WARNING!

IT'S JUST A FICTION! IF YOU DON'T LIKE BOYS LOVE/SHOUNEN AI/YAOI, PLEASE JUST IGNORE IT.

SASUNARU| SASUKE UCHIHA DAN NARUTO UZUMAKI

ROMANCE/ANGST/M/BL/OOC

MASASHI KISHIMOTO

.

Chapter 2

"Kau sudah makan siang?"

Aku hentikan langkahku saat ku rasakan ada tangan yang menggengam tanganku. Sedikit mencibir pada orang itu yang masih menggenggam tanganku meski aku kembali melanjutkan langkahku.

"Kenapa kau mengikutiku?" Tanyaku padanya tanpa menoleh, karena aku tahu pasti siapa yang berada di sampingku. Sosok yang begitu familiar di mataku.

"Apa kau sudah makan, Naruto-ni?" Tanya sosok itu lagi.

"Belum, kenapa? Kau ingin aku mentraktirmu lagi, Konohamaru?" Akuku padanya, Konohamaru. Seorang pria muda yang selalu menempel padaku jika aku berjalan di taman ini. pemuda yang sudah ku anggap sebagai adikku sendiri.

"Hehehehe.. Tidak kok Naru-ni. Aku hanya menyampaikan pesan dari pria yang berada di klinik tadi." Tutur Konohamaru yang sontak membuat langkahku terhenti.

"Pria mana yang kau maksud, hah?" Tanyaku pemastikan, berharap Sasukelah pria tersebut.

"Yang tadi berbicara denganmu. Dokter stoic itu." Jawabnya, yang membuat jantungku entah mengapa berpacu dengan cepat.

"Jangan berbohong padaku, gaki." Tuduhku padanya, sangat tidak yakin dengan apa yang ia sampaikan.

"Untuk apa aku berbohong? Dokter itu bilang, kalau kau belum makan siang, ia menunggumu di DCC sejam lagi. Terserah kau mau percaya atau tidak padaku." Balas Konohamaru dengan santai. Tidak aku lihat kebohongan dari matanya. Haruskah aku mempercayainya? Aku masih ragu.

"Apa dia kenalanmu, Naru-ni? Aku tak pernah melihatnya. Kau bertemu dengannya dimana? Bukan di tempat kerjamu kan?" Tanyanya dengan antusias. Dasar orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain saja.

"Apa aku mengenal orang lain selain di tempat kerjaku?" Tanyaku retoris. Yah memang 15 tahun aku tinggal di kota besar ini, namun aku tidak berinteraksi dengan orang lain selain yang berada di lingkup kerjaku. Bahkan aku tinggal di sebuah apartement dengan penghuni busuk di dalamnya.

"Ck. Keluarlah dari pekerjaanmu. Memangnya kau masih laku, hah?" Sindirnya, membuatku ingin menjambak rambut jabriknya.

"Ya! Kemari kau!" Teriakku padanya yang sudah melarikan diri, sudah mengetahui niat burukku.

"Hahahahahah.. Sering-seringlah ke dukun untuk meminta wejangan agar kau tidak menua!" Ledeknya kembali tanpa henti. Kami pun berakhir dengan saling mengejar dan memiting satu sama lain. Perkelahian kecil seperti hal layaknya kakak adik pada keluarga normal lainnya. Menikmati waktu senggang kami, sebelum dunia malam kembali memanggil kembali.

-Nappeun Bamie-

Puluhan pasang kaki berkeliaran di area setempat, menghalangi jangkauan pandangan ku akan sekitar. Aku jajahkan kakiku menyusuri jalan setapak di sekitar taman dekat dengan kebun binatang Central Park untuk mencari tempat yang dikatakan oleh Konohamaru. Hingga akhirnya langkah ku terhenti di tempat tujuan ku, Dancing Crane Cafe. Ku dudukan diriku di bangku luar yang ternaungi oleh pepohonan. Menunggu seseorang yang belum pasti akan kedatangannya.

Sepuluh menit aku terduduk seorang diri. Yang dapat kulakukan hanya memandangi pengunjung lainnya saling bercengkrama. Mengisi waktu luang mereka di hari yang cerah ini. hanya dapat melihat, hingga seseorang tak berseragam mendudukan diri di hadapanku.

"Tidak memesan makanan?" Tanyanya padaku yang memang tidak terdapat apapun di atas mejaku.

"Belum." Jawabku singkat. Aku hanya fokus pada pria tampan bersetelan kemeja navi yang kini terduduk di depanku. Sosok yang sejak tadi aku tunggu, Sasuke. Senyumku pun sepertinya sangat terlihat jelas mengembang. Aku tak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku bertemu dengan sosok itu. Aku bergeming hingga ia kembali memanggilku.

"Tak ingin memesan?" Tanyanya datar dengan ciri khasnya. Ahh.. pria yang dingin, tapi aku menyukainya. Aku pun kembali terkekeh.

"Kau mau makan apa? Biar aku yang pesankan." Tawarku padanya.

"Hn." Jawabnya singkat sambil menyerahkan secarik kertas yang bertuliskan menu makanan yang ingin ia makan dan kartu kredit miliknya. Pelit berbicara.

Setelah memesan, aku kembali ke meja tempatku. Ku lihat ia mengeluarkan beberapa folder dari tasnya, pekerjaan mungkin. Ketika aku kembali, ia tak menatapku, menyapaku dan bahkan tak berkata sepatah kata pun. Dan itu berlangsung hingga pesanan kami datang.

"Thank you." Ujarku pada pramusaji yang mengantarkan pesanan kami.

"Selamat makan." Ujarku pada Sasuke yang lagi hanya dibalas dengan sangat dingin. Dengan sikapnya demikian, membuatku meragu, apa benar ia yang mengajakku makan siang? Ataukah hanya kebetulan kami bertemu. Hah. Aku tak ingin mengambil pusing. Maka aku putuskan melanjutkan ritual makanku dengan kidmat.

"Kau mau pergi?" Tanyaku pada Sasuke saat melihat ia merapikan semua barangnya ke dalam tas miliknya.

"Hn. Minggu depan aku akan menemuimu." Jawabnya yang sontak membuatku tak kuasa menahan garis bibirku yang terangkat. Namun aku mencoba menyembunyikannya.

"Kau suka yang gratisan? Aku tak mau kalau dibayar hanya dengan seharga makan siang pinggir jalan." Ujarku spontan. Akhh.. aku meruntuki apa yang telah aku katakan. Sepertinya sifat jalangku telah mendarah daging. Naruto no baka!

"See you." Pamitnya dengan ekspresi yang dapat membuatku maupun orang lain melihatnya membeku seketika. IA TERSENYUM PADAKU! TERSENYUM! Bolehkah aku merasa seperti pria normal yang lainnya.

"Thanks." Ujarku padanya yang mulai menjauh. Sepertinya malam ini aku akan tidur dengan nyenyak.

Seminggu pun telah berlalu. Namun tidak sekali pun aku melihat sosok Sasuke. Di tempat kerjaku, klinik dekat taman mau pun di tempat kami makan siang waktu itu, tidak ada. Salahku yang tak meminta kontaknya. Dengan penuh rasa berat hati aku meninggalkan Central Park saat waktu telah menjelang malam. Memudarkanku akan semua harapan yang sempat tumbuh dalam anganku.

"Memang pada akhirnya selalu seperti ini. Sadarlah!" Gumamku, menyadarkan pada diriku sendiri akan diriku sesungguhnya.

-Nappeun Bamie-

"Kau terlihat tak bersemangat?" Tanya pria bersurai coklat kepadaku.

"Aku hanya bosan, Kiba." Jawabku seadanya kepada pria tadi yang ku panggil Kiba. Pria nyentrik pencinta anjing, yang bekerja sebagai bartender di tempat kerjaku ini.

"Kenapa? Tak biasanya. Apa belakangan ini kau mendapat pelanggang yang tak dapat memuaskanmu?" Tanyanya lagi yang membuatku ingin memukulnya. Dia memang memang selalu seperti itu, namun aku tak pernah membencinya. Bukankah dia begitu perhatian.

"Bukan, aku hanya sedang merasa ingin ada yang menjemputku dan pergi dari tempat ini. Huft." Jawabku tak bersemangat. Entah apa yang telah Sasuke lakukan kepadaku. Sekarang aku begitu merindukannya.

"Jadi kau sudah ingin mati?" Ujarnya lagi dengan kejam. Tak ingin membalasnya, aku memilih menikmati minumanku sejak tadi terabaikan. Aku teguk minumanku dan saat itu kulihat Kiba memberikan isyarat dengan kepalanya agar aku menoleh ke belakangku. Mempertemukanku dengan seseorang yang sejak dua hari lalu ku tunggu kedatangannya.

"Wanna go?" Tanya pria itu kepadaku yang tanpa ragu aku setujui ajakannya.

-Nappeun Bamie-

Author POV

Braaghhh..

Suara pintu tertutup terdengar nyaring. Bukan kemarahan yang menyertainya namun ketergesahan penyebabnya. Ketergesahan akan dua insan yang kini saling terpaut. Dengan menggebu saling bercumbu. Saling mengecap akan rasa yang telah mereka rindu.

"Hmmpp.. eehh.. Kenapa kau baru datang, eh?" Tanya Naruto di sela ciuman panas mereka.

"Kita bicarakan nanti." Jawab Sasuke singkat dan langsung melanjutkan aktivitas cumbuannya pada bibir mungil Naruto.

"Eunghh.." Lenguh Naruto saat Sasuke mulai menyerang leher hingga nipplenya. Mengerang nikmat akan perlakuan Sasuke yang mengecap seluruh permukaan kulit tubuhnya.

Naruto rasakan mulut Sasuke yang kini kembali melumat bibirnya. Saling bertaut mengabaikan akan saliva yang keluar akibat dari perbuatannya. Saling melumat seakan mereka akan saling memakan satu sama lainnya. Terus berlanjut hingga aktivitas inti mereka.

"Ahh.. Ahh.." Desah Naruto saat milik Sasuke sedang bergerak dalam lubang analnya. Merintih nikmat atas apa yang iya rasakan pada lubang kenikmatannya.

Sasuke bergerak agresif, bibirnya tak henti mengecap setiap inci permukaan kulit Naruto tanpa menghentikan pergerakannya di lubang anal Naruto. Tangannya bergeriliya meraba kulit halus Naruto. Memilin nipple dan meremas bokong sintal Naruto. Menekannya agar semakin dalam senggama mereka. Membuat Naruto tak henti menyebutkan namanya dan mengerang nikmat karenanya.

"Ahh.. Sasuke, let me come. Eeunghh.." Pinta Naruto pada Sasuke saat ia mulai merasakan miliknya ingin memuntahkan cairan di dalamnya.

"Hn." Jawabnya singkat namun tangannya tetap bergerak menggenggam alat senggama Naruto untuk membantu Naruto cum. Sasuke pun mempercepat pergerakan pinggulnya. Membiarkan miliknya klimaks bersama dengan Naruto.

"Hah hah hah.. Mau melakukannya lagi?" Tanya Naruto dengan terengah-engah. Aktivitas bercintanya cukup menguras tenaganya. Namun tak menghentikan nafsu birahinya.

"As your wish, bitch." Jawab Sasuke dengan seringaian terpantri jelas di wajahnya. Mereka pun kembali melanjutkan aktivitas panas mereka. saling bercumbu dan bercinta, meluapkan segala kerinduan akan keduanya.

Naruto POV

Terik mentari menyelinap masuk dari balik tirai besar yang menghalangi jendela. Membuatku terusik dari aktivitas tidur nyenyakku. Karena silau yang cukup menyakitkan, aku pun terbangun dari tempat tidurku. Sedikit melenguh untuk merenggangkan tubuh kakuku akibat kegiatan malamku. Membuat aku tersenyum tipis mengingatnya.

Aku bangkit dari tempat tidurku, dimana Sasuke sudah tidak berada di sana. Aku perhatikan ruangan yang menjadi tempatku bermalam. Cukup luas untuk ukuran sebuah kamar tidur. Tidak terlalu banyak barang di dalamnya, namun tidak juga kosong, rapi dan nyaman. Mungkin satu-satunya yang tidak rapi hanyalah keadaan diriku. Bahkan pakaian yang kami lempar ke sembarang arah semalam sudah tidak ada di tempatnya. 'Pribadi yang rapi' pikirku akannya.

Ku buka jendela kamar ini. Menampilkan keramaian kota di sepanjang jalan Madison Avenue, East 62th St. Melihat orang-orang yang berlalu lalang mengisi waktu mereka. Dengan udara yang cukup sejuk, ku hirup dalam udara segar memasuki paru-paruku.

"Hah. Aku terlalu bahagia." Ujarku menyambut pagi. Namun aku tak ingin berlama menikmati mentari pagi, karena aku harus mencari sosok yang membuatku bahagia hari ini. Maka dari itu aku segera membersihkan diriku. Dan mencarinya yang mungkin berada di ruangan lain yang ada di apartementnya.

Aku selusuri apartement Sasuke yang tak sempat aku perhatikan semalam. Cukup besar untuk ditinggali seorang diri. Semua tertapa rapi, banyak juga barang-barang antik yang menghiasi seisi apartement ini. Banyak juga toples-toples bening berisikan obat-obatan herbal sepertinya yang ditata dengan rapi. Sangat berbeda dengan apartement yang ku tinggali. Sedikit malu aku mengingatnya.

Setelah puas berkeliling di lantai bawah, aku pun beranjak ke lantai atas apartementnya. Ada tiga pintu yang berada di lantai atas. Yang salah satunya adalah sebuah perpustakaan mini ketika aku melihat ke dalamnya. Dengan rentetan buku tebal yang aku yakin literatur-literatur ilmu pengetahuan yang memenuhi dindingnya dan sebuah kursi panjang di tengahnya untuk membaca. Karena tak ku dapati Sasuke di sana, aku pun keluar dan mencarinya di tempat lain.

"Apa dia pergi keluar?" Tanyaku pada diriku sendiri, saat aku tak menemukan Sasuke di mana pun. Pintu kedua dan ketiga pun terkunci. Karena tak tahu apa yang harus ku lakukan, aku pun kembali ke ruangan sebelumnya. Mungkin ada buku yang dapat aku baca.

Aku menyusuri tiap rentetan buku yang terpajang, mencari sesuatu yang menarik untuk ku baca. Namun semua buku yang kulihat menggunakan bahasa yang tidak ku mengerti atau pun dengan judul yang sangat mengerikan. Namun aku terus mencari hingga ku temukan sebuah cahaya yang keluar dari celah di antara rak buku yang sedikit menjorok ke dalam.

Ku rasakan hanya dingindan aroma yang menyengat dari celah tersebut. Dengan rasa penasaran aku geser rak yang menjorok tersebut. Dan di sana ku dapati Sasuke berseragam di dalam ruangan yang dipenuhi dengan alat-alat medis dan alat-alat penelitian lainnya. Laboratorium kecil. Aku pun memasukinya setenang mungkin, tak ingin mengganggu Sasuke yang sedang berkutik dengan cairan-cairan aneh di hadapannya.

Sasuke merasakan keberadaanku, namun ia tak berkutik dari pekerjaannya. Aku pun terduduk di kursi tinggi yang berada tak jauh darinya. Memperhatikan setiap gerak-geriknya yang begitu serius namun tenang. Sesekali aku juga memperhatikan sekitar ruangan tersebut. Pencahayaan cukup redup dengan barang-barang misterius membuatnya terlihat seperti berada di dalam sebuah film action praktik-praktik ilegal. Namun itu lah yang membuatnya terlihat begitu mempesona. Sepertinya aku sudah jatuh akan dirinya.

"Ku kira kau tidak merokok, apa itu rokok herbal?" Tanyaku saat Sasuke mengambil rokok yang menyala dari asbaknya dan menghirupnya.

"Dobe! Tidak ada rokok herbal di dunia ini. Selalu ada bahan campuran yang dapat menggerogoti tubuhmu." Jawabnya. Sebuah jawaban terpanjang yang pernah aku dengar dari mulutnya. Entah aku harus terkagum atau malah kesal dengan ia yang mengataiku.

Setelah satu jam menunggu, ku lihat Sasuke melepas kacamatanya yang bertengger manis di hidungnya. Tubuhnya pun memutar menghadap padaku. Memandangku lama hingga akhirnya ia beranjak sambil menggandeng tanganku keluar dari tempat tersebut.

"Waffle or pancake?" Tanyanya padaku ketika kami sudah berada di dapur. Menanyakan menu sarapan pagi kami.

"Waffle will be great." Jawabku sambil menyerahkan beberapa bahan yang aku ambil dari kulkas miliknya.

"Duduklah." Imbaunya padaku, tak membiarkan aku membantunya.

"Biar aku yang membuat kopi, kau mau apa?" Tak menurut, menawarkan membantu membuat kopi saat ku lihat beberapa toples kopi di laci atas.

"Hot mocha." Mendapat persetujuannya, aku pun mengambil toples bertuliskan mocha dan latte. Membuat dua cangkir kopi hangat untuk menemani sarapan kami pagi ini.

Setelah selesai dengan kopi ku, ku dudukkan diriku di meja makan sambil memandangi Sasuke yang masih sibuk dengan wafflenya. Pemandangan yang begitu epic, membuatku merasa seperti pengantin baru. Menciptakan kekehan kecil lolos dari bibirku. Terus memandanginya hingga ia selesai dengan wafflenya dan menghampiriku.

"Apa yang kau lakukan tadi?" Tanyaku setelah aku selesai dengan sarapanku. Sedikit penasaran dengan yang dikerjakan Sasuke di lab kecilnya itu.

"Membuat obat." Jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari koran yang ia baca.

"Obat apa?" Tanyaku lagi, yang kini dapat membuat Sasuke mengalihkan perhatiannya kepadaku.

"Obat untuk membunuh manusia secara perlahan." Jawabnya santai dengan sebuah senyuman di wajahnya. Wajahnya yang membuatku bergidik seketika. Bukankah mengatakan suatu hal yang kejam dengan wajah tersenyum manis lebih mengerikan dari pada dengan wajah dingin yang digunakan.

"Mengerikan. Kau seorang dokter ilegal dunia bawah atau seorang psikopat?" Tanyaku setelah berhasil menenangkan diriku. Ternyata diriku masih belum terbiasa dengan hal seperti itu, meski nyatanya sudah banyak aku menyaksikan.

"Ini." Bukan menjawabku, Sasuke malah menyodorkan dua botol obat kepadaku.

"Kau ingin menguji cobanya padaku?" Tanyaku dengan horor sambil menjauhkan botol tersebut dari jangkauanku.

"Ck. Ini obat yang kau pesan waktu itu." Jawabnya yang malah membuatku makin bingung.

"Yang aku pesan? Obat apa? Kapan?" Tanyaku kembali, karena aku memang benar-benar lupa.

"Ini vitamin dan obat untuk mencegah penyakit kelamin karena selalu berganti pasangan. Dobe!"

"Mana aku tahu itu obat apa kalau kau tidak memberitahuku, salah siapa aku berburuk sangka? Kau sendiri yang menakutiku dengan apa yang kau lakukan tadi. Dan berhenti memanggilku 'dobe' teme!" Cercaku atas jawabannya. Sedikit kesal karena sudah menakuti dan memaki diriku.

"Aku hanya menjawab pertanyaan, dobe." Jawabnya dengan santai, namun bagaimana ia memanggilku membuatku benar-benar kesal.

"YAK! SUDAH AKU BILANG JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU, TEME! BIARPUN AKU HANYA PEL..HHMMPP.." Hardikku terhenti karena ada sesuatu yang menutup mulutku. Suatu yang kenyal dan basah, suatu yang membuatku selalu melayang karenanya. Sebuah lumatan memabukkan dari oral Sasuke.

"Saat kau marah membuatku tak kuasa." Ujarnya di sela ciuman kami.

"Minumlah dengan rajin." Imbaunya yang dilanjut dengan lumatan kembali. Saling mengecap dan kembali bergumul. Mengawali pagi kami dengan gairah panas.

-Nappeun Bamie-

"What's wrong baby? Hmmpp.." Tanya seorang pelanggan yang sedang asik mengecupi leherku. Merasakan ketidaktertarikankku.

"Nope, but i have to go." Jawabku sedikit berbohong.

"Why?"

"Oh, please just let me, sir." Mohonku padanya, karena tak mungkin aku mengatakan sejujurnya bahwa aku sedang tak ingin melayani siapapun.

"Hmm.. alright, you can." Izinnya membiarkan ku pergi, karena masih ada beberapa penghibur lain menemaninya. Setelahnya aku meninggalkan pub dan kembali ke apartementku. Paling besok aku akan mendapatkan omelan dari atasanku. Namun aku tidak peduli.

Ku pandangi dua botol obat yang diberikan Sasuke kepadaku. Membuatku makin merindu akan keberadaannya. Yah, karena sudah dua minggu setelah hari itu, ia kembali hilang. Tidak menunjukkan batang hidungnya sedikit pun. Membuatku benar-benar tak bersemangat.

-Nappeun Bamie-

Ting tong.. ting tong..

Aku tekan bel pada apartement yang berada tiga lantai di bawah apartementku. Setelah beberapa menit menunggu, pintu itu pun terbuka. Menampakkan sang penghuni berperawakan cantik.

"Kau lama Dei-ni." Keluhku pada Deidara karena lama membukakan pintu.

"Aku tadi sedang mandi, masuklah." Belanya.

"Kau habis dari mana, mandi jam segini?" Tanyaku heran karena jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Tanyaku tak dijawab olehnya, namun terjawab dengan seseorang yang juga berada di dalam dengan keadaan yang tak jauh berbeda dengan Deidara.

"Hai, Uchiha-san. Kau ingin bermalam?" Tanyaku padanya, mengingat ini sudah cukup malam untuk seseorang bertamu.

"Tidak, aku akan segera pulang." Jawabnya sambil mengeringkan rambut panjangnya.

"Ada apa kau kemari Naruto?" Tanya Deidara padaku.

"Tak apa, aku hanya ingin berkunjung dan menyusahkanmu. Belakangan ini aku kembali mimisan." Jawabku yang sontak membuat Deidara mengeluarkan ekspresi khawatir berlebihannya.

"Kau sudah ke dokter? Sudah aku bilang jaga makanmu. Kau saja yang membandel." Omelnya yang membuatku senang. Membuatku merasa diperhatikan.

"Kau punya penyakit?" Kini Itachi yang bertanya kepadaku.

"Tidak. Ini terjadi jika tubuhku kekurangan vitamin C dan serat. Jika demikian aku akan sering mimisan." Terangku padanya.

"Kau sudah membeli vitaminnya?" Tanya Deidara. Sepertinya aku salah mengadu, mereka berdua jadi menginterogasiku.

"Sudah, aku dapat dari Sasuke dan sepertinya masih cukup untuk satu minggu ke depan."

"Kau mendapat vitamin dari Sasuke?" Tanya Itachi dengan nada yang cukup terkejut.

"Ha'i. Oh iya Uchiha-san, kau tahu keberadaan Sasuke. Sudah dua minggu aku tak melihatnya di klinik mau pun apartementnya?" Tanyaku pada Itachi, teringat bahwa ia adalah kakak dari Sasuke.

"Kau juga pernah ke apartementnya? Adikku adalah orang yang benar-benar tertutup, tak membiarkan seorang pun memasuki zonanya. Bahkan ayah kami tak dapat berkutik. Ahh dia pasti benar-benar tertarik padamu, Naruto." Ujarnya yang membuatku begitu senang mendengarnya. Benarkah ini bukan cinta sepihakku. Setitik harapan kembali menghampiriku.

"Tenang saja Dia sedang berada di Tokyo. Sedang melakukan pembasmian. Kalian tahu apa yang aku maksud." Lanjut Itachi yang lagi membuatku bergidik ngeri.

"Baiklah, aku harus pulang. Kalian beristirahatlah. Dan Naruto, bila ia memberimu obat yang mencurigakan, buanglah! Dia seorang dokter gila." Gertak Itachi yang terdengar tidak menakutkan sama sekali.

"Aku pamit, Dei." Pamit Itachi setelah memberikan kecupan manis pada Deidara.

"Berhati-hatilah di jalan."

"Enaknya yang punya kekasih." Sindirku melihat aksi romantis mereka.

"Bagaimana caramu mendapat kekasih dengan profesimu seperti itu, Dei-ni? Membuat iri saja." Keluhku, merasa iri dengan Deidara yang selalu mudah mencari kekasih yang memahami pekerjaannya.

"Kau akan mendapatkannya, percayalah. Sekarang bersihkanlah badanmu dan tidurlah." Titah Deidara. Aku pun hanya menurut, setidaknya malam ini aku tidak sendirian dan aku sudah mengetahui keberadaan Sasuke. Ku rasa malam ini aku dapat tertidur tenang.

-Nappeun Bamie-

Aku patut diriku di depan cermin, mencoba menghilangkan tanda-tanda merah di sekujur tubuhku. Sedikit memaki pada pelangganku semalam yang meninggalkan banyak kissmark di tubuhku. Terus mencoba membersihkannya hingga ku dengar bel apartemenku berbunyi.

"Excuse me, you're Uzumaki Naruto, aren't you?" Tanya pria seorang paruh baya saat aku membuka pintu apartementku.

"Yes. That's me."

"There's one package for you." Ujar pria itu sambil menyerahkan serangkaian bunga Gladiol cantik bertumpuk berwarna kuning-oranye, dan sebuah kotak kecil berukuran tempat pensil menyertainya.

"Please sign in here." Pinta sang pria setelah aku menerima paket tersebut.

"Who's the sender?" Tanyaku saat tak ku dapati nama pengirimnya di kotak yang ku dapat.

"I'm sorry, but it's not included the name." Jawabnya membuatku mendesah kecewa.

"Thank you." Ujarku padanya dengan memberikan tip. Dan setelahnya pria itu meninggalkan apartementku.

"Bunga yang sangat cantik. Kira-kira siapa yang mengirim yah?" Tanyaku entah pada siapa. Meski aku tak mengetahui siapa pengirimnya, tapi aku merasa senang. Bukankah sangat manis mendapat kiriman bunga cantik.

Ku masukkan bungan tersebut ke dalam vas bening yang sudah terisi air. Meletakkannya di atas laci dekat jendela, agar ia masih terkena sinar matahari. Karena bunga ini akan mudah layu bila berada di suhu rendah. Setelah aku selesai dengan bungaku, aku alihkan perhatianku pada kotak yang datang bersamaan dengan bunga tersebut. Ku buka kotak tersebut, menampilkan selembar kertas perak dengan beberapa tulisan di dalamnya.

"Romeo and Juliet ticket at Richard Rodgers Theatre?"

To be continue...