The Golden Fox
Disclaimer:
Saya tidak memiliki hak kepemilikan atas Naruto, High School DxD, Dog Days, dan anime dan manga lainnya.
Summary:
Dalam misi pengejaran Sasuke, Naruto menghilang tanpa jejak setelah pertarungan di Lembah Akhir. Siapa sangka bahwa ternyata Naruto dibawa oleh dua orang gadis cantik. Tapi, ada yang aneh. Sejak kapan manusia memiliki telinga dan ekor rubah?
Rate: M
Genre: Action, Adventure, Drama, Fantasy, Humor, Romance, dll.
Chapter 2
Keinginan Untuk Pulang
Satu minggu telah berlalu sejak Naruto dibawa ke Shimogakure oleh dua gadis kitsune. Selama satu minggu ini, Naruto hanya tinggal di dalam rumah dan tidak keluar ke manapun. Ini karena dia harus memulihkan tubuhnya dan cuaca di desa Shimo sangat dingin.
"Hei, Naruto! Apa kau ingin ikut keluar?" suara Yukikaze terdengar dari balik pintu ruangannya. "Aku tahu tempat yang bagus untuk menghabiskan waktu bersama!"
Naruto berjalan ke pintu kamar dan membukanya. Dia menemukan Yukikaze yang sedang berdiri dan mengenakan pakaian tebal dan sebuah syal. "Oi, kau tidak tahu aku masih belum sembuh?" tanya Naruto dengan kesal.
Tidak memberikan jawabannya secara langsung, gadis itu menarik tangan Naruto dan membawanya secara paksa. "Ikut saja aku! Aku akan membawamu ke sebuah tempat makan yang enak" ucap Yukikaze dengan riang.
"Tempat makan? Bagaimana dengan kakakmu, apa kau tidak mau makan masakannya?" tanya Naruto dengan bingung.
"Onee-chan sedang keluar rumah dan dia bilang tidak akan kembali sampai malam. Jadi, kita harus mencari makan dulu!" jawab Yukikaze.
"Tunggu! Kenapa dia tidak masak dulu sebelum keluar?" tanya Naruto lagi.
"Tidak ada bahan-bahan untuk memasak. Jadi setelah makan siang, kita harus membeli persediaan makanan juga"
"B-Baiklah" ucap Naruto.
"Bagus! Sekarang ayo kita pergi!"
"T-Tunggu sebentar! Aku harus mengambil pakaianku dulu!"
Pada akhirnya kedua orang itu keluar dari rumah mereka, tentu saja setelah Naruto mengenakan sebuah jubah dan syal yang dia pinjam dari kamar Yukikaze. Mereka menyusuri seluruh desa dan pergi ke tempat makan yang dikatakan Yukikaze.
"Ini dia tempat makannya!" ucap Yukikaze sambil menunjuk sebuah kedai kecil.
Mereka berdua masuk ke dalam kedai itu dan Naruto melihat menu yang sangat disenanginya. Apalagi kalau bukan Ramen.
Melihat itu, Naruto pun bersujud dan menyembah siapapun dewa yang yang ada di atas sana. "Oh, Kami-sama! Terima kasih atas kebaikan yang kau berikan hari ini! Setelah penderitaan selama 7 hari dan 7 malam tanpa makanan para dewa, akhirnya Kami-sama menunjukkan belas kasih!"
Yukikaze hanya bisa menatap anak berambut pirang itu dengan aneh. "Menyedihkan…" ucap gadis itu.
Naruto segera duduk di atas kursi yang disediakan dan memanggil seorang pelayan. "Yosh! Aku ingin makan Miso Ramen!" ucap Naruto dengan penuh semangat. Yukikaze juga ikut duduk dan memesan hidangan yang sama.
Setelah beberapa menit, akhirnya pesanan mereka datang. Dua mangkuk besar Miso Ramen untuk dua orang anak kecil.
"Ittadakimasu!" seru mereka berdua sebelum melahap ramen mereka.
Dalam waktu tiga puluh detik, Naruto telah menghabiskan ramen miliknya. "Uwaahh… sudah lama tidak kurasakan kehebatan semangkuk ramen!" Naruto kemudian melirik ke sampingnya dan menemukan sesuatu yang membuat kedua matanya terbuka lebar.
Di sampingnya, Yukikaze telah menghabiskan tiga mangkuk besar Miso Ramen dan sekarang gadis itu sedang menyantap mangkuk keempat.
"Aku pesan satu lagi!" seru gadis itu setelah menghabiskan mangkuk keempatnya. Naruto hanya memberinya tatapan tidak percaya. Yukikaze membalas tatapannya dan berujar: "Apa?"
"K-Kau…" Naruto mengacungkan jarinya pada Yukikaze dan gadis itu bertambah bingung dengan tindakannya. "Kau hebat!" teriak Naruto dengan mata berbinar.
"Eh?"
"Baiklah, aku juga tidak akan kalah! Aku pesan sepuluh mangkuk Miso Ramen!"
Yukikaze memicingkan matanya. "Ohh, aku mengerti. Jadi kau menantangku, ya? Kalau begitu, kuterima tantanganmu. Aku pesan lima belas mangkuk!"
"Heehhh, kau tidak bisa langsung memesan sebanyak itu, kau tahu!" bantah Naruto.
"Kau sendiri memesan sepuluh mangkuk!" balas Yukikaze.
"Kalau begitu, aku pesan lima belas mangkuk juga!"
"Kau tidak akan bisa mengejarku, aku sudah menghabiskan empat sementara kau baru menghabiskan satu"
Naruto menatapnya dengan kesal. "Jangan meremehkanku! Biar kutunjukkan padamu kesetiaanku pada Dewa Ramen!"
Yukikaze membalas tatapannya dengan kesal juga. "Memangnya Dewa Ramen itu ada?!"
"Tentu saja! Dewa Ramen adalah dewa terhebat sepanjang masa!"
"Kalau begitu, aku sebagai pendeta agung kepercayaan Dewa Ramen akan menunjukkan kesetiaanku juga!"
"Sejak kapan kau menjadi pendeta agungnya?!"
Pada akhirnya, kedua anak itu diusir keluar dari kedai tersebut karena telah mengganggu kenyamanan orang-orang dengan keributan yang mereka buat.
Naruto dan Yukikaze sekarang ini sedang berjalan kembali ke penginapan. Keduanya tidak ingin berbicara pada satu sama lain dan menolak untuk saling melihat. Sepertinya mereka masih tidak bisa akur.
Karena terlalu lama tidak mengatakan apapun, Naruto menjadi gelisah dan memecah keheningan. "Hei…" panggilnya pada Yukikaze.
"Hmm?" Yukikaze masih menolak untuk melihatnya.
"M-Maafkan aku"
Yukikaze meliriknya sebentar dan langsung tersenyum angkuh. "Jadi kau mengakui bahwa kau yang salah?"
"Aku tidak salah! A-Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mungkin terlalu berlebihan tadi" bantah Naruto.
"Tetap saja salah"
Naruto mengepalkan tangannya dan menatap Yukikaze dengan tajam. Setelah beberapa saat, akhirnya ninja Konoha itu menjadi tenang. "Hei, aku ingin tahu kemana Yasaka-neechan pergi" ucap Naruto seperti sedang bertanya.
"Onee-chan sedang ada urusan. Kadang dia memang tiba-tiba menghilang begitu saja dari pagi, dan kemudian dia akan pulang saat malam hari. Ini selalu dilakukannya setiap kali kami berpindahpindah ke desa lain. Aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dilakukannya" jelas Yukikaze dengan wajah cemberut.
"Apakah dia akan baik-baik saja? Aku jadi ragu dia bisa pulang dengan selamat"
"Onee-chan pasti baik-baik saja. Dia adalah orang yang kuat! Aku ingin menjadi seperti dirinya saat aku tumbuh besar nanti!"
"Benarkah? Aku masih belum yakin" ucap Naruto lagi sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
"Kau harus percaya pada Onee-chan! Aku berani bertaruh bahkan kau tidak akan bisa menghadapinya lebih dari 10 detik"
"Oi, kau meremehkanku?!"
"Aku tidak meremehkanmu. Aku hanya mengatakan fakta yang sebenarnya"
Dan kemudian, mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka dengan hinaan pada satu sama lain.
Yasaka saat ini sedang berada di luar desa Shimogakure. Gadis berusia 18 tahun itu sedang berdiri dan tampak menunggu seseorang.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya orang yang ditunggu oleh Yasaka datang juga. Orang itu terlihat seperti berusia 15 tahun, dengan rambut hitam yang diikat ponytail dan mata biru, tidak lupa telinganya terlihat menajam.
Orang itu tidak sendirian. Di belakangnya berdiri beberapa orang yang berpakaian sama dengannya.
"Yasaka!" sapa orang itu.
"Kōga…" sapa balik Yasaka pada orang itu. Kōga menyeringai dan mendekati Yasaka. "Sebaiknya kau tetap di tempatmu, Kōga. Aku tidak ingin dekat dengan anjing liar sepertimu"
Kōga kehilangan seringaiannya dan dia menatap Yasaka dengan tajam. "Sepertinya mulutmu masih mulut sampah. Dan sudah berapa kali kubilang, aku ini serigala, bukan anjing. Jangan pernah samakan aku dengan makhluk-makhluk berbulu lembut seperti mereka!"
"Mereka mungkin berbulu lembut, tapi mereka adalah salah satu ras yōkai terkuat yang pernah ada. Kudengar juga, kau pernah bertarung melawan salah satu dari mereka dan dikalahkan" ucap Yasaka dengan tenang.
Kōga menggertakkan giginya. "Anjing kampung itu… aku pasti akan mengalahkannya!" ucap Kōga dengan percaya diri.
"Aku tidak tertarik pada urusanmu dengan ras inu. Aku di sini untuk mendapatkan 'benda' yang kaujanjikan padaku" ucap Yasaka.
"Benda itu, ya? Tenang saja, aku sedang membawanya" ucap Kōga.
"Bagus. Sekarang berikan padaku" perintah Yasaka.
"Aku akan memberikannya padamu. Tapi pertama, kau harus membayarnya" ucap Kōga.
"Baiklah, aku akan membayarnya. Berapa banyak yang kauinginkan? Asal kau tahu saja, aku saat ini tidak memiliki banyak uang"
Seringaian kembali terukir di wajah Kōga. "Tidak. Bukan uang yang kuinginkan darimu…" ucap Kōga yang membuat Yasaka menatapnya dengan curiga. Kōga melanjutkan: "Yang kuinginkan adalah… adikmu, Yukikaze"
Aura biru mulai keluar dari tubuh Yasaka. Kedua matanya menjadi merah. Orang-orang yang berada di belakang Kōga menjadi gemetar karena merasakan kekuatan besar dari Yasaka, tapi tidak dengan Kōga. Dia masih berdiri dengan seringaian di wajahnya.
"Kōga…" suara dingin yang menusuk keluar dari mulut Yasaka. "Bahkan jika aku mati, bahkan jika kau adalah satu-satunya lelaki yang ada di dunia ini… tidak akan pernah dan sampai kapanpun, tidak akan kubiarkan kau menyentuh adikku!"
"Heh, kau ini overprotektif, ya? Kalau sudah seperti ini, maka aku harus menyingkirkanmu untuk mendapatkan Yukikaze" ucap Kōga sambil memberi komando pada orang-orang di belakangnya. "Bunuh dia!"
Orang-orang tersebut mengikuti perintahnya dan bergerak maju dengan kecepatan tinggi menuju Yasaka. Aura biru dari Yasaka meledak dan menghentikan pergerakkan orang-orang itu.
"Kalian para ōkami memang memiliki insting bertarung yang sangat kuat dibandingkan ras lainnya, tapi sepertinya kalian tidak memiliki otak. Ras yang liar seperti kalian tidak akan pernah bisa menandingi kami, para kitsune" ucap Yasaka.
"Sombong seperti biasanya… itulah yang tidak kusukai darimu, Yasaka!" seru Kōga sebelum melesat menuju Yasaka.
Yasaka menghindari serangan dari kuku-kuku tajam milik Kōga. Gadis itu kemudian menciptakan sebuah api biru di tangannya lalu melemparkan api itu pada Kōga.
Dengan insting bertarungnya, Kōga menghindari api biru dengan cepat. Dia mengalihkan pandangannya kepada semua bawahannya.
"Jangan hanya berdiri saja di situ! Serang dia juga!" perintah Kōga.
Walaupun masih sedikit takut, semua bawahan Kōga menurutinya dan kembali menyerang Yasaka.
Yasaka menciptakan api biru yang lebih besar di tangannya lalu dilemparkannya ke tanah sehingga menciptakan dinding api yang besar. Orang-orang itu berhenti saat dinding api terbentuk, namun sayangnya ada beberapa dari mereka yang gagal menghindar dan ikut terbakar.
"Cih, dasar orang-orang tidak berguna!" decih Kōga. Saat itu juga, instingnya kembali memperingatkannya akan bahaya.
Kōga menghindari serangan api biru yang ditembakkan dari belakang. Dia berbalik dan memberi tatapan tajam pada Yasaka.
"Seperti yang diharapkan dari yōkai kelas atas. Kalian adalah yōkai yang terlahir dengan yōki besar" ucap Kōga dengan tidak suka.
"Sekarang kau telah menyadari perbedaan kekuatan kita, aku ingin kau menyerahkan bukunya dan jangan pernah lagi mendekati adikku!" ancam Yasaka.
"Jangan bercanda. Mana mungkin akan kuberikan benda berharga seperti ini kepadamu secara gratis!" ucap Kōga yang berjalan mundur mendekati bawahannya. "Aku bersumpah, aku pasti akan mendapatkan Yukikaze!"
Setelah mengucapkan itu, Kōga diselimuti sebuah tornado dan tornado itu pun bergerak dengan kecepatan tinggi untuk meninggalkan tempat itu. Bawahan-bawahannya juga ikut pergi dengan berlari mengejarnya.
Yasaka tetap bersikap tenang dan matanya kembali menjadi warna emas aslinya, namun tampak tatapan tajam diberikan oleh gadis itu ke arah perginya Kōga dan bawahannya.
"Sekarang aku harus pergi ke tempat yang lain" gumam Yasaka.
Hari menjelang malam, matahari akan segera terbenam. Naruto dan Yukikaze duduk di meja makan dengan ekspresi orang yang sedang kelaparan sambil memegang perut mereka.
Kruk! Kruk! Kruk!
"Perutmu cacingan" komentar Yukikaze pada Naruto.
Kruk! Kruk! Kruk!
"Perutmu juga" balas Naruto. "Apakah tidak ada yang bisa kita makan saat ini?!" seru Naruto dengan gelisah.
"Tidak ada makanan untuk malam ini. Onee-chan sama sekali tidak memasak apapun" ucap Yukikaze.
"Bagaiamana dengan uang?! Apakah dia tidak meninggalkan uang?!"
"Uangnya sudah kita habiskan untuk makan siang tadi" jawab Yukikaze. "Ini karena kau makan terlalu banyak"
"Kau yang menghabiskan semua uangnya! Kau makan, makan, dan makan terus!" seru Naruto.
"Hei, aku hanya makan seperempat dari yang kau makan!"
"Kau sendiri sudah menghabiskan empat mangkuk ramen di kedai ramen! Lalu, kau makan semua pesanan daging yang kita pesan! Lalu, kau menghabiskan semua nasi goreng yang kita beli! Aku heran… aku heran sekali kenapa kau masih lapar!"
"Itu sudah berjam-jam yang lalu! Sekarang adalah saatnya makan malam, tidak sama dengan makan siang!"
"Aku tidak terima! Aku tidak terima! Kembalikan semua makanan yang kauhabiskan tadi!"
"Kalau begitu akan kumuntahkan semuanya!"
"Tidak, tidak, tidak! Ganti semua makanan tadi!"
"Aku tidak akan-"
Brak!
Naruto dan Yukikaze menjadi bungkam ketika pintu rumah terbuka dengan keras. Keduanya gemetar ketakutan karena aura membunuh yang berasal dari depan pintu.
Terlihat sosok Yasaka yang berjalan memasuki rumah dan wajahnya menunduk. Yasaka terus berjalan mendekati mereka berdua dan kemudian mengangkat wajahnya. Naruto dan Yukikaze meneguk ludah mereka saat mereka melihat mata merah membunuh milik Yasaka.
"Kalian… berisik sekali… telingaku mau pecah…" gumam Yasaka sebelum menciptakan sebuah api biru di tangannya.
"Hehehe, Onee-chan… apakah kau membawa pulang makanan?" tanya Yukikaze dengan gugup.
"Kudengar kau menghabiskan semua uang yang kuberikan untuk makan siang. Dan sekarang, kau berani bertanya apakah aku membawa makanan. Adikku tersayang, kau benar-benar menyusahkan kakakmu ini"
Yukikaze hanya tersenyum gugup dan Naruto sendiri berkeringat dingin melihat interaksi di antara keduanya.
"Senang mengenalmu" ucap Naruto pada Yukikaze. Yukikaze hanya bisa menanggapinya dengan sebuah anggukan kepala.
"Matilah kalian berdua!"
Blarrr!
"Onee-chan, onee-chan! Kau akan membakar rumah ini!"
Blarrr!
"Mati! Mati! Mati!"
"Uwahhh, Yasaka-neechan! Hati-hati, hati-hati!"
Blarrr!
"Onee-chan…! Ampun!"
Beberapa menit kemudian.
Yasaka menghela napasnya dan duduk di atas kursi. Dia menatap Naruto dan Yukikaze yang sedang berlutut di lantai dengan penampilan babak belur.
"Kalian berdua sangat menyusahkan… pertama adikku yang nakal dan rakus, lalu sekarang ada lagi anak lain yang berisik dan bodoh. Oh kami-sama, apakah ini adalah karma untukku atas semua kesalahanku. Kalau iya, aku bersumpah tidak akan pernah mengacau di biara lagi"
Yasaka menciptakan api biru lalu membakar perapian yang di ruangan itu. Api biru itu menghangatkan seluruh ruangan.
Naruto sedikit tersentak karena api biru itu. 'Api ini… lebih panas dari api biasanya!' batin Naruto yang merasakan seolah-olah dia berada di pantai saat ini, berbanding terbalik dengan suasana desa Shimo yang sangat dingin.
"Hei, kau!" panggil Yasaka pada Naruto. Naruto hanya menatapnya dengan gugup, dia masih bisa merasakan sakitnya pukulan dari gadis itu. "Jika kulihat, sekarang kau sudah sembuh. Bukankah ini saatnya bagimu untuk pulang ke kampung halamanmu?"
"Eh? B-Benar juga" jawab Naruto yang baru saja teringat pada desa Konoha.
Yasaka melirik adiknya dan dia mendapati sang adik memasang ekspresi sedih. "A-Apakah sudah saatnya kau pulang…?" gumam Yukikaze.
"Yukki, sesuai perjanjian yang kita buat. Aku hanya akan membiarkan anak ini tinggal di sini sampai dia sembuh. Setelah itu, dia harus pergi dari sini, aku tidak ingin hidupku lebih sulit lagi. Sudah cukup aku punya kau yang menyusahkanku setiap hari" ucap Yasaka dengan tegas.
"T-Tapi…" Yukikaze berusaha membalas, namun dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
Tatapan Yasaka menjadi sayu ketika dia melihat Yukikaze. Yasaka kembali menatap Naruto. "Hei, katakan padaku. Apakah kau akan pulang sekarang atau kau masih ingin tinggal lebih lama lagi?"
Naruto tampak berpikir dengan keras. "Etto… aku, aku tidak tahu"
"Bicaralah yang jelas!"
Naruto tersentak lagi karena seruan tegas dari Yasaka. Dia menundukkan kepalanya dan terus berpikir.
Jika dia pikir-pikir lagi, tinggal bersama dengan Yukikaze dan Yasaka selama seminggu terakhir ini membuatnya senang. Dia tidak pernah tinggal satu atap dengan orang lain sebelumnya, dan entah mengapa rasanya sangat menyenangkan.
Dibandingkan dengan kehidupannya di Konoha di mana dia tidak punya seseorang untuk menghabiskan waktu bersama, di sini lebih baik lagi karena ada Yukikaze dan Yasaka.
Di Konoha, Naruto hanya melakukan misi sebagai seorang ninja. Teman-teman yang ditemuinya setiap hari, hanya menghabiskan waktu bersama dengannya pada saat misi saja. Bahkan Tim 7 juga tidak pernah mengunjungi apartemennya.
Setiap hari harus menghadapi tatapan-tatapan kebencian dari para penduduk desa membuatnya sedih. Tapi di luar desa, tidak ada orang yang memberikannya tatapan seperti itu. Satu minggu ini, bagi Naruto adalah satu minggu yang telah menggantikan penderitaannya selama bertahun-tahun.
Dengan pemikiran semacam itu, Naruto membulatkan keputusannya.
"Aku, aku akan… aku akan tinggal…" gumam Naruto.
"Aku tidak mendengarmu. Katakan padaku apa kau memang akan tinggal atau tidak?"
"Aku… aku akan tinggal di sini lebih lama lagi! Seminggu, dua minggu, aku tidak peduli berapa lama!" jawab Naruto.
Yukikaze terkejut mendengar jawabannya. "Benarkah?!"
"Y-Ya. Kurasa… aku akan tinggal beberapa hari lagi di sini!"
Yukikaze tersenyum lebar sebelum berdiri dan melompat-lompat kegirangan. "Yeah! Kau dengar itu, onee-chan? Naruto akan tinggal lebih lama lagi di sini!"
Yasaka tersenyum untuk sesaat sebelum senyuman itu tergantikan oleh ekspresi serius. "Tapi, ingat satu hal! Jangan pernah menyusahkanku. Selama kau tinggal di sini, kau harus membantu pekerjaan rumah setiap hari! Apa kau mengerti?"
"B-Baik"
"Jawablah lebih keras lagi!"
"Baik!"
"Itu bagus" ucap Yasaka. Dia berdiri dari kursinya lalu berjalan meninggalkan Naruto dan Yukikaze sendirian di dalam ruang makan. 'Aku tidak pernah melihat Yukikaze sesenang itu. Anak itu… sepertinya dia bisa menghapus kesedihan Yukikaze'
Sementara itu, Yukikaze tersenyum lebar pada Naruto. "Ne, Naruto. Untuk merayakan ini, ayo kita makan sepuasnya!"
"Tapi bukankah makanannya sudah habis?"
"Jangan khawatir. Aku punya solusinya!" Yukikaze berlari mendekati lemari makanan dan membukanya. Setelah itu dia kembali dan menunjukkan apa yang dibawanya pada Naruto. "Tadaaa!"
Naruto menatap apa yang dibawa Yukikaze dengan tatapan datar. Beberapa cup ramen instan.
"Berjam-jam…" gumam Naruto.
"Hmm, apa kau bilang?"
"Berjam-jam aku kelaparan… ternyata ada makanan para dewa di sini" ucap Naruto lebih keras. "Mengapa?!"
Kōga menatap penginapan yang ditinggali Naruto dari jauh. Beberapa bawahannya sedang berdiri di belakangnya.
Matanya menyipit dan seringaian lebar terukir memperlihatkan gigi taringnya.
"Yukikaze, aku akan membawamu pergi"
To Be Continue
Chapter 2 selesai!
Fic ini sudah hampir 2 bulan tidak update, jadi saya lega bisa melanjutkannya lagi.
Pertama, maaf karena lama tidak update. Kedua, maaf karena alurnya mengecewakan. Ketiga, maaf karena membosankan. Keempat, maaf karena ficnya tidak sesuai harapan. Kelima, maaf karena terlalu banyak minta maaf.
Karena sebelumnya telah saya sampaikan bahwa saya tidak akan fokus pada fic ini, jadi waktu updatenya jadi lama. Tapi akan saya usahakan untuk update secepatnya, paling lama satu atau dua minggu.
Sebagai informasi tambahan. Fic ini ber-setting di dunia Naruto dan tidak ada hubungannya dengan dunia High School DxD atau lainnya. Saya hanya meminjam karakter-karakter dari seri lain dan juga kemampuan mereka.
Latar belakang karakter dari seri lain juga tidak sama dengan canon dan mungkin akan sedikit OOC.
Terima kasih atas perhatiannya.
See you later. Arigatō!
