Harus mawar menyapa hidungnya.

Yaoyorozu Momo membuka mata, mengamati keremangan di sekelilingnya. Ah, hutan yang sama, kah? Namun, sama sekali tak ada jejak hujan, juga jejak sinar mentari.

Harum bunga ini perlahan memikatnya.

Momo bangkit berdiri perlahan, melangkah tertatih. Mengikuti semerbak ini mungkin akan membawanya keluar, pikirnya. Ah, ia masih lemah. Kakinya menyeret, tubuhnya limbung, pandangannya masih mengabur. Setidaknya keluar dari hutan, setidaknya harus bertemu seseorang untuk meminta tolong, ia menguatkan diri dalam batin.

Harum mawar menuntunnya menuju secercah cahaya.

Krosak. Kaki-kakinya menyibak semak, seakan ia baru saja melewati batas dunia. Ia terperangah akan pemandangan di depannya. Taman mawar bermandikan sinar mentari. Danau kecil yang jernih dan sejuk. Kupu-kupu, kelinci, dan tupai yang ramah. Tempat yang sangat indah, sangat damai.

Ketika ia masih mengedarkan pandangan takjub, ia mendapati seseorang di sudut taman. Seorang pemuda dengan kemeja putih dilapisi rompi biru, juga celana khaki dan sepatu bot. Seorang pangeran kah? Namun, yang membuat sang pendekar wanita itu terkesima adalah rambut pemuda yang berbeda warna tiap sisinya—putih di sisi kanan dan merah di sisi kiri—juga iris heterokomnya.

Ah, pertolongan Tuhan. Momo tersenyum sumigrah. Ia tertatih mendekati sang pemuda, mengucap kata dengan terpatah-patah, "Tuan … mohon tolong aku …"

Kesadarannya hilang sesaat. Ia akan jatuh.

Bruk. Baru lututnya menyentuh rumput, pemuda itu berhasil menangkap tubuhnya. Wanita itu terengah dalam pelukan sang pemuda. Ia tak kuat. Lapar, haus, sakit …

Todoroki Shouto sadar dengan apa yang harus ia lakukan. Ia mengedikkan kepala pada seekor tupai, memintanya mendekat untuk mendengarkan kata-katanya.

[Ah, perempuan yang cantik bukan, Shouto?]

Shouto mengabaikan semua yang mengganggu fokusnya. Hanya wanita itu. Raut cemas tergurat jelas di wajahnya.

.

.

.

Momo, kau dapat mendengarku?

"…?"

Ah, aku bisa merasakan kebingunganmu.

"…"

Tak perlu mencari sosokku. Cukup dengarkan saja.

"…!"

Ah, Momo. Benar …

Kau persis dengan diriku.

.

.

.


The Apocalypse 13th

Boku no Hero Academia (c) Kohei Horikoshi

The Apocalypse 13th (Vocaloid song) (c) HitoshizukuxYama with Kagamine Rin & Len

TodoMomo

Fantasy AU

Cerita diadaptasi dari lagu The Apocalypse 13th dengan beberapa perubahan sehingga tidak persis dengan isi lagunya

Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fic ini. Ini hanya diperuntukkan sebagai hobi semata.

Selamat membaca~

.

.

.


Chapter 2

Momo


.

.

.

Momo mengejap matanya, perlahan terbangun. Sinar mentari menyambutnya, harum mawar juga kembali menyapanya. Iris hitamnya mengerling, memastikan apa saja yang berada di sekitarnya.

"Kau sudah bangun?"

Mendengar suara rendah nan jernih itu, Momo tersadar tempat ia berbaring. Posisi terlentang, tangan disatukan di bawah dada, dan kepalanya … berada di atas paha sang pemuda!

Momo terkejut dan cepat-cepat bangun. Spontan saja ia bersimpuh menghadap sang pemuda dengan wajah memerah.

"Ah, anu ... anu …" Sesaat ia tak dapat merangkai kata-kata. "Ma-Maafkan aku atas kelancanganku …"

Anehnya, raut wajah Shouto sedih bercampur bingung.

"Mengapa kau lagi-lagi sungkan kepada kekasihmu sendiri?"

Momo tercengang. Sebelum ia dapat mengelak, Shouto meraih tangan kanan Momo, mencium punggung tangannya lembut, selayaknya hormat sang pangeran kepada tuan putri, walau Momo bukanlah tuan putri.

"Akhirnya kau datang kemari …" Shouto mengangkat wajah. Mata dan bibirnya tersenyum lembut. "… Momo."

Akan tetapi, alih-alih dikuasai haru, Momo kebingungan.

Siapa …?

"Uumm … Tuan …" Ia menarik tangannya hati-hati, berusaha sopan meski tak nyaman. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Shouto tercengang akan reaksi yang tak disangka. "Kau Momo, bukan?" tanyanya memastikan. "Kau datang kemari untuk menemuiku …"

"Benar, namaku Yaoyorozu Momo, tetapi maaf, aku tak mengenalmu." Suara Momo sedikit bergetar, masih merasa aneh diperlakukan dengan manis oleh pemuda asing. Ah, ia memang belum punya pengalaman romantis dengan lelaki. Semua mengagungkannya sebagai ksatria wanita hebat. "Aku juga tak tahu mengenai tempat ini. Aku terluka dan butuh pertolongan—Ah!"

Momo spontan memeriksa luka-luka di tubuhnya, terutama sabetan pedang di pinggang. Lenyap tak berbekas. "Lu-Lukaku sudah sembuh! Apakah Tuan yang menolongku? Terima kasih banyak!" Momo menatap Shouto dengan mata berbinar setelah menundukkan kepala satu kali, walau masih menyisakan pertanyaan mengapa luka-lukanya bisa sembuh secepat ini. Akan tetapi, pertanyaan itu langsung buyar begitu melihat air muka sang pangeran.

Momo tidak mengerti. Apa yang ada di benak Shouto ketika pemuda itu memandangnya dengan tatapan tercengang?

"Tak mungkin …" Shouto bergumam lamat. "Kalau kau bukan 'Momo' yang itu, kenapa kau bisa kemari …?"

Momo mencoba menimpal walau ia sendiri lebih tak mengerti. "Aku …"

"Siapa kau sebenarnya?" Shouto mendesak jawaban. "Apa kau … sudah mati?"

Mendengar pertanyaan itu, Momo membatu.

"Apa …?"

.

.

.


Bersambung