Cinta Penghapus Dosa

Chapter 1

Disclaimer: BLEACH belongs to Tite Kubo

Warning: AU(alternate universe), Islamic content, typo

.

.

.

"Kalian sudah mendengar beritanya?"

"Tentang?"

"Kurosaki yang putus dari Kuchiki tentu saja.

"He... Yang benar?"

"Aku serius. Apa kau pernah melihat mereka berduaan sekarang?"

"Mmhhmm... Benar juga. Sudah sebulan ini mereka tidak bersama"

"Kudengar itu karena Kuchiki sudah punya kekasih baru"

"Serius?!"

"Serius! Aku melihat Kuchiki sedang dekat dengan mahasiswa lain"

"Psst, itu orangnya datang!"

Pembicaraan para mahasiswi penggosip itu terhenti ketika seorang lelaki berambut oranye jabrik dengan jas dokter melewati mereka dengan tatapan tajam seperti elang nan dingin ibarat es. Seorang lelaki tampan lain dengan kacamata bertengger di hidungnya tengah mengimbangi langkah kakinya.

Tidak ada yang berani berkata-kata saat dua orang pria tersebut berjalan karena hawa kehadiran mereka terlalu berat, terlalu menusuk. Namun, setelah keduanya berlalu pembicaraan hangat tak bermutu itu kembali digelar.

Si lelaki berkacamata tidak tuli juga tak cukup bodoh untuk mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan. Dengan penuh keengganan dia bertanya "kau memang tidak tahu apa pura-pura tidak tahu saja, Kurosaki?"

Kedua alis yang pada dasarnya berkerut itu semakin tertekuk "aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Ishida"

Menghela napas kasar, lelaki yang dipanggil ishida itu memandang bosan ke arah lawan bicara "ayolah Kurosaki. Kalau kau tidak mengetahui gosip hangat yang sebulan terakhir ada di kampus kita berarti memang ada yang salah dengan pendengaranmu. Sepertinya mau tak mau aku harus menyeretmu memeriksakan diri ke dokter THT"

Mana mungkin ia tidak tahu kalau objek pembicaraan tersebut adalah dirinya sendiri. Mendecih memang bukan kebiasaan lelaki bermanik coklat madu tersebut. Namun, sebulan terakhir ini ia sering sekali melakukannya " cih, aku tak peduli dengan semua omong kosong itu. Sebaiknya kau tidak mengungkit-ungkit hal itu di depanku lagi jika tidak mau wajah tampanmu itu kuhancurkan, Uryuu Ishida"

Uryuu tau sekali. Jika seorang Ichigo Kurosaki sudah memanggilnya secara lengkap dengan penuh penekanan berarti pria itu benar-benar serius dengan perkataannya "baik, baik. Kau menang kali ini, dokter Kurosaki" ia mengangkat kedua bahunya pertanda menyerah.

Tanpa mengucapkan apapun untuk menanggapi, Ichigo memutuskan untuk berlalu dari sana, tak peduli teman sekaligus rivalnya sejak dulu itu mengikutinya atau tidak.

Uryuu menatap punggung besar lelaki berambut oranye tersebut dengan pandangan yang sulit diartikan "che, kau bisa saja bertindak sok kuat dan tegar. Bagiku kau terlihat seperti ranting kecil. sangat rapuh sekali, Kurosaki" ujarnya entah pada siapa sebelum berjalan menuju tempat yang sama dengan si sulung keluarga Kurosaki tersebut.

~o0o~

Jika orang-orang mendengar nama Kurosaki, pasti yang pertama kali ada di pikiran mereka adalah sebuah keluarga dengan kekayaan yang seakan tidak pernah ada habisnya hingga tujuh turunan. Keluarga Kurosaki seperti memiliki tambang emas dimana-mana karena selalu berhasil meraup keuntungan di setiap bisnis yang mereka jalankan.

Tapi, itu dulu.

Ya, sejak mengalami gulung tikar sembilan tahun silam, di kalangan pebisnis keluarga Kurosaki hanyalah sebuah nama keluarga yang tenggelam ditelan kerasnya persaingan bisnis dan tak ada harganya lagi.

Itulah yang terjadi pada keluarga Ichigo. Harta mereka yang amat sangat banyak itu seperti menguap gara-gara habis digunakan untuk menutup hutang-piutang perusahaan. Belum ditambah karyawan yang menuntut supaya gaji mereka segera dicairkan segera. Beruntung asisten perusahaan mereka saat itu cukup berbaik hati ikhlas tidak dibayar demi mengurus kekacauan yang tak terkendali.

Sang kepala keluarga Kurosaki, Isshin Kurosaki, hanya bisa meratapi perusahaan yang ia bangun dengan susah payah dari nol tidak akan bisa dikembalikan seperti semula lagi. Pria berambut hitam tersebut depresi menghadapi kenyataan itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun serangga.

Tidak cukup sampai disitu. Istri Isshin, Masaki Kurosaki, dilarikan ke rumah sakit akibat serangan jantung yang muncul akibat tidak siap ditinggal sang suami berpulang. Betapa paniknya Ichigo beserta kedua adik kembarnya, Karin dan Yuzu waktu itu karena takut ibu mereka suatu saat bisa meninggal dunia kapan saja. Beruntung sekali, seorang malaikat tanpa sayap dalam wujud dokter bernama Retsu Ukitake menawarkan diri menanggung biaya perawatan ibu mereka tanpa meminta uangnya diganti sepeser pun.

Sejak saat itu, mengesampingkan impian terpendamnya menjadi seorang pebisnis Ichigo bertekad akan menjadi seorangi dokter agar suatu saat ia bisa menolong orang lebih banyak.

Demi menghidupi dirinya, kedua adiknya, juga ibunya yang sedang sakit, Ichigo yang waktu itu masih berusia lima belas tahun rela bekerja paruh waktu di sebuah kafe tidak jauh dari flat yang mereka tempati sekarang. Karin juga tak mau kalah dengan sang kakak. Pagi-pagi buta sekali ia akan menjadi loper koran, mengantar surat kabar terbaru setiap hari dari satu rumah ke rumah yang lain. Sore harinya ia akan bekerja paruh waktu di sebuah convinient store dekat sekolahnya. Sedangkan Yuzu mengambil alih peran sebagai ibu rumah tangga. Ia memenuhi asupan harian keluarga Kurosaki, berbelanja ke pasar, mencuci menjemur dan juga menyetrika baju, mencuci piring, membersihkan rumah, serta masih masih banyak lagi.

Singkat kata, anak-anak keluarga kurosaki tersebut berubah menjadi anak yang mandiri walau biaya sewa flat mereka juga ditanggung separuh oleh Dokter Retsu. Masaki yang tidak mampu berbuat apa-apa hanya bisa menangis terharu melihat perjuangan anak-anaknya. Wanita paruh baya tersebut cuma bisa berharap juga berdoa semoga mereka diberi kelancaran serta kesuksesan kelak di masa yg akan datang.

~o0o~

"I-ichigo... Sama..."

Anak berambut oranye itu berusaha melihat di sekelilingnya. Agak kesusahan karena ada cairan merah pekat yang terus-terusan menetes menghalangi pandangannya. Tangan mungilnya mencoba menyeka cairan bewarna merah itu. Menoleh ke samping kanan ia mendapati seorang gadis cilik dengan wajah buram terbaring di aspal.

Kepalanya didera sakit yang tak terperikan, Layaknya dihantam dengan sebuah martil berkekuatanpenuh dari depan. Namun, dengan suara lemah ia berhasil mengucapkan sepatah kata "go-gomen... -"

Meski wajahnya terlihat buram, anak berambut oranye tersebut bisa merasakan kalau gadis bersurai sama dengannya itu sedang tersenyum "j-jangan khawatir... sa-saya... ti-tidak apa-apa... I-ichigo... sa-sama..."

Entah dorongan dari mana, Ichigo merengkuh tubuh mungil itu dalam dekapannya. Sesaat kemudian ia tergugu "go-gomen... Go-gomen... Gara-gara aku... kau..."

Sang gadis yang tak mampu bergerak hanya bisa membisikan sebuah kalimat "sa-saya... a-akan se-selalu... A-ada untuk... I-ichigo sama..."

Teriakan Ichigo yang begitu memilukan membahana, membuat semua orang yang mengerumuni tempatitu ikut merasakan kesedihan juga kepedihannya.

"HUUAAAAA...!"

~o0o~

Sang sulung Kurosaki terbangun dari bunga tidurnya dengan keringat dingin membasahi sekujur tubuh. Ichigo memejamkan mata, berusaha menetralisir rasa sesak dalam dada yang ditimbulkan setiap kali mimpi itu datang.

'Sepertinya mimpi itu terlalu nyata atau hanya perasaanku saja?' lelaki berambut jabrik itu merenung dalam keheningan. Ya, mimpi menyedihkan tersebut hampir setiap malam muncul. Walaupun wajahnya nampak samar-samar juga bahasa yang ia gunakan terlampau formal untuk seorang anak kecil, Ichigo punya perasaan kalau mereka berdua merupakan teman dekat. Lalu surai sewarna langit sewaktu matahari terbenam itu...

Ichigo menengok jam weker yang terletak di samping tempat tidurnya. Benda sebesar kepalan tangannya itu menunjukan waktu pukul empat lebih tiga puluh menit dinihari waktu Jepang. Terima kasih gara-gara mimpi itu rasa kantuknya telah lenyap entah kemana. Akhirnya, si sulung Kurosaki memutuskan untuk berolahraga saja demi menjaga kebugaran tubuhnya.

~o0o~

Tepat pukul enam pagi, Ichigo sudah kembali ke kediamannya. Ketika pintu kayu itu terbuka menyeruak bau masakan yang amat sangat menggugah selera. Sang juru masak, Yuzu, dalam balutan celemek yang membungkus seragam sekolahnya sedang asyik dengan masakannya di dapur hingga tak menyadari kehadiran kakaknya.

"Tadaima" ujar Ichigo.

Sahutan merdu pun terdengar kemudian "okaeri, nii-san." Yuzu mematikan kompor dan mengangkat panci yang masih mengepulkan uap "Nii-san baru pulang darimana?"

Senyuman hangat yang jarang ditampilkan Ichigo kepada khalayak umum terpatri di bibirnya "berolahraga sebentar" Lelaki bermanik coklat madu tersebut lantas celingak-celinguk mencari keberadaan adiknya yang satu lagi "Karin belum pulang?"

Sembari menata makanan di atas meja makan adik Ichigo yang berambut coklat keemasan itu menjawab "masih mengantar koran, nii-san. Mungkin sebentar lagi Karin nee-san akan pulang"

Karin dan Yuzu sebenarnya anak kembar namun tidak identik. Karin lahir sepuluh menit lebih dulu daripada Yuzu. Kalau Karin berambut hitam Yuzu berambut coklat keemasan. Karin tomboy sedangkan Yuzu feminim. Meskipun penampilan dan sifat mereka jauh berbeda mereka tetap saling memaklumi seeta saling menyayangi satu sama lain.

Dan benar saja, tak lama kemudian Karin dengan peluh memenuhi wajah serta lehernya datang seraya berucap terengah-engah "tadaima"

"Okaeri, Karin/ Karin nee-san"

Terkejut mendapati keadaan sang kakak yang tidak berbeda jauh dari dirinya gadis berambut hitam itu bertanya "habis dari mana , Ichi-nii?"

Ichigo tersenyum mendengarnya "berolahraga, Karin. Sebaiknya kau mandi duluan saja.. Kebetulan kuliahku hari ini baru dimulai pukul sepuluh nanti"

Menyambar handuk di tempat jemuran Karin berkata "aku janji tak akan lama!"

Terkekeh geli Ichigo menghadap sang adik yang satu lagi "sarapan untuk kaa-san sudah siap, Yuzu?"

Sebuah nampan berisi semangkuk sup, semangkuk nasi, beberapa lauk khas jepang, juga segelas air putih disodorkan "siap santap, kapten"

"Baiklah aku akan menyuapi ibu dulu. Kalau kau dan Karin ingin makan duluan tidak apa-apa. Biar aku nanti makan sendiri saja. Nanti kalian bisa terlambat kalau menungguku" Ichigo menyambut nampan kayu itu dan berlalu dari sana.

Dengan lirih bibir Yuzu berucap "arigatou, nii-san..."

~o0o~

Mengetuk pintu perlahan, Ichigo berkata "kaa-san, aku masuk"

Si sulung Kurosaki memutar kenop pintu sembari membawa nampan berisi sarapan pagi ibunya masuk ke dalam kamar.

Di pembaringan seorang wanita berumur setengah abad, sedang duduk dengan kaki berselonjor yang ditutupi selembar selimut tebal. Wajahnya masih tetap cantik, meski telah dihiasi guratan halus di sana sini juga beberapa helai eambut abu-abu yang menghiasi surai coklatnya. Secara keseluruhan Masaki Kurosaki tetap menawan walau usia sudah tidak lagi muda.

"Ah, Ichigo. Kau sudah sarapan?"

Lelaki berambut oranye itu menggeleng pelan "aku akan makan setelah kaa-san selesai makan"

Hati Masaki terenyuh melihat perhatian sang anak. Sewaktu masih berada dulu anaknya itu orang yang manja dan egois, keinginannya harus selalu dipenuhi saat itu juga atau ia akan mengamuk. Sekarang lihat putra sulungnya itu, ia lebih mengutamakan orang lain ketimbang dirinya sendiri.

"Arigatou, Ichigo" manik coklat itu sedikit berkaca-kaca. "Gomen ne, kaa-san tidak bisa membantu kalian. Kaa-san rasa kaa-san hanya jadi beban saja di rumah ini..."

Dengan pelan si sulung Kurosaki meletakan meja kayu khusus di pangkuan ibunya untuk melatakan sarapan yang sudah ia bawa tadi. "Ssshhh. Sudahlah, kaa-san. Kami sama sekali tidak menganggap kaa-san beban kok."

Ichigo tersenyum lima jari "justru kami malah senang kok bisa hidup mandiri dan membantu kaa-san. Jadi, kita ambil positifnya saja ya dari kejadian ini" frase 'kejadian ini' merujuk kepada keadaan terpuruk yang mereka alami sekarang.

Masaki ingat sekali kalau anaknya yang paling besar itu berhenti bekerja paruh waktu saat sudah menyelesaikan S1 kedokteran. Ia bukan sengaja berhenti, namun tak punya pilihan lain selain berhenti. Kesibukan pasca kuliah ditambah dengan melanjutkan tingkatannya menuju S2, membuat lelaki bermanik madu itu jarang sekali ada di rumah.

Wanita paruh baya tersebut sama sekali tidak mempermasalahkan waktu Ichigo yang berkurang bersama keluarganya. Juga tidak cemas dengan biaya pendidikan karena anaknya juga mendapat beasiswa dari pihak kampusnya. Masaki hanya khawatir dengan kesehatan buah hatinya itu.

"Jangan lupa perhatikan kesehatan tubuhmu juga, Ichigo" ujar Masaki di sela-sela mengunyah. "Tidak lucu bukan kalau orang yang seharusnya mengobati orang sakit malah jatuh sakit"

Ichigo merespon dengan kekehan. "Kaa-san ini ada-ada saja. Tentu aku tau batas tubuhku sendiri. " Lelaki berusia dua puluh lima tahun itu menampakkan otot bisep lengan kanannya "aku juga tak akan sakit semudah itu."

Ibu tiga anak itu melanjutkan sarapannya dengan tenang. Pandangannya jatuh kepada punggung sang anak yang sedang memandang langit berhias gumpalan awan. Dulu ia sering sekali mendekap punggung itu ketika Ichigo masih kecil, menyalurkan segala afeksinya. Sekarang, rasanya punggung itu terasa kokoh dan hangat sekali. Seakan sudah siap untuk menanggung beban lainnya. Membina sebuah keluarga sendiri.

"Kapan kau akan memperkenalkan kekasihmu kepada kami, Ichigo?"

Pertanyaan itu membuat Ichigo tersentak. Sekelebat bayangan masa lalu menyeruak di kepalanya. Membuat lelaki berusia dua puluh lima tahun tersebut menggelutukan gigi menahan amarah. Kenangan apapun itu di mata seorang Ichigo nampaknya bukan hal yang menyenangkan untuk diingat kembali.

Setelah mengatur napas demi meredakan gemuruh amarah dalam dada, ia menjawab "aku ingin fokus pada keluarga kita dulu, kaa-san. Aku tidak ingin ada yang membebani pikiranku sebelum kaa-san sembuh total terlebih dahulu. Lagipula, kita masih berhutang dengan dokter Ukitake. Rasanya tidak enak jika kita terus-terusan dibantu"

Beruntung Masaki tidak menyadari ekspresi wajah Ichigo yang sempat mengeras tadi. Sebuah senyuman miris bertengger di bibir wanita paruh baya tersebut. Lagi-lagi anaknya itu mengabaikan kebahagiaan dirinya sendiri demi kesehatan dirinya. "Gomen ne, Ichigo. Seandainya saja kaa-san lebih sehat. Pasti kau-"

Sebuah ketukan di pintu kamar menginterupsi pembicaraan itu. Lelaki bermanik coklat tersebut bersyukur tidak perlu menjelaskan perkataan yang sama kepada sang ibu berulang kali. "Silahkan masuk"

Seorang dokter wanita memasuki kamar. Ia menenteng sebuah tas berukuran sedang di tangan kirinya. Senyuman dan juga ekspresi yang cerah tergambar jelas di wajah cantiknya. Ditambah dengan kerudung yang membungkus kepalanya, wanita tersebut nampak begitu memesona.

"Selamat pagi, Masaki-san, Ichigo-kun" sapaannya pun terdengar ramah dan bersahabat.

"Selamat pagi, Ukitake-sensei/Retsu-san"

Sambil terus tersenyum sang dokter ikut duduk di sisi berseberangan dengan Ichigo "bagaimana keadaan anda, Masaki-san?"

"Syukurlah baik-baik saja, Retsu-san" tangan lentik itu mengelus-elus dada. "Dan anda sendiri bagaimana?"

"Alhamdulillah, puji Tuhan baik sekali"

Ichigo tersenyum mendapati interaksi keduanya. Sembilan tahun lalu sampai sekarang senyuman hangat itu masih tetap sama. Tidak pernah berkurang kadarnya sedikitpun. Pembawaan Retsu juga keterbukaan Masaki membuat orang-orang akan berpikir kalai mereka berdua ini merupakan sahabat lama.

"Oh ya, Ichigo-kun" Retsu menoleh pada si sulung Kurosaki. "Kau baik-baik saja?"

Kepala Ichigo mengangguk mantap "saya baik, sensei"

"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu" wanita itu mengulas sebuah senyum kelegaan.

"Ohya, Ichigo-kun" perempuan berhijab itu membuka suara. "Aku mau minta tolong. Bisa kau temani suami saya?"

Dahi itu bekernyit "suami sensei?"

"Dia menunggu di ruang tamu" tambah wanita yang lebih muda lima tahun dari ibu Ichigo itu. "Hari ini dia tidak ada jam mengajar. Daripada tidak ada kerjaan dia putuskan untuk mengantarku saja. Ah, maaf tidak memberitahu sebelumnya."

Mengangguk paham, lelaki itu berjalan keluar. Dengan tangan menyentuh kenop pintu Ichigo menolehkan kepalanya ke belakang "aku hampir lupa. Sensei mau minum apa?"

"Air putih saja kalau kau tidak keberatan" dan setelah itu pintu kamar pun tertutup.

~o0o~

Keluar dari kamar sang ibu Ichigo menemukan sesosok pria berambut putih sedang duduk di atas sofa coklat ruang tamu. Dengan perlahan pemuda berusia dua puluh lima tahun tersebut menghampirinya "Ukitake jii-san?"

Pria tadi menoleh ke sumber suara "ah. kau pasti Ichigo Kurosaki-san bukan?" Senyuman hangat tersungging di bibirnya. "Perkenalkan aku Juushiro Ukitake, suami dari Retsu Ukitake"

Setelah berjabat tangan sebentar Ichigo melirik ke jam dinding di ruang makan. Pukul tujuh lebih lima belas menit. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat kala sudah berbincang-bincang dengan ibunya di dalam kamar. "Anda mau minum apa, Ukitake jii-san? Teh, kopi, atau susu?"

"Kopi saja, Kurosaki-san" pria bermanik tourmaline itu mendudukan dirinya kembali di sofa. "Tanpa gula ya"

"Siap" sahut sang pemuda jabrik seraya beranjak ke dapur. Di kafe tempat ia bekerja dulu dia pernah jadi barista selama dua tahun. Tentu ia cukup mengetahui bagaimana cara meracik kopi agar bau khasnya makin menguat dan rasanya semakin enak.

Ichigo membawa nampan dari dapur. Meletakan kopi pesanan Juushiro terlebih dahulu, ia lalu pergi mengantarkan pesanan Retsu. Tak lama kemudian pemuda dengan tinggi badan seratus delapan puluh sentimeter itu duduk di samping pria yang lebih tua darinya itu.

"Maa syaa Allah, kopi ini nikmat sekali nak" manik tourmaline itu berkilat senang. "Kau belajar bikin kopi dari mana?"

Sambil menggaruk belakang kepalanya yg tidak terasa gatal Ichigo menjawab "saya sempat bekerja paruh waktu di kedai kopi dekat sini, Ukitake jii-san"

Juushiro senang mendengarnya. Seperti deskripsi yang pernah istrinya utarakan pemuda berambut oranye ini adalah tipikal orang pekerja keras, ulet dan rajin. Tidak banyak orang mau bekerja paruh waktu sambil mengambil kuliah kedokteran. Kecuali kalau kau memang sangat-sangat memerlukan uang.

Meletakan cangkir di atas tatakan pria berambut putih lurus itu berdehem "jadi, apa kabarmu sekeluarga nak?"

Meletakan nampan kayu di pangkuannya, Ichigo tersenyum simpul "baik, ojii-san. Kami baik. Ojii-san sendiri bagaimana?"

"Alhamdulillah, puji Tuhan kami selalu sehat" balas Juushiro dengan nada ramah. "Ah, sekarang kau sedang kuliah pasca sarjana bukan?"

Ichigo mengangguk mengiyakan "benar, ojii-san. Saat ini saya sedang mengerjakan desertasi saya. Mohon dukungannya"

"Wah, benarkah?" Decak kagum keluar dari mulut Juushiro. "Semoga lancar dan berkah ya nak."

"Jadwalku padat sekali, kurosaki-san" aku pria itu. "Maaf kalau sembilan tahun terakhir aku baru bisa kemari sekarang. Mohon dimaklumi."

Ichigo menggeleng pelan "ie, tidak masalah, ojii-san. Saya bisa memakluminya. Lagipula kesibukan anda juga buat keluarga anda juga bukan?"

Hening melanda sesaat. Kedua lelaki itu maklum karena baru saja mengenal beberapa saat lalu. Juushiro diam karena ia bingung mau membicarakan apa. Sedangkan Ichigo diam karena tidak biasa memulai percakapan.

"Anak kami mungkin sudah sebesar dirimu sekarang."

Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Juushiro. Membuat dahi si sulung Kurosaki mengeryit dalam. Tanpa sadar ia membeo.

"Mungkin?"

Dan percakapan itu mulai mengalir "kami kehilangan anak kami satu-satunya dalam kecelakaan sepuluh tahun lalu"

Terhenyak dengan kenyataan itu membuat Ichigo merasa tidak nyaman "ah... Maaf, ojii-san... Saya tidak bermaksud-"

Juushiro tersenyum sambil menggeleng "tidak apa-apa. Lagipula memang aku yang tak sengaja mengungkapkannya"

Canggung kembali menyapa. Dua menit mereka berdiam diri membuat Ichigo tak tahan untuk tidak bertanya "apa... Ojii-san tidak merasa sedih...?"

Menatap langit-langit flat berwarna krem, pria itu menjawab tanpa beban "tidak sama sekali"

Rasa pemasaran makin menerpa si sulung Kurosaki "kenapa?"

"Karena... kami tahu... suatu saat ia pasti akan kembali"

Mengundang pertanyaan kembali dari Ichigo "akan... kembali?"

"Semua yang ada di dunia ini baik berupa materi maupun non-materi akan kembali kepada Tuhan, kurosaki-san. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapi semua itu"

Lelaki berambut oranye itu masih diam mendengerkan.

"Ada yang gusar tidak karuan saat menghadapinya. Ia akan melampiaskan dengan menyalahkan siapa saja atau apa saja yang ada di pikirannya bahkan ia akan menyalahkan dirinya sendiri. Pada akhirnya ia akan menyadari kalau yang mereka lakukan itu tak ada artinya, tidak akan memgubah kenyataan yang sudah terjadi."

Penuturan Juushiro terdengar tenang dan meyakinkan. Namun, sekilas Ichigo bisa melihat bahwa sorot manik tourmaline sang pria juga menyimpan luka yang mendalam.

"Ada juga tipe orang yang bisa tegar dan mampu bersabar. Mereka itu mampu menerima kenyataan dengan lapang dada karena mereka mengerti tidak ada yang abadi di dunia ini. Terkadang kesenangan bisa tergantikan oleh kesedihan, Kekayaan bisa digantikan oleh kemiskinan, dan rasa suka bisa berubah menjadi benci."

Juushiro menatap Ichigo lekat "namun, kita juga harus tau bahwa akan ada pelangi dibalik hujan, akan ada kebahagiaan dibalik kepedihan, juga akan ada cinta dibalik kebencian"

Bijak. Satu kata yang ada di otak Ichigo tentang suami Ukitake-sensei sekarang. Meski sorot matanya menyimpan luka ia mampu bangkit dan terus berjalan. Jika ia terjatuh maka ia akan bangkit lagi, lagi, dan lagi. Hari ini ia merasa seperti merasa mendapat harta karun yang tidak ternilai harganya. Membuatnya merasa ringan juga penuh energi untuk menghadapi kerasnya kehidupan.

"Arigatou sudah mau berbagi, ojii-san"

Juushiro hanya tersenyum "douitashimaste, nak"

Tanpa mereka berdua sadari ada dua orang perempuan sedang menguping percakapan mereka sejak awal tak jauh dari sana.

'alhamdulillah, tidak salah rasanya jika mengajak Juushiro-kun kemari. Mungkin suatu saat nanti Ichigo-kun mampu menceritakan masalahnya' batin Retsu.

'syukurlah. Sudah lama aku tidak melihat Ichigo tersenyum serileks itu. Selama ini dia terlalu bekerja keras demi kami sampai dia tidak ingat dengan dirinya sendiri. Kuharap kau akan mendapatkan kebahagiaanmu sendiri, Ichigo' batin Masaki.

.

.

.

Tsudzuku...

.

tourmaline: sejenis permata berwarna hijau

THT: telinga, hidung, dan tenggorokan

.

Assalaamu'alaikum, salam sejahtera, minna-san. Maaf karena saya baru membuat chapter ini sekarang karena padatnya kesibukan.

Jujur saya tidak bisa menjanjikan update cepat karena saya mengerjakannya di smartphone. Data-data yang sudah diketik di laptop MUSNAH gara-gara virus dan tidak ada backupnya. Jadi, saya akan memikirkan ulang setiap plot chapternya.

Bagi yang menunggu Dua Dunia Satu Cinta, mohon bersabar. -_-

Ide penulisan Cinta Penghapus Dosa ini datang tiba-tiba. Saat saya memikirkan request Shona Namikaze di sela-sela kesibukan saya. Berangkat dari permintaan Ichigo yang 'agak' berandal bertemu Orihime yang 'kalem' lalu mereka taarufan. Terlihat mainstream cuma saya berusaha menghadirkan sesuatu yang 'mungkin' berbeda.

Saya butuh kritik dan saran dari minna-san. Saya akan mempeetimbangkan segala sesuatu sehingga cerita ini bisa memuaskan banyak pihak, termasuk saya sendiri.

Akhir kata, terima kasih pada para reviewer, yang kasih fav & follow, juga para silent reader yang mau mampir ke cerita saya.

Wassalaamu'alaikum warohmatullah wabarokaatuh

.

.

.

~sincerely, Zahid Akbar