Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : AU, typo, dsb.
Rated : T semi M (for violence)
.
Luna Rossa
.
Beginning : Uno
.
Fate and meetings.
Pain and despair.
When the sun shines with a reddish light.
.
Sesosok tubuh yang terlihat rapuh tapi berkharisma tengah duduk disebuah kursi goyang, menghadap ke arah jendela. Sakura tahu itu siapa. Tapi, ada sedikit keraguan di dalam dirinya untuk mempercayai sosok itu. Takut jika itu hanyalah bayangan imajiner yang ia ciptakan.
Tapi, rasa penasarannya begitu besar. Ia perlahan menghampiri sosok itu.
"Sakura," ucap sosok itu setelah Sakura berdiri tepat di sebelahnya.
Sakura menunduk, menekuk wajahnya begitu dalam, mencoba menyembunyikan riak dimatanya. Suaranya tercekat. Baginya, ini bagaikan sebuah mimpi yang tak mungkin ia impikan. Bertemu kembali dengan sosok itu yang adalah —ibunya. Ibu yang selalu ia rindukan.
"Kau bingung?" tanya Ibu Sakura.
Sakura mengangkat wajahnya, menoleh kepada Ibunya. Ia mengangguk. Ibunya tersenyum lalu menepuk-nepuk kursi yang kosong yang berada di sebelah kursi goyangnya.
"Duduklah! Ada yang ingin Ibu sampaikan," ucapnya.
Sakura mengangguk lalu duduk di kursi itu. Masih dengan perasaan campur aduk.
"Kau tahu, Sakura? (—Sakura terdiam) Ibu ingin bercerita padamu. Tentang banyak hal. Terutama tentang Ayahmu."
Mendengar kata Ayah perasaan rindu ndan sedih menyelusup masuk dalam hatinya. Karena Sakura tak pernah bertemu dengan Ayahnya. Sepanjang hidupnya hingga saat ini. Ia tak pernah tahu Ayahnya. Mengapa Ayahnya tak pernah datang? Mengapa Ayahnya tak pernah sekalipun menghubungi Ibunya maupun dirinya? Apapun, tak pernah.
Yang ia tahu, ia hanya mengenali wajah Ayahnya. Laki-laki berkulit putih bersih dengan rambutnya yang keperakan dan juga dengan paras yang tampan —menurutnya. Wajah Ayahnya terpatri jelas dalam ingatan Sakura. Pernah suatu kali Sakura menanyakan tentang Ayahnya pada Ibunya. Tapi, Ibunya terlihat selalu berusaha menghindari topik itu. Mengalihkan tepatnya. Karena itu, Sakura tak pernah menanyakan lagi tentang Ayahnya.
"Sakura…" Sakura terkesiap. Lalu memandang wajah Ibunya.
Wajah Ibunya masih tetap sama saat terakhir kali ia melihatnya. Masih terlihat cantik walaupun sekarang Ibunya terlihat lebih memukau di matanya dibanding saat terakhir kali ia melihatnya.
"Kau sudah dewasa. Dan Ibu senang melihatmu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tegar," ucapnya sembari tersenyum lembut menatap anak gadisnya itu. "Karena itu, Ibu ingin memberitahukan sesuatu. Ibu rasa sudah waktunya untuk memberitahumu. Karena itu dengarkan baik-baik! Ibu hanya memiliki sedikit waktu."
Sakura terdiam sejenak sebelum menganggukkan kepalanya.
"Ini —kau harus menjaganya dengan baik," ucapnya sembari mengulurkan sebuah gelang perak berhiaskan bulan purnama dengan sulur-sulur dedaunan yang melintang melingkar mengikuti bentuk gelang.
Sakura menerimanya dengan bingung.
"Gelang? Untuk apa, Ibu? Mengapa aku harus menjaganya dengan baik?"
"Sakura… gelang ini istimewa. Begitu juga dengan dirimu dan keluarga kita. Ibu —seharusnya Ibu menuntunmu untuk menemukan keistimewaanmu. Tapi, Ibu ragu. Ibu takut. Karena Ibu tahu, di luar sana mungkin banyak orang yang akan melukaimu jika mereka tahu siapa dirimu sebenarnya, Sakura."
"Apa karena alasan itu, Ibu begitu melindungiku dari dunia luar?"
"Ya, maafkan Ibu. Maafkan Ibu jika Ibu terlalu mengekangmu. Tapi, sekuat apapun Ibu menyembunyikan keberadaanmu —keistimewaanmu. Kau tetap kau yang memiliki keistimewaan. Seharusnya gelang ini sedari dulu Ibu berikan padamu. Sekarang waktu Ibu tak banyak. Waktu Ibu semakin sempit. Apa ada yang ingin kau tanyakan, nak?"
"Aku —entahlah, Ibu. Aku istimewa? Apa ini ada hubungannya dengan Ayah? Bagaimana aku tahu jika aku istimewa?" tanyanya sembari mengerutkan kedua alisnya.
"Ya, ini ada hubungannya dengan Ayahmu. Maaf Ibu tak dapat menceritakan banyak tentang Ayahmu. Mungkin suatu hari akan ada orang yang menceritakan tentang Ayahmu yang belum kau ketahui. Tapi ingat, Sakura. Ayahmu sangat mencintaimu. Meskipun Ayahmu tak ada, bukan berarti cintanya untukmu hilang. Dalam hidupmu ada cintanya. Dan tentang kau yang istimewa —kau harus menemukan jawabannya sendiri. Berhati-hatilah pada orang-orang yang berada di sekelilingmu."
Sakura terdiam menerka-nerka yang terjadi. Tapi ia tak menemukan jawaban apapun atas pikirannya yang bertanya-tanya itu.
"Ibu, aku bingung dan tak mengerti," ucap Sakura.
Ibu Sakura menoleh memandang anaknya itu. Lalu ia tersenyum dan mengusap lembut rambut Sakura.
"Jika sudah waktunya, kau pun akan mengetahuinya. Maka dari itu, temukan jawaban dari semua pertanyaanmu," ucap Ibunya yang masih tetap mengusap lembut rambut Sakura dengan penuh kasih. "Maaf, Ibu tak bisa mendampingimu. Waktu Ibu sudah habis. Kau harus segera pergi, Sakura. Ingat, berhati-hatilah dan ikuti instituisimu dan hatimu."
Ucapan Ibunya seperti menghempaskannya pada pusaran lubang hitam yang membuatnya terjerembap masuk ke dalamnya. Belum sempat ia mencerna semuanya. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan membuat kepalanya berat. Sakura bagai berputar-putar pada arus pusaran yang kuat yang menghantamnya. Membuatnya sulit bernapas. Ia memejamkan matanya mengharapkan rasa pusing dan pusing yang merambah tubuhnya sedikit berkurang.
Dan harapannya seperti terkabul. Saat ia membuka matanya rasa pusing dan mual sedikit berkurang walaupun masih terasa. Dan ia mendapati setitik cahaya putih yang lama-lama menjadi membesar menghampirinya. Dan segalanya menjadi begitu menyilaukan membuatnya sulit melihat. Dan dengan sekali hentakan, ia seperti tertarik sesuatu.
.
.
Sakura terduduk dari tidurnya. Napasnya tersengal-sengal, seperti habis dikejar oleh sesuatu yang menakutkan. Ia memejamkan matanya kuat-kuat dan menarik napasnya. Lalu ia membuka matanya, mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah cat berwarna nila dan sebuah lukisan seseorang yang sedang membelakangi dan hanya terlihat siluetnya karena efek dari cahaya matahari yang terbenam dan yang ia tahu ini adalah kamarnya.
Lalu ia menghempaskan tubuhnya pada tempat tidur. Ia merasakan sesuatu di genggamannya. Ia mengangkat tangannya dan membuka genggamannya. Dan matanya agak melebar saat ia mendapati sebuah gelang perak berhiaskan bulan purnama dengan sulur-sulur dedaunan yang melintang melingkar mengikuti bentuk gelang.
Jadi tadi itu bukan mimpi? Tapi —bagaimana mungkin? Bukankah Ibu sudah… Kami-sama, apakah tadi benar-benat mimpi? Lalu, mengapa ada gelang ditanganku? Benarkah aku isitimewa? Sebenarnya aku ini siapa? Ia mendesah.
Lalu ia menurunkan kembali tangannya. Dan digenggamnya gelang itu.
Suara pintu terbuka. Dan Sakura mendapati Ino masuk dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas susu.
"Wah… kau sudah sadar rupanya. Tsk, sudah kuduga kau akan seperti ini. Sok kuat sih! Ini —makanlah!" ucapnya sembari menyodorkan semangkuk bubur pada Sakura.
"Aku tak lapar, Pig! Aku baik-baik saja," ucap Sakura.
Ino mengerutkan keningnya. Lalu membuang napas. "Ha… baiklah, baiklah. Tapi nanti kau harus makan. Okay?"
Sakura mengangguk. Ino berbalik dan meletakkan kembali mangkuk berisi bubur ayam itu di atas nampan yang di taruh di atas meja yang berada di pinggir tempat tidur.
"Nah… untuk tiga hari ke depan, kau tak boleh datang ke galeri. (—Sakura nampak akan membantah.) A… a… a… kau tak boleh membantah. Kau harus istirahat dan refreshing."
Sakura menghela napasnya sebelum mengangguk setuju walaupun dengan setengah kesal. Ino tersenyum senang. Lalu ia beranjak dari duduknya dan mendaratkan ciuman di pipi kiri-kanan Sakura dan mengatkan sampai jumpa sebelum ia pergi.
Setelah itu pintu kamarnya tertutup, dan perlahan suara high heels yang bergesekan dengan ubin rumah Sakura perlahan menghilang.
Sakura menyibakkan selimutnya. Sudah berapa lama ia tak sadarkan diri? Ah… berjam-jam mungkin. Karena saat ia menyibakkan tirai jendela kamarnya, bias keemasan di ujung lazuardi yang terbentang luas itu menyambutnya. Masih menatap sang surya yang tinggal satu langkah lagi menghilang di batas cakrawala. Ada perasaan hangat menyelusup masuk ke dalam dirinya, bagaikan sang surya itu tengah menyalurkan energinya pada Sakura dan seakan mendukungnya untuk tetap di sana. Menyaksikan sang surya yang mulai tenggelam.
Ingatannya melanglang buana pada entah itu mimpinya beberapa waktu lalu. Ibu. Sosok yang begitu ia cintai dan begitu berkharisma di matanya. Yang begitu besar pengaruhnya. Karena sedari kecil hanya Ibunya yang ia punya.
Ia begitu mengagumi sosok Ibunya. Sosok yang begitu tegar, lembut, penuh kasih sayang, dan cinta. Sosok yang mengajarinya untuk menjadi sosok yang tak mudah menyerah dan kuat. Ia ingin menjadi sosok yang kuat seperti Ibunya. Mencoba bertahan dan selalu tersenyum dalam kesendiriannya.
Ketika Ibunya meninggal. Hidupnya bagai nahkoda tanpa kompas. Tak tentu arah. Sulit rasanya menentukan arah hidupnya tanpa Ibu yang mendampinginya. Tapi, lambat laun ia mulai menata segalanya —hati dan hidupnya. Hingga ia dapat seperti ini.
Sebuah senyuman terlukis di wajahnya. Ia mengingat kembali saat ia memberitahukan bahwa ia diterima di Universitas terkenal dan mengambil jurusan seni. Entahlah… ia begitu mantap dan menggebu saat memilih seni sebagai acuannya untuk menjadikannya salah satu pendamping masa depannya. Dan ternyata pilihannya tak salah. Karena ia ingat saat Ibunya berkata bahwa mempelajari seni adalah mempelajari hidup itu sendiri. Karena seni adalah ungkapan atau jiwa, perasaan, dan suasana hati yang diungkapkan. Dan seniman bukan mengungkapkan perasaannya sendiri tapi apa yang ia ketahui tentang perasaan manusia. Dan Sakura senang mendengarnya.
Ia menjulurkan tangannya ke arah cakrawala. Mencoba menggenggam sang cirrus yang dengan bias keemasannya. Tapi, yang didapat hanyalah ruang hampa di genggamannya. Ia menarik kembali tangannya, dan membuka genggamannya. Menatap telapak tangan kirinya. Ya, ia harus menemukan jawaban atas pertanyaannya. Ia mengepalkan tangannya. Dan sang iris emerald kembali menatap pada lazuardi jingga yang mulai gelap. Memulai sang ratu malam menampakkan jati dirinya. Dan itu adalah permulaannya. Permulaannya dalam mencari jawaban atas segalanya.
.
.
"Kau yakin?" tanya sebuah suara berat khas lelaki.
"Ya. Dan dapat dipastikan sekarang ia sudah memegang gelang Forthel Stone," jawab sebuah suara feminim.
Dua orang itu, lelaki dan perempuan. Yang lelaki tengah duduk di kursi yang menghadap ke arah jendela dan membelakangi perempuan yang tengah berdiri.
Mereka berada disebuah ruangan bercat putih yang tidak terlalu luas, dengan pencahayaan yang minim. Mereka saling berdiam diri. Keheningan menyelimuti mereka. Sampai si lelaki yang duduk itu berdiri membuat suara berderit khas kursi tergeser. Ia berdiri dan melangkah ke arah jendela dan menyibakkan sendikit tirainya. Lampu luar langsung menerpanya, memperlihatkan warna terang rambut milik lelaki itu.
"Untuk kali ini kau perhatikan saja dulu. Apakah orang itu juga sudah mengetahuinya?" tanya si lelaki tanpa menoleh sedikitpun, suaranya terdengar dingin.
Si perempuan tampak mengingat sesuatu. "Ah... iya. Orang itu sudah mengetahuinya, Leader. Menurut laporan Zetsu yang sudah seminggu ini memantau Principessa," jawabnya.
Lelaki yang dipanggil Leader itu nampaknya memikirkan sesuatu. Matanya menatap lurus ke depan. Ke arah luar yang hanya sejauh mata memandang terdapat hamparan rumput dengan deretan pepohonan yang menjulang tinggi bagaikan pagar kokoh.
"Hm. Kita harus bergerak cepat jika tak ingin terlangkahi orang itu," gumamnya. "Kau amati dia. Jika memungkinkan, mungkin kau bisa mendekatinya secara perlahan. Jangan sampai identitas kita diketahuinya sebelum waktunya. Pastikan orang itu dan kelompoknya tak mendahului kita —" Lelaki itu melipatkan tangannya didadanya. Lalu ia mentap lawan bicaranya itu dengan sorot mata yang tajam. "—bawa ia ke sini jika orang itu memunculkan gerak-gerik yang mencurigakan! Dan pastikan, jika kau telah membawanya. Pastikan orang itu tak dapat melacaknya. Pergilah!"
Perempuan itu membungkukkan badannya sebelum ia melesat pergi dengan kecepatan yang luar biasa dan tak wajar.
Lelaki itu duduk kembali di kursinya dan memejamkan matanya.
"Tunggulah…" gumamnya. "Kami membutuhkanmu Principessa."
.
.
To be continued
a/n: halo... Rie update ni... bagaimana? Di chapter ini di ceritakan sedikit masa lalu Sakura. Hm...ini masih permulaan. Ah...iya, sedikit pemberitahuan. Ide ini terinspirasi dari film X-men dan manga Gakuen Alice. hehe...
ah...apa ada yang tahu siapa lelaki itu?
hm...baiklah, mungkin update chap depan agak lama. Liburan ini Rie pasti sibuk. +sok sibuk+
ahahaha... oh iya... GRAZIE MILLE buat yang udah review, mi dispiace reviewnya belum sempet di balas. Mungkin nanti. hehe... Grazie Mille juga buat yang ngefav sama alert. See you later in the next chap. ^^
big Grazie Mille yg udah ngereview chap kemarin:
Miss Uchiwa 'Tsuki-Chan, me, Hikari Meiko Eunjo, Yunacha Zaitte, Kazuma B'tomat, cherrysasusaku, SAASU7KEX jUst cHipmUnkZ, 4ntk4-ch4n, Peaphro, Amel mele gak login.
.
.
Grazie Mille udah menyempatkan untuk membaca.^^
