Entah mengapa dan bagaimana.. Saya berinisiatif membuat fic aneh bin jelek ini.
Yang pasti.. dengan tujuan untuk berpartisipasi turut meramaikan 'SasuNaru' seperti author lainnya
Maaf... apabila fic nya jelek dan penuh dengan Typo(s) harap maklum. Saya akan belajar lagi.
Mohon bantuannya
[WARNING]
Sasuke x Naruto
Disclaimer : Masashi kishimoto
MPREG
Boys love Yaoi
Rating M (jaga-jaga)
By. Uzumaki uzu
Kalau tak suka jangan dibaca yaa :D
Kalau hanya berniat untuk mengejek atau mencela, mohon harap meninggalkan fic ini, karena memang ficnya sudah jelek. Saya bukanlah manusia yang sombong untuk menyatakan kurang dan kurang, saya adalah manusia biasa, apabila ada yang menyukai fic ini saya bersyukur, tetapi saya tetap akan belajar dan belajar lagi.
Seperti YIN dan YANG
Yin Yang merupakan sebuah gambaran kongkrit dari perputaran dunia.
Yin Yang merupakan sebuah prinsip kehidupan yang dinamis.
Seperti yang dikatakan oleh kitab perubahan Yin Yang memiliki dua arti pertama sebagai sebuah ketentraman dan kesederhanaan dalam menjali kehidupan nyata dan kedua adalah sebagai sebuah perputaran kehidupan, artinya dalam kehidupannya manusia tidak mungkin akan selalu setagnan laju perputaran kehidupan secara teguh di yakini oleh faham Yin Yang.
Hari kita mengalami kesusahan esok hari kita akan mengalami sebuah kebahagiaan, semakin tingkat kesusahan yang kita alami maka semakin tinggi pula kebahagian yang kita raih.
Naruto membuka matanya dan kembali tersenyum dan mencoba tabah. Saat berbalik, pandangannya tidak tertuju pada apa yang akan ia lewati. Tapi, justru, pandangannya tertuju pada seorang yang sudah lama ia kenali. Seseorang yang pernah membuatnya terhina, seseorang yang pernah membuatnya membusuk dalam aib keluarganya, seseorang yang membuatnya terluka hanya dalam jangka satu malam.
"Sasuke" Naruto berbisik lirik sambil memandang Sasuke yang sedang berdoa pada capel itu.
Pandangan Naruto masih tertuju pada Sasuke, sampai-sampai Naruto terpeleset dan menabrak sebuah meja yang berisi rangkaian bunga dan lilin-lilin tinggi.
BRUGH
"Ah..." Naruto jatuh terduduk.
Naruto terkapar dengan bunga-bunga berserakan dimana-mana, ia merasakan sakit yang amat sangat pada perut dan tubuhnya, Naruto meringis dan berusaha menahan diri dari tangis. Sasuke menoleh ke asal suara itu, dan langsung berlari menemui Naruto, yang sama sekali tidak terlihat sebagai Naruto, melainkan seorang wanita yang sedang mengandung yang mengenakan pakaian jubah berwarna coklat caramel.
"Apa kau tidak apa-apa, nona?" Sasuke berjongkok dan mengulurkan tangannya pada Naruto.
Naruto sangat terkaget-kaget dengan kedatangan Sasuke yang nampak sedikit terlihat dari celah penutup kepala pada jubah yang ia pakai. Raut wajah penuh dengan formula kekhawatiran yang mungkin berlebihan. Naruto menggigit bibirnya dan menarik jubahnya ke depan, bertujuan untuk menutupi dirinya yang semu dan sendu. Naruto merintihkan suaranya yang terdengan penuh dengan rasa penderitaan.
'Ya tuhan, ini benar-benar dia?' perasaan Naruto terkoyak, saat ia mengintip dibalik balutan yang menjadi lapisan tipis tempat persembunyiannya kali ini. Ia melihat sosok Sasuke yang pernah menindasnya, kini berada begitu dekat dengannya.
Naruto merasakan kaku pada sekujur tubuhnya, terutama perutnya yang membuncit. Naruto menunduk dan mencoba menghela nafas. Ia sama sekali tidak berani menatap mata Sasuke kali ini, Naruto menarik mantelnya untuk menutupi wajahnya lagi. Tapi... rasa sakit di perutnya tak kunjung hilang, Naruto mundur dengan menggelosor di lantai pualam itu. Nafasnya terengah-engah, badannya menggigil ketakutan sembari memegangi perutnya. Perasaannya sakit sekali melihat orang yang telah membuatnya seperti ini hadir di depannya tanpa ada rasa salah sedikitpun.
"Nona, k-kau sedang hamil! Apa kau terluka?" Sasuke duduk diantara Naruto yang kian dalam rasa sakit pada dua belah dirinya... juga perasaannya.
'Apa? Dia bertanya begitu tulusnya padaku? apa yang kau pikirkan kali ini Sasuke! kau memang benar-benar brengsek.'
Naruto terdiam memegangi perutnya yang sakitnya makin melilit, tangisnya sudah tidak dapat di bendung lagi, keringatnya bercucuran—seraya dengan tangisannya yang memelas dan perih. Naruto menundukkan kepalanya, menyimpan biru safirnya di dalam rundukan luka hatinya.
"Nona, apa yang bisa aku bantu!" Sasuke menggeretak.
Naruto masih saja terduduk lemas, ia tidak mengeluarkan sepatah katapun pada seseorang yang berada didepannya, kali ini. Naruto merasa sesak pada hatinya yang lapang. Kelapangan perasaannya yang tersimpan rapih dalam benaknya sendiri. Perasaan bahagia sewaktu belum mengenal apa itu cinta, perasaan bahagia sebelum ia mengenal dia, perasaan bahagia sebelum ia menemui hari finalnya. Hari dimana Naruto di berhentikan dari kebahagiaan yang selama ini menjadikannya tumbuh sebagai seseorang yang semangat dan ceria. Naruto masih menunduk dengan menahan nafas dan bendungan ai matanya yang semakin menuntut untuk di teteskan.
Perasaan Naruto makin tertekan dengan kata-kata Sasuke padanya. Kata-kata yang baru pernah ia dengar. Dengan halus dan penuh kekhawatiran. Sebenarnya, Naruto sangat ingin mengeluarkan tangis dan jeritan untuk meronta, ia merasa hatinya sudah sangat sakit menahan luka yang memang selalu mengganggu pikiran dan kehidupannya. Tetapi, kali ini... dia hanya dapat menahan dirinya sendiri, didalam balutan persembunyiannya. Karena ia tidak ingin menemui kesalahhannya untuk kedua kalinya. Kesalahan yang membuatnya kehilangan segalanya.
Naruto masih menunduk dengan lesu, tangannya pucat dan gemetar memegangi bulatan pakaian yang menutupi perutnya yang membuncit. Sasuke terduduk di depan Naruto yang masih terkapar oleh ulah keteledorannya sendiri. Entah apa yang membuat Sasuke menjadi penasaran dengan orang yang ia temui di capel ini. Sasuke memandangi Naruto yang sedang duduk terkapar pada lantai pualam itu. Ia bingung harus melakukan apa dan bagaimana, sedangkan orang yang sudah di khawatirkannya tadi itu terus saja berdiam diri. Aneh—itu yang menjadi latar belakang pemikiran yang ada di otak Sasuke kali ini.
Naruto memegangi kandungannya dengan kuat, bernafas terengah-engah selayaknya baru melakukan lari marathon. Tubuhnya lemah dan sedikit condong ke depan, tangan kirinya menutupi wajahnya dengan jubah yang ia kenakan. Sebisa mungkin Naruto memejamkan matanya dan mengalihkan pendengarannya pada apapun yang bisa melupakan kejadian sejenak dengan seseorang yang menjadikannya 'aib' hanya dalam satu malam saja. Sakit yang bertubi-tubi kini mulai hadir lagi dalam perasaan Naruto yang sedang tercabik-cabik, walaupun ia sudah mencoba melupakan dengan beberapa bulan ini, tapi tetap saja, hasilnya adalah nihil.
"Nona... apa anda baik-baik saja?" Sasuke mendeatkan wajahnya dan berusaha melihat Naruto lebih dekat lagi. Sasuke berusaha menenangkan Naruto dengan perkataan seadanya. Lagi-lagi, Naruto merasakan satu pisau menusuk jantungnya, dengan kalimat dan tutur kata yang Sasuke lafaskan padanya.
'Tuhan... dia semakin dekat denganku kali ini.'
Capel nampak temaram dengan lilin-lilin sebagai pusat pencahayaan di dalamnya, bangunan tua dengan susunan bertingkat pada mimbarnya, ukiran-ukiran dan kayu yang melintang di atas plafon menjadi ciri khas tersendiri untuk semua tempat yang ada di capel ini. Ya.. sebuah capel yang suci dan sakral, ruangan utama yang dihiasi dengan laburan kayu dan berlian yang tertempel di dinding. Di per—elit—dengan lambang matahari dan merpati pada ke dua daun jendela yang besar, yang terletak dibelakang patung-patung malaikat. Suara nyanyian sakral immortal-pun terdengan sedikit muram dan menimbulkan kesan menyedihkan apabila di dengar. Alunan biola dan piano, selalu menjadi tokoh utama dalam membangun kesadaran dan membangkitkan kesucian pada hati yang sudah keruh. Bunga mawar dan tulip putih selalu bertengger di setiap sisi ruangan, sebagai lambang bagi tabiat suci yang telah kembali dalam jalan menuju surga yang lapang.
"Nona, apa yang bisa aku bantu?" Sasuke makin penasaran dengan seorang ang menggunakan jubah yang tebal dan hanbok kecil, yang nampak aneh, apabila di gunakan pada sekarang-sekarang ini.
Hembusan angin lembut, seketika menerpa diri Sasuke dan Naruto yang masih bersembunyi dalam perasaannya. Bunga-bunga mawar yang kini berserakan di lantai, karena pengaruh hantaman tubuh mungil Naruto yang menyebabkan semuanya berantakan dalam waktu yang singkat. Bunga-bunga putih itu tertiup angin dan beterbangan sesuai dengan semilir angin yang mengarah ke Sasuke dan Naruto. Tentu saja dengan menyebarkan aroma harum dan segar.
"Nona... katakan-lah sesuatu pada saya" Sasuke merasa sedikit iba.
Naruto mengulurkan kedua tangannya memeluk perutnya yang semkin lama semakin merasa sakit. Kenyataan yang sangat perih untuk dirasakannya. Apakah kandungannya tidak apa-apa? Apakah bayinya terluka. Itulah yang ada di pikran Naruto kali ini.
"Ah..." Naruto kian mempererat pejaman matanya yang di ikuti dengan meluncurnya air mata pada kedua matanya yang safir membiru, saat ia kembali merasakan sakit yang sangat pada kandungannya.
Penutup kepalanya terlepas, sehingga nampak lah Naruto dalam keadaan sempurna, wajahnya yang makin memucat dan tampak ketakutan menjadi simbol dimana ia sedang merasakan siksaan kecil yang telah Sasuke lakukan padanya beberapa bulan lalu.
Sasuke terbelalak melihat pemandangan memilukan di depan mata dan kepalanya sendiri. Sasuke menerima tamparan keras pada dirinya yang sangat tidak mempercayai apa yang telah dilihatnya. Sasuke shock berat melihat Naruto dalam keadaan yang miris dan memprihatinkan. Sasuke terengah-engah dalam buaian sesak nafasnya yang semakin menjadi-jadi. Matanya membulat sempurna, dengan ketegangan yang erat pada dirinya. Pada posisi seperti yang ia rasakan sewaktu menjalankan misi pemburuan terroris di Suna. Suasananya memang tidak genting. Tetapi, miris untuk dirasakan dalam waktu yang begitu mendadak.
Naruto menggigit bibirnya hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak. Darah anyir menempel pada bibirnya yang muda dan belia. Naruto berusaha menahan amarah, luka pada perasaannya, dan sakit pada rahim mungilnya yang kini terisi sebuah janin kecil hasil perbuatannya yang menajdi 'aib' bagi dirinya dan kehidupannya. Kehidupan yang menjadi jalan untuk menuju sesuatu yang menghilangkan segalanya. Entah surga ataupun neraka, juga reinkarnasi menjadi binatang—mimpi Naruto sejak kecil.
Sasuke tercengang dan tubuhnya menegang hebat. Ia tidak pernah membayangkan dan memikirkan apa yang akan terjadi pada harinya. Hari yang menurutnya kosong dan biasa saja.
Hari yang tidak akan pernah dipercayainya, dimana tidak ada cita-cita, tidak ada kepercayaan, tidak ada cinta yang cengeng dan menjijikan dan tiada kisah untuk menuju dan tertuju pada suatu yang memaksa kehidupan untuk berakhir bahagia ataupun menderita.
Tubuh Naruto bergetar hebat dengan nafas seperti orang mau melahirkan.
"Ahh... sak-sakithhh... hoshh ... hoshh."
Air mata yang mewakili kesakitan dan rusaknya semua organ dalam Naruto kali ini. Sasuke masih tidak mempercayainya, ia hanya menatap keji dan sedikit menajamkan pandangan dengan kesan melotot pada Naruto yang sudah terkapar tak berdaya.
"Arrrghh... Tuhann!" Naruto menggerang menahan siksaan kecil yang bersemayam dalam tubuh mungilnya. Naruto mengeluarkan keringat dingin dan terus memejamkan matanya. Ia berusaha bangkit dari keterkaparannya sendiri.
"Naruto!" Sasuke masih belum percaya.
Sasuke mendadak menemukan luka yang sejujurnya tidak pernah ada sejak awal kehidupannya. Tapi... entah mengapa, kali ini ia merasa sangat-sangat terpukul dengan keadaan Naruto yang semakin mengenaskan. Sasuke membantu Naruto untuk duduk di pojokan ruangan dekat koridor dan pintu keluar. Sasuke sangat miris melihat makhluk muda yang berada persis di depannya. Otaknya terus berputar dan menduga-duga. Apakan ini Naruto yang dulu atau? Arghh! Entahlah...
"Naru~" Sasuke lirih dan berjongkok di depan lutut Naruto yang sedang duduk di kursi panjang.
Beberapa menit kemudian
Naruto kembali meraba jubahnya dan kembali menutup wajahnya dengan jubah yang ia kenakan. Bisu—menjadi alasan yang membohongi diri Naruto, untuk tetap diam dan diam di depan seseorang yang membuatnya terluka dalam. Naruto menunduk lesu, ia menahan dirinya lagi, ia berusaha sekuat dirinya menahan air mata yang kini mulai menetes satu-satu pada pipinya yang pucat. Naruto memalingkan pandangannya, rasa sakit yang melintir pada perutnya sudah lumayan tidak terasa lagi. Tapi... ia masih duduk dan tetap menyembunyikan dirinya dibalik kelamnya masa lalu.
"Naru—" Sasuke menyentuhkan tangan ke lutut Naruto. dan berusaha mendapatkan safir yang tersembunyi. Naruto langsung menangkis tangan Sasuke dengan cepat, Sasuke langsung memandang miris ke arah Naruto.
Naruto menutupi gelembung perutnya dengan jubah "Maaf, aku bukan Naruto." Naruto langsung melenggangkan kakinya kedepan meninggalkan Sasuke, walaupun perutnya masih merasakan sakit.
"Tunggu... Naruto!" Sasuke menyeragah dengan suara keras dan menarik lengan Naruto yang kurus dan lemah.
Naruto limbung ke arah Sasuke, tangan cekatan Uchiha lalu menangkap tubuh rentan Naruto tanpa menggoreskan dan menyebabkan rasa sakit untuk di rasakan. Onyx dan Safir bertemu untuk kedua kalinya. Naruto menarik tubuh dan pandangannya dari Sasuke, ia mencoba lari dengan sekuat tenaga, tapi... ia tidak mampu. Ia tidaklah kuat dan vit seperti dulu lagi, kini Naruto tumbuh menjadi seorang remaja dengan bentuk fisik yang kurus dan lemah, tubuhnya sedikit kusam dan bibirnya pucat.
Sasuke memegangi kedua lengan Naruto, dan memaksa pandangan gelap dan terang kembali menyatu.
"Naruto... " Sasuke membelalakan matanya, melihat keadaan Naruto yang kekurangan Nutrisi dan sedikit menimbulkan kesan keprihatinan.
"Aku bukan Naruto..." Naruto memalingkan wajahnya. Angin kembali bertiup ke arahnya, bunga putih kembali beterbangan di dalam capel yang suci.
"Lalu siapa lagi.. kalau bukan kau?" Sasuke memandang Naruto iba dan kini perasaannya mulai terluka. Terluka? Omong kosong!
"Aku katakan sekali lagi ya tuan.. aku bukan Naruto!" Naruto membentak Sasuke dengan keras "Dan aku peringatkan kau ya, tuan... jangan pernah memegang tubuhku lagi, dasar lancang!" Naruto mengibaskan kedua tangannya dengan keras , melepaskan tangannya dari dekapan tangan Uchiha. Naruto mengelap darah yang menempel di bibirnya, lalu Naruto Mencoba lari. Tapi... Naas, kakinya tersandung oleh kaki-kaki kursi. Dan ...
BRUGH
"ARGH!" Naruto menjerit dengan leguhan parau yang sangat keras terdengar. Ia terjatuh dengan posisi melengkungkan tubuhnya, untung saja tidak jatuh dengan posisi tengkurap.
Sasuke langsung lari ke arah Naruto yang nampak kesakitan dan menjerit-jerit.
"Tuhan! Sakit... argghh!"
"Naruto" Sasuke gugup.
"Argghh! Tuhan... hentiakan .. aku mohon hentikan cobaanmu.."
"Naruto" Sasuke tak melepaskan pandangannya.
"Arrgghh! Sakitt..." Naruto mengeluarkan air matanya dengan tergesa-gesa
Sasuke langsung menggendong tubuh Naruto dengan paksa, ia nampak tidak tega dengan Naruto yang sudah parah. Naruto mencakar pipi Sasuke, sehinga terlihatlah tiga guratan di pipi Sasuke.
"Lepaskan aku!" Naruto menjerit keras ke telinga Sasuke yang sedang susah payah mengangkatnya.
"Kau harus dibawa ke rumah sakit!" Sasuke iba.
"Lepas! Arghh... lepaskan aku brengsek" Naruto meronta. Yes... ia berhasil menumpahkan segala luka hatinya dengan tangis kali ini.
"Diamlah Naruto... "
"Pergi dariku! Pergi—" Naruto mendorong tubuh Sasuke hingga jatuh terkapar.
Mata Naruto memerah dengan sempurna, kemarahan dan luka kini bercampur menjadi satu dalam benak kesakitan yang tersalurkan.
"Naruto aku harus—" suara Sasuke terpotong.
Datanglah seorang wanita dengan perawakan langsing dan bermata green, dengan rambut pink menggantung pendek pada kepalanya. Tidak lain dan tidak disangaka lagi, dia adalah seseorang yang berada di balik pintu kamar Sasuke pada pagi hari itu, wanita yang berciuman panas dengan Sasuke pada pagi hari itu. Wanita yang menjadi pacarnya—mungkin. Langkah tergesa-gesa menuju ruangan yang tentu saja tidak kedap suara, langkahnya beradu dengan dentuman lonceng kuno campel batu bata itu.
Sakura langsung menghampiri Naruto dan Sasuke yang sedang terus membujuk dengan menewarkan segala kepeduliannya yang memuakkan pada Naruto. Sakura tersenyum melihat Naruto yang sedang kesakitan dan mengeluarkan tangisnya. Tangan lembut Saukra langsung memegangi tubuh dan perut Naruto. Sasuke langsung membelalakan matanya. Ia tidak dapat berkata-kata lagi.
"Kau harusnya menolong wanita ini, sayang!" Sakura tersenyum ke arah Sasuke yang kaget dengan wajah Stoic menjijikannya. "Bukan malah membiarkannya kesakitan." Sakura menengadahkan diri.
DEG
Naruto membelalakan matanya dengan lebar, pupilnya mengecil dengan paksa. Naruto seperti disambar petir di siang bolong kali ini. Ia tidak menyadari, sama sekali tidak dapat menelaah apa yang Sakura katakan pada Sasuke dengan entengnya. Naruto menahan nafasnya sendiri, perasaannya hancur lebur dalam balutan tubuh yang ringkih. Naruto memandang patung malaikat, tetapi pandangannya kosong dengan nafas yang terengah-engah. Kedipan mata yang terulang berkali-kali, mencoba menahan dirinya untuk tetap diam dan mencoba sabar dengan sekeras apapun. Naruto mengatupkan rahang bawahnya dengan tekanan keras, walaupun dagunya bergetar sraya mengikuti aliran adrenalinnya yang semakin diliputi oleh sayatan-sayatan yang melumpuhkan dirinya dan semangatnya.
Naruto's pov
Apa katanya, Sayang?
Aku sangat kaget mendengarkan kata-kata yang kolosal seperti tadi. Mataku terbelalak dengan apa yang wanita itu katakan padaku. Tuhan... cobaan pada tubuhku sudah sangat berat, apa lagi aku harus mengemban anugerah besar dari-MU untukku. Memang aku sangat mensyukurinya, aku mensyukuri apa yang kau hadiahkan untuk kehidupanku kali ini. Ya seorang bayi yang tidaklah lazim. Ketidak laziman, jika seorang kaum adam yang mengandung. Tapi, mengapa kau berikan cobaan yang lebih berat dari pada ini? mengapa harus ada wanita yang membuatku merasa tersayat dengan perasaanku sendiri. Perasaan yang sakit karena terdzolimi dan perasaan sakit karena tidak kuasa melihat seseorang yang sudah membuat diriku menjadi seonggok bangkai dari keluargaku sendiri.
Aku menghembuskan nafasku perlahan-lahan, aku takut melihat wajah wanita itu. aku takut dia akan mengira aku macam-macam dengan Sasuke yang tadi dipanggilnya dengan sebutan yang sangat menyesakan dadaku.
"Apakah kau tidak apa-apa, nona?" Sakura membantu mendudukanku yang memang jelas nampak kesakitan.
"Ah.. ak-aku .." Naruto menahan tangis yang sudah pekat pada wajah dan matanya "Aku tidak apa-apa nona." Aku langsung menggugah diriku untuk tetap tenang dan tidak mengeluarkan respon apapun.
"Aku yakin kau pasti sakit Na—" Sasuke memberhentikan kata-katanya tepat saat dia mau memanggilku dengan sebutan yang menjadi desahannya di malam hina itu—Naruto. Tolol! Bukan sakit lagi, namun semua yang berada dalam diri Naruto kini mulai di gerogoti dengan luka yang tercipta di dalam nalurinya yang masih belia dan belum mengerti apa-apa.
Sakura menaikkan satu alis dan memandang sengau pada Sasuke "Maksudmu?" Sakura keheranan.
Sasuke berdehem "Maksudku, kau pasti merasakan sakit, Namun aku yakin, kau adalah orang yang kuat." Sasuke menyimpulkan senyum yang tanggung. Sakura tenang mendengarnya.
"Apa kau mengenal nona ini, sayang?"
"Tidak" Sasuke enteng.
DEG
Aku membelalakan mataku dengan lebar, tanganku menggenggam kuat hingga kuku-kuku menembus kulit tangan dan menmbulkan luka. Aku tidak menyangka, sangat tidak menyangka dengan apa yang baru saja di katakan oleh tuturnya. Kata-kata yang enteng. Sungguh sangat enteng bila di artikan dan di jabarkan dengan semua yang pernah ia lakukan padaku dan hidupku.
"Seharusnya kau mengkhawatirkan kondisi janinmu"
"Iya nona itu benar sekali" Sakura mencoba meluruskan kakiku yang tertekuk kaku "Memangnya... ada apa sebenarnya sampai kau terjatuh?" Sakura memandang Sasuke yang nampak dingin.
"Tidak ada apa.. ahh!" Naruto meleguh kesakitan.
"Sasuke... apa yang terjadi dengan nona ini?" Sakura nampak sedikit curiga terhadap Sasuke "Dan mengapa ia sampai jatuh, dan kau tidak menolongnya. Bukankah kau sendiri melihat dia sedang hamil?" Sakura nyrocos dengan tampang iba.
Aku kembali memungut jubah kusutku dan melihat sekitar tampat yang aku pijaki. Aku memandang bunga mawar putih yang berserakkan dimana-mana. Angin menerpa wajahku dan kedua orang ini. Aku merasakan keheningan dan nikmat murni pada angin yang membawa reruntuhan bunga-bunga yang saling berterbangan dengan bebas. Aku tersenyum miris ketika semua lewat begitu saja. Sampai satu suara membangunkanku dari bayangan putih yang mengelilingi seluruh ruangan yang memang tidak diketahui asalnya.
"Syukurlah kau sudah sadar" Saukra memegang tanganku.
"Apa? Maksudmu?" aku terlonjak kaget, dengan keadaanku yang belum seratus persen sadar.
"Kau tadi pingsan, nona.. " Sakura tersenyum "Untunglah ada Sasuke yang mau menyumbangkan sedikit tenaganya untuk menggendongmu menuju rumah sakit." Sakura melengos ke arah jendela. "Sebenarnya... tadi aku ingin memanggil taksi, atau menelpon rumah sakit, tapi—"
"Apa?" Aku tertekan.
"Sasuke sudah berlari jauh, saat aku baru menelpon rumah sakit."
"Maksudmu—" aku menahan sakit pada perutku "Menggendongku?" tegasku pada Sakura.
"Ya" Sakura tersenyum tanggung.
Apa katanya? Sasuke mau menolongku? Hanya menolong! Ya tuhan betapa sakit dan hancurnya aku... dan apa yang dikatakan oleh wanita ini, Sasuke menyumbangkan sedikit tenaganya! Sakit sekali perasaanku... sedikit tenaganya. Aku sudah tidak bisa menahan apa-apa lagi ya tuhan... aku sudah kacau, aku sudah tidak sanggup. Harus apa aku ini? tapi... apakah kau memberikan jalan yang begitu sulit ini untukku? Sungguh luar biasa. Mungkin aku hanya bisa tersenyum dan terus menyembunyikan diriku yang kelam dan gelap. Bahkan pada dunia. Sasuke, itu-lah nama yang akan aku ukir untuk waktu yang sangat lama, sesudah aku membusuk, namanya akan tetap abadi dalam diriku.
.
'Diriku yang sungguh memperihatinkan.
Tuhan... lihatlah aku yang sudah lemah...
lihatlah aku yang kurus seperti ini, lihatlah aku yang sedang mengandung dengan sepenuh jiwa ragaku... lihatlah aku dengan seluruh derita yang menjadi keseharianku...
air mataku yang sudah menjadi jalan penunjuk untuk sebuah tempat yang pedih, nafasku yang semakin sesak karena kini janinku sudah semakin tumbuh dan berkembang menjadi seorang bayi kecil.
Apa kah kau masih ada sedikit belas kasihan untukku? Adakah ? akankah?mungkinkah?
.
.
"...siapa namamu, nona?"
"Ah... ak-aku?"
"Iya..." Sakura mulai curiga.
"Na-naruto Uz—" aku menghentikan kata-kataku, aku kembali teringat pada pesan terakhir ayah dan ibu padaku sebelum aku di buang ke tempat yang memang hampir sama dengan namaku—Uzugakure atau distrik pusaran air. Bahwa, aku tidak boleh menggunakan nama marga Uzumaki lagi, karena, aku bukanlah Uzumaki. Aku hanya seorang Naruto. Naruto yang sendirian, tidak mempunyai keluarga dan kasih sayang.
"Naruto, ya?" Sakura menyingkan tangannya "..oh, iya.. aku tadi dikabari oleh dokter Sizune, bahwa hasil USG akan diberikan setengah jam lagi."
Ultrasonografi medis (sonografi) adalah sebuah teknik diagnostik pencitraan menggunakan suara ultra yang digunakan untuk mencitrakan organ internal dan otot, ukuran mereka, struktur, dan luka patologi, membuat teknik ini berguna untuk memeriksa organ. Sonografi obstetrik biasa digunakan ketika masa kehamilan. Ultrasonografi atau yang lebih dikenal dengan singkatan USG digunakan luas dalam medis. Pelaksanaan prosedur diagnosis atau terapi dapat dilakukan dengan bantuan ultrasonografi (misalnya untuk biopsi atau pengeluaran cairan). Biasanya menggunakan probe yang digenggam yang diletakkan di atas pasien dan digerakkan: gel berair memastikan penyerasian antara pasien dan probe.
Dalam kasus kehamilan, Ultrasonografi (USG) digunakan oleh dokter spesialis kandungan (DSOG) untuk memperkirakan usia kandungan dan memperkirakan hari persalinan. Dalam dunia kedokteran secara luas, alat USG (ultrasonografi) digunakan sebagai alat bantu untuk melakukan diagnosa atas bagian tubuh yang terbangun dari cairan.
"Tapi... aku tidak—"
"Sasuke sudah menceritakanku akan kejadian yang sebenarnya, dan kami yang akan bertanggung jawab penuh atas dirimu dan bayimu."
DEG
Aku tak kuasa dengan apa yang dikatakan oleh wanita ini. Sasuke menceritakan hal yang terjadi antara aku dengannya. Ya tuhan, makhluk macam apa aku ini! menjijikan sekali. Aku tidak ingin dia tanggung jawab padaku, mengingat diriku adalah seorang laki-laki.
"Tapi... aku tidak menyuruh kalian untuk melakukan semuanya."
"Mengapa kau berkata begitu Naru? Aku dan Sasuke tidak akan membiarkan dirimu itu sendirian saja di capel dengan keadaanmu yang pingsan!" Sasuke duduk disampingku "apa lagi kau sedang hamil."
"Tapi, mengapa kalian menolong orang seperti aku ini?"
"Sebenarnya aku ingin mengikuti perintahmu, tapi Sasuke berkata lain... dia nampak khawatir denganmu. Dan rasa sosialnya yang membawa hatinya bergerak untuk menolongmu."
Apa! Rasa sosial macam apa itu? sakitnya perasaanku, perasaan yang selalu membebaniku. Aku terus berharap dari hari ke hari agar dia mengunjungiku dan mau melihat hasil dari perbuatannya itu. tapi... ia bahkan tidak mengingatku, apa lagi menjengukku. Sakit sekali perasaanku
"Aku bangga dengannya... " Sakura menyeruput secangkir teh "Makannya aku semakin mencintainya... begitu pula dengan sebaliknya."
Mendadak Naruto merasa apa yang ada di dalam perasaannya seperti sedang di tusuk-tusuk. Ia tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Sakura dengan entengnya. Ia meringkuk dalam dan dalam sekali pada jiwanya yang sudah mulai hancur. Apakah jawaban dari semua ini, bagaimanakah seperti apakah takdir yang adil untukku?
TBC
Maaf apa bila ficnya jelek dan sedikit membingungkan.. Saya akan belajar lagi. saya bukan orang yang sombong yang mengakui ini sebagai bagus. Saya jauh dari kata sempurna, dan dari itu, saya mengharap partisipasi dari-teman teman untuk saling membantu dan saling menyemangati dalam memperbanyak kisah dalam satu
'lingkup' pencinta SASUKE dan NARUTO.
salam kenal dari saya.. uzumaki uzu..
bagaimana dengan fic yang alot, jelek dan gaje ini?
sebaiknnya dilanjutkan atau tidak ya? Dan bagi teman-teman, jangan lupa rivewnya ya.. mohon bantuannya ya Senpai ^_^
Fic ini dipersembahkan untuk semua sahabat saya :
mechakucha no aoi neko, Just ryu, Anenchi ChukaCukhe, Orange Naru , Seo Hyo-Rin, Arisu Koromaru, hachii, Kokoro Yumeko, Arisa Adachi, Dark dobe, MEKO, Micon, kiky 'beautiful lover, lilia mozaki, cacuke, hotaru chan hatake, Vanadise.
