.
.
.
.
.
Matahari telah menyapa dunia. Saatnya para penghuni dunia memulai hari baru mereka. Dipagi ini, Hongbin sudah siap untuk berkeliling disekitar sambil membawa kameranya. Ia baru sadar bahwa Wonshik tidak tidur dikamarnya, tapi disofa ruang tengah.
Ia melihat, Wonshik menyilang kedua tangannya didepan dada untuk menghindar dari kedinginan. Kedua kaki panjangnya juga ia silang dengan tujuan yang sama. Kemudian Hongbin kembali ke kamar untuk mengambil selimut. Setelah itu, ia kenakan ke seluruh tubuh Wonshik supaya teman sekamarnya itu merasa hangat. Sudah selesai, lalu Hongbin memasang sepatunya dan pergi untuk melakukan kegiatan sehari-harinya.
.
.
.
.
.
3 jam kemudian...
Setelah puas berkeliling, akhirnya Hongbin pulang juga. Ia lepas sepatunya dan memanggil Wonshik untuk mengajak makan bersama. Tapi, ia melihat tidak ada siapa-siapa diruang tengah. Hening.
Setelah meletakkan kamera DSLR-nya diatas meja, ia berjalan menuju kamar. Juga tidak ada orang. Beberapa langkah dari kamar, adalah dapur. Ia lihat disitu, juga tidak ada siapa-siapa.
"Apa Wonshik pergi?", ucapnya bertanya kepada dirinya sendiri
Tapi, kamar bernomorkan 504 ini, ada tiga kamar. Kamar tidur, kamar mandi dan kamar rahasia. Letaknya tepat bersebelahan dengan kamar tidur. Disampingnya lagi, adalah kamar mandi. Hongbin yang melihat pintu kamar rahasia itu, "ada apa didalamnya?", tanyanya penasaran. Hongbin berpikir bahwa kamar rahasia itu adalah tempat barang-barang bekas milik Wonshik.
"Hmm perlukah aku bersih-bersih sampai Wonshik datang?", ucap Hongbin menjadi bosan sambil berjalan bak anak kecil ke ruang tengah
Tanpa basa-basi lagi, Hongbin langsung memakai masker hitam dan mengambil sapu serta kemoceng didapur.
.
.
.
.
.
Cklek!
Pintu terbuka. Menandakan seseorang masuk. Orang yang masuk itu kemudian melepas sepatunya dan masuk.
"Siapa itu?", ucap Hongbin keluar dari dapur menuju ruang tengah sambil melepas masker hitamnya
"Ah annyeonghaseyo.", jawab orang yang masuk itu sedikit membungkuk
"Namaku Lee Jaehwan. Maaf kalau aku datang tanpa permisi sebelumnya.", tambah orang itu yang ternyata Lee Jaehwan yaitu temannya Wonshik sambil membungkuk
"Ah namaku Lee Hongbin. Teman sekamarnya Wonshik.", balas Hongbin membungkuk dan menjabat tangan Jaehwan kemudian mempersilahkan Jaehwan untuk duduk disofa
"Oh kau rupanya.."
Setelah itu, Hongbin kembali ke dapur untuk menyipakan minuman. Tak lama kemudian ia kembali ke ruang tengah sambil membawa minuman berupa orange juice dan duduk disamping Jaehwan. Melihat itu, Jaehwan yang duduk disofa langsung berterima kasih.
"Ada apa kau kesini?", tanya Hongbin penasaran kepada Jaehwan
"Aku ingin bertemu dengan Wonshik. Tapi ku lihat dari tadi, tampaknya ia tidak ada.", jawab Jaehwan sambil melihat ke sekitar
"Iya. Semenjak aku kembali kesini sekitar 4 jam yang lalu, Wonshik sudah tidak ada disini. Mungkin ia pergi ke suatu tempat.", balas Hongbin memberitahu dengan lengkap
"Hmm tidak biasanya ia pergi selama itu. Mungkin ia sedang mencari inspirasi.", ucap Jaehwan mencoba menebak
"Inspirasi?", tanya Hongbin bingung
"Yapp inspirasi. Mungkin kau masih tidak tau bahwa Wonshik itu pembuat lagu. Dengan nama pena 'Ravi', ia sudah banyak membuat lagu. Ia juga sering bertemu denganku untuk menyanyikan lagunya.", jawab Jaehwan memberi informasi tentang Wonshik yang tidak Hongbin tau sebelumnya
Tapi beberapa detik kemudian, Hongbin tersadar akan sesuatu yang membuatnya terkejut. Ia langsung mengambil ponsel dan mencari sebuah lagu. Lagu yang sering ia dengar.
"Ini benarkan?", tanya Hongbin sambil menampilkan layar ponselnya yang terdapat lagu-lagu yang dibuat oleh Wonshik kepada Jaehwan
"Oh ini benar!", jawab Jaehwan menjadi excited
"Wah aku sangat suka lagu-lagunya! Lagu yang judulnya 'Memory', aku sering sekali mendengarkannya.", ucap Hongbin juga ikut excited layaknya Jaehwan
"Aku juga.", balas Jaehwan
"Wah ia rupanya Ravi.. Wonshik memang, produser yang hebat!", ucap Hongbin merasa bangga mempunyai teman sekamar sehebat itu
.
.
.
.
.
"Green Tea Latte-nya satu, terus Waffle Vanilla Ice Cream-nya juga satu."
"Hmm Green Tea Ice Cream sama Cheesscake-nya satu."
Setelah pelayan mencatat pesanan pelanggannya itu, ia kembali ke tempatnya sambil membaca 2 buku menu.
Sebuah cafe bertemakan vintage yang cukup besar. Interior-interior yang terbuat dari kayu itu, menambah suasana bahari. Yang Hongbin suka pada cafe ini adalah wallpaper dindingnya. Wallpaper itu menggambarkan sebuah pohon besar dengan daun-daunnya yang beterbangan yang tampak sama dengan burung-burung disana. Ditambah lagi dengan kursi kayu berwarna putih yang terletak didekat sana, menambah suasana unik yang tidak biasa.
Entah bagaimana Hongbin bisa mengajak Wonshik untuk menemaninya makan dikafe setelah ia sibuk dengan kameranya. Bosan menunggu, Hongbin mengambil kameranya untuk mengecek hasil foto jepretannya tadi. Wonshik melihat senyum memuaskan dari bibir Hongbin.
"Bagaimana hasilnya huh?"
Wonshik bertanya kepada Hongbin sambil bangkit dari duduknya tapi tetap berada ditempat kemudian mendekatkan kepalanya ke kamera yang membuat penglihatan Hongbin terhalang. Otomatis kepala Hongbin bergerak kebelakang. Walaupun perasannya kesal, tapi ia membiarkan Wonshik melihat ke layar kameranya itu dengan jarak yang begitu dekat meskipun penglihatannya terbalik.
Tapi ketika Wonshik mendongakkan kepalanya, jarak antar wajah mereka menjadi cukup dekat. Membuat mereka masing-masing merasa canggung lagi. 5 detik terdiam dengan pupil mata yang bergerak entah kemana, akhirnya Wonshik kembali duduk dibangkunya.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang juga. Disajikan pelayan tersebut satu-persatu dan kemudian mereka berdua makan bersama.
.
.
.
.
.
Wonshik dan Hongbin sedang dalam perjalanan pulang dari cafe tadi. Tidak ada diantara mereka yang ingin membuka mulutnya lebih dulu. Tiba-tiba Hongbin terkejut ketika sebutir air yang entah datang darimana jatuh ke hidung mancungnya. Lalu ia melihat ke langit bumi. Awan-awan berwarna abu-abu itu mulai menutupi seluruh pelindung bumi. Bertanda akan turunnya hujan.
Beberapa detik kemudian, dengan cepat bulir-bulir air dari langit berjatuhan menerpa permukaan bumi. Mengetahui itu, dengan tanggap Wonshik langsung menarik tangan Hongbin tanpa permisi dan membawa ke taman yang tidak ada orang banyak dimana pagi tadi itu Hongbin berada disana. Berlindung dibawah pohon yang cukup lebat. Kemudian duduk sambil menyandarkan punggungnya di permukaan pohon itu.
Saat itu juga, Wonshik baru sadar bahwa ia tengah memegang erat tangan Hongbin. Sontak ia langsung melepasnya dan membuat Hongbin sempat kaget.
"Tadi Jaehwan-hyung datang ke rumahmu.", ucap Hongbin membuka mulutnya memberitahu
"Ah benarkah?, aku tidak tau. Biasanya Ken-hyung menelponku dulu.", balas Wonshik sambil menggaruk-garuk kepalanya yang gatal
"Ken-hyung?", tanya Hongbin kebingungan
"Itu stagename-nya Jaehwan-hyung. Semenjak ia menjadi penyanyi, ia terus menggunakan nama itu. Lagipula, ia semakin terkenal karena ia berkolaborasi denganku.", jawab Wonshik yang langsung membuat Hongbin mengerti karena sebelumnya Jaehwan sudah memberitahunya bahwa Wonshik itu seorang pembuat lagu
"Begitu ya..", balas Hongbin kemudian mengerucutkan bibirnya
"Ah hujannya makin lebat nih", ucap Wonshik menjadi resah tentang keadaan sekarang
Air dari langit itu membasahi apa saja yang diterpanya. Suara percikan dari beberapa pasang kaki yang tengah mencari tempat berlindung itu, tak lama kemudian hilang.
Sekitar 15 menit-an, hujan masih saja tidak reda. Wonshik yang duduk disamping Hongbin, mata bulatnya mulai berat. Ia terhanyut oleh alunan percik hujan. Sesekali ia mendongkakkan kepala dan membuka matanya agar ia tidak mengantuk. Karena tidak tahan lagi, akhirnya ia mulai bermain dialam bawah sadarnya dengan kepalanya yang perlahan-lahan turun ke bahu Hongbin. Merasakan itu, Hongbin menoleh.
Hongbin melihat, Wonshik tertidur dibahunya. Ia merasa canggung walaupun hanya seperti ini. Bagaimana aku membawanya nanti? Batin Hongbin bingung serta khawatir.
Bosan menunggu hujan reda, sesekali Hongbin menatap langit yang tengah mengeluarkan air dengan awan yang berwarna campuran putih dan abu-abu itu. Ia menoleh ke Wonshik lagi. Hongbin belai surai lembut Wonshik dengan pelan agar tidak membangunkannya.
Tapi disaat itu, perasaan aneh itu mulai menghampiri Hongbin. Dengan lambat Hongbin dekatkan wajahnya ke Wonshik dan hingga bibirnya menempel. Ia lumat perlahan-lahan alat bicara lawannya itu. Lidahnya menari-nari. Tangan kanannya ia letakkan dibelakang leher Wonshik yang masih tidak sadarkan diri itu agar ia merasa nyaman.
"Nngg.."
Suara itu menandakan bahwa lawan perang Hongbin mungkin saja sadar. Tapi Hongbin tidak mengetahui itu. Wonshik kedip-kedipkan matanya karena seseorang tengah berada sangat dekat dengannya. Dan..
Ppak!
Kedua tangan Wonshik langsung mendorong Hongbin cukup jauh ketika ia sadar bahwa Hongbin tengah menciumnya. Seketika Wonshik merasa panik sendiri dan ia langsung berlari dengan hujan entah kemana meninggalkan Hongbin begitu saja. Hongbin yang melihat itu, ia langsung merasa bersalah kepada teman sekamarnya itu. Disaat itu, perasaan anehnya telah hilang.
Dengan cepat, ia langsung berlari mengejar Wonshik. Tidak sampai 3 menit, ia melihat Wonshik yang tengah berdiri ditepi jalan untuk menyeberang dalam hujan yang deras. Langsung saja Hongbin berlari menghampiri sebelum lampu penyeberangan berubah menjadi hijau.
Sadar akan lampu itu berubah warna, belum selangkah kakinya bergerak, Hongbin menarik tangan Wonshik dan langsung memeluknya dengan erat. Sontak Wonshik terkejut.
"Mianhae Wonshik-ah.."
Hongbin minta maaf kepada Wonshik dengan air mata yang tiba-tiba bercucuran entah kenapa. Tentu saja Wonshik mendengarnya walaupun suara hujan semakin keras. Bahunya tiba-tiba terasa hangat. Mungkin karena air mata Hongbin yang bercucuran dibahunya. Wonshik terus mendengar isakan tangis teman sekamarnya itu. Untuk membuatnya nyaman, kemudian Wonshik melingkarkan kedua tangannya dipinggang Hongbin sebagai balasan juga.
Perasaan yang memang dari hati Hongbin. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang ia lakukan tadi itu. Yang tentu saja membuat Wonshik merasa tidak nyaman.
"Aku juga, Hongbin-ah.."
.
.
.
.
.
Mungkin nih ff jadi Toxic season 2 nya deh hahaha XD.. btw, makasih banyak ya yang udah komen chapter 1 nya *bow* ^^.. Kira-kira nih ff mungkin cuman sampe chapter 3 deh.. karena nih chapter udah giliran(?) hongbin nye :D..
Di tunggu ya chapter 3 nya ^.^
RnR please~ ^-^
