Disclaimer : Masih dengan karakter pinjeman dari Masashi Kishimoto. OOC yang semakin akut. Islam Konten. :D
Sebelumnya, hatur teng qiyuuu buat para reader dan reviewer, sungguh kalian membuat saya bahagia *plak! lebay xD* banyak yang bilang kalo fic saya ini lucu, padahal gak ada niatan buat bikin comedy (O.o)a. tapi setelah saya baca ulang, bener juga! karena cerita yang aneh banget untuk dunia Naruto, jadi emang lucu juga! saya juga cengar-cengir sendiri selama proses pembuatannya, entahlah ide gila ini muncul dari mana. xD
langsung aja, please enjoy :*
Tepat satu bulan setelah pembicaraan yang berhasil membuat hari-hari Hinata sedikit tak karuan. Bagaimana bisa ia tenang-tenangan kala waktu bertemu dengan seseorang itu kini hanya tinggal beberapa jam saja. Disanalah ia, duduk dengan hati yang gelisah. 'Apa aku yakin aku siap untuk ini?' pikir Hinata.
'Gaara Sabaku'
'Gaara Sabaku'
Ya, nama itu seakan terus berputar-putar dalam benaknya setelah abinya memberi tahu nama laki-laki asal Suna itu. Dan dari apa yang di paparkan Hiasi, ia baru pulang ke negeri ini satu minggu yang lalu. Itulah yang membuat pertemuan pertamanya segaligus acara khitbahnya membutuhkan waktu satu bulan. Ya, baru pulang ke negeri ini. Gaara Sabaku telah menyelesaikan beasiswa program magisternya di salah satu universitas yang ada di Madinah, Saudi Arabia.
Sebenarnya hanya dari mendengar latar belakang pendidikannya saja, Hinata dapat menebak, sepertinya laki-laki yang terpaut umur tiga tahun darinya itu memang bukan laki-laki sembarangan. Sedikit rasa lega, bahkan senang, entahlah. Tapi Hinata tetap tidak bisa dengan semudah itu yakin.
Semakin tenggelam dalam pikirannya, sampai akhirnya terdengar ketukan dibalik pintu kamarnya."Teh Hinata?" Kenal betul dengan suara sang adik, ia pun bergegas membuka pintu.
"Ada apa, de?" tanya Hinata lembut pada Hanabi.
"Malam ini aku tidur disini ya?"
"Tumben sekali." Goda Hinata. "Kenapa memangnya? Takut?" lanjutnya dan membuka pintu lebih lebar, pertanda ia mengizinkan Hanabi masuk.
"Yee, sejak kapan aku jadi penakut?" jawab Hanabi sedikit kesal dengan godaan kakaknya. "Aku cuma pengen menghabiskan detik-detik kebersamaan sama teteh, sebelum teteh menikah."
Hinata hanya tersenyum miris mendengarnya. "Tapi kan masih belum tentu juga, de."
"Awal akhir kan pasti, Teh. Dengan siapapun itu."
"Iya deh terserah."
"Habis shalat apa, Teh? Istikharah ya?" tanya Hanabi dengan nada menggoda saat melihat sajadah yang masih tergelar dilantai dan mukena yang masih dikenakan kakaknya.
"Mau tahu aja apa mau tahu banget?" Hinata tak mau kalah menggoda adiknya. Ia yang memang telah selesai melaksanakan shalat segera melepas mukena dan melipatnya.
"Ih dasar!"
"Yuk ah bobo, udah malem." Ajak Hinata, merekapun membaringkan tubuhnya berdampingan.
"Teh?"
"Apa?"
"Sebenernya kenapa Teh Hinata gak mau melihat dulu foto A Gaara? Kan memang boleh, Teh, melihat foto calon." Tanya Hanabi.
"Bukannya besok juga ketemu kan? Lihatnya besok saja. Teteh cuma takut, kalau melihat fotonya dulu, itu malah akan mempengaruhi teteh. Misalnya tertarik karena fisik."
"Gimana kalo ternyata orangnya jelek? Hayoo.."
Hinata tertawa melihat tingkah adiknya. "Sudahlah, Teteh serahkan semua sama Allah saja. Gak usah berlebihan gitu ah!"
"Yee, kaya yang sendirinya tenang aja. Padahal jelas-jelas kelihatan teteh itu lagi galau."
Kembali Hinata tertawa. "Udah ah, bobo yaa adik maniis." Kata Hinata sembari mencubit pipi Hanabi.
"Idiih ganjen!" Hanabi bergidik, kemudian berbalik memunggungi Hinata. Ia tersenyum kecil memandangi punggung adiknya. Menghela napas, peerlahan ia pun memaksakan matanya untuk terpejam. 'Yaa Allah, bimbing hamba.'
Pagi menjelang, hari Ahad seluruh santri maupun santriwati ramai melaksanakan tandziiful 'am atau bersih-bersih bersama. Begitupun Hinata tak mau melewatkan kegiatan mingguan yang baginya menyenangkan itu. Entahlah, ia suka sekali kebersihan, apalagi rutin dilaksanakan kegiatan bersih-bersih bersama seperti sekarang ini. Walau Hinata sendiri adalah putri dari pimpinan pesantren, ia selalu ikut berpartisipasi.
"Kumpulkan sampahnya di pojokan sana ya, de!" seru Hinata pada salah satu santriwati yang sedang bertugas membersihkan daun-daun kering di pekarangan rumah pimpinan pesantren mereka. Terdapat beberapa santriwati yang bertugas disana. Ia sendiri tengah asik mencabuti rumput-rumput liar dengan tangan yang terbungkus keresek hitam. "Daun yang basah dan yang kering di pisah aja. Biar nanti lebih mudah mengolah menjadikannya pupuk"
"Loh, kok teteh masih disini? Belum siap-siap?" tiba-tiba suara berat Hiasi membuat Hinata berbalik menghadap abinya.
"Tanggung, bi."
"Biar para santriwati saja yang melanjutkan. Teteh siap-siap sekarang. Mereka sedang dalam perjalanan."
Mendengar apa yang dikatakan abinya, jantung Hinata berdetak kencang, gugup menghampirinya. "I-iya bi. Teteh masuk sekarang kalau begitu." Segera ia melepas keresek yang masih membungkus kedua tangannya dan bergegas memasuki rumah meninggalkan abinya yang tersenyum dan para santriwati yang memandang kepergian Hinata dengan penuh tanya.
"Teh Hinata cantik!" Hanabi yang sedari tadi duduk di ranjang kamar Hinata memperhatikan kakaknya yang sedang memakai jilbab. Gamis merah muda yang membalut tubuhnya serta jilbab dengan warna senada semakin memberi kesan anggun padanya.
Pipi Hinata bersemu mendengar pujian dari adiknya. "Hanabi juga cantik kok."
"Ih, serius Teh.. Teteh cantik deh! Padahal gak ada yang berbeda sih dari penampilan Teh Hinata. Sederhana tidak berlebihan. Tapi, kali ini beda aja gitu." Papar Hanabi semakin memandang kakaknya dengan senyuman mengembang.
"Tuuh pipinya merah."
"Ah kamu ngegoda aja nih!" Hinata berpura-pura marah menanggapi godaan Hanabi dan sejurus kemudian meraih bantal kemudian dilemparkannya pada adiknya. Hanabi tertawa melihat tingkah kakaknya itu.
Ditengah tawa Hanabi, terdengar ketukan pada pintu rumahnya. Segera tawa pun sirna. Hanabi tiba-tiba menegang. Hinata? Tak usah ditanya lagi. Jantungnya seakan berhenti berdetak. "Mereka!" gumam Hanabi lirih, dan Hinata mengangguk mengiyakan.
Tidak lama dari kedatangan tamu keluarga Sabaku, kakak iparnya, Tenten datang menghampiri Hinata dan Hanabi yang sedari tadi tak berani keluar menampakkan diri. Hinata dipanggil untuk menemui mereka. Jantungnya seakan melompat dari tempatnya. 'Masyaa Allah, gugup sekali rasanya. Beri hamba ketenangan.'
"Tenang aja, Teh. Gak usah terlalu tegang." Kata Tenten melihat raut muka Hinata yang memucat. Dengan satu helaan napas panjang, ia mengangguk dan mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Tenten.
Berjalan bersama Tenten dan Hanabi di kedua sisi kanan dan kirinya, ia menunduk dengan hati yang tak henti meminta ketenangan pada Rabbnya.
"Assalamu'alaikum." Seru Tenten saat mereka memasuki ruang tamu. Yang segera dijawab bersamaan oleh orang-orang yang sedang duduk disana.
Hinata dapat merasakan seluruh mata kini menatap mereka. Pipinya sedikit memanas. Sekilas ia dapat melihat mungkin ada sekitar empat orang tamu dan satu anak perempuan duduk disana, ditambah abinya, Hiasi dan kakaknya, Neji.
"Nah yang disamping Tenten ini Hinata dan Hanabi." Hiasi memperkenalkan kedua putrinya yang baru datang.
"Hinata yang pakai baju merah muda ya?" tanya perempuan paruh baya yang kini berjalan menghampirinya. Hinata mengangguk. Ia memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya, dan segera mencium tangan perempuan yang ada dihadapannya hormat.
"Hinata, beliau Tante Karura, ibunya Gaara." Kata Hiasi.
"Cantik" gumam perempuan paruh baya itu masih menatap Hinata. Karura tersenyum ramah padanya.
Terdengar tawa renyah Hiasi dan Neji. Dan aggukan setuju dari yang lainnya. Pipinya kini terasa semakin memanas. Ia belum berani untuk menatap yang lainnya. Dan memang Karura berdiri menghalangi pandangan Hinata.
"Yang ini Hanabi ya?" tanya Karura dan Hanabi mengangguk kemudian bergilir mencium tangannya. "Senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan kalian." Lanjut Karura. "Oh iya, ini Temari, kakaknya Gaara."
Hinata mengalihkan pandangan pada perempuan yang tanpa ia sadari telah berdiri disamping Karura. Perempuan yang dipanggil Temari itu tersenyum dan menariknya untuk bersalaman dan bertukar menempelkan pipi kanan-kiri mereka.
"Iya, cantik ya, bu." Temari masih dengan senyumannya menyetujui pendapat ibunya. Hinata tersenyum kikuk. "Lihat nih, Gaara! Hinata cantik loohh."
Gelak tawa kembali terdengar memenuhi ruangan itu.
Hinata memberanikan diri memandang ke arah dimana dua orang laki-laki berbeda umur itu duduk. Ia kenal dengan yang paling ujung, KH. Rei, karena mereka pernah bertemu, maka yang duduk disampinganya, yang tengah mendekap anak perempuan dipangkuannya adalah 'Gaara?' terkanya dalam hati.
Yang dipandang tersenyum kecil disertai anggukan kemudian mengatupkan kedua tangannya di depan dada, pertanda memberikan salam. Cepat-cepat Hinata melakukan hal yang sama dan kembali menunduk. Jantungnya berdetak semakin kencang. 'Yaa Allah...'
"Ino, sini sayang, salim dulu sama Tante Hinata, sama Tante Hanabi juga." Seru Temari kepada anak perempuan yang sedang duduk dalam pangkuan Gaara. Anak perempuan yang mungkin berumur 5 tahun itu menggeleng tak bergeming. Hinata tersenyum melihatnya.
"Loh kok gitu, sayang? Ayo sini." Seru Temari untuk yang kedua kalinya. Namun tetap tak bergeming. "Aduh maaf ya, Ino itu agak pemalu kalau sama orang baru." Papar Temari. Semua tertawa melihatnya. Dan Ino segera berlari menghampiri ibunya.
Karura menuntun Hinata untuk duduk disampingnya. Hanabi dan Tenten kini duduk disamping Neji dan Hiasi.
"Oh iya, karena Kankuro dan istrinya tinggal di Medan, dan tidak memungkinkan untuk datang karena mereka punya bayi, jadi mereka titip salamnya saja. Shikamaru suami Temari juga demikian. Pekerjaannya tidak bisa di tinggalkan." Jelas Rei pada keluarga Hiasi.
"Wa'alaikum salam, iya tak apalah Rei." Jawab Hiasi singkat, tak merasa bermasalah.
"Jadi Hinata baru akan diwisuda minggu depan ya?" tanya Karura ramah.
"I-iya, Tante." Jawabnya sedikit tergugup.
"Jurusan apa, nak?"
"PBI, Tante."
"Bu guru." ujar Karura dan Hinata hanya menimpali dengan senyuman.
"Nak Gaara juga pasti masih capek ya baru mendarat satu minggu yang lalu? Kalau istilah anak muda zaman sekarang tuh apa ya? Jetleg, benar begitu?" tanya Hiasi.
"Benar, Om. Tapi tak apa-apa." Jawab Gaara, dan untuk yang pertama kalinya Hinata mendengar pemilik suara berat itu berbicara bahkan disertai tawa kecil mengiringinya. Deg! Hati Hinata berdesir. 'Yaa Rabb...'
Setelah obrolan-obrolan ringan, akhirnya Rei memulai mengutarakan inti dari pertemuan tersebut, yaitu untuk mengkhitbah Hinata dan proses ta'aruf antara Hinata dan Gaara.
"Yah, seperti yang kita semua telah ketahui, maksud kedatangan kami yaitu mengkhitbah Hinata untuk Gaara." Papar Rei. "Langsung saja ya, bagaimana Hiasi? Selaku Abinya Hinata?"
"Syukran sebelumnya atas maksud baik ini. Tapi tetap saja semua keputusan saya serahkan pada Hinata. Yang pasti, saya selaku walinya akan selalu memberi do'a dan restu untuknya." Hiasi menatap Hinata lembut.
"Kalau begitu, tinggal nak Hinatanya. Bagaimana? Apa Nak hinata menerima khitbahnya putra bungsu Om ini?"
Sebelum menjawab, Hinata balas menatap abinya. Seolah-olah hal itu dapat memberinya keyakinan. Melihat raut wajah Hiasi yang sumigrah, Hinata akhirnya memberanikan diri mengambil keputusan. "Bismillahirrahmaanirrahiim, in-insya Allah."
"Alhamdulillah." Serentak semua yang ada disana mengucap syukur.
"Karena kalian juga baru pertama bertemu, tentu dengan adanya proses ta'aruf akan sangat membantu untuk saling mengenal. Atau mungkin kalian ingin langsung menikah saja?" Rei menggoda Gaara dan Hinata yang kini wajahnya semakin memerah, dan yang lainya tertawa.
"Ta'aruf dulu lebih baik, Yah." Ujar Gaara. Dalam hati, Hinata berterima kasih pada Gaara, setidaknya ia tidak perlu menjawabnya lagi.
"Baiklah-baiklah," kata Rei masih dengan tawa dibibirnya. "Jadi, bagaimana persetujuannya? Akadnya kan harus jelas, kira-kira kapan proses ta'arif ini akan di akhiri?"
Tak terdengar jawaban dari keduanya, Hiasi pun ikut bertanya. "Teteh? Nak Gaara?"
Hinata mencuri pandang ke arah Gaara yang kebetulan ia pun sedang memandang ke arah Hinata. Seakan tahu maksud dari tatapan yang diberikan Hinata, Gaara pun angkat bicara. "Kalau saya ya terserah Hinatanya saja."
"Ba-bagaimana baiknya saja, abi. Teteh ikut saja."
"Loh, kan yang akan menjalaninya kalian berdua."
"Kalu begitu, terserah A Gaara saja." Kata Hinata sambil menunduk. Rasanya pipinya itu tak mau kembali seperti biasanya. Semakin panas saja.
"Mungkin ada masukan? Ayah, Om Hiasi, dan yang lainnya kan lebih berpengalaman." Tutur Gaara.
"Menurut saya terlalu lama juga tidak baik. Jadi dikira-kira saja." Neji mencoba memberi masukan.
"Betul itu." Karura menyetujui. "Jangan terlalu lama juga. Sebulan juga menurut ibu cukup."
Sontak membuat Gaara maupun Hinata tertegun. 'Apa tidak terlalu singkat?' tanya mereka dalam hati. Mengingat jarak tempat tinggal mereka yang lumayan jauh.
"Bagaimana?" Rei untuk yang kesekian kalinya bertanya.
"Menurut Hinata bagaimana?" kini suara Gaara yang terdengar, membuat Hinata mengangkat kepalanya.
"Ikut A gaara saja." Jawab Hinata malu-malu.
"Ya sudah kalau begitu. Insya Allah, satu bulan cukup, Yah, Om." Tegas Gaara.
"Alhamdulillah.." timpal mereka bersamaan, dan Hinata ikut menghela napasnya lega.
"Dan Insya Allah, satu bulan lagi, kami datang lagi ya Hiasi. Untuk menentukan akhir dari keputusan mereka." Ungkap Rei pada Hiasi.
"Tentu, tentu saja Rei. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untukmu dan keluargamu. Dan mudah-mudahan segalanya antara putra-putri kita berjalan dengan baik, disertai ridla Allah."
"Ibuuu, aku mau kue!" Suara kecil Ino tiba-tiba membuat para orang dewasa tertawa. Setidaknya hal tersebut sedikit memecah ketegangan bagi Hinata maupun Gaara.
TBC...
Well, that's all untuk waktu dekat ini. Sungguh perjuangan banget biar bisa update ditengah uas. Oh My! *curhat* ^^v
don't be silent reader please! hehe review review, biarkanlah saya mengetahui apa yang ada dalam benak anda. :D
