Hak Cipta bukan milik penulis. Apapun yang terjadi disini tidak terjadi di dunia nyata.
02
Shinji menatap Rei yang masih terbaring di ruang ICU. Alat darurat dan rekam jantung hanya yang menjadi bukti jika ia hidup. Seandainya ia datang lebih awal mungkin semua ini tidak perlu terjadi. Para pegawai kesehatan di rumah sakit ini menatapnya dengan penasaran. Bukan rahasia siapa dia disini, semua orang tahu, bahkan petugas kebersihan sekalipun. Tidak ada anak-anak yang dibiarkan bebas berkeliaran, kecuali mereka cukup gila untuk mengendarai Eva.
Tapi tidak ada petugas yang mengusiknya. Itu cukup mengejutkan. Terutama karena pada kehidupan Shinji sebelumnya, para orang dewasa memperlakukannya seperti anak kecil—atau lebih tepatnya mereka memperlakukannya seperti anak 14 tahun kebanyakan. Tapi sekarang, mereka menatapnya dengan penuh hormat, bahkan memberinya privasi untuk sekedar menatap rekan sesama pilot.
Apa yang tidak disadari Shinji adalah bagaimana rumor sudah beredar. Cerita yang dibagikan dari mulut ke mulut tentang dirinya yang tidak berpikir dua kali menaiki Eva karena tiap detiknya berharga untuk umat manusia, untuk nyawa tiap warga sipil yang mungkin masih terjebak dan tak bisa menjangkau bunker darurat.
Ditambah, ia menguarkan aura berbeda dibandingkan anak 14 tahun kebanyakan. Berada di dekatnya atau sekedar bicara padanya memberikan ilusi mereka bicara dengan orang yang jauh lebih tua. Old soul mereka menyebutnya. Dengan pembawaannya yang tenang dan tingkah lakunya yang sopan. Mengingatkan mereka pada orang Jepang yang dibesarkan di jaman feodal, sesuatu yang langka untuk ditemukan sekarang. Banyak yang menganggap Shinji Ikari cocok untuk dipakaiankan kimono dan duduk diatas tatami dengan latar belakang hutan bambu.
Tidak mereka tahu bahwa semua itu hasil dari perjuangan keras tanpa pamrih demi orang lain, bahkan mengorbankan dirinya sendiri untuk saudara perempuannya. Apa yang mereka lihat adalah hasil akhir dari mental yang telah ditempa oleh kondisi paling buruk. Antara hidup dan mati. Pengalamannya telah membawa Shinji untuk mengapresiasi hal terkecil, orang-orang disekitarnya, latar belakang yang menyokongnya dalam bayangan. Apresiasi yang perlahan menghasilkan penghormatan dari orang-orang disekitarnya. Jika kau membandingkan Shinji, maka kau bisa membandingkannya dengan prajurit dari masa lalu, prajurit yang hanya punya sedikit senjata tapi mengorbankan segala hal pada dirinya. Kamikaze mereka bilang. Ya, mengingat bagaimana ia tanpa ragu mengorbankan dirinya menghadapi angel ke 3 dengan kesuksesan yang hampir seperti mukjizat.
Diam-diam mereka menyebutnya Kamikaze, dari nama prajurit yang memberikan harapan terakhir. Nama yang juga berarti Angin Dewa.
Shinji menoleh pada pria muda berseragam militer yang berdiri tak jauh darinya. Dipasang diam-diam untuk melindunginya. "Apa kau tahu dimana aku bisa melihat salah satu pasein yang terluka saat serangan Eva? Namanya Sakura Suzuhara."
"Aku yakin pihak administrasi bisa memberitahu," katanya sambil beranjak. Tak lama pria itu kembali dengan seorang suster untuk memandu mereka. Shinji tahu pihak rumah sakit mengijinkannya karena ia adalah seorang pilot Eva. Sekalipun ia tidak punya pangkat dalam organisasi, tapi namanya cukup untuk memberikan dorongan pada situasi dan hal-hal tertentu seperti ini. Tidak ada yang ingin menolak permintaan dari satu-satunya orang yang bisa mengendarai Eva 01.
Menurut pengakuan suster, Sakura Suzuhara telah dipindahkan ke bangsal perawatan jangka panjang. Bongkahan beton jatuh menindihnya sehingga menyebabkan kerusakan pada sistem syaraf yang membuatnya lumpuh. Shinji menatap gadis yang sedang tertidur pulas itu. Rambut hitam dengan semburat kecoklatan mengingatkannya pada Toji.
"Itu bukan kesalahanmu, sir," komentar Kopral yang berdiri di sebelahnya. "Kekacauan tak dapat dihindari, sekeras apapun kita mencoba."
Shinji mengangguk, "Tapi itu tidak harus membuat kita belajar dari kesalahan, Kopral."
"Sir," katanya penuh hormat. Saat Shinji berbalik, prajurit itu mengikutinya dengan senyuman. Shiji tidak tahu jika perkataannya telah menyentuh hati orang yang mendengarnya, bahkan mereka yang berada dibalik transmisi.
"Sial bocah itu!" seru salah satu personel Section-2 yang mendengarkan dibalik penyadap, "Ia tidak seharusnya menanggung tanggung jawab seberat itu! Dia masih 14 tahun, demi tuhan!" sekumpulan personel disana, tidak sedikit dari mereka pernah bertegur sapa dengan pilot istimewa yang mengendarai Eva 01 itu. Mereka semua tahu kualitas karakter Shinji Ikari jauh dari ayahnya.
"Well, menjadi tugas kita untuk lain kali memastikan tidak ada seorangpun gadis kecil yang tertinggal. Tugas kita untuk menjaga Pahlawan kita semua dari rasa bersalah," sahut yang lain sambil menghisap rokoknya dengan gerakan frustasi. "Kita tidak hanya menjaga kelangsungan hidup tiap pilot, tapi juga kesehatan mentalnya. Tidak ada yang ingin membiarkan mereka berakhir sebagai mesin pembunuh berdarah dingin karena trauma telah menutup hati mereka."
"Istimewa memang Shinji Ikari. Kau tahu apa yang kudengar saat ia memutuskan masuk ke dalam Eva? 'Lebih lama kita menunggu, lebih banyak orang yang akan terluka diluar sana.' Dia bilang..."
"Kau sudah mengulangnya berkali-kali, Steve," yang lain tertawa. "Istimewa memang dia. Aku penasaran apa yang membuat mata dan rambutnya berubah seperti itu?"
"Dia mungkin saja mewarisi sesuatu yang aneh dalam mutasi genetik sewaktu kecil. Mungkin juga si brengsek dan staff-nya itu melakukan Psycho-scientists seperti memberikan implant untuk membuatnya seperti itu."
"Kau bilang ia GMO?"
"GMO?"
"Genetically Modified Organism."
"Berdasarkan sejarah dan laporan medis, yang mana hanya menunjukkan sedikit sekali, mereka mengklaim tidak melakukan apapun."
"Tapi biru adalah warna mata alaminya, juga rambut hitam seperti kebanyakan orang Jepang, mereka pasti melakukan sesuatu. Maksudku, tidak ada orang yang berubah sedrastis itu dalam waktu singkat."
"Well, mungkin itu dampak dari mempiloti Eva, kau tahu ada seorang gadis dengan warna yang sama sedang terbaring karena mempiloti monster itu kan?"
Mereka mengangguk dalam keheningan yang berat. Mengirimkan percakapan itu kembali pada tiap personil Section-2 dimanapun mereka berada.
...
Shinji menatap pantulan dirinya dicermin. Hilang sudah usahanya untuk tampil biasa saja dan tenggelam dalam kerumunan. Mata biru dan merah pucat memandang balik dari pantulan. Shinji mengambil sisirnya, membuat juntaian putih dari sebagian rambutnya jatuh menutupi mata itu. Shinji mencoba memakai penutup mata, tapi segera mengurungkannya karena alih-alih lebih baik, ia malah terlihat aneh. Seragam sekolahnya identik dengan sekolah lamanya, sama seperti SMP di Jepang yang lain, dengan kemeja putih sederhana dan celana hitam. Tapi karena tubuhnya yang tiba-tiba bertambah tinggi, Misato membelikannya satu set seragam baru. Tapi ia masih perlu mengganti pakaian hariannya dan juga sepatunya. Untuk sementara Shinji harus puas dengan memakai sepatu militer yang ia pinjam dari barak. Untungnya tidak ada aturan ketat untuk apa yang dipakai bersama seragamnya.
Ia menyisir rambutnya ke belakang, membuat potongan tidak rapi itu seolah gaya yang disengaja. Seharusnya sudah waktunya ia memotongnya, tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Ia harap NERV punya senjata yang cukup tajam untuk memotong besi yang bisa dicurinya. Shinji meraih tas selempangnya dan buru-buru turun dari kondo. Saat ia mencapai tempat parkir, sebuah mobil hitam besar NERV sudah menunggu, dengan seorang agen berambut pirang pendek hampir undercut, menahan pintunya terbuka.
"Sersan," sapanya melihat tiga simbol V kuning di bahunya yang menandakan jabatannya dalam militer.
"Pilot Ikari," tentu saja karena Shinji tidak punya jabatan dalam NERV, banyak yang memanggilnya dengan cara itu untuk menunjukkan hormat. Biarpun ia tidak benar-benar bisa menerbangkan pesawat untuk dipanggil pilot.
"Bukankah ini terlalu berlebihan saat ingin menyembunyikan hubungan dengan NERV," ia tersenyum kecut.
"Keselamatan pilot Eva adalah yang utama."
Shinji memutar bola mata. Ia tidak mengalami dilema ini di kehidupannya sebelumnya karena Misato selalu mengantarnya dengan mobilnya dan cukup percaya untuk membiarkannya berangkat sendiri. Walau ia tahu benar Section-2 selalu menguntit-nya dengan protokol perlindungan menyeluruh. Shinji menggeleng kepalanya. "Tidak dengan mobil itu dan seragam itu. kau bisa melepas jaket dan helm-mu, atau beri aku anggota yang bisa kamuflase. Aku tidak akan berangkat sekolah seperti sedang parade militer," Shinji bersedekap sambil memasang tampang keras kepala.
Pria itu menarik ponsel dari sakunya dan bicara singkat pada otoritas diseberang sana. Setelah ia menyimpan lagi ponselnya, ia dengan cekatan melepas jaket militer dan helm. Lalu menggantinya dengan jaket kulit yang diambilnya dari jok kursi depan. Ia mengakhirinya dengan kacamata hitam. Shinji merona saat pria itu mengulurkan tangan untuk berjabatan dan memperkenalkan diri, "Sersan Mayor Ryu Muller," namanya menunjukkan ia blesteran Jepang-Jerman.
"Hanya Shinji Ikari," balasnya sambil tersenyum tipis.
Pria muda itu menaikkan alis warna tembaga-nya, "Tentu tidak ada yang biasa dengan seorang Pilot Eva. Ah... datang juga transportasi kita." Sebuah mobil Bantley Mulsanne hitam meluncur mulus dan berhenti di depan mereka. Personil militer di kemudi turun untuk memperkenalkan diri, "Kopral Hiro Kishimoto," Shinji menjabatnya. Kedua pria itu saling mengangguk sebelum Kishimoto berlari kembali ke jok kemudi, dan Mayor Muller membuka pintu mobil untuk Shinji.
Shinji masuk dan menutup matanya. Ia bisa mencium interior kulit begitu ia tenggelam di tempat duduknya. Ia tahu mobil itu kedap suara dan anti peluru. Ia tahu jendelanya digelapkan. Hanya satu dari banyak cara untuk membuat semua orang berada dijangkauan tangan NERV. Dan ia tahu pengemudinya, jelas, terlatih bertarung dan siap mati untuknya. Tapi saat ini, ia tidak peduli dengan semua itu. Yang ia tahu, mobil ini tidak akan berhenti pada apapun sampai bisa mengantarkannya ke sekolah sebelum bel pertama.
Bentley Mulsanne. Punya kecepatan max 269 kmph dan sepi seperti hantu. Ia tahu apapun soal mobil ini. Bah, tuhan pun tahu ia sudah berkali-kali berkendara dengannya. Setelah pertarungan melawan Angel selesai dan pembersihan diseluruh Tokyo 3 dimulai, Gendo butuh orang-orang untuk memastikan 'Pahlawan' mereka kembali dengan selamat dan mendapat semua akomodasinya.
Memikirkan itu membuat Shinji sakit, ia bukan pahlawan siapapun. Ia hanya bidak takdir yang kebetulan cocok untuk dijadikan tumbal umat manusia karena proyek yang dikerjakan orang tuanya telah mengusik dan membuat marah siapapun di atas sana. Belum lagi petualangan menembus waktu...
Jelas ada sesuatu di atas sana.
Dan mereka sedang melontarkan kemarahan dan memaksa Shinji untuk mengatasinya. Pertanyaannya adalah dibagian yang mana? Umat manusia sudah terjerumus terlampau jauh dalam malapetaka karena kesombongan. Itu terlalu berat untuk diatasi anak 14 tahun sendirian.
Tapi disinilah aku berdiri, batinnya sambil berdiri menatap gedung sekolah. Anak-anak tampak melongok dari jendela kelas mereka. Menatap dan saling berbisik membicarakan Shinji dengan penasaran. Siapapun tahu, walau bukan mobil militer yang mengantarnya, tapi tidak semua orang bisa diantar dengan mobil macam ini kecuali kau punya hubungan dengan pemerintah. Dan mengingat Tokyo 3 adalah pusat NERV, bukan rahasia jika Shinji sendiri atau keluarganya punya hubungan dengan orang penting dalam pemerintahan.
"Sampai nanti, Pilot Ikari," kata Sersan Mayor Muller, bersama mobil yang berlalu pergi. Tak lama terdengar suara merdu bel yang menandakan dimulainya jam pertama. Sesungguhnya ia berharap bisa berangkat lebih awal agar tidak menarik perhatian. Tapi apa di kata, yang penting ia tidak terlambat. Berdiri kembali di depan kelas 2-A menimbulkan rasa nostalgia dalam dirinya. Kelas yang tidak banyak memberikan memori bahagia kecuali pada hubungan singkat dengan beberapa orang di dalamnya. Jika Asuka menyerap semua perhatian dan popularitas itu seperti orang menegak Vodka, maka Shinji adalah kebalikannya. Ia hilang dalam latar belakang dan kepopuleran itu berganti dengan pengucilan. Mungkin kini ia tidak akan membiarkannya sejauh itu, walau ia tidak akan menikmati kepopuleran itu seperti Asuka.
Atau sebaiknya ia memang merahasiakan posisinya sebagai pilot.
Kelas 2-A sama seperti bagian Tokyo 3 yang lain, tidaklah senormal apa yang orang lain kira. Bah, bahkan petugas kebersihan di sekolah ini tidaklah senormal apa yang orang lain kira. Shinji tahu jika kepala sekolahnya adalah personel NERV yang punya kewenangan secara langsung untuk berhubungan dengan ayahnya jika ada sesuatu yang berbahaya di dalam lingkungan sekolah. Bahkan teman-teman sekelasnya adalah anak-anak yang memiliki potensi untuk menaiki Eva. Kelas A untuk potensi pilot kelas A.
Begitu Shinji melangkah masuk, ketua kelas, Hikari Horaki menyambutnya dengan senyum lebar. Lalu, gadis itu seperti tidak bisa berhenti menatap rambut dan warna matanya. Peraturan sekolah yang melarang mewarnai rambut menunjukkan bahwa warna aneh itu memang alami miliknya. Segera gadis itu menggelengkan kepala keras berusaha menguasai diri. "Ah, salam kenal. Aku diberitahu jika ada siswa baru di kelas ini, salam kenal, Ikari-kun."
"Salam kenal Horaki-san," bisik Shinji, sedikit gamang melihat orang yang dikenalinya. Jangan bertingkah seakan kau mengenalnya, idiot, batin Shinji. "Ji-jika aku boleh meminta, tolong tidak usah perkenalan. Karena kelas sebentar lagi di mulai."
"Oh!" ia mengerjap, tampak kaget Shinji sudah tahu namanya. Memutuskan bahwa pasti Shinji sudah mendengar namanya disuatu tempat-semua orang disekolah ini tahu namanya, lagi pula,-ia tersenyum sambil berkata, "Tentu Ikari-kun. Kau bisa duduk di salah satu bangku kosong dekat jendela, di tengah atau di belakangku." Shinji mengangguk. Alih-alih memilih kursi lamanya di tengah ruangan, Shinji bergerak pada bangku dekat jendela. Matanya terus mengarah kebawah, dengan sengaja menghindari tatapan teman sekelasnya yang mungkin menganggapnya aneh. Saat itu wali kelas masuk dan Hikari mengalihkan perhatiannya untuk memimpin kelas memberi hormat.
Nama-nama mulai di absen. Shinji mengamati teman-teman sekelasnya yang tampak ceria dan bebas, dibalik kondisi Tokyo 3 yang selalu dipenuhi ancaman. Tapi mereka memang tidak tahu apa-apa soal ancaman itu. NERV menutup semua seluran publik setiap Angel menyerang. Apa yang mereka tahu hanyalah dari ada orang yang cukup berani membocorkan sistem dan menyebarkan rekaman penyerangan Angel. Itu pun masih penuh spekulasi dan banyak yang tidak percaya ada monster seperti itu yang menyerang mereka.
Kensuke Aida yang menatapnya dengan mulut masih menga-nga tiba-tiba berseru, "AAAAKKKHH..." telunjukkan teracung pada Shinji. "Kau pilot Eva, kan?!" Shinji menoleh cepat ke belakang. Ia melupakan teman sekelasnya yang satu ini. Sang otaku militer yang membuat hidupnya sulit lebih dari sekali. Keributan mulai terdengar disamping usaha Hikari untuk menenangkan dan membuat para siswa kembali fokus. Guru mereka tampak tidak terpengaruh, seolah keributan itu tidak pernah ada. Dan para siswa seperti tidak takut untuk mengabaikannya. Siapa yang peduli pada materi pelajaran yang merupakan alat propaganda dengan 5% kebenaran disana. Bahkan gurunya sendiri pun tidak peduli.
Shinji mengabaikannya dan sebisa mungkin tidak menoleh lagi dari laptopnya. Kedip-kedip email yang terus bermunculan, dikirim oleh teman sekelasnya, yang mayoritas perempuan ia abaikan. Shinji tahu kebanyakan hanya memastikan rumor itu benar.
‹ Shinji-Kun. Apa kau sungguh pilot Eva? ‹ transmisi di terima.
‹ Hei, kenapa warna rambut dan matamu seperti itu? ‹ transmisi di terima.
‹ Hai— ‹ Shinji mengeklik tanda x dan mengabaikannya.
Saat bel istirahat terdengar, beberapa gerombolan siswi mendekatinya untuk berkenalan. Ia hanya mengangguk dan membalas mereka dengan sopan, tapi tidak menjelaskan apapun atau menjawab pertanyaan yang menurutnya terlalu pribadi. Banyak dari mereka yang bertanya dibagian apa orang tuanya bekerja di NERV? Karena siapapun tahu mereka yang masih bertahan di Tokyo 3, jika bukan karena penduduk asli Tokyo, adalah karena mereka bekerja untuk NERV, sama seperti kebanyakan orang tua siswa di kelasnya.
Shinji hanya menjawab dengan senyum menyesal, "Maaf, Classified—"
"Kyyaa! Classified dia bilang. Keren..."
"Kau sangat cerdas Ikari-kun." Shinji merona dan berusaha menolak semua pujian yang ia tidak tahu dari mana semuanya berasal. Mimpi buruknya berakhir saat Hikari mengambil alih kendali dan mengusir semua gadis itu, "Bubar! Bubar! Kalian bilang mau memperkenalkan diri saja, tapi itu sudah melanggar privasi! Bubar!" sambil mengayun-ayunkan kipas kertasnya seperti mengusir nyamuk. Shinji melemparkan tatapan penuh syukur yang dibalasnya dengan acungan jempol.
Sebelum bahkan Shinji menghela napas lega, gerombolan Hyena lapar itu digantikan oleh sesuatu yang tidak ingin dipikirkannya sekarang. "Bisa kita bicara empat mata?" Toji berdiri menjulang di depannya, sementara Kensuke tak jauh darinya dengan kamera di tangan.
Kedua teman sekelasnya itu membawanya ke halaman belakang dekat tempat parkir sepeda. Kensuke tidak meninggalkan mereka, tapi berdiri cukup jauh untuk memberikan ilusi privasi, sekalipun Shinji tahu pemuda itu bisa mendengar jelas percakapan mereka.
"Apa kau benar orang yang mempiloti Eva kemarin?"
"Kenapa itu penting bagimu?"
"Sudah jawab saja!"
"Jika aku jawab ya, apa yang akan kau lakukan?"
Koji tampak murka, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. "Jika kau menjawab Ya. Maka aku punya hak untuk memukulmu! Karena kau yang telah menyebabkan adikku terluka!"
Shinji menghela napas berat. Di sudut matanya ia melihat dua orang personel Section-2 dengan jas hitam dan kacamata mereka berdiri di dalam bayangan, siap mengambil alih. Ia tahu mereka tidak akan membiarkan Toji melakukan tindakan drastis selain satu atau dua pukulan yang mungkin memang pantas didapatkannya.
"Bukankah itu malah membuatku tidak ingin mengatakan Ya?"
"Jadi benar, kau—" seketika Toji melayangkan tinjunya. Refleks Shinji yang terlatih membuatnya menghindar, tapi Toji tidak berhenti disana; kemarahan membuat tubuhnya bergerak lebih cepat, ia berbalik untuk menyarangkan tinjunya sekali lagi ke dagu Shinji.
Shinji tidak menghindar, hanya menelengkan kepalanya sedikit karena tidak ingin mematahkan jari Toji. Namun, dengan hantaman keras itu pun, Shinji masih berdiri tidak bergeming. Sambil terengah-engah Toji menatapnya penuh kemarahan. Mungkin pemuda itu berharap memancing emosi Shinji sehingga terjadi perkelahian yang bisa memuaskan kemarahannya. Tapi yang dirasakan Shinji hanya kesedihan dan kehampaan yang mendalam. Ia memahami perasaan Toji yang putus asa karena tidak bisa menyelamatkan adik perempuannya, ia merasakan itu pada Ayanami. Ia harap Toji mampu berpikir logis, karena ia tahu konsekuensi dari kemarahan yang tak terkendali. Dengan alat yang tepat, kemarahan seperti itu bahkan bisa menciptakan kiamat ketiga.
"Aku harus mengingatkanmu. Serangan lebih dari ini pada pilot Eva akan membuatmu di penjara."
"Jadi kau mengakuinya!"
Shinji tersenyum, menggosok perlahan memar yang mulai muncul di pipinya, tapi ia pernah terluka lebih dari ini. "Kau memukulku tanpa memastikan itu."
Toji bergerak kembali untuk memukulnya, tapi sebelum itu terjadi, dua orang personel NERV menghentikannya dengan gerakan bela diri yang membuat Toji jatuh terkunci tidak bisa bergerak. Kensuke terkejut dengan kedatangan tiba-tiba mereka hingga menjatuhkan kameranya.
Pada Toji yang masih meronta, Shinji berkata, "Katakan Toji. Seandainya aku tidak terlambat datang ke Tokyo 3, apa saudaramu akan selamat?"
"Apa?"
"Kau mendengarku," Shinji menatap ke cakrawala, "Aku datang ke Tokyo 3 tepat saat Angel Ketiga menyerang. Jarak antara itu hingga aku menaiki Eva ada lebih dari satu setengah jam. Mengapa adikmu belum berada di pengungsian?"
"KAU! Beraninya Kau!" Toji menjerit dan meronta sementara Kensuke memandang Shinji dengan wajah pucat pasi sambil berbisik, "Sampai ke Tokyo 3?" lalu berseru, "Itu pertamakalinya kau mengendarai Eva?!"
Mengacuhkan semua itu, Shinji melanjutkan, "Aku tidak akan berkomentar tentang tuduhanmu soal akulah penyebab adikmu terluka. Tapi aku ingin kau berpikir lebih rasional. Jika kemarahan mengendalikanmu, tindakanmu akan merugikan orang terdekat mu, Suzuhara-kun." Sebelum personel NERV membawa Toji pergi, Shinji menambahkan, "Dan soal adikmu," Toji menoleh padanya, menatap matanya yang sendu, "Aku akan memastikannya mendapatkan pengobatan terbaik." Toji mengalihkan pandangannya, digiring pergi, diikuti Kensuke.
Sersan Mayor Muller menepuk bahunya, "Itu bukan salahmu, Ikari-kun."
Shinji hanya membalasnya dengan tersenyum dan pria itu tahu benar jika Shinji tidak benar-benar percaya apa yang ia katakan. "Masuklah, sebelum pelajaran dimulai."
"Apa sekarang Section-2 juga mengurusi pendidikanku?"
Pria itu menyeringai, "Tugasku mengurusimu, bahkan jika perlu aku bisa menyuapimu dan mengelap bokongmu."
Shinji memutar bola matanya. Jika semua anggota Section-2 punya humor seperti dirinya, lebih baik ia di makan Angel.
Saat Shinji kembali, ia berpapasan dengan ketua kelas yang membawa tumpukan kertas di koridor. Tanpa berpikir dua kali, ia bergerak mengambil beberapa tumpuk paling atas dan akhirnya ia bisa melihat kepala Hikari. "Ah, Ikari-kun. Terima kasih. Kau tidak perlu repot-repot membantuku!"
"Apa yang kau lakukan, ketua?"
"Ah, aku hanya perlu membagikannya ke kelas-kelas. Tapi tampaknya jam istirahat sudah berakhir sebelum aku menyelesaikannya."
"Biarkan aku membantumu."
"Trims, Ikari-kun. Kau dewa penolong."
"Tidak perlu menyebutku seperti itu. Aku yakin yang lain juga melakukan hal yang sama," Shinji melirik koridor kosong. Ia tidak pernah menyadari banyak hal tentang Hikari Horaki, yang diingatnya hanya ia menyimpan perasaan untuk Toji dan seorang ketua OSIS. Ia merasa gadis ini tidak punya banyak teman karena sebagian besar siswa takut pada karakternya yang tegas dan tanpa kompromi. Shinji sedikit merasa bersalah baru menyadari bahwa teman-teman sekelasnya membiarkannya bekerja keras sendirian. Sekalipun itu sudah menjadi karakternya, Shinji tahu betul beratnya menanggung beban sendirian. Paling tidak, sekarang Shinji bisa melakukan sesuatu untuk membantunya. "Ku pikir-pikir, jika kau membutuhkan bantuanku, aku siap membantumu kapan saja, Horaki-san."
Pandangan Hikari melembut. "Kau orang yang baik Shinji-kun. Panggil saja aku Hikari."
"Kalau begitu kau juga harus memanggilku Shinji." Mereka mengambil langkah beriringan, menuju ke kelas-kelas untuk membagikan pamflet.
"Aku minta maaf, Shinji-kun," kata Hikari tiba-tiba. "Aku tahu Toji sudah berlaku kasar padamu. Aku ingin minta maaf atas dirinya. Aku yakin dia akan menunjukkan penyesalannya jika kepalanya sudah dingin."
"Sekali lagi, kau tidak perlu berkata begitu. Aku tidak marah pada Suzuhara-kun. Aku harap dia tidak mendapat hukuman."
Hikaru mendengus, "Dia pantas mendapatkannya. Aku dengar dia di skors 3 hari."
Shinji bernapas lega. Ia tahu Toji bisa berakhir lebih buruk dari itu karena menyerang pilot. "Aku minta maaf, Hikari-san. Karena aku, Suzuhara-kun mendapatkan hukuman."
"Kau tidak salah, Shinji-kun! Berhenti minta maaf!" gadis itu tertawa riang. "Aku yakin ini bisa jadi pelajaran untuk Toji agar menjaga tempramen-nya." Tiba-tiba saja Hikari berkomentar untuk memecahkan keheningan, "Kau orang pintar Shinji-kun."
Shinji yang kaget pada arah pembicaraan mereka mengangkat alis penasaran, "Kenapa kau berkata begitu?"
"Aku sudah melihat nilai kuis matematika-mu."
Jika mungkin Shinji bisa lebih merona lagi. Ia menggeleng pelan, "Soal-soal ujiannya tidak sesulit... sebelumnya..."satu dari keuntungan yang di dapatnya dari mengulang kehidupan kembali. Tapi walau demikian, matematika selalu mudah untuknya, seperti permainan yang menghibur. Shinji menyukai ilmu Sains dan hitungan. Hanya lebih mudah ditangkapnya dibanding pelajaran yang lain. Tentu saja tidak mengherankan dengan ayah dan ibu yang bisa dikategorikan genius.
"Hai' Shinji-kun. Terima kasih sudah mau membantuku. Kau orang yang baik, dan aku merasa terhormat bisa mengenalmu."
Shinji merona, "Well, aku tidak tahu tentang hal itu, tapi aku juga merasa senang bisa mengenalmu, Hikari-san." Seperti ia melihat Hikari berjalan menjauh, Shinji sedikit cemburu dengan Toji yang bisa dicintai oleh orang seperti Hikari. Bukan berarti ia jatuh cinta dengannya, karena Shinji yakin seperti apa ketertarikan itu. dan perasaannya sekarang hanya sebuah kekaguman. Tidak banyak orang punya kualitas seperti Hikari Horaki.
Saat Shinji berjalan keluar sekolah, lengannya ditangkap dan ditarik ke belakang oleh Sersan Muller. Pria itu masih berjaket kulit dengan kacamata hitam yang membuat penampilannya bertambah macho. "Merindukanku?"
Shinji memutar bola mata. "Kita baru bertemu beberapa jam yang lalu, Muller-san."
"Panggil saja Ryu, Shinji-kun."
"Tidak sepertimu, aku tidak tiba-tiba memanggil nama depan orang."
Pria itu menarik dagu Shinji, "Aneh sekali, memarnya sudah hilang."
"Hm..."
"Kau tidak tampak terkejut. Jadi ini bukan pertama kali? Sering terlibat pertarungan?"
"Tidak juga."
Pria itu membuka pintu mobil Shinji. "Juga panggil dengan nama depanku saja. Jika pernah terlibat perkelahian bersama, kita bukan orang asing lagi."
"Jika kau menganggapnya perkelahian, Sersan Mayor."
"Pilot, sir," balasnya sambil memberi hormat dan menutup pintu dengan keras sebelum Shinji sempat protes. Jelas siswa yang lain sudah melihat tingkah itu dan mungkin menganggapnya serius. Shinji berharap, besok tidak ada diantara mereka yang ikut memberi hormat. Pilot Eva bukan jabatan militer, lagi pula.
"Ryu-san. Bisakah kau mengantarkan ke tempat aku bisa membeli pakaian?" Pria itu mengerling sambil mengangkat alis. "Aku perlu mengganti semua baju lama-ku."
"Semua? Apa kau ingin menghamburkan uang gaji pertama-mu? Bukannya aku protes, karena jujur kau perlu lebih dari seragam sekolah saat pergi ke NERV atau mereka semua tidak akan menganggapmu serius."
Shinji mendengus, "Hanya karena baju lamaku sudah terlalu kecil."
"Siap laksanakan! Aku akan membantumu memilih gaya yang membuatmu terlihat tajam." Shinji mengerang dalam hati. Well, paling tidak, ia tahu Sersan Mayor Ryu Muller punya gaya.
Muller membawanya ke distrik perbelanjaan. Tidak sebesar 15 tahun yang lalu dengan semua kekacauan yang terjadi, tapi paling tidak bisnis masih berjalan di tempat ini. Selain pertokoan, ada juga kafe-kafe dan bar yang pastinya lebih ramai saat malam menjelang. Pria itu membawanya menembus keramaian dengan langkah ringan khas militer terlatih. Selalu menempatkannya dalam jarang pandang dan jangkauan. Di kejauhan ia bisa melihat Selection-2 berbaur dalam kerumunan dengan jas dan kacamata hitam mereka. "Aku penasaran, apa kacamata mu itu sama seperti yang dimiliki Selection-2?"
"Benda ini?" pria itu mendorong kacamatanya turun. Tubuhnya yang besar menggeser orang disekitar mereka untuk memberi Shinji jalan. "Kau mau mencobanya?" tanpa menunggu, ia bergerak dibelakang Shinji, menariknya menempel di dadanya dan memasangkan kacamata itu. Perbedaan tinggi mereka membuatnya bisa melihat melampaui puncak kepala Shinji dan tetap mengawasi kerumunan.
Tidak memperhatikan hal itu, perhatian Shinji teralihkan sepenuhnya pada lensa di kacamata tersebut. Ia mengira kacamata itu akan merubah semuanya lebih gelap, tapi ia salah! Kacamata itu hanya dibuat agar tidak ada yang menyadari ke arah mana tatapan agen. Tapi dibalik itu, lensanya secerah dan seterang siang bolong. Ia bisa melihat tiap detail dari benda yang dijadikannya fokus, sejauh, hingga ia bisa melihat plat mobil yang jaraknya lebih dari 10 meter. "Wow!"
"Keren bukan? Dengan ini aku bahkan bisa melihat jerawat-mu."
Komentar itu seketika membuat Shinji merona dan menyentuh pipinya yang hanya dibalas dengan tawa keras menandakan bahwa ia bercanda. Mendengus kesal, Shinji berbalik dan berjalan meninggalkan pria itu. Ryu Muller yang masih tertawa keras tertatih-tatih mengikutinya.
Shinji kembali ke kondo-nya saat matahari sudah lama terbenam dengan belanjaan penuh di kedua tangannya. Bahkan Sersan Mayor Muller perlu membantu membawakan belanjaan untuk makan malam. Pria itu bersiul begitu Shinji menyalakan lampu, meletakkan belanjaannya di konter dapur. "Aku tidak tahu gaji pilot, tapi aku yakin mempiloti Eva bisa membuatmu kaya raya."
Shinji mendengus, "Tidak juga. Kau bisa melihat Ayanami-san. Ini hanya hasil dari mengancam Gendo."
Pria itu tertawa, "Mengancam? Aku tidak tahu kau punya yang seperti itu pada dirimu. Tapi mengingat kau menghadapi monster itu dan menang... seharusnya aku tidak heran."
"Maksudmu Angel?" Ia meraih karton belanjaannya, "Ah, terima kasih, Ryu-san. Kau bisa meletakkan yang lain disana. Em... jika kau tidak keberatan, kau bisa makan malam disini. Omong-omong kau bisa memanggil yang lain juga..." tambah Shinji dengan ragu-ragu.
"Keberatan? Mendapatkan makan malam gratis? Tentu saja tidak. Tapi, kau yakin mau memanggil yang lain? mereka kumpulan idiot, seperti babi lapar, kubilang."
Shinji tertawa, sambil menggeleng menjawab, "Tentu saja tidak."
Mengetuk transmisinya, Sersan Mayor Muller berkata, "Kalian dengar itu? bawa bokong kalian kemari."
Tak lama ketukan di pintu terdengar dan Sersan Mayor Muller mempersilakan mereka masuk. Totalnya ada tujuh orang yang bertugas melindunginya. Bukankah itu tampak berlebihan untuk seorang seperti dirinya? Seolah bisa membaca pikiran Shinji, Muller berkata, "Ini hanya tim Kamikaze yang berada di lapangan. Sayangnya 'telinga' kami tidak bisa ikut karena mereka berada di tempat yang jauuh dari sini."
"Oh... jadi totalnya sebanyak apa anggota pada tim—apa tadi kau menyebutnya?"
"Tim Kamikaze, tim pelindung Kamikaze, kami menyebutnya, berdasarkan nama panggilanmu."
"Apa?"
"Kau tidak tahu? Mereka semua menyebutmu Kamikaze, sama seperti tim penghancur pada PD II."
Shinji hanya bisa terbata. "Bagai-mana bisa mereka memanggilku K-kamikaze?"
"Jangan menghiraukannya," sahut satu-satunya anggota wanita yang sama-sama berjas hitam. "Inoki Hanyu," ia mengulurkan tangan untuk bersalaman. Dan satu persatu mereka mengikuti. "Terima kasih telah mengundang kami kemari."
Shinji menggeleng keras, "Tidak. Aku senang kalian mau menerima undanganku."
"Menolak undangan Pilot Eva 01? Tidak mungkin," kata pria botak berkulit hitam yang tersenyum lebar dan memperkenalkan diri dengan sebutan Nick.
Shinji merona. "Silakan duduk, jika kalian tidak keberatan aku akan mulai memasak..."
"Oh, bukankah kau seorang gantleman? Kau tidak perlu sekaku itu, kami akan membantu. Lagi pula kami adalah tim mu."
"Tim ku?"
"Ya, sama seperti Personel yang mengurus Eva Unit-01, sebagai gantinya kami mengurusmu. Apapun akomodasi yang kau butuhkan, kau bisa meminta tolong pada kami, Pilot Shinji Ikari," kata wanita itu sambil memberi hormat. Shinji membelalakkan mata. Tidak pernah sadar ada tim seperti itu. Pantas saja mereka selalu berhasil menemukan Shinji kemanapun ia kabur. Tapi paling tidak sekarang ia bisa memiliki hubungan yang lebih baik dengan mereka.
"Ka-kalau begitu, mohon bantuannya," Shinji merunduk dalam, "Terima kasih sudah melindungiku selama ini."
"Tentu saja, sir. Kehormatan bagi kami bisa bekerja bersama-mu. Sekarang, apa yang bisa aku bantu?" ia berkata sambil menyingsingkan lengan baju.
Memasak adalah satu-satunya keahlian yang dengan percaya diri diakui Shinji. Setelah seumur hidupnya selalu berkutat di dapur dan memasakkan keluarga pamannya. Pamannya tidak menerima kegagalan apapun yang dilakukannya, termasuk tugasnya memasak. Saat sampai di Tokyo 3, tinggal bersama Misato yang amburadul dan Asuka yang penuntut, membuat keahliannya terasah dengan tajam. Sekalipun ia tidak akan mengulangi kehidupan itu lagi, mengingat segala permintaan penuh teriakan dan sindiran dari rambut merah, tetap membuatnya bergidik.
Sersan Mayor Muller memegang bahunya sambil melemparkan ekspresi cemas, membuatnya sadar ia telah menatap konter dapur dengan wajah pucat pasi. Shinji tersenyum samar, berbisik, "Hanya mengingat sesuatu yang buruk." Pria itu akhirnya mengangguk, tapi tidak beranjak dari tempatnya berdiri protektif, seakan kehadirannya bisa mengusir pikiran buruk. Tapi memang itulah yang terjadi, karena pria itu tidak berhenti membuatnya tertawa. Ada rasa menenangkan mengetahuinya berada disana, mungkin alam bawah sadarnya menghubungkan keberadaan agen NERV itu dengan rasa aman. Lagi pula, tawanya terdengar familier.
"Jadi, bagaimana kalian mengawasiku 24 jam?" tanya Shinji memecah keheningan.
Duduk di meja makan bersama lima orang yang lain, sersan Inoki menjawab, "Well, kami bertugas bergantian. Kadang kami menjadi 'telinga' ."
"Hm... Jadi aku bisa menemukan kalian bersembunyi di mobil yang diparkir dan sudut-sudut gelap?" tanya Shinji geli, setengah tidak percaya.
"Dan terkadang di kamar beberapa lantai dari sini," sahut yang lain.
"Sungguh?!" Shinji terkejut karena mereka tidak menyangkalnya. Ia mengerutkan dahi, "Jika kalian memang harus mengawasiku 24 jam, kalian bisa tinggal disini, tidak perlu bersembunyi di dalam mobil atau bayangan. Kondo ini punya kamar lebih dari yang kubutuhkan."
Mereka menatapnya terkejut. Inoki menyebur, "Kau tidak risih dengan kami? Kebanyakan merasa privasinya direnggut."
Shinji mengerutkan kening, "Tapi bagaimanapun kalian tetap ada disana, kan? Bukankah itu tetap membuat privasi hanya ilusi?"
Mereka tersenyum, sebagian terkekeh sambil menggelengkan kepala seolah tidak memahami Shinji. "Trims Shinji-kun. Kau sungguh membuat kami merasa terapresiasi. Tapi kami butuh menjaga parameter tetap steril dengan tidak berada di satu tempat sekaligus. Tapi tawaran itu tidak buruk," pada Sersan Mayor Muller, wanita itu berkata, "Dengan penuh hormat, sir. Ada baiknya jika satu dari kita tinggal disini."
Ryu memicingkan mata, "Dan kau menawarkan diri?" nadanya penuh curiga.
Wanita itu merona, "Aku mengusulkan anda."
"Oke."
Mereka semua mengerjap.
"Kenapa kalian tampak heran?"
"Uh, sir. Biasanya kau tidak akan mau—"
"Kau sendiri yang melarangku kerja berat karena dalam proses penyembuhan," pria pirang itu memutar bola matanya.
Shinji terbelalak, "Kau sedang terluka, Ryu-san?"
Sersan Mayor Muller tersenyum, "beberapa balok kayu hampir melubangi jantungku saat Angel Ketiga menyerang," melihat ekspresi horor Shinji, pria itu meraih kedua tangannya dan memberinya genggaman menenangkan, "Tapi terima kasih, kau menyelamatkan hidupku, Pilot Ikari."
Pipi Shinji terasa terbakar oleh rasa senang sekaligus malu. Ia hanya bisa mengangguk.
...
"Aku dengar Third Child menjalin kontak dengan tim Selection-2," gumam Kaze sambil lalu. Misato menelengkan kepala, menunggu wakil komandan NERV yang tampak sedang memilah perkataannya. "Bagaimana pribadi Third Child menurutmu, Komandan Strategi Katsuragi?"
"Hm... Shinji-kun anak yang sangat cerdas, Wakil Komandan. Sekali lihat kau tidak akan mengira seperti itu. Tapi laporan terbaru menunjukkan berbeda. Jika kau bilang aku mengenalinya dari sejarah laporannya yang tidak lengkap itu, maka aku mengenal orang yang sama sekali berbeda. Aku berani berkata laporan itu bohong, siapapun yang membuatnya ingin kita semua melihatnya sebagai anak pemalu, payah dan tanpa bakat. Ia memang sedikit pemalu, tapi tidak membuatnya jadi pengecut."
Misato tampak ragu sebelum melanjutkan, "Aku tidak tahu banyak tentang masa lalunya, kecuali dari catatan itu. Tapi jika melihat Shinji, aku tahu ia mengalami hidup yang sulit."
"Dari mana kau mendapat pemahaman itu?"
"Ia memiliki tanda-tanda anak yang dibesarkan dalam kekerasan. Apa anda sadar ia akan bergidik setiap ada orang yang menyentuhnya tiba-tiba? Dan keahlian bertarung itu? itu di dapat dari keahlian jalanan, tidak dari dojo atau latihan."
"Dan hasil lab-nya?"
"Menunjukkan semuanya normal," sahut Dr Akagi.
"Tapi?"
"Terlalu normal. Seolah selnya meregenerasi diri dan menghapus semua jejak negatif dalam dirinya. Bekas luka atau bahkan bekas tulang patah."
Kozo menaikkan alis. "Apa itu berbahaya?"
"Jika mendapatkan pilot Eva sebagai manusia paling sehat di muka bumi?"
Kozo mengangguk, "Aku mengharapkan monitor kalian selanjutnya. Kita tidak mengharapkan ada sesuatu yang negatif pada satu-satunya harapan umat manusia," ujarnya sambil melangkah menjauh.
"Tidak juga Rei?"
Pria itu menoleh, "Saat ini hanya Shinji-kun yang punya presentasi terbesar dimuka bumi dengan mengalahkan satu Angel, sendirian."
Shinji terbangun karena mendengar suara pintu diketuk. Sersan Mayor Muller melongokkan kepalanya, "NERV memanggilmu. Mobil siap dalam 5 menit," kata pria itu dengan nada penuh protokol. Shinji melompat seketika, berhambur ke kamar mandi dan mencari tahu apa yang bisa dilakukannya dalam waktu 5 menit untuk membersihkan diri.
Ia siap 15 menit kemudian, dengan pakaian yang kata Sersan Mayor Muller membuatnya tampak tajam. Kaos hitam lengan pendek dengan celana hitam panjang bersabuk. Ia meraih jaket Wooland camo gore tex—jaket kamuflase yang biasa dipakai tentara. Paling tidak ia tidak akan terlihat seperti anak sekolahan. Penampilannya dipulas dengan sepatu boot khas militer.
Saat Misato melihatnya, wanita itu menaikkan alis. "Ada apa dengan penampilanmu? Bukannya aku protes, karena itu cocok untukmu. Tapi sekali lagi, aku tidak menganggapmu sebagai otaku militer."
Shinji merona. "Aku hanya tidak ingin terlihat seperti anak kecil, Misato-san."
"Kau 14 tahun Shinji. Tentu saja kau terlihat seperti anak remaja. Walaupun kau lebih tinggi dari remaja kebanyakan."
Shinji menghela napas, "Tapi berjalan-jalan di tengah markas NERV dengan seragam SMP membuat lebih banyak perhatian. Dengan berpenampilan seperti ini, aku tidak akan dipandangi aneh saat berjalan di markas NERV. Dan seperti yang kau tahu, seragam ku tidak pantas dipakai kecuali saat mengendarai Eva."
"OH. Aku tidak memikirkan hal itu. maafkan aku, Shinji-kun. Benar juga, kau tidak mungkin berjalan menggunakan plug suit," sekarang giliran Misato yang merona. Wanita itu mengangguk, "Apa kau merasa, kau membutuhkan seragam, Shinji-kun?"
Shinji mengerjap dengan pertanyaan itu. Apa ia butuh, tidak. Tapi jika ia memakai seragam, dengan tanda Unit-01 tersemat disana, sama seperti semua personel yang bekerja pada Unit-01, itu akan membuatnya lebih menjadi bagian dari kru. "Jika bisa mendapatkannya, aku memikirkan semacam rompi dengan Unit-01 tertera disana, sehingga aku tinggal memakainya saat ada panggilan mendesak tanpa kerepotan."
Misato mengangguk, "Aku rasa itu memang perlu. Aku akan mengajukannya. Tapi sebelum itu, dr. Katsuragi ingin melakukan beberapa tes denganmu."
"Tes menyangkut Eva?"
"Tes menyangkut DNA."
"Apa ada yang aneh dokter?" tanya Shinji sambil memakai kembali bajunya.
Wanita pirang itu bergumam, seperti sedang berpikir, "Tidak. Segalanya normal."
Mengenal Akagi lebih lama dari yang wanita itu tahu membuat Shinji curiga, "Dan itu sesuatu yang buruk?"
"Buruk? Tidak. Tapi tidak biasa," ia mengibaskan tangannya pada layar penuh kode. "Kau normal, terlalu normal untuk orang normal sekalipun—"
"Yang membuatku tak normal," Shinji mengangguk, "Apa yang kau temukan?"
"Regenerasi sel yang bekerja sangat cepat. Coba kemarikan tanganmu," Wanita itu tiba-tiba menusuk ujung jari Shinji, yang membuatnya mengernyit lebih karena kaget, "Perhatikan," wanita itu menunjuk luka yang bergerak menutup, "Sangat cepat."
"Wow..." bisik Shinji, "Itu sama sekali tidak normal."
"Ya. Tapi tidak ada yang asing atau aneh dalam tubuhmu. Aku menduga ada mutasi genetik yang membuatmu mengalami perubahan itu."
"Jadi tidak ada yang salah denganku?"
"Sama sekali tidak ada."
"Dr. Akagi. Apa kau tahu korban dari kemunculan Angel Ketiga?"
"Sakura Suzuhara maksudmu?" wanita itu mendongak melihat ekpresi terkejut Shinji, "Aku mendengar rumor. Aku belum melihat catatan medisnya, seharusnya kau jauh lebih tahu dari pada aku."
"Uh, yeah. Ia mengalami kelumpuhan di tulang belakangnya sehingga membuatnya tidak bisa berjalan. Apa kau bisa melakukan sesuatu?"
"Hm... aku akan melihatnya. Itu saja?"
Shinji mengangguk. Tahu itu tanda bahwa pertemuan mereka sudah selesai. Sebelum ia menutup pintu Shinji berkata, "Terima kasih, dokter Akagi. Aku tahu aku meminta banyak dari mu."
Wanita itu menggeleng, senyum lembut menghapus profilnya yang dingin, "Tidak, Shinji-kun. Jika ada yang bisa kubantu, jangan sungkan bilang padaku." Saat pintu sudah tertutup, wanita itu berbisik, "Bagaimana seorang ayah dan anak sangat berbeda seperti pagi dan malam," ia menggeleng dan melanjutkan memeriksa berkas medis yang menumpuk di meja kerjanya.
