Fandom : Naruto

Pairing : Tayuya/Shikamaru

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Notes : AU. Tayuya isn't dead.


Is It Hurt?

© sky end


"Lalu kenapa, cecurut? Mau pamer?"

Respon si gadis berambut merah itu tentu mengejutkan Shikamaru. Biasanya, gadis manapun mengucapkan 'oh, maaf' dengan gugup ketika 'gelar'-nya sebagai ketua kelas di kumandangkan. Walaupun malas tak terhingga, Shikamaru di anggap pantas untuk mendapatkan gelar itu. Atau mungkin Naruto dan Kiba yang mengusulkannya untuk rusuh tiap guru mereka absen.

Shikamaru menggerutu di bawah nafasnya. "Mendokusai... perempuan, perempuan." Ia menutup matanya, terkesan pusing karena perlakuan Tayuya yang grasa-grusu dan asal semprot. "Kau ada perlu apa?" Shikamaru bertanya dengan nada yang sama dengan saat ia pertama menyebutkan namanya tadi.

"Heh, sapu ijuk. Aku anak sekelasmu," Tayuya mendengus dan memutar matanya. Terkesan sebal dengan perlakuan Shikamaru yang (di anggapnya) sedikit pamer. Tak lupa gerutuan-gerutuannya yang terdengar begitu jelas di suasana sepi di mana anak-anak kelas Krisan pergi entah kemana.

"Oh. Jadi kau." respon Shikamaru datar. Ia menatap gadis berambut merah itu dari atas sampai bawah. Rambut merahnya di gerai mencapai punggung. Matanya cokelat tua, tatapannya garang bukan main. Dan mulutnya benar-benar sampah walau Shikamaru baru mendengar gadis ini berbicara beberapa kali saja.

"Kau apanya, jelek?"

Shikamaru menggaruk kepalanya dengan gestur khasnya. "Tsk... tahukah kau betapa merepotkannya kau ini?" dengan cepat, Shikamaru menyambar tangan gadis itu, dan menariknya secara paksa entah ke mana. Tayuya, tentu saja, membuat Shikamaru melepaskan pegangannya dengan mencubit tangan lelaki itu, beberapa detik ketika tangan Shikamaru menyentuh pergelangan tangannya.

"Untuk apa kau memegang tanganku?"

Shikamaru menghela nafasnya lagi. "Kau benar-benar merepotkan..." komentarnya dengan nada yang sama datarnya dengan ekspresinya. Pemuda itu akhirnya menyerah soal gadis itu dan malah mulai berjalan melewati gadis berambut merah itu, kedua tangannya terlipat di belakang. Ia sudah benar-benar malas mengurus perempuan. Dan kini ia kembali merutuk teman sekelasnya yang menugaskannya sebagai ketua kelas.

Namun, Tayuya melihatnya seperti ini: Shikamaru—atau cecurut pengganggu di matanya—tidak berani melawannya, atau terlalu pusing mengurusinya sehingga pergi. Tapi, lelaki, di matanya (lagi) tidak boleh menyerah dan tidak boleh menjadi pengecut. Gadis itu merogoh tas selempang yang ia kenakan dan mengeluarkan sebuah benda yang terlihat sebagai case suling. Ia mengeluarkan suling dari case itu, dan—

—melempar casenya ke arah Shikamaru.

(Suara benda terkena kepala.)

"Untuk. Apa. Kau. Lakukan. Itu."

Tayuya tersenyum santai dari tempatnya berdiri, memutar-mutar suling di tangannya dengan lihai. "Untuk tidak membiarkanmu menjadi pengecut, hei tikus pengganggu." Ekspresinya hampir seperti ia sedang mengamalkan uangnya untuk seorang pengemis yang belum makan selama tiga hari, bukannya habis melempar case ke kepala seseorang yang baru ia kenal—dan mengatainya 'tikus' dan 'pengecut', pula.

Shikamaru tidak berbalik, sedangkan hanya membeku di tempatnya melangkah saat benda keras yang kini tergeletak di lantai itu tadi mencium kepalanya dengan sayang, sampai-sampai terasa sakit seperti habis di pukul dengan bat. (Berlebihan.) Ia tetap diam selama beberapa saat, sebelum pada akhirnya kembali berjalan meninggalkan Tayuya yang senyumnya mulai memudar.

"HEI, 'CURUT PENGECUT!"

Namun teriakannya seperti angin kecil yang tidak di perdulikan Shikamaru. Pemuda itu hanya menghela nafas dengan ekspresinya yang (selalu) terlihat tidak senang, seperti tokoh Grumpy dari dongeng terkenal Putri Salju dan Tujuh Kurcaci karangan Suzzane Weyn. Dan itu justru membuat Tayuya yang tadinya berniat menunggu di kelas sampai seseorang selain cecurut (Shikamaru) ini kembali.

Tayuya cepat-cepat mengejar Shikamaru yang sudah dua puluh langkah lebih depan darinya, tak lupa memungut case sulingnya yang tergeletak begitu saja. Benda kayu yang berukuran standar itu di taruhnya kembali ke dalam tas sebelum ia kembali mengejar Shikamaru, yang ternyata, cukup cepat juga. Tayuya mendengus.

Dasar tikus...

(Dan ia adalah kucingnya? Jangan sampai. Gadis berambut merah itu cepat-cepat mengusir pikiran sintingnya keluar dari otaknya. Hei, siapa juga yang mau menjadi apapun bagi cowok aneh tersebut?)


Tayuya memberikan pandangan aneh—dan sedikit gugup—pada seluruh kelas. Kini mereka telah kembali ke Kelas Krisan, semua dari mereka, termasuk si cecurut yang tidak memerhatikan kelas dan tampak hampir tertidur. Tayuya mengumpat dalam hatinya, merutuk si rambut ijuk selama sebentar sampai sang sensei, Anko, seorang guru Biologi seksi yang dadanya di intipi berbagai pria, umur apapun, yang berakhir di rumah sakit pada akhirnya.

Tayuya bisa melihat seluruh kelas. Seorang pemuda dengan rambut biru tua dan mata onyx terlihat tidak begitu perduli dengannya, seorang anak baru. Ada juga seorang pemuda gendut di samping si cecurut yang tampaknya sedang mengunyah sesuatu. (Cari mati, Anko sudah melarangnya berkali-kali.) Mengingatkan Tayuya tentang si gendut yang merupakan teman satu pantinya dulu, Jiroubou.

Wanita-wanitanya—tidak menarik. Tapi mereka cantik-cantik. Tentu seorang Tayuya tidak akan merasa terintimidasi oleh mereka. Ia hanya mendengus tidak perduli, menatap tajam seluruh kelas dengan matanya yang berwarna cokelat tua. Ia merengut mengingat apa yang terjadi tadi pagi. Sialan. Tapi si cecurut itu tampaknya amnesia. Tidak sekalipun ia terlihat tertarik.

Dan gadis berambut merah itu di persilakan untuk duduk di belakang, di samping seorang gadis berambut indigo. Anonim. Ia tidak mengetahui tentang apapun. "Ohayo," Tayuya menyapa ringan, dan melihat semburat merah di pipi gadis itu ketika gadis itu membalas dengan sopan dan malu-malu.

Tayuya mendengus. Keh. Ia yakin tahun-tahunnya, hari demi hari akan menjadi bosan dengan menjadi satu meja dengan seorang gadis yang pemalu—anti sosial, mungkin; walau harus ia akui wajahnya lumayan. Tayuya meletakkan dagu di atas tangannya yang bertumpu di atas meja, memerhatikan saksama ketika Anko membentak Chouji yang terusterusterus makan secara sembunyi-sembunyi, namun telak-telak ketahuan.


Bentakan Anko kepada Chouji melanjut kepada dirinya yang terlihat sudah bosan walaupun tadi mereka belum belajar, hanya perkenalan kepada gadis berambut merah yang sangat berani untuk melempar sebuah case kayu ke arah belakang kepalanya. Pemuda itu dengan refleks segera mengelus bagian yang 'di cium' benda keras itu, menggerutu selama beberapa saat.

Dan akhirnya Shikamaru mengetahui nama gadis berambut merah yang beberapa kali memanggilnya dengan cecurut tadi. Tayuya, tanpa nama belakang—Aneh. Tidak semua orang tidak punya nama belakang. Tipe orang seperti itu memang jarang. Mungkin ia punya tapi tidak mau membeberkannya karena (misalnya) ia adalah anak dari seorang buronan terkenal dan ia tidak mau di kucilkan.

Tapi—(Shikamaru menguap)—Shikamaru ragu gadis itu membutuhkan teman atau tidak. Mulutnya yang seperti tempat pembuangan akhir adalah alasan Shikamaru untuk ragu. Tidak semua orang mempunyai kesabaran baja sepertinya. Dan memangnya di panggil cecurut sama saja kalau di panggil 'ganteng'? Tentu tidak. Apalagi jika anak perempuanlah yang mendengarnya, bisa-bisa gadis itu di kucilkan sekelas.

Shikamaru menghela nafasnya. Mendokusai. Tugasnya sebagai ketua kelas makin mengganggu saja. Mungkin ia harus refreshing sambil bermain shogi bersama Asuma, pamannya sekaligus guru Olahraga yang merupakan suami dari Kurenai, guru matematika yang cantik, sayang sudah taken. Bukannya ia yang minat, sih—walau ia tidak keberatan juga kalau sampai bisa.

PLETAKKK!

Dan untuk kedua kalinya pada hari ini, sebuah benda di lemparkan kepadanya. Tapi yang kedua ini tidak kena, meleset dua cm darinya dan mengenai Naruto yang ada di samping belakangnya. Shikamaru tidak tahu ingin tertawa atau meringis. Ini mungkin karma. Namun ia tahu untuk siapa penghapus papan tulis itu di peruntukkan. Dirinya. Anko kembali emosi karena ia tidak memerhatikan sekelas.

"Damn you, Nara!"

Naruto.

Dan Shikamaru tidak bisa menahan kekehan yang terlepas—begitu saja—dari mulutnya, menertawai kemalangan Naruto dan keberuntungannya.

(Mungkin, ini adalah bayaran karena ia sudah di susahkan oleh si perempuan tanpa marga itu—atau mungkin Tayuya sendiri adalah keberuntungan baginya?

Not a chance.)


A/N : Gyaaa—abal sekali chapter ini DDD: /shot. Hope you like it /coret/walaupun saya tidak yakin ada yang membaca fic abal ini atau tidak /stopcoret/