Who Am I?
Chapter 1
.
.
.
Cekidot!
"eunghhhhhhh…." Yeoja cantik itu mengerang pelan membuat kedua namja cilik yang menjaganya itu antusias.
"AHJUCCI, NONA CANTIK CUDAH BANGUN NIH!" koor mereka kompak.
Dan tak butuh waktu lama pintu kamar tamu itu dibuka dan menampilkan sosok rupawan dari namja bermata musang itu.
"jeongmal? Baguslah kalau begitu!" seru namja itu, Yunho.
Sedangkan, yeoja cantik bermata doe besar itu menatap sosok asing didepannya dengan raut wajah bingung. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Dan siapa sosok-sosok menggemaskan dan ehm tampan itu?
"nugu?" Tanya yeoja cantik itu.
"ahh, Jung Yunho imnidha." Kenal Yunho.
" aku siapa?"Tanya yeoja cantik itu lagi.
"nde?"
"kau siapa? Mereka siapa? Aku siapa? Dimana ini? Apa yang terjadi?"dan yeoja cantik itu menjadi panik membuat Yunho yang menatapnya merasa iba. 'amnesia,eoh?' batin Yunho dalam hati.
"ahjucci, ottokhae?" Tanya bocah bertumbuh lebih tinggi itu.
"molla, aku tidak tahu. Dia sepertinya kehilangan ingatan." Lirih Yunho.
"hilang ingatan?" bocah yang berambut hitam lurus itu menatap ahjussinya bingung. Wajar mengingat umurnya yang masih lima tahun dan belum bisa mengerti akan perkataan Yunho tersebut.
"ahh, maksudnya agasshi ini tidak ingat siapapun chagi.. dia melupakan semuanya termasuk namanya sendiri." Jelas Yunho.
"jaejoong."
"mwo?"
"Cuma itu saja yang bisa kuingat.. selain itu tidak ada lagi.. aghhhh." Yeoja cantik itu memegang kepalanya kesakitan.
"ssshhh, sudahlah. Tidak usah kau ingat, lebih baik kau istirahat dulu agasshi.. sepertinya kau lelah sekali." Bujuk Yunho.
Tetapi, tiba-tiba saja bocah yang paling sedikit berbicara itu memanjat ranjang yang ditiduri oleh yeoja itu. Dia meniduri tubuhnya sendiri disamping yeoja itu.
"ahjucci, aku mau tidul dicamping nona yeoppo ini."ucapnya singkat.
Melihat kelakuan kembarannya itu membuat bocah lainnya mengikutinya. Jika si bocah yang pendiam telah berada disampin kiri yeoja itu. Maka dia sudah berada disebelah kirinya.
"yak, shirreo.. kalian menganggunya arraso.. turun, biarkan agasshi itu istirahat."bentak Yunho yang tidak digubris sama sekali oleh kedua keponak'annya yang evil itu.
"sudahlah, tidak apa-apa kok."
"ta.. tapi.."
"gwechana." Yakin yeoja itu sambil memperlihatkan senyumannya itu. Dan tahukah kau, jika sedari tadi namja bermata musang ini terus mengontrol dirinya untuk tidak 'menyerang' mu. Ahh, sudahlah lupakan.
"aahhh, arraso. Jonggie, kalau kau butuh sesuatu kau tinggal teriakan namaku saja ne?"
"jonggie?"
"ne, karena kau hanya mengingat seseorang yang bernama jaejoong apalah itu.. maka untuk sementara namamu jaejoong saja, ne? dan kau boleh memanggilku Yunho."
"tapi apakah tidak merepotkan?"
"apanya?"
"apakah tidak merepotkan jika aku tinggal disini untuk sementara? Aku tidak ingat dan aghhhh… appoyo~" rintih yeoja cantik yang dideklarasikan bernama Jaejoong itu saat dia merasakan jika dadanya sedang diremas oleh salah satu bocah yang tidur disebelah kirinya itu.
"ahh, n.. ne, g.. gwe.. gwe.. gwechana~" gugup Yunho yang kini perhatiannya tertuju pada payudara yeoja cantik itu yang ukurannya yang tidak kecil itu.
'dasar evil mesum, bikin iri saja kau. Oh, tuhan.. celanaku mulai menyempit.. aku harus keluar dari sini.'
"ehmm, jo.. jong-gie sebaik.. nya ak.. u kelu.. ar du.. lu ne? tid.. ak a.. pa-a.. pakan ku.. tinggal?" Tanya Yunho yang mulai keringat dingin melihat kedua tangan keponak'annya itu kini telah menggrepe-grepe tubuh Jaejoong. 'kalian piker aku bisa tertipu, eoh? Aku tahu jika kalian itu belum tidur, anak –anak sialan!' umpat Yunho dalam hati.
Jaejoong hanya bisa mengangguk pasrah melihat kedua bocah menggemaskan itu melakukan hak asusila pada dirinya. Tapi, saat melihat wajah polos (?) mereka membuat amarah yeoja cantik itu hilang kemana.
"mianhe, Yunho-ssi~" lirih Jaejoong memandang pintu yang ditutup Yunho itu sendu. Dengan penuh kasih sayang ia mengelus kepala kedua bocah yang terus menempel kepadanya itu. Dan itu berhasil membuatnya tersenyum.
.
.
.
.
"su-ie, bagaimana?apakah kau sudah menemukan jonggie chagi nak?" tanya Heechul pada sesosok namja manis yang baru saja memasuki rumah dengan raut wajah yang kelelahan.
melihat wajah ummanya yang berharap membuat si namja manis yang dipanggil Su-ie itu sulit untuk berbicara. Dengan lesu dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan Heechul pun kembali meneteskan air matanya yang belum kering itu.
"ssstttt, umma uljima... jangan seperti ini, kau membuatku sedih umma sshhh... sudahlah nanti Su-ie cari lagi ya? sudah dong, uljima umma... kan Su-ie ikutan sedih kalau umma sedih." bujuk anak pertama Kim itu, Kim Junsu.
"hiks.. Su-ie, kamu harus temukan Jonggie, apapun yang terjadi kau hikss.. harus menemukannya.." isak Heechul.
"ne, ne, ne... ahh, appa mana umma?" tanya Junsu mengalihkan pembicaraan.
"entahlah, namja brengsek itu kuusir lima belas menit yang lalu dan tidak boleh pulang sebelum menemukan Jonggie. Lagipula ini juga salahnya menjodoh-jodohkan anak kita sama si Choi kuda itu..!"murka Heechul.
Junsu meringis mendengar penderitaan yang baru saja dialami appanya itu. Yah, sebenarnya itu setimpal dengan masalah yang dibuatnya. Bukan hanya menghilangkan adik kesayangannya saja itu. Appanya juga telah membiarkan dia harus meng-cancel kerja sama dengan Mr. Park yang dari dulu ia idam-idamkan untuk bekerja sama dengannya. Dan Junsu tidak mau munafik jika dia juga merasa 'sedikit' bahagia mendengar nasib appanya itu.
"jadi appa sekarang ada dimana umma?"tanya Junsu penasaran.
"aih, paling dia tinggal dirumah adiknya yang penggila game dan autis itu... sudahlah, tidak usah membicarakannya.. kita makan dulu saja chagi, kau belum makan kan sedari tadi?"
"ne, umma, Su-ie lapar hehehe.." Junsu menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal itu.
"ne, kajja."
.
.
.
.
"jadi bisa kutanyakan alasanmu kemari ge?" tanya yeoja manis berkulit putih seputih kapas itu. Menatap sinis kepada sesosok namja paruh baya yang tidak pernah pudar akan ketampanannya itu. Berdiri didepan apartementnya dengan wajah yang nelangsa.
"ayolah Kyunnie, biarkan gege-mu ini masuk dulu. Aku benar-benar sangat lelah, kumohon." tanpa menunggu jawaban dari adiknya itu. Namja yang dipanggil gege itu pun masuk kedalam apartement itu tanpa permisi. Dia menjatuhkan dirinya begitu saja pada sofa yang ada disana. Menikmati sedikit kemewahan yang ada dirumah adik kesayangannya itu.
"YAK, KIM HANGENG JAGA SIKAPMU ITU PABBO!" teriak yeoja manis itu, Kim Kyuhyun. Menatap iritasi kepada sosok gege-nya itu yang suka seenaknya.
"sshhh, diamlah adik kecilku... aku benar-benar lelah sekarang... biarkan aku tidur sebentar sajazzzz..." dan tak butuh waktu lama untuk kepala keluarga Kim itu memasuki dunia mimpi.
Kyuhyun hanya menatap gege-nya iba, bukannya dia menutup mata akan apa yang telah terjadi. Sebenarnya dia juga merasa simpati pada sosok gege-nya yang seakan-akan dituduh sebagai pelaku kaburnya keponak'annya yang disayanginya itu. Kyuhyun tahu jika Hangeng melakukan itu untuk kebaikan Jonggie. Hangeng takut jika Jonggie-nya itu tidak akan bahagia dengan laki-laki lain. Maka dari itu, Hangeng berinisiatif untuk menjodohkannya dengan salah satu rekan bisnisnya yang seumuran dengan anaknya tersebut. Dan Kyuhyun pun menghela nafasnya melihat reaksi yang diberikan oleh keluarga kakaknya itu yang jauh diperkirakan oleh kakaknya.
"ge, aku tahu maksudmu baik.. tapi Jonggie-Mu itu sudah dewasa.. dia tahu apa yang terbaik buat dirinya sendiri..." gumam Kyuhyun. Lalu ia berjalan memasuki kamarnya untuk memberikan selimut kepada gegenya itu. Tanpa disadari, ternyata air mata telah lolos dari mata yang terpejam itu. Ooohhh, ternyata sedari tadi kepala keluarga Kim itu mendengarkan ucapan adiknya itu. Dan sepertinya dia sudah menyadari dimana letak kesalahannya sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebenarnya, Yunho merasa enggan untuk bangun jika tidak ada suara gaduh didapurnya. Tunggu? Dapur?
"omona, apa yang dilakukan oleh kedua bocah setan itu?"teriak Yunho keluar dari kamarnya dan tidak memperhatikan kembali tubuhnya yang hampir half-naked itu.
Drapp.. drapp.. drapp, suara derap kaki Yunho menuruni tangga membuat Jaejoong yang saat itu sedang memasak untuk sarapan menhentikan aktivitas yang dilakukan yeoja cantik itu.
Dengan napas yang tidak beraturan Yunho menatap Jaejoong penuh nafsu. "hhh… hhh apahhh… kauhhh yang sedang hhh.. memasak, Jae?" tanya Yunho tersengal.
Jaejoong mengangguk, "waeyo yunnie? Ada yang salah?"
"mwo? Yu.. Yunnie?" kaget Yunho.
"ne, Yunnie…" kata Jaejoong sambil memberikan senyumannya yang polos.
"aih, sudahlah lupakan boo… huft, kupikir dua bocah itu yang memasak… membuatku jantungku ingin copot saja." Sungut Yunho.
"kenapa?"
"karena mereka akan merusak dapurku boojae… ayolah, masa begitu saja kau tidak mengerti sih? Mereka itu anak kecil.."
"bukan itu Yunnie… tadi kau memanggilku apa? Boo? Boojae?"
"ne, kan tidak enak jika kau saja yang memiliki nama panggilan untukku. Sedangkan, aku sama sekali tidak memiliki nama panggilan untukmu." Terang Yunho membuat Jaejoong mengangguk-anggukan kepalanya.
"ohh, ah Yunnie aku… ehmm, bolehkah aku.. ehmm." Jaejoong bergerak-gerak gelisah.
"hmm? Kau menginginkan apa boo?" tanya Yunho yang kini tepat disamping Jaejoong. Dia mencomotkan masakan Jaejoong membuat si koki cantik itu mengerucutkan bibirnya kesal. Dan Yunho
? dia meneguk ludahnya dengan susah payah melihat pemandangan yang sangat menggiurkan untuk disantap itu. Bukan makanannya tapi sosok yeoja cantik yang sedang mengerucutkan bibirnya yang seksi itu.
"bolehkah aku diizinkan untuk tinggal disini untuk sementara? Aku mau kok dipekerjakan jadi apapun. Entah dijadikan pembantu, babysisster, atau apapun yang bisa berguna untuk kalian disini, Yunnie. Jebal?" jaejoong menatap Yunho penuh harap.
Yunho yang ditatap sedemikian rupa itupun menjadi salah tingkah dibuatnya. 'jadi istriku mau kau Jae?' tanya Yunho dalam hati menatap Jaejoong yang saat itu benar-benar cantik dengan apron merah yang dipakainya. Entah kenapa yang ada dipikiran Yunho saat ini adalah Jaejoong yang kini menatapnya sexy dan mengalungkan tangannya kelehernya dan mendesah memanggil namanya. Oh tuhan, apa yang sedang kau pikirkan tuan jung?
"Yun… Yunnie?"tanya Jaejoong tepat diwajah Yunho.
"jika jaraknya sedekat ini maka jangan salahkan aku jika kau akan menjadi tahanan kamarku untuk dua bulan kedepan."lirih Yunho sambil menahan nafas.
"ne, kau berbicara sesuatu, Yun?"tanya Jaejoong yang tidak sengaja mendengar lirihan Yunho tersebut.
"tidak, aku tidak mengatakan apapun. Oh iya, Jae anak-anak mana?"tanya Yunho canggung karena dia merasa jika kata-katanya tadi seakan-akan dia adalah suami yang menanyakan keberadaan anak-anak mereka pada istrinya.
"ahh, anak-anak itu… mereka masih tidur Yun… huft, aku benar-benar kewalahan semalam berkat tangan-tangan usil mereka.. oh, iya kalau boleh tahu nama anak-anakmu itu siapa Yun?"
"hahaha.. mereka bukan anakku Boo, dia anak kakakku."ucap Yunho sambil tersenyum miris.
"loh? Terus kenapa mereka ada disini? Liburan? Dimana orang tuanya?" tanya Jaejoong bertubi-tubi.
"mereka yatim piatu Boo.. Cuma aku satu-satunya keluarga yang mereka percayai dan aku mengadopsi ah lebih tepatnya mengambil paksa mereka dari keluarga itu."terang Yunho. Dan Jaejoong pun urung menanyakan lebih lagi saat melihat kesedihan dimata Yunho itu. tidak sengaja pula, Jaejoong melihat siluet bayangan kecil dari kedua bocah itu dari lemari cermin yang ada didapur itu. Jaejoong yakin jika sedari kedua bocah yang sampai sekarang tidak diketahui namanya itu mendengar dengan jelas ucapan dari Yunho tadi.
Jaejoong pun berjalan mendekati mereka, menghiraukan tatapan bingung dari Yunho dan...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
to be continued
