RAIN STORIES
.
Kim Yesung
Kim (Choi) Kibum
Choi Siwon
Lee Donghae
.
entah kenapa tiba-tiba ide buat per-Chap hanya oneshot menguap dan jadi beberapa part. Soalnya kalo oneshot, jadi kurang detail. Jadi tiap Judul akan aku buat 2-3 part tergantung isi cerita. Semoga pada nggak kecewa.
.
ON RAINY DAYS
part 1
KiSung
Happy reading.
.
"Kibummie, pinjam Prmu, dong!" pinta Yesung dengan aegyonya, pada namja paling pintar di kelasnya.
Kibum menutup bukunya, dan mendorong dahi Yesung menjauh. "Andwae!" ucapnya tanpa perlu berpikir ulang.
"Waeee! Ayolah, Bummie! Sebentar lagi pak guru datang!" mohon Yesung.
"Itu kan bukan urusanku! Pergi sana!" perintah Kibum.
Mulut Yesung berkomat-kamit menirukan ucapan namja tampan itu. Kalau saja dia bukan namja yang pintar, keren, kaya dan idola sekolah, Yesung pastikan, jitakan andalannya pasti telah mampir di kepalanya yang berharga itu.
Choi Kibum, si jenius yang berwajah datar. Kakaknya, Choi Siwon, adalah pengusaha muda yang sukses, bahkan sebelum orangtuanya mewariskan bisnis mereka padanya. Dan obsesi Kibum adalah, ingin menjadi lebih baik dari kakaknya. Karena itulah, baginya tak ada yang lebih menarik dari buku-bukunya. Dia selalu serius dalam segala hal, hingga terkesan dingin dan tak tersentuh.
"Yesung'ah! Kau bisa menyalin punyaku!"
"Jeongmal? Gomawo, Hae'ah! Kau memang yang terbaik!" seru Yesung seraya berlari kecil mendekati Lee Donghae.
Kibum mendengus kesal.
Kim Yesung sama sekali tak berubah sejak pertama mereka bertemu. Masih saja kekanakan, padahal ini adalah tahun terakhir di sekolah mereka. Bahkan sepertinya namja itu belum memikirkan sama sekali, apa yang akan ia lakukan setelah mereka lulus SMA nanti. Berbanding terbalik dengan Kibum.
Sepintas, ia terlihat begitu polos dan pendiam. Awalnya itu juga yang Kibum pikirkan tentangnya. Tapi penampilannya benar-benar menipu. Yang paling Kibum ingat adalah saat ujian masuk sekolah ini dulu. Dia terlihat sangat serius dalam mengerjakan soal ujian. Tapi ternyata, itu bukanlah wajah serius, melainkan wajah tegangnya karena tak mengerti dengan soal ujiannya. Semula Kibum merasa kasihan padanya. Tapi itu hanya berlangsung beberapa menit. Karena setelah itu, dengan wajah innocentnya, Kim Yesung berhasil membuat beberapa calon siswa baru seperti mereka, dengan senang hati memberikan jawaban padanya. Rasanya Kibum kesal sekali padanya.
Tapi lama kelamaan, Kibum mulai terbiasa dengan kepribadian uniknya. Yesung bahkan tak merasa malu mengakui bahwa ummanya adalah mantan seorang pembantu. Dia benar-benar namja yang unik.
"Kibummie, hari ini kita pulang bersama, ne?" ucap Yesung sambil menarik-narik tangan Kibum.
"Singkirkan tanganmu, Kim Yesung!"
"Waeyo? Tanganku bersih."
"Kau mengganggu!" ucap Kibum seraya meninggalkan Yesung.
"Mwo?!" protes Yesung. "Ya! Apa maksud kata-katamu itu, eoh?"
"Namja yang bahkan tak pernah peduli dia lulus dari sekolah atau tidak sepertimu, hanya mengganggu," jawab Kibum tanpa menoleh.
Tak ada jawaban. Biasanya sekasar apapun ucapan Kibum, Yesung akan membalas. Tapi kali ini sepertinya tidak.
Kibum menoleh. Dan dilihatnya Kim Yesung yang berdiri diam di tempatnya. Kepalanya menunduk. Apa karena ucapan Kibum? Apa dia keterlaluan?
Namja itu mengangkat bahu tanda tak peduli. Lalu kembali melanjutkan langkahnya. Berpikir bahwa besok pasti namja itu telah kembali menjadi Kim Yesung yang biasanya.
..
"Kibum'ah, kau melihat Yesungie?"
"Dia kan temanmu, kenapa bertanya padaku?" jawab Kibum tanpa menoleh.
"Ya! Choi Kibum!"
"Jangan berteriak di telingaku, Taemin'ah!"
"Ck! Kau memang selalu menyebalkan," gerutu Taemin seraya meninggalkan sepupunya.
Kibum menatap namja itu heran. Kenapa semua orang menanyakan keberadaan Kim Yesung padanya? Memangnya Kibum baby sitter namja itu?
Meskipun sebenarnya dia juga penasaran. Sejak Kibum mengatakan sesuatu padanya beberapa hari yang lalu, Yesung memang tak lagi bicara padanya. Bahkan sekedar menyapanya pun tidak. Apa dia tersinggung dengan ucapan Kibum? Namja tak tahu malu itu tersinggung? Rasanya itu mustahil.
Kibum menggelengkan kepalanya mengusir pikirannya tentang Yesung. Bukankah harinya lebih tenang sekarang?
Bersamaan dengan itu Yesung masuk ke kelas dan berjalan melewati Kibum tanpa menoleh sedikit pun. Alis Kibum bertaut melihatnya. Apa Yesung sedang mengacuhkannya? Dan namja tampan itu hanya mengangkat bahu tak peduli, lalu kembali sibuk dengan bukunya.
Tak jauh di belakangnya Yesung menenggelamkan kepalanya di atas meja. Rasanya sangat tak nyaman mengacuhkan Kibum seperti ini. Yesung menyukainya. Dia menyadari perasaan itu. Tapi sepertinya Kibum sama sekali tak tertarik padanya, bahkan mungkin membencinya. Jadi sebelum stadium cintanya semakin parah, ia memutuskan untuk menjauhinya. Tapi ternyata itu lebih sulit daripada mengerjakan setumpuk tugas.
Next Day
Dengan berlari kecil Yesung mendekati tempat Kibum berdiri. Baru saja namja itu hendak mengambil bola basket yang menggelinding ke arahnya, tapi Yesung mendahuluinya dan langsung berbalik ke lapangan, melanjutkan permainan mereka.
Kibum menatap Yesung yang telah asyik bermain basket. Sudah berapa hari sejak namja itu mengacuhkannya? Mungkin lebih dari seminggu sejak Kibum bicara kasar padanya. Tapi, apa benar sekasar itu? Sampai-sampai seorang Kim Yesung ngambek padanya.
"Hei, bagaimana kalau kita bertanding?" tanya Kangin ketua kelas mereka. Hari ini memang guru olahraga absen. Jadi mereka bermain sendiri.
"Bagimana kalau 3 on 3? Yang kalah harus menuruti perintah yang menang," usul Shindong wakil ketua kelas.
"Setuju. Aku pilih Donghae dan Yesung dalam timku!" sahut Kangin.
"Baiklah, aku akan memilih Taemin dan..., Kibum!"
Kibum tersentak. "Aku? Shireo! Aku tidak ikut."
"Ayolah! Kibum'ah! Apa kau tidak bosan belajar terus?" bujuk Kangin.
"Ne! Hanya sekali ini saja," Shindong menimpali.
"Mungkin dia takut kalah!" ucap Taemin ketus.
"Mwo?" sentak Kibum.
"Choi Kibum kalah main basket. Kalau Siwon hyung tahu dia pasti tertawa!" ucap Taemin memancing Kibum.
"Kau ini!" Kibum menatap sepupunya tajam. "Arraseo! Ayo kita lakukan!"
Dan akhirnya pertandingan tiga lawan tiga pun berlangsung dengan sengit. Harus Kibum akui, meski Yesung terlihat seperti Yeoja, tapi dia sangat tangguh. Andai dia bukan Kim Yesung, Kibum tak akan merasa malu jika kalah darinya. Tapi karena dia Kim Yesung, pantang bagi Kibum kalah darinya.
"Argh...!" pekik Yesung saat ia terjatuh karena Kibum tak sengaja mendorongnya ketika merebut bolanya.
"Yesungie, gwaenchana?" tanya Taemin.
"Ne, aku baik-baik sa-" Yesung meringis menahan sakit di kakinya, saat namja manis itu mencoba untuk berdiri. "Appo...," keluhnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Shindong yang berada tak jauh darinya.
"Sepertinya..., tidak," ucap Yesung sambil berpegangan pada Shindong.
"Aku antar ke ruang kesehatan," ucap Hae sambil berlari kecil ke arah Yesung.
"Ya! Kita masih harus bertanding, Fishy! Biar Taemin yang mengantarnya, jadi team kita seimbang!" ucap Kangin.
"Tapi..."
"Biar aku saja," sahut Kibum sambil mengulurkan tangannya pada Yesung. Dan tindakan itu mengundang semua mata menatap ke arahnya.
Choi Kibum yang selalu alergi pada Yesung berkata akan mengantarnya ke ruang kesehatan? Apa dunia terbalik?
Yesung membuang muka. "Kajja, Taeminnie," ucapnya sambil mengulurkan tangannya pada Lee Taemin.
Namja manis itu sedikit heran dengan reaksi Yesung. Namun ia tetap menyambut tangan itu dan memapah Yesung pergi. Sementara Kibum hanya bisa terpaku tak mengerti.
"Kim Yesung menolak tawaran Choi Kibum? Bukankah Yesung menyukainya?" ucap Shindong tak percaya. Kibum tersentak mendengarnya.
"Mungkin dia bosan menempel pada Kibum yang selalu bersikap dingin padanya," sahut Kangin.
"Jeongmalyo? Kalau benar Yesung tak menyukai Kibum lagi, aku punya kesempatan kan? Kalau kita menang, aku akan memintanya berkencan denganku," ucap Hae bersemangat.
"Pletak!" Kangin menjitak kepala Hae dengan gemas.
"Kita satu tim, Lee Dongie! Kau tidak bisa mengajukan permintaan padanya. Pabbo!" ucapnya.
"Ah..., iya. Sayang sekali," sungut Donghae.
Sementara Kibum masih tak bergeming. Otaknya tengah mencerna ucapan teman-temannya. Apa mereka menganggap ia dan Yesung sangat dekat, sampai-sampai mereka berpikir Yesung selama ini menyukainya. Dan sekarang namja itu menjauhinya karena bosan padanya?
Tunggu? Suka? Bosan? Kim Yesung menyukainya? Dan...
"Ya! Kibum'ah! Jangan melamun!" teriak Shindong menyadarkan Kibum dari lamunannya.
Di tempat lain.
Taemin sedang mengoles balsem urut pada pergelangan kaki Yesung yang terkilir. Beruntung ia sering membantu petugas medis sekolah, jadi dia bisa memberikan pertolongan pertama pada Yesung.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Yesungie? Kau bertengkar dengan Kibum?"
"Ani! Untuk apa aku bertengkar dengannya," sergah Yesung.
"Tapi sepertinya akhir-akhir ini kau jarang menempel padanya? Jangan katakan kau menyerah?"
"Me-menyerah?"
"Ne. Kau menyukainya kan? Lalu apa alasanmu menyerah sebelum menyatakan perasaanmu, Yesungie?"
"Mwo? Da-darimana kau tau kalau..."
"Sikapmu itu mudah sekali ditebak, Kim Yesung. Aku tidak tahu, Choi Kibum itu bodoh atau tidak berperasaan, sampai-sampai tidak menyadari perasaanmu."
"Atau sama sekali tak peduli," lirih Yesung.
"Ya! Kim Yesung!"
Yesung tersenyum. "Gwaenchana! Toh sebentar lagi kita lulus. Aku akan lebih mudah melupakannya setelah kita lulus."
"Tapi..."
"Lagipula, banyak namja lain yang menyukaiku. Kau pikir aku tidak bisa hidup tanpanya? Cih, kau meremehkanku, Lee Taemin!"
"Apa kau bilang? Aku ini mencemaskanmu, bodoh!"
Yesung tertawa melihat ekspresi kesal Taemin. "Aku tahu!"
.
-on rainy days-
.
Kibum tak bisa berkonsentrasi dengan tugasnya. Dalam pikirannya terus saja menari kalimat-kalimat teman-teman sekelasnya, bahwa Kim Yesung menyukainya. Bahkan saat ia berkata pada Kangin dan Shindong agar berhenti bicara seaneh itu, mereka justru menganggap Kibum-lah yang aneh.
"Kim Yesung menyukai Choi Kibum. Bahkan seluruh penghuni sekolah tahu. Kau saja yang terlalu bodoh untuk menyadarinya."
Itu yang mereka katakan padanya.
Jika ucapan mereka benar, apa artinya, Yesung menjauhinya akhir-akhir ini, karena telah bosan menunggunya? Dia menyerah untuk menyukainya? Benarkah?
Bruk!
Suara berisik di belakangnya memaksa Kibum menoleh. Dan dilihatnya kakaknya tengah berbaring di atas tempat tidurnya.
"Wae geurae? Kalian bertengkar lagi?" tanyanya to the point pada kakaknya.
Choi Siwon mengusap wajahnya kasar. "Dia memutuskan untuk kuliah di Jepang tanpa meminta pendapatku."
Kibum memutar tubuhnya menghadap kasurnya. "Dia memang selalu seperti itu kan? Hyung saja yang tak pernah hafal pada sifat egois Heechul hyung. Manja dan egois. Apa yang hyung suka darinya sebenarnya?"
Siwon terkekeh. "Cinta tak perlu alasan, Kibum'ah."
"Ne, tapi kalian punya seribu satu alasan untuk bertengkar. Apa Hyung tidak pernah berpikir bahwa kalian tidak cocok?"
"Ck! Aku tidak butuh kritik dari orang yang tak pernah dekat dengan namja ataupun yeoja manapun. Aigo..., bahkan di usia 30 tahun ini masih banyak anak SMA yang tergila-gila padaku, dan kau sama sekali tak pernah pacaran?" cibir Siwon.
"Mwo? Ja-jangan bercanda! Hyung pikir aku tidak punya penggemar. Bahkan ada seorang namja yang tergila-gila padaku. Tiap hari mengikutiku sampai aku merasa jengah padanya," ucap Kibum. Tanpa sadar menggambarkan sosok Yesung.
"Benarkah? Pasti dia tidak menarik," ucap Siwon menggoda adiknya.
"Siapa bilang? Dia bahkan lebih manis dari kekasihmu. Mungkin dia tak secantik Heechul hyung dan tidak sepintar dia. Tapi dia punya senyum yang sangat manis. Saat dia tersenyum, tak ada yang bisa menolak permintaanya," ucap Kibum yang sekali lagi menggambarkan sosok Yesung.
Mata Siwon menyipit mendengarnya. "Jinjja? Pasti kau hanya membesar-besarkan. Mana mungkin ada namja yang lebih manis dari Chullie."
"Andwaeyo! Kalau hyung bertemu Yesung pasti kau langsung menyukainya!"
"Hmm, jadi namanya Yesung? Kalau benar dia semanis itu, kenapa kau tak tertarik padanya?" Siwon semakin semangat menggoda adiknya.
Mata Kibum membola. "Itu..., karena aku tidak mau sembarangan pacaran. Aku hanya tertarik untuk mengalahkan nilai kelulusan hyung," ucap Kibum menutupi kegugupannya. Dalam hati ia merutuki, bagaimana dia bisa menyebut nama Yesung dari sekian banyak orang yang menyukainya, bahkan terang-terangan menyatakannya. Sementara Yesung sama sekali tak pernah menyatakannya.
"Kau masih terobsesi mengalahkanku? Aigo, Kibum'ah! Kau ini benar-benar...," Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ada banyak hal di dunia ini yang lebih menarik daripada nilai sempurna. Cobalah untuk jatuh cinta. Maka kau akan merasa hidupmu sempurna."
"Cih! Apa hyung merasa cinta hyung sempurna?" cibir Kibum.
Siwon mendengus kesal. "Dasar, dongsaeng tidak manis!" ucapnya kesal.
..
Pagi yang cerah di kediaman keluarga Choi. Mereka tengah menikmati sarapan pagi bersama. Meski sangat sibuk, keluarga mereka selalu menyempatkan waktu untuk bersama.
"Appa dengar kau akan cuti beberapa hari, Siwon'ah?" tanya sang Appa.
"Ne, appa. Heechul akan meneruskan kuliah di Jepang. Jadi aku akan mengantarnya ke sana."
"Kuliah lagi? Kapan kalian akan menikah, chagiya?" sahut sang umma.
"Heechul belum siap, umma."
"Belum siap? Kalian sudah lima tahun berpacaran, tapi kekasihmu itu selalu berkata belum siap bahkan untuk bertunangan. Umma tahu dia namja yang baik dan dari keluarga baik-baik. Tapi kesibukannya sangat membuat Umma terganggu. Bisakah kau menikah dengan namja atau yeoja yang sederhana saja, Siwonnie?"
Sang appa yang telah menyelesaikan sarapannya mulai jengah dengan percakapan pagi mereka. "Appa berangkat dulu, ne," ucapnya sambil mencium kening sang istri lalu berlalu pergi.
Siwon mengikutinya berdiri dan mencium pipi sang Umma. "Kalau menantu yang seperti itu, Umma bisa mengandalkan putra bungsu umma. Sampai nanti," ucapnya lalu melarikan diri.
"Jeongmal? Kau sudah punya kekasih, Kibummie?"
"Ani! Aku juga berangkat." ucap Kibum lalu berlari keluar dari rumahnya.
"Aigo..., anak-anak itu!"
..
Motor sport yang Kibum kendarai memasuki gerbang sekolahnya. Namja itu mengeremnya mendadak saat melihat sosok yang ia kenal keluar dari mobil milik teman sekelasnya.
Matanya melebar saat melihat Yesung, namja manis itu keluar dari mobil Lee Donghae, dan menggandeng lengan namja bermarga Lee itu memasuki gedung sekolah mereka.
Sejak kapan mereka menjadi sedekat itu?
Kibum mendengus. Berpikir bahwa Yesung benar-benar senang menempel pada orang lain. benar-benar namja yang merepotkan.
Namja tampan itu sampai di kelasnya, tak lama setelah Hae dan Yesung-yang masih bergandengan- masuk ke kelas itu. Sempat dillihatnya Hae menarik bangku Yesung dan mempersiapkannya duduk. Benar-benar sok romantis menurutnya.
Kangin mengalihkan tatapannya dari HaeSung, pada Kibum yang duduk di sampingnya.
"Kau lihat itu? Sejak kapan mereka sedekat itu? Apa Yesung benar-benar sudah bosan padamu?" ucap ketua kelasnya itu.
Kibum tak merespon. Meski sebenarnya dia juga penasaran. Jika teman-temannya berkata benar, bahwa Kim Yesung menyukainya, lalu bagaimana namja manis itu bisa semudah itu berpaling pada orang lain?
"Kangin'ah! Aku mau menagih hutang!" Shindong yang baru datang mengalihkan perhatian keduanya.
"Hutang?" tanya Kangin bingung.
"Kau yang bilang kemarin, team yang kalah akan menuruti apapun permintaan pemenang. Jadi kau harus menuruti permintaanku."
Kangin mendengus kesal. "Arraseo! Katakan apa yang kau inginkan? Katakan dalam tiga detik, atau aku hangus. Hana, du-"
"Traktir aku makan gratis selama sebulan penuh!" seru Shindong sebelum Kangin menyelesaikan ucapannya.
"Mwoooo?!"
"Kau tidak bisa menolak. Kekeke..."
Yesung tertawa melihat ketua kelas dan wakilnya beradu mulut. Sementara Taemin yang baru datang hanya menatap bingung.
"Ada apa?" tanyanya pada Yesung.
"Itu..., Shindong menagih hutang pada Kangin karena team kami kalah kemarin."
"Ah! Benar juga! Aku juga punya satu permintaan!" seru Taemin.
"Jangan minta yang aneh-aneh Taeminnie! Aku tak sekaya dirimu," ancam Yesung.
Taemin memukul jidat Yesung. "Arra! Lagipula aku tidak akan menagih padamu. Hae'ah! Giliranmu menjadi ibu peri!" teriak Taemin seraya berdiri dari bangkunya.
"Hae?" tanya Yesung.
Taemin mengangkat sebuah bangku kosong di dekatnya. "Aku 'menyisakanmu' untuk orang lain yang lebih membutuhkan," ucapnya tak jelas seraya membawa bangkunya ke depan pintu kelas.
"Apa maksudnya?" gumam Yesung.
"Kau mau apa, Lee Taemin?" tanya Hae saat Taemin memintanya naik ke bangku itu.
Sepupu Kibum itu tak menjawab. Hanya memutar sebuah lagu dari penyanyi perempuan yang tak ia kenal dan tak ia mengerti bahasanya. Lalu memberikannya pada Hae.
"Lip-sync, please!" ucapnya.
"Mwo? Ya! Aku bahkan tidak tahu lagunya!"
"Judulnya, Oplosan Hae'ah. Ini lagu yang sangat terkenal. Cepat lakukan! Jangan lupa dancenya. Ah, ani! Tapi Joget, goyang. Palliwa!"
"Tapi...!"
"Palli!"
Dan akhirnya Lee Donghae berakhir menjadi tontonan menarik, bahkan bukan hanya untuk teman sekelasnya.
Oplosan... oplosan... goyang yuuuuukkk! #pletak!
Yesung tertawa tergelak. Untung saja bukan dia yang harus melakukan permintaan gila dari Taemin.
"Sepupumu baik sekali, Kibum'ah. Dia menyisakan Yesung untukmu. Pikirkan permintaanmu baik-baik. Jangan sampai kau menyesal," ucap Kangin seraya berdiri. "Taemin'ah, minta dia melakukannya sekali lagi!"
Kibum menatap Kangin tak mengerti. Orang-orang aneh itu! Kenapa dia harus dipasangkan dengan Kim Yesung? Dan apa yang perlu dia pikirkan?
.
-on rainy days-
.
Lee Donghae melompat dari bangkunya sesaat setelah lonceng tanda pelajaran berakhir berdentang.
"Kajja! Sang pangeran akan mengantar tuan putri dengan kereta kencana," ucapnya sambil mengulurkan tangannya pada Yesung.
"Cih! Pangeran ikan?" cibir Taemin.
"Kau bilang apa?!"
"Dia memang pangeranku untuk kali ini, Taeminnie," ucap Yesung sembari berdiri dan menggandeng lengan Hae.
Namja fishy itu menjulurkan lidahnya pada Taemin. Lalu menggandeng Yesung keluar dari kelas.
"Pangeran katanya?" gerutu Taemin seraya mengikuti kedua temannya.
Kibum terpaku di tempat duduknya. Ucapan Yesung tadi terasa benar-benar mengganggu. Jika Lee Donghae adalah pangerannya, lalu apa arti dirinya selama ini? Apa dugaan teman-temannya salah?
..
Sudah tiga hari berlalu, dan Kim Yesung masih saja menempel dengan Lee Donghae. Dan Kibum semakin merasa tak menyukainya. Ada apa dengannya? Ujian tinggal seminggu lagi. Tapi Kibum semakin tak fokus belajar. Bagaimana dia bisa mengalahkan kakaknya jika ia saja kalah dengan perasaan yang bahkan belum dikenalinya?
"Gomawo, Hae'ah. Kau benar-benar menjadi sopir yang baik," ucap Yesung seraya masuk ke mobil Donghae.
"Sudah aku bilang ini tidak gratis, Yesungie. Kau harus berkencan denganku setelah kakimu sembuh. Yaksok!" ucap Hae sambil memasang sabuk pengamannya.
"Hanya makan malam, dan ke bioskop. Bukan kencan, Lee Donghae'ssi!" ralat Yesung.
"Aish! Jinjja!" ucap Hae kesal.
Yesung hanya tertawa melihatnya.
Kibum yang berniat menumpang di mobil Taemin, karena motornya sedang diservice, tertegun mendengar percakapan itu.
"Kalau kau tidak cepat bertindak, kau akan kehilangannya, Bummie'ah. Kudengar malam minggu ini mereka akan berkencan," ucap Taemin sambil membuka pintu mobilnya.
Kibum tak menyahut. Hanya mengikuti Taemin masuk ke mobilnya.
..
Kibum duduk di bingkai jendela kamarnya. Bersandar, terdiam menatap hujan. Tangannya menengadah memainkan airmata langit itu. Tubuhnya memang tak bisa kemanapun karena hujan yang sepanjang sore mengguyur kota Seoul. Tapi pikirannya justru melayang menembus hujan. Namja itu benar-benar tak mampu menyingkirkan Yesung dari pikirannya.
Sebelumnya Yesung baginya hanyalah seorang pengganggu. Tapi mengapa justru sekarang ia merasa terganggu saat Yesung tak lagi mengganggunya? Apa yang salah dengannya?
"Damn!" umpatnya seraya beranjak meninggalkan jendela kamarnya.
Dengan tergesa ia menyambar kunci motor dan jaketnya. Dia benar-benar tak mengerti dan ingin tahu. Dan beberapa saat kemudian terdengar deru motornya membelah jalanan, menuju tempat yang ia pikirkan untuk mencari jawabannya.
.
Yesung tengah berdiri di depan gerbang rumahnya, dengan sebuah payung di tangannya. Sesekali kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok yang ia tunggu. Hingga sebuah motor berhenti mendadak di depannya.
"Apa yang kau lakukan di luar hujan-hujan seperti ini?" tanya pengendara motor itu tanpa membuka helmnya. Tapi Yesung sangat mengenali motor yang ia naiki.
"Kau sendiri sedang apa di tempat yang sangat jauh dari rumahmu di saat hujan begini?" balas Yesung.
Mata Kibum melotot mendengar ucapan Yesung. Sayangnya perubahan ekspresi itu tertutup oleh helmnya. Jadi Yesung sama sekali tak menyadarinya.
"Kau menunggu seseorang?" tanya Kibum.
"Bukan urusanmu," jawab Yesung yang lagi-lagi membuat rahang Kibum mengeras.
"Kim Ye-"
"Din!" suara klakson mobil membuat kalimat Kibum terpotong.
Yesung mengalihkan pandangannya dari mobil itu pada Kibum. "Berteduhlah, sepertinya hujannya belum akan berhenti," ucap si manis lalu berbalik meninggalkan Kibum.
"Apa itu Choi Kibum?" tanya Donghae saat Yesung masuk ke mobilnya.
"Ne," jawab Yesung sambil terus menatap sosok yang ia tinggalkan.
"Kau yakin akan meninggalkannya? Sepertinya tadi kalian sedang bicara?"
"Ani. Kami tidak sedang bicara masalah penting. Kajja, kita pergi saja."
Donghae mengangkat bahunya tanda tak peduli. Lalu menjalankan kembali mobilnya, melewati Kibum yang masih terdiam di tempatnya. Namja itu masih sempat membunyikan klakson mobilnya, menyapa Choi Kibum.
Sementara pangeran kedua Choi Group itu hanya bisa melampiaskan kekesalannya pada tangki motornya.
"Kim Yesung! Apa maumu sebenarnya?" geramnya kesal.
Pertanyaan yang seharusnya ialah yang pantas untuk mendapatkannya. Apa sebenarnya yang ia inginkan? Bukankah ia tak pernah tertarik pada Kim Yesung? Bukankah baginya selama ini Kim Yesung hanyalah namja yang merepotkan? tapi kenapa dia merasa kesal saat namja manis itu mengacuhkannya? Kenapa ia tak rela Kim Yesung menjauhinya?
Apa dia menyukai namja aneh itu? Apa ini rasa cemburu?
.
tbc
.
ga tahu kenapa, ini kayak bukan Kibum ya? Ini lebih cocok jadi Karakter EvilKyu. Tapi part depan sifat Kibum berubah kok.
dan makasih atas review yang kemarin. Maaf ga disebutin satu-satu, semoga masih mau komen di part ini.
see ya in Rain Stories - On Rainy Days part 2
