Bab 2 : Tuan detektif dan istrinya
Sepuluh tahun kemudian...
"Selamat datang!" sahutan lantang dan terdengar ramah dari seorang pelayan wanita kepada pengunjung Cafe yang baru saja masuk. Pelayan itu sedang melayani pengunjung lain yang telah tiba terlebih dahulu, mengantarkan pesanan mereka di nampan putih berisi satu kopi panas, satu jus jeruk dan makanan penekuk mini. Cangkir kopi di atas piringan kecil ia letakan di atas meja, di depan pria berjenggot tipis dengan rambut Asia berkuncir kuda pendek tanpa poni, seperti rambut nanas, si pelayan berpikir geli.
Kemudian ia meletakan jus jeruk kemudian penekuk mini di samping kanan untuk pengunjung lainnya di satu meja ini yang duduk bertatapan muka. Pesanan milik seorang wanita bule berkuncir empat. Ada apa dengan dua pasangan dengan gaya rambut kuncir ini? Si pelayan terkikik di dalam hati karena pikirannya sendiri.
"Selamat menikmati!" selesai menempatkan pesanan, si pelayan memeluk nampan di dada dengan dua tangan. Dia juga memiringkan wajah dan memberikan senyuman lembut dan bersemangat, senyuman murni bukan senyuman bisnis.
"Semoga kalian berdua menyukai makanan dan minuman kami!" kata-kata jujur yang tersampaikan dengan baik berkat senyumannya. Dengan bersenandung riang dan pelan ia meninggalkan meja ke meja lainnya yang baru ditempati pengunjung baru datang tadi. Ia berlari dengan tidak pelan dan tidak cepat, dengan semangat, senyuman tadi masih terpasang di wajahnya.
Di belakang pelayan, pengunjung yang ia layani tadi ke arahnya, memperhatikan sosok si pelayan dengan tatapan sedikit penasaran.
"Ternyata kau juga tertarik dengan wanita itu ya, Shika-baby? Bahkan dirimu yang cuek saja bisa sama sepertiku. Luar biasa." Wanita bule yang kini memotong penekuk mininya dengan pisau tersenyum terkesan. Tapi dirinya tetap terfokus kepada garpu dan pisaunya.
"Cih!" decakan tidak rela tapi tidak bisa membantah adalah balasan dari kekasihnya. Dia membuang muka cepat dan menggaruk kepalanya kikuk.
"He~, raut wajahmu seperti maling tertangkap basah. So, tadi itu reflek karena rasa penasaran yang besar, ya? Kau tidak akan selalai ini dalam memata-matai seseorang, My Darling Detective!"
"Tentang pelayan itu, sulit sekali menemukan orang seperti dia akhir-akhir ini. Dia selalu mempunyai Mood bagus setiap harinya." Pujinya.
"Hm.. Rambutnya merah muda, ini bukan Cafe cosplay, kan?"
"Bukan. Itu rambut asli, kok."
"Masa?"
"Penyelidikanku selama hampir seminggu ini tidak akan salah!"
"Hm.. Begitu? Ceria dan ramah..
Selalu mempunyai mood bagus, hah?"
"Yup! I like that girl!"
"I like this Cafe because of her, now!" Tambahnya.
"Jadi, maksudmu kau menjadi penggemarnya, sekarang?" Rangkum Shikamaru.
"Kalau begitu kau seharusnya menirunya, Temari. Bukan hanya Bad Mood saja dengan mengomel-ngomel setiap hari. Kasih keringanan, minimal untuk putra kita, Shikadai."
"Berisik! Jangan ganggu mood bagusku hari ini, Shika-Honey!" Temari menyuapi potongan Pencake mini ke mulutnya. "Mmm~" Ia mendesah menikmati makanannya.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan-sebutan menjijikan itu, Temari. Kau membuatku merinding." Pengunjung pria memiringkan bibirnya dengan raut wajah 'Eww!'.
"Apa salahnya memanggil suamiku dengan sebutan sayang? Dasar kau memang tidak romantis, Shikamaru!" Temari memukul pundak Shikamaru dengan kesal tapi main-main.
"Kau lupa tujuan kita? Kita ke sini karena pekerjaan, Temari." Shikamaru mengambil cangkir kopi dan menyeruput kopi hitamnya sedikit demi sedikit karena masih panas.
Temari melipat tangan di dadanya yang lumayan besar. Wanita ini memang bukan hanya terkesan dewasa dari sikap tapi terlihat dewasa dari penampilan luar juga, dikarenakan dia mempunyai tubuh hourglass atau tubuh yang dianggap ideal.
"Aku tidak lupa, Shikamaru. Tapi kitakan bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk berkencan juga, multitasking! Kau harus memanfaatkan segala kesempatan dalam hidupmu, tuan Detektif!" Temari menoel dahi Shikamaru kesal.
Shikamaru menepis tangan istrinya. "Hentikan, Temari! Sakit."
"Hmph! You deserve that!" Temari membuang muka.
Shikamaru memijit keningnya dan menghela nafas. "Kau terlihat dewasa dan lebih tua dariku tapi tingkahmu seperti anak-anak."
"AKU HANYA INGIN BERMANJA KEPADA SUAMIKU, APA ITU SALAH?!!" kekesalan Temari sudah mencapai puncak, dia berdiri dan menampar meja keras. Membuat semua peralatan makan di meja melompat dan gelas tinggi berisi jus jeruk terjatuh dan menggelinding ke lantai.
PRANG!
Tumpah dan pecah.
Suasana di Cafe menjadi hening.
Shikamaru tetap tenang walaupun ia terkejut, matanya melebar menatap langsung wajah istrinya yang terengah-engah setelah berteriak keras. Dia bingung kenapa istrinya sangat emosional hari ini? Apa sedang datang bulan?
Shikamaru melirik sekitarnya dan merasa risih menyadari semua pasang mata di Cafe ini tertuju pada drama heboh mereka.
"Temari, apa-apaan kau? Kau membuat kita menjadi pusat perhatian. Kita ke sini untuk pengintaian diam-diam, bukan sebaliknya!" bisik Shikmaru memberi peringatan.
"Kau hanya peduli tentang pekerjaan?!" tantang Temari, matanya melotot tajam tapi tidak bisa menyembunyikan tatapan terluka yang menahan tangis di kedua bola mata hijau-kebiruan miliknya. Shikamarupun menyadarinya dan terdiam.
Kedua pasangan suami-istri ini saling memandang satu sama lain tanpa sepatah katapun.
Shikamaru menutup matanya lelah, dia membuka lagi dengan menunjukan raut wajah menyesal.
Dia merangkul wajah rupawan istrinya dan membawa bibirnya ke bibir lain. Setelah mengatakan :
"Maafkan aku."
Shikamaru mencium Temari dengan lembut.
Temari membalas ciuman suaminya sama lembutnya.
"Mmm.." Temari menjauhkan wajah mereka berdua dan tersenyum penuh puas.
"Hm? Jangan bilang kau.."
Temari terkekeh geli melihat reaksi suaminya yang terkejut tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Hehe, walaupun kau detektif dan aku hanya sekedar ibu rumah tangga yang tag along, tapi aku masih lebih pintar darimu, tuan detektif."
Mendengar penyataan istrinya, Shikamaru menggeram frustasi karena kebodohannya.
"Grr..! Kau little devil! Kau menipuku, Temari! Kenapa juga aku sebodoh ini tertipu olehmi? Ahhh...!" Walaupun begitu, nada bicara Shikamaru hanya pasrah dan mengeluh ke diri sendiri dibandingkan marah kepada istrinya.
Membuat Temari semakin tersenyum lebar.
"Hehe!"
"Jangan ulangi lagi! Kau membuatku melakukan hal yang memalukan."
Shikamaru sadar tanpa harus menoleh, memperhatikan sekeliling. Ia bisa merasakan pandangan orang-orang semakin memperhatikan mereka, kali ini dengan tatapan selain terkejut. Ditambah cengiran jahil, wajah tersipu, dan suilan-suilan heboh. Dibarengi komentar "Cieee!" Shikamaru menutupi wajahnya yang merona, ia benar-benar malu setengah mati. Atau dia ingin mati sekarang juga karena rasa malu ini.
"Kalau bekerja bersama istri pasti selalu kacau seperti ini! Ugh..."
"Itu karena kau akhir-akhir ini selalu sibuk dengan pekerjaanmu dan kurang memperhatikanku. Rasakan!"
Sementara Shikamaru sedang kacau, Temari kembali duduk dan memangku dagu di kedua punggung tangan. Memperhatikan tingkah suaminya yang sangat menarik baginya dan lucu. Cafe masih heboh, para pelayan sibuk menangani kehebohan di Cafe dengan memperingati secara baik-baik kepada para pengunjung Cafe agar tidak bersuara keras. Semua pelayan kecuali si pelayan berambut merah muda tadi. Mata hijau daunnya memandangi kedua pasangan heboh dan romantis itu dengan pandangan saksama. Tapi di dalam pandangan itu menyiratkan suatu perasaan yang sukar dijelaskan.
Kerinduan?
Keinginan?
Iri hati?
"...aku tidak tahu." Batinnya. Bahkan dia sendiri tidak bisa mengetahui perasaan apa itu. Hanya saja dia tersenyum senang menikmati pemandangan kasih dari dua pasangan pembuat kehebohan tadi.
"Sungguh pasangan kekasih yang bahagia..." Dia bicara dalam hati lagi.
"Sungguh menghanyutkan."
Kembali ke tempat Shikamaru dan Temari.
"Bisakah kita pergi dari sini sekarang, Temari? Lagipula kita sudah tidak bisa melanjutkan pekerjaan kita sekarang." Shikamaru yang masih merona dan menyembunyikan wajahnya, kini dengan satu tangan, memohon.
"Nope~ Suasana ini terlalu menarik jadi aku tidak bisa melewatkannya." Temari yang menyeringai jahil tidak memberi ampun kepada suaminya.
"Ugh.." tidak bisa melawan istrinya. Shikamaru hanya mengerang frustasi.
"Hehe!" Temari baru menyadari kondisi jus jeruknya yang berantakan di lantai. "Oh! Pelayan! Maaf, tolong bereskan ini!" Temari mengangkat satu tangan ke arah pelayan yang melayani mereka tadi dan berteriak memanggil.
"Ah!" Si pelayan berambut merah muda keluar dari lamunan indahnya.
"Melamun? Aku masih harus bekerja!" Sakura menggeleng dibatinnya, menyegarkan kembali pikirannya.
"Baik! Mohon tunggu sebentar!" Ia selesai mencatat pesanan dari pengunjung yang ia layani kini dan memastikan pesanan benar. Setelah itu dia berlari kembali ke meja Temari dan Shikamaru.
