Title: Kesan Pertama Begitu Menggoda (Untuk Dibacok), Selanjutnya Terserah Anda

Summary: Kedatangan perwira baru bukan sesuatu yang luar biasa bagi Kolonel Kurosaki, tetapi ketika yang datang adalah seorang wanita cebol dengan bola mata ungu nan cantik yang lebih pantas berada di rumah boneka daripada di medan perang, kata-kata yang tidak pantas meluncur dari bibirnya. Dan tindakannya itu adalah awal mula deritanya.

Dislaimer: Tite Kubo adalah pemilik karakter Kurosaki Ichigo, Kuchiki Rukia dan Ishida Uryuu.

Judul diambil dari catch phrase dari iklan AXE, minus yang berada dalam kurung. AXE adalah brand parfum milik Unilever. Saya menyatakan bahwa AXE dan Unilever bukan milik Saya, dan hanya meminjam catch phrase sebagai judul fanfiksi ini.

Sedikit perubahan pada judul karena ternyata judul pertama yang telah ditetapkan melebihi limit, sehingga hilang dua huruf terakhir menjadi 'Kesan Pertama Begitu Menggoda (Untuk Dibacok), Selanjutnya Terserah An'. Terpaksa judul diakali menjadi 'Kesan Pertama Begitu Menggoda(Buat Dibacok), Selanjutnya Terserah Anda'. Spasi sebelum tanda hubung dengan sangat terpaksa dihilangkan supaya judulnya muat. Saya betul-betul minta maaf untuk kerancuan ini.

-Neraka Itu Ada-

Kolonel Kurosaki Ichigo berjalan tertatih-tatih menuju salah satu ruang kosong agar dia bisa beristirahat sebentar. Bayangkan saja, kemarin malam dia hanya mendapat jatah tidur dua jam. Dua jam! Setan cebol sekaligus atasan barunya (yang cukup cantik kalau Ichigo boleh menambahkan) secara brutal memeras tenaganya. Dia harus bergadang semalaman untuk merapikan arsip di gudang.

'Susun berdasarkan tahun. Lalu urutannya sesuai alfabet. Jangan lupa untuk memeriksa berkas mulai dari tahun lalu. Dan rangkum semua laporan yang memuat kejadian anomali yang ada di barak.'

Itu adalah sebagian perintah dari Letjen Kuchiki yang musti dilaksanakan Ichigo. Dan batas waktunya cuma sampai besok, ah bukan … pagi ini. Alhasil, pekerjaannya baru beres pukul tiga pagi. Sedangkan jam lima dia sudah harus melapor untuk tugas berikutnya.

Ini neraka!

Dengan langkah terseok-seok begitu, Ichigo lebih menyerupai mayat hidup. Apalagi dengan lingkaran hitam di sekitar mata dan kulit pucat akibat kelelahan. Sudah pas jika dia merayakan malam 31 Oktober lebih cepat. Irit ongkos make-up lagi.

Setelah sampai di ruang audio visual yang sedang tak berpenghuni, Ichigo langsung selonjoran kemudian mencuri waktu tidur yang berharga di sela jam kerja. Sayangnya, Ishida juga punya urusan di tempat tersebut.

"Kurosaki? Sedang apa kau di sini?" tanya si kacamata dengan nada sinis.

"Jangan ganggu aku! Aku perlu waktu tidur sebentar karena atasan iblis dari neraka itu menyiksaku habis-habisan!"

"Heh? Menurutku, sih itu salahmu sendiri."

"Berhenti meledekku, mata empat! Kalau aku sedang tidak malas, sudah keropos badanmu itu karena kuhajar!"

"Oh, aku takut sekali," ledek Ishida dengan senyum sinis.

"Hah! Ini semua gara-gara bos kurcaci itu! Aku bersumpah dia itu pasti keturunan iblis! Masa hanya karena sedikit sindiran dia langsung membalasku seperti ini? Aku ini bukan sapi perah!"

Sebuah sepatu bot ala tentara melewati ambang pintu. Diikuti si pemakai. Kehadirannya tidak disadari pria berkepala jeruk yang sibuk mengomel tetapi tidak demikian dengan Kolonel pencinta warna putih dan kebersihan ini. Ishida membulatkan matanya, memandang horor tamu yang baru datang tersebut.

"Perempuan pendek yang lebih mirip boneka itu, bisa dengan mudah kuinjak dengan sol sepatuku dan dia sudah habis tak bersisa! Kutebak dia juga tidak laku. Sebagai wanita, dia sama sekali tidak punya daya tarik. Lihat saja badannya itu, tidak bisa kubedakan mana depan mana belakang! Hahaha!"

"Kurosaki!"

"Kalau mesin cuci di barak rusak, minta saja dia menjadi papan penggilasan. Pasti beres!"

"Kurosaki!"

"Apa, sih! Berisik sekali kau ini!" Ichigo pun bangun sedikit dari posisi tidurannya. Matanya sudah siap melempar tatapan tajam khasnya.

Lalu hening.

"Letjen!"

Dengan sangat tidak elit, pemuda bermarga Kurosaki ini bangun dan langsung memasang sikap hormat.

Kuchiki Rukia hanya membisu. Di sampingnya, Ishida menepuk jidatnya sendiri. Padahal sedari tadi ia sudah bersaha memperingatkan rekannya tersebut, tapi yang bersangkutan tak henti-hentinya bercurcol ria.

"Kolonel Kurosaki. Apa Anda sudah mempersiapkan balai latihan untuk kunjungan Jendral Kenpachi sore ini?" tanya Rukia tanpa ekspresi.

"Hah?" Ichigo melongo. Setahunya dia tidak pernah mendapat perintah seperti itu.

"Jendral Kenpachi akan berkunjung untuk inspeksi dan menguji para kadet. Jadi Saya harap balai latihan yang akan digunakan sudah bersih, mengkilat dan tidak tersisa sebutir debu pun nantinya." Bola mata ungu tersebut menyipit. Ichigo hanya mampu meneguk ludah. "Tentu saja, Anda sudah tahu apa yang harus dilakukan bukan, Kolonel?"

"Siap laksanakan!" patuh Ichigo meringis dalam hati. Habis sudah dirinya. Menerima nasib menjadi babu bersih-bersih satu gedung seluas lapangan sepak bola. Rontok semua tulang-tulangnya malam ini.

"Oh, satu lagi," Rukia menambahkan sembari tersenyum tipis. "Saya dengar Anda cukup mumpuni dalam seni bela diri. Jendral Kenpachi pasti senang mendapat lawan yang menyenangkan nantinya. Bukan begitu, Kolonel?" Kilat di iris cantik tersebut membuat sekujur tubuh Ichigo merinding.

Desas-desus mengenai kesadisan atasan beruang jabrik itu sudah terkenal ke seantero pasukan. Dan si rambut jingga ini akan menghadapinya selepas dia banting tulang membersikan balai!

'Golok, mana golok?! Bunuh aku sekarang, Tuhan! Bunuh saja akuuu!'

Voidy's note: Lanjutan di mana Ichigo menderita. Meski pendek, semoga pembaca bisa menangkap kalau dia disiksa habis-habisan oleh Rukia di sini. Terima kasih telah membaca. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan.