"Eh eh, aku masih pengen ngegebukin Bonnie nih."
"Iya sih, gua juga sama bro."
"Tapi nanti kita ketauan lagi dong ama nii-san yang kemaren..."
"Kalo gitu sih, ya jangan sampe ketahuan lah!"
"Emang bisa?"
"Bisalah! Makanya, hayuk bikin strateginya."
Dia Itu Decepticon yang Nyamar Jadi Bonnie, Kakak!
Ambar Albatros' fanfiction
Five Nights at Freddy's is owned by Scott Cawthon
Transformers Generations is owned by Hasbro. Takara won't have TFGenerations copyright :v (*ditimpuk Takara)
Warning: sebuah fic (paling) ga jelas yang dimiliki oleh Author. Diharapkan tidak membaca fic ini kalau (enggak nanti) punya dendam pribadi dengan Transformers.
Harap ingat ini kisah sebelum insiden pembunuhan 5 anak bego(/hus) itu.
Ditambah, bahasa tak baku bersanding dengan penulisan baku cerpen. Dan bahasa daerah nyempil.
.
.
.
"Tapi ya, tetep aja mirip ama Decepticon, tauk!"
.
.
.
.
Vincent menghela nafasnya pelan. Baru pertama kali bekerja sebagai pegawai restoran, udah disuguhi aksi heroik tujuh anak penggemar robot kartun. Lelah, anak-anak itu memang aneh.
Emangnya ya, robot-robot alien itu nyata? Bisa gak berinteraksi seperti para animatronic kesayangannya? Bisa gak kita peluk? Enggak kan?
Terus kenapa banyak yang suka? Apa yang dirasa?
Terus lagi, itu teh ceritanya tentang perang tak berkesudahan. Kapan coba Megatron-nya mati? Sumpah, bosen banget nungguinnya.
Mana lagi film kartunnya menampilkan sosok tokoh pahlawan segala pahlawan —Optimus Prime— mati coba. Ga ngerti lagi dah ama tuh franchise.
Ah, Vincent saja yang tak tahu kalau Optimus kerjanya mati mulu. Berapa kali mati ya, lima belas mungkin kalau kita ikutkan Transformers Prime.
Iya, TFP teh nyesek. Megatron kan udah tobat, tapi Optimus tetep aja harus mati.
Iya mati. Demi Cybertron.
Tapi kan itu pas ultah Transformers yang ke 30. Sekarang kan masih tahun delapan enam. Masih muda Transformers itu. Baru dua tahun malah.
Lelah sebenarnya. Ini kenapa malah bahas Transformers?
Balik lagi ke abang-abang ungu kita. Sekarang Vincent sedang dilanda dilema. Ia meremas sebuah kertas yang sudah lecek. Sudah lecek, diremas pula. Bisa-bisa hancur tuh kertas.
Bukan itu yang bikin Vincent pusing tujuh keliling. Bukan tentang anak-anak stres itu juga.
Tapi isi surat yang sedang diremas olehnya.
Kertas tersebut ia temukan saat sedang membersihkan Pirate's Cove. Iya, ketika itu Vincent ingin mematikan daya Foxy. Ketika melihat ke kail sang animatronic bajak laut itu, ia menemukan ujung kertas nyembul dari kailnya. Pas ditarik, ternyata ada sepucuk kertas yang diremas asal. Ketika abang ungu ini buka remasannya, ternyata isinya mengecewakan.
Merasa nostlagia memang. Tapi ya isinya itu loh yang bikin Vincent gerah.
Ketujuh anak stres itu tuh membuat kisah romantis malah jadi kisah perang semua. Di Pirate's Cove malah terjadi perang antar kubu. Bonnie yang lucu itu dikira tokoh jahat. Sekarang, celah di kail Foxy justru dipake untuk jadwal ketemuan. Bahasanya militer banget lagi.
Sudah, Vincent sudah tidak kuat untuk membantai ketujuh anak itu.
Sayangnya sih, belum kepikiran mau diapakan anak-anak stres itu. Apalagi tujuh, pasti wakwaw lah menggali liang kubur mereka.
"Tauk ah, gua udah ga ngerti lagi dah mau mereka apaan."
.
.
.
.
.
.
"Apakah aku mirip Decepticon?"
Freddy menoleh ke arah suara. Ternyata Bonnie memandanginya sambil meminta jawaban dari si beruang tedie. Optik merahnya berkaca-kaca, seakan Bonnie baru saja diputusin oleh pacarnya.
"Itu..." Freddy mengamati sekujur tubuh kelinci tersebut. "Kayaknya mirip deh."
"Tuh kan!", jerit Bonnie.
"Tuh kan apa?", tanya Freddy, tidak mengerti dengan apa yang diinginkan oleh si es krim kelinci tersebut.
"Itu loh, tadi gue mau dihajar sama anak-anak yang sebelumnya ngerusuh di Pirate's Cove", terang Bonnie. "Mereka bilang, gue itu pengikutnya Decepticon. Ih, nggak level lah!"
Freddy memandangi Bonnie dengan wajah datar. Nadanya itu loh, kayak banci di taman Lawang. Menjijikan gimana gitu.
"Bener Bon. Lu mirip banget sama satu Decepticon."
"HAH? Yang mana Fred?", tanya Bonnie histeris.
"Itu loh. Yang merah putih biru, bawahannya Megatron, terus badannya seksi. Gaya bicara lu ama dia sama. Persis kayak banci di perempatan lampu merah sono", jelas Freddy.
"Gua bukan banci Mpret! Gua laki! Laki!"
"Bah, ngelawan aja kau. Spesies kalian tuh sama, spesies waria tau!"
"GUA COWOK FREDDY!"
"OKE, KALO GITU KITA TANYA MBAK CHICA AMA AKANG FOXY!"
"HAYUK!"
.
.
.
.
.
.
Sekarang kita beralih ke dapur. Terlihat Chica dan Foxy sedang berduaan, lagi.
Eh, tapi bukan sembarang berduaan.
Mereka sedang asik menonton kartun yang lagi naik daun, Transformers. Nontonnya di tablet hasil penggaculan Freddy kemarin.
Ya, penjaga malam hari ini kebingungan tujuh keliling. Tablet yang digunakan untuk melihat kamera pengawas tidak ada di meja. Hilang tak berbekas. Pengisi dayanya saja ludes, tidak ada di stop kontak yang biasanya. Apalagi tidak ada senter. Yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tidak bertemu dengan makhluk halus.
Lah, para animatronic kan bukan makhluk halus, bang.
Balik lagi ke pasangan Foxica. Dua sejoli yang dipertemukan di sebuah restoran kumuh itu menonton sebuah episode season ke tiga dari kartun Transformers Generations. Masih generasi pertama itu. Baru generasi pertama, udah tiga season aja. Bagaimana dengan generasi berikutnya ya?
Saat sedang asik menonton, tiba-tiba terdengar suara yang memekakan telinga dari pintu dapur.
"KAAAANG~" Begitulah kira-kira kalimatnya.
Nadanya? Banci lagi menggoda di perempatan jalan.
Foxy langsung menoleh ke arah suara, Chica juga ikutan. Ternyata, Bonnie yang berada di pintu dapur itu nemplok di kusen sambil memeragakan pole dance.
Muncul sebuah kedutan besar di kepala kedua pasangan temperamental itu. Gayanya Bonnie itu loh, sasuga banget.
"SIP MA HO!" (DIAMLAH KAU!)
Alhasil, kedua sejoli itu melempar semua peralatan yang ada di dapur ke wajah kelinci ungu itu. Sampai menyuruh Bonnie diam dengan bahasa Batak pula.
Bonnie sendiri terjungkal sampe kepalanya copot. Bukan copot sampe endoskeleton-nya juga sih. Kalau sampe begitu, harus segera manggil mas-mas tukang teknisi. Besok masih ada jadwal manggung loh.
Bonnie langsung meraba-raba lantai, mencari kepalanya yang hilang dilempari oleh Foxica. Jahatnya, gitaris satu-satunya yang dimiliki oleh restoran tersebut selalu dibuat sengsara. Sedih hati Bonnie. Kenapa selalu dia yang kena?
Sedangkan kepala ungunya Bonnie menggelinding ke kaki Freddy yang tepat berada di belakang pintu masuk. Freddy mengambil kepala tersebut sambil menatap heran Bonnie yang malah menuju ke arah Chica.
Chica langsung menjeda kartun yang sedang ia dan pasangannya itu tonton. Layarnya berhenti tepat ketika Optimus membuka dadanya. Bukan, bukan, Optimus bukan ingin berubah jadi Superman, bukan. Tapi ia ingin menunjukkan Matrix yang sudah tidak ada di dalam dadanya. Sepertinya Chica lagi maso, itu kan episode pas Optimus yang udah mati bangkit sebagai mumi. Nanti mati lagi, mewek lagi deh si ayam ini.
"Kamu kenapa sih, Bon?", tanya Chica gerah.
"Kenapa apa?" Bonnie menoleh ke arah Chica. Kepala endoskeleton Bonnie memancarkan cahaya merah yang merupakan warna optik daripada Bonnie itu sendiri.
"GILA LU BON! LU MIRIP AMAT SAMA DECEPTICON DAH!", teriak Chica histeris.
Bonnie langsung berdiri tegap dan menunjuk Chica, sama histerisnya.
"TUH KAN, GUA DIBILANG MIRIP DECEPTICON LAGI!"
"Kunaon sih?" Foxy memandang kedua animatronic itu heran.
"Ituloh Mpoks, tadi pagi ada sekumpulan anak-anak mau gebukin gua. Mereka bilang gua mirip Decepticon. Terus tadi gua tanya Freddy, dia bilang gua mirip Starscream, coba. Apanya sih yang mirip?", cerocos Bonnie.
Foxy menghela pelan. "Ternyata begitu toh, masalahnya. Menurut gua sih, elu mirip kuadrat sama Decepticon."
"Mirip apanya sih?", tanya Bonnie, risih dibilang mirip Decepticon mulu.
"Pertama dan paling krusial, warna mata optik kamu itu warna merah, Bon", jelas Foxy sambil menunjuk kepala endoskeleton Bonnie menggunakan kaitnya. "Kalau kamu lihat, semua warna optik Decepticon itu merah, tidak ada yang biru. Nah, kalau Freddy tuh baru Autobot tulen."
"Lalu?"
Foxy menoleh ke arah Freddy. "Fred, coba dulu kamu pasangin kepalanya Bonnie."
Freddy berjalan masuk ke dalam dapur dan melakukan apa yang diucapkan oleh Foxy.
"Aw, Fred. Sakit—", rintih Bonnie.
Tentu saja Bonnie merasa kesakitan. Freddy memang memasang kepala luar Bonnie dengan penuh kasih sayang—ralat, penuh rasa benci dan dengki. Ngapain coba Freddy membantu seorang waria.
"Kau tahu warnamu warna apa kan Bon? Warna ungu! Itu kan warna lambangnya Decepticon. Ya jelas aja kamu dibilang Decepticon", tambah Foxy santai.
"Tapi kan gua tetep gua, Foxy", kilah Bonnie. "Terus kenapa Freddy bilang gua mirip Starscream?"
Freddy dan Foxy kemudian tertawa kecil. Sepertinya Bonnie tidak pernah berkaca. Belum tobat juga anak ini rupanya. Sedangkan Chica justru memiringkan kepalanya bingung.
"Lain kali coba deh cek ke perempatan jalan. Siapa tahu lu nemu kawan seperjuanganmu."
.
.
.
.
.
.
.
.
Vincent berlari kesana kemari. Pokoknya ga bisa berhenti. Hari ini restoran sedang super duper sibuk. Ada yang mesan restoran sebagai tempat pesta ulang tahun, terus lagi banyak yang datang ke restoran. Mana ituwaiting list-nya panjang bener.
Di saat lagi sibuk sibuknya itu, baju kerja Vincent serasa ditarik dari bawah. Ia pun menoleh ke bawah dan menemukan seorang anak kecil menarik bajunya.
Walaupun sedang sangat capek, Vincent pun berjongkok untuk mensejajarkan tinggi mereka.
"Ada apa dik?", tanya Vincent ramah.
"Itu bang, di Pirate's Cove ...", ujar si adik kecil.
Vincent yang merasa ada yang salah pun langsung berdiri dan berlari menuju tempat yang disebut anak kecil tersebut.
Sesampainya di sana, Vincent menemukan hal yang sangat ia tidak ingin lihat. Keadaan di Pirate's Cove seperti kapal pecah. Tidak, tidak secara harafiah. Pokoknya di singasana milik Foxy bertebaran berbagai macam sampah. Mulai dari kertas berhamburan, kotak pizza bersebaran, beberapa pizza bekas dimakan bertebaran, bahkan ada beberapa pecahan kaca berseliweran dimana-mana. Untung Foxy tidak mengalami kerusakan yang berarti.
Ya tapi tetep aja, siapapun yang melakukan hal ini bakalan diberi hadiah tak terlupakan oleh abang ungu kita.
Sayangnya, karena Vincent yang pertama kali melihat kekacauan ini, mau tak mau ia harus membersihkannya. Tidak mungkin ia memanggil temannya untuk membantu membersihkan tempat tersebut.
.
.
.
Bonnie dan Freddy baru saja naik panggung ketika Bonnie menemukan sosok tujuh anak stres yang sehari sebelumnya ingin menghajarnya. Bonniepun mengamati gerak-gerik mereka yang cukup mencurigakan.
"Pleiades, strategi kita sampai saat ini sudah berjalan dengan baik. Kakak ungu itu sudah tidak dapat menjangkau kita", ujar sang ketua dengan bangga.
Tidak, sang anak laki-laki berambut cokelat muda itu tidak hanya berbicara kepada keenam temannya yang lain. Banyak anak-anak memandang anak itu dengan seksama.
"Untuk memeriahkan ulang tahunku, pertama aku ucapkan terima kasih karena telah membantu. Sekarang, saatnya kita membalaskan dendam kita ini."
Anak itu berbalik menghadap Bonnie.
"Uh oh", umpat Bonnie.
"Semuanya", komando sang kapten.
"HAJAAAAR!"
.
.
Vincent, yang sedang memegang sebuah sapu, memandang horor Show Stage.
Pasalnya, Bonnie sang animatronic berbentuk kelinci itu hanya tinggal endoskeletonnya saja.
Kulit luarnya? Sudah dicopot oleh anak-anak. Tidak ada yang rusak, kulit luarnya terlepas secara sempurna. Seakan itu hanya kostum.
Seluruh anak kecil yang telah selesai menempelkan sebuah kertas bertuliskan 'Sorry, You are Dead' itu memandang Vincent dengan senyuman tersadis yang pernah ada. Bahkan abang ungu kita saja tidak sanggup membuat senyuman separah itu.
"Pleia— ah. AUTOBOTS, HAJAAAAR!"
.
Finale (iya, beneran END)
Author Corner
I—ini apaan?! KENAPA DILANJUTIN COBAA (/salah lu nyedh)
Pertama, iya saya lagi lope lope ama abang ungu kita. Salah satu hal yang akan saya lakukan kepada tokoh antagonis kesukaan saya adalah membuat ceritanya. Biasanya sih saya bakalan nyerocos sendirian di kamar mandi, bikin prompt yang bagus untuk karakter tersebut. Kalau mau tahu, tokoh antagonis yang menjadi korban pertama cerocosan saya adalah Starscream. Saya teh 'dari benci jadi cinta' sama dia gegara ngeliatin human!ver-nya di dA (/human!ver lagi...)
Yang kedua, itu ada hint dari fic Surat Untuk Kakak. Habis kan romantis kalo sepasang sejoli ketemuan karena animatronic (/NEIN)
Yang terakhir, itu maap ada bahasa Batak nyempil. Habis saya orang Batak asli yang lahir dan tinggal di tanah Sunda :" Itu 'sip ma ho' teh umpatan ibu saya kalo adek saya berisik—
YASALAM YA KALO BONNIE ITU WARIA, ABIS PERTAMA KALI MENDENGAR NAMANYA SAYA KIRA DIA TEH CEWE TAU GA? (/caps oi)
Dan lagi, pas mikirin tujuh anak itu saya kepikirannya nama Pleiades, habis pas bikin chapter satu saya juga baru habis baca Puella Magi Kazumi Magica. Abaikanlah kalau Pleiades teh maksudnya tujuh cewek bersaudara—
Sekian curcolan saya dan terima kasih telah membaca.
I'm out~
