Author : Melody-Cinta
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Gaara x Sakura H. x Sasori
Genre : Romance
Summary : Disaat bumi ingin dihancurkan, itulah saatnya Earth Guard bekerja. Namun, bagaimana jika saat bumi ingin dihancurkan, satu anggotanya malah menyukai seseorang?
And the story begin…
CHAPTER 2 : Karena Aku Menyukai Sakura
"Hei, jawab pertanyaanku tadi! Apa benar kau menyukai gadis itu?" tanya Deidara dengan tampang kesal. Sekarang, mereka tengah berada di atas gedung sebuah apartemen. Yah.., sekedar hanya untuk mencari angin segar agar tidak cepat bosan dengan pekerjaan mereka.
"Kubilang bukan urusanmu!" Sasori merasa kesal. Daritadi, Deidara terus-menerus bertanya hal itu. Entahlah, tapi memang dia merasakan suatu perasaan pada gadis tadi. Sesuatu yang memaksanya untuk tidak melukai gadis itu sekecil apapun. Sesuatu yang memaksanya untuk menjaga gadis itu. Dan, sesuatu yang memaksanya ingin memiliki gadis itu. Mungkin ia sungguhan jatuh cinta pada gadis itu. Tapi ia tidak ingin mengambil kesimpulan secepat itu. Kalau saja ia membiarkan gadis itu, tujuan awal organisasinya untuk menguasai dunia tak kan terwujud. Ini adalah sebuah pilihan yang berat.
"Tapi sejak kau menemui gadis tadi, kau terlihat lebih pendiam dan kau bersifat sangat aneh!" Deidara memberikan komentarnya. Sungguh, ia sangat tidak suka dengan perubahan partnernya ini. Lagipula, apa salahnya kalau ia ingin membantu mendekatkan partnernya pada seorang gadis? Apa itu salah? "Lagi pula, aku kasihan denganmu. Kau hidup sendirian sejak dulu. Tak ada satu pun wanita yang mendekatimu. Apa aku salah kalau aku ingin membantumu pada masalah yang satu ini? Aku sahabtmu!" Deidara kembali bersuara.
"Apa maksudmu?" Sasori merasa tersindir. Apa salahnya kalau dia selama ini tidak mempunyai pacar? "Lagipula aku tidak yakin dengan perasaanku." lanjut Sasori menunduk.
"Ha! Itu jawaban yang kumau! Kau tidak yakin, tapi itu sudah membuktikan kalau ada sedikit perasaan pada dirimu! Nah, ayo kita temui gadis itu lagi!" ujar Deidara senang. Ia mengajak Sasori untuk segera menemui gadis itu lagi.
"Kita datang kesini untuk bertugas. Sebaiknya kita segera kembali mengosongkan bumi ini. Hal itu sama sekali tidak penting dan tidak perlu dipikirkan." Sasori mengelak. Dengan perlahan ia berjalan meninggalkan Deidara. Sebenarnya, ia sendiri memikirkan masalah itu. Tapi, rasanya, masalah itu tidak penting juga untuk saat ini.
88888888888888888888888888888888888888
"Jadi begitu ya? Kau dibebaskan oleh seseorang dengan rambut merah itu? Dan mereka menyerang kota tanpa sebab?" tanya Gaara sekali lagi menyakinkan. Sakura mengangguk. Rasanya dia tidak mau mengingat kejadian itu lagi. Namun mau tidak mau dialah satu-satunya orang yang harus memberi tahu informasi.
"Itu pasti Sasori." ujar Ino dengan mimik muka serius. Gaara melirik Ino. Ino membuka tasnya dan mengambil sebuah buku. Dia membuka halaman buku itu dan menunjuk sebuah foto. "Apakah ini orang yang kau lihat itu?" tanya Ino sambil menunjuk orang yang berambut merah dengan muka dingin. Sakura mengangguk.
"Sasori adalah anggota Akatsuki yang paling kuat. Pein, ketua anggota Akatsuki itu paling mempercayai Sasori untuk membunuh orang-orang di dunia. Dia biasanya membunuh orang tanpa kasihan." Ino menerangkan kepada Gaara dan Sakura. Gaara dan Sakura memerhatikan dengan serius.
"Kalau dia membunuh orang tanpa kasihan, maka, kenapa dia membebaskan Sakura?" tanya Gaara dengan bingung. Dia menopang dagunya dengan kedua tangan.
"Justru itu yang aku bingung. Harusnya saat kita datang tidak ada yang memberi sinyal kehidupan. I'm glad Sakura did it!" Ino berkata dengan antusias. Memang aneh rasanya kalau Sasori bisa membebaskan seseorang dengan mudahnya. Apa yang ada pada diri Sakura sehingga Sasori tidak membunuhnya? Apa gadis ini istimewa? Atau ada hal yang lain?, pikir Ino memperhatikan Sakura.
Glek! Sakura menelan ludahnya. Gaara dan Ino sekarang sedang memperhatikan dirinya dengan seksama. "Ke.. Kenapa kalian memperhatikanku seperti itu?" tanya Sakura memberanikan diri.
Gaara dan Ino menggelengkan kepalanya. "Ah.. Tidak apa-apa!" ujar mereka bersamaan. Aku yakin sesuatu terjadi pada gadis ini! Atau malah… Uph! Apa yang kau pikirkan Ino? Itu gak mungkin!
"Baiklah. Lebih baik, sekarang kita lihat keadaan sekitar. Siapa tahu masih ada kehidupan disini." ajak Gaara yang disambut dengan anggukan Sakura dan Ino. Mereka pun berjalan keluar dari kamar apartemen Sakura. Mayat masih banyak bergeletak di lantai. Darah yang keluar dari tubuh mereka perlahan mulai mengering, berubah warna menjadi kecoklatan.
Drap.. Drap..
Bunyi suara kaki mereka yang menuruni tangga terdengar jelas. Tangga itu memang sudah lama berdiri, dan belum diganti selama apartemen ini berdiri sekitar 14 tahun yang lalu. Jadi, suara berdecit yang dikeluarkan sangatlah nyaring.
"Urh, apakah tangga ini tidak pernah diganti, Sakura?" tanya Ino. Ia merasa risih mendengar suara decitan yang diciptakan saat kaki mereka melangkah. Apakah tangga ini tidak bisa diam sebentar, hah?
"Setahuku sih semenjak gedung ini dibangun 14 tahun lalu, tangganya tidak pernah diganti. Maklumi saja, ya." Sakura terkekeh. Mereka pun kembali terhanyut dalam diam dan masih terus mengikuti Gaara.
GREK!
Gaara dengan tiba-tiba saja berhenti, mengakibatkan Sakura yang tidak mengerti apa-apa menabraknya. Ino sih sudah waspada—mengetahui sifat Gaara yang akan langsung berhenti kalau ada sesuatu yang patut dicurigai.
"Kurasa itu mereka…" Gaara berbisik cukup keras. Ya, setidaknya cukup keras untuk di dengar Sakura dan Ino. Sakura terkesiap, ia ingin bertanya, tapi Gaara sudah menaruh telunjuknya di mulut—isyarat untuk diam. "Sasori dan Deidara berada disini." ucapnya pelan.
Ino mengangguk mengerti, dia memberi kode kepada Gaara agar menghampiri mereka dan memberi isyarat kepada Sakura agar tetap diam dan mengumpat. Bagaimanapun caranya, Sakura tidak boleh dibunuh oleh mereka. Kalau sampai terbunuh, kepercayaan Naruto-sama kepada Gaara dan Ino akan berkurang. Dan bumi ini akan dikuasai oleh Akatsuki. Kalau itu sudah terjadi, dunia akan hancur. Tak ada lagi harapan.
"Kau diam disitu!" Gaara berteriak sambil menunjuk Sasori dan Deidara. "Jangan bergerak atau kau akan aku tembak dengan pistol ini!" tambahnya mengacungkan pistolnya kearah mereka.
Sasori menghentikan jalannya. Begitu pula Deidara. Sasori dengan perlahan berbalik, saling berhadapan dengan Gaara. "Cih," dia meludah tanda meremehkan. "Makhluk kecil sepertimu berani-beraninya menyuruhku." ujarnya dingin.
"Kubilang jangan bergerak! Atau kau akan aku…" Gaara menyiapkan pistolnya.
DOOOOR! PRAANG!
Bukan sesosok tubuh yang terkena tembakan itu. Bukan Sasori, tapi sebuah vas dibelakang Sasori berdiri sebelumnya. Eh? Dimana dia sekarang?, pikir Gaara panik. Ia masih memegang pistolnya. Tak berapa lama, Sasori telah berada di belakang Gaara dengan pedang yang dipegang di leher Gaara. Dengan sekali tebas, maka kepala Gaara akan terpisah dari tubuhnya.
"Jika kau berontak, aku akan membunuhmu." suaranya terdengar jelas di kuping Gaara. Tapi itu sama sekali bukan ancaman bagi Gaara. Dengan senyum menyeringai, Gaara merubah arah pistolnya menuju Deidara yang sedari tadi diam.
"Kalau kau berani menebas leherku, dengan kecepatan tebasanmu, aku akan menembak temanmu." ancam Gaara balik. Ia tahu bahwa apapun yang terjadi, teman adalah segalanya. Mana mungkin ada orang tega membunuh teman yang telah menjadi partnernya selama ini?
"Bunuh saja dia." Sasori menjawab singkat. Membuat mata Gaara dan Deidara terbelalak kaget. Gaara memegang pistolnya dengan gemetar. Orang macam apa dia? Bekerja sebagai seorang pembunuh, selalu sendirian dan.. tidak pernah menganggap temannya adalah seorang yang berharga? Apa yang dipikirkan orang ini?, pikir Gaara.
"APA MAKSUDMU, SASORI?" teriak Deidara kesal. Apa maksud Sasori? Apakah Sasori tidak pernah menganggapnya sebagai seorang teman yang berharga? Apakah dimata Sasori, Deidara hanya terlihat seperti pengganggu? "Hh.. Baiklah kalau itu maumu. Bunuh aku sekarang!" Deidara mulai mengatur emosinya dan menyuruh Gaara menembaknya dengan pistol.
Ino memantau dari belakang. Ia telah menyiapkan pistol ampuh yang telah ia simpan selama bertahun-tahun. Khusus untuk menangkap Akatsuki. Sudah saatnya aku gunakan alat ini.., pikir Ino. Dia pun mulai membidik Deidara. Namun saat melihat muka Deidara dari dekat, dia teringat dengan seseorang yang dulu pernah dikenalnya. Namun ia sama sekali tidak mengingat itu. Siapapun dia, ini adalah misi penting, aku harus membunuhnya!. Tanpa berniat mengingat pria itu sekali lagi, Ino mulai kembali membidik Deidara. Tapi tangannya gemetaran. Hatinya menolak untuk melakukan ini.
"Hh.." Ino menghela nafas pasrah.
Sakura melihat kondisi yang mulai memanas, tak ada yang bisa lakukan sesuatu. Bahkan Ino pun terlihat bingung dimatanya. Aku harus melakukan sesuatu!, Sakura bertekad.
"Cepat. Bunuh. Aku." Deidara kembali bersuara. Membuat Gaara kembali bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Apakah ia harus sungguhan membidik Deidara atau membiarkan mereka hidup untuk merajalela dunia?
Gaara menutup matanya. Dinginnya pisau sudah mulai terasa di lehernya. Dan ia sudah memutuskan untuk menembak Deidara agar semua ini cepat selasai. Setidaknya masih ada Ino yang dapat membunuh Sasori.
Ya, aku harus lakukan ini!
"HENTIIIKAAAAAAAANNNN!"
DOOOOR!
Gaara membuka matanya, dan menyadari kalau yang ia tembak sebenarnya itu bukannya Deidara, tapi Sakura yang entah kenapa telah berada diantara dia dan Sasori dan juga Deidara. Matanya terbelalak kaget. Ah! Dia sudah salah tembak! Dan yang dia tembak itu orang yang disukainya!
Sasori membelalakan matanya. Kaget. Itu juga yang dirasakan Sasori. Dengan cepat, Sasori menurunkan pedangnya dan melemparnya pada Deidara—dan ditangkap dengan sempurna juga oleh Deidara. Ia kesal dengan orang yang telah melukai Sakura! Karena ia menyukai Sakura!
Kedua bibir dari dua pria berambut merah pun terbuka lebar. Berteriak dengan nyaring dan kencang.
"SAKURAAAAA!"
-TBC-
Waah.., setelah sekian lama Mel nggak dapat ide dan apdet fic ini, akhirnya Mel bisa apdet juga. Yeeeiy! *nebar confetti*, emm… yang ini kurang memuaskan ya? Maaf ya! Oh, ya, Sakura-chan, aku buat fic ini sendiri aja deh. Abis susah kalau buat fic collab. Mungkin kapan-kapan aja ya! Review please!
