"I'm Sorry For Loving Him [Chapter 2]"
Author : loovyjojong
Genre : Romance
Rating : T
Cast : KrisBaek | KrisTao
Oppa apa kau masih mengingatku?
Aku merindukanmu oppa..
Maaf aku lancang mencintaimu
Maafkan aku
Baekhyun POV
Dengan langkah pelan kutelusuri jalan menuju rumahku. Dengan pandangan kosong yang menatap lurus ke depan. Tubuhku seperti kehilangan jiwanya. Pandanganku mulai tak jelas karena selaput bening mulai menutupinya. Sekuat tenaga kutahan agar selaput bening itu tak jatuh membasahi pipiku.
Saat sampai di rumah appa sudah menunggu dan membukakan pintu untukku.
"Kris sudah pulang?" Tanya appa sambil mengikutiku ke dalam rumah.
"Sudah, appa." Sahutku tanpa menoleh, takut appa melihat mataku yang hampir mengeluarkan kristal beningnya.
"Ya sudah, tidurlah ini sudah malam."
"Ne, appa." Sahutku singkat kemudian menutup pintu kamar.
Seketika tangisku pecah. Aku menahan isakan karena tak ingin mengganggu seisi rumah dengan tangisanku. Perlahan kunaiki ranjang dan kurebahkan tubuhku. Masih dengan menangis kuingat lagi kejadian beberapa jam yang lalu.
Aku merasa marah, marah terhadap diriku sendiri yang dengan mudahnya termakan sikap manis Kris yang bahkan hanya menganggapku adiknya.
Aku merasa menyesal, entah apa yang kusesali, mungkin aku menyesali takdirku yang hanya bisa mencintai tanpa memiliki.
Aku merasa sedih, sedih karena mengetahui kenyataan kalau aku sudah kalah bahkan sebelum aku berperang.
Drrrrtt…ddrrrrtt…
'Saeng, kau sudah sampai rumah kan?' Pesan dari Kris. Sedikit rasa senang yang kurasakan mengetahui ia mengkhawatirkanku.
'Ne oppa, aku sudah di kamar. Tidurlah oppa, dan segera beri aku kabar kalau kau sudah sampai di rumah, ne?' Balasku.
'Ne, kau juga istirahatlah, ini sudah malam.'
Tak kubalas lagi pesan darinya. Aku sibuk meredam isakanku yang tak kunjung usai. Setelah satu jam kurasa puas menangisinya secara tak sadar mataku pun tertutup dan mulai memasuki alam mimpi.
Sudah berhari-hari semenjak pertemuan itu. Pertemuan yang membuatku merasakan sesak setiap waktu. Ingin aku berhenti untuk mencintainya namun hatiku menolak. Aku masih bergelut dengan perasaan yang seharusnya membuatku bahagia. Semua terasa sangat tidak adil untukku. Aku ingin dicintai. Bukan hanya mencintai. Harus berapa kali aku menangis agar dia bisa tahu betapa sakitnya aku. Haruskah aku berteriak didepan semua orang agar semua tahu perasaanku. Aku memang pengecut. Aku hanya bisa mengalah bahkan sebelum aku memperjuangkan hatiku sendiri. Ya…aku sudah kalah.
'Oppa, bagaimana acara pertunanganmu?'
Begitulah isi pesan yang kukirim kepada Kris oppa beberapa waktu yang lalu. Baru beberapa hari sejak pertemuan itu, aku sudah merindukannya. Semenjak hari itu juga air mataku seolah tak ingin berhenti mengalir. Aku hanya bisa memasang senyum palsu saat didepan orang tuaku dan berharap mereka tidak melihat bekas air mata di wajahku. Setiap malam aku selalu memasuki kamar dan beralasan ingin tidur lebih cepat hanya karena sudah merasa sesak dan ingin menangisi pria itu. Pria yang sudah mengambil hatiku.
'Semua berjalan dengan lancar'
Hanya itu balasan yang aku dapat. Baru saja pesan darinya masuk ke ponselku. Aku pasti sudah menganggunya. Dia pasti sedang melepas rindu bersama kekasihnya. Ah tidak, bukan kekasihnya lagi melainkan tunangannya. Sesak kembali kurasakan.
Kris. Dia mudah sekali berubah-ubah. Sulit ditebak. Kadang dia sangat manja dan perhatian terhadapku. Kadang juga dia mengabaikanku seolah aku ini orang asing yang tidak penting untuk dia ketahui keadaannya. Namun aku sadar aku ini siapa, aku ini hanya dianggap sebagai adiknya, tidak lebih.
Author POV
Flashback
Suasana malam sangat sunyi. Hanya lantunan lagu sedih yang menemani Baekhyun merenungkan perasaannya. Dia merindukan Kris. Ingin mendengarkan suaranya namun Baekhyun takut untuk memulai. Dengan sedikit memberanikan diri gadis mungil itu mengirimkan pesan singkat. Berharap Kris membalas pesannya.
'Oppa, apa kau sedang sibuk? Aku ingin menelfonmu'
Dengan sedikit berharap-harap cemas Baekhyun memandangi handphonenya. Hanya memandangi dan merenungkan kisah cintanya yang berawal dari hubungan telefon salah sambung. Tak berapa lama benda itu bergetar menandakan ada panggilan masuk. Baekhyun tersenyum mengetahui siapa yang menelfonnya.
"Yeobboseyo" Jawab Baekhyun riang.
"Yeobboseyo, sedang apa saeng?" Suara rendah Kris terdengar.
"Sedang mendengarkan lagu saja oppa, aku bosan. Apakah aku menganggumu?"
"Tentu saja tidak, oppa baru saja selesai kegiatan malam." Jelas Kris.
"Eoh, bagaimana pekerjaan oppa? Lancar kan? Aku penasaran bagaimana keadaan di asrama oppa, pasti sangat berantakan." Ejek Baekhyun sambil menahan tawa.
"Ya! Enak saja kau ini. Kau belum tahu saja keadaan kamar oppa disini. Kau pasti terkejut, bisa saja kan kamar oppa lebih rapi dari kamarmu." Balas Kris tak mau kalah.
"Mana mungkin, oppa? Aku tetap tidak percaya." Baekhyun masih mengejek Kris dengan suara riangnya.
"…"
"Oppa?"
"Oppa? Kau masih disana kan?"
"Yeobboseyo?"
Baekhyun sedikit panik saat tak mendengar suara Kris. Baekhyun kembali melihat layar handphonenya takut hubungan komunikasi mereka tiba-tiba terputus. Namun yang terlihat di bola mata cokelat Baekhyun adalah layar telefon genggam yang masih menunjukkan tanda panggilan Kris kepada Baekhyun.
Terdiam. Hanya itu yang bisa Baekhyun lakukan, menunggu Kris menjawabnya.
"Yeobboseyo?" Suara Kris kembali terdengar.
"Oppa, ada apa? Kenapa tadi menghilang?" Tanya Baekhyun.
"Maaf saeng, sepertinya telefon kali ini kita lanjutkan lain waktu. Baru saja eonnimu mengirimi oppa pesan dan oppa harus menelfonnya. Sepertinya ada dua wanita yang merindukan suara oppa malam ini." Pria itu terkekeh sendiri karena kepercayaan dirinya.
"Percaya diri sekali kau oppa, ya sudah kalau begitu. Salam untuk eonni. Selamat malam."
Tanpa menuggu jawaban dari Kris, Baekhyun langsung menutup telefonnya dengan kesal. Tidak tahu lagi harus bagaimana. Hanya langit-langit kamar yang bisa ia pandangi. Kecewa dan cemburu, namun ia bisa apa? Tak pantas jika Baekhyun tiba-tiba meluapkan amarahnya. Bersyukur dia masih menyadari statusnya.
Flashback Off
Baekhyun's house
'Ya! Kau masih sedih?'
Pesan baru saja masuk ke handphone Baekhyun. Dari Kyungsoo, sahabatnya sejak dua tahun lalu yang sudah mengetahui kisah Baekhyun.
'Aku tidak tahu Kyungsoo-ya. Baru saja aku mengiriminya pesan tapi dia membalas dengan sangat singkat. Aku pasti sudah menganggunya.' Balas Baekhyun sambil menatap kosong layar televisi di depannya.
'Benarkah? Kapan dia akan kembali bertugas?' Balas gadis bermata bulat itu.
'Aku tidak tahu Soo-ya, bahkan dia tidak menanyai kabarku. Kau tahu sendiri kan saat dia bersama kekasihnya aku akan dilupakan.' Baekhyun memejamkan matanya mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.
'Tenanglah sayang, jangan sedih. Tampilkan senyummu, aku tidak suka kau menangis. Tunggu aku, aku akan datang hari Sabtu nanti. Jemput aku di stasiun jam 10, ne?' Baekhyun tersenyum membaca balasan dari Kyungsoo mengingat mereka tidak tinggal satu kota. Mereka tinggal berbeda provinsi sehingga membuat kedua gadis mungil itu jarang bertemu.
'Baiklah, aku tunggu di stasiun, aku merindukanmu.' Kyungsoo tidak membalas lagi. Baekhyun kembali menatap televisi di depannya dengan tidak minat. Dengan langkah lambat dia memasuki kamarnya karena bulir bening dari mata sipit itu hampir menetes.
Ia menutup pintu kamarnya dengan sedikit terisak takut suara tangisnya terdengar sampai keluar. Mencoba menahan isakan sambil mengingat masa-masa bertemunya dengan Kris dan menangisinya kembali sampai tertidur.
Kris POV
At Naksan Beach
Aku berjalan di tepi pantai, sekedar melepas rindu pada tempat yang memiliki banyak kenangan dalam hidupku. Bagaimana tidak? Kampung halaman tempatku lahir tidak jauh dari pantai ini. Aku tersenyum mengingat masa kecilku yang sering kuhabiskan disini. Sampai aku harus meninggalkannya karena aku yang sudah beranjak dewasa dan bertanggung jawab terhadap profesiku sebagai tentara. Ya, aku meninggalkan semuanya disini. Kenanganku, orang tuaku, dan tentu saja kekasihku. Kekasih yang kukenal saat sekolah menengah atas. Dia seorang adik kelas yang sudah mencuri hatiku jauh sebelum aku mengenal gadis periang yang selalu membuatku rindu akan suaranya, Baekhyun.
Hatiku sedikit perih kala mengingat Baekhyun. Aku pikir aku akan tetap menganggapnya adik seperti saat sebelum bertemu dengannya. Namun aku salah, hatiku bergetar saat melihatnya tersenyum dengan mata yang berbinar di bandara siang itu. Aku masih mengingatnya. Aku masih mengingat saat pertama kali aku bertemu dengan gadis itu.
Lamunanku tentang Baekhyun hilang ketika aku menyadari ada sepasang tangan yang melingkari pinggangku dari belakang. Aku tersenyum dan membalikkan badanku. Tampak Tao yang sedang cemberut.
"Oppa, kau menyebalkan sekali."
"Mwo? Aku ini tampan, bukan menyebalkan. Buktinya kau mau jadi kekasihku." Godaku membuat pipinya bersemu merah.
"Apa yang kau lamunkan, oppa? Dari tadi aku memanggilmu tapi kau terus saja berjalan. Kau memikirkan siapa? Baekhyun?" Oh…ayolah Tao. Aku sedang bersamamu dan kau malah menyebutkan namanya.
"Kau cemburu?" Aku balik bertanya.
"Sudah pasti oppa, siapa yang tidak cemburu jika setiap aku bekerja kau malah menghabiskan waktumu untuk menelfon Baekhyun. Aku merasa prioritasmu sekarang bukan aku tapi dia. Bahkan yang kau temui pertama kali saat kepulanganmu kemarin adalah gadis itu." Omel Tao padaku.
"Hey, jangan begitu, aku hanya menganggapnya adik, tidak lebih. Kekasihku hanya kau, Tao. Tidak ada yang lain, percayalah."
"Sulit mempercayaimu oppa, kita menjalani hubungan jarak jauh. Bukankah sangat kecil kemungkinanmu untuk setia padaku?" Terdengar kesedihan dalam nada bicaranya. Hubungan jarak jauh ini membuat hati dan perasaannya menjadi lebih sensitive, terlebih dengan kehadiran Baekhyun diantara kami.
Kuhentikan langkahku sambil memandangi matahari yang akan terbenam. Kutarik tangannya agar berdiri dihadapanku. Aku memandangi bola matanya dan terlihat jika ia merindukanku.
Kuambil sebuah kotak dalam kantung jaketku. Kubuka kotak itu dan tampaklah sepasang cincin sederhana namun manis. Kupasang cincin yang berukuran kecil di jari manis tangan kirinya. Lalu kugenggam dan kucium tangannya. Aku tersenyum melihat Tao yang menahan air matanya.
"Oppa…"
"Pasangkan cincin itu dijariku." Pintaku dan dengan segera Tao menurutinya.
"Mulai sekarang status kita bukan berpacaran lagi tapi bertunangan. Maafkan aku yang tidak bisa memberikan sebuah pesta yang mewah untuk merayakan pertunangan kita. Ini sebagai ikatan sementara agar kau percaya padaku bahwa hanya kau satu-satunya yang ada dihatiku. Aku akan segera berbicara dengan orang tua kita agar mereka merestui hubungan ini untuk berlanjut ke jenjang pernikahan. Maafkan aku yang tidak pernah ada disampingmu. Aku mencintaimu."
Tao tidak kuasa menahan air matanya dan berhambur memelukku. Kuusap rambutnya agar tangisnya segera reda.
"Aku tidak membutuhkan pesta, gaun, kemewahan atau semua itu, oppa. Ini sudah cukup bagiku. Terima kasih. Aku juga mencintaimu."
Kupeluk lagi sampai Tao tenang. Akupun duduk di tepi pantai berdampingan dengan Tao yang baru saja kurubah statusnya menjadi tunanganku. Kugenggam tangannya dan ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Kami memandangi matahari yang beranjak terbenam di ufuk barat. Kupejamkan mataku, aku bahagia namun ada sedikit kekosongan dalam hatiku.
'Baekhyun, maafkan oppa'
Author POV
Terik matahari menemani Baekhyun menunggu sahabatnya di stasiun. Sudah 10 menit ia menunggu namun kereta yang membawa Kyungsoo ke hadapannya tak juga datang.
Sejujurnya ia tak suka menunggu namun rasa rindu terhadap sahabatnya merelakan Baekhyun mengalahkan egonya.
Suara pemberitahuan bergema di stasiun di sudut kota itu membuat gadis mungil itu menolehkan kepalanya ke arah utara, melihat kereta yang ditumpangi sahabatnya sudah tiba dan memasuki stasiun. Dengan sedikit berlari Baekhyun meghampiri Kyungsoo lalu memeluknya.
"Ya! Kau ini membuatku khawatir tahu. Tidak seharusnya kau menangisi pria itu." Omel Kyungsoo membuat Baekhyun cemberut.
"Soo-ya, kau ini baru datang. Kau tidak merindukanku, eoh? Kenapa malah mengomeliku?"
"Aku juga merindukanmu, babo. Sudahlah, jangan sedih lagi, lebih baik kau temani aku jalan-jalan. Bagaimana?"
"Ne, kajja."
Baekhyun menggandeng Kyungsoo untuk segera keluar dari stasiun dan berjalan-jalan untuk menghilangkan kesedihan Baekhyun yang masih saja memikirkan Kris. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berkeliling melihat pertokoan yang berjajar di kawasan Seoul.
Merasa lelah dan lapar Kyungsoo pun mengajak Baekhyun untuk beristirahat sambil memulihkan tenaga mereka di kafe kecil yang memiliki suasana nyaman.
"Baekhyun-ah, kau mencintainya?" Kyungsoo membuka percakapan sambil menunggu pesanan mereka.
"Aku tidak tahu Soo-ya. Saat aku bertemu dengannya aku merasa senang, aku gugup namun aku juga tidak ingin dia hilang dari pandanganku. Sudah satu minggu sejak pertemuan itu namun aku masih merasakan saat-saat aku melihatnya pergi dari hadapanku. Entah kenapa aku merasakan sesak."
"Itu hal yang wajar menurutku." Kata gadis bermata bulat itu datar.
"Apa maksudmu?" Baekhyun tidak mengerti.
Mereka mengalihkan pandangan kepada pelayan kafe yang membawakan pesanannya. Setelah mengucapkan terima kasih Kyungsoo segera melanjutkan perkataannya.
"Kau seperti ini karena Tao tidak menyukaimu. Kau jadi memiliki rasa bersaing dengannya. Secara tidak sadar kau dan dia berkompetisi untuk menunjukkan siapa yang lebih baik di mata Kris oppa. Secara tidak sadar pula kau memiliki rasa ingin merebut Kris oppa dari kekasihnya itu." Jelas Kyungsoo sambil menggulung pasta dengan garpunya.
"Tapi aku tidak bermaksud merebutnya apalagi menghancurkan hubungan mereka. Kau tahu kan aku bukan orang seperti itu?" Jawab Baekhyun meyakinkan sahabatnya.
"Aku tahu Baekki, aku sangat tahu seperti apa dirimu. Hanya saja aku merasa ini sifat alami seorang wanita yang muncul untuk memperjuangkan hatinya. Lain halnya jika Tao menyambutmu dengan baik, kau pasti tidak akan tega menyakitinya dengan mengukir nama Kris di dalam hatimu."
Baekhyun merenung mendengar ucapan Kyungsoo yang ia akui kebenarannya. Namun masih ada keraguan untuknya meyakini kebenaran itu. Ia tidak pernah ingin menyakiti perasaan siapapun. Semua terjadi dengan sendirinya. Termasuk perasaan cintanya terhadap pria jangkung itu.
"Ya! Jangan melamun, cepat habiskan makananmu dan antar aku kembali ke stasiun." Lanjut Kyungsoo.
Flashback on
Sudah satu jam Kris menelfon Baekhyun padahal Baekhyun mulai protes karena mengantuk dan pria itu masih tidak ingin memutuskan telefonnya. Ia sedang merindukan Baekhyun, atau sedang mecari pelarian?
"Oppa, sampai kapan kau mengangguku, eoh? Aku mengantuk, oppa." Protes Baekhyun dengan suara seraknya.
"Sebentar saeng, oppa masih merindukan suaramu." Goda Kris.
"Ya! Dasar laki-laki suka mengobral gombalan seenaknya." Omel Baekhyun untuk menutupi kegugupannya. Oh…ketahuilah Baekhyun, sudah kodratnya untuk laki-laki yang menggombali wanita.
"Ne? Bukankah kaum wanita suka digombali?"
"Tidak untukku oppa, kau salah besar." Bantah Baekhyun yang sebenarnya sedang tersipu.
"Benarkah? Oppa yakin pipimu sudah memerah sekarang. Akui saja, kau suka kan digombali oleh oppa?" Kris masih saja menggoda wanita yang ia anggap seperti adiknya.
"Ya! Oppa, sudahlah jangan menggodaku terus. Ingat statusmu yang sudah memiliki kekasih. Aku takut eonni salah paham."
"Oppa sudah menjelaskan hubungan kita yang hanya berstatus kakak dan adik, saeng. Jangan khawatir." Jelas Kris.
Ia teringat percakapannya dengan kekasih pandanya beberapa waktu lalu. Saat sang kekasih sulit menghubungi Kris, karena lelaki itu memilih untuk mengabaikan panggilannya dan melanjutkan bercakap-cakap dengan Baekhyun melalui pesan singkat. Pertengkaran pun tak bisa dihindari. Sudah dikatakan kan bahwa Tao memiliki hati yang lebih sensitif semenjak mereka berhubungan jarak jauh? Maka dari itu dengan adanya masalah kecil seperti ini akan terasa besar jika tidak ada yang mau menjelaskan seperti apa permasalahan sebenarnya.
Akhirnya Kris menjelaskan seperti apa statusnya dengan gadis bermata sipit itu. Tao cemburu? Itu sudah jelas. Siapa yang tidak cemburu disaat kalian berhubungan jarak jauh tapi kekasihmu malah memiliki hubungan akrab dengan wanita lain sekalipun itu hanya hubungan kakak adik. Tao jadi meragukan kesetiaan kekasihnya. Namun dengan kata-kata manis pria itu, hatinya kembali luluh dan mempercayai apa yang diucapkan oleh Kris.
"Benarkah? Eonni tidak marah?"
"Dia tidak marah tapi dia cemburu padamu."
"Berarti eonni tidak menyukaiku, oppa. Buktinya dia cemburu padahal kita tidak ada hubungan lebih dari kakak adik." Jelas Baekhyun.
"Tenang saja, oppa sudah menjelaskan padanya kalau oppa ini setia." Jelas Kris membuat Baekhyun patah hati menyadari tidak ada kesempatan untuknya.
Flashback off
Setelah membersihkan diri Baekhyun merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Ia tersenyum mengingat hari ini banyak kegilaan yang terjadi saat ia berjalan-jalan dengan sahabatnya. Ya, sahabatnya yang satu itu memang sangat mengerti dirinya. Baru saja Baekhyun akan memejamkan matanya namun suara nada dering handphone menghentikannya.
Baekhyun mengamati kotak tipis berwarna hitam yang menjadi alat komunikasinya tersebut. Sedikit kaget melihat layar handphonenya. Baru saja ia menerima pesan.
Dari Kris.
TBC
Hai semua…aku balik lagi…
Semoga banyak yang baca dan kasih review ya. karna sebenernya aku sedih, chapter pertama kemarin banyak yang baca tapi pada jadi hantu, gak mau review…padahal review itu penting banget buat author amatiran kayak aku…tapi ya sudahlah, semoga dosa2 para hantu itu diampuni…*uppss
Yang suka sama ffku ini, monggo di review…satu kalimat review kalian sangat berarti buat aku…
Buat yg udah review, terima kasih banyaaaaaaakkk…..aku cinta kalian…
Thanks to :
elisahasiani1004 || elfryeonggu26 || HanDik
