Don't Make Me a Jerk
Hurt/comfort, romance.
Rated M, boyxboy
.
.
.
Aku berdiri di tepian jalan. Aku melihat seorang laki-laki tengah menangis di tengah jalan. Hatiku bergetar. Mengapa?
Suara klakson mengejutkanku. Tubuhku mulai bergetar tanpa kutahu mengapa. Mobil itu semakin dekat, semakin cepat pula detak jantungku. Ada apa?
Kakiku melangkah sendiri tanpa kuperintah. Tanganku mendorong lelaki itu dengan sendirinya. Silau lampu mobil kini menusuk tajam ke pupil mataku. Semakin dekat dan semakin dekat, aku memejamkan mataku dan...
"Arrgghhhh!"teriak luhan, ia terbangun dari pingsannya sontak terduduk dengan air mata dan keringat dingin yang sudah membasahi wajah dan bajunya. Jantungnya berdentum di setiap aliran darahnya yang berdesir. Tenggorokannya terasa kering, ia menyadari tangannya di infus, dengan segera ia menarik infus itu membuat tangannya sedikit berdarah.
Tubuhnya masih bergetar, keringat dingin masih membanjiri wajahnya, bayang-bayang mobil yang hampir menabraknya masih terputar jelas dalam benaknya. Ia mencoba turun dari tempat tidur sebelum sebuah tangan menahan bahunya. Ia menoleh dan mendapati sepasang mata elang tengah menatapnya khawatir saat ini.
Pikiran luhan begitu kalut, ingatannya tak jernih, ia begitu ketakutan saat ini. Ia menghempaskan tangan orang itu dan mencoba turun lagi, namun lelaki itu kembali menahannya. "Kau harus beristirahat"ujar sehun pelan.
"S-siapa kau?"tanya luhan terbata.
"Aku? Orang yang kau selamatkan tadi"ujar sehun dengan wajah kebingungan.
Wajah luhan berubah keruh ketika sekelebat ingatan mulai menyatu kembali satu persatu dalam otaknya. Wajahnya memucat, ia menatap sehun dengan mata merah. Air mata mulai membanjiri pipinya, nafasnya tercekat, ia menatap sehun lekat "takut..."bisik luhan pelan.
Sehun merasakan jantungnya bergetar, ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya ketika air mata luhan jatuh dari pelupuk matanya. Seperti sesuatu yang menyakitkan. "Apa?"sehun menatap luhan dalam.
"Aku... hiks... takut... takut... hiks takut..."isak luhan, sehun merasakan hatinya terasa sedikit sakit. Tapi, mengapa? Anak itu hanya bocah asing.
Tiba-tiba luhan kembali pingsan, samar-samar ia dapat mendengar sehun memanggil namanya.
.
.
.
"Sepertinya ia mengalami shock berat"ujar dokter kim. Setelah sehun mengatakan apa yang dilihatnya tadi.
"Shock berat?"sehun mengernyitkan dahinya. Anak itu sama sekali tak terlihat ketakutan saat di jalan tadi. Yah, memang sehun melihat tubuh mungil anak itu sedikit bergetar. Tapi, tunggu? Apa benar itu hanya sedikit? Sehun menatap luhan yang tengah tertidur sambil membelalakkan matanya.
"Anak ini terlalu ahli menyembunyikan rasa sakitnya"ujarnya pelan.
"Hal ini mungkin akan menyebabkan ia menjadi ketakutan setiap melihat mobil lewat atau bahkan sekedar naik mobil. Ia bahkan mungkin tidak bisa tidur tanpa di bantu obat tidur seperti sekarang ini, dia harus di monitor 24 jam"
Sehun menatap dokter park "sebegitu parahkah? Jadi dia tidak bisa naik mobil?"
"Kemungkinan besarnya seperti itu. Tapi semua itu bisa disembuhkan melalui hipnosis, tapi memakan waktu cukup lama. Di beberapa kasus ada yang memakan waktu enam bulan, sampai satu tahun."
Sehun mengangguk-nganggukkan kepalanya. Ia merasa bersalah karena telah melibatkan orang asing dalam ketidakhati-hatiannya apalagi orang asing itu masih bocah ingusan berusia 19 tahun. Tentu saja, sehun akan bertanggung jawab atas segala kebutuhan luhan, dari membayar psikiater dan lainnya.
"Eomma"terdengar suara parau luhan yang kini sudah bangun dan kembali melepas infusnya. Ia turun dari tempat tidur dan mengambil sepatu beserta tasnya.
"Kau mau kemana?!"teriak sehun, sambil menggenggam pergelangan tangan luhan. "Kau harus beristirahat"
Luhan menarik pergelangan tangannya, lalu menatap sehun. "Maafkan aku sudah merepotkanmu. Aku sudah baik-baik saja, terima kasih sebelumnya"ujar luhan lantas membungkukkan badannya dan berlalu.
Luhan melangkah keluar dari rumah sakit dengan langkah cepat. Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Ibunya pasti masih menunggunya dan tidak tidur dan dia pasti khawatir. Sementara sehun masih mengikuti luhan di belakang, berjaga-jaga kalau saja terjadi apa-apa padanya, belum lagi ia ingin mengembalikan berkas lamaran kerja luhan yang tertinggal.
Langkah besar luhan kini terlihat mengecil dan lebih pelan. Suara-suara mobil yang lewat mulai mengganggunya, bayangan-bayangan kecelakaan itu kembali menggerayanginya. Nafasnya tercekat, kakinya melemas membuatnya meringsut ke tanah dan tubuhnya mulai bergetar. Air mata kembali berderai membasahi wajahnya, ia mencoba menutupi telinganya, namun suara-suara mobil itu masih saja menembus gendang telinganya.
Tiba-tiba saja ia merasakan sepasang tangan tengah membantu menutupi telinganya saat ini. Meski ia masih dapat mendengar sayup-sayup suara mobil, namun tangan kekar nan hangat itu begitu menenangkan. Jantungnya mulai tenang dan kembali normal, seakan kenangan buruk itu digantikan suatu kenangan yang menyenangkan.
"Sebaiknya kita pergi naik mobil saja"suara berat sehun terdengar. Ia lalu menarik paksa luhan menuju tempat mobilnya yang diparkirkan di rumah sakit. Ia mendudukan luhan, dan memasangkan tali pengaman.
Luhan memandang sehun takut "k-kau gila ajhussi, aku bahkan t-tidak bisa mendengar suara mobil"ujar luhan terdengar bergetar.
"Aku tau, karena itu tunggulah sebentar disini"jawab sehun datar lalu melesat meninggalkan luhan sendirian di dalam mobil.
Tiga puluh menit, akhirnya pria tinggi itu muncul setelah meninggalkan luhan yang masih ketakutan. Ia terlihat menenteng satu paper bag kecil bertuliskan merk ponsel terkenal.
Sehun masuk kembali ke dalam mobilnya dan memberikan bungkusan itu pada luhan. Luhan mengerutkan keningnya "apa ini?"
"Apalagi kalau bukan ponsel dan headset?"ujar sehun tanpa menatap luhan.
Luhan menatap sehun bingung "untuk apa?"
"Untukmu tentu saja. Karena kau ketakutan, jadi kau hanya perlu memutar lagu dengan volume penuh dengan headset itu agar kau tidak bisa mendengar suara mobil dan kau tinggal memejamkan matamu"
Luhan menatap sehun sedikit terbelalak, ia menggelengkan kepalanya cepat "tidak ajhussi, aku tidak bisa menerimanya. Semua ini terlalu mahal"
Sehun berdecak kesal melihat betapa cerewetnya pria disampingnya itu. Bisakah dia hanya menerima hadiah yang bagi sehun kecil itu dan diam? "Anggap saja itu obat, demi menyembuhkanmu. Kau dengar kan apa yang tadi dikatakan dokter? Aku tau kau mendengarnya, bocah"
"Kau memberikannya cuma-cuma padaku?"tanya luhan, dan sehun membalasnya dengan mengangguk.
Luhan mulai teringat pada kata-kata baekhyun tentang ajhussi tak normal yang mesum, ia memicingkan matanya ke arah sehun.
"Apa? Mengapa kau menatapku seperti itu?"tanya sehun merasa risih.
Luhan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya "kau bukan ajhussi mesum kan? Ini seperti modus memberikan permen pada anak polos. setelah memberikan ini, kau tidak melakukan apa-apa kan?"
Sehun menatap luhan tak percaya "kau kira aku ini apa?!"teriaknya sedikit kesal, ia mungkin akan menendang luhan keluar dari mobilnya kalau saja ia tidak ingat jasa pria itu. Sehun menghela nafasnya mencoba menenangkan dirinya "pakai saja headset mu, aku akan mengantarmu pulang, masukan alamat rumahmu di gps"perintah sehun datar.
Sementara luhan hanya mengangguk patuh.
.
.
.
"Terima kasih karena tuan telah megantarku, dan juga untuk barang-barang ini, kalau begitu-"belum sempat luhan membungkukkan tubuhnya, sehun sudah memotong perkataannya.
"Dimana rumahmu?"
"E-eh? Hanya masuk gang ini.. "
"Kalau begitu ayo"
Luhan menatap sehun sedikit bingung sementara sehun hanya menghela nafasnya "kau dengar kan apa kata dokter tadi? Kau harus dijaga 24 jam, jadi aku ingin berbicara pada orang tuamu"
Luhan membelalakkan matanya lalu menggelengkan kepalanya "tidak, nanti ibuku bisa khawatir"
"Kesehatanmu lebih penting"jawab sehun, luhan menatap sehun datar sementara sehun merasakan jantungnya berdebar, ia menyadari kesalahan pada kata-katanya.
"Maksudku karena aku bertanggung jawab atasmu, jadi kesehatanmu penting"
Luhan membuka mulutnya membentuk hurud A, dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, ayo. Maaf kalau rumahku kotor"
Sehun hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah luhan dari belakang. Tak lama mereka sampai di sebuah flat kecil yang cukup kumuh. Luhan memutar kenop lantas masuk dan mendapati ibunya tertidur di atas meja makan kecil mereka dengan semangkuk taoge tahu yang sudah dingin. Luhan menatap ibunya kasihan, ia menepuk bahu ibunya pelan untuk membangunkannya sementara sehun sepertinya masih terperangah dengan keadaan 'rumah' luhan, berbeda sekali dengan dirinya yang punya apartement di daerah gangnam dan tiga villa yang tersebar di pulau jeju, amerika dan swedia.
"Luhan? Ya ampun, kemana saja kau anak nakal? Dan apa yang terjadi?"
Luhan tersenyum memandang ibunya "ibu, pertanyaannya nanti saja. Pertama, perkenalkan ini tuan oh sehun"ujar luhan memperkenalkan pria tinggi bermata elang yang sedari tadi menonton interaksi mereka.
Dalam sekali lihat ia sudah tahu bahwa pria yang di hadapannya itu orang kaya. Ibu luhan menatap sehun sedikit tidak suka membuat sehun merasa sedikit tak nyaman "maaf aku tidak menjual putraku pada siapapun"ujarnya.
"Ibu! Bukan! Dia bukan orang seperti itu!"ujar luhan setengah berteriak.
Ibunya menatap luhan dengan tatapan -lalu?- miliknya. "Annyeonghaseo, nama saya oh sehun"ujar sehun yang sedari tadi diam sembari membungkukkan badannya dan memberikan kartu namanya.
Ibu luhan dan luhan sendiri membelalakkan matanya setelah melihat kartu yang disana tertulis "Presiden Direktur, Sejin Group, Oh Sehun" yang benar saja? Itu perusahaan paling besar di korea!
"Jadi saya datang kemari karena kecelakaan putra anda, xi luhan"
"Kecelakaan?"kening ibu luhan mengerut.
Dan sehun mulai menjelaskan segala yang terjadi pada ibu luhan.
.
.
.
"Apa sekarang kau baik-baik saja?"ibu luhan menatap luhan khawatir.
Pria mungil itu tersenyum dan mengangguk "aku baik-baik saja ibu"
"Tentu saja karena putra anda sudah menyelamatkan saya, saya akan bertanggung jawab atas semua biaya pengobatan kakinya sampai psikiater. Dan karena saya melihat berkas lamaran kerja putra anda apakah dia sedang mencari pekerjaan?"tanya sehun membuat anak ibu itu saling bertatapan lantas menganggukkan kepala.
"Nah, kebetulan sekestaris saya baru saja berhenti jadi saya pikir saya akan mempekerjakan putra anda sebagai sekertaris saya"
Luhan terdiam sementara ibunya sudah sumringah "terima kasih! Sungguh terima kasih! Putraku adalah anak yang sangat pintar! Sejak di sekolah dasar sampai SMA dia selalu mendapat beasiswa penuh, tapi sejak sebuah kecelakaan menimpaku..."ibu luhan menatap kakinya yang kini sudah di amputasi dengan lirih.
"Aku jadi tidak bisa bekerja, dan luhan terpaksa menjadi tulang keluarga. Dan juga maaf atas perkataan ku tadi, itu karena sudah banyak pria kaya yang mencoba membelinya. Monster monster itu…."
Sehun menatap luhan yang kini tengah menunduk, hatinya terasa sedikit teriris mendengar cerita ibu luhan. "Kalau begitu luhan bisa bekerja mulai besok dan gajinya dua kali lipat gaji biasa"
Luhan membelalakkan matanya dan menggelengkan kepalanya "tidak perlu sungguh! Gaji biasa sudah cukup bagi anak lulusan SMA sepertiku"
"Saya mohon jangan menolak, ini karena anda sudah menyelamatkan saya jadi saya membayar anda sebisa saya"
Luhan terdiam, dia tak bisa menolak lagi. Karena toh dia juga butuh uang secepatnya untuk membeli kursi roda ibunya.
"Kalau begitu saya permisi"
Luhan membungkukkan tubuhnya "terima kasih tuan oh"lantas ia tersenyum hangat.
Senyum yang mampu membuat sehun cukup gugup.
.
.
.
"Sayang, darimana saja kau? Saat aku sadar aku harap kau ada disini tapi kau malah menghilang. Dan hey, apa yang terjadi dengan tanganmu sayang?"tanya so eun yang masih terbaring lemah dengan wajah pucat, menatap sehun dengan khawatir.
"Eumm... kecelakaan mobil?"goda sehun lantas duduk di samping ranjang.
"Jangan bercanda"soeun memukul dada sehun pelan.
"Aku sungguh-sungguh, aku hampir di tabrak mobil"
"A-apa? Kau tidak apa-apa kan, apa ada luka lain? Kepalamu tidak pusing kan? Atau ada pendarahan lain?"soeun menatap lurus ke arah sehun.
Sehun tertawa geli "aku baik-baik saja, ada orang yang menyelamatkanku"
Soeun mengernyit "menyelamatkanmu?"
Sehun menganggukkan kepalanya "namanya xi luhan, seorang bocah laki-laki ingusan berusia 19 tahun. Dia mendorongku dan menggantikanku sebagai korban. Keluarganya miskin, jadi kupikir aku bisa membalas jasanya dengan memberikannya pekerjaan di perusahaan"
"Ya ampun, jadi kau benar-benar tidak bercanda?"tanya so eun terperangah.
Sehun terkekeh geli "tentu saja tidak sayang"ujarnya hangat sembari membelai kepala so eun.
So eun tersenyum hangat "kalau begitu besok ajak dia sarapan bersama, aku akan memasak"ujarnya sambil menatap sehun antusias, memang selama ini so eun kesepian, dia hanya bisa main bersama adiknya di taman dekat area apartement mereka. Karena kesehatannya dia jadi jarang memasak-yang merupakan hobinya-dan jarangnya tamu yang datang.
"Tapi kau baru saja sadar, sayangku. Lain kali saja"kata sehun lembut.
So eun menggelengkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya "aku baik-baik saja sungguh! Aku ingin membalas jasanya karena sudah menyelamatkan suamiku yang nakal ini"so eun memandang sehun dengan tatapan memohon sesekali tangannya membelai pipi sehun.
Sehun tersenyum lalu mengangguk.
.
.
.
Luhan mengancingkan jasnya yang sudah lama ia beli dengan uang tabungannya. Ia lalu memandang dirinya di depan cermin sembari merapikan rambut coklat madunya. untungnya tidak ada lingkaran hitam berkat obat tidur yang di berikan dokter ia bisa tidur tanpa mengalami mimpi buruk. Ia lantas tersenyum pada ibunya yang kini tengah duduk di lantai memandangnya sambil tersenyum bangga "bagaimana ibu, apa aku baik?"tanyanya.
Ibu luhan tersenyum lembut "tentu saja! Kau yang terbaik!"
Luhan tersenyum lalu menghampiri ibunya dan mengecup keningnya sekilas "aku berangkat kalau begitu, sampai jumpa ibu"
Pria mungil itu lalu melangkah Keluar dengan tertatih-tatih karena kakinya yang terluka. Tak lama kemudian ia sampai di ujung gang dan mendapati sebuah mobil mewah berwarna hitam dan seorang laki-laki menggunakan setelan mahal tengah berdiri di ujung gang.
"Apa anda tuan xi luhan?" Tanya pria di hadapannya itu sambil tersenyum menunjukkan eyesmile-nya. Dan menurut luhan dia sangat tampan.
Luhan menatap pria itu lalu mengangguk, ia merasa kurang nyaman karena ini pertama kalinya ada yang memanggilnya dengan sebutan 'tuan'. Pria itu kembali tersenyum lalu membungkukkan tubuhnya "selamat pagi tuan, silahkan masuk"
Luhan mencoba mencerna kata-kata orang tersebut lalu menatapnya bingung "tunggu, kau ini siapa? Kau tidak akan menculikku bukan?"
Pria itu tersenyum geli "ahh maafkan ketidaksopanan saya, saya Lee-Won-Geun, mulai hari ini saya penjaga anda"
Luhan semakin bingung "ehh menjaga untuk apa?"
"Tuan oh sehun mengirim saya kesini untuk menjaga anda 24 jam, mengantar anda kemanapun anda mau, dan memenuhi kebutuhan anda"
Luhan membelalakkan matanya, oh rasanya dia mulai hidup sebagai seorang pangeran. Dan tentang 'memenuhi kebutuhan' itu, luhan sempat berpikir untuk meminta membelikan kursi roda lalu merutuki dirinya sendiri bahwa itu sama saja seperti orang licik dan luhan harus membeli itu dengan uangnya sendiri.
"Baiklah, pagi ini anda ada jadwal sarapan bersama tuan oh dan nyonya oh"
Deg. Nyonya oh? Jadi pria itu sudah punya istri ya? Entah mengapa ada rasa kecewa yang sempat melintas di dalam hatinya.
Tentu saja, apa yang di harapkannya? Seorang pria kaya tampan yang jatuh cinta padanya? Atau seorang gadis keturunan chaebol mengejar-ngejarnya? Itu sungguh harapan yang kelewat batas-menurutnya-
Luhan hanya menurut ketika won geun menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Ia lantas langsung memasang headsetnya dan memutar lagu sekeras-kerasnya ketika rasa takutnya mulai muncul. Ia memejamkan matanya entah sudah berapa menit berlalu tiba-tiba mobil terhenti.
Luhan membuka matanya sedikit takut dan kini mereka sampai di depan sebuah gedung menjulang di area gangnam. Mata luhan seketika berbinar, ia berandai-andai jika ibunya dan dirinya tinggal disana. Mungkin jika ia bersama ayahnya dia akan tinggal di rumah yang lebih besar. Tunggu. Mengapa dia jadi memikirkan pria tua brengsek itu? Tinggalkan pikiranmu tentang itu luhan. Kau tidak punya urusan lagi untuk mengingat-ngingatnya.
.
.
.
Luhan menekan bel berkali-kali sesekali mengetuk-ngetuk ujung sepatunya. Tak lama pintu terbuka dan seorang pria tinggi yang disertai tatapan mata elangnya muncul di balik pintu.
"Selamat datang, masuklah"ujarnya datar.
Luhan tersenyum, lalu melangkah masuk dengan langkah yang pincang.
"Ahh selamat datang luhan-sshi"suara lembut seorang wanita kini bergema di ruang itu. Luhan menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dan mendapati seorang wanita cantik yang menurut luhan seperti seorang bidadari tengah terduduk di atas kursi roda dengan wajah pucat.
Luhan sudah mengambil kesimpulan cepat bahwa wanita di hadapannya itu tengah sakit. Terbukti dengan wajahnya yang pucat seperti mayat dan cahaya matanya yang redup.
Luhan memberikan senyum terbaiknya, lalu menjabat tangan wanita itu.
"Terima kasih sudah mengundangku nyonya oh, namaku Xi Luhan"
So eun tersenyum "eum luhan. Namaku Oh So Eun, istri dari Oh Sehun"
Entah mengapa ada rasa luka saat wanita itu menyebutkan kata-kata istri dari seorang oh sehun.
TBC
yoww, kemaren ada yang nanya kenapa di nama penaku ada YK-nya, itu artinya Yesung Kyuhyun hehehe.
