o-o-Flash Back December Night-o-o
Malam itu aku dan Sungmin baru pulang dari latihan drama yang kami perankan bersama Sungmin. Aku memang lebih sering menghabiskan waktu bersama Sungmin waktu itu. Tapi waktu itu hanya sebatas teman. Tapi entah kenapa lama-kelamaan aku merasa sangat nyaman bila berada bersama Sungmin. Dan hal itu sempat membuat perasaanku sedikit goyah. Aku tahu itu salah, karena saat itu aku masih memiliki Changmin. Tapi dengan bodohnya aku terpesona dengan namja lain.
Hingga akhirnya sesuatu terjadi dimalam itu. Sungmin menyatakan cintanya padaku. Dia bilang tidak peduli dengan statusku sebagai namja chingu Changmin, Dan memintaku diam-diam menjalani asmara bersamanya.
Bukannya aku tidak menolak. Tapi dia tidak memberikan kesempatanku untuk berbicara, Karena sedetik kemudian Sungmin menciumku. Awalnya aku memberontak. Tapi entah setan apa yang merasukiku, akupun membalas ciuman itu. Bahkan terkesan menikmatinya. Lama-lama ciuman kami makin intens, seolah melupakan bahwa kami masih berada di koridor apartemenku. Sungmin mendorongku kepintu apartemen lalu beralih menciumi leherku. Saat itu juga tanpa sengaja mataku melihat Changmin sedang berdiri mematung tidak jauh dari tempat kami.
Dengan Shock aku mendorong Sungmin menjauh. Dan melihat Changmin berbalik, bukan untuk pergi. Akhirnya aku tahu dia sedang menghapus air matanya. Itu terdengar dari suara paraunya.
Dan saat itulah aku merasa semuanya akan berakhir.
.
.
Ordinary Love Story
The Most Precious
Genre :: Angst, Hurt/comfort
Cast :: Find out in story
Leght :: Two shoot
Warning! Bl, TYPO(S), Alur kecepetan dll
.
Sumary :: Kau akan menyadari betapa berharganya diriku saat aku tidak lagi bersamamu
A/N :: Yeay! Saya datang lagi. Bawa last Chap The Most Precious. Mian ya agak lama, padahal Cuma two shoot. Author bru punya waktu soalnya. Jangan Tanya saya kenapa flash backnya saya letakan diatas. Saya bingung mau masukin di bagian mana dalam cerita. Maafkanlah author yang kurang kreatif ini. .
Enjoy!
.
Mulai sekarang hanya aku yang ada dipikiranmu.
Aku ada disetiap pertanyaan dan jawabanmu
Aku mengambil tempat disetiap impianmu
Akulah cahaya dimatamu
Dimanapun matamu memandang, Kau hanya akan melihatku
.
Kyuhyun Pov
Kubuka mataku dipagi ini. Tapi pemandanganku tetap sama. Rasa sepi ini semakin terasa. Rasa kosong ini benar-benar menyiksa. Seperti ada lubang besar ditengah-tengah hatiku. Membuatnya semakin hampa. Tak ada lagi Changmin yang menghiasi hari-hariku, Tidak ada lagi senyuman indahnya yang menemaniku. Semuanya terasa mati.
Semenjak kepergian Changmin, Aku lebih banyak diam dan melamun. PSP-pun mulai jarang kusentuh. Dia benar-benar sukses membuatku seperti mayat hidup.
Aku menghabiskan malam natalku kemarin dengan tangis menyesal. Aku tersiksa dengan rasa bersalah ini. Bayangannya selalu menghantuiku. Seolah tidak mengizinkan aku bernafas tanpa menyebut namanya.
Aku beranjak dari ranjangku kemudian berjalan gontai kekamar mandi. Aku lepaskan satu persatu baju yang melekat ditubuhku, dan mulai membersihkan diri dari air hangat yang mengucur dari shower. Setelah mandi aku berdiri di depan cermin yang ada di kamar mandi. Kuusap kacanya yang berembun, lalu telihat refleksi diriku dikaca itu. Terlihat mengerikan. Wajahku yang memang putih kini terlihat makin pucat, pipiku terlihat tirus dan mataku bengkak. Mungkin karena semalam aku menangis dalam tidurku.
"Kyu, jangan melamun dikamar mandi nati kau masuk angin"
Suara Changmin menggema ditelingaku. Aku berbalik dan tidak melihat siapa-siapa dibelakangku. Hanya aku sendirian yang ada dikamar mandi ini. Aku tahu beberapa hari ini aku mulai menghayal. Dan ini sangat menyiksaku.
Setelah mandi, Aku segera bergegas ke dapur untuk sarapan, perutku semakin pedih karena semalaman aku tidak mengonsumsi apapun. Kubuka kulkas, namun tidak ada satupun makanan yang kutemukan. Aku sadar sudah dua minggu aku sama sekali tidak belanja. Aku hanya mengurung diri dikamar melamunkan sesuatu yang mungkin tidak akan kembali lagi.
Aku melihat satu bungkus ramen tersisa di counter dapurku. Dan akupun segera memasaknya.
"Kyu, jangan makan mie instan lagi! Tidak baik untuk kesehatanmu!"
Aku mendengar suara Changmin lagi
"Aku malas memasak yang lain"
Kali ini suaraku terdengar menjawab. Aku menoleh kesamping dan aku melihat ilusi itu lagi. Aku melihat diriku sendiri sedang berdebat kecil dengan Changmin yang mengomel karena kebiasaanku memakan mie.
Aku menutup rapat mataku dan menggeleng berkali-kali. Meyakinkan diriku sendiri bahwa semua ini hanyalah ilusiku.
Setelah mie-ku masak. Aku membawanya ke meja makan. Aku duduk sendiri di sana dan mulai memakan mie-ku.
"Yaa! Tadi kau melarangku. Tapi sekarang kau yang makan paling banyak!" Omel diriku sambil merebut panci ramen dari tangan Changmin. Changmin yang tidak rela karena acara makannya di ganggu pun ikut bertahan. Akhirnya kami terlibat rebut-merebut panci ramen.
Air mataku kembali tumpah. Apa sebegitu rindunya aku pada Changmin hingga aku mulai meng-ilusi-kan dirinya?
Aku makan sambil menangis tersedu. Entah mungkin kuah mieku sudah bercampur dengan air mataku, aku tidak peduli.
.
Aku rahasiamu yang tidak bisa kau sembunyikan
Mengingatku adalah sebuah kebiasaan yang tidak akan kau lupakan
Ketika aku menggema dala hatimu, mengapa kau terkejut?
Karena akulah suara hatimu
Dengarlah detak jantungmu sendiri
Ada aku disetiap detaknya.
.
Setelah sarapan aku memutuskan untuk berangkat kuliah, karena sudah dua minggu ini aku absen. Eomma-ku berkali-kali membujukku untuk pulang kerumah. Tapi aku menolaknya. Aku ingin sendirian saat ini.
Aku berjalan pelan dengan pandangan mata kosong, wajahku datar tanpa ekspresi. Ketika Changmin melangkah pergi dari hidupku, seolah ia menyedot habis rasa bahagiaku.
Karena aku berjalan sambil melamun, aku tersandung dan jatuh, lalu sikuku berdarah.
"Kau ceroboh sekali eoh?"
Di depan sana aku melihat diriku yang terjatuh dengan posisi yang sama. Namun bedanya waktu itu ada Changmin yang membantuku berdiri dan mengobati lukaku.
"Mengomel saja terus!" Ujar diriku merajuk.
"Mianhe! Mana yang sakit?" Aku menunjukkan lukaku disiku lalu Changmin langsung mengobatinya sambil meniup-niup kecil lukaku. Membuat aku terkekeh geli karena nafasnya yang membelai tanganku. Lalu kami tertawa bersama
Kumohon siapa saja, bantu aku hentikan ini. Kenapa dia selalu hadir kemanapun aku pergi? Changmin kumohon, jangan siksa aku seperti ini. kembalilah maafkan aku!
Aku ingin berdiri dari jatuhku, tapi kakiku terasa lemas. Orang-rang memandangku aneh. Tapi tidak ada satupun yang membantuku.
"Kyu kau kenapa? Gwenchannayo?"
Aku mendongakan kepalaku dan melihat Kibum berdiri didepanku. Lalu Kibum membantuku berdiri.
"Kau terluka. Sini biar aku obati!" Ujar Kibum saat melihat lukaku.
Tapi entah kenapa tiba-tiba perutku sakia, serasa tertusuk ribuan jarum. Kepalaku terasa berat, dan penglihatanku berkunang-kunang. Aku tidak bisa mempertahankan kesadaranku hingga akhirnya aku jatuh pingsan disusul teriakan panic dari Kibum.
.
.
Aku perlahan membuka mataku dan mengerjapkannya, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina mataku.
"Kau sudah sadar?" Aku melihat Kibum duduk disamping ranjangku dengan raut wajah cemas. Aku ingin menggerakkan tanganku. Namun sesuatu terpasang disana. Infus… aah akhirnya aku kembali ketempat yang paling kubenci. Rumah sakit.
Aku diam tidak menjawab pertanyaan Kibum, mencoba bangkit untuk duduk diranjangku. Walaupun sakit diperutku dan kepalaku belum sepenuhnya hilang.
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kenapa kau hanya mengkonsumsi mie instan. Kau ingin merusak lambungmu? Hah?" Cecar Kibum setengah marah. Tapi aku masih tidak menjawab.
"Kyu!" Suara Kibum meninggi.
Aku menatap nanar kedepan. Entah apa yang kutatap. Jiwaku rasanya tidak ada lagi di tubuhku.
"Aku merindukannya Bumie!" Ujarku mengalihkan topic pembicaraan.
Kibum tidak menjawab, menunggu apa yang akan kukatakan selanjutnya.
"Aku melihatnya kemanapun aku pergi, Aku bisa mendengar suaranya bergema ditelingaku, Dia datang disetiap mimpiku, Setiap detak jantungku menyebut namanya. Aku tersiksa Bumie!" Suaraku mulai bergetar.
"A-Aku rela jika tubuh ini sakit. Tapi jangan hati ini. Dia tidak memberikanku satu kesempatanpun. Dia datang tanpa kuundang dan Kini dia pergi tanpa ucapkan 'selamat tinggal'. Hiks… Dia.. Dia begitu mencintaiku tapi kuberikan luka dihatinya. Aku.. Hiks hiks… sangat merindukannya Bumie" Aku mulai menangis tersedu. Kibum masih belum berkomentar, Ia menungguku menyelesaikan ceritaku.
"Apa yang harus aku lakukan? Hiks aku ingin kembali ke malam itu dan merubah segalanya hiks... tapi itu tidak mungkin. Kata maaf pun kini tidak bisa aku sampaikan. Hiks hiks… kenapa? Kenapa dia menyiksaku sampai seperti ini?" Tangisku semakin pilu. Kesedihan yang selama ini kucoba telan sendiri kini kusampaikan pada Kibum. Karena memang yang kubutuhkan saat ini adalah teman bicara.
Kibum menatapku miris. Mungkin ia juga merasakan lukaku. Ia sudah tau tentang perpisahanku dengan Changmin. Tapi belum tahu tentang penyebabnya.
Kibum beranjak dari duduknya lalu meraihku kedalam pelikannya. Membiarkan aku menumpahkan semua resahku didadanya.
"Jika kau merasa menyesal, bangkitlah, jaga dirimu, perbaiki dirimu, jadilah orang yang lebih baik. Tunjukan padanya kalau kau bisa berubah, dan jelaskan semuanya ketika dia kembali nanti. Dia pasti kembali Kyu!"
"Tapi semuanya akan berubah. Semua tidak akan sama lagi jika dia kembali nanti" lirihku.
"Memang semuanya pasti berubah. Maka dari itu kau harus belajar tegar. Ini pilihan yang kau buat sendiri Kyu. Tidak ada cara selain menjalaninya" Kibum mengelus punggungku yang bergetar karena tangis. Mencoba menyalurkan perasaan tenang untukku.
Setelah itu aku tidak berkata apa-apa lagi. Aku biarkan air mata ini mengalir hingga nantinya tidak akan bisa lagi mengalir.
Setelah tangisku reda, kedua orang tuaku datang. mereka mengajakku pulang. Dan akhirnya aku menurut. Mungkin tinggal bersama mereka bisa mengurangi kesedihanku.
.
.
-0-0- 4 Years later -0-0-
.
Aku rindu senyummu, suaramu
Terasa begitu baik untukku, begitu benar
Mungkin ini adalah angan-angan
Mungkin ini mimpi yang tidak akan tercapai
Tetapi jika kita mencintai lagi, aku bersumpah akan mencintaimu dengan benar.
.
Empat tahun berlalu sudah. Aku mulai bisa menata kembali perasaanku. Bukan berarti aku melupakannya. Rinduku semakin hari semakin besar untuknya. Begitu juga dengan rasa cintaku yang tidak pernah mati. Dan sekarang aku sedang membuat hidupku lebih baik. Aku ingin saat Changmin kembali nanti, ia melihatku dalam keadaan baik-baik saja.
Aku bertekad ingin merubah segalanya. Walaupun aku tidak bisa kembali kemalam desember itu. Tapi setidaknya kata maaf pun mungkin cukup untuk menyampaikan betapa merasa bersalahnya diriku setelah malam itu. Malam dimana aku menghancurkan semuanya bersama Sungmin yang sekarang menjadi orang yang kubenci.
Setelah aku lulus kuliah, aku berkerja di perusahaan Jung Corp. Aku pikir dengan begitu aku bisa dengan mudah melihat Changmin setelah ia kembali nanti. Walaupun Yunho sajangnim sedikit tidak suka melihatku, tapi akhirnya ia bisa menerimaku, karena aku termasuk pegawai berbakat. Aku naik menjadi wakil direktur.
Dan dugaanku benar. Awal November Changmin kembali ke Seoul. Dan memulai kerjanya sebagai Direktur. Betapa senangnya dan seakan tidak percaya. Rasa haru dan rindu menyeruak menjadi satu. saat aku melihatnya memasuki kantor dengan setelan tuksedo yang amat pas dibadan tingginya, membuatnya semakin tampan dan gagah. Tidak banyak yang berubah darinya, matanya, senyumnya, tawanya semuanya sama seperti dulu. Tapi kemudian aku sadar bahwa ada sesuatu yang berubah. Dia bukan milikku lagi. Itulah satu-satunya yang berubah.
Karena kami berdua berada dalam satu kantor, menambah intensitas kami bertemu semakin sering. Seperti yang kubilang tadi. Semuanya tidaklah sama sekarang. Walaupun Changmin masih menyapaku, dan tersenyum padaku tapi dia terkesan menjaga jarak denganku. Dia tidak ingin terlibat perbincangan terlalu dalam denganku. Semua yang kuobrolkan dengannya hanyalah masalah perkerjaan. Dan aku tahu kenapa dia bersikap seperti itu.
Suatu waktu kami terlibat dalam situasi hanya berdua. Semuanya terasa canggung. Membuatku tersiksa. Changmin memulai pembicaraan duluan. Kami hanya berbasa-basi. Ia menanyakan kabarku dan tentu saja kujawab baik. Begitu juga dengannya. Selebihnya yang kami bicarakan adalah perkerjaan dan hal lainya yang membosankan. Jika aku mulai sedikit saja menyinggung tentang masa lalu, ia akan segera mengganti topic pembicaraan. Aku tahu dia tidak ingin membahas hal itu lagi. Jadi aku hanya diam tidak mengatakan apa-apa lagi.
Hari demi hari berlalu, tidak ada perubahan berarti dalam hubungan kami. Terbentang jarak yang begitu jauh antara kami. Aku harus puas dengan memandangnya dari jarak sejauh ini. kami berada begitu dekat tapi semuanya terasa begitu jauh. Aku benci dengan sikapnya yang seperti ini. seolah tidak ada yang terjadi pada kami dimasa lalu. Bersikap didepanku seolah tidak ada luka yang ia pendam selama ini. Jika boleh memilih, lebih baik changmin bersikap dingin sekalian dari pada harus bersikap ramah kepadaku namun bisa kulihat dengan jelas lukanya dari tatapan matanya saat ia melihatku. Itu lebih membuatku tersiksa.
akhir November, aku harus menghadapi kenyataan pahit sekali lagi. aku mendengar Changmin akan bertunangan di bulan desember ini. membuatku kembali terpuruk. entah ujian apa lagi yang Tuhan berikan untukku. tidak cukupkah empat tahun ini aku habiskan untuk menyesal, tidak cukupkah aku selalu mencintainya selama empat tahun ini dan tidak cukupkah penantianku selama 4 tahun ini?
Aku bersedih lagi. menumpahkan segalanya pada Kibum sahabatku yang selalu menemaniku selama 4 tahun ini. yang selalu memberikanku semangat saat aku terpuruk karena merindukan Changmin. Dan yang membuatku bangkit untuk hidup lebih baik.
"Cinta tidak harus memiliki Kyu. Jika memang Changmin ditakdirkan untukmu, Dia pasti akan kembali kedalam pelukanmu. Tapi jika bukan, Kau harus bisa menerimanya. Bahagia saat melihat orang yang kita cintai bahagia, bukankah itu yang disebut cinta?"
Begitula kata-kata simple Kibum yang ia lontarkan untukku. membuatku sadar, melihat Changmin tersenyum itu sudah cukup untukku. Aku lebih senang melihat wajah bahagia Changmin dengan orang lain dari pada wajah terlukanya saat bersamaku dulu.
benar, ini yang terbaik. Walaupun aku tidak lagi bersama Changmin, tapi Changmin akan terus hidup dalam hatiku. walaupun kini tidak lagi bisa bersama, setidaknya aku pernah bersamanya. aku pernah menjadi orang yang amat dicintainya. mengingat itu saja aku sudah cukup bersyukur.
Terimakasih Tuhan, Kau pernah memberikan kesempatan padaku untuk memiliki Changmin dulu. walaupun begitu singkat tapi aku sangat senang. Dia adalah kenangan berharga yang pernah aku miliki.
-0-0- Back To December -o-o-
.
December night
aku menyusuri jalan di tengah udara dingin yang mengigit kulit. hari ini aku sudah tekadkan dalam hati untuk bertemu dengan Changmin. aku akan meminta maaf atas kesalahanku di malam itu. walaupun terlambat tapi aku aku akan ini kepadanya. aku menuju apartemen dengan berjalan kaki sekitar 20 menit dari apartemenku.
Saat aku sampai di Apartemen Changmin, aku merasa dejavu. seperti kembali lagi ke malam desember waktu itu. Bedanya, yang sekarang dalam posisi terluka adalah aku. Didepan sana Changmin sedang berciuman dengan seorang yeoja. dadaku berdenyut sakit melihatnya. Aku meremas dadaku.
'Sakit. apa kau dulu juga merasakan rasa sakit ini Changmin? Atau lebih hebat dari ini? kau benar. ini sangat sakit. Berada diposisi ini benar-benar sakit. Mianhe Changmin-ah'
aku tidak mencoba pergi dari sana. aku tetap bertahan melihat semuanya jika ini bisa membuat rasa bersalahku sedikit hilang.
"Pergilah. sudah cukup!" samar-samar aku mendengar Changmin berujar pada yeoja itu.
"Ck kau tidak asik. aku pergi" Ujar yeoja itu kemudian pergi dari tempat kami. setelah sebelumnya sempat menatapku sebentar saat ia berjalan melewatiku. Namun aku tidak mengindahkan tatapan yeoja bedak tebal itu.
setelah aku bisa sedikit menguasai hatiku, aku berjalan menghampiri Changmin. Aku bersiap untuk mengatakan sesuatu, tapi Changmin langsung memotongnya.
"Ayo masuk!" Changmin berbalik ingin membuka pintu apartemennya.
"Ye?"
"Kau ada perlu denganku, kan? aku tidak ingin mati beku diluar sini" ujar Changmin menatapku sebentar lalu membuka pintunya.
"Disini saja. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. bukan sebagai bawahanmu... " aku menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan kata-kataku. "Tapi sebagai seorang Cho Kyuhyun"
"Just five minute" tawarku.
kulihat Changmin menutup kembali pintu apartemennya dan berbalik menatapku.
"Kau hanya perlu mendengar apa yang akan kukatakan. Jangan bergerak ataupun membantah" Tambahku. tak ada jawaban dari Changmin. itu berarti dia setuju.
"Maafkan aku untuk kejadian malam itu. bukan hanya untuk malam itu. tapi juga untuk semua perlakuanku selama kita masih bersama dulu. Aku benar-benar minta maaf. Aku tau ini terlambat. Tapi aku benar-benar menyesal. Dulu kau pergi tanpa mendengar kata maaf dariku. membuatku merasa bersalah setengah mati.. Kau benar! setelah kau pergi dariku baru aku menyadari pentingnya dirimu untukku. Kau bilang, aku harus bahagia walau tanpa kau disisiku. Tapi bagaimana bisa aku bahagia sedangkan seluruh hatiku telah kau bawa pergi" Aku meremas pinggiran bajuku dan mencoba sekuat tenaga menjaga suaraku agar tidak bergetar.
"Terima kasih sudah mendengarkanku. aku pergi!" Pamitku, membungkuk sebentar kemudian berbalik ingin melangkah.
"Tapi semuanya sudah terlambat Kyu!" tiba-tiba Changmin buka suara.
"Aku tahu. Aku tidak memintamu kembali. Aku hanya meminta maafmu. thats all!" Aku menatap lekat wajah Changmin yang berapa tahun ini kurindukan. tersenyum sebentar lalu melanjutkan langkahku menuju lift dan pergi dari tempat itu dengan perasaan lega.
Kyuhyun pov end
.
Author Pov
Changmin memandang kepergian Kyuhyun dengan pandangan sulit diartikan. ia menghela nafas sebentar lalu berujar pada dirinya sendiri.
"Kau selalu saja berbohong Kyu. Aku tahu kau sangat menginginkanku kembali!"
.
Sementara itu, Kyuhyun sedang menyusuri jalan pulang. tapi ia tidak berniat pulang. Ia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah.
ada perasaan lega setelah mengatakan semuannya pada Changmin. Tapi ada sebagian hatinya yang berteriak tidak rela. Tapi ia tidak berani lagi berharap. jika memang harus berakhir seperti ini. maka 'so be it'.
Ia bertekad untuk membangun hidupnya lebih baik lagi. melupakan Changmin dan memulai lembaran baru lagi. Jika suatu saat nanti ia mendapatkan seseorang yang mencintainya, ia berjanji akan mencintai orang itu dengan benar. Benar-benar tidak ingin semua ini terulang untuk kedua kalinya.
Tiba-Tiba Kyuhyun menghentikan langkahnya didepan sebuah café. Café tempat Kyuhyun memberikan jawaban cinta untuk Changmin dulu. Kali ini Kaca Café tertutup sepenuhnya dengan embun Akibat cuaca yang benar-benar dingin. Kyuhyun tersenyum mengingat kejadian lalu. kemudian ia memutuskan untuk mampir ke cafe itu. Kyuhyun mengambil tempat duduk dekat kaca cafe. setelah sebelumnya memesan minuman pada pelayan.
Kemudian ia duduk menopang dagu memperhatikan pengunjung cafe yang tampak menikmati malam mereka.
Sedangkan Kyuhyun sedang berputar kembali ke desember, dimana ia menghancurkan semuanya, dan kini didesember pula ia memutuskan melupakan namja yang amat sangat dicintainya itu. Mungkin ini cara Tuhan untuk memberikanya yang terbaik.
Alunan musik jazz mengalun lembut. membuat suasana hati Kyuhyun makin lengkap. Haru, sedih, lega semuanya bercampur jadi satu. Mengenang pertemuan pertamanya dengan Changmin, Changmin menembaknya diatap, hingga ia memberikan jawaban cinta di café ini.
saat sedang enak-enaknya menikmati musik dan memutar kembali ingatan masa lalu untuk yang terakhir kalinya. suara ketukan kecil dijendela kaca cafe membuyarkan lamunan Kyuhyun. Kyuhyun menoleh kearah kaca berembun itu. kemudian sebuah tulisan muncul disana.
I love you so much
maukah kau mengulangnya lagi bersamaku?
Mata Kyuhyun membulat melihatnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa hanya memandang kata-kata itu dengan tatapan tidak percaya. tanpa pikir panjang Kyuhyun mebalas mebuat uap di kaca lalu menulis.
'Yes I do'
sebelum berlari keluar cafe.
diluar cafe Changmin menunggunya dengan senyum hangat. dengan mata berkaca-kaca ia langsung berlari menerjang Changmin dan memeluknya. Untungnya Changmin sudah mempersiapkan diri hingga mereka tidak terjungkal bersama karena Dahsyatnya terjangan Kyuhyun.
tanpa diduga Changmin, tangis Kyuhyun langsung pecah didada Chagmin. Changmin yang mengerti, Hanya bisa memeluk Kyuhyun sambil mengusap rambut dan punggung Kyuhyun. mengabaikan tatapan orang sekitarnya.
"Sa.. ra huks ng huks hae" Ucap Kyuhyun tersendat di antara isaknya. "Mianhe.. huks Mianhe... Mian...
"Ssst... It's ok. I'm here. Nado saranghae. jeogmal saranghae yeongwonhi" suara Changmin ikut bergetar.
"Saranghae. aku mengucapkan itu benar-benar tulus Minnie. Bu..huks kan alasan huks huks. percayalah!"
hati Changmin sakit mendengarnya. tanpa ia sadari, betapa Kyuhyun sangat terbebani selama ini. Ia pikir Kyuhyun bisa hidup dengan baik selama ini. tapi ia salah. disini yang lebih menderita adalah Kyuhyun. bukan dirinya. Changmin menciumi pucuk kepala Kyuhyun berulang-ulang.
"Aku tahu! Uljima baby"
Changmin melepaskan pelukan Kyuhyun lalu menagkup wajah Kyuhyun dengan tangannya. Ia menghapus air mata Kyuhyun dengan ibu jarinya.
"Kau ingin menyakitiku lagi, hmm?" Tanya Changmin. Kyuhyun dengan cepat menggeleng.
"Kalau begitu berhentila menangis. Kau mebuatku merasa bersalah"
"Ne. Aku berhenti menangis!" ucap Kyuhyun mencoba meredam iasakannya sekuat tenaga membuat Changmin tertawa gemas dan kembali memeluk kekasihnya.
Prok Prok
"HORE.. BRAVO BRAVO!"
"Selamat ya!"
"Cuit cuit"
Suara heboh dari dalam cafe yang berasal dari semua pengunjung, membuat ChangKyu couple terkejut lalu melepas pelukan mereka. Keduanya menunjukan wajah malu dan memerah bak kepiting rebus, membuat para pengunjung cafe makin heboh menggoda pasangan CLBK ini.
"Terimakasih ya, sudah memberi kami tontonan drama mengharukan dengan gratis" Tegur Kibum jahil, yang muncul bersama Siwon kekasihnya dengan popcorn ditangan mereka. #Plak.. Kibum oppa pikir nonton bioskop? -.-'
"Bumie~" Kyuhyun salah tingkah.
"Sudahlah. Ayo kita masuk. disini dingin!" Siwon menengahi. lalu mereka berempat pun kembali masuk kedalam cafe.
Mereka tampak tenggelam dalam obrolan asik didalam café. Kibum tidak bosan-bosannya menggoda Kyuhyun yang benar-benar tampak sumringah setelah Changmin kembali padanya. Ketika mereka sedang asik mengobrol dan melepas rindu, seseorang menginterupsi obrolan mereka.
"Anyoenghaseo Changmin-ssi dan err.. Kyuhyun-ssi"
"Ah ne, Anyoenghaseo Sungmin-ssi!" Changmin berdiri dari duduknya lalu membungkuk ringan. Sungmin menatap Kyuhyun yang ikut berdiri dari duduknya. Bukan untuk menyapa Sungmin, melainkan merengsek bersembunyi dibelakang tubuh Changmin.
"Andwe.. Aku milik Changmin" Ketus Kyuhyun memberi death glare setannya kepada Sungmin , sambil memeluk Changmin dari belakang. Kelima orang kecuali Kyuhyun yang ada disana saling berpandangan. Kemudia tawa meledak dari mereka. Dan tawa Kibum yang terdengar paling kuat. Sedangkan sisanya hanya terkekeh pelan.
"Yaa! Kenapa kalian menertawakan aku?!" Seru Kyuhyun kesal.
"Aigoo... manja sekali! so sweet!" goda Kibum. Membuat Kyuhyun salah tingkah.
"Jangan begitu Kyu, Sungmin adalah salah satu klien kita" Ujar Changmin sambil melepaskan pelukan Kyuhyun dipingganya.
"Mau bergabung?" Tanya Changmin pada Sungmin.
"Anio, aku sedang menunggu kekasihku. Aku hanya ingin memberi selamat kepada kalian. Akhirnya kalian kembali bersatu"
"terima kasih. Aku juga harus berterima kasih padamu. Jika bukan karenamu mungkin kami tidak akan kembali bersama" balas Changmin.
Kyuhyun yang mendengarnya mengernyitkan keningnya bingung. Setelah Sungmin pamit dari meja mereka dan pergi, Kyuhyun langsung bertanya pada kekasihnya.
"Kenapa kau berterima kasih padanya Minnie? Bukankah…."
"Dia sudah menjelaskan semuanya padaku, sekembalinya aku dari Amerika. Dia mengaku jika semua itu adalah kesalahannya, dia memintaku untuk tidak menghukummu. Mati-matian memintaku memberikan maaf pada mu. Dan menceritakan tentang kehidupanmu yang berubah drastic setelah kepergianku"
"Benarkah?" Tanya Kyuhyun, Changmin mengangguk sambil menegak minumannya.
"Kau juga harus berterima kasih padanya"
"Nanti saja" Jawab Kyuhyun cuek. Changmin mengacak gemas rambut kekasihnya itu.
Dan akhirnya mereka menghabiskan malam itu dengan tawa.
.
.
Dan disnilah kini mereka, diapartemen Changmin. Tadinya Changmin ingin mengantar Kyuhyun pulang, namun Kyuhyun bersikeras ingin pergi ke apartemen kekasihnya itu.
Kyuhyun duduk bersandar di dada Changmin. Masih memeluk Changmin dengan erat. Seolah takut jika namja yang ia cintai itu kembali pergi meninggalkanya.
Mereka duduk dalam diam. menikmati kebersamaan mereka. Setelah empat tahun berpisah. Hati mereka terasa sama-sama lengkap. Tidak ada lagi rasa kosong yang merongrong.
Kyuhyun menikmati setiap elusan tangan Changmin dikepalanya. Inilah yang ia rindukan selama ini. seseorang yang sering ia ilusikan kini duduk disampingnya dan benar-benar nyata. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari pada ini.
"Kyu, aku ingin mengambil selimut sebentar. Sepertinya kau kedinginan" Ujar Changmin mencoba melepaskan tangan Kyuhyun yang memeluk pinggangnya dengan erat.
"Tidak. Dengan kau disisiku aku sudah merasa sangat hangat. Jangan membuat alasan untuk pergi dariku lagi"
"Aku tidak akan kemana-mana baby. Aku akan selalu bersamamu mulai sekarang" Ujar Changmin lembut.
"Geojimal!" Kyuhyun akhirnya melepas pelukannya beralih menatap Changmin mengernyitkan dahi.
"Kau akan pergi lagi, kan? Kau akan meninggalkan aku. Kau akan bertunangan"
"Yaghon? Nuga yaghonkayo?"
"Kau"
"Naega? Mana mungkin? Kau dengar dari siapa? Mungkin mereka salah paham"
"Salah paham bagaimana"
"Well, kemarin waktu aku menemani Junsu sepupuku mengambil cincin pesanan untuk pertunangannya, aku bertemu dengan beberapa pegawai kantor. Mereka bertanya apa yang sedang aku lakukan, ya aku jawab saja 'mengambil pesanan cincin pertunangan' kemudian mereka bertanya lagi 'Kapan tunangannya?' aku jawab 'Pertengahan desember. Aku tidak tahu kalau mereka menganggap itu pertunanganku" Terang Changmin panjang lebar.
Kyuhyun menundukan kepalanya malu. Changmin membenahi duduknya, lalu mengangkat dagu Kyuhyun agar sepasang mata itu menatapnya.
"Jika aku akan bertunangan pun, akan kupastikan aku hanya bertunangan denganmu baby. You are my precious"
"Mianhe, padahal dulu kau begitu mencintaiku, tapi semuanya kubalas dengan luka. Mianhe"
"Ssstt.. it's enough baby, tidak usah dipikirkan lagi. Aku juga bersalah waktu itu. Terlalu menekanmu. Seenaknya pergi meninggalkanmu" Kyuhyun tersenyum mendengarnya. Changmin meremas tangan Kyuhyun. "Dan aku juga ingin minta maaf padamu"
"untuk apa?"
"Eerr.. karena kau sudah melihat aku berciuman dengan yeo -
"Andwe. jangan diteruskan. Aku tidak ingin mendengarnya"
"Wae? Kau marah baby?"
"Ani. Kenapa aku harus marah. Aku hanya tidak ingin membahas hal-hal yang mengundang luka lagi. Biarkan kita menikmati kebersamaan kita. Lagi pula akan kuanggap impas. Tapi jika kau melakukannya lagi.." Kyuhyun memberi jeda, untuk melemparkan death glare teriblis tingkat dewa kepada Changmin "Kau akan mati ditanganku!" ancam Kyuhyun.
Bukannya takut Changmin malah terkekeh melihat tingkah namja chingu yang menurutnya lucu itu. Kemudian Changmin memeluk Kyuhyun dengan gemas.
"Jangan pernah meninggalkan aku lagi…"
"Never!"
"Yaksok?" Kyuhyun menatap Changmin serius.
"Neee~ nae saraaang~" Changmin mencubit pipi Kyuhyun gemas.
mendengar hal itu Kyuhyun menyunggingkan senyum manisnya kepada sang pujaan hati. kemudian.
Cup Cup Cup
Changmin langsung mengecup singkat bibir Kyuhyun sebanyak tiga kali.
"Minnie~" Kyuhyun memukul dada Changmin dan berblushing ria.
"Kau benar-benar membuat ku gemas" ujar Changmin sambil terkekeh.
Tiba-tiba Kyuhyun menarik kerah baju Changmin dengan kedua tangannya hingga mata mereka bertemu lalu …
"Saranghae!"
Kyuhyun mendaratkan ciuman di bibir Changmin setelah mengatakan itu. ciuman yang basah dan lembut namun penuh gairah yang hebat antar keduanya Kyuhyun mencium bibir Changmin dengan lembut dan penuh hasrat yang mendalam kemudian dibalas Changmin dengan hal sama juga namun lebih bergairah.
Selang 5 menit keduanya melepaskan ciuman mereka karena membutuhkan oksigen. Setelah cukup menghirup oksigen, keduanya melakukan hal yang terputus tadi menjadi semakin panas, semakin bergairah, semakin kasar, dan semakin basah. Kyuhyun pun tampak agresif.
"Kyu uuh.. kalau begini a-aku tidak ahkanh tahan~" Ujar Changmin disela-sela ciuman mereka. Kyuhyun melepaskan pangutannya dibibir Changmin, menatap Changmin sebentar, lalu naik kepangkuan Changmin dan menciumi pipi dan leher Changmin dengan seduktif, membuat Changmin mengerang geli.
"Nakal, eoh?" Changmin beranjak berdiri dengan menggendong Kyuhyun didepannya, menuju kamar tidur. dan suara lenguhan pun terdengar dari kamar itu.
Malam itu benar-benar malam yang paling membahagiakan. Tak ada lagi tangis dari keduanya. Kini hati mereka sama-sama lengkap. Dan bersiap untuk menjalin cinta kembali. Cinta yang lebih kokoh dari sebelumnya dengan berlandaskan kepercayaan dan kejujuran. Bukan hanya cinta singkat, tapi cinta yang berlaku selamanya. Cinta abadi.
Hatiku sudah lengkap sekarang
Karena kepingan yang kau bawa kini sudah kembali ketempatnya
Terima kasih sudah kembali dan memberikanku kesempatan lagi untuk mencintaimu
You are my precious one
I love you so much
.
.
Fin
alias
The end ^^
.
.
Ga puaskah dengan endingnya? Haha maafkanlah author yang kurang kreatif ini ne ^^
Ini sudah kepanjangan. Jadi mian kalau bikin bosan.
Tunggu ff Changkyu ordinary love story yang lainnya ya~~
Last word
Gamsahamnida~! ^^
Bye bye!
