Main Cast

Jeon Won Woo

Kim Min Gyu

Choi Seung Cheol

Jeon Jeong Kook

Kwon Soon Young

Lee Ji Hoon

Genre(s)

Drama, Mystery, Romance, Friendship,Family, Fantasy/ Supranatural, Action.

Rated

PG-16

WARNING!

Gender Switch for Submission, Typo(s), Out Of Character, SVT-KSTAR!AU, Rate M for bad language and scene of violence, Antagonist and bad personality character for supporting story line!

Disclaimer

Of All this, just the plot and the storyline of mine. I don't take advantage anything from this fanfiction. Criticsm and suggestion I receive, but with polite words.

XX

Mingyu merangkul Wonwoo dan mendudukannya di jok penumpang kemudian memakaikannya seatbelt. Wajahnya tenang sekali, seperti anak remaja yang kelelahan mengerjakan ujian berjam-jam dan merindukan kasurnya.

Jeonghan melirik Mingyu yang baru saja masuk ke dalam mobil.

"Dimana kalian tinggal?"

"Suseo-dong, Gangnam." Jawab Jeonghan.

Mingyu mengangguk dan menyalakan mesin mobil.

Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, Jeonghan sesekali melirik Wonwoo dan Jungkook di belakang.

"Kau sudah lama mengenal Jungkook?" tanya Jeonghan memecah keheningan sembari memperhatikan lelaki itu.

"Semenjak memulai awal kuliah." Jawabnya.

"Kalian satu program?"

"Tidak."

"Satu Departement?"

"Aku bahkan berbeda fakultas dengannya, hanya tidak sengaja bertemu."

Jeonghan mengangguk-angguk. Ia pikir, Mingyu tidak begitu tertarik menceritakan tentang dirinya untuk pertama kali pada orang asing.

"Apa kau berkencan?" kali ini Jeonghan menumpu kepalanya pada kepalan tangan dan melihat Mingyu penuh- ia malah bertanya yang lebih menjurus pada hal pribadi.

Mingyu melirik dan menggeleng.

"Aku tidak suka buang-buang waktu untuk pacaran."

Jeonghan memandang Mingyu dengan malas.

"Kau hidup di jaman milenum! Hey masa punya pemikiran kolot seperti itu." Jeonghan mengira, anak-anak seumuran Mingyu dan Jungkook itu saat-saatnya mencari pasangan. Untuk memberi semangat di awal-awal pekerjaan akan dimulai itu sangat penting.

Mingyu menahan tawanya kemudian menjawab.

"Pacaran itu hanya buang-buang waktu. Seperti hyung-ku, selalu di recoki dengan bocah itu bukan? Padahal kalau tidak punya pacar kita bisa bebas melakukan hal apapun yang diinginkan."

Gadis di sampingnya menyenderkan punggung pada jok mobil lalu mengibaskan tangannya.

"Primitive, sangat primitive." Komentar Jeonghan.

Apanya yang direcoki? Jeonghan ingin sekali berkencan. Namun sayang, belum menjadi kenyataan untuknya hingga saat ini. Yang mendekat banyak, tapi yang ingin Jeonghan dekati hanya satu.

"Kau bahkan tidak bisa menilai sesuatu dengan sekali pandang."

Alis Jeonghan bertaut, dan menggerakan bola matanya ke sudut.

"Apa?"

Pemuda itu menggerakan kepalanya membalas kerlingan Jeonghan.

"Seperti orang yang melakukan sex pertama kali, tapi dia sudah sangat ahli. Seolah pengalamannya itu luar biasa, padahal sebelumnya dia tidak pernah buang-buang waktu untuk melakukannya dengan mengencani orang lain. Tapi saat pertama kali melakukan langsung seperti sexgoals."

Mulut Jeonghan menganga ia langsung terduduk tegap.

"Kau membuat teori itu dari mana? Astaga! Sebuah relationship dengan sex itu benar-benar hal yang berbeda." Dia menaikan tangannya di sisi tubuh Mingyu.

Mingyu menginjak rem, dan menoleh dengan sudut bibir yang terangkat.

"Siapa yang sekarang primitive?"

"Heol."

Terkena jebakan Kim Mingyu ternyata.

.

.

.

Jungkook mengusak-usak rambutnya dengan gusar.

"Yak! Makan itu Jeon Jungkook, aku sudah bangun pagi dan membuatkan kau dan kakakmu itu sup touge sebelum aku berangkat."

Jeonghan memakai aksesorisnya sembari menatap layar kaca. Matanya melirik tangga beberapa kali.

"Astaga, Wonwoo belum juga bangun?"

Alih-alih menjawab pertanyaan retorik Jeonghan, Jungkook mengeluhkan hal lain.

"Eonnie…aku bisa dimarahi karena mabuk. Pasti Mingyu akan melaporkannya ke oppa," rengek Jungkook, Jeonghan menarik kursi di depan Jungkook dan memakan roti selai kacangnya.

"Aku rasa tidak," dia ingat dengan pembicaraanya bersama Kim Mingyu semalam di mobil. Jadi, sepertinya tidak mungkin Mingyu akan melaporkan masalah se-sepele itu. Mingyu terlalu open minded dan dewasa untuk melakukan hal konyol semacam membuat kakak dan pacar sang kakak bertengkar.

Mereka berdua menoleh ketika derit kursi yang ditarik dan wajah suntuk Wonwoo yang membalas menatap mereka berdua. Tangan Wonwoo menggapai teko dan menuangkan air ke dalam gelas lalu menegukya hingga habis.

"Berapa botol aku minum semalam?" tanya Wonwoo.

Jeonghan mengeluarkan lima jarinya.

Wonwoo mendengus.

"Baru segitu dan aku sudah mual-mual."

Wonwoo menarik mangkuk dan mengambil sendok serta sumpit lalu memakan sarapannya.

Jungkook tiba-tiba mencondongkan tubuhnya.

"Eonnie, kau putus dengan Seungcheol oppa?"

"UHUK!"

Kepala Jeonghan langsung mundur beberapa senti.

"Ya, Jeon Wonwoo. Jorok sekali." Jeonghan langsung mengambil kotak tissue dan mengopernya ke Wonwoo.

Wonwoo buru-buru minum dan menepuk-nepuk dadanya. Dia menghembuskan napasnya pelan-pelan.

"Tidak!" jawab Wonwoo tegas. Tapi, matanya menoleh ke arah Jeonghan.

"Kenapa? Apa kau menuduhku membocorkannya?"

Jungkook menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dan menunjuk Jeonghan.

"Bukan Jeonghan eonnie yang bilang, tapi kau sendiri."

Tangan Wonwoo yang sedang mengelap bekas semburannya terhenti.

"EH?" wajahnya mengeluarkan mimik kaget.

"Kau tidak ingat?"

Refleks Wonwoo langsung menutup setengah wajahnya, Jeonghan dan Jungkook saling adu pandang.

"B-berati temanmu juga tahu?"

"Siapa? Kim Mingyu?"

Wonwoo mengangguk.

"Tentu. dia disana juga 'kan?" jawab Jungkook sekaligus memastikan terhadap Jeonghan yang satu-satunya tersadar dan berada bersama mereka sekarang.

"Habislah image ku." Lirih Wonwoo.

Jungkook mengernyap, dia mengeluarkan telunjuknya.

"Pertama, dia baru tahu eonnie tadi malam—" dia mengeluarkan jari tengahnya, "yang ke dua, Mingyu bahkan bukan wartawan, fans atau peduli dengan hal-hal begitu—" lalu dia mengangkat jari manisnya, "dan yang ke tiga, berhenti bereaksi seolah-olah semua memperhatikan eonnie dan mengomentari apa yang terjadi denganmu."

Perlahan tangan Wonwoo yang menutupi setengah wajahnya turun dan menatap Jungkook yang tengah menegak airnya.

"Aku mau mandi dulu, Aku ada jam pagi," dan gadis itu berlalu dari sana.

Jungkook mengepalkan tangannya dan raut wajahnya berubah menjadi gelisah dengan segera.

'Bodoh, aku kenapa tiba-tiba bicara begitu?' Batin Jungkook.

Ia menggeleng.

'Ah tidak tahu!' Jungkook langsung melesat masuk ke dalam kamarnya.

Jeonghan mengambil tasnya dan tersenyum gugup, bingung ingin berbicara apa, jadi dia memilih kabur saja, dari pada terkena semprot Wonwoo.

"Aku pergi dulu ya, Woo. Sampai ketemu nanti."

Gadis itu tidak menjawab ucapan Yoon Jeonghan. Ia hanya menatap gelas kosong yang isinya baru saja di habisi Jungkook. Dia terkekeh paksa kecil-kecil lalu tertawa lebar dengan sangat geli.

"Apa yang dia maksud? Semua memperhatikanku?"

Jeonghan yang sudah berada di luar pintu meringis.

'Apa yang dipikirkan Jungkook, berbicara begitu ke Wonwoo pagi-pagi?'

-0-

Cuaca begitu sejuk—peralihan dari musim panas ke musim gugur. Di bawah pohon pinus besar, Mingyu duduk di salah satu bangku kayu, membaca buku tebalnya dengan serius, sambil sesekali memasukan bekal yang ia buat sendiri ke dalam mulut.

"MINGYU-YAA!"

Mingyu memiringkan tubuhnya, membelakangi seseorang yang baru saja meneriakkan namanya dengan begitu nyaring, dan berlari lalu menubruknya pelan.

"Ya, Kim Mingyu, kau seharusnya menyambut calon kakak iparmu ini." Jungkook merapikan rambutnya dan matanya langsung berbinar saat melihat makanan laut di kotak bekal Mingyu.

"Calon kakak ipar pantatmu," gumam Mingyu tanpa menoleh.

Ya, dia tidak menyuarakan ini sih, tapi ia belum rela kalau Kim Taehyung menikahi gadis semacam Jeon Jungkook. Jungkook memang terlihat sempurna dari mata lelaki normal- tapi kalau sudah dekat dengannya- Jungkook juga semacam anjing gila- lebih bulus dari pada Jeon Wonwoo.

Kalau Wonwoo itu tersurat, Jungkook itu tersirat.

Dia mengedipkan matanya, menusuk-nusuk lengan Mingyu.

"Aku mau ya….satu saja."

"Tidak, Aku tidak sarapan pagi ini."

"Aku juga hanya makan sedikit!"

"Itu salahmu."

"Heol! Bagaimana sikapmu bisa setega ini dengan calon kak—" Sebelum Jeon Jungkook menjadi keran bocor, berisik, merengek dan menganggu. Mingyu menyumpalnya dengan ikan salmon penuh ke dalam mulut gadis itu.

Pipi Jungkook langsung menggembung dan mengunyah dengan semangat makanannya.

Dia mengeluarkan jempolnya.

"Enak!" seru Jungkook ketika makanannya tertelan.

"Ada apa kau ke sini?" tanya Mingyu, Jungkook mengedepankan tangannya; mengintruksi Mingyu untuk menunggunya beberapa saat, karena Jungkook mengambil alih kotak bekal Mingyu dan mulai menikmatinya.

Mingyu hanya mendengus kecil dan membuka botol minum dan menegaknya hingga se-per-empat.

Dengan mulut penuh Jungkook membuka mulutnya.

"Khau, thidhak hihang ke Tae oppa khan?" (re; Kau, tidak bilang ke Tae oppa kan?).

"Ya, yak. Habiskan dulu yang ada di dalam mulutmu."

Baru Jungkook ingin berbicara lagi, tapi tiga orang gadis datang dan membungkuk.

"Annyeong!, Kau Kim Mingyu sunbae-nim dari department Arsitektur 'kan? Yang seminggu lalu baru saja memenangkan lomba design international yang di adakan di Austria?"

"Hah?" itu respon Mingyu, tapi Jungkook malah tetap asyik makan dan melihat antara Mingyu dan juniornya itu sambil mengedip-ngedip.

"Ya, kau. Aku rasa Kim Mingyu itu laki-laki." Ujar salah satu gadis berambut panjang yang diikat kuda.

"Ey, kalian salah dapat berita mungkin. Nama ku, Lee Seokmin," jawab Mingyu sembari tersenyum memaklumi atas kesalahan salah mengenali orang lain.

"Aku Lee Seokmin-" rapalnya.

Tiga junior itu saling melirik dan memandang satu sama lain. Jungkook hanya diam saja, ia ingin menahan tawa—pasalnya, akting Mingyu buruk sekali.

Pemuda Kim itu cepat-cepat membereskan barang-barangnya dan melirik Jungkook.

"Ya, kau sudah selesai makannya? Kalau belum habiskan dan bawa itu nanti—pastikan kau cuci."

Jungkook mengiyakan sambil menyahut.

"Ya, Lee Seokmin."

"Lalu yang bernama Kim Mingyu yang mana ya sunbaenim?" tanya mereka, Mingyu bangkit dari duduknya.

"Ah, dia punya wajah yang bersinar dan terlihat selalu tersenyum like an idiot," Mingyu memutar jemarinya di depan wajahnya sendiri untuk meimprovisasikan sesuatu yang bercahaya.

Baru beberapa langkah Mingyu pergi, Jungkook tiba-tiba berseru.

"Yak! Kim Mingyu kartu mahasiswamu terjatuh!"

"Dasar Jeon bodoh."

Aksi menghindarnya pun gagal total.

.

Mingyu tersenyum di depan kamera dengan rahang yang kaku. Dia tidak suka di ekspos dalam bentuk apapun. Termasuk menjadi objek di artikel majalah kampusnya.

Terlebih di depan kamera, di photo sebagai dokumentasi atau di wawancarai. Obsidiannya menatap Jungkook yang tersenyum hingga gigi kelinci nya terlihat- sangat silau, yang sedang berdiri sepuluh meter di depannya. Mingyu mulai berpikir bayaran karena si Jeon bodoh menghancurkannya.

Jungkook memiringkan kepalanya lalu mengangkat tangan; membentuk persegi panjang dengan ibu jari serta telunjuknya. Ia menyipitkan mata dan melihat Mingyu berada dalam persegi tangannya.

Wajahnya langsung benderang, seolah menemukan permata putih- kalau dalam masalah Mingyu lebih cocok disebut- ekhm, Black Pearl mungkin? di antara hamparan pasir.

"Terima Kasih Sunbaenim."

"Ya-sama sama," jawab Mingyu tanpa minat.

Salah satu dari mereka berujar.

"Akan kupastikan wajahmu akan terlihat sangat baik di cover majalah sunbae-nim!"

"Sungguh! Kau punya aura seorang model, Sunbae-nim!" kata yang lain.

"Iya! Kau memiliki wajah yang tampan dan postur tubuh yang ideal," sahut satu dan yang lainnya, Jungkook menyelip diantara ketiga juniornya itu lalu mengibaskan rambutnya, dia berdeham.

"Tidak ada yang ingin mengucapkan terima kasih padaku eoh?"

Mingyu menarik sudut bibirnya dan menggeleng.

'Apa yang ia pikirkan sekarang?'

Tidak ada yang bereaksi, Jungkook berdeham sekali lagi.

"Jika aku tidak memanggil dia dengan Kim Mingyu tadi, kalian tidak akan tahu kalau dia benar-benar Kim Mingyu, bukan?" Jungkook memiringkan sedikit kepalanya dan mengangkat tangan dan meniup-niup kuku-kukunya yang dipoles dengan kutex bening.

Ketiga adik tingkatnya itu langsung buru-buru membungkukan badan, saat paham apa yang dimaksud senior mereka.

Mingyu menggeleng tidak paham dengan otak Jungkook dan beranjak dari sana.

"Eh? Kim Mingyu tunggu!" Jungkook lekas mengejar Mingyu dan suara junior mereka masih terdengar sampai ke ujung koridor dengan mengucapkan 'Terima kasih sekali lagi Sunbaen-nim'

Jungkook memperbesar langkahnya untuk menyamakan dengan kaki Mingyu.

"Ya-ya! Jangan jalan buru-buru!"

Mingyu tak menghiraukannya.

"Kau tahu? Aku baru saja menemukan solusiku atas model yang akan ku pergunakan."

"Itu bagus," sahut Kim Mingyu, "lagi pula, Ini Korea Selatan. Kau bisa menemukan model di mana pun di jaman internet seperti sekarang," lanjutnya tanpa menoleh barang sedikitpun ke arah Jeon Jungkook.

"Nah! Aku setuju! dan—" Jungkook buru-buru melesat ke depan Mingyu lalu merentangkan tangannya, membuat langkah Mingyu terhenti dan mengerjap melihat kekasih sang kakaknya ini.

Jemari Jungkook menunjuk Mingyu dengan penuh semangat.

"Dan kau akan menjadi model JH Group!"

Mingyu tertawa seketika.

"HAHAHHAHAHA! Apa yang kau bicarakan?" Mingyu tertawa sesaat sebelum berucap dengan sarkastik.

Lelaki itu mendorong lengan Jungkook dan melewatinya begitu saja tanpa merespon lebih dari sekadar gurauan Jungkook.

Jungkook mengerucutkan bibirnya dan menoleh lalu kembali mengejar Mingyu.

"Aku serius!"

"Aku yang tidak serius."

"Ya Kim Mingyu."

"Kau bisa cari orang lain menjadi tumbal, Taehyung hyung juga tak apa asal jangan aku."

"Kau itu sangat cocok menurutku!" Jungkook menarik tangan Mingyu, beberapa orang yang berada di koridor menatapi Mingyu dan Jungkook.

"Tolong aku, aku mohon." Jungkook menangkupkan tangannya kemudian mengusap-usapnya, membuat ekspresi untuk dikasihani.

Hal itu tidak akan ampuh untuk Kim Mingyu, dia bukan Kim Taehyung yang akan bertekuk lutut jika melihat ekspresi Jeon Jungkook saat ini.

Mingyu melirik Jungkook dan menginterupsinya untuk melepaskan tangannya tapi Jungkook menggeleng.

"Lepaskan."

"Tidak mau!" Jungkook memeluk lengan Mingyu dengan sangat erat, matanya berkalap-kelip.

Mingyu berusaha melepaskan pelukan tangan Jungkook yang seolah diberikan lem di lengannya.

"Bilang iya dulu!"

"Aku tidak mau. Kau belum membayarku dengan yang semalam."

"Aku traktir double!"

"Tidak mau!" jawab Mingyu tegas.

Jungkook melepaskan pelukannya dari lengan Mingyu dan menatap pemuda yang lebih tinggi darinya itu sambil mengangkat dagu.

"Kau bisa dapat banyak uang dari hanya di potret."

"Aku tidak butuh."

"Kau butuh."

"Aku—"

Jungkook menyela sambil memandangi Mingyu.

"Kau butuh untuk biaya rumah sakit Chan."

Gadis itu melirik arloji di pergelangan tangannya.

"Aku tunggu jawabannya paling lambat besok malam! Pikirkan baik-baik!"

Ia berlari dari sana; sebelum Mingyu bereaksi apapun, meninggalkan Mingyu yang mematung, bahkan tanpa memikirkan efeknya untuk Kim Mingyu atas apa yang ia ucapkan barusan.

Bola mata Mingyu melihat ke satu titik lantai koridor yang bewarna putih krem.

"Jeon Jungkook," gerutunya.

-0-

Seungcheol menggulung lengan kemejanya sampai sikut. Matanya serius sekali menatap bola di antara kaki-kaki kecil para pemain bola mini di atas meja. Ia melebarkan kakinya dan menggerakan besi yang mencuat dari ujung-ujung meja dengan semangat.

Suara bising langsung memenuhi ruangan dengan nuansa hip-hop itu.

"Hyung, kau sudah menanyakan jadwal pemotretan ku untuk JH Group kepada Jeon Jungkook atau Boo Seungkwan?" tanya Seungcheol tanpa menolehkan kepalanya.

"Ah, aku belum menyampaikan kepadamu ya?"

Seungcheol melirik dari sudut matanya.

"Apa yang tidak kau sampaikan?" lirik kepada manajernya itu.

Lelaki yang dua tahun lebih tua dari Seungcheol menyahut.

"Mereka mengganti dirimu dengan model lain."

Choi Seungcheol menghentikan permainan foosball tunggalnya dan beralih pada manajernya yang sedang memainkan game di ponselnya dengan asyik.

"Bagaimana bisa?" tanya Seungcheol.

"Tentu bisa," kata Aaron pendek. Seungcheol menarik ponsel yang berada di tangan Aaron dan menatapnya.

Membuat manajernya itu mendongak.

"Apa?"

"Aku tidak melakukan kesalahan apapun."

Aaron bangkit sedikit dari duduknya dan merebut ponselnya kembali.

"Ingat, kau punya hubungan dengan siapa?"

"Jeon Wonwoo?"

Aaron memberikan ekspresi.

'Ya, memang siapa lagi?' dari caranya memandang Seungcheol.

Seungcheol menarik kursinya.

"Tapikan, Dia tidak bisa mencampurkan hal pribadi dan pekerjaan. Dimana professionalnya dia?" gusarnya, mengingat mantan kekasihnya yang baru ia campakan lusa lalu.

"Kau tahu siapa Jeon Wonwoo? Dia tidak toleran dengan pribadi ataupun tidak. Semuanya dipukul sama rata," ucap Aaron yang memainkan kembali ponselnya.

"Lagi pula, masih banyak job yang akan datang menghampirimu Cheol. Tenang saja," sambung Aaron, ia beralih pada kertas-kertasnya, "kau masih punya lima belas pemotretan dan dua judul drama yang harus kau mainkan hingga akhir tahun."

Lalu dia melemparkan kembali papan dan kertas-kertas jadwal artisnya itu.

"Aku masalah dengan yang satu ini."

Seungcheol berdiri dan bergegas pergi dari kamarnya sendiri. Membuat Aaron terduduk tegap.

"Yak! Choi Seungcheol kau mau ke mana?!"

.

.

Wonwoo sedang mengitari para bawahannya yang berkerja dan terlihat begitu sibuk dan serius. Di dalam hati, Wonwoo sudah kesal setengah mati, jelas-jelas tadi mereka membicarakannya dan sangat ribut tapi saat Wonwoo keluar, semuanya seolah sudah begitu sejak tadi. Tenang dan khusyuk.

"Kau tidak boleh masuk tuan."

"Akan ku pastikan kalian tidak dipecat setelah ini."

Dan para tim keamaanan itu menurutinya begitu saja.

Derap langkah kaki yang terburu-buru dan cukup banyak membuat Wonwoo menoleh, menunggu beberapa saat hingga seseorang membuka pintu dan mengedarkan pandangannya. Mata Wonwoo membulat sempurna dan dia langsung membalikan tubuhnya. Berjalan cepat ke arah ruangannya yang berada di ujung lorong.

"Jeon Wonwoo!"

Sontak, langkah Wonwoo langsung terhenti.

"Mau kemana hm?" Seungcheol memutar tubuh mantan kekasihnya itu. Wonwoo berusaha agar ekspresinya tidak terkejut dan tetap tenang.

Hubungannya dengan Seungcheol sudah menjadi rahasia publik dan hubungan mereka yang seperti tali; renggang, terlalu kencang lalu putus kemudian kembali tersambung, renggang lagi dan selalu seperti itu sejak lima tahun lalu.

Seungcheol sudah menjadi public figure sejak umurnya belasan dan dia memiliki fans yang loyal. Jadi, saat hubungannya diketahui oleh publik—sebagian mendukung dan sebagiannya tidak. Padahal sudah lima tahun pacaran, tapi Wonwoo masih saja suka mendapat terroran dari penggemar Seungcheol.

Seperti tadi pagi saat dia membuka pintu dan mendapatkan boneka berdarah. Kalau dijadikan koleksi sudah jadi tiga rak, mungkin.

Semua mata tertuju pada dua orang di sana, Wonwoo menatap Seungcheol dan perlahan melipat tangannya di dada.

"Ada apa? Kau tidak lihat aku sedang berkerja? Dan kau baru saja menerobos masuk ke dalam kantor orang lain."

Seungcheol menaruh kedua tangannya di pinggang dan menghela napasnya, ia tersenyum sesaat sebelum senyumannya sirna.

"Seharusnya kau bisa membedakan yang mana privacy dan yang mana pekerjaan, Jeon Wonwoo-ssi."

Wonwoo tahu arah pembicaraan ini, dia memiringkan kepalanya sembari manggut-manggut.

"Bukankah Choi Seungcheol sudah memiliki banyak job?"

Lelaki kelahiran Daegu itu mendengus; menahan amarahnya.

"Ini bukan masalah aku mendapatkan banyak job atau tidak, tapi ini soal professional mu sebagai pemimpin."

Wanita itu mengedikan bahunya, dia membalikan badannya dan berujar.

"Silahkan ke ruangan ku Scoups-ssi."

Seungcheol menghembuskan napasnya dengan kencang dan membututi Jeon Wonwoo ke ruangannya. Setelah dua orang itu melenggang dari sana, semua karyawan yang baru saja menyaksikan langsung heboh seketika.

"Sudah kutebak! Mereka bertengkar lagi!"

"Ya! YA! Ayo kita buat taruhan! Kwon Soonyoung! Kau mau bertaruh berapa untuk mereka kembali?"

"Lima puluh delapan ribu won! Untuk saling bersama." Soonyoung menaruh uang nya di atas meja Jung Wheein dengan sangat yakin.

Jung Wheein mengeluarkan uangnya dari dompet.

"Enam puluh ribu won untuk over!" dia menumpuk uangnya di atas uang Soonyoung.

"Empat puluh ribu Won untuk kembali!" seru Doyoung.

"Tiga puluh ribu Won untuk usai!"

Dan, begitulah— seperti opera yang sudah ditonton berulang kali, bahkan terakhir kali Wonwoo dan Seungcheol bertengkar, Soonyoung mendapat uang Seratus dua puluh ribu Won dari taruhan itu.

Jadi, dengan penuh percaya diri dia menambahkan tiga puluh ribu won lagi ke atas meja Jung Wheein.

Suara-suara bising, yang membuat Wonwoo dan Seungcheol dijadikan objek bahkan menjadi bahan taruhan terdengar begitu jelas di telinga Wonwoo, dan ia semakin geram saja hari itu.

Iris matanya kembali menyorot lelaki yang dua tahun diatasnya ini.

"Sudah kubilang, itu hak ku tentu saja untuk menyetujuinya apa tidak."

Wonwoo menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga.

"Aku tidak punya waktu untuk terus dalam mainan mu Seungcheol-ssi."

Choi Seungcheol terkekeh.

"Apa maksudmu?"

Wonwoo duduk di kursinya dan menaikan satu alisnya.

"Tentu ini taktikmu untuk kembali bersamaku. Sudah usai kau memikirkan bahwa tindakanmu salah beberapa hari padaku eh?"

Seungcheol memandang sinis dan gerah akan sikap mantan kekasihnya itu.

"Dengarkan aku," jeda sesaat, "aku ke sini untuk menuntut mu, Direktur Jeon sebagai pemimpin untuk bekerja lebih professional dan aku tidak akan kembali padamu."

Mata Wonwoo yang tajam tidak goyah dengan intimidasi yang sedang dilakukan Seungcheol, lelaki itu pergi dari sana dengan tubuh yang tegang. Wonwoo mengedarkan matanya.

"Kita tunggu satu minggu setelah ini Choi Seungcheol, jangan sampai aku menemukamu berlutut di depan rumah ku lagi."

"Kalian tebak, apa lagi yang terjadi dengan Direktur Jeon kali ini?"

"Pasti Scoups muak dengan kelakuannya!"

"Hei! Kau! Lee Taeyong! Asisten Manajer! Coba kutanya, kalau kau punya kekasih semacam Direktur Jeon bagaimana?"

"Mungkin aku akan memutuskan kurang dari dua puluh empat jam."

"HAHAHAHAHHA!—"

"Bukankah ini waktunya kalian mengejar deadline?"

"Ah, nde Direktur Jeon."

Semua langsung tenggelam ke dalam pekerjaannya lagi saat Wonwoo mendadak muncul seperti hantu di depan bilik Kang Seulgi dan menaruh tangannya di atas sana.

"Kwon Soonyoung, kau bisa keruangku sekarang juga?"

Wonwoo melirik Soonyoung yang mejanya hanya berjarak tiga kaki dari milik Kang Seulgi.

Soonyoung terpengarah.

"Eh? S-saya Direktur?"

"Apa disini ada yang bernama Kwon Soonyoung selain dirimu?" Soonyoung menggeleng dan menegak salivanya susah payah.

Kang Seulgi yang berada tepat di depan Jeon Wonwoo menunduk dalam-dalam, merasa aura atasannya itu benar-benar suram.

'Semoga Kwon Soonyoung selamat.' batinnya.

-0-

Buku-buku yang seperti serpihan kayu yang diserut, tidak ada habisnya, datang lagi dan lagi. Mingyu mendorong trolley yang berisikan buku-buku yang baru saja selesai di tandai dan harus ia rapikan ke dalam rak-rak yang sudah diberi kode.

Menaiki tangga atau terjatuh dan terkena marah jika menyebabkan kegaduhan.

Setelah pulang dari sana, Mingyu harus datang ke pom bensin dan melayani orang-orang dengan membungkuk dan mengisi tangki-tangki kendaraan mereka. Belum jika yang mengisi adalah orang orang angkuh dengan kendaraan roda empat mereka yang berharga ratusan hingga milyaran won.

Lepas dari pom bensin, Mingyu datang ke café dan menjadi seorang pelayan. Berlari sana-sini untuk mengantarkan pesanan dan membersihkan piring-piring yang telah disantap habis.

Lalu dia akan mengunjungi bioskop, bukan untuk menonton dan melepaskan kepenatan yang ia lakukan seharian. Akan tetapi, Kim Mingyu menjadi seorang pemeriksa tiket dan sering kali disuruh membersihkan studio yang usai digunakan untuk di pakai kembali.

Tepat jam delapan malam lebih se-per-empat, Mingyu menuju hotel di kawasan Hongdae; lagi-lagi bukan menjadi seorang pengunjung dan menghabiskan malam di sana. Tapi Mingyu menjadi pengantar barang dan akan mendapatkan beberapa tip dari pengunjung, atau menjadi housekeeper dibeberapa kesempatan.

Kerja, kerja, kerja, kerja, dan kerja.

Perpustakaan kota, Pom Bensin, Café, Bioskop, dan Hotel.

Kim Mingyu akan melakukan kerja paruh waktunya setelah jadwal kuliahnya usai—bahkan di sela-selanya kadang Kim Mingyu mencari pekerjaan untuk menjaga minimarket dan sejenisnya.

Ia butuh biaya untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari dan membayar seperbagian iuran kuliah yang dituntut; Kim Mingyu hanya mendapatkan sebagian beasiswa, dan memaksanya membayar seperbagiannya. Tak apa dibanding tidak sama sekali.

Dan harus menabung untuk membayar tagihan rumah sakit Lee Chan, ini akhir bulan dan pihak rumah sakit menghubungi Mingyu beberapa kali untuk segera men-transfer uangnya. Dia berpikir untuk menjadi supir panggilan dan jasa pengerjaan tugas; dan akan dibayar tinggi oleh teman-temannya.

Penghasilan Kim Taehyung sebagai manajer serabutan tidak sebesar itu- iya manajer serabutan- Kim Taehyung menjadi manajer peganti dan bayarannya tidak sebesar yang diperkirakan orang lain. Memaksa Kim Mingyu untuk ikut ambil andil.

Mingyu menumpu kepalanya di atas gagang pel dan menghitung-hitung uang yang akan diterimanya bulan ini.

"Tigaratus lima puluh ribu," ia menghela napas.

"Kurang dua ratus empat puluh enam ribu." Ia mengeluarkan dompetnya dan menghitung uang yang bersarang di sana, dan mendesis.

"Ah."

Hadiah dari lomba yang ia ikuti memang banyak tapi semua sudah digunakannya untuk membayar tunggakan rumah sakit selama satu tahun dan membayar sewa di mana abu kedua orangtuanya di tempatkan.

"Permisi? Bisakah kau membersihkan penthouse ku? Terlalu banyak debu di sana." Mingyu buru-buru memasukan dompetnya kembali.

"Ya! Tentu," saat dia mengangkat kepalanya, pandangan mereka saling bertukar.

Wanita itu menunjuk Mingyu dengan mata yang terbuka sedikit lebih lebar.

"Eoh? Adiknya Kim Taehyung 'kan?"

Salah satu yang mengesalkan dari pekerjaan paruh waktu adalah bertemu dengan orang-orang yang kau kenal. Itu tidak masalah sebenarnya, jika saja mereka tidak membicarakan ataupun mengolok-oloknya di belakang, memangnya hina apa mengerjakan pekerjaan seperti ini? Dia tidak mencuri.

Mingyu tersenyum paksa.

"Ya, saya adiknya Kim Taehyung."

Wanita itu mengangguk dan menunjukan letak penthousenya, Mingyu menghembuskan napas gusar.

"Jadi kau pekerja di hotel ini. Kenapa aku baru melihatmu ya?"

Mingyu membersihkan ruangan itu dengan senyuman palsu.

"Ku kira anda tinggal di daerah Gangnam," alih-alih menjawabnya, Ia menyahutinya dengan hal lain.

Wonwoo memperhatikan Mingyu dan mengangguk.

"Iya, tapi disana aku tinggal bertiga," dia berdiri dan memperhatikan beberapa bagian yang masih menumpuk debu, "di sini juga." tunjuknya, Mingyu mengangguk patuh.

"Tapi aku sedang malas di rumah. Jadi ini sebagai tempat pelarianku." Mingyu tidak menanggapinya dan terus mengerjakan pekerjaannya.

"Apa kau tidak pergi kuliah?"

Mulut Mingyu mengeryap, enggan menjawab, tapi karena Wonwoo begitu cerewet dan merepet ke mana mana, Mingyu pada akhirnya menjawab.

"Aku pergi ke Universitas Seoul dan akan segera lulus dari sana."

'Dan akan berhenti dari semua pekerjaan ini, mendapatkan pekerjaan yang bagus, menghasilkan uang dan membuat Chan segera sembuh. Tunggu saj,.' lanjutnya di dalam hati.

Wonwoo nampak terkesan.

"Woah, jadi, kenapa kau berakhir di sini, menggunakan seragam itu dan—"

Mingyu menegapkan tubuhnya dan menatap Wonwoo. Sedikit heran dengan wanita itu. Apa Jeon Wonwoo memiliki bipolar disorder? Sikapnya 180 derajat sangat berbeda dengan tempo hari. Benar-benar beda, err- bisa dilihat Jeon Wonwoo lebih manusia dan saat ini sangat terlihat mirip dengan Jeon Jungkook.

Apa Jeon bersaudara ini memang memiliki sifat seperti itu?.

"Aku rasa kita di sini hanya sebagai pelayan dan pengunjung. Jika kau menanyakan hal-hal seperti itu sebaiknya tunggu ketika aku selesai dengan pekerjaanku."

Dengan ucapan itu, Wonwoo lantas mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan hanya memperhatikan Kim Mingyu yang dengan telaten membersihkan penthousenya selama dua puluh menit ke depan.

"Sudah saya selesaikan, Nona Jeon Wonwoo." Ucap Mingyu dan mendorong trolley peralatannya keluar penthouse Wonwoo.

Wonwoo berdiri di ambang pintu.

"Tolong buka app—"

Wonwoo dengan cepat menyela.

"Hotel, masukan id saya yang bla-bla-bla dan berikan rating yang menurut anda sesuai dengan pekerjaan saya, Nyonya, Tuan, atau Nona." Wonwoo melipat tangannya di dada dan memandangi Mingyu.

Kim Mingyu mengangguk.

"Jadi berapa ID pekerja mu?"

"2004-67-39," jawab Mingyu.

Wonwoo mengeluarkan ponselnya dan log-in ke aplikasi hotel lalu memijit untuk rating service, ia memasukan ID Mingyu dan setelah beberapa saat laman profile Mingyu keluar, dia menekan seluruh bintang yang ada dan menunjukannya pada Mingyu.

"Lima bintang untukmu." Wonwoo mengedikan bahunya, bermaksud agar Mingyu paham apa yang baru saja ia lakukan itu bukanlah apa-apa.

Mingyu membungkukan tubuhnya beberapa senti. Saat beberapa orang lelaki menggunakan pakaian serba hitam dengan gerak-gerik mencurigakan masuk ke penthouse diseberang tempat Wonwoo. Kelopak mata Wonwoo mengerjap.

"Kau, Kim Mingyu—kapan kerja paruh waktumu selesai?" Mingyu menoleh kebelakang bahunya, pasalnya Wonwoo berbicara padanya tapi matanya menatap tempat lain.

"Sedikit La— Ya! Apa yang kau lakukan?" belum usai dengan kalimatnya, tubuh Mingyu sudah ditarik Wonwoo kedalam penthouse dan kakinya melangkah masuk ke dalam kamar.

Mingyu melepaskan tangan Wonwoo dan memandanginya penuh curiga.

"Kenapa kau menarik ku masuk ke dalam kamarmu?"

Wonwoo menatap Mingyu tajam dan menyuruhnya diam. Mingyu melotot dan membuka mulutnya.

'Apa semua Jeon itu tidak bisa ditebak akal sehatnya?' pikir Mingyu.

Gadis itu mengendap ke bagian dinding dan menempelkan telinganya di sana.

Mingyu membalikan tubuhnya hendak keluar tapi Wonwoo menariknya lagi.

"Apa?!" seru Mingyu.

Bagaimana Wonwoo akan menjelaskannya? Dia mondar-mondir dengan gelisah di depan Mingyu dan membuat Mingyu memasang wajah malas ke arah kakak temannya itu.

"Jadi begini—" jeda sesaat, "seminggu lalu aku juga kes ini, dan aku mendengar suara mencurigakan dari penthouse di seberang sana! D-dan karena terlalu takut jadi aku pergi."

Kim Mingyu masih dengan wajah malas dan menuntut Jeon Wonwoo untuk mejelaskan lebih.

"Aku rasa ada sesuatu yang tidak beres di kamar itu."

Pemuda itu menghembuskan napasnya dengan berat.

"Nona Jeon Wonwoo. Suara aneh terdengar di kamar-kamar hotel adalah hal yang biasa dan ingin tahu privacy orang lain bukanlah hal yang sopan."

"Apa itu kebiasaan mu? Ingin mengetahui privacy orang lain?" tambahnya.

Wonwoo memandang Kim Mingyu tidak suka.

"Tapi aku yakin!" Wonwoo bersikukuh dengan apa yang didengarnya.

"Kau gila! Seharusnya kau tidak melakukannya disini!"

"Ini tempat yang cukup aman."

"Tapi, bagaimana bisa kita mengeluarkannya tanpa terkena cctv!"

Jeon Wonwoo menoleh ke arah Mingyu dan Mingyu mengerutkan keningnya.

"Apa?"

Ditaruhnya jari di bibir, Wonwoo mengintrupsi Mingyu agar membungkam bibirnya; tidak bersuara. Merasa meladeni Jeon Wonwoo lama-lama hanya akan menambahkan beban pikiran, Mingyu beranjak dari tempatnya.

"Bagaimana dengan mutilasi? Kita bisa membawanya di dalam tas dan tidak akan terperangkap cctv?"

Mata Wonwoo membulat penuh, dia segera menarik Mingyu untuk duduk.

"Kau kenapa sih?" seru Mingyu kesal. Dia menatap Mingyu dengan sedikit gemetar.

"K-kau pernah membersihkan penthouse diseberang?" tanya Wonwoo.

Mingyu menggeleng.

"Jika hanya ada yang meminta aku melakukan itu, Karena itu bukan tugasku sesungguhnya."

"Sudah berapa lama penthouse itu disewakan?"

Mingyu mengedikan bahunya.

"Aku bukan bagian administrator. Awas aku ingin melanjutkan pekerjaanku."

Mingyu bangkit dari duduknya, tapi pergelangan tangannya digenggam erat oleh Jeon Wonwoo.

"Ada apa lagi? Kau membuang waktuku nona."

"Apa kau bisa mengetuk penthouse depan dan—" Wonwoo melepaskan tangan Mingyu ia langsung berlari kecil mengambil tasnya. Dia merogoh isi tasnya, dan mendesis pelan karena tidak menemukan apa yang ia inginkan.

Mingyu memperhatikan Wonwoo, dia menuangkan seluruh isi tasnya keluar. Dan matanya terlihat senang saat menemukan sesuatu.

"—tempelkan ini di suatu tempat yang terpencil di sana. Yang kira-kira tidak terlihat."

Mingyu nampak berpikir.

"Kau menyuruhku jadi mata-mata?"

"Ini demi membantu orang lain!"

Mingyu mendengus geli.

"Apa nya yang membantu orang lain?"

"Ku bayar dengan Seratus ribu Won, bagaimana?"

Mata Mingyu terbuka sempurna.

"Dua ratus bagaimana?"

Wonwoo sempat mendelik malas, karena Mingyu sempat-sempatnya menego dengan apa yang ia tawarkan.

"Ya, dua ratus!"

"Jadi, bagaimana?"

.

Mingyu mendorong trolley peralatan membersihkan rumahnya dan berjalan ke penthouse yang berada di seberang penthouse milik Jeon Wonwoo. Dia memijit bel dan sedikit mengintip ke lubang kecil yang berada ditengah pintu bewarna cokelat dengan ukiran itu.

"Siapa?!" sahut seseorang dengan suara husky yang cukup berat dari dalam penthouse.

"Housekeeper!" jawab Mingyu lantang, beberapa suara terdengar tapi Mingyu tidak begitu yakin dengan apa yang didengarnya.

Pintu itu terbuka perlahan dan kepala seseorang menyembul keluar.

"Housekeeper?" tanyanya ragu.

Mingyu mengangguk dan memegang seragam yang dipakainya seolah menunjukan.

'Aku ini pelayan'.

"Penthouse ini tidak memesan layanan housekeeping," katanya sambil mengingat.

Mingyu hanya menaikan bahu dengan wajah polos.

"Sungguh?" kata Mingyu dengan alis bertaut, ia menatap laki-laki itu dengan gaya berpikir, "aku yakin penthouse nomor 2341 itu ini."

"Ini 2342." jawabnya langsung dengan malas.

"Oh," Mingyu mengangguk, "maaf sudah mengganggu." Pemuda itu membungkukan badannya dan melempar uang koin yang segera menggelinding masuk ke dalam penthouse tersebut.

"Ah! Koin keberuntungan ku!" seru Mingyu dengan nada panik, pintu cokelat itu sedikit terbuka, dan laki-laki dengan kumis yang cukup tebal itu mendesis kesal.

"Biar aku ambilkan!"

"Ya, maaf 'kan saya tuan."

Saat laki-laki itu berbalik dan langkah kakinya sedikit menjauh dari pintu untuk mencari koin milik Mingyu, dengan cepat Mingyu menempelkan sesuatu di dinding bagian dalam tepat di samping pintu. Itu yang hanya Mingyu bisa lakukan, ia kembali berdiri tegap, sedikit mengintip saat pintu kembali terbuka hanya beberapa senti.

"Ini koinmu." ucap lelaki itu dan memberikan koin Mingyu.

Mingyu membungkukkan badannya sembari berujar.

'Terima Kasih serta Maaf karena sudah mengganggu.'

.

Mingyu segera kembali ke penthouse Jeon Wonwoo.

"Aku hanya bisa menempelkannya dekat pintu masuk. Ia seperti menutupi sesuatu," simpul Mingyu sambil mengusap-usap dagunya.

Wonwoo mengangguk, ia menyalahkan phablet dan menusukan earphone lalu memberikannya pada Mingyu.

"Ini apa?"

"Kau dengar. Ini akan menjadi bukti." Papar Wonwoo. Mingyu mengambil alih phablet Wonwoo dan memakai earphone milik gadis itu.

"Tarik kesini mayatnya! Cepat, kita tidak punya waktu banyak," nola mata Mingyu melirik Wonwoo yang duduk di sebelah kirinya dengan agak gelisah, ia menggigiti kuku-kukunya.

"Kau mau dengar?" tanya Mingyu.

Wonwoo menggeleng.

"Kau saja."

'Bahkan tanpa itu aku sudah bisa mendengarnya langsung,' batin Wonwoo.

"Hush! Busuk! Bau sekali, aku rasa aku ingin muntah!" kata suara husky yang Mingyu yakini lelaki tadi.

"Cepat, kau pegang bagian tangannya."

"A-aku tidak tega!" suara yang lebih lembut menimpali.

"Dia sudah mati, tolol!"

Wonwoo memegang handphonenya gemetar dia berdiri dan memencet dial di androidnya.

"H-halo kantor polisi? A-aku ingin melaporkan se-ssuatu yang mencurigakan—"

Mingyu mengadahkan tangannya, meminta agar dirinya saja yang bebicara dengan polisi, Wonwoo mengangguk dan segera memberikan ponselnya.

"Ya, saya Kim Mingyu dari Hotel Hamundong di Hongdae, saya mendengar sesuatu yang mencurigakan beberapa waktu belakangan ini, bisakah anda datang dan mengeceknya?"

Mingyu melirik Wonwoo yang masih menggigiti kukunya.

"Pembunuhan berencana kurasa."

Wonwoo mondar-mandir sedang Mingyu mendengarkan dari alat penyadap suara pembunuh-pembunuh itu. Dia membayangkan tubuh tidak bersalah di sana sedang dimutilasi dan dia jadi meringis sendiri.

Butuh waktu sekitar lima belas menit hingga suara langkah kaki yang kira-kira berjumlah sepuluh orang berjalan di koridor. Wonwoo melihat kearah pintu dan meminta Mingyu untuk melihat keluar.

"Penthouse nomor 2342! Boleh anda keluar sebentar."

Mingyu berdiri di ambang pintu dan Wonwoo berdiri di belakangnya, mengintip dari bahu Mingyu.

Beberapa menit, pintu baru terbuka; laki-laki yang berbeda, tubuhnya jauh lebih kurus dari si lelaki berkumis, dan wajahnya pucat pasi.

"Ada apa ya?" tanyanya melihat segerombolan orang di luar penthousenya.

"Kami sedang melakukan validasi disetiap hotel di kawasan Hongdae, bisa saya masuk ke dalam tempat anda."

Tangannya melebar; mengenggam kusen pintu dan air wajahnya berubah menjadi lebih tegang dan takut seketika. Mingyu menyipitkan matanya dalam hati dia langsung men-judge bahwa pembunuh itu adalah amatiran.

"Kau kenapa?" tanya polisi dengan pakaian hitam dan topi; kelihatan lebih kasual dan ia bertanya dengan tenang. Bisa Mingyu tebak bahwa dia adalah detektif di sini.

"T-tidak bisa!" jawabnya gagap.

"Kenapa tidak bisa?"

"Anak-anakku sedang tidur! Kalian akan menganggunya."

"Kami akan melakukannya dengan tenang. Tolong jangan memperlambat kerja kami."

Di luar dugaan, dengan tangan yang gemetar lelaki itu mengeluarkan pistol bewarna silver yang sepertinya adalah pistol buatan Jerman; Heckler and Koch dan menodongkan ke arah para polisi.

"Jika kalian bergerak satu langkah, akan aku muntahkan amunisi yang berada di dalamny," ancamnya.

Wonwoo dapat mendengar getaran di dalam suaranya.

Gadis itu sedikit menjijit dan berbisik di telinga Mingyu.

"Dia hanya menggertak 'kan pasti?" Mingyu mengangguk dan pandangannya fokus; seolah mereka berdua sedang menonton film action secara langsung.

"Coba tembakan jika kau berani," tantang sang detektif sembari menaruh kedua tangannya di pinggang; tidak merasa tergertak sama sekali.

Lelaki itu mengangkat tangannya mengkokang slide kemudian terdengar suara khas pistol yang siap memuntah amunisinya. Ia menarik trigger nya perlahan, telunjuknya perlahan melepaskannya.

Seolah kasat mata, seorang polisi sudah berada di belakang lelaki itu; menguncinya dan mengarahkan tangannya keatas dan peluru meluncur ke atas; lalu suara ledakan pistol terdengar, membuat atapnya berlubang.

Jeon Wonwoo memejamkan matanya, meremas baju belakang Mingyu dengan erat dan lama-lama tubuh Mingyu seolah terbebani ia menggerakan bahunya.

"Jeon Wonwoo-Jeon Wonwoo."

Dia menengok dan Wonwoo sudah terkulai jatuh ke lantai.

"Jeon Wonwoo-ssi?"

.

.

Wonwoo membuka matanya perlahan dan dia sudah berada di kamarnya; di dalam rumahnya. Wajah Jungkook mendekat dan mengibaskan tangannya di depan Wonwoo.

"Jeonghan eonnie! Wonwoo eonnie sudah sadar!" pekik Jungkook dan membuat Jeonghan setengah berlari ke sana.

"Woo? Kau tidak apa?" Wonwoo mendudukan dirinya, Jeonghan menaruh bantal di kepala ranjang Wonwoo dan menyenderkan wanita itu di sana.

"Air! Jeon Jungkook air!" titah Jeonghan.

"Iya-iya!" dengan sigap Jungkook menuangkan air kedalam gelas dan memberikannya ke Wonwoo. Wonwoo meraihnya dan menegaknya perlahan.

"Kau sungguh tidak apa?" Wonwoo mengangguk lemas.

Jeonghan berdiri dan menatap Wonwoo kesal.

"Kenapa kau bisa terjebak di situasi seperti itu? Sudah kubilang jangan ke penthouse sendirian!" semburnya galak.

Jungkook yang berada di sebelah Jeonghan mengerucutkan bibirnya.

"Eonnie pasti kesana karena tidak mood bertemu dengan ku ya?" cicit Jungkook.

"Aku minta maaf," lirih Jungkook.

Wonwoo tersenyum sekilas.

"Ya, kalau kau mau mengucapkan minta maaf liat ke arahku sini."

Pelan-pelan Jungkook menatap Wonwoo.

"Aku minta maaf," dengan tubuh yang masih terasa lemas, Wonwoo mencubit pipi Jungkook gemas sampai ia menjerit kesakitan.

.

.

Kim Mingyu memasukan tangannya ke dalam coat hijau lumutnya. Ia mendongak ke arah langit malam. Keningnya berkerut dan mengingat kilasan memori yang tersimpan di dalam flower crown milik Jeon Wonwoo.

"Pasti itu sesuatu yang sangat berharga untuknya," gumam Mingyu.

"Dia tidak akan menyimpan hingga mengering jika itu tidak berharga."

Lelaki itu memejamkan matanya; mengingat dengan jelas apa yang ia lihat kemarin malam.

Seorang gadis kecil tengah menangis dan memeluk flower crown dengan warna yang sangat indah. Pakaiannya dan tubuhnya sangat kotor, di depannya ada seorang wanita dan laki-laki yang jika Mingyu asumsikan baru berumur 30-an.

Mingyu tidak bisa dengan jelas melihat apa yang terjadi dengan sepasang wanita dan laki-laki itu karena kemarin Jeonghan langsung membuyarkannya.

Langkah kaki Mingyu terhenti, "Apa itu orangtua Jeon Wonwoo? Dan mereka mati terbunuh?"

To Be Continued-

Glosarium;

Foosball : Permainan sepak bola meja yang dimainkan menggunakan tangan.

Heckler and Koch : Pistol yang di produksi Jerman, termasuk pistol semi otomatis, biasa digunakan oleh kebanyakan orang.

Trigger : Pemicu Pistol.

Last, mind to review?