jam pulang, tetapi aku terpaksa pergi lebih cepat, karena aku lupa menanyakan jam berapa dia akan pulang sekolah? Sesampainya, disana aku segera meminta Ijin dengan Satpam (emang ada yah?) untuk menemui Yuno.

"Permisi, bisakah saya minta izin untuk bertemu dengan siswi bernama Yuno Gasai?" Tanyaku Sopan.

"Nama anda siapa?" Satpam itu bertanya tanpa melihat ke arahku. Dia terlalu sibuk membaja majalah pria dewasa yang dia beli di tukang loak(?).

"Saya….. Felix Kjellberg. Bolehkah saya masuk?" Tanyaku lagi. Satpam itu segera menutup dan menyimpan majalahnya itu.

"Pe….. PewDiePie….. Wahhhh….. Saya telah menjadi seorang Bros sejak 3 tahun lalu. Pewdi, mengapa kamu berhenti melakukan Let's Play." Satpam itu segera mengepalkan telapak tangan kanannya. Dan kami pun melakukan BroFist.

"Pak. Bolehkah saya pergi sekarang?" Tanyaku lagi. "Silahkan. Silahkan." Jawab Satpam itu dengan Ramah. "Mau saya antar?"

"Tidak usah pak, sekalian saya mau mengeksplorasi tempat ini." Akupun segera memasuki areal sekolah yang cukup luas dan segera mencari Yuno. Perjalanan tidak berjalan dengan lancar. Ternyata di sekolah ini terdapat banyak Bros. Mereka menanyakan alasan mengapa aku sudah berhenti melakukan Lets Play. Aku dibuat tersanjung oleh mereka. Setelah semua ini selesai aku janji akan segera melakukan Lets Play lagi. Setelah mencari cukup lama dan tidak mendapatkan hasil. Aku beristirahat sejenak dan mengeluarkan PS Vita milikku.

"Future Diary milikku. Diary yang seharusnya dipenuhi dengan tulisan mengenai masa depanku. Tetapi mengapa Diary milikku ini kosong. Yang ada hanya judul bertuliskan 'Gaming Future Diary' dan tulisan 'Dead End' Jika salah satu dari pemilik Diary lainnya mencoba membunuhku." Gumamku.

"Para pemilik Diary lainnya menggunakan Diary mereka sebagai pedoman untuk membunuh sesame Pengguna Diary lainnya. Dan yang bertahan paling akhir akan menjadi Dewa. Tapi bagaiman aku bisa selamat jika Diary ini tidak memberitahukanku apapun tentang masa depanku. Kemarin aku dan Yuno berhasil membunuh Third, salah satu pemilik Diary . Yuno merusak Diary miliknya, dan lalu dia menghilang. Seperti terhisap ke sebuah Black Hole yang tak terlihat." (Author juga rada bingung gimana ngejelasinnya -_-)

"Aku dan Yuno? Tidak, aku tidak membunuhnya. Yuno lah yang melakukannya. Aku tidak akan bisa membunuh pemilik Diary lainnya. Karena Diaryku….. Sampah, yang hanya membantuku dalam menyelesaikan Walkthrough. Yang kemarin menciptakan Keajaiban itu Yuno, bukan diriku. Aku tidak akan bisa bertahan hidup cukup lama. Kecuali….."

"Aku harus bersatu dengan Yuno untuk mengalahkan pengguna Diary lainnya. Tetapi….Pada akhirnya, aku tetap akan dibunuh olehnya. Jadi ujung-ujungnya sama saja. CheckMate. Lagipula dia adalah seorang Stalker. Mengapa Deus memberikan aku Diary yang tidak berguna ini?" Aku memutuskan untuk kembali mencari Yuno. Setelah beberapa menit kemudian aku menemukannya.

"Hehey… Apa kamu punya waktu?" Tanyaku kepada Yuno.

"Maafkan aku, Ferix. Pelajaran selanjutnya adalah Pendidikan Jasmani. Aku akan membuat waktu nanti. Kita akan berbicara." Yuno menatapku dengan tatapan dingin, Lalu dia membungkuk untuk mengambil sesuatu dari Kolong Mejanya.

"Ferix, ambilah ini." Dia memberikanku sebuah Pena mahal dengan merek Mont Blanck. Pena Mahal itu memiliki ujung yang runcing. Yup, sejenis Pen Knife yang dapat digunakan untuk mengupas apel. "Untuk mempetahankan diri. Memang benda ini tidak efisien untuk mempertahankan diri. Tapi pena ini pasti lebihberguna daripada bolpoin yang kemaren kamu bawa."

"Ah… Terima Kasih. Ini aku ada sesuatu." Aku segera mengambil Patung Stephano dari tas Ransel yang aku bawa. "Benda ini membawa keberuntungan bagiku. Ambilah!" Aku menyerahkan patung ahli pedang Mesir itu kepada Yuno. Yuno terlihat senang.

"Stephano? Apakah kamu berjanji akan menjaga, Yuno?" Tanyaku pada Stephano.

"Tentu saja, Pewds. Ellos, Yuno. I am Stephano." Aku berbicara dengan suara Stephano. Lalu Yuno segera menciumku untuk ketiga kalinya, aku mendorongnya mundur lagi.

"Ferix, sampai Jumpa lagi." Perempuan Penguntit berambut merah jambu itu berlari secepat kilat meninggalkan kelas.

"Call MEH….. PEWDS, BEACH….." Teriakku kepada Yuno yang sudah menghilang dari kelas itu. "Lagipula apa yang aku harapkan dari gadis penguntit itu, dan Mengapa dia senang menciumiku?" Gumamku.

"Excuse Me. Bolehkan aku bertanya?" Seseorang mengetuk pintu kelas. Aku segera menoleh menuju sumber suara. Ternyata yang mengetuk adalah seorang perempuan Berambut dan ber iris mata Ungu, yang mengenakan pakaian Gothic.Rambutnya dikuncir dua. Sungguh mencurigakan.

"Laidiehh….. Disini sedang bukan tempa acara CosPlay itu digelar. Acara Cosplay di sebelah….. sana." Aku menunjuk ke sembarang arah. Perasaanku menjadi tidak enak, apakah perempuan ini merupakan pemegang Diary.

"Tidak, aku sedang tidak pergi ke acara Cosplay. Ehm, dimanakah tempat kantor Staff dan pengajar?" Tanya Perempuan itu. "Aku ingin bertanya tentang Hiyama-Sensei." Sambungnya.

"Ehm…. Aku bukan pelajar disini. Tetapi, aku tahu dimana letak ruang staff itu. Ruang itu ada di lantai 1, disamping toilet Laki-laki." Jawabku asal. Aku hanya ingin dia pergi. "Dan Siapa Hiyama-Sensei itu? Apakah dia 'wali kelas' kelas ini?" Aku balik bertanya.

"Ya. Aku mendapatkan info bahwa dia adalah pembunuh berantai itu." Dia menjawab pertanyaanku., dan berjalan ke arahku. Keringatku mulai mengucur. "Dan kamu adalah Ferix Kjerrberg, kan?" Pertanyaan ini membuatku kaget. Namun aku mencoba mengasumsikan dirinya sebagai seorang Bros. Aku mengepalkan tangan kananku dan mengarahkannya ke arahnya.

"PewDiePie. Let's Player yang memutuskan untuk berhenti bermain dan memulai menulis Walkthrough game horror untuk konsol PS Vita, benar kan?" Tanyanya. Aku segera menurunkan tanganku, dan merogoh PS Vita yang ada di saku celanaku. "Ya, aku mulai memainkannya sebulan yang lalu."

"Hiyama-Sensei tidak masuk hari ini. Pembunuh itu telah mati. Apakah kamu tahu?" Tanya perempuan beriris mata ungu itu. "Yeah, He Deserves it. And I don't Care about That BEACH." Jawabku dengan penekanan di kata terakhir.

"Future Diary miliknya adalah 'Murder Diary'. Dia mencoba untuk membunuh First, tetapi malah terbunuh. Sebenarnya Hiyama-sensei adalah Third." Dia mengetahui tentang Future segera mengambil ancang ancang untuk kabur dari tempat ini. Namun tangan kananku disambar oleh perempuan itu. "Mainan yang bagus." Tanyanya, kakiku menjadi lemas tak bertenaga.

"DUDE, If you Leave me. I'm going to give all of my 'POKEMON TCG'. Just Leave me, Okay." Aku mencoba untuk bernegoisasi dengannya. Namun sepertinya dia tidak tertarik dengan Kartu 'Trading Card Game'.

"Kamu pasti adalah First. FERIX KJERRBERG." Dia tersenyum kearahku. Bukan sebuah senyuman manis, melainkan sebuah senyuman jahat. Lebih jahat dari senyuman orang jahat yang suka ngeluarin senyuman jahat, yang jahat, yang tinggal di tempat orang-orang jahat, yang suka melakukan sesuatu yang jahat. *YODAWG *MindFahk. Vita ku mengeluarkan bunyi Static. Aku segera memeriksanya.


"Gaming Future Diary"

""7/12/2013 1250 : DEAD END,Explosion all over the school. "


"DEAD ENDDD.….." Teriakku Panik. "VITA…. JUST… BEACH Slap MEH!." Aku ngambek kepada Diaryku yang hanya bisa mengeluarkan suara Static dan tulisan 'Dead End'. "Dasar Tidak Berguna." Gumamku. Aku pikir aku akan segera mati di tempat itu. Hingga aku mendengar suara…..Suara Harapan.

"FERIXXX…." Yuno berlari ke arahku dengan membawa sebuah Fire Extingusher. Lalu dia segera mengayunkannya ke gadis berpenampilan aneh itu. Sialnya, gadis itu berhasil menghindar.

"Benderanya telah ditetapkan. Aku adalah Ninth, Minene Uryuu! Kamu tidak akan mengalahkanku semudah kamu mengalahkan Third. Mati kau First." Dia memberitahukan identitasnya dan segera melompat keluar melalui jendela sekolah. Yuno menarik tanganku, dan berlari keluar kelas. Dan tak lama kemudian, Ledakan mulai terjadi.

"De…. Dead End. Apakah semuanya sudah berakhir." Tanyaku yang terduduk melihati keadaan sekolah yang sudah diledakan. "Aku akan mati 3 jam lagi?" Kataku dengan nada bertanya.

"Jangan khawatir, Ferix." Yuno yang sedari tadi memelukku segera melepaskan pelukannya. Tangannya meraih sesuatu yang berada di dalam tas kecil miliknya. "Aku akan membunuhnya. Dan ini." Dia mengeluarkan Stephano dari dalam tasnya. "Stephano. Jimat keberuntunganmu." Aku tersenyum, gadis ini memang memberikanku harapan.

"Tenang saja, akan keluar dengan selamat dari sini. Aku akan membunuh perempuan itu." Kata Stephano yang diisi suaranya oleh Yuno. Aku mengusap rambut Yuno, dan segera mengambil Stepahno dari tangan Yuno.

"Gasai-san. Stephano tidak memangilku Ferix. Dia memanggilku PewDi. Dan seorang ahli pedang tidak akan membunuh seorang perempuan." Aku menjelaskannya sambil tersenyum. Yuno mengambil Stepahno lagi.

"Maafkan aku, Pewdi. Tapi aku yakin kita akan keluar dari sini, karena Yuno akan membunuh perempuan itu." Yuno kembali mengisi suara Stephano. Aku mulai tertawa kecil.

"Stephano tidak berbicara dalam bahasa Jepang. Dan suaramu tidak cocok dengan suara Stephano. Gasai-san, Kamu boleh ambil Stephano. Ayo kita bergegas." Dengan seberkas harapan yang telah diberikan oleh gadis penguntit itu, aku segera mengajaknya pergi dari tempat nista ini.

"Aku akan melakukan apapun untuk mu, Ferix." Yuno menciumku lagi. Sebenarnya aku agak terganggu dengan ciumannya. Tetapi kali ini aku memutuskan tidak mendorongnya.

"Gasai-san…. Kita akan selamat?" Kataku lirih. "Ya, itu pasti, Ferix." Kamipun segera bergerak untuk mencari cara keluar dengan selamat dari tempat ini. Diluar gedung nista ini. Minene Uryuu, teroris keparat itu, sedang memberikan ultimatum kepada Guru dan para Murid yang ada di dalam gedung. Gedung ini telah dipasangi beberapa bom olehnya. Bom yang menggunakan sensor gerak sebagai pemicunya. Dengan kata lain, kami semua terperangkap di gedung ini, dan menjadi Sandra teroris itu.

"Ayo, Gasai-san." Kami berdua berjalan sambil berjongkok agar tidak dapat terdeteksi oleh Minene. Tetapi kami harus tetap waspada, salah langka berarti mati. Apakah Diaryku deapat menolongku saat ini. Aku segera memeriksa Diary milikku. Tetapi hasilnya, aku hanya melihat tulisan 'Gaming Future Diary' yang membuatku muak. Again, NO ENTRY. Namun setidaknya aku berhasil kabur dari 'Dead End', untuk sesaat.

"Semuanya berkumpul di gedung seberang." Yuki mengintip melalui kaca yang berserakan akibat ledakan tadi. "Ayo, Gasai-san. Kita harus bergerak." Kami berdua bergerak turun melalui tangga, namun sebelum menuruni tangga, Yuno menghentikanku.

"Ferix, berhenti. Jika kita berdua menuruni tangga akan men-trigger sebuah ledakan." Yuno membaca Diary miliknya. Akupun memutuskan untuk melihat Diaryku dengan harapan akan ada masukan di Diary tersebut. Namun hasilnya kurang memuaskan. 'Dead End, Explosion on The Stair'. Sampah. Sepertinya diary ini hanya bisa memprediksi kapan aku akan mati. Kami berduapun merubah rute perjalanan.

Tidak lama kemudian, aku mendengar bunyi Static, tepat di depan sebuah ruangan kelas. Bunyi itu berasal dari Diary milik kite berdua. Aku berharap sesuatu masukan yang baik akan terjadi di Diaryku, namun hasilnya lebih parah daripada yang sebelumnya. 'Dead End, Explosion on Class 2-C.'

"FERIXXX…" Yuno segera mendorongkan tubuhku menjauh sehingga kami berdua berhasil selamat dari ledakan itu. "FAHK… I SHOULD MEMORIZED THIS SCHOOL MAP." Sesalku.

"Selanjutnya apa, Ferix?" Tanya Yuno yang masih belum berdiri. Aku segera melihat Diary ku, 'Dead End, Explosion on The Hallway'. "FAHK, BEHIND US." Yuno segera berdiri dan menyeretku menyingkir dari lorong nista itu. Harus kuakui Yuno memang hebat, Refleknya Cepat dan Akurat. Aku beruntung dia ada di pihakku. Ini akan menjadi mudah.

Setelah ledakan itu, kami berdua berlari membabi buta, dan tiba tiba aku merasakan sesuatu yang panas dibelkangku. Ledakan tepat di belakangku. Aku beruntung dapat lolos dari ledakan itu. Lalu kamipun turun kelantai bawah melalui lubang di kelas yang disebabkan oleh ledakan yang baru saja terjadi.

"Ferix, selanjutnya apa?" Tanya Yuno. Aku segera memeriksa Diaryku lagi, dan sekarang Diaryku kosong, tidak menunjukan bendera 'Dead End' lagi. Aku baru saja ingin memberitahu Yuno, kalau kami berdua akan aman. Namun tiba tiba sebuah ledakan terjadi dibelakangku lagi. Ledakannya membuatku terhempas agak jauh dari tempat aku berdiri.

"Ferix, apa kamu tidak apa apa?" Tanya Yuno. "Aku tidak apa apa,kok" Jawabku memasang muka Nicholas Cage 'YouDontSay'. "Ferix, kamu harus melihat apa yang akan terjadi setelah Ledakan. Jangan hanya melihat kapan dan dimana ledakan itu akan terjadi!" Peringat Yuno. Kalimat Yuno yang barusan dia ucapkan, membuat semua harapan yang dia berikan sirna. Aku mulai menangis takut, dan melempar Vitaku ke lentai. (Manly Tears coy)

"A…. Ada apa, Ferix?" Tanya Yuno bingung. Dia segera mengambi Fiary milikku yang tergeletak di lantai, dan segera melihat isinya. "Ferix, mengapa di diary milikmu tidak tertuliskan apa yang akan terjadi selanjutnya." Yuno tersentak kaget, melihat Diary ku kosong, dalam keadaan No Entry.

"Selama ini aku hanya menjadi seorang Let's Player, dan penulis Walkthrough. Selama ini aku hanya menuliskan sebuah walkthrough game yang sedang aku mainkan. Diary ini tidak menuliskan petunjuk apapun sekarang….. Karena aku sedang tidak bermain Game. Gasai-san, I am a Goner." Aku mulai putus asa. Rasanya hampir tidak mungkin aku bisa bertahan hidup. Tiba tiba suara static terdengar dari Diary milik Yuno. Diapun segera melihatnya, dan lalu menyeretku untuk segera meninggalkan ruangan yang sedang kami tempati, dan. 'BOOOMMM', ledakan terjadi. Akupun semakin pesimistis dapat bertahan hidup.

"Ferix, kamu harus tahu….." Setelah menghindari ledakan itu, Yuno bebicara denganku dengan napas yang tersengal-sengal, sedangkan aku hanya diam, tenagaku seperti sudah dikuras sehingga tidak dapat melakukan apapun.

"Ini semua yang terjadi adalah sebuah permainan. Permainan antara hidup dan mati. Permainan yang mengharuskan kamu untuk bertahan hidup. Permainan yang diciptakan oleh Deus untuk mencari penggantinya sebagai Dewa Ruang dan Waktu. Ini adalah sebuah Survival Game, dan kamu tidak pernah menganggapnya sebagai sebuah Game, Ferix. Kamu tidak memiliki niatan untuk memenangkannya, Ferix. Yang kamu pikirkan, hanyalah bagaimana caranya agar tidak terbunuh. Namun kamu tidak pernah berpikir untuk menjatuhkan para pemilik Diary lainnya. Aku pikir, inilah yang menyebabkan Diarymu tidak menuliskan apapun tentang apa yang akan terjadi. Karena kamu sedang tidak bermain." Sambungnya.

"Yuno. Aku bukanlah seorang pembunuh, seorang teroris, ataupun seorang ahli beladiri. Aku hanya seorang Lets Player dan penulis Walkthrough. Bagaimanaa mungkin aku bisa mengalahkan mereka?" Tanyaku kepada Yuno. "Oh iya. Mulai sekarang aku akan memanggilmu Yuno. Karena, hal itu membuatku lebih nyaman." Sambungku.

"Kamu pasti bisa melakukannya, Pewds." Yuno meyakinkanku. Dan dia tidak memanggilku Felix lagi. Melainkan Pewds. Hal ini membuatku cukup senang. Aku pun segera mengusap rambut merah jambu miliknya lagi.

"Yuno, kamu memanggiilku Pewds?" Tanyaku. Yuno tersenyum, lalu berkata "Karena aku adalah seorang Bros." Akupun ikut tersenyum dan kami berdua melakukan Bro Fist.

"Yuno, bisakah kamu melindungiku? Sampai Diaryku berfungsi dengan baik. Sampai aku dapat menganggap semua ini hanya sebagai sebuah permainan. Sampai aku memiliki kemampuan untuk menjatuhkan yang lain." Tanyaku kepada Yuno. "Ya, Pewds. Aku akan melakukan apapun untuk melindungimu, dan kamu akan tetap hidup."

"Ayo, Pewds. Kita harus segera ke gedung sebelah. Disana ada para Murid dan guru." Yuno mengalirkan tangannya ke arahku. Aku meraihnya. "Dan juga para Bros. HAHH…"

Aku dan Yuno melanjutkan perjalanan. Dan semuanya berjalan terlalu lancar, mungkin….. Terlalu lancar, tidak ada bom yang meledak ledak. Semua mencurigakan. I got a Ghost bump from this thing. Kami berdua melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya aku melihat beberapa orang siswa yang tadi menyapaku. Mereka semua adalah anggota Bro Army. Bukankah mereka dilarang keluar dari kelas. Ini semua mencurigakan. Sangat mencurigakan. Dan aku mulai bertanya Tanya pada diriku sendiri. "Sejak kapan aku se-cermat ini?". "HAHH… GENIUS PEWDS STRIKES AGAIN.

"Yuno, tolong pegang Diary milikku." Aku menyerahkan Vita milikku ke Yuno. "Aku akan menjumpai para Bro Army disana. Namun perasaanku tidak enak. Oh iya, dalam keadaan darurat DO NOT BREAK the VITA." Aku segera berjalan ke arah pasukan Bro.

"Hei, siapa namamu tadi? Kousaka?" Aku bertanya kepada salah satu anak yang aku temui tadi. Kalau tidak salah namanya 'Kousaka'. Setelah anak itu menyadari kedatanganku. Dia beserta teman temannya segera berlari ke arahku. Kupikir mereka hanya ingin meminta tolong kepadaku. Namun perasaan tidak enakku terjawab. Mereka semua menyekapku. Sepertinya mereka telah disuruh oleh Teroris itu.

"Ferix…." Yuno datang untuk menolongku, namun sepertinya teroris itu juga menyuruh anak-anak ini untuk menangkapnya. Setelah kami berdua tertangkap, aku segera diseret ke lapangan, sedangkan Yuno masuk di tarik masuk kedalam kelas.

"I…. Ini semua tidak dapat dipercaya. Kalian semua adalah BROS dan seorang Bro Army. Mengapa kalian melakukan ini?" Aku berteriak mengumpat para siswa yang menangkapku. Para siswa yang mengaku sebagai seorang Bros. "I KNEW YOU WORK WITH THE BARRELS….." Teriakku lagi.

"Tanah ini telah dipasangi Ranjau, yang juga menggunakan sensor gerak. Kalian semua keluar dari sekolah dan semuanya akan meledak. Jangan banyak bergerak First. Sekarang serahkan Diarymu." Ninth memintaku untuk menyerahkan Diaryku padanya. Dan tiba tiba, ledakan terjadi di gedung sekolah. Hal ini membuat Ninth bingung, dia tidak mengaktifkan bombnya. "Y U NOOOOO….." Teriakku kea rah gedung. Bros palsu yang tadi menangkapku segera berlari kocar kacir.

"YUNO….. Berhenti ….. Semuanya akan mati." Aku menyuruh Yuno agar segera berhenti. "FAHK…. At This Rate I AM GONG TO DIE, TOO. FAHK, WE'RE FAHKING DEAD….." Gerutuku.

"Tenang saja, First. Bukan hanya kamu yang akan mati kali ini. Semua bombnya akan meledak dalam 15 Menit." Ninth memberi tahuku hal ini dengan senyuman jahatnya. Senyuman yang membuatku geram. Senyuman yang membuatku kesal. THAT SMILE THAT MADE ME PISSED OFF.

"NINTH….. Aku tidak akan mati hari ini. Kamu yang akan mati. Aku akan memenangkan Game Nista ini, dan Menjadi Dewa. Dengan kata lain….. Aku akan mengalahkanmu." Bentakku. Bentakanku membuatnya tertawa. "Bagaimana caranya kamu bisa membunuhku, First?" Tanya Ninth dengan nada mengejek.

""Do you speak Chopnese, huh? Do ya? Chop, chop, chop, chop, chop. Aha! You don't! Because I was the one who invented it." Aku bertanya seraya mengeluarkan Pen Knife yang tadi diberikan oleh Yuno dan mengayun-ayunkannya. Kali ini aku benar benar ingin membunuhnya.

"Owh…. Betapa menyedihkan dirimu, First. Kamu…. Membunuhku dengan pena itu. Sepertinya kamu lebih pantas menjadi pelawak daripada seoarng Gamer." Ninth tertawa jahat ke arahku. Dan tiba tiba suara tembakan yang diarahkan ke rambut kiri Ninth aka Uryuu Minene terdengar.

"Jangan terlalu bersemangat. Membuat kekacauan di daerah kekuasaanku."Seseorang dengan jas berwarna biru ke abu-abuan itu datang dan berdiri disebelahku. "Are you working with the Barrels or are you a Bros?" Tanyaku pada orang tersebut.

"Kita bertemu juga, Ferix. Atau bisa kupanggil First. Aku sudah pernah bilangkan kalau aku akan melindungimu." Pria itu menoleh ke arahku. "Owh, kamu….. Jujur, pak. Siluetmu terlihat lebih tampan daripada dirimu." Aku mencoba untuk memuji pria yang telah bersedia untuk melindungiku.

"Bukannya sudah terlalu lambat untukmu menampakan diri, Fourth?" Tanya Minene. "Kamu adalah Fourth?" Tanyaku pada pria itu. Pertanyaanku terdengar sangat 'UDontSay'. "Yah, begitulah." Jawabnya singkat.

"First. Sebenarnya Ninth tidak mengincarmu. Sebenarnya dia mengincarku." Pria itu segera mengeluarkan sebuah HandPhone Flip berwarna ungu dari dalam jasnya. "Diaryku adalah 'Investigation Diary'. Diary yang meramalkan tentang kejahatan. Aku tidak tertarik untuk menjadi dewa. Tetapi aku tidak mau terjadi sebuah kejahatan di wilayahku." Dia menodongkan revolvernya ke arah Minene.

"Tidak, itu tidak akan terjadi Fourth…. Bunuhlah First dan Dirimu sendiri, Fourth. Minene-Sama akan memenangkan Game ini dan menjadi dewa. Seorang polisi yang dapat meramal hanyalah sebuah gangguan." Teriak Minene dengan nada jahat bin liciknya itu.

"Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya." Pria yang berprofesi sebagai seorang polisi itu segera bersiap siap untuk menembak Minene. "Atau semuanya akan mati…." Minene mengancam akan meledakan seluruh bomb yang terdapat di sekolah ini.

"Jadi jika seperti ini… Perubahan rencana, First. Aku harus membunuhmu, jika aku harus memilih." Sekarang Fourth menodongkan pistolnya ke arahku. "Apakah semuanya sudah berakhir?"Gumamku. Lagi lagi aku menjadi pesimistis. Disaat aku berpikir bahwa aku akan mati saat itu, tiba tiba Yuno melompat ke belekang Minene dari lantai dua dengan membawa Fire Extingusher. Dia mengayunkan senjatanya itu, namun serangannya masih dapat dihindari oleh Teroris kelas kakap itu.

"Felix, ambil ini….." Yuno melemparkan Vitaku dengan kuat sehingga aku yang berada jauh di seberang lapangan dapat mengambilnya dengan mudah (Tenaga macam apa itu). Setelah itu tubuh Yuno ditendang oleh Minene dan dia pun terhempas agak jauh.

"Fourth. Sebelum kamu membunuhku. Aku akan mengalahkannya dulu karena aku sudah bersumpah untuk menyingkirkannya." Aku berkata dengan nada serius milik Badass Pewds. Fourth hanya tersenyum. Dan Tiba tiba suara Static terdengar dari PS VITAku. "Dan jangan tersenyum kearahku, Fourth. Kamu terlihat sangat Gay." Kataku kembali menggunakan suara Normal, dan lalu memeriksa Diary milikku.


"Gaming Future Diary"

"You may only have one (1) copy of this saved to your harddrive OR printed for personal, private use. "

"Achievement Obtained (100 G) 'Miracle is Exist' : Beat The Third and Obtained the 'Bloody Finisher'."

"Achievement Obtained (25 G) 'Chop… Chop… Chop…' : Mention about Chopnese Language'."

"Achievement Obtained (25 G) 'Potato Stuck In My Throat' : Do The Badass Pewds"

"AchievementRevealed (100 G) 'YOLO Beach…!' : ?"

"Achievement Revealed (25 G) 'Rendezvous With The Justice : ?"


"7/12/2013 1352 : 'Guess The Landmine', This is the easiest Puzzle in The Gama. Don't Cheat in this puzzle Pewds. Here's the Hint. Start from the Law Enforcer left side and Begin to walk 10 Times to To the North, Fly 5 Times To the North, Walk 5 Times To The North, Do a Sidestep to the Right Twice, Walk 10 Times To The North, Do a Sidestep to the Left Twice, Fly again 5 times To The North, and Dash Forward to The North before the Witch Kill You."


"Achievement, AM I PLAYING A GODDAMN XBOX? HAH….?" Teriakku ke arah Vita setelah melihat bahwa aku mendapatkan sebuah Achievement dan membuka sebuah Achievement rahasia. "Dan apakah ini sebuah Puzzle?" Gumamku dalam hati setelah melihat tulisan 'Guess The Landmine'.

"Start from the Law Enforcer?" Aku mencoba untuk memecahkan Petunjuk yang kurang jelas yang diberitahukan oleh Diaryku, sedangkan diseberang sana Yuno dan Minene sedang berkelahi. "Hukum? Baiklah, aku asumsikan dia adalah Fourth." Gumamku, aku segera berdiri di sebelah Fourth, dan menghadap ke Seberang lapangan, dimana Yuno dan Minene sedang berkelahi.

"Goddammit, aku harus berjalan ke arah Utara sebanyak 10 kali. Aku tidak punya KOMPAS….." Umpatku dalam hati, namun aku asumsikan bahwa aku harus maju kedepan sebanyak 10 langkah, walau aku tidak yakin apakah didepanku ini dalah utara. Akupun segera berjalan 10 Langkah.

"Hei, First. Berjalan di ladang ranjau. Apa kamu sudah gila?" Tanya Minene yang sedang berkelahi dengan Yuno diseberang lapangan. "YOLO BEACH….. I ALWAYS ACT LIKE THIS!" Teriakku seraya berjalan mengikuti petunjuk. "Hati hati, Pewds." Teriak Yuno.

Setelah berjalan 10 langkah, aku kembali berusaha untuk mencerna petunjuk yang elah di beritahukan. "Fly 5 Times To The North?" Gumamku. "Sepertinya aku harus terbang sejauh 3 langkah. Terbang berarti tidak menyentuh tanah, karena…. Sepertinya ada ranjau. Aku harus melompat." Gumamku. Setelah mengetahui langkah selanjutnya yang harus dilakukan, akupun mengambil ancang ancang untuk melompat. Dengan tegangnya aku meakukan sebuah lompatan jauh yang kurang lebih berjarak 5 langkah, dan ranjau yang telah di tanam tidak meledak. "GENIUS PEWDS STRIKES AGAIN" gumamku. "Apa, dia menghindarinya?" Tanya Minene panik dari seberang sana.

Aku menghiraukannya dan kembali melihat petunjuk. Petunjuk kali ini lebih mudah untuk dipahami. Aku berjalan sebanyak 5 langkah ke depan, lalu melakukan sidestep ke kiri sebanyak 2 kali, berjalan lagi sebanyak 5 langkah, mengambil sidestep ke kanan sebanyak 2 kali, dan melompat sejauh kurang lebih 5 langkah. "FOR….. LADY GAGA….." Aku selalu mengucapkan ketika melakukan sebuah lompatan yang sulit.

"Aku akan meledakannya dari jarak jauh." Teriak Minene yang segera bersiap untuk meledakan ladang ranjau itu. Namun usahanya tertunda akibat dia dilempari oleh buku dari gedung sekolah.

"Jauhi PewDiePie, teroris. Kamu akan merasakan kekuatan para Bro Army." Teriak salah satu murid dari dalam gedung. Aku kembali melihat Petunjuk dan segera melakukan Sprint ke arah Minene 'Dash Forward to The North before the Witch Kill You.'

Setelah berlari beberapa saat, Minene akhirnya berhasil meledakan lading Ranjau tersebut. Namun beruntung bagiku aku sudah melewatinya. Ledakan dibelakangku cukup kuat, sehingga aku terhempas dan hampir saja kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Aku segera mengeluarkan Pena yang sedari tadi kubawa, dan mengarahkannya ke Minene. "FOR… OPERAH….." Teriakku.

"FEEL THE POWER OF CHOPNESE….. NINTH." Ninth terlihat panik, dia segera melindungi Diarynya yang berupa handphone Slide berwarna oranye agar tidak menjadi incaran Penaku. Karena rasanya sudah tidak mungkin untuk menghancurkan Diarynya. Aku segera mengarahkan penaku ke bagian tubuhnya yang tidak terproteksi. Kea rah matanya, sebenarnya aku belum yakin apakah mata itu masuk ke dalam bagian tubuh. 'CROTTTTTT….' Pena itu mengenai matanya. (Ough… Pasti lebih sakit daripada kena Dartnya si Yukiteru)

Darah segar mengucur keluar dari mata kiri Minene. Minenepun segera membungkuk dan memegangi mata kirinya seraya menahan sakit. "HAH…. THAT'S WHAT YOU'LL GET WHEN YOU DEAL WITH THE CHOPNESE." Ledekku ke arah perempuan yang sedang sengsara itu.

"Kamu kalah, Ninth. Kamu tidak bisa bergerak dengan luka itu." Fourth datang seraya menodongkan Revolvernya ke arah Ninth. Ninth yang sedang kesakitan itu terlihat kesal. 'JUST GIVE UP BEACH….. OR I'LL GIVE YOU A BEACHSLAP." Aku masih ingin memanas manasinya. Ninth segera menatap ke arahku.

"JA… JANGAN MENGHINAKU….." Teriak Ninth. Dia segera menekan pelatuk, dan tiba tiba saja dari balik roknya, keluarlah beberapa roket yang mengeluarkan Asap, sehingga pandangan kami bertiga terganggu. "Smoke Screen?" Tanya Fourth. Dan tiba tiba, dari baik asap itu, Ninth kabur dengan menggunakan sepeda motor berwarna Merah.

"Future Diaryku adalah… 'THE ESCAPE DIARY'." Dan Ninth pun melarikan diri. "THAT'S HOW WE ROLL, BEACHES." Teriakku setelah sepeninggalan Minene.

"Ninth dan pemilik Diari lainnya pasti akan berdatangan padamu. Kita harus menangkap mereka semua dan mengakhiri game nista ini. Untuk melakukan ini kita harus segera bekerjasama." Fourth berkata pada kami berdua setelah asap tadi menghilang. "Gabungan dari Diary kita semua. 'Future Diary Alliance', mari kita bekerja sama, Kjerrberg." Sambungnya.

"Baiklah….. Ayo Yuno." Aku segera memanggil Yuno yang sedang melihat Diarynya, mukanya tampak memerah. "Apa kamu tidak apa apa, Yuno?" Tanyakku. Yuno mengangguk dan tiba tiba PS VITAku mengeluarkan bunyi Static, dan aku segera memeriksanya.


"Gaming Future Diary"

"You may only have one (1) copy of this saved to your harddrive OR printed for personal, private use. "

"Achievement Obtained (100 G) 'YOLO Beach…! : Survive the Bomb Attack and obtained 'Chair Mode'."

"Achievement Obtained (25 G) 'Rendezvous With The Justice' : Make Alliance with The Fourth."

"Achievement Obtained (25 G) 'Classic Ct Vs Terro' : Complete The 2nd Chapter of the Survival Game."


"Skill Obtained : Chair Mode Activated."


"Chair Mode…..?" Gumamku. "You must be FAHKING kidding me."


= To Be Continued =


Yup, Readers…..

End Of Chapter 2 ^^v…..Makin kacau nih kayaknya? ^^"

Maafkan daku kalau ada typo yang terselip….. dimaafin kan….? ^^v

Lagi lagi saya mau ngasih tau Readers sekalian nih ^^v…

Quotes Quotesnya PewDiePie akan saya tuliskan dalam Bahasa Inggris, dan menggunakan Huruf CAPSlock jika saat mengucapkan PewDiePie berteriak.

Sebagian besar Quotes milik PewDiePie dapat di dengar di Aplikasi Sound Board PewDiePie, yang dapat diunduh melalui anderoid Maruket (Puray Sutor).

Selain itu pada Chapter ini, Kamigami mengambil Quotes dari Video saat Pewdi bermain 'Happy Wheels' *bagian BEACHSLAP* dengan perubahan, dan Cry Of Fear *Bagian CHOPNESE*.

Tollong Suport Fanfiction saya ini dengan cara memberikan saran dan review, dan jangan lupa Suport PewDiePie dengan cara mensubscribe Channel PewDiePie.

Ok… saya akan segera update Chapter 3 nya, dan juga… HAPPY 14 MILLION SUBSCRIBERS, BROFIST….!


'Maaf nih. Author udah lama enggak nonton Mirai Ocha (dibunuh Yuno). Maksud Author, Mirai Nikki karena kesibukan tingkat dewa. Jadi kemungkinan ini Fanfiction discontinue karena Author lagi ngebuat Fanfiction 'Stella Jogakuin Koutoka C3Bu' yang udah 2 chapter tapi fandomnya belum ada di sini (calon-calon Discontinue juga nih ToT) Tapi sebisa mungkin Author akan lanjutkan Fanfict PewdsXMiraiNikki ini.