A bit late, Sorry.


Mungkin, aku terlalu posesif pada diriku ...

mungkin diriku inilah, yang membuatku hidup

apa harus kukatakan, 'alasan'?

apa aku harus-

- Desa Ordea -

Angin senyup berhembus. Langit gelap menambah mendungnya hati ini. Tanaman mati semua. Semati yang ada di hatiku. Beberapa tenda didirikan. Isinya adalah orang – orang yang tidak beruntung karena terbungkus kain putih.

" Uph. Baunya gak enak. ... " keluh Rose. Aku mencium bau busuk. Gas metana ? Hidrogen ? entahlah, aku tidak tahu.

" sebelumnya, kami sudah mengirim dua puluh tabib kami untuk mengobati mereka. Sepertinya, wabah terus berlangsung. " kata Reo.

" aku akan mencoba bertanya pada salah satu kepala tabib. " kata Akashi. Mereka berdua, maksudku Reo dan Akashi segera pergi.

" Kalian, periksa semua lingkungan disekitar sini. Tapi jangan terlalu jauh. Aku akan pergi ke arah luar desa. ". Rey dan Rose mengangguk. Aku tahu, mereka dapat diandalkan.

Diluar desa. Tampak seperti dataran kematian. Sungguh, ini bukan kali pertamanya aku melihat pemandangan seperti ini.

Aku mendekati sebuah tanaman. Ku raba. Kucium. Seperti yang kuduga, ini penyakit. Dan menular. Aku melihat kelopak bunga. Berbintik – bintik. Racun? Jamur?

" Kau sedang apa? " tanya seorang pemuda. Aku menoleh. Surai merah.

" Your Majesty, aku hanya meneliti keadaan diluar desa. " jawabku. " Ini yang kutemukan. ". Aku memberikan kelopak bunga pada tuan Akashi.

" Ini ... " Akashi menatapku kembali. " Aku akan kembali ke tenda. Kau jangan pergi terlalu jauh. " titahnya. Aku mengangguk. Setelah melihatnya pergi. Aku hanya diam. Menunggu waktu yang tepat.

Aku segera pergi. Berlari menuju dalamnya hutan. Kuambil peluit. Lalu kutiup. Ini untuk memanggil kudaku. Setengah menit berlari, kudaku sudah berlari mengejarku. Dengan tangkas, aku melompat menaiki Nero.

" Bagus, Nero. Cepat. Ikuti bau ini. " aku memberi tanganku didepan hidungnya. Dia berlari dengan begitu cepat, tanda bahwa dia mengerti.

Sementara itu, Rose dan Rey.

" Are, tadi itu bunyi peluit ... Ketua kan? " kata Rose.

" Rose, Rose. Masa' kau tidak bisa membedakan ciri khas bunyi peluit ketua ? " sindir Rey. Rose langsung menimpuknya. " Yang tadi itu ... tentu saja bunyi peluit ... ke-...tua ... ? Hah ! " seru Rey. Mereka segera pergi untuk melapor pada Reo yang tak jauh dari mereka.

Derap kuda ku semakin lambat. Sepertinya hampir sampai. Ini bukan berarti, Nero lemah. Nero tahu tempatnya. Dia partnerku. Dia sepertiku, secepat kilatan rapierku. Dan selambat target yang telah kukenai.

Aku turun dari Nero. Lalu mengusap kepalanya.

" Bagus, Nero. Tunggu disini. Jika ada apa – apa, sembunyi. Tetaplah waspada, aku akan pergi dulu. " kataku. Sembari meninggalka dia. Aku meneliti lingkungan sekitarku. Disini lebih buruk. Bahkan tanamannya berubah menjadi abu sewaktu ku raba sebentar.

" Parah ... " kata Akashi. Aku tersentak. Bagaimana ? seharusnya dibelakangku tidak ada orang. Akashi melirik ku. " Kan sudah kubilang untuk tidak pergi terlalu jauh. "

" Maaf. " balasku.

" Tak apa, kali ini kulepaskan. Karena kita menemukan inti masalahnya. " kata Akashi.

" Eh ? ". Akashi menunjuk sebuah danau beku, dengan daratan yang terletak ditengah – tengah nya.

" Itu ... "

" Iya, begitu kita cabut akarnya. Wabah ini akan berhenti menular. Tapi, itu artinya kita mendekati kematian. " kata Akashi.

" Biar aku saja. " aku melangkah maju. Namun dihentikan oleh Akashi.

" Kan sudah kubilang, aku tidak mau kehilangan komandan lagi. " kata nya.

" Lalu, kalau tidak dihentikan. Wabah ini akan- " Akashi menyelaku.

" Bisa. " Akashi mengambil sebilah busur dan panah. Diarahkan targetnya akar tersebut. Liukan akar dan gerakannya yang gesit susah untuk ditarget. Akar wabah.

Begitu panah dilepaskan. Panah melesat dengan cepat. Menembus tepat di inti akar tersebut. Liukan dan gerakannya berhenti. Wabah berhenti.

" Selesai. " kata Akashi. " sekarang tinggal memberi bantuan pada warga – warga. " katanya. Akashi segera menaiki kuda. " Kau juga kembalilah. ". Aku mengangguk.

Melihat punggung Akashi yang berjalan pergi. Aku berpikir, apa kau juga bisa memusnahkan akar wabah yang menyelimutiku ?

.

.

.

That's way ...

I owe you one, My Majesty.


Aku rindu sinar mentari ini. Begitu kubuka jendela kamarku. Tercium samar- samar harumnya pagi. Maaf, salah. Seharusnya begitu. Tapi entah kenapa tercium bau sedap coklat. Seseorang mengetuk pintu kamarku. Begitu kubuka, telah berdiri Rose dengan membawa secangkir minuman.

" Pagi, Ketua. Ehe, pagi – pagi begini enaknya minum coklat panas kan? " Rose masuk lalu meletakan minuman tersebut di meja.

" Lagi? Bukan nya kemarin malam sudah minum beberapa gelas coklat? " tukasku. Rose berdehem sebentar.

" Ketua, pemberian adalah rezki lho. Tidak boleh disia – siakan. Apalagi ini coklat terenak. " balasnya.

Yup, seminggu setelah penyelesaian wabah di desa Ordea dan Morde, mereka mengirim coklat dalam jumlah banyak kepada kami. Sekarang wilayah ku, dilanda wabah coklat.

Aku meneguk coklat panas itu. Manis. Pahit. Hangat. Begitu melegakan. Aku pernah membaca sebuah buku, bahwa coklat itu seperti rasa cinta. Puih, yang benar saja. Ini biasa saja, nikmat.

" Oh iya, laporan dari pasukan yang Ketua kirim ke Barat Daya telah sampai. Ketua diminta untuk memberi perintah selanjutnya dan secepatnya. " kara Rose sebelum dia menutup pintu kamarku.

" Taruh saja di meja, sebentar lagi aku kesana. " balasku.


Skip time -

" Um ? rasanya ada yang aneh ... " kataku.

" Apa ? " serentak Rose dan Rey.

" Kenapa bandit – bandit yang seharusnya berada di sekitar Barat daya pulau ada yang tertangkap di perbatasan utara kota Allego ? " kataku.

" entah, ya. Ini laporan dari pasukan disana. " kata Rose dengan nada feminim. Rey mengerutkan alisnya pada Rose. Rose yang tahu hal itu menunjukan senyum kemenangan. Aku tahu, Rose tidak suka sifat ke-polite-an Rey.

" Rumit ... persedian disana cukup, pasukan sama sekali tidak ada yang terluka, beberapa tabib sudah sampai disana untuk waspada pada tiap detik bahaya. Tapi, bandit yang ditangkap mencapai perbatasan sebuah kota adalah fatal. Aku belum memikirkan rencana terbaiknya. " keluhku. Rose dan Rey saling bertatapan.

" Bagaimana kalau anda mengirim salah satu dari kami ke Kota Allego untuk memimpin pengintaian ? lebih efektif, dengan begitu akan kami lapor info yang berhasil kami dapat. " kata Rey dengan nada polite-nya. Rose menggembungkan pipinya.

" Setuju. Salah satu dari kalian bisa bersiap – siap. Lalu lapor kepadaku. Sebelumnya aku akan melapor pada Komandan Reo. " balasku. Rey tersenyum kemenangan, Rose mengalihkan pandangannya.

Aku melangkah keluar ruangan. Terdengar suara diskusi Rose dan Rey. Aku tahu, mereka bisa diandalkan.

Mereka berkata dengan lantang." Gunting ... Batu .. Kertas ! ". Aku ber-sweatdrop. Maaf, kutarik kembali kata – kataku. Mereka orang yang paling humor di divisiku.

Koridor terlihat sepi. Di beberapa pintu – pintu yang kulewati. Ada satu pintu yang besar dan terbuka lebar. Itu ruangan Komandan Reo. Aku masuk dan mendapati Reo tengah minum sesuatu lalu seorang pemuda bersurai merah yang juga ikut meneguk minuman tersebut.

" Pagi, Komandan dan Yang Mulia. " sapaku.

" Oh, pagi E-chan. " balas Reo dengan senyum yang mengembang. E-chan ? tidak masalah bagiku. " Ada apa ? " tanya nya. Yang Mulia, Akashi hanya duduk meneguk minuman.

" ingin melapor, Komandan. " balasku. Aku memberikan kertas laporan pada Reo. Reo termangut – mangut begitu membaca laporan. Mendadak, kertas di ambil oleh Akashi.

" Ah, Yang Mulia. " tegur si Reo. Tapi, Akashi tetap membaca dengan serius.

" tindakan yang kau ambil apa ? " tanya Akashi.

" Aku mengambil tindakan berdasarkan pendapat pasukan elitku. Mengirim salah satu dari pasukan elit-ku untuk mengintai di kota Allego. " jawabku.

" Begitu, bukan tindakan yang bagus. Tapi, juga bukan tindakan yang buruk. " tukasnya. Seperti biasa, dia berkata hal yang menyebalkan.

" Jika mereka telah mendapat infonya. Aku, secara pribadi akan memimpin langsung pemberantasan. Diperkirakan Kota Allego adalah markas besar para bandit. " tambahku.

" Begitu, bukan perkiraan yang bagus. Tapi, juga bukan perkiraan yang buruk. " tukasnya lagi. Sudahlah, aku capek mengurusi tiap kalimatnya.

" Lalu .. " lanjutku. " Bagaimana dengan Yang Mulia. Tindakan apa yang akan diambil Yang Mulia ? Sehingga, saya bisa mempertimbangkan kembali tindakan saya. " cetusku. Butuh waktu untuk mencari sesuatu sejenis sespesies sekindom dan sebodoh – bodohnya barang bernama Trump Card.

Akashi berdehem. " aku setuju dengan tindakanmu yang pertama. Mengirim utusan untuk melakukan pengintaian. Untuk tindakanmu yang kedua, aku tidak mau kehilangan komandan ketiga ku lagi. Maka, aku dan Reo akan ikut. " jawabnya.

Astaga, ini bukan Trump Card lagi. Ini Trap Card. Andai aku tidak mengatakan akan memimpin langsung pemberantasan. Tidak akan terjadi hal seperti ini. Apa yang terjadi ?

Aku sedang menaiki kudaku, Nero. Dengan Reo dan Akashi dibelakangku. Lalu, Rey yang tak jauh di depanku. Bicara soal Rose, dia ngambek. Kalah suit. Hening dan jenuh sekali disini.

" Setelah jalan setapak ini, kita akan sampai di perkemahan utama. " kata Rey yang mengawali pembicaraan sekaligus mengakhirinya.

Kuda berjalan begitu lama. Lama – lama aku dapat melihat ujung tenda,

Begitu turun dari kuda. Salah satu pasukanku mendatangiku.

" Ketua, terima kasih telah datang. " katanya.

" Langsung saja ke intinya. " tukasku. Dia mengangguk.

" Kami telah mengirim beberapa utusan untuk melakukan pengintaian. Tapi, info masih belum ditemukan. Kota luas dan ramai, tidak ada tanda – tanda bandit disana. " kata nya. Aku, Akashi dan Reo melihat baik – baik peta kota beserta letak – letak utusan yang mengintai. Bicara tentang Rey, dia tengah menjaga kuda kami.

" Kenapa bagian selatan kota tidak ada utusan ? " tanya ku.

" sudah. tapi, kata utusan yang kami utus mengatakan bahwa disana tidak akan ada bandit. Bagian selatan kota adalah bagian terbawah kota. Maksudnya, sisi jelek kota. Yang ada hanyalah orang miskin, gelandangan, dll. " jawab nya.

" Aku, Reo dan Estheria akan mengintai disana. Kau bisa fokus pada pekerjaanmu. " kata Akashi secara tiba – tiba..

" Ba-baik, Yang Mulia. " dia membungkuk lalu pergi.


Gerbang kota begitu tinggi. Dengan patung penjaga di kedua sisinya. Jeruji nya memberi kesan tegas. Kokoh dan tegap. Seperti baru dibangun. Walaupun gerbang kerajaan lebih besar dan ... yeah, kau tahu lah. Banyak pernak – pernik patung disisinya.

Berbeda dengan keadaan kerajaan Rakuzan. Dimana tiap sudut selalu ada patung. Jalan – jalan nya sangat tertata rapi dengan hiasan bunga di sisinya. Lampu – lampu berkesan asian retro tak kalah juga. Toko – toko dan perumahan dibedakan. Sehingga alur lalu lintas tidak bertabrakan. Sedangkan kota Allego ... berbeda jauh. Tiap sudut adalah poster baik berupa kritikan, ajakan, dan lainnya. Jalan kotor, becek, dan berlumpur. Bunga ? ini sih lebih mirip kulit pisang yang diinjak habis – habisan. Lampu nya biasa terkadang mati terkadang hidup mendadak. Toko dan perumahan tercampur habis.

Kami (Aku, Reo dan Akashi) berjalan mengitari kota. Begitu melihat pantulan diriku di salah satu kaca. Aku bisa melihat diriku seutuhnya. Rambut hitam, panjang, memakai jubah. Sama seperti dulu. Apakah waktu dalam diriku telah berhenti ? yeah, setidaknya aku mengikat rambutku kesamping.

" Um? E-chan, ada apa? " tanya Reo begitu menoleh kebelakang. Membuyarkan lamunanku.

" Tidak ada. Maaf, ayo lanjutkan. " jawabku. Reo mengangguk lalu berjalan lagi, Akashi menatapku sekilas. Aku cuek saja, sudah biasa itu alasanku saat ini.

Kota Allego bagian selatan. Kesanku pertama, lebih buruk dari yang kupikirkan.

" Parah. " gumam Reo. Setuju sekali. Belum lagi, kami disambut dengan bau yang entah kenapa aku ingin lari.

Itu hanya disambut saja. Ada pertunjukan didepan kami. Baru setengah jalan. Sudah ada sebuah kejadian.

PRANG. Sebuab kaca pecah. Keluar seorang pemuda yang memakai rompi dan penutup wajah. Dia membawa sesuatu yang dibungkus.

" Tunggu ! pencuri ! " seru seorang bapak – bapak yang keluar dari arah rumah pemilik kaca pecah itu. Aku segera berlari mendahului yang lain. Diikuti Reo dan ... Akashi tidak. Dia hanya menatapku sembari memalingkan wajah begitu saja.

" Sudah kubilang, aku tidak ingin kehilangan komandan ketiga lagi .. ." gumamnya dengan suara lirih.

.

Kembali ke topik diriku.

Aku mengejar dengan kecepatan penuh. Reo berlari mengejarku dengan antusias. Bisa kulihat pemuda itu mulai kehilangan tenaga nya. Larinya tidak secepat tadi. Dia mengambil jalan pintas dengan berbelok di sebuah gang kecil. Aku ikut berbelok juga. Lucky, jalan buntu. Kali ini dia tidak bisa lari dari

Dia melompat dari dinding kiri-kanan. Lalu memotong sebuah tali yang menyangga diatas. Setelah itu, dia melompat hilang dari pandanganku. Dan ... sebuah beton batu, tiang – tiang penyangga berada tepat di atasku. Siap menindihku hingga diriku hancur. Sekilas Reo berteriak padaku. Kakiku tidak bisa bergerak.

Tidak, bukan saatnya panik. Aku bisa menghindari semua runtuhan itu. Aku mengeluarkan rapier dari dalam sarungnya . lalu, Aku melompat mengikuti gerak pemuda tadi. Lompat dari dinding kiri ke kanan dan sebaliknya. Tiang – tiang besi penyangga yang berkarat dengan mudah kuhindari, beberapa kupotong dengan rapierku. Terakhir adalah beton besi, cukup besar. Kupercepat lompatanku. Kuraba sebuah ujung dinding sebagai penahan. Untunglah, tidak ada luka. Reo mendapati diriku bergelantungan diantara penyangga yang bertahan disana.

" Komandan, kita kehilangan jejaknya. " gumamku seolah tidak terjadi apa – apa. seolah hal ini sudah biasa. Seolah, aku tidak takut mati.

Reo terdiam sejenak. Lalu tersenyum kecil.

" Kita akan lepaskan pencuri tersebut. Kau terluka ? " tanya Reo.

Aku mengecek sebentar diriku. " Tidak ada. " jawabku.

" Kalau begitu turunlah, kita harus segera melapor pada Yang Mulia. " kata Reo. Kedua tangannya dibuka lebar – lebar padaku.

" Untuk apa ? " tanyaku sembari menunjuk kedua tangan Reo.

" Jatuhlah,aku akan menangkapmu. " kata Reo.

Lompat dari satu dinding ke dinding lain. Dan jatuh tepat disebelah Reo. " Nggak usah, nanti merepotkan. " gumamku. Reo tersenyum kecil.

Di pertigaan, Akashi tengah berdiri disana.

" Lama. " kata nya.

" Maaf. Kami tidak berhasil menangkapnya. Dan malah terjebak dalam perangkapnya." Kata Reo. Akashi melirikku. Lalu dia menghela napas.

" Kita akan mencari penginapan, Reo pimpin jalan. Kau yang memutuskan kita akan menginap dimana. " titahnya. Reo segera berjalan memimpin kami.

Aku hanya diam melihat lingkungan sekitar. Tidak ada tanda – tanda bandit. Suasananya juga dingin, lembab, dan sepi. Seperti tidak ada kehidupan.

Sejenak Akashi melirikku lagi.

" ada apa ? " tanyaku membalas tatapannya.

" ... hanya ingin mengatakan sesuatu. Jangan bertindak gegabah. " kata Akashi. Kesal, seharusnya aku tidak bertanya seperti itu. Dia tahu apa ?

Reo memberiku kunci kamar.

" Ini kunci kamarmu. Kita bersebelahan. Jadi kalau ada apa – apa, kau bisa mengatakan pada kami. " kata Reo. Aku mengangguk. Kulihat kunci tua itu. Kamar nomor enam. Huh?

Kukunci kamarku. Kurebahkan diriku. Sungguh kasur yang nyaman dan hangat. Mungkin aku akan menghabiskan waktuku untuk tidur pulas. Cukup pulas setelah semua kejadian akhir – akhir ini.

Tok Tok. Pintu kamarku diketuk. Tidak juga, aku membuka mataku dengan malas. Kubuka pintu tersebut. Akashi membawa roti dan segelas susu.

" Makanlah, dari tadi kamu belum makan, bukan ? " gumamnya. Aku mengangguk.

" Terima kasih, Yang Mulia. " balasku.

" Akashi saja, tidak apa. " katanya. Cukup asing bagiku untuk memanggil langsung namanya. Ya, sudahlah. Masalah kecil. Aku menaruh nampan dengan makanan diatasnya tersebut di meja. Begitu berbalik, dia sudah tidak ada. Maklum, ngapain berdiri di depan kamarku. Aku menutup pintu kamarku. Makanan kubiarkan begitu saja. Belum lima menit aku duduk di kursi. Pintu di ketuk kembali. Dengan jalan gontai, aku membuka pintu tersebut.

Reo.

" E-chan, ini laporan yang baru saja sampai. " kata Reo sembari memberiku gulungan kertas. Aku mengangguk.

" Terima kasih, komandan. " balasku. Reo tersenyum kecil sebelum dia pergi.

Sekali lagi, kututup pintu kamarku. Dengan enggannya aku membuka gulungan tersebut.

Hasil laporan dari pusat base :

Kota Allego bagian barat, Tidak ada.

Kota Allego bagian Timur, Tidak ada.

Kota Allego bagian utara, Tidak ada.

Kota Allego bagian Selatan. Unknown.

Sebanyak lima belas pasukan sudah diutus untuk mengintai. Tapi sampai saat ini tidak ada info.

Harap mengambil tindakan selanjutnya.

-Rey

Aku menghela napas dengan berat. Kugulung kembali kertas tersebut. Lalu kutaruh di meja dekat nampan makananku yang sudah dingin. Aku melihat bulan dari dalam jendela. Malam. Begitu melihat jam, jam telah menunjukan pukul sepuluh malam.

" Yosh. " gumamku. Aku memakai sepatu boot tinggiku yang biasa kupakai. Tidak lupa kusisingkan dua rapierku. Untuk berjaga – jaga, aku memakai jubah. Sebelumnya kuikat rambutku agar tidak mengangguku. Kubuka jendela kamar, memperhatikan suasana terlebih dahulu. Sepi dan dingin. Cocok, untuk melakukannya sekarang. Penyamaran dan Pengintaian tidak akan susah. Aku keluar dari kamar melalui jendela. Kututup dulu jendelaku. Lalu melompat dari dinding satu ke dinding lain. Begitu sampai di tanah. Aku berlari menuju gang kecil. Mengintai daerah sekitar. Tidak ada yang aneh, hanya ... aku memiliki resiko tinggi. Apa yang akan dikatakan anak buah, komandan, dan Yang Mulia Akashi jika mendapatiku mati konyol disini? Huh, bahkan ini juga pertanyaan konyol. Sekonyol apapun itu, aku harus mencoba dahulu. Mungkin aku bisa mendapat info tinggi disini.

Melewati pertigaan kecil, berbelok ke arah kanan. Lalu, mendadak berhenti. Apa yang kulihat? Tidak, sebenarnya aku berhenti karena apa yang kudengar. Sebuah suara mengatakan, " Kau sedang apa? " suara yang kukenal. Bernada tinggi dan berat layaknya memiliki beban berat sepanjang hidupnya. Aku menoleh ke belakang. Pemuda bersurai merah tengah berdiri di belakangku sambil mengapitkan tangannya.

" Yang Mulia ... " gumamku lirih. Bagaimana bisa? Oh, pasti bisa. Karena ini bukan kali pertamanya dia mengikutiku.

" Aku tanya lagi, kau sedang apa ? " tanya Akashi. Aku terdiam sejenak.

" Melakukan pengintaian. " jawabku. Disini aku sedikit gambling, dan main jujur.

Ho, selarut begini ?" tanya nya lagi. Aku mengangguk. "Apa yang membuatmu melakukan tindakan ini ? laporan gulungan kertas itukah?". Aku mengangguk. Akashi menghela napas. " apa kau masih ingat yang pernah kunyatakan padamu? ". Aku ... mengangguk. " Apa ? " tanya nya.

" aku tidak ingin kehilangan komandan ketiga ku lagi .. " kataku. Akashi mengangguk.

" Lalu tindakanmu ini jelas – jelas menentangku. Apa aku benar ? " tanya Akashi. Aku mengangguk.

" Tapi, walau beresiko berat. Setidaknya bisa menda " mulutku langsung dibungkam Akashi. Akashi menarikku lalu menundukan diriku dibalik dinding.

" Ssst... " katanya. Sejenak aku terlihat shock. Tanganku sudah merinding memegang rapier. Layaknya siap menerkam mangsa. Tapi, kujauhkan pikiran itu. Terdengar suara seseorang.

" Oi, pengiriman sudah siap. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya ? " tanya nya. Yang satu menjawab, " Kita tunggu perintah bos dulu. ". Bos? Bos bandit kah?

" Oiya, katanya kereta yang membawa pengiriman akan terlambat sejam lagi. Kenapa? " tanya pemuda tersebut. Yang satu menjawab lagi, " jalur barat diambil alih oleh pasukan dari kerajaan Rakuzan. Mereka ingin menangkap kita, para bandit. Oleh karena itu, kita akan mengambil jalur lawannya. Jalur Timur gerbang. ". Dengan ini, kita mendapat info terpusat. Belum kami sempat berpikir begitu. Pemuda tersebut bertanya lagi, " Apa bos juga ikut? ". Yang satu menjawab, "Tentu saja. Kau tahu, kan? Bos tidak mau tinggal di tempat yang tidak aman lagi. ". Sekali tembak, tiga burung terkena. Pertama, hasil rampasan. Kedua, para bandit. Ketiga, si bos.

Mereka, para bandit berlalu begitu saja. Akashi melepaskan tangannya yang membungkam mulutku. Aku segera berdiri.

" Kita dapat info tanpa harus berkeliling kota. " kataku dengan nada sinis. Akashi mengalihkan pandangan nya dariku. Kami berdua kembali ke penginapan. Dan tepat di depan sana, kami berdua diomeli Reo. Lalu melaporkan yang sebenarnya.


.

.

Sejam kemudian, Reo pergi menghubungi pusat base. Aku dan Akashi berjaga – jaga di sekitar gerbang timur. Sesuai kata – kata para bandit, disana sudah siap kereta pengangkut. Jumlahnya tidak lebih dari tujuh. Selang beberapa menit, pasukan utama datang berjaga diatas pohon. Pasukan yang dipimpin Rey berada di akhir jalan Timur. Pasukan pertahanan oleh Reo ditaruh di sekitar hutan luar. Sebagain pertahanan terakhir agar dapat menangkap sisa bandit. Dengan ini kami punya tiga pertahanan.

" Siap siaga semua ! " seru Reo memberi komando. Aku diberi tugas menjaga yang mulia, Akashi.

Hening sejenak. Tidak ada sepatah kata pun.

" Dengan begini, pemberantasan bandit pasti sukses. " gumamku. Akashi hanya diam melihat proses pemberantasan berlangsung.

Pertama kereta bandit telah keluar kota. Spontan, pasukan utama kami menghadang mereka. Terjadi perlawanan sengit, untunglah tidak ada yang terluka. Tapi, sang bos bandit tidak muncul – muncul juga. Pasukan yang dipimpin Rey ikut melawan dan memberantas. Semua sisa – sisa bandit ditangkap pasukan Reo. Hingga kereta terakhir, tidak ada tanda – tanda bos bandit.

" Kenapa bos mereka tidak muncul ? " tanya Rey sambil mengulas keringat yang membasahi wajahnya. Reo menggeleng kepala. " apa jangan – jangan, bos mereka keluar setelah kereta bandit berangkat ? " tanya Rey. Reo menggeleng kepala lagi. Lalu menatap kami berdua diatas bukit.

" Yang Mulia, ada yang salah. " gumamku lirih.

" Aku tahu. " balasnya. " Jangan bersembunyi dibalik semak – semak. Aku telah mengetahui keberadaanmu ! " serunya lagi. Aku menoleh kebelakang. Sosok pemuda berkulit hitam, rambut biru tua. Memakai rompi hitam. Dan dua buah dagger di kedua tangan nya. Aku segera mengambil rapierku.

" Ck, ketemu disini. " gumamku.

" Yo, raja. Dan ... " dia melirikku. " penjaganya. ": katanya. Cukup, ini membuatku kesal. Penjaga? Maaf saja, aku tidak serendah itu.

" Apa yang kau ingin kan? " tanya Akashi.

" apa ya~ uang? Wanita? Apa ya~ aku tidak tahu ... rival mungkin .. " gumamnya dengan nada malas. Pemuda berkulit tan itu berjalan ke arah Akashi dengan langkah gontai. Aku segera berdiri di depan Akashi dengan mengusungkan rapierku. Pemuda itu berhenti sejenak memandangku. Dia menunjukan senyum sinisnya. Tuhan, aku berharap ada tusukan mendadak dari belakangnya yang menembus hingga darah pemuda itu mengenai wajahku. " Ck, minggir. Sebelum aku berubah pikiran ... " katanya. What a jerk, aku bukan wanita murahan yang bisa dimintai untuk pindah begitu saja. Selang beberapa menit, dan aku belum juga pindah tempat. Pemuda itu menghela napas. " mau bagaimana lagi .. " gumamnya. Begitu dia mengucapkan kalimat tersebut, begitu aku mencerna gumamnya. Pemuda itu melesat secepat kilat menghantam diriku dengan kakinya. Fortunately, aku berhasil menahan hantamannya dengan pedangku. Yeah, walaupun rasa sakit saat jatuh itu tidak enak. Setidaknya, tulangku tidak retak.

Aku tersungkur di tanah. Pedangku tersungkur cukup jauh dariku. Sejenak aku batuk. Begitu melihat sekitar, Akashi berada di belakangku. Dia menggenggam kedua lenganku. Dan membantuku berdiri.

" Kakimu terluka, Estheria. " katanya.

" Tidak apa. " balasku. Pemuda itu mendatangi kami.

" Well, well. Apa yang kutemukan? Seorang raja membantu penjaganya berdiri? Itu tidak lucu, yang lucu dan akan menjadi berita menarik. Adalah ... seorang raja menusuk penjaganya sendiri lalu bunuh diri. " kata pemuda itu. Mulutnya itu ... ingin sekali kubungkam dengan rantai ukuran gajah. Belum lama ketika aku akan menginjakkan kakiku untuk menyerang balik si pemuda itu, suara pistol ditembakkan dari belakang. Kami menoleh, itu tanda para bandit untuk mundur. Pemuda itu menghela napas. " Apa boleh buat, aku permisi dulu ... Yang Mulia. " katanya sembari membungkukkan badan. Lalu dia melirikku. " Namaku Aomine Daiki. Aku sedikit kecewa mendapati penjaga si raja adalah cewek yang bahkan tidak ada kemolekannya sama sekali. " katanya. Tiga perempatan mendarat di wajahku. Pemuda yang ngakunya bernama Aomine segera melesat semak belukar, dan hilang.

Aku menghela napas. Menandakan kelegaan, tapi dengan kondisi ku saat ini. Apakah bisa disebut kelegaan?

" Kalian baik – baik saja ? " kata Reo. Beberapa pasukannya membawakan kami sejenis kotak kayu berisikan obat. Aku mengangguk. Akashi segera mengambil perban dan membalut luka di kakiku. Semua terdiam. Entah itu pemandangan langka, atau apalah. Intinya, Akashi membalut lukaku. Dia raja dan aku hanya ... gadis.

Usai membalut. Aku mengucapkan terima kasih pada Akashi. Lalu kembali fokus pada misi.

" Kita berhasil menangkap beberapa bandit. Sayang, kita tidak mendapat ketuanya. " kata Rey. Kertas laporan diberikan padaku. Aku membaca isi laporan. Cukup singkat, intinya mencakup jumlah bandit, barang bandit, nama, dan .. sandera?

" Selain itu, kita berhasil menolong seorang korban bandit. Sandera. " kata Reo. " Sanderanya seorang gadis, dia mengaku dicuri oleh para bandit. Entah apa tujuannya. Tapi, dia ingat baru kemarin dia dicuri. Sehingga, tidak mengetahui motif dibaliknya. " tambahnya lagi.

" Dimana dia sekarang? " tanyaku to the point.

" Sekarang kami amankan dia di tenda utara beserta penjaga ketat. " jawab Reo.

Aku segera pergi ke arah tenda yang dituju Reo. Mungkin aku bisa mendapat info lanjut selain yang dikatakan Reo. Aku wanita, dia juga wanita. Pembicaraan kami pasti menyambung dan nyaman. Karena aku wanita.

Begitu kubuka tenda. Aku bisa melihat helain rambut gadis itu yang panjang. Berambut merah muda, panjang. Dia memakai baju layaknya rakyat biasa. Dan dia melirikku.

" Permisi, saya Komandan ketiga Battle-Front. " sapaku. Dia menatapku dengan mata keraguan. " Tidak apa. aku datang hanya untuk berbicara. " gumamku. " Siapa namamu ? " tanyaku.

" Mo ... Momoi Satsuki ... Nona .. " jawabnya dengan lirih.

" Panggil saja namaku, Etria. " kataku. Aku duduk tepat didepannya. " Lalu, Momoi-san. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan. " kataku lagi. Maka, mulailah aku mengintrogasi. " Bisakah kau jelaskan padaku tentang kejadian kau disandera ? "

" Aku .. tidak begitu ingat. Tapi, satu hal yang kuingat. Aku ... ingat, ada seorang pemuda kekar yang mengatakan sesuatu padaku. 'tak lama lagi, kau akan –'. Kata selanjutnya aku tidak ingat. Tapi, aku yakin kata terakhirnya pasti Mati. Karena aku disandera. Hingga sekarang. " kata Momoi sambil mengalihkan wajah. Aku mengangguk. Begitu, tinggal satu pertanyaan lagi. Maka—

SREK. Tenda dibuka paksa. Robekan tenda bertebaran begitu saja. Aku menatap seorang pemuda kekar dengan mata terbelalak. Aomine !

" Jadi disini, sekali mencoba langsung ketemu. Hari ini aku hoki sekali." Kata Aomine dengan nada sinis. Belum sempat aku berdiri, Aomine segera melesat mengambil sandera. Dan beberapa bandit menangkapku. Kulihat diluar, tiga penjaga yang menjaga tergeletak di tanah. Aku berdecak kesal, andai aku membawa senjataku. Andai kakiku tidak terluka. Sudah kubuat babak belur dia. Nyatanya, diriku lah yang tak berdaya.


TBC

.

.

terima kasih atas saran dan kritik untuk chap.1 ..^^

nah, sekarang. Author butuh review/saran/dankritik lagi untuk chap.2 ^^v

mohon bantuannya *lagi* Minna-san~