Author's Note :
Yasuw ~ ayo di lanjut aja deh ~
Title : A Poor Life.
Part : 2 (Two).
Genre : Romance, General.
Warning : BL,PG-17,Maybe Typo (s).
Summary :
Jaejoong dan Yunho adalah namja yang hidup dalam takdir yang berbeda.
Namun, jalan lain mempertemukan mereka dalam keadaan yang buruk.
Malam itu,Yunho yang rupanya adalah salah satu faktor semangat Jaejoong, namun,
namja itu justru adalah yang pertama kali 'menyentuh'dirinya.
Disclaim : SME Present.
Author : DrarryLova.
"Aku, U-Know. Penyanyi bertalent yang sekarang sedang naik daun. Wajahku memang tidak cacat, tapi aku lebih memilih untuk mengenakan topeng itu. Entahlah, banyak Fans yang memujaku meski aku tak memberitahukan identitasku. Akh, jangan bicarakan identitasku! Aku muak menjadi diriku yang asli saat ini. Sifatku buruk dan aku tinggal dalam keluarga yang tidak harmonis. Aku hanya bisa bersembunyi dari hidupku yang memuakkan ini dibalik topeng U-Know. Aku benci para yeoja, bagiku, mereka semua sama saja dengan umma! Dan sebenarnya, aku tidak suka pada namja yang sikapnya sama seperti appa! Tapi, aku tidak terlalu benci terhadap namja, karena, aku punya 'ikatan' tersendiri terhadap namja, tapi, tidak dengan appa ataupun adik tiriku itu! Aku, U-Know, si selebritis yang mulai terkenal itu. Apakah kalian mau tahu siapa aku dibalik topeng ini? Mari, ikuti kisahku"
YH-POV
"Yawn~haah." Untuk kesekian kalinya aku menguap sambil menghela nafas. Aku benar-benar jenuh berada diruang ini. Semua orang yang mengelilingi meja ini terus memperhatikan pembicaraan appa dengan disiplin sesekali melirik dingin terhadapku.
Aku terus menopang kepalaku dengan pangkal tangan kananku yang sikunya bersandar di meja kaca persegi panjang ini. 'Akh. Rapat. Benar-benar membosankan.'Pekikku dalam hati sambil terkantuk-kantuk dan menguap beberapa kali. Nampak, appa juga melirikku dengan mata tajamnya. Ash, aku sudah tak peduli lagi dengan tatapan 'ancaman' itu.
Tak berapa lama, aku beranjak dan semua kepala yang ada disekeliling meja ini mulai menoleh kearahku. Tanpa berkata, aku keluar dari bangkuku dan menuju pintu ruang meeting ini.
"Yunho-ah!" Kudengar appa menyahutku dan aku yakin dia masih berada di kursi pimpinan rapatnya. Tentu aku tahu, appa tak mungkin mengejarku dan meninggalkan ruang rapat bukan? Aku tak peduli dengannya dan tetap melangkah keluar ruangan ini. Aku bosan berada diruang yang membuat jiwaku pengap seperti itu.
…
"Tuan muda Choi." Seorang namja tegap membututiku dibelakang dengan gaya sopannya. Dia Cho Kyuhyun, manager sekaligus kaki tanganku di keluarga Choi.
"Manager Cho! Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!" Bentakku sambil tetap menelusuri koridor yang membawaku menuju lift.
"Mianhae, tuan Jung." Ujarnya sambil sedikit menunduk. Kutekan tombol lift menuju lantai bawah dan namja itu juga masuk kedalam lift bersamaku.
Oh ya, aku Jung Yunho atau bisa dibilang Choi Yunho. Namja yang dipilih menjadi pewaris perusahaan Choi. Akh, aku tidak suka jabatan itu! Aku ingin menuai karir di dunia entertainment. Aku memang sudah masuk dunia entertainment sebagai U-Know, menyembunyikan identitasku. Tentu saja, kalau aku terang-terangan berasal dari keluarga Choi, bisa habislah aku di ceramahi oleh para tetua. Entahlah, padahal aku hanya anak tiri di keluarga Choi, tapi, tetua-tetua begitu menginginkan aku yang menjadi pewaris perusahaan. Apa-apaan itu!
Selama ini, keluarga Choi hidup dalam silsilah yang begitu ketat dan disiplin. Skandal Choi dimulai semenjak appa tiriku, Choi Siwon, menjadi anak yang pandai membangkang dan punya hubungan yang buruk. Oke, aku anak tiri dari namja brengsek itu.
Choi Siwon dinikahkan dengan ummaku, Lee Yun Hi, yang memang umma hanya mengincar harta kekayaan keluarga Choi. Umma punya hubungan baik dengan keluarga Choi dan begitu senang dengan umma dan lalu menjodohkannya dengan Choi Siwon yang memang ummaku janda saat itu, appaku meninggal karena kecelakaan. Umma menikah dengan namja itu saat umurku menginjak 18 Tahun, sudah 4 tahun kurang aku berada dikeluarga itu. Appa tiriku dan umma terus mengekangku dan memaksaku untuk menjadi putra kebanggaannya sebagai pewaris perusahaan. Tapi, aku benar-benar tak suka dengan posisi itu! Karena aku tahu, Siwon menjadikanku robotnya untuk menebus kesalahannya terhadap silsilah kelurga Choi, sedangkan umma mendukungku agar aku mendapat semua yang diinginkan umma, harta kekayaan keluarga Choi! Jujur saja, aku tidak tertarik dengan uang! Aku hanya ingin kebebasan, cuma itu!
Aku dan manager Cho keluar dari lift. Tak berapa jauh kami melangkah, kulihat seorang namja yang nampak bersandar disisi tiang dinding. Namja itu tersenyum saat melihatku dan melambai kearahku.
"Hyung!" Sahut namja jangkung itu sambil tetap memegang iPodnya. Aish, kenapa anak itu ada disini? Dengan wajah kaget dan hati was-was, aku menghampiri namja yang paling suka tersenyum itu dan menyeretnya keluar, tentu saja diikuti oleh manager Cho.
"Changmin-ah, kenapa kau ada disini?" Bisikku geram dan sedikit tertahan padan namja jangkung yang terus saja tersenyum meski dengan sedikit meringis karena aku sempat mendorong tubuhnya kedinding.
"Hyung, aku cuma mau tanya, hari ini kita ada jadwal atau tidak?" Dengusnya seperti anak kecil. Ya, dia Kang Shim Changmin, rekan kerjaku yang disebut-sebut Max. Dia masih duduk di kelas 3 SMA Tohoshinki. Yang aku dengar, dia tinggal sendirian di sebuah apartemen tanpa orang tua. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat, dia juga bekerja disebuah kedai coffee. Manager Cho pernah mendatangi lokasi itu sedangkan aku belum. Aku mengenalnya 2 bulan yang lalu ketika aku berkeliaran malam itu. Agh, aku masih ingat saat itu yeoja-yeoja yang ada dipersimpangan itu menjajakan tubuh mereka padaku.
Ingin sekali kuludahi semua yeoja menjijikan itu! Tapi, aku takut akan berada dalam posisi yang tidak memungkinkan kalau aku melakukannya! Maaf saja nona-nona, asal kalian tahu aku ini suka namja, Ya, aku Gay! Aku mencoba menghindar dari mereka dengan berperan sebagai malaikat, mengeluarkan kata-kata bijak dan tanpa kusangka, semua yeoja itu tersentuh. Untung saja aku serius belajar sastra ketika aku kuliah. Huft, seandainya umma juga bisa kululuhkan dengan kata-kata yang aku rangkai ini...
"Aku rasa tidak ada Changmin-ah. Kenapa kau pagi-pagi sekali datang kemari? Kau cari mati apa?" Bentakku. Anak ini usil sekali, datang kemari hanya untuk bertanya soal itu? Buat apa kau punya ponsel, hah?
"Mian, hyung, habis, aku menelpon dan mengirim pesan pada hyung berkali-kali, tapi tak ada jawaban." Ujarnya dengan wajah kesal namun sesekali nyengir kuda.
Astaga! Aku menepuk dahiku pelan. Aku menoleh pada manager Cho dan namja berkulit putih itu hanya mengangguk kecil. Ternyata benar, aku meninggalkan ponselku diruang kerjaku sejak rapat tadi. Ya, aku semalaman berada di kantor hingga aku merasa penat dan aku rasa, hari ini kami tidak akan menerima jadwal sebagai U-Know dan Max dahulu karena aku merasa lelah sekali.
"Mian Changmin-ah, aku lupa menaruh ponsel disakuku dan aku ada rapat." Desahku lesu. Changmin mengangguk pelan dan kembali tersenyum lagi dengan mata yang agak sedikit bulat sekarang.
"Benar tidak ada jadwal kan, hyung?" Tanyanya seraya memastikan. Aku mengerutkan alisku dan mengangguk pelan. "Ok, kalau begitu! Aku bisa tenang nih!" Ujarnya sambil berjingkrak riang.
"Memang ada apa sih?" Tanyaku mulai curiga dengan tingkah bahagianya ini.
"Siang ini, aku ingin masuk kerja part-time, hyung. Aku ingin melihat seseorang, Aish, kangen sekali dengan dia." Decaknya seraya merindukan seseorang yang sudah beberapa tahun ia tidak temui.
Aku belum terlalu mengenal namja ini lebih jauh, kami baru debut 3 bulan yang lalu sehingga wajar saja kalau aku tidak tahu apa-apa selain yang aku ketahui. Tapi, menurutku, Changmin adalah orang yang menyenangkan. Aku sudah menganggapnya sebagai dongsaengku sendiri, bukan seorang namjachingu! Dia selalu seperti anak kecil, membuatku merasa senang dan bisa melupakan kehidupan kenyataanku sebagai Choi YunHo.
Changmin juga pernah bercerita tentang rekan kerjanya yang disukainya di kedai cofee. Setiap menceritakan orang itu, anak ini selalu terlihat bahagia sekali. Dia tak mau menyebutkan nama orang yang disukainya itu. Aku jadi penasaran dengan orangnya, tapi setiap kali aku ingin mengetahuinya, Changmin selalu mencegahku. Baiklah, terserahlah, aku tidak akan memaksakan kehendaku kalau Changmin tak mengijinkannya. Mungkin yeoja yang disukainya itu cantik sekali sehingga ia takut kalau yeoja itu nanti menyukaiku yang tampan ini. Ahahaha, percaya diri sekali diriku ini, oke abaikan.
"Yasudah ya, hyung. Aku pulang dulu! Dah ~" Ujarnya ceria sambil berlari menjauhi kami. Ash, dasar bocah, sepertinya, kau senang sekali tiap akan bekerja part-time.
…
BRAAK.
Junsu masuk keruang kerjaku dan membanting tubuh gumpalnya di kursi yang ada diseberang mejaku. Aku yang sedang menulispun kaget ketika begitu banyak uang berserakan dimeja kerjaku tepatnya dihadapanku. Lalu, pandanganku mulai beralih kesal ke wajah lumba-lumba itu. Tapi tunggu, ada apa dengan sahabatku ini? Kulihat namja teman kecilku hingga sekarang ini tengah memijat-mijat kepalanya sambil memejamkan mata dalam-dalam, kulihat bibirnya yang juga terus menggerutu kecil.
Aku menghela nafas pelan. "Kau kenapa lagi?" Tanyaku sambil mencoba membereskan uang yang berserakan ini. Dasar,selalu saja dia begitu. Tidak jelas sekali.
"Aku kesal sekali, hyung!" Decaknya. Ya, dia berumur lebih muda dariku. Sudah seharusnya dia memanggilku hyung.
"Kesal kenapa lagi?" Tanyaku malas sambil menulis-nulis tidak jelas di sebuah kertas yang baru saja kuambil.
"Namja itu, hyung! Aish, aku belum menyentuhnya dan menikmatinya tapi mereka mengeluarkanku dan melempar uangku kembali! Club macam apa itu?" Jelasnya dengan marah, meskipun dia sedang marah dan kesal, di mataku dia tetap saja punya wajah yang lucu.
Ckckck. Temanku yang satu ini, ada apa lagi, sih? Aku memang tahu kalau Junsu punya hubungan seks yang menyimpang. Aku juga sama seperti itu memang karena sahabatku yang satu ini. Tapi, saat ini aku ingin tefokus pada karirku sebagai U-Know sekaligus mencoba menjalani tugasku sebagai direktur perusahaan ini. Aku terpaksa melakukan ini hanya untuk menjaga namaku sebagai U-Know karena appa mengancamku jika aku tidak mengikuti kemauannya mengelola perusahaan ini, dia akan membocorkan identitas U-Know dan menghilangkannya. Tapi, sekarang aku tidak peduli lagi dengan ancaman busuk itu. Jika appa membocorkannya, tentu ia juga yang akan repot, bukan? Dasar namja paboya.
"Ash. Namja cantik itu benar-benar membuatku gila dan malu." Decak Junsu sambil menyandarkan punggungnya kembali. "Setidaknya, servis Yoochun-ah bisa memuaskanku." Sambungnya sambil mulai tersenyum aneh. Semenjak aku menjalankan tugasku ini, aku jadi jarang bermain bersama Junsu yang biasanya suka mengajakku ke club-club. Bagiku, entah kenapa servis seperti itu bisa membuatku menikmatinya. Ah, sudah lama aku tak bergaul dengan dunia itu lagi.
"Yoochun-ah? Kali ini kau berbulan-bulan di Club mana, hm?" Tanyaku. Ya, setiap mendatangi club, kami memesan pekerja yang mempunyai servis yang kami inginkan selama berbulan-bulan. Kadang, namja itu kami panggil ketempat kami kalau kami malas ke Club. Aish, menceritakan hal ini selalu saja membuat 'junior' ku terasa menegang dan mengeras.
"Iya. Aku sekarang menjadi pelanggan baik diclub yang berada diujung jalan menuju mall. Yoochun-ah itu punya servis tangan yang bisa memuaskan hasratku, Assshhhh, hhnnn..." Jelas Junsu yang sepertinya membayangkan servis dari pekerja yang bernama Yoochun itu. Kulihat tangan lumba-lumba itu menyusup kebalik celananya.
"ASH! Apa yang kau lakukan!" Aku menggeplak tangan Junsu yang membuat sensasi dihatiku tiba-tiba terlonjak ini. Membangun rasa dalam tubuhku yang begitu jauh disana.
"Hehehe, maaf hyung. Aku tidak bermaksud menggodamu, kok. Aku hanya membayangkan tangan-tangan Yoochun yang memanjakan aku." Ujar kepala lumba-lumba itu sambil nyengir kuda.
"Dasar kau ini, jangan sampai aku memakanmu nanti!" Decakku kesal.
"Uwaaah, hyung. Kalau mau makan orang, pergi saja ke club bersamaku! Jangan makan aku dong!"
"Hehehe, kalau kau kan, aku tidak perlu mengeluarkan uang." Timpalku sambil tertawa geli.
Junsu benar, aku harus menghilangkan penatku. Aku harus merefreshkan tubuhku. Sudah lama aku tidak menyentuh tubuh seseorang.
"Akh! Biar bagaimanapun juga, malam ini aku akan tetap ke club! Aku tidak mau kehilangan Yoochun hanya gara-gara masalah itu!" Ujar namja itu sambil beranjak. "Yasudah ya, hyung. Aku kerja dulu." Dia lalu berlalu keluar, namun aku sempat menyahutnya.
"Yak! Junsu-ah!"
"Hm? Ada apa, hyung?"
"Boleh aku ikut nanti malam?" Tanyaku malu-malu.
"EH? Beneran nih yang aku dengar?" Respon Junsu membuatku tambah malu. Memang ada yang salah ya? Memang sudah 3 tahun aku tidak tertarik dengan hal semacam itu lagi. Tapi kali ini, mencoba lagi bukan masalahkan? Aku mengangguk kecil merespon tatapan Junsu yang tak percaya. "Oke! Nanti malam, kita bertemu di depan kantor saja, Right?" Terangnya lalu, ia keluar dari ruanganku.
Ash. Sekarang, siapa namja yang aku cari ya...
-SECOND-
Huwaaaa, mian, aku ngetiknya buru-buru, jadi, kalau ada kata yang salah.
Tolong maafkan aku yah :3
Di FF ini, bukan Junsu yang ukeish, aku lebih pilih Chunie yang jadi uke-nya.
So, jangan protes ya :p *Plak*
Yosh, Ripiu-ripiu, Aku harap reader ngerti latar dan waktunya karena ini FF ber-POV
Yo ~ ALWAYS KEEP THE FAITH ***
