KHR © Amano Akira

Our True Fate

—The Truth is...—

G27, A18, U80, 0259, 7933, Dae69 ( Family ) Family / Adventure

Warning: OOC, semi-AU, Maybe Shonen Ai

About Tsunayoshi Sawada | 2

Semenjak Reborn hadir di kehidupannya, tidak ada yang tenang di pagi hari tepatnya di kediaman keluarga Sawada. Tsunayoshi Sawada selalu terganggu tidurnya karena sang tutor, dan terkadang berfikir bagaimana keadaannya jika tidak ada tutornya itu.

Dan saat ia diangkat menjadi boss Vongola dan tidak lagi menjadi murid Reborn, ia berfikir kalau ia akan bisa tertidur nyenyak tanpa harus mendapatkan gangguan. Tetapi kenyataannya—kehidupannya seperti keluar kandang singa, masuk kandang buaya. Hampir tidak ada perubahan sama sekali di kehidupannya, bahkan lebih parah dengan laporan pekerjaannya yang seakan tumbuh sendiri tanpa bisa berhenti.

Makanya—sebenarnya ketika ia tahu ia bisa sedikit 'berlibur' dengan munculnya dia di masa Primo Vongola, sedikit perasaannya yang bebas dan juga senang. Tidak ada laporan, tidak ada misi, dan tidak ada—Reborn.

Tidak ada Reborn...

Entah ia harus senang atau tidak, bagaimanapun sudah sepuluh tahun ia bersama dengan Reborn. Entah kenapa ada yang kurang ketika ia berada di tempat ini tanpa mendengar suara ataupun sosok Reborn.

Sudah 1 bulan lamanya, saat mereka muncul di manshion Vongola Primo. Ketika Giotto menawarkan mereka untuk tinggal bersama dengan Giotto dan lainnya, sebenarnya ia sudah cukup lega karena ia tidak membuat Giotto mencurigai kalau mereka adalah mata-mata dari keluarga lain seperti yang dikatakan G.

Sebenarnya, mendapatkan tempat tinggal selama disana—hingga mereka menemukan cara untuk kembali ke masa mereka saja itu sudah cukup, tetapi—sepertinya Giotto dan entah bagaimana guardian lainnya memberikan 'kejutan' lain pada mereka.

—Flash Back—

"Tsuna," kira-kira 2 minggu setelah kedatangan mereka, Tsuna tampak sudah cukup dekat dengan Giotto walaupun masih agak canggung. Bagaimana tidak—seorang pemuda, dengan status sebagai Vongola Decimo, bertemu dengan boss Vongola terkuat dalam sejarah Vongola. Bagaimana mungkin ia bersikap sangat wajar?

"Ada apa Giotto-san?" Tsuna masih memakan pancake dengan saus blueberry yang dibuatkan oleh chef di Vongola. Oke—walaupun usianya sudah 24 tahun, ia memang masih menyukai makanan manis. Jangan salahkan ia—

Dan—

Entah kenapa ia susah sekali untuk makan dengan benar karena tubuhnya yang kecil itu. Tangannya tampak kecil untuk menggenggam ukuran sendok yang cukup besar, dan mulutnya juga tampak terlalu kecil untuk memakan porsi yang biasa ia makan. Dan akibatnya—krim blueberry itu mengotori mulut dan juga pakaiannya ( sebuah celana panjang hitam dan juga kemeja putih—sama persis seperti yang digunakan oleh Giotto ).

"Sudah kukatakan panggil Giotto-nii saja bukan—" Giotto tersenyum dan menghela nafas sambil mengelap mulut Tsuna yang kotor. Tsuna sendiri tampak sedikit panik ketika Giotto melakukan itu.

'Kalau Reborn tahu aku membuat Vongola Primo membersihkan wajahku—aku akan mati!' Fikiran Tsuna berteriak mencoba untuk membayangkan hukuman apa yang akan diberikan oleh Reborn kalau ia bisa kembali ke masanya.

"Te—Tetapi aku tidak biasa, Giotto-san..."

"Ya sudahlah—" melepaskan lap saat mulut Tsuna bersih dari krim, Giotto mengusap kepala Tsuna dengan lembut, membuat anak laki-laki itu menatapnya dengan sedikit semburat merah di pipinya.

'Lagi-lagi perasaan itu—'

"Oh—hampir lupa mengatakannya," Giotto tampak tersenyum lebar, menatap kearah semua guardiannya yang tampak mengurusi guardian Tsuna juga. Seperti G yang sedang memarahi Gokudera karena tidak bisa makan dengan benar, dan ia menjawab dengan alasan umurnya masih kecil, Yamamoto yang tampak tertawa bersama Ugetsu dan mencoba menenangkan kedua storm guardian itu, Ryouhei tampak tertarik dengan semua cerita tinju yang diceritakan oleh Knuckle.

Hibari hanya diam dan memakan hamburgernya ( yang entah bagaimana bisa ia dapatkan ), tidak menatap Alaude begitu juga dengan sebaliknya. Tetapi, terkadang ketika saus tampak jatuh di baju Hibari atau mengotori pipinya, dalam diam Alaude langsung mengelap mulutnya. Sementara Mukuro tampak mencoba untuk tenang dan tetap tertawa, sementara Spade tidak disangka tampak sangat menyayanginya.

"Kami semua sudah berbicara semalam," semua guardian baik primo maupun decimo, tampak menatap Giotto, "kami memutuskan untuk melakukan ini untuk keselamatan kalian. Jadi—apakah kalian ingin kami angkat menjadi anak kami?"

...

"A—APA!"

Penolakan demi penolakan dari Tsuna tampaknya tidak bisa mengubah apa yang menjadi keputusan Giotto. Dengan alasan 'membutuhkan perlindungan' atau 'mereka dalam bahaya kalau mengetahui keadaan mereka' akhirnya Tsuna menyerah. Meskipun beberapa guardian—Gokudera dan Mukuro tampak kurang setuju, pada akhirnya mau tidak mau mereka harus menerimanya.

"...na...Tsuna..."

Tsuna tampak masih berada diatas tempat tidurnya dan melingkar dibalik selimut itu, tampak merasakan tepukan lembut yang membangunkannya perlahan. Mata cokelatnya terbuka sedikit demi sedikit, untuk menatap kearah Giotto yang tersenyum kearahnya.

"Selamat pagi..."

Tsuna mengucek matanya dan mencoba bangkit dengan bantuan Giotto. Menguap kecil sebelum membalas senyuman Giotto.

"Selamat pagi Giotto-san..."

Ya, sampai sekarang—meskipun Giotto sudah resmi menjadi ayah angkatnya, Tsuna tampak tidak bisa memanggilnya dengan ayah atau sejenisnya. Setiap kali seperti itu—tatapan Giotto pasti sejenak menjadi sedih, dan itu membuatnya tidak tenang.

"Ma—Maaf Giotto-san..."

"Apa yang kau katakan Tsuna, kenapa meminta maaf—" tertawa ringan, membantu Tsuna untuk kekamar mandi dan bersiap-siap untuk hari itu. Sementara para maid tampak mempersiapkan baju untuk kedua masternya itu, "—mungkin memang terlalu cepat untukku mengangkatmu sebagai anakku, jadi—tidak apa-apa kalau memang kau butuh waktu untuk memanggilku ayah bukan?"

Tsuna hanya mengangguk dan mencoba untuk tersenyum. Giotto membuka baju Tsuna untuk memandikannya—masih membuat Tsuna gugup, dan teringat ketika hari kedua ia disana dan Giotto mencoba memandikannya, Tsuna tampak berteriak seakan Giotto akan uhukmeraepnyauhuk.

"Apakah Giotto-san tidak ada pekerjaan?"

"Setelah makan pagi, aku akan menyelesaikannya lagi—" selesai memandikan, dengan segera mengeringkan pakaiannya yang basah karena terciprat air dan begitu juga dengan Tsuna. Memakaikan baju yang disiapkan oleh para maid—sebuah celana hitam polos dan juga baju sweater putih dengan penutup kepala berbentuk seperti panda dengan kedua mata hitam dan juga telinga bulatnya.

...

Sweatdrop—

Bukan kali pertamanya sejak sebulan berada disini Tsuna memakai pakaian seperti ini. Sejak kemarin ia seperti kelinci percobaan para maid yang ingin memakaikannya pakaian yang lucu.

"Baiklah, kali ini panda—" Giotto memakaikan celana dan juga pakaian pada Tsuna, membungkus rambut Tsuna dengan penutup kepala berbentuk panda itu. Terdiam sejenak melihat penampilan anak angkatnya itu, '—tidak bisa menyalahkan maid, Tsuna memang sangat lucu memakai pakaian ini...'

"Ayo Tsuna—yang lainnya sudah menunggu..."

"Hari ini, kau ingin makan apa Tsuna?"

"Tidak ada yang khusus, terserah Giotto-san saja—" Tsuna tertawa kecil dan menatap beberapa orang yang menatap mereka tampak membungkuk dan wajahnya langsung memerah melihat keimutan si kecil Tsuna.

"Selamat pagi Primo, Tuan Muda Tsunayoshi..."

"Selamat pagi!" Dengan nada yang berbeda tetapi perkataan yang sama, Tsuna dan Giotto membalas senyuman mereka, membuat beberapa 'mayat' bergelimpangan dengan darah mimisan melihat uhukketampananuhuk dan juga keimutan dari kedua orang itu.

"Apakah Hayato-kun sedang berkelahi dengan G-san lagi?"

"Yah—sifat mereka sama-sama keras kepala, mau bagaimana lagi?"

"HAYATO! BERHENTI KABUR DARIKU DAN BERIKAN DINAMITMU!" Baru saja Tsuna dan Giotto membicarakannya, tampak G dan Gokudera berkejaran disepanjang lorong membuat Tsuna dan Giotto menghela nafas.

"TIDAK!"

"DINAMIT BUKAN MAINAN BOCAH!"

"AKU BUKAN BOCAH KAKEK TUA!" Gokudera menjulurkan lidahnya kearah G yang ada dibelakangnya.

"Kau—!"

"Sepertinya kemampuanmu menurun G, apakah karena kau sudah tua?" Jawab Giotto setengah bercanda, menatap G yang mendeathglarenya sambil mengatur nafasnya.

"Kau enak Tsuna adalah anak yang baik—memang kau tidak bisa melihat bagaimana Hayato," menghela nafas dan mengacak rambut merahnya, menutup sebelah matanya.

"Tetapi sepertinya kau lebih perhatian dari yang kuduga sebelumnya G, karena kufikir kau tidak setuju maka kau akan menelantarkannya."

—Flash Back—

"Aku tidak setuju, bagaimana kalau mereka mata-mata dari keluarga lainnya," G menemui Giotto setelah mengumumkan tentang Tsuna dan yang lainnya, yang akan tinggal bersama dengan mereka, "kita bahkan tidak tahu darimana asal mereka yang jelas bukan? Bagaimana mungkin mereka yang berasal dari Jepang bisa berakhir disini?"

"Maa, maa—tetapi mereka sepertinya tidak punya tempat tinggal dan orang tua, dan mereka hanya anak kecil yang tidak bisa atau tidak memiliki senjata bukan," Ugetsu tersenyum menatap kearah G, dan tampaknya semua setuju dengan apa yang dikatakan oleh Giotto, "aku setuju-setuju saja, Takeshi adalah anak yang baik!"

"Hn—aku tertarik pada anak bernama Kyouya itu..."

"Nfufu, kekuatan 'six path of wrath' milik Mukuro tentu sudah cukup untuk membuatku tertarik..."

"Ryouhei adalah anak yang EXTREME!"

G hanya bisa bersweatdrop ria mendengar mereka. Bahkan Alaude dan juga Spade setuju untuk mengurus anak-anak itu. Tidak ada yang bisa dilakukannya dan ia hanya menghela nafas dan tersenyum.

"Baiklah—aku tidak bisa berbuat apapun lagi..."

"Tsuna memang anak yang baik—tetapi Hayato," G menggelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang, "yah, walaupun ia memang anak yang pintar—jenius."

"Tetapi aku seperti melihatmu saat dulu kalau melihat Hayato-kun," Giotto tertawa kecil mendengar perkataan G.

"Bagaimana tidurmu Juudaime?" Gokudera berhenti dengan nafas yang sedikit memburu, Tsuna tampak menepuk punggungnya untuk membantunya menarik nafas.

"Tidak pernah sebaik ini selama 10 tahun."

"Ohaiyou, Tsuna, Hayato/Giotto-dono, G-dono!" Suara yang terdengar bersamaan itu tampak membuat mereka berempat menoleh dan menemukan Ugetsu dan juga Yamamoto. Ugetsu menggunakan pakaiannya yang biasa, sementara Yamamoto memakai kimono hitam yang dipakaikan juga oleh maid di Vongola.

"Kali ini sepertinya panda ya Tsuna?" Yamamoto menatap kearah Tsuna dan tertawa dengan penampilan Tsuna yang mirip dengan panda.

"Hahaha—aku tidak bisa berbuat apapun, kau tahu sendiri bagaimana para maid yang menghadapi kita karena mirip dengan Primo bukan?" Tsuna tampak tertawa datar, Gokudera sendiri tampak memakai baju yang—sama persis—dengan G, dengan kemeja berwarna putih dan juga dasi yang dilonggarkan.

"K—Kufufufu, Tsunayoshi—kau harus membantuku..." Mukuro tiba-tiba muncul dan berada dibelakang Tsuna yang langsung menepuk pundaknya dengan tampang madesu ( Masa Depan Suram ).

"H—Hiee! Mukuro, jangan mengagetkanku!" Tsuna melihat Mukuro yang memakai pakaian—kemeja putih dengan jas berwarna biru serta kain yang disematkan di lehernya—seperti anak bangsawan yang berada di zaman itu, "e—etto pakaianmu..."

"Kepala melon itu—menyuruhku memakainya," Mukuro melonggarkan dasi kain yang ada di lehernya, tidak terbiasa dengan pakaian itu, "walau aku sudah memberikan ilusi, sepertinya karena tubuh kita mengecil, kekuatanku juga berkurang..."

"Mukuro, jangan melonggarkan dasimu, gunakan yang benar—" Daemon tampak muncul dan melihat Mukuro yang langsung menghilang ketika ia muncul, "—Mukuro!"

"Yah, Aristocrat memang berbeda cara berpakaiannya—" Giotto tampak tertawa datar, menatap kearah Daemon yang tampaknya paling overprotective pada anak angkatnya daripada yang lain ( menurutnya, karena menurut guardian lainnya Giottolah yang paling overprotective pada Tsuna ), "—dimana Alaude dan Kyouya?"

"Mengambil misi—dan lagi-lagi anak itu mengekor dibelakang Alaude dengan alasan ingin bertarung," jawab G sambil menghela nafas berat. Giotto dan yang lainnya hanya bisa bersweatdrop ria mendengar hal itu, "dan sebelum kau bertanya, Knuckle dan Ryouhei belum kembali dari olah raga 'ekstreme'nya sejak subuh tadi."

"Hh—baiklah, kalau begitu kita makan pagi berdelapan saja," Giotto menggandeng tangan Tsuna dan membawanya ke ruang makanan begitu juga dengan yang lainnya.

"Makanan hari ini—untuk semua, ada omelete dengan isi keju, daging asap dan juga sedikit sayuran, ada scone dan juga segelas susu untuk semua tuan muda, dan teh serta kopi untuk yang lainnya..." koki di Vongola itu tampak menaruh satu per satu makanan disana. Tsuna dan juga semua guardian decimo hanya bisa terdiam menatap makanan disana. Awalnya mereka sedikit terdiam melihat kalau makanannya lebih simple dari yang mereka kira. Tetapi, pada akhirnya itu malah membuatnya senang karena Tsuna sebagai Vongola Decimo memang menyukai hidangan yang simple seperti itu.

"Ada apa Tsuna? Apakah kau tidak suka makanan ini?"

"Tidak, tidak—aku menyukainya Giotto-san," menggelengkan kepalanya dan tersenyum sambil mulai memotong omelet didepannya.

"Aku tidak suka susu..."

"Maa, maa—Hayato, kau harus banyak minum susu bukan?" Yamamoto menatap Gokudera yang tidak menyentuh susunya sama sekali, "susu itu enak!"

"Habiskan minumanmu bocah!"

"Tidak mau—kau tidak bisa memaksaku kakek tua!" G menatap Gokudera dan hanya memberikan tatapan tajam yang dibalas juga dengan yang lebih muda dengan tatapan tajam juga.

"Yare-yare—benar-benar berisik..." Lampo tampak mengaduk makanannya sambil menatap kearah yang lainnya.

"Tsuna, maaf aku tidak bisa menemanimu hari ini—" Giotto berjongkok dan menatap mata cokelat Tsuna. Pekerjaannya hari ini sangat banyak dan tidak bisa meluangkan sedikit waktupun untuk Tsuna.

"Tidak apa-apa Giotto-san—" tertawa pelan sambil menghela nafas, demi tuhan—ia sudah 4 tahun menjadi seorang boss Vongola. Ia pasti bisa mengerti bagaimana sibuknya dan bagaimana banyaknya laporan yang menggunung, "—tetapi aku boleh menemanimu di ruanganmu Giotto-san?"

"Eh tetapi—" Giotto menatap Tsuna yang mengeluarkan jurus andalannya yang bahkan mempan walaupun usianya sudah beranjak 24 tahun—puppy eyes.

"Aku tidak akan mengganggu, hanya ingin melihatmu..."

"Baiklah, tetapi apakah kau tidak akan bosan?" Giotto berdiri dan menggendong Tsuna.

"Tidak—aku tidak akan bosan dan tidak akan mengganggumu," tersenyum lebar, senang karena Giotto memperbolehkannya untuk melihat bagaimana Giotto bekerja selama ini, "apakah Giotto-san keberatan?"

"Tidak—aku hanya takut kau akan bosan..."

"Tidak akan!" Tsuna tertawa renyah dan ketika sadar sudah berada di kantor Giotto. Membuka pintu, melihat kalau ruangannya hampir sama dengan milik Tsuna—hampir sama jumlah laporan yang menggunung disana. Memberi isyarat kalau ingin turun—Giotto segera menurunkannya dengan hati-hati.

"Ah—berkurang dari seminggu yang lalu..."

'Aku kasihan pada orang-orang dimarkas saat ini—' Tsuna mengingat kalau ia masih menyimpan beberapa gunungan laporan yang belum ia kerjakan, "aku akan menunggu disini, Giotto-san kerjakan saja laporan!" Tsuna berlari kearah sofa dan duduk disana, menemukan beberapa laporan yang ada diatas meja. Baru saja akan mengambilnya dan membacanya, sebelum Giotto mengambilnya.

"Baiklah, aku akan memulainya..."

Tsuna melihat kearah Giotto yang dengan serius, tidak menyadari kalau vongola ring yang ia sembunyikan bercahaya sebelum Natsu tiba-tiba keluar dari sana dan mengaum kecil.

"Natsu, kenapa kau keluar—" Natsu tidak mengatakan apapun dan hanya mengusapkan bulunya pada pipi Tsuna. Tsuna tampak mencoba menahan gelinya agar Giotto tidak terganggu. Dan beruntung, Giotto tampak terlalu serius untuk mengerjakan tugasnya, "—jangan berisik, karena Giotto-san sedang bekerja..."

"Gaoo~"

Pada akhirnya Tsuna bermain dengan Natsu tanpa menimbulkan suara yang berisik. Sesekali Natsu berjalan untuk mengambil beberapa laporan—dan Tsuna mencoba memilih beberapa laporan yang bisa ia bantu tanpa ketahuan oleh Giotto.

Pada saat waktu menunjukkan pukul 12 siang—sudah waktunya untuk makan siang. Tetapi sepertinya Giotto masih sibuk untuk bekerja, membuat Tsuna terdiam sejenak sebelum bergerak turun dari sofa dan keluar dari ruangan.

"Aku menyerah!" Giotto melempar pena yang dipegangnya. Ia memang akan terlihat serius ketika mengerjakan pekerjaannya. Tetapi akan cepat buyar ketika ia lelah dan bosan dengan semua itu. Menoleh, menemukan Tsuna yang sudah tidak ada disana, "Tsuna?"

...

Tidak ada jawaban—membuat Giotto hanya bisa menghela nafas dan menyenderkan kepalanya diatas meja. Menutup matanya sebentar sebelum membuka laci mejanya dan mengambil sebuah bingkai dengan sebuah foto disana—dirinya dan seorang perempuan serta bayi digendongan perempuan itu.

"Bukankah ia terlalu mirip dengannya? Tsuna—kalau saja anak itu masih hidup, apakah ia akan sepertinya?" Senyuman tipis dan tampak sedih terlukis diwajahnya sebelum ia menghela nafas dan menutup matanya.

"Apakah anda bisa membawanya sendiri Tuan Muda Tsunayoshi?"

Salah satu butler membawakan sebuah nampan dan akan memberikannya pada Tsuna. Tsuna hanya mengangguk dan tersenyum sebelum mengulurkan tangan kecilnya untuk menerima nampan yang tertutup itu.

"Aku hanya ingin memberikannya pada Giotto-san, aku bisa kok!"

Sang Butler hanya tersenyum dan dengan hati-hati memberikannya pada Tsuna. Hell—ia bisa melakukannya, dan masalah manshion Vongola dan setiap letaknya, apakah dengan berada disana selama 4 tahun tidak membuatnya mengingat seluk beluk manshion itu yang tidak banyak berubah sejak zaman primo.

"Butuh waktu lama membuatnya—kuharap Giotto-san menyukainya, benarkan Natsu?"

"Gaoo~!" Natsu tampak senang dan berjalan dibelakang Tsuna hingga beberapa saat kemudian mereka tiba diruangan Giotto kembali. Membuka pintu—melihat bahwa sang Don Vongola Primo sedang tertidur dengan posisi duduk. Tsuna berjalan dan menaruh nampan diatas meja yang ada didepan Giotto.

"Kalau aku yang ada di posisi Giotto-san pasti Reborn sudah menggantungku karena tertidur," Tsuna tertawa datar dan menatap kearah Giotto. Natsu tampak mendekat sambil membawa jubah Giotto dan mengisyaratkan Tsuna untuk menutupi tubuh Giotto, "ah, terima kasih Natsu!"

Menyelimuti Giotto, melihat kearah pria berambut blonde itu—terdiam setelah menyelimuti Giotto, Tsuna mencoba untuk menutupi semua bagian yang bisa membuatnya masuk angin.

'Perasaan apa ini sebenarnya...' Tsuna hanya menatap Giotto sebelum menggelengkan kepalanya dan menatap kearah bingkai yang ada ditangan Giotto. Memegangnya, melihat foto Giotto bersama dengan seorang perempuan dan bayi yang digendong oleh perempuan itu. Bayi berambut cokelat yang tampak mirip dengan Giotto—tidak, mirip dengannya.

Tes...

"Reborn-san, jangan kesana—kau bisa terbunuh!" Shouichi tampak mencoba mencegah Reborn yang akan pergi ke penjara Vendicare. Bagaimanapun tempat itu hanyalah mimpi buruk yang paling buruk. Tetapi, mengingat penangkapan Tsuna dan juga semua guardiannya, Reborn tidak mungkin diam saja tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku tidak akan mungkin membiarkan dame-Tsuna dan juga yang lainnya tertangkap begitu saja," Reborn baru saja akan keluar dari mobil yang melaju menuju penjara Vendicare ketika dua orang Vendice tampak berada didepan mobil, diam dan menatap kearahnya, "baru saja aku akan mencari kalian..."

"Kami sudah tahu kalau kau akan datang—"

"Tentu saja, dimana dame-Tsuna dan juga semua guardian Vongola—" Reborn menatap kearah kedua orang itu dari balik bayangan topi fedoranya, "—kenapa kalian menangkap mereka semua? Dan apa maksud kalian mengembalikan pada tempat dimana mereka seharusnya berada?"

"Akan kami jelaskan terlebih dahulu tentang Vongola Primo—dan juga rahasia yang ada didalam kehidupannya," Bermuda—salah satu dari penjaga itu tampak menatap kearah Reborn. Berjalan kearah depan, begitu juga dengan Reborn yang mengikutinya.

...

"Vongola Primo—Taru Giotto Vongola, dikenal sebagai seorang boss mafia muda yang paling berpengaruh di Sicilly. Pada usianya yang muda—14 tahun, ia membangun kelompok Vigilate bersama dengan tangan kanan sekaligus sahabatnya, atas saran dari Primo Shimon—Cozart Shimon," berjalan kearah dalam ruangan yang sangat gelap, Reborn hanya menatap kearah Bermuda yang ada didepannya, "beberapa tahun setelah itu Vongola terbentuk, dan menjadi kelompok mafia yang terbesar. Bersama dengan semua guardiannya, mereka membangun Vongola menjadi lebih baik..."

Bermuda tampak menjelaskan panjang lebar tentang semua yang terjadi saat Vongola terbentuk.

"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"

"Vongola Primo, pindah ke Jepang dan mengganti namanya menjadi Ieyatsu Sawada dan melanjutkan kehidupannya. Itu semua yang tertulis di sejarah Vongola..." Bermuda menatap kearah Reborn dari balik bahunya, "apakah kau fikir Vongola Primo memiliki anak yang berhubungan darah langsung dengannya saat berada di Jepang?"

...

"Apa—?"

"Hanya dikatakan 'ia menjalani kehidupannya di Jepang' tanpa ada catatan lain mengenai keluarganya. Dan setelah itu, cerita tentang Vongola Secondo yang ada dihalaman selanjutnya," Bermuda membalikkan badannya dan menatap Reborn yang juga menghentikan langkahnya, "kenyataannya, ia tidak memiliki anak kandung saat berada di Jepang..."

"Tunggu—lalu, bagaimana dengan kenyataan bahwa Tsunayoshi Sawada adalah keturunan langsung dari Vongola Primo!"

"Sawada Tsunayoshi, Vongola Decimo—anak dari Sawada Ieyatsu dan juga Sawada Nana. Bertemu dengan hitman terbaik atas permintaan Vongola Nono sejak usia 14 tahun. Lahir tanggal 14 Oktober di Jepang, dan menjadi Vongola Decimo saat berusia 20 tahun. Semua riwayatnya sejak kecil hingga sekarang tercatat semua di tempat kami..."

...

"Tetapi—" melemparkan sebuah file yang ada ditangannya kearah Reborn, sebuah file berisi semua surat dari kelulusan dan juga foto-foto mereka. Ketika Reborn melihat surat kelahirannya—dan ternyata ada sebuah surat lagi dibawahnya—sebuah surat adopsi atas nama Sawada Tsunayoshi.

"Surat adopsi? Maksudmu—"

"Sawada Tsunayoshi, bukan anak kandung dari Sawada Iemitsu dan juga Sawada Nana. Kami sudah mengecek kembali, dan ternyata mereka berdua mengadopsi anak itu saat usianya 4 bulan—" Reborn menatap kearah Bermuda lagi, "—tidak ada riwayat keluarga sebelumnya, dan ia tiba-tiba muncul didepan panti asuhan itu beberapa hari sebelum Iemitsu dan Nana menemukannya..."

"Lalu—bagaimana dengan pemeriksaan Tsuna yang mengatakan kalau ia memiliki darah yang sama dengan Vongola Primo?"

...

"Celessta—" Reborn menaikkan satu alis matanya ketika satu nama itu disebutkan, "—nama yang tidak pernah dikenal bukan? Tetapi—kami menemukan sebuah catatan dari Vongola Primo yang ia sembunyikan diruang bawah tanah Vongola. Dan hampir setiap lembar dari tulisan asli Vongola Primo, menyebutkan nama itu. Perempuan berambut cokelat panjang sedikit bergelombang, dengan mata senada dengan warna rambutnya—ia adalah kekasih Giotto Vongola saat berusia 25 tahun, dan meninggal saat berusia 27 tahun 1 bulan setelah melahirkan seorang anak laki-laki yang menghilang saat usianya 4 bulan saat penyerang misterius terjadi di markas Vongola—" terdiam sejenak menatap kearah Reborn yang tampak semakin mengerti apa yang dikatakan olehnya, "—tidak pernah tercatat dalam catatan Vongola, karena mereka tidak pernah terikat dalam tali pernikahan. Karena—Giotto Vongola menjaga kerahasiaan perempuan itu untuk keselamatannya..."

"Jadi maksudmu—"

"E—Eh?" Pandangan Tsuna tampak kabur ketika melihat kalau air matanya sudah turun dan membasahi bingkai yang ada ditangannya. Menghapus air matanya yang terus turun, bingung sebenarnya apa yang terjadi padanya.

"Gaoo?"

"A—aku tidak apa-apa Natsu," tersenyum kearah Natsu, dan tiba-tiba terlihat pergerakan dari Giotto yang langsung membuat Tsuna menjauhi Giotto dan membelakanginya.

"Tsuna? Ada apa?" Giotto menguap kecil dan mendekati Tsuna yang membelakanginya. Menggendong tubuh kecil itu dan membuatnya menghadap kearah Giotto untuk menemukan Tsuna yang masih terisak kecil, "Tsuna? Apa yang terjadi?"

"Ti—Tidak, tidak apa-apa Giotto-san. Entah kenapa aku tidak bisa menghentikan ini—" mengusap air matanya, pada akhirnya Giotto menghela nafas dan menghapusnya dengan kedua tangannya. Tsuna hanya bisa diam—menatap senyuman Giotto yang selalu tulus padanya meskipun ia bukan anak kandungnya, "Giotto-san—aku boleh bertanya?"

"Hm?"

"Siapa anak yang ada didalam foto itu?" Tsuna menunjuk foto yang ada diatas meja Giotto itu. Giotto menatap foto itu sebelum menghela nafas dan menggendong Tsuna keatas sofa yang ada disana—dan membuat Tsuna duduk dipangkuannya.

"Dia adalah anak laki-lakiku—yah, walaupun hanya berusia hingga 2 bulan dan aku tidak pernah menikah dengan ibunya," Giotto tersenyum tampak sedih meskipun tidak terlalu tampak, "dan ketika markas Vongola diserang satu bulan yang lalu, anak itu menghilang hingga sekarang."

Deg... Deg... Deg...

Entah kenapa jantung Tsuna tampak berdetak semakin cepat dan ia hanya bisa menutup matanya erat. Meremas dadanya dan merasakan detaknya itu.

'Kenapa—aku merasakan sesuatu yang aneh...'

"Tsuna?" Giotto menatap Tsuna yang tampak aneh, nafasnya tampak semakin memburu, keringat dingin tampak membasahi dahinya dan wajahnya tampak memerah, "Tsuna, kau tidak apa-apa?"

'Aku tidak bisa menahannya—perasaan apa ini...'

"Tsuna!" Giotto mencoba menyadarkan Tsuna yang tidak mendengar Giotto sebelum akhirnya tubuh kecil itu terjatuh begitu saja di pelukan Giotto. Mencoba memeriksa keadaannya, menemukan jika tubuh Tsuna sangat panas saat itu, "—sial..."

Giotto menggendong Tsuna dan segera keluar dari ruangan itu.

"G! Knuckle—aku membutuhkan bantuan kalian!"

Reborn berjalan keluar dari tempat itu, menuju kedalam mobil dimana Shouichi menunggu disana bersama dengan Spanner. Langkahnya tampak terburu-buru dan wajahnya tampak kesal dan juga dingin.

"Re—Reborn-san ada apa? Bagaimana dengan Tsuna-san dan juga yang lainnya?"

...

"Kita ke markas CEDEF sekarang—" tidak menjawab pertanyaan Shouichi, Reborn hanya menatap kearah luar jendela, mengingat tentang apa yang dikatakan oleh Bermuda.

'Kami sudah mendapatkan satu bukti yang menjelaskan siapa Sawada Tsunayoshi sebenarnya—'

"Ini bercanda kan—tidak mungkin semua itu bisa terjadi..."

'—Sawada Tsunayoshi, adalah anak kandung dari Taru Giotto Vongola...'

Kozu : anak? ==# ini pelencengan cerita paling aneh dari cerita-cerita aneh sensei...

Cio : ja-jahat, ka-kan me mau buat yang lain dari yang lain. Dari alesan Tsuna bisa ke masa lalu juga sudah beda, dan biasanya kan cuma karena ketemu sama pendahulu doang, nah sekarang alasannya kan beda :(

? : dan itu ide gw sama Cio ^^

Cio : Σ( ̄□ ̄; ) bakka aniki!

Kou : ==# sudah lupa ya, inikan ide dulu pas gw masih ada...

Cio : yah, karena me baru inget sekarang makanya me langsung bikin =D

Kou : sudah 1 tahun?

Cio : Lebih /seruput teh/

Kou : ngomong-ngomong ada 3 nih...

Cio : heee?

Kou : Yukinaga Ezakiya ( apakah pemikiran anda sama dengan saya? Bagaimana decimo bisa mirip dengan primo? )

Cio : apakah chapter ini sudah menjawab pertanyaan anda? =D Nadifatheotaku saya benar2 tersanjung dibilang gitu =/D semoga anda puas dengan chapter ini ^^; dan, me ga bisa bikin buku...fanfic aja masih banyak yang lebih bagus ˆヮˆ)7

Kou : Yukira Mirabelle silahkan nikmati chapter ini (u_u)

Kozu : sepertinya aku hanya sebagai pembuka...baiklah, chapter depan-mau dilihatin about siapa?

Gokudera Hayato

Yamamoto Takeshi

Hibari Kyouya

Sasagawa Ryouhei

Mukuro Rokudo

Cio : oh dan masalah Cellesta, tenang aja-itu cuma OC nongol dikit as Giotto's gf ^^ kalau mau ttp shou-ai, bilang aja di review atau PM~ =D