Waduuhh.. banyak yg seruin buat update kilat nihh, hehe maaf ya Beyb g bisa kalo kilat, tapi q usahain biar cepet. Makasih bngt yaahh buat respond n antusias kalian semua, ternyata banyak bgt yg ngefav n ngefol, smoga lebih bnyak lg yahh..
Oke let's eat it.
Ittadakimasu..
…
..
.
MY LITTLE SERVANT
Chapter 2
Genre : Romance/Drama
Pair : NaruHina
Disclaimer © Masashi Kishimoto
My Little Servant © Beyb Haraka
Cast : Uzumaki Naruto (32), Hyuga Hinata (19)
And many other.
.
..
…
Hinata masih tidak percaya dengan semua ini. Naruto, siduda keren yang baru pertama kali ia temui barusan memintanya untuk menjadi pembantu rumah tangga demi Key, putra kecil Naruto yang sedari tadi terus merengek ingin meminta Hinata agar bisa ikut kerumahnya. Benar-benar tidak masuk akal, secara mereka baru saja bertemu, dan Hinata tidak ada rencana sama sekali untuk bertemu kembali dengan pasangan Ayah dan anak itu. Yah.. meskipun tidak dapat dipungkiri jika Hinata sendiri telah menaruh simpati kepada Naruto.
"Bagaimana?" tanya Naruto membuyarkan lamunan Hinata.
"A-apa?" tanya balik Hinata dengan nada terbata.
"Kau maukan?"
"Aku…" Hinatapun memain-mainkan kedua jari tangannya sejenak sambil berusaha berpikir, kira-kira ia akan memilih iya atau tidak, karena ini Naruto sendiri lo yang meminta, duda keren yang sudah membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama.
"Barbie…" rengek Key sambil menarik-narik tangan Hinata. Ini benar-benar pilihan yang sulit bagi Hinata.
"Aku–"
"Hinata!" seru seorang pria yang tiba-tiba datang diantara mereka.
"P-paman?" delik Hinata yang langsung menoleh kearah sumber suara.
"Naruto!" ternyata pria bernama Neji itu juga mengenal Naruto rupanya. "Kau Narutokan?" tanya Neji sambil menunjuk kearah Naruto.
"Iya, kau… astaga Neji?" Narutopun baru ingat jika ia juga mengenal Neji. Neji adalah teman SMAnya dulu.
"Hai.. bagaimana kabarmu sekarang kawan?, sudah lama kita tidak bertemu." Ujar Neji sambil memukul lengan Naruto dengan tinjuan pelan.
"Aku baik, tentu saja. Kau sendiri bagaimana?"
"Ya.. seperti yang kau lihat sekarang. Aku juga baik sama sepertimu,"
"Hm, syukurlah!" Narutopun mengangguk dan tersenyum tipis.
"Oh ya aku dengar jika kau sekarang.. emm.. maaf sudah menjadi single parent ya?" tanya Neji secara terang-terangan.
"Iya kau benar," jawab Naruto dengan senyuman kecil.
"Dan bocah tampan ini pasti putramukan?" tanya kembali Neji sambil mengacak-acak rambut Key yang langsung memeluk erat kaki Hinata. Nejipun jadi heran sendiri melihatnya, kenapa putra Naruto itu bisa dekat sekali dengan Hinata?
"Iya, dia putra semata wayangku. Namanya Key, Uzumaki Key."
"Wah.. Key, kau tampan sekali seperti Ayahmu." Ujar Neji sambil menatap Key. "oh ya, kalian berdua sudah saling kenal?" tanyanya sambil menunjuk kearah Hinata dan Naruto.
"Hm, kita baru saja berkenalan. Kau juga kenal dia?" jawab dan tanya Naruto sambil menoleh kearah Neji dan Hinata secara bergantian.
"Tentu saja aku kenal sekali dengannya. Hinata ini keponakanku, dan dia sekarang ikut denganku karena kedua orangtuanya sudah tiada. Aku menyuruhnya untuk menggantikanku menjaga kafe ini untuk sementara waktu bila aku sedang ada urusan bisnis lainnya diluar." Jelas Neji sambil menyentuh pundak Hinata. Naruto yang mendengar jika Hinata adalah keponakannya Nejipun langsung terkejut setengah mati.
"Oh… pantas saja dia juga bermarga Hyuga sama sepertimu," ucap Naruto sekenanya, ia tak tahu harus berkomentar apa lagi. Dan setelah ini, rencananya untuk menjadikan Hinata sebagai pembantunya dirumah rupanya akan menuai sedikit kendala karena adanya keberadaan Neji, tentu saja Neji pasti akan menentang keras hal gila itu.
"Daddy!, ayo bawa Barbie pulang.." pinta Key sambil menarik-narik tangan Hinata dan tangan Naruto.
"Barbie?" delik Neji tak mengerti. "maksudnya apa ini Naruto?" tanyanya pada Naruto dengan wajah penasaran.
"Heh!, jadi begini…" Narutopun mulai menceritakan semuanya kepada Neji. Nejipun mengangguk-angguk mengerti saat Naruto menceritakan semuanya padanya. Naruto sendiri merasa khawatir jika Neji akan marah dan menentang keras keinginannya untuk mengangkat Hinata sebagai pembantunya, namun berbeda dengan Hinata ia merasa biasa-biasa saja, tak ada ketakutan sama sekali yang terlihat diwajah cantiknya.
"Oh.. jadi begitu, Key ingin sekali bersama dengan Kak Hinata ya?" tanya Neji pada Key yang dibalas anggukan cepat oleh bocah tampan itu.
"Aku berjanji akan menjaganya, dan aku akan membiayai semua kebutuhan hidup serta kuliahnya sampai selesai selama dia menjadi pembantu dirumahku," ujar Naruto dengan nada serius, Hinatapun tampak sedikit tak percaya mendengar semua itu. Apalagi mendengar jika Naruto berjanji akan menjaganya, membuat jantungnya langsung merdebar-debar tak menentu. Sedangkan Neji yang mendengar itupun malah menyeringai sambil menatap Hinata dengan tajam. Sebenarnya ada apa dengan Neji?
"Kalau begitu.. bisa aku bicara berdua sebentar dengan Hinata?" tanya Neji pada Naruto.
"Ya silahkan!" angguk Naruto mengiyakan.
"Ayo Hinata!" ajak Neji pada Hinata sambil menarik tangan gadis imut itu.
"Barbie!" seru Key dengan nada bergetar, rupanya bocah itu mengira jika Hinata akan pergi meninggalkannya.
"Sebentar Paman!" ujar Hinata pada Neji, Nejipun mengerti dan melepaskan tangan Hinata. Pria berambut panjang itupun lantas segera pergi duluan untuk mencari tempat yang aman agar pembicaraannya dengan Hinata nanti tidak bisa didengar oleh Naruto.
"Barbie jangan pergi!" pinta Key sambil menarik tangan Hinata.
"Barbie tidak akan kemana-mana Key, Key tunggu sebentar ya!" ujar Hinata menenangkan Key sambil mengelus pipi gembil bocah itu.
"Jangan lama-lama!" ucap Key sambil melepaskan tangan Hinata.
"Iya sayang!" angguk Hinata, lalu segera berjalan menghampiri Neji yang sedang berdiri didepan stand distro tak jauh dari tempat kafenya berdiri.
. .
"Jadi… kau pasti bersediakan Hinata?" tanya Neji sambil menatap tajam Hinata.
"Maksud Paman?" tanya balik Hinata.
"Jangan pura-pura bodoh, ini kesempatan berharga bagimu. Dengan kau bekerja menjadi pembantu dirumah Naruto, maka seluruh biaya kuliahmu yang mahal itu akan ia tanggung sampai selesai, bahkan dia juga akan menjamin semua kebutuhan hidupmu, kau bisa mendapatkan segalanya darinya. Dia itu sangat kaya raya, jadi aku bisa menyerahkanmu dengan tenang kepadanya karena dia pasti akan bisa menjagamu." Ungkap Neji panjang lebar, Hinata sampai tak percaya jika Paman kandungnya itu bisa bicara seperti itu padanya. Ia tahu jika selama ini Neji merasa terbebani karena harus terpaksa menjadi walinya setelah kedua orangtuanya tiada, tapi bukan berarti Neji dengan begitu saja mau menyerahkannya kepada orang asingkan?
"Tapi bagaimana dengan Bibi Tenten?, aku tidak mau meninggalkannya, dia sudah begitu baik padaku Paman.."
"Lalu bagaimana?, apa kau akan terus menumpang dirumahku dan memintaku untuk terus membiayai kuliahmu yang sangat mahal itu?, bahkan kebutuhan pakaian, tas, sepatu dan alat kecantikanmu itu sangat mahal-mahal Hinata, apa kau akan menggantungkan semua itu pada Bibimu terus ha?, harusnya kau malu Hinata.. dan harusnya kau itu juga sadar diri, karena kau hanyalah keponakanku bukan anak kandungku.." jelas Neji dengan sedikit emosi. Ia merasa jika keponakannya ini sangatlah bodoh karena masih ragu-ragu dalam menerima penawaran emas Naruto.
Sedangkan Hinata sendiri langsung merasa tertohok dengan semua perkataan yang Neji ucapkan padanya, ia tahu jika Pamannya itu sangatlah perhitungan dan pelit sekali kepadanya. Tapi Hinata tak habis pikir jika Neji akan tega berkata seperti itu padanya.
"Jadi.. Paman ingin jika aku menerima penawaran Naruto?" tanya Hinata dengan nada frustasi.
"Tentu saja!" jawab Neji mantap.
"Baiklah, aku akan menerimanya." Akhirnya.. Hinata mengatakannya juga.
"Baguslah, itu baru jawaban yang tepat. Kalau begitu setelah ini kau langsung pulang kerumah untuk mengemasi baju dan semua barang-barangmu, berhubung Bibimu sedang kerumah orangtuanya, jadi kau bisa langsung berkemas tanpa harus takut ketahuan olehnya. Nanti biar Paman sendiri yang bicara pada Bibimu mengenai masalah ini, dia pasti bisa mengerti." Kata Neji sambil menyentuh bahu Hinata.
"Iya Paman." Angguk Hinata mengerti.
Neji dan Hinata yang telah selesai berbicarapun akhirnya kembali ketempat Naruto.
. .
"Bagaimana?" tanya Naruto sambil menatap kearah Neji dan Hinata.
"Hinata jelas mau menerima penawaranmu," jawab Neji dengan santai. Narutopun langsung terkejut mendengarnya, seolah tak percaya dengan apa yang Neji sampaikan barusan.
"Benarkah Hinata?" tanya Naruto pada Hinata.
"Iya Naruto-kun, aku mau!" jawab Hinata dengan anggukan pelan.
"Aku percayakan Hinata padamu Naruto!" ujar Neji dengan senyuman tipis.
"Aku kira kau akan marah Neji." Ucap Naruto.
"Marah?, kenapa aku harus marah?, lagi pula ini demi bocah tampan inikan?, jadi aku tidak mungkin akan marah." Ungkap Neji sambil mengelus kepala Key. "Lagi pula kau sudah berjanji akan menjaga Hinata, jadi aku percaya padamu. Kau adalah pria yang baik, pasti kau bisa memegang janjimu." Imbuhnya sambil menatap Naruto dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Hm!, terimakasih karena kau sudah mengijinkan keponakanmu untuk menjadi pembantuku. Dan sesuai janjiku, aku akan menjaga Hinata dan memenuhi semua kebutuhannya." Ungkap dan janji Naruto pada Neji.
"Sama-sama Naruto, dan sekarang kau sudah bisa membawa Hinata pergi bersamamu,"
"Ya!" angguk Naruto. "sekali lagi terimakasih Neji!" ungkapnya dengan senyuman tipis.
"Hm!" angguk Neji. 'akhirnya aku bebas juga dari tanggung jawab' ungkapnya dalam hati sambil menyeringai penuh kemenangan. Dasar Paman tak bertanggung jawab.
"Aku pamit dulu Paman!" ucap Hinata pada Neji sebelum pergi.
"Ya pergilah!" balas Neji dengan anggukan pelan, ekspresinya mengatakan seolah-olah ia sudah terbebas dari segala beban dan tanggungan.
"Barbie gendong!" pinta Key dengan nada manja sambil merentangkan tangannya kearah Hinata.
"Iya sayang!" angguk Hinata menyanggupinya, lalu iapun mengangkat tubuh Key dan menggendongnya.
"Maaf jika Key sangat menyusahkanmu," ungkap Naruto merasa tak enak hati pada Hinata yang begitu sangat perhatian dan baik sekali pada Key.
"Tidak apa-apa!" geleng Hinata sambil tersenyum manis.
"Ya sudah kalau begitu kami pergi dulu Neji!" pamit Naruto pada Neji.
"Iya hati-hati." Seru Neji sambil melambai-lambaikan tangannya.
Naruto, Hinata dan Keypun akhirnya pergi meninggalkan Neji. Mereka bertiga terlihat sangat serasi layaknya sebuah keluarga. Orang-orang yang melihatnya saja pasti merasa sangat iri.
… …
my little servant
…
Hongo Green Hills Residence, Bunkyo, Tokyo,
naruto's house,
.
Rumah mewah bergaya minimalis milik Naruto telah terlihat didepan mata, kini Hinata, Key dan sang pemilik rumahpun turun dari mobil yang berhenti dihalaman rumah yang cukup luas. Setelah mengantar Hinata kerumah Neji untuk berkemas, Narutopun segera memutuskan untuk langsung pulang kerumahnya supaya putranya yang tampak lelah dan ngantuk itu bisa istirahat.
"Sini biar aku saja yang gendong," ujar Naruto sambil mengambil alih tubuh Key dari gendongan Hinata. Putra kesayangannya itu ternyata sudah terlelap rupanya.
"Rumah ini kelihatan sepi sekali," komen Hinata sembari melihat kesekitar teras rumah.
"Setelah bercerai dengan istriku, rumah ini memang sering kosong karena aku jarang sekali menghabiskan waktuku dirumah ini. Aku ini orang yang sibuk, jadi aku sering menitipkan Key dirumah orangtuaku jika aku sedang sibuk dikantor." Jelas Naruto pada Hinata.
"Tapi rumah ini tidak angkerkan karena sering ditinggal?," tanya Hinata sambil memegang tengkuknya.
"Hah.." Narutopun tersenyum dan terkekeh pelan mendengar ucapan Hinata. "dasar remaja penakut!, kau terlalu percaya dengan mitos-mitos tak masuk akal seperti itu," ungkapnya sambil mengacak ujung kepala Hinata pelan, lalu Narutopun segera masuk kedalam rumahnya.
'Dia mengusap kepalaku,' gumam Hinata dalam hati dengan senyuman manis sambil menyentuh kepalanya yang sempat diusap lembut oleh Naruto tadi. Hinata senang sekali, lalu iapun segera menyusul Naruto masuk kedalam rumah minimalis itu.
. .
"Nah Hinata ini kamarmu, dan kamar Key ada disebelah kamarmu. Sedangkan kamarku ada didepan kamar kalian." Ujar Naruto sambil memperlihatkan kamar yang cukup mewah pada Hinata. Kamar bernuansa putih dan abu-abu yang sangat indah, dilengkapi dengan queen bed, Led tv, AC, lemari berwarna putih yang besar, toilet, meja rias, dan beberapa barang elektronik lainnya. Hinata tersenyum senang saat melihat kamarnya yang begitu luas dan mewah, karena kamarnya dirumah Neji sendiri tak sebagus ini.
"I like it," gumam Hinata pelan.
"Kenapa?" delik Naruto.
"Ah.. eung.. aku suka kamarnya," balas Hinata dengan kikuk, memalukan sekali bila Naruto sampai tahu jika ia sangat mengagumi kamar ini.
"Syukurlah bila kau suka," Narutopun tersenyum manis menanggapinya. Jantung Hinata serasa mau copot saat melihat senyuman manis Naruto.
"La-lalu.. apa tugasku sehari-hari?" tanya Hinata agak terbata, gara-gara senyuman manis yang Naruto suguhkan barusan, mendadak Hinata jadi salah tingkah.
"Tugasmu sama seperti pembantu-pembantu pada umumnya, mengurus Key, menyiapkan sarapan, makan siang, makan malam, menjemputnya sekolah, dan mengajaknya bermain. Soal mencuci pakaian kau tidak usah melakukannya, karena biasanya ada tukang laundry yang datang kesini setiap seminggu sekali, soal kebersihan rumah ini juga sudah aku serahkan pada jasa cleaning service, jadi kau sudah tidak perlu repot-repot untuk membersihkannya." Jelas Naruto panjang lebar.
"Hm, aku mengerti." angguk Hinata paham.
"Oh ya dimana kampusmu?" tanya Naruto.
"DiTodai," jawab Hinata singkat.
"Waah.. hebat, kau ternyata mahasiswi Todai. Sekarang kau sudah semester berapa?"
"Semester lima,"
"Hm, berarti kurang 3 semester lagi,"
"Iya,"
"Biasanya kau pergi kekampus naik apa?"
"Hmm.. Shinkansen,"
"Kalau begitu mulai besok aku yang akan selalu mengantarmu dan Key,"
"B-benarkah?" tanya Hinata dengan mata berbinar, diantar kekampus setiap hari oleh pria setampan Naruto, mahasiswi mana yang tidak senang.
"Hm, tentu saja." angguk Naruto sambil menatap heran kearah Hinata.
"…" dan Hinata yang merasa jika dirinya terlalu berlebihanpun langsung tertunduk malu.
"Ya sudah, kalau begitu silahkan menata barang-barangmu dikamar. Aku harus kembali kekantor sebentar," ujar Naruto sambil melihat jam tangannya.
"Kembali kekantor?, untuk apa?" tanya Hinata dengan wajah heran. Pemuda tampan didepannya satu ini memang benar-benar orang sibuk.
"Masih ada beberapa dokumen yang belum selesai kutanda tangani, tapi aku janji tidak akan lama. Mungkin pukul 07.00 malam aku sudah pulang," jawab Naruto.
"Hm, baiklah." angguk Hinata.
"Baiklah kalau begitu aku berangkat dulu, titip Key ya!" pamit Naruto, lalu segera beranjak meninggalkan Hinata.
"Tunggu Naruto-kun!" cegah Hinata sambil menarik tangan Naruto. Berani sekali gadis muda itu, dan mungkin hanya pada Naruto saja Hinata akan bersikap seberani ini. Ada apa dengan Hinata yang pemalu itu?, pertama ia dengan beraninya menyuapi Naruto, lalu memijat kepalanya, mengelapi wajahnya dengan tissue, dan sekarang menarik tangannya. Padahal mereka baru saja kenal, tapi pesona Naruto benar-benar telah merubah karakter dan sosok Hinata yang sesungguhnya.
"Ada apa?" tanya Naruto sambil menatap tangannya yang ditarik oleh Hinata.
"Ah euh…" Hinata dengan salah tingkahnya langsung melepaskan tangan Naruto. Wajahnya benar-benar sudah semerah kepiting rebus. Ia merutuki kebodohannya, tak menyangka jika dirinya bisa melakukan hal-hal yang tak biasa ia lakukan pada seorang pria.
"Ada apa Hinata?" tanya suara sexy yang agak serak itu.
"Dirumah ini.. pasti persediaan bahan makanannya tidak adakan?, boleh aku minta uang untuk membeli kebutuhan dapur?" pinta Hinata agak ragu.
"Oh.. ya Tuhan aku sampai lupa, untung kau mengingatkanku tentang hal itu. Ya tentu saja boleh!" Narutopun membuka dompet tebalnya dan mengambil sebuah Credit Card. "Pakai ini untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari, pakai juga untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Aku tidak akan menggajimu tiap bulan, tapi kau boleh memakai Credit Card ini sepuasmu, terserah kau ingin beli apa." iapun menyerahkan Credit Cardnya pada Hinata yang masih terdiam tak percaya.
"Ta-tapi… sebaiknya jangan," tolak Hinata sambil mendorong tangan Naruto pelan.
"Kenapa?" delik Naruto heran, ia merasa sangat aneh dengan Hinata. Biasanya wanita manapun pasti akan langsung berteriak kegirangan ketika menerima Credit Card cuma-cuma dari seorang pria. Tapi Hinata malah menolaknya. Aneh!
"Sebaiknya anda menggajiku layaknya pembantu-pembantu pada umumnya saja, karena…"
"Karena?"
"Karena… aku takut.. tidak bisa mengontrol kegilaanku dalam belanja jika anda memberikanku Credit Card itu," jawab Hinata dengan lirih, malu sekali ia mengakui ini didepan Naruto.
"Jadi kau ini shopaholic begitu?" tanya Naruto tak percaya, pantas saja pakaian yang dikenakan oleh Hinata terlihat begitu elegan dan berkelas. Ternyata gadis kecil didepannya ini mempunyai hobi yang cukup ekstrim, pantas saja Neji tenang-tenang saja saat menyerahkan keponakannya itu pada Naruto. Bahkan Neji tampak terlihat sangat lega, Naruto benar-benar tak habis pikir. Pemuda tampan itu masih menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh pelan. Hinata, Hinata, sudah berapa kali gadis itu membuat Naruto tertawa dan tersenyum-senyum geli hari ini?, bahkan selama 4 tahun terakhir, baru kali ini Naruto bisa tertawa lepas seperti ini.
"Hhh.. bukannya shopaholic sih.., tapi.. entahlah.. aku juga bingung dengan diriku sendiri, aku sudah biasa hidup mewah selama kedua orangtuaku masih hidup, bisa beli tas branded, bisa beli sepatu-sepatu mahal yang kuinginkan, gaun mewah, make up mahal, pokoknya semua yang aku butuhkan dan inginkan selalu terpenuhi, aku ini perempuan, perempuan yang wajar bila menginginkan semua hal itu. Tapi semenjak kedua orangtuaku meninggal dan terbelit hutang, aku sudah tidak bisa melakukan itu semua lagi karena seluruh harta peninggalan orangtuaku disita oleh bank, bahkan sebagian tas branded, sepatu, dan gaun mewah yang aku miliki telah kulelang untuk melunasi sebagian hutang Ayahku. Aku ini anak tunggal, dan sebelum meninggal Ayahku menitipkanku pada Paman Neji. Tapi Paman Neji sepertinya sangat terbebani dengan hal itu, apalagi mengetahui aku yang gila belanja dan sering menghabiskan uangnya, tapi aku tidak pernah meminta padanya, istrinya sendiri yang sering membelikanku tas, sepatu, baju dan alat make up, istrinya begitu sangat baik padaku." Jelas Hinata panjang lebar, gadis cantik itupun sempat meneteskan airmata karena mengingat kedua orangtuanya. Naruto yang mendengar penjelasan Hinatapun jadi merasa kasihan dan iba dengan gadis itu. Masih kecil, tapi cobaan yang diterima oleh Hinata jauh lebih besar.
"Ssshh!" Narutopun mencoba untuk meredam isakan Hinata dengan menghapus airmata gadis imut itu.
"Apa aku salah… jika aku memang gila belanja?, bukannya wajar ya bila perempuan itu suka beli tas, baju, sepatu dan alat make up yang mahal untuk menunjang kecantikan mereka. Tapi kenapa banyak pria yang tidak suka dengan perempuan yang seperti itu, bahkan aku saja tidak pernah pacaran karena banyak pria yang takut untuk menjadikanku pacar," ungkap Hinata dengan isakan kecil dan bibir yang merengut sebal, Naruto sempat tersenyum geli melihat bibir mungil Hinata dimanyunkan seperti itu. Hinata tampak semakin imut.
"Kenapa mereka takut?, harusnya merekakan merasa bahagia dan beruntung karena mempunyai pacar secantik dirimu," tanya dan ujar Naruto.
"Mereka takut jika nantinya aku akan meminta ini dan itu, padahal mereka belum tahu siapa aku. Aku juga tidak pernah meminta, sekali saja tidak pernah. Tadi saat aku meminta uang pada anda, itu adalah pertama kalinya aku meminta sesuatu pada orang lain. Kedua orangtuaku selalu memanjakanku karena aku anak tunggal, mereka memberikan semua apa yang aku inginkan, tapi aku tidak pernah meminta, mereka yang memberikannya sendiri. Bibi Tenten istrinya Paman Neji juga begitu, dia yang selalu memberikan semua kebutuhan yang aku perlukan, dan aku tidak pernah meminta apapun darinya." Jelas Hinata sambil menundukkan kepalanya sedih, namun beban pikiran yang selama ini ia tanggung akhirnya keluar juga. Hinata merasa sangat lega karena telah menceritakan segenap keluh kesahnya pada Naruto.
"Kalau begitu mulai sekarang aku yang akan memberikan segalanya untukmu," ucap Naruto sambil mengangkat dagu Hinata agar menatap kearahnya.
"A-apa?" tanya Hinata tergagap, ia tak salah dengarkan?
"Hm, tetap pegang Credit Card ini dan gunakanlah sepuasmu, kau boleh membeli barang-barang apapun yang kau mau asalkan kau tidak melupakan tanggung jawab serta tugasmu dalam menjadi seorang pembantu, putraku tetap harus kau perhatikan dan kau urus dengan baik, mengerti!" Narutopun menyerahkan Credit Cardnya ketangan Hinata hingga gadis cantik itu menggenggamnya.
"Ta-tapi–"
"Tidak ada tapi-tapian Hinata, jika pembantuku bahagia dan senang. Pasti dia akan melakukan semua pekerjaannya dengan bagus." Potong Naruto dengan cepat. Pemuda dewasa itupun memperlihatkan senyuman manisnya kembali pada Hinata, membuat Hinata benar-benar sudah tidak tahan lagi untuk…
Grep!
memeluknya.
"Terimakasih Naruto-kun!" ungkap Hinata sambil memeluk tubuh Naruto dengan erat.
"Eh!, Hinata?" Narutopun terkejut mendapat pelukan erat dari Hinata.
"E' maaf!" seolah tersadar atas kelancangannya, Hinatapun segera melepaskan pelukannya dari Naruto. "Ma-maafkan aku, aku tadi reflek," ungkapnya dengan salah tingkah, muka memerah dan sedikit gugup.
"Hm, tidak apa-apa." geleng Naruto sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, rupanya pria tampan itu merasa gugup juga.
"Kalau begitu cepatlah berangkat, biar aku yang menjaga Key dirumah." ujar Hinata mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba berubah menjadi canggung ini.
"Iya!" angguk Naruto. "Aku berangkat dulu ya!" pamitnya, lalu segera pergi meninggalkan Hinata.
"Hati-hati Naruto-kun!" ucap Hinata sambil berjalan mengantar Naruto kepintu depan.
. .
Setelah kepergian Naruto, Hinatapun langsung membereskan barang-barang serta bajunya dikamar. Gadis cantik itu sampai bersenandung kecil karena saking senangnya, jantungnya masih terasa berdebar-debar, dan Hinata masih belum bisa berhenti untuk memegangi dadanya yang terasa sesak. Perasaan apa ini?, apakah ia telah jatuh cinta pada Naruto secepat ini?, tidak mungkinkan. Tapi kenyataannya Hinata memang merasakan hal yang dinamakan cinta itu saat ini.
"Cinta?, sama Paman Naruto?" tanya Hinata dengan suara lirih sambil tersenyum-senyum malu, ia pegang dadanya dengan erat, seolah merasakan degub jantung yang tak henti-hentinya berdebar-debar dengan kencang. "Tapi bukankah ini terlalu cepat?" tanyanya lagi dengan helaan nafas kecewa, perasaan yang ia rasakan dengan waktu yang cukup singkat ini membuat Hinata merasa ragu-ragu dalam mengungkapkannya. Ini cinta, atau hanya sekedar rasa kagum semata?, tapi kenapa saat didepan Naruto ia merasa salah tingkah, degub jantungnya bekerja makin keras, perutnyapun terasa bergejolak seperti dimasuki oleh beribu-ribu kupu-kupu yang berterbangan disana. Jadi.. bisakah Hinata menyimpulkan jika perasaan yang ia rasakan pada Naruto saat ini adalah perasaan Cinta?
"Aku pendam saja dulu untuk saat ini," gumamnya sambil menghembuskan nafas berat, lalu kembali beraksi untuk melanjutkan acara beres-beresnya.
. .
Key's bed room.
"Barbie.." gumam Key dengan nada parau, pemuda kecil itu baru saja bangun tidur ternyata.
"Key sudah bangun?" tanya Hinata yang tiba-tiba masuk kedalam kamar Key. Gadis cantik itu sudah selesai membereskan barang-barangnya dikamar, dan kini saatnya ia menjalankan tugasnya menjadi seorang pembantu.
"Ternyata Barbie benar tinggal dengan Key," ungkap Key dengan senyuman manis. Bocah imut yang masih memakai seragam TKnya itu terlihat begitu tampan meskipun baru bangun tidur.
"Tentu saja sayang," Hinatapun turut membalas senyuman manis Key dengan senyuman hangatnya. Gadis imut yang sudah mengganti dress ketatnya dengan hotpans hitam dan kaos oblong berwarna pink itu lantas segera menaiki ranjang Key dan mengelus rambut Key yang masih berbaring. Ternyata tak hanya terpesona dengan sosok Ayahnya, Hinata juga terpesona dengan sosok Key yang begitu tampan dan juga imut. "Key mandi ya!, habis itu kita makan malam. Barbie sudah buatkan Key tempura yang sangat lezat," ujarnya pada Key.
"Huum!" angguk dengan cepat dan antusias. "Daddy mana?" tanyanya.
"Eumm… Daddy sedang ada urusan sebentar dikantor, tapi sebentar lagi Daddy janji akan segera pulang." Jawab Hinata masih dengan setia mengelus-elus rambut Key yang harum dan lembut.
"Uuuhhh… Daddy selalu saja sibuk, padahal sudah janji sama Key kalau Daddy akan selalu ada untuk Key. Daddy selalu meninggalkan Key sendirian.." keluh Key dengan nada sebal sambil mencebikkan bibir mungilnya.
"Daddy janji hanya sebentar Key, lagipula kan ada Barbie, Key lupa ya?"
"Oh iya.." Keypun menepuk keningnya pelan, seolah merutuki kebodohannya yang sudah melupakan keberadaan Hinata. Dasar bocah polos.
"Ayo mandi sekarang, Barbie mandikan ya!" ajak dan tawar Hinata supaya Key bisa melupakan tentang kekecewaannya terhadap Naruto.
"Benarkah?, Barbie mau mandikan Key?" tanya Key dengan nada gembira.
"Iya Key-kun sayaaang!"
"Horeee… ayo Barbie!" Keypun merentangkan kedua tangannya, memberi isyarat jika ia ingin digendong oleh Hinata.
"Oke!" dan Hinatapun dengan senang hati menuruti keinginan Key. Gadis cantik itu segera menggendong tubuh majikan kecilnya dan membawanya masuk kedalam kamar mandi.
… …
my little servant
… …
Tak terasa pagi telah menjelang dengan begitu cepat. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 06.00 pagi, namun cuaca diluar sana sudah tampak terang dan cerah sekali. Hinata yang semalaman tidur menemani Keypun segera bergegas untuk memulai pagi pertamanya sebagai seorang pembantu dari Uzumaki Naruto. Dan ngomong-ngomong soal Naruto, apakah pria tampan itu sudah pulang ya?, mengingat semalam Hinata tidak melihatnya sama sekali karena setelah makan malam bersama Key, gadis cantik itu langsung ditarik Key menuju kamarnya untuk menemaninya bermain dan belajar, lalu setelah itu merekapun tertidur.
"Aku mandi lalu menyiapkan sarapan saja dulu, lalu mengecek kamarnya. Mungkin dia sudah pulang," gumam Hinata sendirian, lalu iapun segera bergegas menuju kamarnya untuk mandi.
. .
Setelah selesai mandi dan memakai pakaian santai, kini Hinata segera keluar dari kamarnya dan beranjak menuju dapur, namun saat keluar kamar, ternyata Hinata menemukan Key yang baru bangun didepan kamarnya.
"Barbie!" panggil Key dengan suara yang masih serak sambil mengucek-ucek matanya.
"Key sudah bangun sayang!, langsung Barbie mandikan saja ya, terus habis itu kita siapkan sarapan," ucap Hinata pada Key yang langsung menanggapinya dengan anggukan setuju.
"Ayo!" Hinatapun langsung menuntun Key kembali menuju kamarnya.
. .
"Wah.. tampan sekali," ungkap Hinata setelah selesai menyisir rambut Key. Key sudah selesai mandi dan memakai seragam TKnya, pemuda kecil itu tersenyum lebar mendengar pujian dari 'Barbienya'.
"Cium dong Barbie!" pinta Key sambil menunjuk-nunjuk pipi gembilnya.
"Key genit ya hihi!" kekeh Hinata sambil mencubit pipi gembil Key dengan gemas.
"Biarin wee..." Keypun menjulurkan lidahnya mengejek Hinata.
"Sini-sini!"
Cup!
Cup!
Hinatapun mencium kedua pipi Key dengan lembut.
"Nah sudah, kita siapkan sarapan yuk!" ajak Hinata.
"Ayooo!" seru Key sambil mengangkat kedua tangannya keatas dengan gembira.
eat room
Setengah jam berlalu dengan cepat, Hinata telah selesai menyiapkan sarapan pagi berupa Yakimeshi yang sangat lezat. Yakimeshi tersebut ia bagi menjadi tiga porsi untuk dirinya sendiri, Key dan juga Naruto. Naruto?, hampir saja Hinata lupa untuk mengecek kamar majikannya itu.
"Key tunggu sebentar disini ya!, Barbie mau lihat Daddy dulu."
"Iya Bie!" angguk Key dengan patuh.
Hinatapun tersenyum mendegar panggilan barunya yang lebih singkat itu, lalu tanpa berlama-lama lagi iapun segera beranjak menuju kamar Naruto.
Naruto's bed room
Seorang lelaki tampan bertubuh atletis masih tampak terlelap diatas ranjang king sizenya, pria dewasa 32 tahun bernama Naruto itu tidur dengan hanya mengenakan celana kantor berwarna hitam. Kemeja putih dan jas hitam yang ia pakai kemarinpun tampak berserakan dilantai. Mungkin ia terlalu lelah, makanya pulang kantor ia langsung tidur tanpa mengganti pakaian formalnya dengan piyama tidur terlebih dahulu.
"Oh my…" pekik Hinata dengan jeritan membisik. Gadis cantik itu langsung membekap mulutnya yang hampir saja menjerit keras karena melihat pemandangan indah yang tersaji secara cuma-cuma didepan matanya. Hinata memang sengaja masuk secara langsung kekamar Naruto, karena ia yakin jika majikan tampannya itu pasti masih tidur atau mungkin tidak ada dikamar, makanya Hinata nekad masuk kekamar Naruto tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, meski mengetuk pintupun, pasti Naruto tidak akan membukakannya. "dia memang benar-benar malaikat," bisiknya dengan wajah yang sudah memerah seperti kepiting rebus. Hinata mendekat kearah ranjang Naruto, lalu duduk ditepi ranjang tersebut. Kedua mata amethystnya masih tak henti-henti terpaku menelusuri tubuh indah karya Kami-sama milik Naruto. Apalagi Naruto tidur dengan tubuh shirtless, wanita mana yang tidak langsung menjerit histeris ketika melihat tubuh atas Naruto yang begitu sexy dan menggoda. Hinata saja sampai meneguk ludahnya berkali-kali, otot perut dan dada bidang Naruto benar-benar membius mata Hinata.
"Usia dan bentuk tubuhnya benar-benar tidak singkron," ungkap Hinata dengan nada membisik sambil mencoba menyentuh perut Naruto. Entah mendapat keberanian dari mana, gadis itu benar-benar nekad ingin menyentuh pahatan alami yang terbentuk diperut datar Naruto. 'Hinata apa yang kau lakukan?' jeritnya dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, meski ingin menolak tindakan nekadnya saat inipun, Hinata tetap tidak bisa. Buktinya jemari lentiknya itu masih bertengger manis diatas perut Naruto, merabanya pelan hingga sesuatu yang tak terdugapun terjadi..
Hup!
"Aaaaaaa!" jerit Hinata dengan suara keras, namun ia segera membekap mulutnya agar Naruto tak mendengar jeritanya. Hinata benar-benar tak percaya dengan posisinya sekarang, entah kenapa tiba-tiba tubuhnya sudah berada diatas tubuh Naruto. Dan ia merasa jika tadi ada yang menarik tangannya hingga ia jatuh menimpa tubuh pria tampan yang ada dihadapannya saat ini. "A-a-apa yang anda lakukan Naruto-kun?" tanya Hinata tergagap sambil menatap wajah Naruto yang hanya berjarak 2 senti dari wajahnya. Narutopun tak menjawab pertanyaannya karena pria itu masih memejamkan kedua matanya dengan rapat. Malah kini kedua tangan kekar milik Naruto sudah bertengger dipantat Hinata dan meremasnya dengan gerakan yang cukup kuat.
"Ahh.. Nar–" Hinatapun langsung membekap mulutnya kembali sebelum desahan yang ia keluarkan dari mulutnya terdengar lebih keras lagi.
Kedua mata Hinata membulat sempurna saat pantatnya diremas kuat oleh tangan kekar Naruto, ia tak menyangka sama sekali jika pria tampan didepannya ini bisa melakukan hal yang cukup membuatnya merasa enak pagi ini. Tunggu dulu, apa maksudnya dengan enak?
"Na-Naruto-kunhh.." dengan nada terbata dan sedikit mendesah, Hinatapun mencoba membangunkan Naruto dari tidurnya. Gadis cantik bertubuh molek itu menepuk pipi Naruto berkali-kali agar ia bangun.
Sedangkan Naruto yang sudah setengah sadar itupun merasakan sesuatu yang kenyal dan empuk tengah menekan dada bidangnya, samar-samar ia juga mendengar suara lembut yang menenangkan bak suara bidadari tengah memanggil-manggil namanya. Narutopun perlahan mulai membuka kedua kelopak matanya, dan setelah kedua iris sapphire itu menampakkan wujudnya dengan sempurna, betapa terkejutnya Naruto saat melihat wajah Hinata berada hanya 2 senti didepan wajahnya.
"Ayo lepaskan aku!" pinta Hinata dengan wajah memerah sambil menepuk-nepuk pipi Naruto agar pria tampan itu segera tersadar dari loadingnya.
"Haa!" pekik Naruto dengan suara lantang, iapun segera menyingkirkan tubuh Hinata dari atas tubuhnya dengan gerakan yang kasar hingga tubuh Hinatapun terjatuh keatas lantai.
Gedebug!
"Aduhhh!" rintih Hinata sambil memegang pantatnya yang sukses mencium lantai dengan keras.
"Apa yang kau lakukan didalam kamarku Hinata?" tanya Naruto dengan tatapan tak percaya pada Hinata yang masih tersungkur diatas lantai.
"Tentu saja membangunkan anda!" jawab Hinata sambil memasang wajah sebal dan kesakitannya. Bukannya menolong, Naruto malah diam saja. Padahal pria tampan itu yang menyebabkan Hinata jatuh dari atas ranjangnya.
"Lalu kenapa kau bisa berada diatas tubuhku ha?, apa yang kau lakukan?" tanya Naruto dengan nada tak suka. Ia tak menyangka jika gadis sekecil Hinata bisa bertindak senekad itu. Ia pikir jika Hinata adalah gadis baik-baik dan polos, tapi ternyata pemikirannya tentang Hinata itu salah besar. Hinata tak sepolos itu ternyata.
"Anda jangan menatapku seolah-olah aku ini adalah gadis nakal yang sengaja ingin memperkosa anda. Aku tak sejalang itu, dan asal anda tahu, tadi itu aku ingin membangunkan anda supaya anda segera mandi dan kita sarapan bersama. Tapi anda malah menarik tanganku sampai aku jatuh menimpa tubuh anda, anda juga sengaja meremas pantatku dengan kuat. Jadi bukan aku yang bersalah, jangan menatapku seolah-olah aku yang paling bersalah disini, meskipun banyak wanita yang menginginkan tubuh anda, tapi aku bukanlah wanita seperti itu." jawab Hinata panjang lebar dengan nada kesal. Ia kecewa sekali dengan sikap Naruto yang seolah-olah menganggapnya sebagai gadis penggoda.
"Begitukah?" tanya Naruto dengan penuh rasa bersalah. Ia menyesal karena sudah mempunyai pikiran yang tidak-tidak mengenai Hinata. Dan mengenai dirinya yang meremas pantat Hinata, mungkin itu memang benar. Karena tadi Naruto sempat merasakan adanya benda kenyal dan kencang dikedua tangan kekarnya.
"Mau percaya atau tidak itu terserah anda!" ujar Hinata sambil menatap kesal kearah Naruto. Lalu iapun segera berdiri dengan susah payah sambil sesekali meringis kesakitan karena pantatnya terasa ngilu. "Sakit…" rintihnya dengan suara lirih sambil mengusap-usap pantatnya. Hinatapun melangkah tertatih-tatih meninggalkan Naruto yang masih terdiam merutuki kebodohannya. Naruto menatap Hinata iba, ia sungguh merasa bersalah karena sudah mendorong Hinata dengan keras sampai gadis itu jatuh dan pantatnya membentur lantai yang keras.
"Maafkan aku!" ungkap Naruto dengan penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, aku dan Key menunggu anda diruang makan." balas dan ujar Hinata dengan nada ketus, lalu gadis imut itupun menghilang dibalik pintu kamar Naruto.
"Hah!" Narutopun menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil mengacak-acak rambut pirangnya, lalu iapun segera bergegas menuju kamar mandi setelah memunguti bajunya yang berserakan diatas lantai.
. .
eat room
"Barbie!, Barbie kenapa?" tanya Key dengan nada khawatir saat melihat Hinata datang dengan wajah kesakitan sambil mengusap-usap pantatnya.
"Barbie tidak apa-apa Key," geleng Hinata dengan senyuman paksa.
"Bohong!, Barbie sakit ya?"
"Tadi Barbie hanya terpeleset Key, makanya pantat Barbie sakit." Dusta Hinata supaya Key tidak bertanya-tanya lagi padanya.
"Ohhh… lain kali hati-hati ya Bie, Key tidak mau Barbie sampai sakit. Kalau Barbie sakit nanti siapa yang akan menemani Key, mengajak Key bermain dan juga belajar?"
"Iya Tuan Muda Keeey!, Barbie janji akan lebih hati-hati lagi," ujar Hinata sambil memberi hormat pada Key. Keypun tersenyum lebar melihat tingkah laku boneka hidupnya itu.
Lima belas menit kemudian, akhirnya Narutopun datang dengan memakai setelan kantornya berupa celana panjang hitam, kemeja deep blue berlengan panjang dengan dasi berwarna hitam yang melingkar dileher panjangnya, sepatu kantor hitam, dan juga jas berwarna hitam yang masih ia bawa ditangannya. Naruto tampak begitu segar dan menawan, setelan kantor yang ia pakai terlihat sangat pas ditubuh atletisnya, cocok sekali dengan pekerjaannya yang menjabat sebagai CEO dari perusahaan otomotif terbesar se-Asia. Hinata yang melihatnya saja sampai tak mengedipkan mata sama sekali, ia beruntung sekali karena sudah pernah merasakan hangatnya pelukan dari seorang Uzumaki Naruto beberapa menit yang lalu.
"Selamat pagi jagoan Daddy!" sapa Naruto pada Key sambil mengacak rambut putranya itu dengan gemas.
"Aaahhh… Daddy, Barbiekan sudah menyisir rambut Key dengan rapi, kenapa Daddy merusaknya?" pekik Key dengan nada tak terima.
"Yahh.. maafkan Daddy Key!, Daddy tidak tahu sayang," ungkap Naruto merasa bersalah, lalu iapun merapikan rambut putranya kembali.
"Hmm.. tidak apa-apa," angguk Key sambil memanyunkan bibirnya kedepan.
"Hari ini kita sarapan apa?" tanya Naruto pada Key sambil duduk dikursi makannya.
"Yakimeshi Daddy!, Yakimeshi buatan Barbie sangat lezaaaat sekali," jawab Key dengan antusias.
"Wah benarkah?, kalau begitu Daddy mau mencobanya." Ucap Naruto sambil melirik kearah Hinata yang sedang makan dalam diam. 'ternyata masih marah.' gumamnya dalam hati.
Beberapa menit kemudian mereka bertigapun telah selesai untuk menghabiskan sarapannya. Naruto mengakui jika masakan Hinata benar-benar sangat lezat dan sesuai dengan seleranya. Masih kecil tapi Hinata sudah bisa menguasai berbagai hal yang membuat Naruto menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Dimulai dari merawatnya dengan cekatan saat ia sakit kemarin, mengurus Key yang keras kepalanya minta ampun, memasak makanan yang lezat dan mungkin masih banyak lagi keahlian Hinata yang belum diketahui oleh Naruto. Sepertinya Hinata memang sudah cocok untuk dijadikan sebagai seorang Ibu rumah tangga. Bukan begitu Naruto?
"Aku ganti baju dulu, tolong tunggu sebentar." Pinta Hinata pada Naruto.
"Hm," angguk Naruto mengiyakan, lalu Hinatapun segera melesat menuju kamarnya.
"Kita tunggu Barbie dimobil Key!" ajak Naruto pada sang putra.
"Oke Daddy!" angguk Key, lalu ia dan Ayahnyapun segera bergegas menuju keluar rumah.
. .
10 menit kemudian, Hinata belum juga menunjukkan batang hidungnya, alhasil Narutopun menyusul pembantu imutnya itu dikamarnya.
"Lama sekali sih, apa saja yang ia lakukan didalam kamar?" gumam Naruto dengan nada sebal.
Cklek!
Deg!
Detak jantung Naruto serasa mau berhenti ketika melihat Hinata keluar dari kamarnya dengan menggunakan dress ketat berwarna hitam diatas lutut yang memperlihatkan kaki jenjang mulusnya, kedua pahanya juga sedikit terekspos sehingga membuat pria manapun pasti akan meneguk ludah berkali-kali karena melihat bagian tubuh indah Hinata itu. Dress Hinata tak berlengan, maka dari itu ia memadukannya dengan blazer hitam tiga perempat bermotif bunga-bunga untuk menutupi lengannya. Gadis cantik itu juga mengikat rambut indigonya tinggi-tinggi, sehingga leher putih nan jenjangnya itu terekspos dengan indahnya. Hinata memang memakai make up, namun make up yang ia kenakan tidak berlebihan, hanya tipis-tipis, namun tampak begitu menawan dan cantik sekali. Apalagi ditambah dengan stiletto 10 cm berwarna hitam yang ia kenakan dikakinya, membuat tubuh Hinata yang sexy dan bohai itu terlihat semakin indah bak model internasiaonal.
"Kau ini mau kuliah atau mau pergi kepesta sih?" tanya Naruto dengan tatapan tak percaya pada Hinata.
"Aku?, tentu saja mau kuliah." Jawab Hinata dengan nada polos sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ganti pakaian yang lebih wajar sekarang juga, cepat!" suruh Naruto dengan nada kesal. Ia tak menyangka jika gadis sekecil Hinata bisa mempunyai gaya berpakaian yang menurutnya terlalu fulgar, Naruto tidak suka melihat pembantu kecilnya itu berpakaian sexy seperti ini, alias dia tidak rela jika tubuh Hinata yang indah sampai dinikmati oleh mata pria-pria hidung belang diluar sana.
"Tidak wajar bagaimana?, inikan baju mahal.." tanya dan ungkap Hinata tak terima.
"Terserah, pokoknya ganti sekarang juga!" titah Naruto sekali lagi.
"Tapi–"
"Hinata!" sahut Naruto dengan tatapan tajam.
"Baiklah," angguk Hinata patuh, lalu segera kembali kekamarnya untuk berganti baju.
3 menit berlalu, Hinatapun akhirnya keluar dari kamarnya dengan memakai sepan mini berwarna merah hingga mencetak jelas pantat sexynya, dan juga atasan berupa kemeja ketat berwarna putih gading yang sedikit transparan sehingga membuat bra hitamnya hampir kelihatan. Nartopun kembali menghela nafas berat dan menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir melihat menampilan Hinata yang membuat tubuhnya kembali memanas. 4 tahun sudah Naruto berpuasa tentang hal 'itu', dan sekarang gara-gara kelakuan Hinata, Naruto jadi ingin membatalkan puasanya. Sial!
"Ganti Hinata!" perintah Naruto dengan gusar.
"Apa?" tanya Hinata tak percaya, sebenarnya ada apa sih dengan majikannya itu?, kenapa ia disuruh gonta-ganti baju, padahal iakan sudah biasa memakai pakaian seperti ini saat pergi kekampus.
"Aku mohon ganti lagi sekarang!" pinta Naruto dengan nada frustasi. Demi Tuhan, Hinata yang kelihatannya polos dan pendiam itu ternyata hanya covernya saja.
"Iya-iya!" Hinatapun akhirnya masuk lagi kedalam kamarnya dengan wajah sebal.
2 menit kemudian, Hinatapun kembali lagi dengan memakai rok selutut berwarna pink dan kaos masuk warna putih bergambar personel girlband Korea SNSD favoritnya. Naruto yang melihat menampilan Hinata yang sekarangpun jadi tersenyum-senyum geli, ternyata Hinata juga terserang demam K-Pop juga rupanya. Dasar remaja labil. Pikir Naruto.
"Bagaimana?, apa aku harus ganti baju lagi?" tanya Hinata dengan nada sebal.
"Eung… tidak perlu, ini sudah lumayan. Setidaknya tak terlalu fulgar seperti tadi," jawab Naruto sambil melihat tubuh Hinata dari atas sampai bawah.
"Tch!" Hinatapun hanya mendecah sebal mendengarnya.
"Gerai saja rambutmu, jangan pernah diikat-ikat lagi seperti ini, kau terlihat jelek!" Narutopun melepas ikatan rambut Hinata, sebenarnya mau rambut Hinata diikat atau digerai sekalipun, gadis muda itu akan tetap terlihat cantik dan imut, tapi Naruto tidak suka jika leher jenjang Hinata yang putih itu sampai terekspos, atau lebih tepatnya tidak rela jika ada pria lain yang melihatnya.
"Benarkah aku jelek jika rambutku kuikat?" tanya Hinata dengan nada polos.
"Hm!" angguk Naruto. "Makanya digerai saja."
"Baiklah!" angguk Hinata patuh sambil merapikan rambut indigo panjangnya.
"Sebentar," Narutopun segera menerobos masuk kedalam kamar Hinata.
"Naruto-kun apa yang mau anda lakukan dikamarku?" tanya Hinata sambil menyusul Naruto masuk kedalam kamarnya.
"Astaga Hinata!, kau apakan saja kamar ini?, kenapa banyak sekali poster-poster pria shirtless disini?, jangan-jangan kau maniak ya?" tanya dan tuduh Naruto sambil menatap tajam kearah Hinata.
"Apa yang anda katakan?, siapa juga yang maniak?, itu semua foto-foto personel boyband Korea favoritku, itu Lee Gikwang personel B2ST, itu Lee Joon personel MBLAQ, itu Chansung personel 2PM, itu Kim Jae Joong personel JYJ, dan itu No Min Woo, dia bukan anggota dari boyband sih, tapi dia sangat tampan dan cool," jelas Hinata sambil menunjuk kearah posternya satu persatu.
"Ya Tuhan.. kau ini benar-benar Hinata," Narutopun memijit pelipisnya yang terasa nyut-nyutan. Hinata memang dewasa dalam segi pemikiran, tapi kelakuannya tetap, gadis itu memang benar-benar masih remaja. Remaja labil tentunya.
"Naruto-kun kenapa?, anda sakit?" tanya Hinata dengan nada khawatir sambil bergerak mendekat kearah Naruto lalu menyentuh kening pria tampan itu.
"Aku baik-baik saja," Narutopun segera menyingkirkan tangan Hinata dari keningnya. Lalu iapun menatap meja rias Hinata, menelusurinya untuk mencari benda yang ia cari. "Hm, pakai ini!" iapun mengambil sebuah bandana berwarna pink yang terdapat diatas meja rias Hinata.
"Euh?" Hinatapun hanya mengeryit dan menatap Naruto penuh tanya, wajahnya tiba-tiba bersemu merah ketika Naruto memasangkan bandana berpita itu kekepalanya.
"Nah sudah cantik, ayo!" puji dan ajak Naruto sambil merapikan rambut panjang Hinata.
"A-apa?" tanya Hinata tergagap, wajahnya kini sudah semerah kepiting rebus, jantungnya berdegub kencang, Naruto selalu saja sukses membuatnya salah tingkah dan tidak bisa berkutik. Pesona dari pria dewasa berambut pirang itu selalu saja mampu menjerat Hinata mati-matian.
"Ayo!" seolah tak menghiraukan wajah merah Hinata, Narutopun segera menarik tangan gadis itu dan membawanya keluar. Hinata yang masih blushing beratpun hanya pasrah dan mengikuti langkah Naruto.
'Aku mohon jangan pingsan,' gumam Hinata dalam hati sambil tersenyum-senyum memegangi dadanya yang bergemuruh.
. .
"Barbie lama seka– wahhh… Barbieku cantik sekaliii…" ujar Key dengan wajah berbinar pada Hinata yang baru saja keluar dari rumah bersama Naruto.
"Key!" Hinata hanya tersenyum manis menanggapinya sambil menyebutkan nama Key.
"Cepat masuk Hinata!, ini sudah siang," perintah Naruto sambil masuk kedalam mobilnya.
"Iya!" angguk Hinata yang masih malu-malu, lalu iapun masuk kedalam mobil Naruto. Hinata duduk dibelakang karena didepan sudah ada Key. Gadis cantik itu mendudukkan pantatnya dikursi mobil, namun ia lupa jika pantatnya baru saja mencium lantai dengan keras, makanya ia langsung memekik kesakitan saat pantatnya tertekan kursi mobil.
"Ssshh!" ringis Hinata sambil mengusap-usap pantatnya. Iapun merubah posisi duduknya menjadi miring supaya pantatnya tidak tertekan lagi.
"Kau baik-baik saja Hinata?" tanya Naruto dengan nada cemas, ia menoleh kebelakang untuk memeriksa kondisi Hinata, dan bisa ia lihat jika saat ini gadis kecil itu tengah mengusap-usap pantatnya. Pasti pantatnya yang baru saja membentur lantai itu terasa sakit jika dibuat duduk, Naruto jadi kembali merasa bersalah karena ialah yang menyebabkan pantat Hinata terluka.
"Tidak apa-apa," dusta Hinata sambil menggeleng pelan dan tersenyum garing.
"Barbie sakit ya?" tanya Key yang turut menoleh kebelakang untuk melihat Barbienya.
"Barbie sehat Key!" jawab Hinata dengan senyuman memaksa.
"Kita berangkat sekarang!" ujar Naruto yang sudah kembali pada posisi duduk awalnya. Iapun lantas segera menstarter mobilnya dan melajukannya.
"Ishh!" Hinatapun lantas menggerutu pelan melihat sikap Naruto yang acuh tak acuh padanya. 'bukannya minta maaf, malah diam saja.' gumamnya dalam hati dengan wajah sebal.
.. ..
Tokyo Daigaku,
…
Setelah mengantar Key kesekolah, Narutopun segera mengantarkan Hinata kekampusnya, dan disinilah mereka berdua sekarang, didepan Universitas Tokyo yang masih terletak didistrik Hongo.
"Pulang jam berapa?" tanya Naruto pada Hinata. Mereka berdua saat ini sedang berdiri disamping mobil.
"Mungkin siang, aku hanya ada praktek saja hari ini," jawab Hinata.
"Hm!, nanti langsung pulang saja, tidak usah kemana-mana. Biar aku yang menjemput Key," ujar Naruto.
"Iya!" Hinatapun mengangguk patuh.
"Baiklah, kalau begitu selamat belajar. Aku pergi dulu!" pamit Naruto sambil mengusap kepala Hinata. Wajah Hinatapun langsung bersemu merah dibuatnya.
"Hati-hati dijalan Naruto-kun!" seru Hinata sambil melambaikan tangannya pada Naruto yang sudah masuk kedalam mobilnya.
"Hinata!" sapa salah satu sahabat Hinata, Matsuri. Gadis berambut coklat itu langsung menghampiri Hinata dengan berlari kecil. "Cieee… siapa paman tampan dan macho itu Hinata?, Pamanmu ya?" tanyanya pada Hinata yang langsung memblushing mendengar pertanyaan konyol Matsuri.
"Dia majikanku, kaukan tahu sendiri jika Pamanku adalah Paman Neji berambut panjang itu, bukan dia!" jawab dan tutur Hinata memberi pengertian.
"Astaga!, apa kau bilang barusan?, majikan?, yang benar saja Hinata!" seru Matsuri terkejut setengah mati.
"Sssttt!" Hinatapun langsung membekap mulut Matsuri. "Bisa tidak sih kau bicara pelan-pelan saja, nanti banyak orang yang mendengar," ungkapnya dengan nada sebal, lalu iapun melepaskan bekapannya dari mulut sahabatnya yang berisik itu.
"Iya-iya maaf!" ungkap Matsuri dengan nada menyesal. "Lalu pria tampan tadi itu siapa jika bukan Pamanmu?, kau bilang dia majikanmu, aku tidak salah dengarkan?" kini suara Matsuripun lebih pelan.
"Jadi begini…" Hinatapun mulai menjelaskan semuanya pada Matsuri. Ia tidak mungkin menyembunyikan masalahnya sendiri pada sahabatnya itu karena mereka berdua selalu terbuka satu sama lain.
"Ya Tuhan!, jadi benar jika dia itu majikanmu, ckckck… tidak bisa dipercaya. Kau beruntung sekali Hinata!" Matsuripun menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
"Beruntung?" delik Hinata tak mengerti.
"Ya iya beruntung, dia itu seorang CEO dari perusahaan otomotif terbesar se-Asia. Uzumaki Corporation, itukan nama perusahaannya, dan majikanmu tadi bernama Uzumaki Narutokan?, nah.. nama perusahaan otomotif tersebut diambil dari nama marganya, kau tidak tahu ya?"
"Wahh… kenapa aku baru tahu ya?" tanya Hinata pada Matsuri sambil tersenyum kecut.
"Ahh.. kau ini, masa begitu saja tidak tahu. Makanya sekali-sekali bacalah majalah Bisnis, jangan hanya baca majalah Korea dan Fashion saja, seperti aku dong universal!" ujar Matsuri membanggakan diri.
"Iya-iya!"
"Ya sudah ayo masuk, nanti kita telat nihh!" ajak Matsuri sambil melihat jam tangannya.
"Ayo!"
Dan kedua gadis cantik itupun segera masuk kedalam kampusnya.
. .
my little servant
. .
Uzumaki Corp.
naruto's room
.
Siang ini Naruto masih berkutat dengan setumpuk laporan-laporan yang harus ia tandangani. Padahal kemarin malam ia sudah menyelesaikan separuhnya, namun pagi ini berkas-berkas menyebalkan itu harus kembali datang lagi dan lagi dari para karyawannya. Benar-benar menyebalkan, apalagi pikirannya hari ini serasa melayang entah kemana, isi kepalanya itu hanya dipenuhi oleh bayang-bayang Hinata. Gara-gara kejadian memalukan tadi pagi, Naruto jadi tidak bisa fokus kepekerjaannya. Apalagi ia masih merasa bersalah sekali pada Hinata karena sudah menyebabkan gadis kecil itu terluka, Hinata pasti berpikir jika Naruto tidak mau tanggung jawab dan lari begitu saja dari kesalahannya. Padahal Naruto merasa sangat malu sekali bila berhadapan langsung dengan Hinata, pantat empuk dan dada kenyal Hinata selalu saja terbayang-bayang dibenak Naruto bila ia menatap wajah gadis imut itu. Dasar Naruto mesum!
"Hahhhh!, pembantu kecil sialan.. apa yang kau lakukan pada otakku!" ungkap Naruto dengan nada frustasi sambil menjambak rambut pirangnya. "dia hanya anak kecil Naruto, dia lebih pantas jadi anakmu. Jadi jangan berpikiran yang macam-macam terhadapnya!" tuturnya pada dirinya sendiri sambil menghela nafas berkali-kali.
…
..
Hongo Green Hills Residence, Naruto's House,
hinata's bed room,
.
Malam telah tiba, waktu kini menunjukkan pukul 11.00 malam. Namun Hinata masih belum juga bisa tidur karena pantatnya semakin terasa ngilu, mungkin saja memar, mengingat benturan yang ia terima tadi pagi cukup keras.
"Ughh… bagaimana bisa tidur, dibuat duduk saja sakit sekali," keluhnya sambil menggosok-gosok pantatnya. "lebih baik aku kompres saja dengan es batu, siapa tahu memang memar," ucapnya, lalu iapun segera beranjak menuju dapur untuk mengambil es batu.
kitchen room
Saat Hinata hendak ingin mengambil es batu dikulkas, tiba-tiba ada seseorang yang tidak sengaja menubruknya.
Bruk!
Gedebuk!, lagi-lagi, pantat Hinata harus merasakan benturan menyakitkan untuk yang kedua kalinya.
"Aduhhhhh!" pekiknya dengan suara rintihan tertahan.
"Hinata!, kau tidak apa-apa?" tanya seseorang tersebut yang ternyata adalah Naruto. Naruto tampak khawatir sekali saat melihat Hinata merintih kesakitan.
"Sakiiit hiks!" ungkap Hinata dengan isakan kecil. "Aku salah apa sih?, kenapa Naruto-kun menjatuhkanku lagi?, tidak cukupkah yang tadi pagi?" tanyanya pada Naruto sambil mengelus-elus pantatnya yang semakin sakit.
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja," ungkap Naruto merasa sangat bersalah, iapun lantas berlutut disamping Hinata untuk memeriksa keadaan gadis imut yang memakai… astaga, Naruto baru sadar jika Hinata hanya mengenakan Lingerie. Lingerie berwarna putih yang transparan dan hampir saja memperlihatkan seluruh bentuk tubuhnya.
"Pertama anda mendorongku sampai jatuh kelantai, kedua anda menatapku seolah aku ini adalah wanita penggoda, ketiga anda menyebutku sebagai seorang maniak, dan sekarang anda mendorongku lagi kelantai!, maksud anda apa sih?, anda tidak suka padaku?, lantas kenapa menjadikanku sebagai pembantu?, jika begini terus lebih baik aku mengundurkan diri saja… hiks!" ucap Hinata dengan isakan kecil, Naruto yang mendengar itupun jadi gelagapan, Hinata salah paham padanya, Naruto tidak pernah sengaja untuk melakukan semua itu pada Hinata.
"Tidak Hinata, kau salah paham, aku benar-benar tidak sengaja, sungguh maafkan aku, aku.." ungkap Naruto dengan salah tingkah, ia bingung menghadapi gadis kecil seperti Hinata yang sedang menangis, alhasil iapun melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada putranya ketika sedang menangis.
Grep!
Narutopun langsung memeluk tubuh Hinata, bahkan ia juga mengusap-usap punggung Hinata agar gadis itu berhenti menangis.
Hinata sendiri langsung menghentikan isakannya karena saking terkejutnya mendapat pelukan mendadak dari pria tampan yang berhasil mencuri hatinya itu. Wajah Hinata langsung memerah, tubuhnya juga menegang, pelukan Naruto sungguh hangat sekali, wangi tubuh maskulinnya juga sangat menggoda, Hinata jadi ingin pingsan kalau begini situasinya.
"Sungguh.. aku tidak sengaja melakukan semua itu padamu, aku benar-benar minta maaf, tolong jangan mengundurkan diri, aku masih sangat membutuhkanmu terutama Key, aku tidak mau dia sedih karena kehilanganmu," ungkap Naruto dengan penuh penyesalan.
"Tapi–"
"Hinata…" sahut Naruto dengan nada memohon. Luluh sudah hati Hinata jika Naruto sudah memohon seperti ini.
"Ya sudah, aku tidak akan mengundurkan diri," ucap Hinata dengan suara pelan.
"Terimakasih," ungkap Naruto dengan helaan nafas lega. Lalu iapunmelepaskan pelukannya.
"Arghh!" rintih Hinata ketika pantatnya kembali terasa berdenyut-denyut sakit. Gadis itu lagi-lagi meneteskan airmatanya karena tak kauasa menahan rasa sakit.
"Kau baik-baik saja?, pasti ada luka memar dipantatmu," tanya dan ujar Naruto sambil mengelap keringat Hinata.
"Aku kira juga begitu tadi, makanya aku ingin mengambil es batu untuk mengompresnya, tapi anda malah menabrakku dan membuatku terjatuh, sekarang pantatku semakin sakit karena terbentur lantai lagi," ucap Hinata sambil sesekali meringis kesakitan. Narutopun semakin merasa bersalah dan iba mendengar ucapan Hinata.
"Aku benar-benar minta maaf karena sudah membuatmu jatuh untuk yang kedua kalinya," ungkap Naruto dengan penuh rasa penyesalan. Lalu iapun membersihkan airmata Hinata. Membuat wajah gadis itu kembali memerah dibuatnya.
"Tidak apa-apa," geleng Hinata pelan. Demi Tuhan ia kikuk sekali sekarang.
"Tadi aku beli obat oles diApotik, dan sekarang ayo kita obati lukamu," Narutopun segera mengangkat tubuh Hinata ala bridal style.
"Na-Na-Naruto-kun!" pekik Hinata dengan suara terbata.
"Aku akan tanggung jawab Hinata, kau terluka seperti ini itu semua karena aku, jadi aku akan menebus kesalahanku dengan cara mengobatimu,"
"Tapi-tapi–"
"Sudahlah, jangan pernah membantah ucapan majikanmu!" potong Naruto dengan tatapan tajam.
"Baiklah Tuan Uzumaki," angguk Hinata dengan senyuman geli, bukannya takut akan tatapan tajam Naruto, Hinata malah tersenyum geli mendengar apa yang ia ucapkan barusan.
"Tch!, dasar remaja labil!" decah dan ungkap Naruto dengan kekehan pelan.
"Aku ini wanita dewasa bukan remaja labil, jaga ucapan anda ya!" seru Hinata tak terima, namun Naruto tak menghiraukannya sama sekali, kini ia segera membawa Hinata masuk kedalam kamar gadis itu.
hinata's bed room,
"Jangan baringkan aku Naruto-kun, tolong turunkan aku saja," pinta Hinata pada Naruto.
"Kau pasti sulit untuk tidur berbaring ya?" tanya Naruto sambil menurunkan Hinata dari gendongannya.
"Huumb," angguk Hinata. "Jika dibuat berbaring rasanya sakit sekali–" imbuhnya sambil mengusap-usap pantatnya. "–makanya aku tidak bisa tidur,"
"Kalau begitu tengkurap saja," usul Naruto.
"Tidak mau," geleng Hinata.
"Kenapa?"
"Aku tidak biasa tidur tengkurap, dadaku ini besar, jadi kalau aku tidur tengkurap terlalu lama pasti dadaku akan sakit nantinya," jawab Hinata sambil memegang kedua dadanya dengan polos. Ia tak sadar jika ucapannya barusan sudah membuat tubuh Naruto terasa memanas seperti terbakar.
"Lalu?" tanya Naruto sambil menelan ludah berkali-kali dengan susah payah. Penampilan dan sikap polos Hinata saat ini malah semakin membuat Naruto ingin membatalkan puasanya. Tahan Naruto. Tahan.
"Aku tidak tahu–" geleng Hinata. "–mungkin aku akan tetap terjaga saja seperti ini," imbuhnya dengan nada lemas. "Hoamhhh…" uapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir rasa kantuknya. Hinata sudah mulai mengantuk rupanya.
Naruto yang melihat Hinata seperti itupun jadi semakin merasa kasihan, ia sadar jika semua ini adalah salahnya. Ia harus segera bertanggung jawab atas kesalahannya dan membuat Hinata bisa tidur dengan nyenyak malam ini bagaimanapun caranya. Naruto tidak mau jika sakit yang diderita oleh pembantunya itu jadi semakin parah nantinya.
"Kalau begitu kemarilah!" titah Naruto sambil duduk ditepi ranjang. Hinata yang tidak menaruh curiga sama sekali itupun segera menuruti perintah Naruto.
"Ada apa?" tanya Hinata yang sudah berada didekat Naruto.
"Singkap Lingeriemu!" perintah Naruto sambil membuka tutup salep yang ia bawa.
"U-untuk apa?" tanya kembali Hinata dengan nada tergagap.
"Aku akan oleskan obat ini kepantatmu, pasti ada memar disana,"
"T-tapi–"
"Mau sembuhkan?, jadi jangan membantah!" potong Naruto.
"Baiklah!" angguk Hinata dengan wajah memerah. Lalu iapun segera menyingkap Lingerienya secara perlahan sampai pantat mulusnya yang membulat indah itu terlihat. Naruto saja sampai tak berkedip sama sekali ketika melihatnya.
"Ternyata benar ada memarnya," ujar Naruto sambil menyentuh luka memar dipantat Hinata yang cukup lebar dan sudah membiru.
"Aw!, sakit Naruto-kun!" pekik Hinata dengan suara yang cukup lantang.
"Tahan sedikit Hinata!" ucap Naruto, lalu iapun segera mengoleskan salepnya kepantat kanan Hinata yang memar itu. Narutopun sedikit menekan-nekan pantat kencang Hinata dengan lembut.
"Akhh!, jangan ditekan, sakiiiittt!" pinta Hinata sambil meremas Lingerienya sekuat tenaga. Hinatapun kembali meneteskan airmatanya karena kesakitan.
"Sssstt!, katanya wanita dewasa, tapi menahan rasa sakit seperti ini saja sampai menangis," sindir Naruto yang masih melakukan aktivitasnya.
"Anda tidak tahu rasanya makanya bisa bilang seperti itu," seru Hinata dengan nada kesal.
"Iya-iya, sudah ya jangan menangis, ini sudah selesai kok!" Narutopun menutup kembali salepnya, lalu meletakkannya diatas laci. Dan selanjutnya iapun berbaring diranjang Hinata.
"Ke-kenapa anda malah tidur diranjangku?" tanya Hinata sambil membersihkan sisa-sisa airmatanya.
"Kau ngantukkan?, jadi sekarang ayo cepat tidur!" tanya dan ajak Naruto sambil menepuk-nepuk tempat yang masih kosong disampingnya.
"A-apa maksud anda?" tanya Hinata dengan wajah memerah, pikirannya kini sudah mulai membayangkan hal-hal yang iya-iya.
"Jika kau tidak tidur dan memilih untuk begadang semalaman, aku jamin besok badanmu pasti akan terasa meriang. Apalagi pantatmu masih memar, jadi aku tidak mau bila sakitmu nanti semakin parah." Jawab Naruto.
"La-lalu?"
"Hm, tidurlah dipelukanku Hinata!"
"A-apa?" pekik Hinata dengan nada terkejut.
"Kau akan bisa tidur jika berada dipelukanku, karena pantatmu tidak akan tertekan, dadamu juga tidak akan sakit."
"B-benar juga…" gumam Hinata lirih dengan wajah yang sudah memblushing tingkat dewa.
"Ayolah!, ini darurat." seru Naruto sambil menepuk tempat kosong disampingnya.
"Ya sudah!" angguk Hinata dengan nada pasrah. Ia memang sangat membutuhkan tidur untuk saat ini, karena ia sendiri sudah tidak kuat lagi untuk menahan rasa kantuknya. Alhasil Hinatapun segera menaiki ranjangnya, lalu berbaring miring menghadap Naruto yang langsung memeluknya.
"Bagaimana?" tanya Naruto.
"Hangat–umph" Hinatapun langsung membekap mulutnya. Apa yang ia katakana barusan, benar-benar memalukan.
"Hmm, tidurlah Hinata!" titah Naruto dengan senyuman geli. Hinata yang seperti ini benar-benar sangat menggemaskan sekali, Naruto memang harus lebih ekstra dalam menahan hasratnya yang sudah berada diatas puncak itu.
"Boleh aku membalas pelukan anda?" tanya Hinata dengan takut-takut.
"Hm?"
"Boleh ya!" pinta Hinata.
"Jika itu bisa membuatmu tidur dengan nyenyak, maka lakukanlah." Narutopun tersenyum manis menatap Hinata. Jantung Hinata langsung berdebar-debar lebih kencang ketika melihat senyuman manis itu. Wangi tubuh Naruto, dada bidang Naruto, kehangatan Naruto, semua itu membuat Hinata serasa ingin meleleh sekarang juga.
"Terimakasih!" ungkap Hinata dengan senyuman mengembang yang penuh akan kebahagiaan. Ia peluk pinggang Naruto dan ia telusupkan kepalanya didada bidang pria tampan itu. Rasanya sungguh nyaman dan menenangkan. Hinata rasa jika ia akan tidur dengan sangat nyenyak malam ini.
"Selamat tidur pembantuku!" ujar Naruto sambil menguap pelan.
"Selamat tidur sayang!" balas Hinata dengan suara lirih.
"Hm?" delik Naruto tak mengerti, sepertinya barusan ia mendengar jika Hinata memanggilnya dengan sebutan 'sayang', tapi itu tidak mungkin. Pasti Naruto salah dengar, alhasil pria tampan itupun segera memejamkan matanya dan memeluk tubuh Hinata lebih erat lagi.
Dua pasangan pembantu dan majikan itu pasti tidur dengan nyenyak dan mimpi indah malam ini.
… …
…
..
.
To Be Continued
.
Hmmm… gimana nih guys?, udah romantic bgt belum hehehe…
Om Naruto kayanya udah mulai kepincut nih sm Hina-chan,
Kita tunggu aja ya kelanjutannya, sampai jumpa dichap depan yahhh…
Jangan lupa fav n folnya banyakin, awas kalo ngga! *ngancem*
Oke!, dntfrgttoREVIEW.
…
Balesan Review :
.
AnRe : makasih hehe..
Sasara Keiko : mungkin sepuluh chpter, bisa kurang bisa lbih sih, qt liat aja ntar..
Agusgunawan72 : hehe oke, makasih!
Onpu885 : hehe maaf g bs,
Zero Akashi : pasti!
Rizka928 : maksih.. udah suka,
: hehe makaciiii…
virgo24 : siappp!
NaruHina Lovers : hehe maaf ga bs kilat,
zan : okeee, ini uda update ko!
sakuragi : oke!
: justru usia Hinata yg trllu muda itu yg jd daya tariknya, hehe
anbu nyasar : oke.
nelsonthen52 : hehe, maaf g bs trllu cpet.
Dhika : nama g penting, yg pntingkan ceritanya hehe. Oke!
nggk ad nama : makaciiii…
uzuuchi007 : txq.
IndigoRasengan23 : ga papa, aq sngaja buat terlalu jauh selisih umurnya, biar makin beda.
Uzumakynurroni : maaf, ini demi kepentingan plot, author ingin menghadirkan something defferent, jd untuk panggilan g akan mngkin diganti. Lagian apanya yg lebay, qt hidup diera modern, jd panggilan mommy n daddy itu uda biasa.
Kimi Henna NHL : hehehe, skrg fav ya!
Blackschool : oke! Makasih,
Misti Chan : ga papa tua, yg penting perfect. Hehe
Mitosenju : makasih-makasih-makasih… hehe maaf klo ada typo,
hamba hanya pembaca : diusahakan secepetnya, sabar ya!
Byakugan no Hime : hehe, qt liat aja ntar!
Seman99i : Key lebih oke dong!, aq ambil dr nama salah satu personel Shinee.
Naruhinalalala : okeee… ga aneh lah.. tapi gimana gt, hehehe
Naruhina : wah… ga jamin deh ada gtuan, ga bs buat soalnya hehe..
Naatsumi : pasti seru dong!
Guest : hehe, sabar2, diusahain cpt kok.
Sasuhinalemonxxx : hmmm… dasar hentai, wkkk
Dewi NHL : okeee… wait ya.
Guest : sabaaarrrr, ckckck..
Carbon : ya dong, nmanya jg anak2,
Silgain : nmanya juga agak OOC, lagian narukan lg pusing n bnyak kerjaan, mkanya mara2 hehe..
Guren no aiga : hehe maaf g bs petir,
Andrea588 : mkasiiihhhhh, pantengin trs yahhh…
Tara : ookaayyy…
Hanoka : mkasihhh… ini dah lnjut.
Sarah hyuzumaki : oke.
Hami namikaze : wahhh jngn pusing dong, ini uda lnjut kok.
Hqhqhqhq : mkasihh..
Cahaya hime : meski hinata keliatan msih kecil, tp dy udah dewasa kok, kedewasaan seseorang itu bukan dilihat dr umurnya, tp dr pemikirannya. Jd mskipun hinata msih 19 th, tp dy udah siap ko jk suatu saat nkah sm naru hehe, lagian aku sengaja buat selisih umur mereka bd jauh bgt spy bs jd daya tarik. Cintakan g mengenal usia, hehe…
Muruchan : ini uda update.. cpetan bacaa!
