Makasih buat yang udah mau baca dan ripiew fict ini. Tsuki und Sara sangat berterima kasih. Ini chapter terakhir di fict 'Sandal Cinta'.
Pairing: SasuNaru
Rated: T
Genre: Romance dan Humor mungkin…
Disclaimer: Om Kishimoto, hohohoho… o'
"Sandal Cinta"
Last Chapter
by: Aoi no Tsuki
Und
SaRaYuCi_ShimA
Suasana lebaran semakin terasa ketika semua keluarga besar Naruto dan Sasuke berkumpul. Banyak yang sudah berdatangan untuk bersilaturahmi dan juga meminta fitrah. Itu yang terpenting, mendapatkan fitrah yang banyak.
SRSHH...
Air keran dari halaman belakang rumah Sasuke telah terbuka, air yang segar pun mengalir keluar dari sebuah selang yang lumayan panjang, sebuah ember pun siap untuk di isi dengan air selang tersebut.
"Sudah belum, Teme!" seru Naruto tak sabar.
"Tuggu sebentar lagi, Dobe."
PLUNG...
Naruto melempar sepasang sandal miliknya ke dalam ember yang ada di hadapan Sasuke dengan singkat pun air yang berada dalam ember itu mengenai baju yang di kenakan Sasuke.
"Basah! Maaf, Teme. Aku tak sengaja!"
"..." Sasuke tak memperdulikan bajunya yang basah, dia hanya menunggu embernya hingga penuh.
"Teme, kau marah ya?"
"..." Sasuke tetap tak menjawab pertanyaan Naruto.
"Aku tak sengaja!"
"Tak apa, Dobe! Embernya sudah penuh. Cuci sandalmu!"
"Hm, sandalmu bagaimana?"
"Tak perlu di cuci, ini masih bersih! Lagian yang memakai sandal ini kan kau, bukan orang lain. Jadi tak masalah buatku!" Mata biru Naruto hanya memandang pemuda bermata onyx itu.
"Terima kasih, Teme."
"Sudah, cepat cuci!"
Naruto pun memberikan sedikit sabun cuci ke sandalnya lalu meraih sebuah sikat dan menyikatnya pelan. Setelah itu ia membilasnya dengan segayung air hingga bersih tanpa busa.
"Selesai!" seru Naruto riang. "Tinggal di jemur saja!"
Sasuke terus memperhatikan Dobenya hingga membuatnya tertawa kecil.
"Teme, tolong buang airnya!"
"Hn,"
"Dimana aku bisa menjemurnya?"
"Di tempat yang panas, Dobe."
"Aku tahu, tapi dimana?"
"Di situ saja" tunjuk Sasuke pada atap rumahnya.
"Gila! Teme gila!"
"Diatas rumahku, Dobe. Mau cepat kering tidak?"
"Mau, tapi itu kan atap rumah."
"Pakai tangga! Ayo ikut aku!" jawab Sasuke dengan nada malas.
Naruto membuntuti Sasuke yang mulai menaiki satu persatu anak tangga yang terbuat dari kayu jati.
"Hati-hati, Dobe!"
Dan lagi-lagi Naruto tertawa melihat rambut pantat ayam Sasuke yang melambai-lambai dari belakang.
"Hahaha..." tawa Naruto keras. Sasuke hanya melihat Naruto sebentar lalu menaiki lagi anak tangga kayu itu.
"Di sini, Dobe!"
"Hmm... Enak, anginnya lumayan kencang. Pasti sandalku cepat kering dan aku bisa segera memakainya kembali. Ini tempat untuk menjemur baju kan?"
"Hn,"
Naruto melangkah mendekati atap rumah Sasuke lalu meletakkan sandal barunya itu dan mengganjalnya dengan sebuah batu agar tidak melorot jatuh.
"Tunggu disini saja ya, Teme. Aku takut sandalku nanti terbang!"
"Konyol! Memangnya sandal bisa terbang ya?"
"Bisa saja," jawab Naruto polos.
"Hahaha... Dobe, dobe!"
Naruto kini duduk di samping Sasuke, sepintas tangan mereka bersentuhan.
"Maaf,"
"Hn,"
"Teme, aku merasa kau orang yang baik sekarang dan bukan lagi orang yang dingin seperti tadi. Hahaha..." Sasuke hanya tersenyum kecil. Beberapa menit berlalu, suasana hening masih tercipta di antara mereka berdua. Tak ada yang bersuara, yang terdengar hanyalah hembusan angin saja.
Sasuke's POV
TUK...
"Dobe?" Aku menatap Dobe yang tertidur tiba-tiba di bahuku. Walaupun sedikit kaget
aku sangat senang bisa mengenalnya. Kubiarkan saja dia tidur, kuakui wajahnya memang manis dan sepertinya aku mulai menyukainya. Mata onyxku terus menatapnya, menatap rambut pirangnya dan juga mata birunya yang sedang terpejam. Aku tersenyum melihat wajahnya yang sangat tenang ketika dia tertidur. Berbeda dengan kenyataannya. Dobe memang Dobe. Terlintas di pikiranku untuk melakukan hal itu terhadapnya.
"Akh! Tahan Sasuke! Ini lebaran, jangan membuat sesuatu hal yang bodoh!"
Pandanganku menerawang jauh ke langit biru yang dihiasi oleh awan-awan putih. Begitu indah, sangat indah.
"Uh..." Dobe sedikit mengigau, entah apa yang di katakannya. Aku mendekatkan wajahku pelan-pelan hingga bibirku menempel di keningnya.
"Ngh," Aku langsung menjauhkan wajahku dari Dobe, dia terbangun. "Teme?"
"Hn?" seruku mencoba tenang.
"Aku ketiduran ya? Ukh! Bagaimana sandalku?" Dia mengucek matanya lalu melihat ke arah sandal yang sedang di jemurnya.
"Masih ada dan tidak terbang. Tidurnya enak?"
"Ya, enak. Tapi aku merasakan sesuatu di keningku, sesuatu yang sangat lembut." ujarnya sambil memegangi keningnya. "Ah! Apa itu cuma perasaanku saja ya? Aku mau mengambil sandalku dulu, Teme."
"Hn,"
Untung dia tak menyadarinya, aku sedikit lega.
SET,
Dia berjalan mengambil sandalnya lalu membalikkan tubuhnya ke arahku. Senyuman lebar pun terlukis di wajahnya.
"Kering!" ungkapnya senang sambil menggoyang-goyangkan sandalnya di udara.
Aku masih terduduk memandanginya. Entah mengapa melihat senyumannya itu membuatku merasa tenang dan ingin memilikinya.
"Teme, ayo turun!" Mata birunya menatapku dengan tatapan heran. Dia berdiri di hadapanku. "Berdiri, Teme. Ayo kita turun!"
"Dobe, aku... ingin kau memelukku." Kulihat mata birunya terbelalak lebar lalu mencoba untuk tenang kembali.
"Hm,"
Setelah Dobe berdehem mengiyakan, dengan lembut dia pun langsung memelukku, memeluk tubuhku. Aku pun berada dalam dekapannya.
"Kenapa kau mau aku memelukmu?" tanya Dobe masih memelukku.
"Karena aku menyukaimu, Dobe!" jawabku yang berada di dadanya. Bau tubuh Dobe tercium di hidungku, aku semakin erat memeluknya dan tak ingin melepasnya.
"Te-Teme?" Aku melonggarkan pelukanku dan mendongakkan kepalaku ke arah Dobe, wajahnya kini berubah merah, semerah tomat. Aku hanya tersenyum memandangnya. Mata birunya bertemu dengan mata onyx milikku. Kami berpandangan cukup lama hingga Dobe melepaskan pelukannya.
"Ayo kita turun, Teme. Aku lapar!" serunya sambil memalingkan wajahnya dariku. Dia pun menuruni anak tangga dan menuju ke ruang makan. Aku pun menyusulnya yang sudah ada dibawah.
"Hei, dari mana saja kalian berdua?"
"Ah, bibi! Aku dan Sasuke selesai mencuci sandal diatas."
"Oh... Ayo makan ketupat lebaran dulu. Bibi yang masak loh, Sasuke juga membantu."
"Hah? Sasuke bisa masak ya?"
Dobe melihat ke arahku sekarang , mungkin dia tak percaya dengan apa yang di katakan oleh ibuku. Dasar Dobe!
"Tapi kau tahu tidak Naruto. Sasuke hampir saja teriris tangannya. Hahaha..."
"Teriris tangannya? Bisa buntung dong?"
"Tak sampai seperti itu, Dobe." potongku. "Sudah ayo makan ketupatnya! Nanti tak kebagian tahu rasa kau, Dobe!"
"Ya, ya, Teme."
***
"Karena semuanya sudah berkumpul di ruangan ini maka aku akan berbicara sesuatu." Madara menghela nafasnya sebentar. "Setelah acara ini kita akan pergi piknik ke villa keluarga Uchiha. Uhuk... uhuk..." lanjut Madara dengan terbatuk-batuk.
"Kakek jangan makan sambil berbicara!" seru Itachi sambil menepuk-nepuk punggung sang kakek.
"Ya, terima kasih cucuku."
"Dobe kau ikutkan?" tanyaku pada Dobe yang berada di sampingku.
"Ya, ventu vaja ikut." serunya sambil mengunyah makanan.
"Telan dulu, Dobe baru bicara."
"Ya, aku ikut, Teme!" serunya setelah menelan makanan yang dikunyahnya.
"Menjijikkan, Dobe!"
"Biar saja! Hah!"
"Hei, Dobe! Sebentar lagi kita berangkat! Cepat selesaikan makanmu!"
"Hm,"
"Aku tunggu kau diluar!" Dobe hanya menganggukkan kepalanya saja tanda setuju.
Aku pun berjalan keluar rumah dan duduk di bangku taman.
"Sasuke, mana Naruto?"
"Didalam, dia masih makan. Memangnya kenapa?"
"Tidak, aku hanya bertanya saja."
"Baka Itachi!"
"Kau mengulang dosamu lagi, Sasu-chan."
"Cih!"
"Ya sudah aku nanti bermain dengan Naruto saja, dia tak sejudes kau. Aku lebih menyukainya."
"Apa?! Kau menyukainya?" amarahku mulai membara karena perkataan Itachi. Dia tak boleh mengambil Dobe milikku.
"Hmm... Bagaimana ya? Kau cemburu?"
"..."
"Itu berarti ya jawabannya."
"Teme, maaf menunggu lama. Eh! Itachi-nii,"
"Hai, Naruto. Kau tahu Sasuke tadi-"
"DIAM!!" teriakku keras sampai si Dobe dan Baka aniki menutup telinganya.
"Ayo, Dobe! Jangan dengarkan dia!" seruku menggeret tangannya menjauhi Itachi.
"Kenapa sih?"
"Bukan apa-apa, Dobe."
"Teme?" Kuhentikan langkahku dan menatap mata birunya.
"Tak ada apa-apa, Dobe." seruku sambil memegang kepalanya lembut. "Sekarang kau masuk ke mobilmu ya. Ayah dan ibumu pasti sudah menunggu. Kita bertemu lagi di villa keluargaku, oke?"
"Yak, tentu, Teme. Tapi kaumembuatku penasaran."
"Lupakan yang tadi!"
End Sasuke's POV
BRAKK...
Kedua mobil hitam milik Uchiha dan Namikaze pun melaju dengan cepat di jalan raya. Jalanan pada saat hari raya mudik seperti ini sangatlah ramai. Tapi tak sampai terjadi kemacetan. Itu membuat lega karena jalan menuju villa Uchiha menjadi tak terganggu.
"Masih lama ya, ayah? Aku bosan." seru Naruto sambil memandang keluar jendela.
"Tidak sebentar lagi, nak."
"Kau harus sabar, Naruto." seru Kushina sambil menoleh ke arah putra kesayangannya.
Setelah beberapa jam perjalanan, keluarga Naruto dan Sasuke telah sampai di sebuah tempat yang indah dan sejuk. Mungkin hampir mendekati puncak gunung. Suasana di situ sangat sepi yang ada hanya keluarga Naruto dan Sasuke yang telah memasuki sebuah bangunan villa yang cukup tua usianya tapi tetap terlihat kokoh dan kuat. Suasana di villa itu sepi mungkin karena villa milik keluarga Uchiha ini adalah sebuah villa pribadi jadi tak sembarang orang boleh memasukinya.
"Fugaku, villamu besar sekali. Aku sampai kagum." seru Minato mendekati Fugaku.
"Kau ini bisa saja, Minato."
"Hahaha..."
'Obrolan sesama bapak-bapak memang membingungkan. Aku ingin jalan-jalan saja.' nurani Naruto. Tubuhnya pun bergerak menjauhi villa tersebut dan menuju ke sebuah pohon besar yang rindang. Kemudian pemuda pirang ini pun memutuskan untuk duduk dibawahnya.
"Hah... Sejuk. Aku paling suka ini."
Tanpa sadar angin yang sejuk pun membuatnya tertidur. Sepasang mata onyx yang sedari tadi mengikuti Naruto dari belakang kini ada di depan pemuda yang sedang tertidur itu.
"Dobe?" serunya pelan.
SET...
Pemuda bermata onyx itu pun mendudukkan dirinya didekat Naruto.
"Ngh, siapa?" Naruto yang merasakan ada sesuatu disampingnya pun membuka mata birunya dan terkaget ketika melihat pemuda berpantat ayam yang di kenalnya tiba-tiba ada di depan matanya.
"Te-Teme?!"
"Maaf membangunkanmu, Dobe."
"Kenapa kau ada disini?" seru Naruto sambil membetulkan posisi duduknya.
"Aku juga tidak tahu." jawab Sasuke tenang. "Yang jelas aku ingin berada didekatmu, Dobe."
"Ah?"
"Mungkin terlihat aneh tapi itulah keinginanku sekarang."
"Kenapa kau berlaku begitu padaku, Teme?"
"Sudah kukatakan kalau aku menyukaimu, Dobe."
"Teme, aku-"
"Bingung kan?" potong Sasuke menatap mata biru Naruto. "Dari sepasang sandal kita yang tertukar bisa jadi begini. Tapi aku sangat senang dengan hal itu, Dobe. Kau pasti menganggapnya sebagai kejadian sial kan?"
"Tidak juga kok. Menurutku kejadian ini adalah kejadian yang paling berharga untukku karena aku bisa mengenalmu lagi, lagi, dan lagi, Teme. Dan sepertinya aku juga menyukai Teme. Bukan sebagai teman melainkan kekasih." seru Naruto tenang sambil menatap awan yang berada di langit.
"Do-dobe? Katakan sekali lagi!" pinta Sasuke.
"Tadi aku mengatakan apa ya? Aku lupa, Teme." seru Naruto sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Jangan bercanda, Dobe!"
"Hahaha... Kau tahu aku bercanda ya?"
"Hn,"
"Aku menyukai Teme. Dan jadilah Teme yang aku kenal." seru Naruto dengan senyum manisnya. Mata birunya pun bersinar.
"Dobe..."
Lagi-lagi mata biru itu saling menatap dengan mata onyx milik pemuda tampan tersebut. Perlahan-lahan wajah Sasuke mendekat ke arah wajah caramel Naruto. Mata biru langit milik Naruto pun terpejam ketika bibir mereka bersentuhan. Sasuke sedikit menekan bibir manis Naruto dalam beberapa menit kemudian melepaskannya.
"Terima kasih ya, Dobe."
"Untuk apa?"
"Karena sandalmu yang norak itu aku bisa bertemu denganmu lagi."
"Hm, tapi sandalku tak norak, Teme."
"Hn,"
Naruto's POV
Semilir angin yang sangat sejuk membuatku bertambah nyaman di tempat ini di tambah lagi dengan kehadiran Teme di sisiku. Aku senang, sangat senang.
TUK...
"Eh? Teme?" Kulihat dia tertidur disampingku. Wajah tidurnya membuatku ingin mengecupnya. Aku takkan pernah menyesal bertemu dengan Teme. Karena sekarang Teme adalah orang yang benar-benar kusayangi.
Dari sepasang sandal ini aku dapat mengenalmu. Dari sepasang sandal ini pula aku tahu sifat burukmu dan dari sandal cinta inilah aku bisa menemukanmu sebagai Teme-ku. Lebaran tahun ini menjadi lebaran yang paling indah dalam hidupku.
...END...
Hwaa... –treak pakek toa-
Inilah ending dari fict ini, maaph jika masih ada kesaLahan daLam penuLisan maupun lainnya. Akhirnya selesai juga fict-nya, aLhamduLiLLah...^-^'
Oke, skaLi ripiew tetep ripiew ayo maju kasih ripiew, Tsuki dan Sara mengucapkan.
~SeLamat Hari Raya IduL Fitri~
1430 H
**Mohon Maaf Lahir dan Batin**
Arigatou Gozaimashu
Tsuki und Sara
