Nama : Magdalena Rizki Amalia
Karakter utama : Aku (readers), Kau (bias)
Broken Autumn
Semilir angin membawa aroma musim gugur yang khas menyapa indera. Pepohonan tampak mulai kehilangan kesegarannya menyambut perubahan musim. Serpihan daun kering yang tertarik gravitasi perlahan-lahan menyentuh permukaan bumi, meninggalkan ranting dan batang pohon yang tampak kosong dan rapuh. Warna daun yang senada dengan warna senja menandakan bahwa musim gugur telah tiba. Musim yang akan membawa perasaanku gugur bersama dedaunan itu.
Aku tertunduk, memperhatikan daun-daun coklat keemasan yang berserakan di bawahku... atau lebih tepatnya pada kakiku. Rasanya kakiku telah terjerat akar dari pohon tua pemilik daun-daun yang membisu di sampingku. Sejak tadi aku bersandar pada batangnya yang menjulang ke langit dan sepertinya dia enggan melepasku. Aku ingin pergi tapi otakku tidak mengirim sinyal untuk mengambil satu pun langkah. Hatiku memerintahkan untuk pergi tapi otakku mengatakan sebaliknya. Aku tidak mengerti sejak kapan hati dan pikiranku tidak sejalan seperti ini.
Kutarik nafas dalam dan kuhembuskan dengan panjang sambil sesekali menatap seseorang di kejauhan. Sesaat kupejamkan mataku, lalu kubuka kembali, kupejamkan lalu kubuka lagi, terus kulakukan dan hasilnya sama, masih saja orang yang sama yang terlihat di ujung sana. Aku kembali menarik nafas dalam, memastikan bahwa terik matahari tidak melakukan fatamorgana aneh ini. Namun, kenyataannya tidak ada yang berubah sesuai kehendakku.
Tepat beberapa meter di hadapanku ada sesuatu yang membuat pikiran ku bercabang seperti labirin tua. Dengan sedikit perasaan yang kukirimkan ke mata, kulemparkan perhatianku kepadamu. Terasa mustahil jika kau akan melihat ke arahku, aku rasa kau terlalu asyik dengan dunia kecilmu hingga kau tidak memperhatikan sekelilingmu. Tidak mungkin kau menyadari keberadaanku yang pasti tidak kau harapkan ini. Kau tertawa dan tersenyum pada sosok disampingmu yang baru kali ini kulihat. Huh, orang asing. Kau terkekeh bersamanya seolah tidak ada hari esok. Tawa dan senyum yang selama ini hanya kau perlihatkan padaku itu kini kau umbar pada orang lain. Apa yang salah? Apa yang terjadi? Kau semakin membingungkanku. Semakin lama aku berdiri, semakin mata ini terfokus, hampir tanpa kedipan, semakin aku gelisah tak karuan. Apakah ini salah satu bagian dari mimpi buruk yang selama ini kutakuti?
"Kau mencintaiku kan?"
"Tentu saja"
"Seberapa besar cintamu padaku?"
"Sangat besar hingga kau tidak bisa mengukurnya dengan apa pun."
Omong kosong. Jika kau seorang aktor pasti kau sudah memenangkan berbagai pernghargaan berkat aktingmu yang luar biasa itu. Huh, aktor?. Kau tidak lebih dari seorang pecundang.
Ketika aku terpuruk, ketika aku kehilangan gairah hidup, aku berharap kau ada di sampingku. Pancaran matamu waktu itu membuatku luluh dengan mudah. Selama ini kau sukses membuatku yakin atas cintamu. Dulu cintamu manis bagai madu. Tapi seiring berjalannnya waktu, kau tidak sanggup merawat cinta yang telah kau tanam. Ketika aku berada di titik terendah dalam hidup kau langsung memperlakukanku dengan berbeda. Perlahan kau menjauh hingga akhirnya kau memutuskan untuk menyerah dan membuangku. Membiarkan cinta yang sudah tumbuh layu bersama waktu.
"Bicara saja tidak cukup. Kau harus berjanji untuk tidak meninggalkanku apalagi menduakanku"
"Kau masih meragukan cintaku huh?"
"Maksudku bukan begitu..."
"Dengar, apa pun yang terjadi kaulah segalanya bagiku. Tidak akan ada yang bisa menggantikanmu. Hingga keujung dunia sekali pun cintaku hanya untukmu"
Ish... Kau memang jago membual. Seharusnya aku tahu kebusukanmu sejak awal. Manusia bermuka dua sepertimu layak dimusnahkan dari bumi ini. Keberadaanmu hanya menjadi sampah yang seharusnya dilenyapkan.
Aku terdiam, terpaku melihat pemandangan yang mengoyak perasaanku. Kau melingkarkan tanganmu di pinggangnya, menarik tubuhnya agar mendekat padamu dengan perlahan. Dia bersandar nyaman di pundakmu sambil menyelipkan jemarinya di sela jemarimu. Seulas senyum setia menghiasi wajahmu ketika dia tiba-tiba saja mendekati telingamu dan membisikkan sesuatu. Entah apa yang kau dengar, aku tidak tahu dan hanya bisa menebak di dalam hati. Tampaknya dia membisikkan kata-kata manis yang membuatmu senang. Terpancar sekali dari wajahmu yang semakin cerah setelah dia mendekatkan wajahnya padamu.
Hembusan angin yang sedikit kencang menyapu daun-daun kering yang masih tersangkut di ranting-ranting pohon. Angin berhembus kasar seakan memaksa daun-daun untuk meninggalkan pohon yang rapuh itu. Angin itu seakan menamparku untuk sekedar membuatku tersadar jika kau tidak sesempurna yang kubayangkan. Kueratkan kepalan tanganku, membendung luapan emosi yang bergemuruh tidak terkontrol di dalam dada. Bersyukurlah karena sampai detik ini aku masih bisa menahan diri untuk tidak menghabisimu di sini. Aku memang marah dan kesal padamu tapi aku tidak seceroboh itu.
Suara gemerisik daun-daun kering yang dihempaskan oleh angin sepertinya telah mengusikmu. Tidak sengaja kau membuang padanganmu tepat kearahku yang berada tidak jauh darimu. Kau tertegun mendapati seseorang yang tidak terduga sedang memperhatikan setiap gerak-gerikmu. Sama, aku juga tidak menyangka kau akan secepat ini menemukanku di antara pepohonan yang menyedihkan tanpa daun dan bunga ini. Sejenak kau terdiam sambil terus menempelkan pandanganmu padaku. Akhirnya kita bertemu pandang.
Secara tidak terduga tiba-tiba sosok yang bersamamu itu melayangkan sebuah kecupan singkat di pipimu. Kau tampak sedikit terkejut dengan tindakannya dan kembali memusatkan perhatianmu padanya. Dengan polosnya sosok itu tersenyum padamu dan kau pun membalasnya dengan hal yang sama. Bersamanya kau tidak pernah berhenti tersenyum. Dan untuk pertama kalinya aku membenci senyum itu melekat di wajahmu. Sikapmu itu sungguh menunjukkan bahwa kau sudah tidak peduli lagi padaku. Aku benar-benar sudah muak denganmu. Tidak butuh waktu yang lama untuk kau berpaling dariku. Sungguh aku ingin tahu apa yang dia miliki hingga membutakanmu dan meninggalkanku demi dia. Apa dia lebih baik dariku?.
Tidak tahukan kau bahwa aku disini sedang menahan sesuatu di dadaku? Sesak dan perih menjalar dari dadaku setiap kali aku bernafas. Aku yakin kau pasti tidak pernah merasakan hal semacam ini seumur hidupmu. Kau sungguh beruntung.
"Jagiya... aku haus.. bisa kau belikan aku minum?", pintamu dengan nada manja yang menjijikkan.
"Kebetulan aku juga haus. Kau mau minum apa?", dia balik bertanya padamu.
"Apapun yang kau pilihkan akan kuminum."
"Baiklah. Tunggu sebentar ya."
Kau memberinya senyuman kecil sebelum dia beranjak dan berlari menjauh dari tempatmu.
Aku paham maksudmu menyuruhnya membeli minum. Kau ingin berbicara 4 mata denganku, kan?. Karena semua yang kau pikirkan tertulis jelas di wajahmu.
Aku menghampirimu yang duduk di bangku sendirian setelah mahkluk murahan itu lenyap entah kemana. Dengan mantap aku berdiri tepat di hadapanmu. Sepasang inderaku menatap lurus ke matamu seolah ingin melucuti pikiranmu. Aku tidak perlu penjelasan darimu karena semua sudah tergambar di depan mataku. Apa yang tertangkap oleh mataku sudah menguraikan semuanya. Kusunggingkan ujung bibirku. Senyum sinis ini kuberikan sebagai tanda perpisahan. Bersama angin musim gugur yang dingin, aku akan menerbangkan perasaanku hingga tidak ada lagi alasan untuk kembali padamu.
~END~
Note: This fanfic is really well written! Rapi, tapi masih ada typo. Seharusnya ini untuk lomba tapi sayangnya yang berpartisipasi hanya dua orang dan karena ada beberapa hal akun Kpop Fanfic dihapus jadi pos disini dan lomba dibatalkan. Fanfic ini singkat, kata-kata yang rangkai spj (singkat padat jelas), ditulis dengan baik dan apik juga. very well!
