CHAPTER 2
"Bagaimana kondisimu, Hyunjin-ah?"
Minho memulai percakapan mereka, kala mereka baru saja terduduk di dalam sebuah Restoran kecil yang terletak tak jauh dari Rumah Hyunjin.
Minho mengajak Hyunjin untuk bertemu malam ini, karena ia cukup mengkhawatirkan Sahabatnya tersebut. Terlebih mereka kini tak lagi bersekolah di Sekolah yang sama. Dua bulan tidak bertemu secara langsung, membuat ia ingin melihat kondisi Hyunjin saat ini.
"Adik dari Byungchan yang Jisung lukai, ingin membalaskan dendamnya padaku. Bahkan seluruh Siswa di Sekolah telah mengetahui catatan burukku."
"Sebelumnya kita tidak memiliki masalah dengan Fire Burst, jadi kurasa tidak seharusnya Adik Byungchan itu melukaimu," tanggap Minho.
Hyunjin hanya menghela nafasnya dan menatap tidak bernafsu pada minuman yang telah mereka pesan sebelumnya.
"Kau nampak semakin kurus, Hyunjin-ah. Apa kau makan dengan teratur? Kau harus memperhatikan kesehatanmu."
Minho adalah satu-satunya anggota yang paling perhatian juga baik dalam Kelompok mereka. Tak heran kenapa Hyunjin begitu dekat dengannya. Minho bertindak dan berpikir secara dewasa, maka dari itu Hyunjin merasa beruntung telah mendapatkan seorang Sahabat seperti Minho.
"Kau tahu Ibuku masih sering memukuliku tanpa sebab. Aku tidak dapat fokus pada pelajaranku dan sering melewatkan jam makan. Entahlah, aku seperti tidak memiliki semangat," jawab Hyunjin.
"Aku tahu kau adalah orang yang kuat, Hyunjin-ah. Kau bisa mengatasi masalahmu sendiri. Dan kau harus ingat bahwa jika kau membutuhkan bantuanku, aku akan selalu ada untukmu."
Hyunjin memaksakan senyumannya dan mengangguk lemah. Jika ia tidak memiliki Sahabat seperti Minho, mungkin ia sudah bunuh diri sejak lama.
"Terima kasih, aku akan selalu mengingat perkataanmu," ucap Hyunjin. Minho tersenyum manis ke arahnya.
"Baiklah, habiskan minumanmu dan kita pergi ke Dokter. Aku tidak suka melihat luka yang menghalangi wajah manismu itu."
Minho hendak beranjak, namun Hyunjin menahan tangannya dan menatapnya dengan pandangannya yang sulit diartikan.
"Bagaimana denganmu? Kau… baik-baik saja?" kali ini, giliran Hyunjin yang bertanya.
Minho tidak terlalu bodoh untuk menangkap maksud dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Hyunjin padanya. Ia tahu bahwa saat ini Hyunjin sedang ingin membahas Kekasihnya. Yaitu Jisung.
"Kami masih sering berkomunikasi. Aku senang melihatnya bersekolah dengan baik di sana," jawab Minho lembut disertai dengan senyuman yang tulus.
.
.
.
-oOo- RED IS FIRE -oOo-
.
.
.
Hyunjin mendapatkan sedikit semangatnya hari ini. Luka lebam dan memar yang terdapat di wajahnya, kini telah tertutupi oleh plester dan kian membaik. Begitupun dengan luka-luka lain yang ada di lengannya. Sudah mulai menghilang dan ia harus berterima kasih pada Minho karena kebaikan Lelaki cantik yang ceria itu.
Terkadang, ia ingin menjadi seperti Minho. Bagaimanapun keadaannya, dan apapun yang dirasakannya, Minho tetap tersenyum dan terlihat selalu ceria. Minho sangat pandai menyembunyikan perasaannya dan berpikiran positif. Ia juga cantik. Sangat cantik.
Dapatkah ia menjadi seperti sosok Minho?
"Padahal jika dilihat-lihat, kau memiliki wajah yang sangat manis, tapi kenapa kau begitu kasar?"
Ucapan seseorang membuat tubuh Hyunjin kaku. Dua orang Siswa yang berseragam sama dengannya, melangkah berbarengan mendekatinya. Ia baru saja ingin memasuki halaman Sekolah, tetapi harus terhalangi oleh kehadiran kedua orang yang mungkin ia kenali tersebut.
"Apakah wajahmu ini kau jadikan topeng untuk menjebak lawanmu? Ah, dan apakah teman-temanmu yang lain juga melakukan hal yang sama?"
Hyunjin tahu, kedua Siswa ini adalah teman Changbin. Mereka adalah anggota Fire Burst.
Ia tidak ingin melawan, dan menantikan apa yang akan dilakukan oleh kedua Siswa ini terhadapnya.
"Kenapa diam saja?"
"Langsung hajar saja dia."
BUGH!
"Argh!"
Hyunjin mendapatkan tinjuan keras tepat pada perutnya. Ia meringis kesakitan dan lagi-lagi bogeman mentah mendarat di wajahnya yang belum sepenuhnya pulih.
BUGH! BUGH!
"Rasakan rasa sakit ini, manis."
"Lebih baik kita bawa saja dia ke Markas. Changbin sudah menunggu kita di sana," ucap Siswa yang ber-nametag Kim Seungmin pada temannya yang bernama Kim Woojin.
Sementara Hyunjin masih berusaha untuk menjaga kesadarannya dan menahan rasa sakit. Ia tidak peduli kemana dua orang ini akan membawanya. Jika ia harus dipertemukan oleh Changbin kembali pun, itu tidak masalah. Setidaknya, ia harus tahu alasan kenapa Changbin terlihat begitu membencinya. Padahal sudah jelas bahwa ia tidak memiliki masalah secara langsung pada Lelaki itu.
Tubuh Hyunjin dihempaskan begitu saja ke lantai oleh Woojin setelah mereka tiba di Markas mereka. Woojin memperhatikan wajah Hyunjin lamat-lamat dan ia tersenyum miring.
"Kenapa kau tidak melawan? Ayo pukul kami," tantang Woojin. Hyunjin menatap Woojin dengan tajam, namun ia tidak melawan sedikitpun dan menahan ringisannya.
Hyunjin tahu, bahwa Changbin telah lebih dulu berada di sana dan menyaksikannya dipukuli oleh kedua orang ini.
"Aku memang tidak memiliki masalah denganmu, tetapi temanmu itu telah membuat Hyungku cacat."
Changbin bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Hyunjin yang masih tersungkur di tempatnya.
"Jadi, kau ingin membuatku cacat juga? Apa seperti itu maumu?" tantang Hyunjin. Ia bahkan tertawa kecil saat dirinya berbicara.
Woojin dan Seungmin masih memegangi kedua tangan Hyunjin agar tidak memberontak, dan hal itu memudahkan Changbin untuk menarik dagu Lelaki manis itu agar Hyunjin mau menatapnya.
"Kau tidak takut dirimu yang sempurna ini kubuat cacat?" tanya Changbin. Tidak ada kelembutan sedikitpun dalam tatapannya.
Setelah cukup lama menatap mata Hyunjin, kini tatapan tajam Changbin beralih pada kedua kaki Hyunjin. Lalu satu tangannya ia gunakan untuk meraih balok kayu yang tergeletak di sampingnya.
Ia berniat untuk melumpuhkan kaki Hyunjin seperti Jisung melumpuhkan kedua kaki Byungchan, Hyungnya.
"Ini akan menyakitkan untukmu, Hwang Hyunjin."
Changbin bangkit berdiri dan mengambil ancang-ancang untuk memukul kaki Hyunjin dengan keras. Namun belum sempat kayu itu mendarat di kaki Hyunjin, Seungmin lebih dulu berdiri dan menahan tangan Changbin di udara.
"C-changbin, kau yakin ingin menganiayanya?" tanya Seungmin.
Sebenarnya Seungmin tidak bermaksud untuk membela Hyunjin, melainkan karena ia teringat oleh apa yang diucapkan oleh Byungchan terhadap mereka. Dan menurutnya pun, sikap Changbin saat ini sungguh berlebihan.
"Itu kecelakaan. Lalu, apa bedanya kau dengan Jisung?" lanjut Seungmin, yang diangguki oleh Woojin.
"Kurasa kau sedikit berlebihan, terlebih dia adalah Siswa di Sekolah kita," ucap Woojin.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Seungmin dan juga Woojin. Tidak seharusnya ia melampiaskan rasa amarahnya pada Hyunjin. Seharusnya ia melampiaskannya pada Jisung. Tetapi entah kenapa ia sangat tidak suka dengan siapapun yang bergabung dalam Red Glow, Kelompok Jisung. Menurutnya, mereka semua sama saja.
"Argh!"
Changbin menggeram keras dan membanting tongkat kayu itu tepat di samping Hyunjin, lalu ia beranjak begitu saja dari sana. Ia tidak ingin berdebat dengan siapapun lagi. Dan juga, ia merasakan beribu perasaan ketika ia berhadapan dengan Hyunjin. Ia tidak tahu apa yang salah pada dirinya. Ia tidak tahu kenapa ia merasa bimbang.
Kini menyisakan Seungmin, Woojin dan juga korban mereka yaitu Hyunjin. Lelaki manis itu membuang tatapannya ke arah lain ketika Seungmin dan Woojin kembali mendekatinya.
"Kali ini kau bebas. Dan pukulan kami tadi, sebagai pelajaran untukmu untuk tidak mencari masalah dengan kami. Kau mengerti itu?" ucap Woojin.
Hyunjin lagi-lagi tidak menjawab dan memandang ke arah dua orang itu yang telah beranjak meninggalkannya seorang diri di sana.
Hyunjin kembali meringis dan berusaha untuk berdiri. Hari ini, ia ingin pulang ke Rumahnya, karena tidak mungkin ia bersekolah dalam keadaan babak belur seperti ini.
"Brengsek!" desisnya.
.
.
.
-oOo- RED IS FIRE -oOo-
.
.
.
Tanpa terasa Hyunjin tertidur di dalam Kamarnya seorang diri selama 4 jam. Ia mulai membuka kedua matanya dan melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 malam. Ia memutuskan untuk pergi ke Dapur karena perutnya terasa lapar.
Tidak ada makanan yang ia dapatkan, hanya sebuah mie instan yang ia temui di sana. Terpaksa ia memakan mie instan pedas itu karena lagi-lagi sang Ibu tidak memperdulikannya.
Tak butuh waktu lama, Hyunjin telah menyelesaikan makanannya. Namun ketika ia baru saja ingin melangkah menaiki tangga, perutnya mendadak sakit karena ia tidak terbiasa memakan makanan yang pedas. Dahinya berkeringat, dan ia ingat betul bahwa di Rumah ini tidak ada satupun obat.
Tanpa menunggu lama lagi, Hyunjin bergegas mengambil jaketnya dan berjalan keluar Rumah menuju ke sebuah Minimarket.
Entah kenapa malam ini terasa begitu dingin. Wajahnya memucat dan suhu tubuhnya mendadak tinggi. Nafasnya berhembus tak teratur dan ia mulai menggigil kedinginan. Kondisi tubuhnya melemah karena pola hidup yang tidak benar. Ia tahu bahwa ia telah menyiksa dirinya sendiri beberapa hari kemarin, namun semua sudah terlambat.
Ketika ia sedang berdiri di pinggir jalan hendak menyeberang, pandangannya mendadak buram dan tubuhnya ambruk begitu saja.
Hyunjin jatuh pingsan.
"Totalnya 3,000 won."
"Ah baiklah. Ini uangnya, terima kasih."
Changbin membuka kaleng minuman yang baru saja dibelinya sambil berjalan keluar Minimarket 24 jam tersebut. Ia teguk minuman bersoda itu dan berjalan menuju ke Rumahnya berjalan kaki seorang diri. Namun pergerakkannya terhenti kala ia melihat sosok yang sepertinya ia kenal, tengah tergeletak di pinggir jalan.
Awalnya, ia ingin menghampiri sosok itu, namun terpaksa ia harus menundanya karena suara dering ponsel yang berbunyi. Menandakan ada sebuah panggilan masuk.
"Changbin Hyung, kau bisa datang ke Rumahku saat ini?"
Ternyata Felix–sang Kekasih–yang saat ini menghubunginya. Tatapannya masih tertuju pada sosok di seberang sana, namun pikirannya tertuju pada sang Kekasih.
"K-kenapa mendadak sekali? Ini sudah malam," jawab Changbin.
"Kau keberatan? Aku hanya sedang kesepian."
"T-tidak. Baiklah, aku akan segera ke sana. Tunggu aku."
Tidak seharusnya ia memperdulikan musuhnya. Ya, sosok yang tergeletak tak sadarkan diri di seberangnya itu adalah Hyunjin. Namun ia pikir Hyunjin bukanlah urusannya, dan lebih baik ia menuju ke Rumah Kekasihnya. Lagipula, untuk apa ia mengkhawatirkannya?
"Ck! Sialan."
Changbin memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam saku dan berlari menyeberangi jalan. Terpaksa ia menghampiri Hyunjin di sana karena tidak ada seorangpun di sekitar mereka. Meskipun Hyunjin musuhnya, biarlah kali ini ia menganggap Hyunjin sebagai orang lain yang perlu ia tolong.
"Kenapa dia menyusahkan sekali?" gumamnya. Kemudian ia berusaha untuk membopong tubuh Hyunjin dan membawanya ke Markas yang terletak tak jauh dari tempat mereka, karena ia tidak tahu dimana Rumah Hyunjin berada.
"Akh… sakit."
Changbin mengabaikan ringisan Hyunjin yang telah ia gendong di punggung. Dan ia hanya mempercepat langkahnya agar ia tiba di Markas miliknya. Meskipun ia tahu Hyunjin sedang sakit, tapi ia kembali teringat oleh janjinya dengan sang Kekasih. Ia tidak ingin membuat sang Kekasih menunggu terlalu lama hanya karena ia menolong Lelaki aneh ini.
"Setidaknya kau tidak tidur di jalan. Aku… akan meninggalkanmu di sini."
Setelah meletakkan Hyunjin di atas sofa dan mengatakan kalimat itu, Changbin keluar dari sana menuju Rumah sang Kekasih.
.
.
.
-oOo- RED IS FIRE -oOo-
.
.
.
Changbin baru saja dipersilahkan masuk oleh Felix yang menyambut kedatangannya. Seperti biasa, Rumah besar milik Felix terihat sepi. Tidak ada seorangpun di sini. Itu karena kedua Orangtua Felix seringkali melakukan Perjalanan Bisnis ke luar Negeri. Sementara Felix adalah anak tunggal dan tidak memiliki seorangpun Saudara. Hanya beberapa Pelayan saja yang sibuk mengurus Rumah besar tersebut.
"Bagaimana dengan Sekolahmu, Hyung?" tanya Felix pada Changbin. Ia lebih dulu duduk di atas ranjangnya setelah mereka tiba di Kamar dan meminta Changbin untuk terduduk di sampingnya.
"Kau tahu? Ujianku semakin dekat."
Changbin memberikan senyumannya pada sang Kekasih dan terduduk di sampingnya.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Changbin. Tak lupa ia mengusap lembut pipi sang Kekasih.
"Waktuku sangat tersita oleh beberapa Kursus yang harus kujalani. Aku sangat tersiksa dan lelah," keluh Felix. Namun Changbin berusaha untuk menghibur sang Kekasih dengan cara mengusak rambutnya.
"Sebaiknya kau harus beristirahat sekarang, bukankah kau lelah?" tanya Changbin. Jujur, ia ingin segera kembali ke Rumahnya.
Ah tidak, tetapi sepertinya ia ingin kembali ke Markas dan memastikan keadaan Hyunjin.
"Lelahku hilang setelah bertemu denganmu, Hyung."
Felix terlihat ceria, namun Changbin terlihat sebaliknya. Raut wajahnya terlihat khawatir dan hal itu membuat Felix mengerutkan dahinya.
"Kau… sakit Hyung?" tanya Felix.
"Ah, aku lupa mengerjakan tugas. Sepertinya aku harus segera kembali, apa kau tidak apa-apa?" ucap Changbin cepat.
Changbin nampak aneh. Jika biasanya ia akan mencium dan menghabiskan waktunya bersama Felix, kali ini ia terlihat sedikit menghindarinya. Tidak ingin berpikiran buruk, Felix menganggukkan kepalanya dan membiarkan Kekasihnya tersebut beranjak meninggalkannya.
"Aku baik-baik saja. Aku harap Hyung dapat menerima pelajaran dengan baik."
"Baiklah, selamat malam."
Felix menghela nafasnya lemah. Changbin melupakan sesuatu, yaitu mengecup keningnya. Perasaannya mendadak tidak enak, namun ia berusaha untuk tersenyum dan mengantar Changbin hingga pintu utama.
"Selamat malam, Changbinie Hyung."
.
.
.
-oOo- RED IS FIRE -oOo-
.
.
.
Changbin melangkah dengan cepat, bahkan ia sesekali berlari hingga nafasnya terengah-engah. Tidak ada tujuan khusus, karena kakinyalah yang terus membawanya pada sebuah tempat dimana ia meninggalkan Hyunjin pingsan tadi.
Sebelumnya, sudah beberapa kali ia melihat Hyunjin termenung seorang diri dan terlihat memiliki banyak masalah. Tetapi ia tidak tahu bahwa akan separah itu, bahkan hingga Hyunjin jatuh pingsan. Ia hanya ingin memastikan keadaan Hyunjin. Hanya itu. Tidak lebih.
"Brengsek! Kenapa aku harus peduli padanya?" gumamnya pada dirinya sendiri.
Kini ia melangkah memasuki Markas dan mendapati Hyunjin masih meringkuk kesakitan di sana. Apakah ia harus membawa Lelaki itu ke Dokter?
"A-ayah… sa-sakith."
Changbin mengernyitkan dahinya setelah mendengar suara lirih Hyunjin. Ia menatap Hyunjin yang masih menutup matanya dan mendekati Lelaki tersebut.
"Sa-sakith… sekali."
Ternyata benar, ada yang tidak beres pada Hyunjin. Ia memang tidak mengenal Hyunjin, tetapi jika dilihat dari kondisinya, selain hanya fisiknya yang terluka, hatinya pun terluka.
"Ayah kau bilang?" tanya Changbin.
Grep
Changbin membulatkan kedua matanya saat merasakan pelukan tiba-tiba dari Hyunjin. Suhu tubuhnya amat sangat panas dan Hyunjin terus bergumam tidak jelas.
"Ayah…"
"Kau merindukan Ayahmu?"
Changbin berusaha untuk melepaskan pelukan itu dan mendorong Hyunjin agar kembali berbaring, namun tubuhnya terasa kaku dan jantungnya berdebar sangat keras kala pandangan mereka bertemu. Hyunjin membuka matanya dan menatapnya lemah. Sangat berbeda dari tatapan yang sering ditujukan padanya sebelumnya.
Tatapan seperti…
Seseorang yang sedang membutuhkan sebuah perlindungan.
Changbin menatap Hyunjin lebih dekat tanpa diperintah, dan ia masih tidak mengerti kenapa ia bisa berada dalam situasi seperti ini bersama Hyunjin. Dan juga, kenapa ia hanya terfokus pada bibirnya?
Tak pernah sebelumya ia merasakan debaran keras di jantungnya kala melihat bibir seseorang.
"Temani aku…"
Setelah mendengar kalimat itu terlontar dari bibir Hyunjin, Changbin segera mendaratkan bibirnya pada bibir itu. Ia kecup kuat bibir manis itu dan perlahan kedua matanya terpejam.
Ia tahu bahwa apa yang ia lakukan saat ini terhadap Hyunjin adalah salah. Amat sangat salah. Namun keinginan hatinya begitu kuat, dan ia tidak bisa melawan keinginan itu. Ia ingin mengenal Hyunjin lebih jauh, karena sosok Hyunjin sangatlah membuatnya penasaran.
Tetapi, apakah yang dilakukannya saat ini adalah hal yang tepat?
Hyunjin sedang sakit, dan ia tahu bahwa Hyunjin tidak benar-benar memintanya untuk menemaninya. Hyunjin hanya kesepian dan terluka. Tidak lebih dari itu. Ia tidak ingin berharap, tetapi ketika ia merasakan balasan ciuman dari Hyunjin, membuatnya semakin ingin melindungi Lelaki ini.
'Kuharap kau tidak mengingat hal ini.'
.
.
.
-oOo- RED IS FIRE -oOo-
.
.
.
Esok hari telah tiba, Changbin berangkat ke Sekolah seperti biasa. Namun kali ini ada yang sedikit berbeda karena ia tidak mendapatkan sambutan dari kedua temannya, Woojin dan Seungmin.
"Kenapa kalian jadi pendiam?" tanya Changbin pada Woojin dan Seungmin. Menatap mereka bergantian.
"Tidak," singkat Woojin mewakili Seungmin.
Changbin hanya menggedikkan bahunya dan terduduk di kursinya. Namun tak lama, pandangannya kini teralihkan pada seseorang yang baru saja memasuki Kelas mereka. Siapa lagi jika bukan Hyunjin?
Melihat Hyunjin yang nampak pucat pagi ini, membuatnya sedikit khawatir. Terlebih ketika mengingat kejadian semalam. Ia semakin tidak dapat melepaskan pandangannya dari Lelaki manis itu.
"Kau lihat, Changbin nampak berbeda," bisik Seungmin pada Woojin yang duduk di sebelahnya.
"Aku masih tidak dapat mempercayainya. Tidak mungkin Changbin menyukai Hyunjin. Sudah lama aku mengenal Changbin, dan aku yakin ia bukanlah orang yang seperti itu," jawab Woojin.
"Aku yang melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," Seungmin menjeda kalimatnya dan berbisik lebih dekat pada Woojin, "mereka berciuman di Markas kita malam tadi."
"Ini gila!" Woojin bersuara cukup keras tanpa sadar. Membuat Changbin melirik ke arah temannya tersebut.
"Apa yang salah pada kalian eoh?" tanya Changbin.
"Seharusnya kami yang bertanya seperti itu," desis Seungmin.
Changbin baru saja ingin meminta penjelasan, jika saja sang Guru tidak lebih dulu datang memasuki Kelas mereka.
"Baiklah semuanya, keluarkan buku pelajaran kalian."
.
.
.
-oOo- RED IS FIRE -oOo-
.
.
.
[Byungchan x Jeongin Side Story]
Jeongin bernafas dengan tidak teratur dan memeluk kedua lututnya dengan erat di balik sebuah dinding besar. Ia memutuskan untuk bersembunyi di sini karena ia tidak memiliki tujuan lagi setelah ketiga Hyungnya meninggalkannya.
Jisung, Minho dan Hyunjin, berlari meninggalkannya seorang diri dari kejaran sebuah Komplotan karena jumlah mereka tidaklah seimbang untuk bertarung. Mereka hanya empat orang, dan lawan mereka memiliki jumlah sekitar sepuluh orang.
Berawal dari masalah sepele, ketika tanpa sengaja Hyunjin menabrak bahu salah satu anggota Komplotan itu dan berujung dengan cekcok mulut. Mereka yang selalu pergi bersama kemanapun, merasa tidak terima jika Hyunjin disalahkan. Perkelahian pun tidak terhindarkan. Mulai dari pukulan-pukulan kecil, hingga Komplotan lawan mereka memanggil pasukan yang lain dan membuat mereka tidak seimbang.
Kini mereka memilih untuk berlari daripada harus kehilangan nyawa, sementara Jeongin tidak mampu lagi untuk berlari dan menyembunyikan dirinya di celah dinding dua bangunan.
Sialnya, ada salah seorang anggota lawan mereka yang memergokinya. Ia sempat ditarik paksa dan wajahnya ditampar dengan keras. Namun ada satu orang lain yang membelanya.
Jeongin ingat betul siapa Lelaki yang baru saja membelanya. Dia adalah Byungchan. Ketua dari Komplotan itu.
"Lepaskan dia, biar aku yang mengurusnya."
Seluruh komplotan itupun membubarkan diri setelah mendengar perintah dari sang Ketua. Kini meninggalkan dirinya dan Lelaki berkulit sangat putih tersebut di tempat ini.
"Kau baik-baik saja?" tanya Byungchan. Ia berjalan mendekati Jeongin hingga berdiri tepat di hadapannya.
"Maafkan kekasaran yang dilakukan oleh teman-temanku. Aku akan bertanggung jawab atas luka yang–"
"Tidak perlu," potong Jeongin.
Jeongin hendak beranjak dari sana, namun pergelangan tangannya lebih dulu ditahan oleh Byungchan.
"Aku tidak ingin mencari masalah denganmu," ucap Byungchan.
"Aku sama sekali tidak peduli."
Jeongin masih bertahan dengan sikap dinginnya. Sebenarnya ia merasa sangat kesakitan pada bagian wajahnya, namun ia berusaha menyembunyikannya karena tidak ingin terlihat lemah di mata lawan.
"Yang Jeongin…"
Deg!
Tubuh Jeongin mendadak lumpuh kala mendengar Byungchan menyebutkan nama lengkapnya. Pasalnya, ia tidak pernah berkenalan pada Lelaki ini. Lalu, darimana ia mengetahui namanya?
"Jangan katakan hal ini pada anggota Red Glow atau siapapun. Aku… ingin mengenalmu lebih jauh. Apa kau mengizinkannya?" ucap Byungchan secara jantan dan tenang.
Jeongin lalu mengalihkan pandangannya untuk menatap Byungchan, dan ia cukup terkejut karena Lelaki itu nampak sangat serius dengan ucapannya.
Lalu… apa yang harus ia buat terlebih saat ini jantungnya berdebar begitu keras? Juga… genggaman tangan Byungchan pada tangannya kenapa begitu hangat?
"Lupakan Red Glow, lupakan Fire Burst, lupakan Kelompok kita. Ini mengenai aku dan kau. Tidak ada orang lain atau siapapun. Hanya kita berdua. Aku ingin memiliki hubungan yang serius denganmu," ucap Byungchan kembali, meyakinkan Jeongin.
Jujur, ia sudah cukup lama memperhatikan Jeongin dan ia langsung jatuh hati pada Lelaki manis itu. ia rasa ia tidak memiliki waktu lain selain saat ini untuk mengutarakan perasaannya pada Jeongin. Cepat atau lambat, ia harus menyatakannya.
"Aku… menyukaimu, Yang Jeongin."
.
.
.
-oOo- RED IS FIRE -oOo-
.
.
.
Byungchan menggulirkan roda kursi yang didudukinya menuju pintu utama Rumahnya karena baru saja mendengar suara bel yang berbunyi. Changbin, sang Adik, nampak sedang sibuk di Dapur untuk membuatkan makan malam mereka kali ini.
Ting tong~
Byungchan memutar kenop pintu tersebut dan melihat sosok yang saat ini berdiri di hadapannya dengan sebuah kotak di kedua tangannya. Ia tidak terlalu bodoh untuk mengetahui siapa sosok itu. Sosok yang ia kenal adalah anggota dari Red Glow, Kelompok musuhnya. Yaitu Lee Minho.
"Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Byungchan. Minho menundukkan kepalanya dalam-dalam dan raut wajahnya terlihat sedih.
"Aku hanya ingin meminta maaf secara langsung padamu. Aku tidak memiliki niat buruk sedikitpun. Kedatanganku ke sini hanya ingin melihat kondisi–"
"Siapa yang datang, Hyung?"
Changbin tiba-tiba muncul dari belakang Byungchan dan ia pun tak kalah terkejutnya melihat siapa yang datang ke Rumahnya saat ini.
"Kau–"
"Aku sungguh ingin meminta maaf," potong Minho dengan cepat. Ia bahka rela berlutut di depan Byungchan dan Changbin.
"Kami tidak pernah berniat untuk melukaimu. Aku pun meminta maaf karena Jisung telah melakukan sebuah kesalahan yang fatal dan menyebabkan kau terluka. Aku berjanji akan bertanggung jawab atas pengobatanmu hingga pulih."
Minho terus memohon dan ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Byungchan masih terdiam, sementara Changbin nampak jengah dengan sikap Minho yang menurutnya tidak masuk akal.
"Pergilah kau–"
"Masuklah," Byungchan memotong perkataan Changbin dan mempersilahkan Minho untuk masuk ke Rumahnya. Mengabaikan tatapan protes dari sang Adik, karena ialah yang memiliki masalah dengan Red Glow. Bukan Changbin.
Dengan sopan, Minho mulai memasuki Rumah bersaudara tersebut dan terduduk di sofa Ruang tengah. Meletakkan sebuah kotak yang berisi makanan tersebut di atas meja.
"Kau pikir kau bisa menyogok kami dengan makanan konyol seperti itu?" ucap Changbin yang masih jengkel pada Minho.
"Apa kau pikir kau bisa mengembalikan fungsi kedua kaki Hyungku dengan uangmu?" lanjutnya.
"Maafkan aku. Kumohon salah satu dari kalian tidak ada yang memiliki dendam lagi terhadap anggota Red Glow. Aku tidak ingin mereka terluka. Aku sangat menyayangi mereka. Jika kalian ingin membalaskan dendam kalian, lakukan saja padaku. Tetapi kumohon jangan lakukan terhadap Jisung, Hyunjin dan Jeongin."
Byungchan mengusap wajahnya kasar dan menghembuskan nafas beratnya berkali-kali. "Jadi, apa yang telah terjadi pada kalian?" tanyanya.
"Kami telah saling terpisah. Jisung tak lagi di Negara ini dan Jeongin masih melanjutkan Sekolahnya. Sementara Hyunjin, ia pindah Sekolah dan kami jarang sekali bertemu," jelas Minho. Kemudian Lelaki cantik itu berganti menatap Changbin yang masih betah berdiri di samping sang Hyung.
"Dan kumohon padamu, Changbin. Jangan balaskan dendammu pada Hyunjin. Ia tidak sekuat penampilannya. Kuharap kau bisa mengerti dan memaafkan kesalahan kami terhadap kalian," pinta Minho.
Changbin membungkam bibirnya rapat-rapat ketika ia mendengar nama Hyunjin disebutkan. Entah kenapa, ia teringat oleh kejadian semalam saat dirinya yang menolong Hyunjin dan berakhir dengan mereka yang berciuman mesra.
Memang ciuman itu tidak berlangsung lama, karena setelahnya Changbin memanggil Taxi untuk mengantarkan Hyunjin ke Klinik, lalu memulangkan Lelaki itu ke alamat yang tertera pada kartu pelajar milik Hyunjin.
Ia pun tidak yakin, jika Hyunjin menyadari apa yang mereka lakukan semalam. Mengingat kondisi Hyunjin yang sedang sakit dan nyaris pingsan.
Membayangkannya, membuat Changbin mendadak canggung dan perasaan bencinya terhadap Hyunjin kian meluap.
"Aku memaafkanmu dan kedua temanmu, tetapi tidak dengan Jisung," jawab Changbin. Byungchan mengangguki ucapan sang Adik.
"Setidaknya, aku ingin mendengar langsung dari Jisung mengenai alasan kenapa ia ingin memukuliku pada saat itu," ucap Byungchan.
"Baiklah, aku akan menghubunginya untuk segera menemuimu," jawab Minho.
Tidak ingin berlama-lama di sana, Changbin beranjak menuju ke Kamarnya. Ia bahkan melupakan makan malamnya karena nafsu makannya meluap entah kemana.
Brukk!
Changbin membanting pintu Kamarnya cukup keras dan merebahkan dirinya di atas ranjang miliknya. Ia memijit pelipisnya dan menarik nafas dalam-dalam.
Bodoh! Kenapa bayangan Hyunjin menghantui pikirannya?
Juga…
Tentang ciuman itu.
Kenapa ia begitu bodoh dan memulai ciuman itu lebih dulu? Padahal sudah sangat jelas bahwa ia ingin melihat Hyunjin tersiksa. Tetapi yang ia lakukan justru sebaliknya.
Sebenarnya apa yang salah pada dirinya?
"Argh! Hwang Hyunjin… kau membuatku gila!"
.
.
.
.
.
.
To Be Continued…
.
.
.
.
.
.
If this story deserves to be appreciated, please leave a comment and vote. Thank you~
