"Tsunade-sama."
"Ada apa, Ino?—kau tidak lihat aku sedang—"
"Sasuke-ku—ma-maksud saya, Uchiha Sasuke sudah siuman."
"NANI?!"
"Sou desu wa, Tsunade-sama…"
"…"
"…Uchiha Sasuke telah sadar dari koma."
My Wife, サクラ
©The Pelahap Maut
(—Rei-kun & Kurobara)
.
Standard Disclaimer Applied
.
.
Chapter 2
.
.
.
Haruno Sakura tidak percaya pada apa yang terjadi saat itu. Sungguh. Rasa syukur dan lega luar biasa menguasainya—hingga kunoichi itu tak mampu menahan hasratnya yang selama ini terpendam. Gadis itu berlari menerjangnya—memeluk sosoknya dengan sangat erat. Beberapa kali dibisikkannya ungkapan penuh syukur karena Uchiha Sasuke akhirnya sadar dari tidur panjangnya.
Namun ada hal lain yang membuat kedua iris viridiannya terbelalak tak percaya saat itu. Suatu gestur—yang membuat jantungnya berdegub berkali-kali lebih kencang. Yaitu ketika kedua lengan Sasuke terangkat—membalas pelukan Sakura tak kalah erat.
Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali. Mimpi. Ini pasti mimpi. Sakura hendak melepaskan dekapannya sebelum—
"Gomen na, Sakura," bisik Sasuke sembari mengusap-usap punggung kunoichi berambut sewarna permen kapas itu. "Kau pasti sangat kerepotan, ya."
Demi senbon Shiranui Genma, Sakura yakin orang yang tengah membalas pelukannya dan berbicara dengan lembut ini bukan Uchiha Sasuke yang pernah dikenalnya. Bukan Uchiha Sasuke teman sekelasnya saat di akademi. Bukan pula Uchiha Sasuke yang satu tim dengannya ketika genin, apalagi Uchiha Sasuke—sang nuke-nin yang pernah beberapa kali berniat membunuhnya.
Pasti bukan Uchiha Sasuke yang itu.
Melihat orang yang tengah dipeluknya masih bungkam, Uchiha Sasuke berinisiatif melepaskannya. Kedua tangan yang semula melingkari tubuh gadis itu beralih menangkup wajah yang dipenuhi raut bingung dan tak percaya.
Wajah Sakura memerah kala tangan pucat itu mengusap pelan pipinya, membawanya mendekat hingga hembusan napas pemuda itu terasa menggelitik bulu kuduknya.
Sasuke tersenyum kecut.
"Maaf ya, Sakura, aku tidak bisa menjadi sosok yang baik untukmu." Bibir itu berucap lembut sebelum melepaskan pelabuhannya pada sepasang bibir di depannya. Singkat namun dalam. Dan entah mengapa begitu membuat jantung keduanya berdebar hebat. Kembali Sasuke memamerkan senyum tipisnya. "Demo, aku janji—mulai sekarang dan selamanya, aku akan berusaha menjadi suami yang siaga—siap antar jaga, dan selalu ada untukmu," tuturnya penuh kesungguhan.
Lagi-lagi Sakura hanya mengerjapkan matanya penuh kebingungan. Sasuke memeluknya, lalu menciumnya, dan sekarang apa lagi? Pemuda itu menggombal dan bilang kalau—tunggu!
"S-su—suami—?"
Baru saja Sasuke membuka mulut untuk menjawab...
BRAKK
"SAKURA!"
Dan keduanya berpaling arah ketika dua sosok manusia serupa, muncul dengan raut wajah berlainan.
"Tsu—Tsunade-shishou—Ino!" seru Sakura setelah menyadari sang Hokage memasuki ruangan itu didampingi seorang kunoichi barbie-like, Yamanaka Ino. Ia segera melepaskan diri dari Sasuke yang masih saja mendekapnya, seolah interupsi dari dua orang yang baru datang itu bukan masalah baginya.
"Hm..." Tsunade berjalan menghampiri Sasuke yang hanya menatapnya dengan sebelah alis terangkat. "Kau benar-benar siuman dengan kondisi fisik sangat bugar rupanya," ujar Tsunade sambil menyentil dahi Sasuke.
"Hei—!" Sasuke mengerutkan keningnya dan melempar tatapan sebal pada Tsunade. "Kau siapa?"
"Namanya Senju Tsunade, Sasuke-kun," sahut Ino dari balik tubuh Tsunade sambil melemparkan cengiran rubah. "Beliau adalah Hokage—pemimpin desa ini, juga seorang iryo-nin terhebat."
"Hokage?"
"Iya!" Ino berkacak pinggang. "Berkat Tsunade-sama makanya Sasuke-kun bisa sembuh."
Sasuke mengerjap. Diperhatikannya wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu dengan seksama. "Benarkah?"
"Aa," jawab Tsunade sambil memegang bahu kiri Sasuke dan menekan-nekannya. "Sepertinya keadaan fisikmu memang sudah tidak perlu dikhawatirkan. Tubuhmu bisa sembuh total begini saja sudah merupakan kabar baik atas pengobatan kritis saat pertama kau mendapat serangan itu."
Sasuke menelan ludah, membayangkan apa yang terjadi pada dirinya sehingga membuat orang-orang ini begitu mencemaskannya. "Apa—apa yang terjadi padaku?" tanyanya sambil menatap Tsunade intens. "Apakah luka yang kuderita seserius itu?"
"Tentu saja, Bocah." Tsunade melirik Sasuke sekilas. "Kami sempat kehilangan harapan saat kau tak juga bangun setelah dua minggu. Sampai akhirnya anak itu—" jeda sejenak, Tsunade melempar pandangan pada Sakura yang berdiri di sebelah Ino, "—dia merasakan aktivitas chakra pada otak dan jantungmu."
Sasuke menatap Sakura dengan pandangan bertanya. Tepat saat gadis itu juga meliriknya hingga pandangan mereka bersirobok, Sakura buru-buru mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Pipinya bersemu kemerahan.
Sasuke tersenyum tipis. "Souka..."
"Tapi, bagaimanapun... aku menyayangkan efek lain yang cukup fatal itu, Sasuke." Tsunade melanjutkan. Dilihatnya Sasuke yang menurunkan pandangannya—tampak murung. Kasihan juga pemuda itu. "Amnesia tidak bisa sembuh dengan muda—"
"Daijoubu da," potong Sasuke. "Aku memang tidak bisa mengingat apa pun. Tapi... rasanya aku telah melakukan hal yang keji—ada perasaan bersalah yang entah dari mana. Karena itu..." Sasuke menggantungkan kalimatnya. Ditatapnya Sakura yang kini memandangnya bingung. "...karena itu untuk sementara ini aku ingin menebus semuanya."
"Aa, begitu." Tsunade memejamkan matanya dan menghela napas panjang.
"Hn." Sasuke mengangguk mantap. "Seperti yang sudah kukatakan tadi, Sakura, aku akan menjadi suami yang leb—"
"Suami?" Tsunade mendelik ke arah Sasuke. Pemuda itu hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Lalu diliriknya Sakura dengan penuh intimidasi. Namun gadis bermata viridian itu hanya menggeleng dengan wajah memelas.
Dan Yamanaka Ino hanya nyengir kuda—memperlihatkan deretan giginya—ketika kedua iris keemasan sang Hokage mengarah padanya.
"Ehehe... hehe..."
.
.
.
Senju Tsunade meminum sake-nya dengan gusar. Hokage kelima itu kembali menatap sosok gadis berambut pirang yang tengah tertunduk di hadapannya sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada gadis lain di sampingnya.
Haruno Sakura.
Gadis berambut bubble gum itu tertunduk meski dengan raut berbeda dengan sahabat pirangnya. Terlihat jelas guratan kekagetan dari roman yang telah dilampirkannya. Tsunade yang tidak ikut andil dalam kekonyolan ini pun turut merasakan apa yang tengah dirasakan murid kesayangannya itu. Tangan itu akhirnya terangkat memijit kepala pirangnya yang tengah dilanda pusing sebelum kembali memandang dua sosok gadis di depannya.
"Aku tidak mengerti apa yang kaupikirkan, Ino..." Hokage cantik itu menghela napas sejenak, "... dengan ucapan tidak masuk akalmu ini kau membuat segalanya jadi rumit. Apalagi bocah Uchiha itu dengan mudahnya percaya. Hahh... amnesia membuat kepribadiannya berubah 180 derajat."
"Tsunade-sama, gomen-nasai..."
"Sebenarnya ini bukan urusanku, hanya saja..." Tsunade menggantungkan kalimatnya, diliriknya Sakura yang tertunduk sambil sesekali mengerucutkan bibirnya. Rona merah masih menghiasi pipinya. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan untuk menyelesaikan ini, 'kan?"
"A-aku—tentu saja, Tsunade-sama," jawab Ino tergagap. Sejujurnya ia sama sekali tidak tahu harus melakukan apa. Kalau dibiarkan saja, ingatan Sasuke tidak akan kembali.
Akan tetapi, jika dipikir-pikir lagi...
Ah, Ino tahu.
Ditepuknya bahu Sakura, dan dipamerkannya senyum terbaik dalam hidupnya. Saat itulah Sakura tahu, hari-harinya akan menjadi sangat jauh berbeda dari sebelumnya.
.
.
.
"Yo, Sasuke!"
Sasuke menoleh ke asal suara ketika ia melintasi pusat pertokoan Konaha. Dapat dilihatnya seseorang berambut pirang jabrik dengan jumpsuit oranye melompat ke arahnya dari atas atap toko sayur. Sasuke menaikkan sebelah alisnya, semakin bingung ketika pemuda itu menghampirinya dengan cengiran rubah dan merangkulnya kuat-kuat.
"Aku dengar kau keluar rumah sakit hari ini," kata Naruto sambil meninju pelan lengan Sasuke. "Kenapa tidak langsung pulang saja?—malah keluyuran di sini."
Sasuke makin bingung. "Kau—?"
"Ah, iya, ya! Tadi Ino juga sudah bilang, sih—katanya kau amnesia, ya?" Naruto melepaskan rangkulannya dan menepuk kepalan tangan kanan pada tangan kirinya.
"Begitulah," jawab Sasuke sambil menghela napas.
"Ahaha, daijoubu'ttebayo!" seru Naruto sembari memegang kedua bahu Sasuke. "Tenang saja, kami semua pasti akan membantu mengembalikan ingatanmu, kok!"
Sasuke tersenyum tipis. "Arigatou."
"EH? Kau bilang apa?"
Sasuke menelengkan kepalanya imut. "A—ari—"
"Wah, sepertinya amnesia telah membuatmu jadi orang yang lembut, ya," ujar Naruto takjub. Diperhatikannya Sasuke dari bawah ke atas. Padahal secara fisik sama sekali tak ada yang berubah. Tapi makhluk di hadapannya ini sungguh bagaikan orang lain.
"Be-benarkah?"
"Un, un!" Naruto memicingkan mata dan mengelus dagunya. "Kalau begitu kita mulai pelan-pelan ya, Sasuke! Hai', namaku Uzumaki Naruto dan cita-citaku tidak pernah berubah—yaitu menjadi Hokage! Daaann... yang paling penting adalah—kita ini adalah teman satu tim sejak genin! Aku, kau, dan Sakura-chan!"
"Sakura?"
"Iya, Sakura-chan." Naruto bersedekap. Senyum lebar tak lepas dari raut wajahnya yang senantiasa tampak ceria. "Kau sudah bertemu Sakura-chan belum?"
Belum sempat Sasuke menjawab, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Hei, Sasuke! Wah, kau sudah sadar rupanya," sapa Kiba antusias. "Kau tidur hampir tiga bulan, tahu. Bikin khawatir saja."
Sasuke menatap Kiba dalam diam. Bingung juga harus bicara apa ketika seorang yang seharusnya kau kenal kini menjadi sangat asing.
"Kiba," ucap Naruto dengan nada memperingatkan. "Sasuke tidak ingat. Dia amnesia, tahu."
"Eh? Hontou ka?" Kiba membelalak, menatap Sasuke lekat-lekat. "Jya, kau tidak mengingatku?" tanyanya sambil menunjuk diri sendiri.
Sasuke menggeleng pelan. "Gomen," lirihnya.
"Tidak apa-ap—APA KATAMU?" lagi-lagi Kiba menatap Sasuke intens, dan kali ini dengan pandangan takjub. Diendusnya aroma Sasuke dan sekali lagi ia mengerjap tak percaya. "Sulit dipercaya—Uchiha Sasuke begitu mudahnya mengeluarkan kata sakti seperti itu. Amnesia itu keren, ya."
"Tidak keren kalau kau sendiri yang mengalaminya, Bodoh," timpal Naruto.
"Jangan memanggilku bodoh, Bodoh."
"A—ano..."
"Ah, aku lupa memperkalkan ulang diriku, ya." Kiba menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Entah mengapa ia merasa sangat aneh jika harus berkenalan ulang dengan sosok yang dulu dikenalnya sangat angkuh itu. "Uhh, Aku Kiba. Dari klan Inuzuka. Lalu ini partner-ku, Akamaru."
"Woof!"
"Kiba..."
"Ehehe... sou, sou."
"Kau melihat Sakura?" tanya Sasuke to the point.
"Eh? Sakura..." Kiba mengingat-ngingat. "Sepertinya masih di rumah sakit. Kau tahu, dia iryo-nin yang sibuk. Apalagi sekelompok jounin baru kembali dari misi dan kelihatannya mereka butuh perawatan."
"Souka."
"Kenapa, Sasuke?"
Pemuda Uchiha itu menggeleng pelan. Enggan mengutarakan pertanyaan yang bermuara di otaknya. Antara malu dan bingung. Mungkin.
Mendapati raut tak mengenakkan dari sahabatnya, Naruto menyernyit heran. Menggaruk belakang kepala pirangnya lengkap dengan cengiran, ia berujar lagi, "Ada masalah dengan Sakura-chan, Sasuke?" tanyanya.
"Eh?"
Kini bukan hanya Sasuke yang memfokuskan pandangannya kepada pemuda jabrik itu, melainkan dua sosok lain turut ikut memperhatikan mereka.
"Woof." Akamaru lagi-lagi menyalak ketika Sasuke tak kunjung menjawab apa yang menjadi perhatian mereka.
Uchiha Sasuke salah tingkah ketika beberapa pasang mata memandang lekat ke arahnya. Menghembuskan napas ia membalas tatapan kedua sahabatnya.
"Tidak." Sasuke membuang muka mendapati kedua pemuda itu begitu antusias menanti kalimatnya. "... hanya saja aku lupa jalan pulang ke rumah—ma-maksudku, aku bahkan tidak tahu di mana rumahku," jujurnya pada akhirnya.
Gubrak.
Tawa Naruto dan Kiba pecah seketika. Well, wajar bukan—jika seorang yang sedang amnesia tidak ingat tempat tinggalnya?
"Akan kami antar," ucap Naruto memecah suasana di antara mereka. Meskipun tak luput kikikan masih tercipta dari bibirnya, namun ia cukup sadar dengan keadaan Sasuke sekarang.
Sasuke tersenyum. "Ah, Ino-san," ujarnya ketika melihat sosok Ino berlari-lari kecil sambil menggeret tangan seseorang menuju arah ketiga pemuda itu.
"Chiee, mesranya~" Kiba berujar ketika Ino berhenti tepat di depan mereka sambil memamerkan senyum manis—masih menggandeng tangan kiri seorang pemuda berperawakan malas yang tak lain adalah Nara Shikamaru.
"Ehehe... Etto, konnichiwa, Sasuke-kun!" sapanya pada Sasuke yang dibalas anggukan kecil dari pemuda Uchiha itu. "Sedang mencari udara segar, ya?"
"Mana ada udara segar jam segini—di tempat seperti ini lagi—dasar gadis merepotkan," komentar Shikamaru sambil menguap kecil.
Ino men-deathglare pemuda jenius itu sekilas sebelum kembali memamerkan senyumnya pada Sasuke. "Manusia yang kelihatan pemalas ini namanya Nara Shikamaru."
Sasuke membungkuk sedikit. "Uchiha Sasuke," katanya.
"Oi, oi, tidak perlu seformal itu, Sasuke." Shikamaru menggaruk belakang kepalanya. "Kita sudah berteman sejak di akademi. Haah... amnesia benar-benar merepotkan."
"Aku minta maaf," ucap Sasuke sambil tersenyum kecut.
"EH—ma—mendokuseina~"
"Jangan dengarkan dia, Sasuke-kun." Ino memutar bola matanya sambil menyikut pelan perut Shikamaru. "Shikamaru memang selalu mengeluhkan berbagai hal."
"Souka..."
"Ngomong-ngomong, Sasuke-kun mau pulang dan beristirahat?" Sasuke mengangguk pelan dan Ino langsung menarik tangan pemuda itu. "Jya, ayo—akan kuantarkan ke apartemenmu."
"Aparte—" Naruto tidak jadi melanjutkan kata-katanya ketika Ino meliriknya tajam. Ia menelan ludah dan membiarkan saja Sasuke diseret oleh Ino ke arah timur Konoha.
"Ino bilang ingin mendiskusikan sesuatu dengan kita." Shikamaru angkat bicara ketika dua pemuda yang tersisa menatapnya dengan pandangan menuntut penjelasan.
.
.
.
Haruno Sakura hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik lekukan lutut yang dipeluknya sore itu. Semua pasang mata rookie dua belas menatapnya antara bingung, prihatin, juga tak percaya. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa ketika Ino—saat itu menjelaskan segala-galanya pada mereka di alun-alun Konoha.
"Demo, Sakura-san—apa tidak apa-apa?" tanya Lee setelah agak lama hening sejak Ino menerangkan keadaan Sasuke dan kebohongan yang tak sengaja ia ciptakan.
"Tentu saja tidak apa-apa!" jawab Ino antusias, meski ada sedikit keraguan dalam kerlingan mata aquamarine-nya. "Kalian lihat 'kan bagaimana Sasuke-kun yang sekarang?"
"Dia jadi sangat menggemaskan," ujar Tenten dengan wajah berbinar-binar.
"S-Sasuke-kun jadi sopan dan m-murah senyum," sambung Hinata. Ditatapnya Naruto yang duduk di sebelahnya. "Tidakkah itu bagus, Naruto-kun?"
"Ahaha, iya, sih—tapi..."
"Sasuke jadi seperti orang lain." Shino angkat suara, dan saat itu juga semua mata tertuju padanya—termasuk viridian Sakura terlihat sayu sejak tadi.
"Tashikani... aku merasa Sasuke yang sekarang bukan Sasuke yang ada bersama-sama kita dulu—meski yang sekarang jauh lebih baik, menurutku." Chouji berkomentar setelah melahap habis keripik kentangnya.
"Nah—iya, 'kan? Bagaimana, Sakura?" Ino tersenyum miris melempar pandangan pada Sakura.
Sakura mendongak, melirik satu per satu teman-temannya. "Ke—kenapa aku?! Kenapa aku yang kena~?" rengek Sakura sambil kembali menyembunyikan wajahnya.
Ino menatap Sakura kasihan. "Gomen ne, Sakura. Tapi sekarang kau berstatus sebagai istrinya," ucapnya sambil membuat gestur tanda kutip dengan kedua tangannya. "Bukankah itu bagus? Lagi pula Sasuke-kun yang sekarang lebih perhatian."
"Tapi bukankah seharusnya tanggung jawab untuk membantu memulihkan ingatan Sasuke ada pada kita—sebagai teman-temannya?" Sai menelengkan kepalanya sambil meletakkan genggaman tangan kirinya di depan dagu.
Sakura menghela napas.
Yang lain pun turut menghela napas.
"Dia benar," ujar Neji. "Menciptakan sandiwara seperti ini..."
"Tapi aku suka Sasuke yang sekarang," potong Kiba sebelum Neji menyelesaikan kalimatnya.
"Aku juga."
"Un."
"Sou'ttebayo."
"Sakura-san?"
"..."
"Hahh... Ini akan sangat merepotkan."
.
.
.
Sakura melangkahkan kaki-kaki jenjangnya menuju apartemen Ino yang dipinjamkan untuknya dan Sasuke. Sebagai suami-istri, mereka sudah seharusnya tinggal bersama, bukan?—itulah yang menjadi landasan Ino untuk meminjamkan apartemen yang terletak tak jauh dari apartemen Naruto.
Ia benar-benar lelah. Secara fisik—juga mental.
Sakura memang selalu menginginkan Sasuke seperti di dongeng-dongeng istana tentang pangeran yang baik hati. Tapi bukan dengan keadaan Sasuke amnesia begini! Rasanya ia telah melakukan kebohongan terkeji dalam hidupnya. Belum lagi jika suatu saat ingatan Sasuke kembali. Apa yang akan terjadi? Jangan-jangan Sasuke akan membencinya. Atau yang lebih buruk lagi—Sasuke akan membunuhnya karena saking bencinya pada Sakura.
'IYA DAAAAA~,' jerit Sakura dalam hati. Membayangkannya saja sudah bikin bulu roman merinding.
Setelah helaan napas untuk yang kesekiankalinya, Sakura memberanikan diri untuk membuka pintu apartemen itu. "T—tadaima," ucapnya takut-takut.
Sakura hanya berdiri melongo di genkan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan apa pun di tempat itu. Namun jantungnya seketika berdegub kencang ketika didengarnya langkah kaki yang terburu-buru dari arah paling belakang. Pegangannya pada kenoppintu pun semakin kuat.
Lalu di sanalah Uchiha Sasuke muncul—dengan setelan kaus oblong dongker dan celana abu-abu sampai bawah lutut—tak lupa senyum lembutnya yang membuat lutut Sakura terasa lemas.
"Okaeri, Sakura."
Senyum itu,
tatapan itu,
—adalah yang selalu Sakura harapkan dari Sasuke tujukan hanya untuknya. Sejak dulu.
Ini benar. Ini seharusnya memang benar. Seperti yang sudah dikatakan teman-teman rookie dua belas; Sasuke yang sekarang memang lebih baik. Tapi...
—tidakkah itu egois?
Sakura memicingkan matanya, membalas senyum Sasuke.
.
.
.
.
つづく
[bersambung]
Authors' Bacot:
Lalalalala~ #trollface
Rei-kun's talking here. Kurobara minta ngerjain cepet nih, karna banyak yang antusias katanya. Ahahaha wow, kita kaget juga sih readers suka ide ini, hehe...
Special thanks buat yang review chap kemaren;
KunoichiSaki Mrs Uchiha Sasuke, Blue Chrysanthemum, cherrysakusasu, fa vanadium, Aden L kazt, hara mizuki, Tsurugi De Lelouch, Cherry Snow, Yuu.H, Lucifionne, just ana males login, Ainia Darkladie Kazekage, Nyimi-chan, D3villaZ, lily hikari, Guest(1), Guest(2), poetry-fuwa, namika funabasyi, ferazmo, Ran Murasaki SS, triascita, Chintya Hatake-chan, Haruno Erna Chan, Ayano Futabatei, Anka-Chan, Sar Sakamoto Suwabe, FairyLucyka, scarlet uchiha, Mizuira Kumiko, akasuna no ei-chan, afi3, Ladychibby, Rieiolanthe, Rachel-Chan Uchiharuno, Luchia Hiruma, giselle, Matsuo Michi-'aoi, Baby Kim, Hikari 'ShiChi' ndychan, Nina317Elf, xxxkshineiiiga21737, sasusakulover, Rinako, lee sica, anastasya regiana, Voila Sophie, Uzumaki Himeko, Yukina Itou Sephiienna Kitami, Karasu Uchiha, Retno uchiharuno, Sami haruchi, Dyastari, senayuki-chan, Guest(3), SeiHinamori, FuRaHeart, dan semua silent readers jugaaaa #wink
review lagi? #winklagi
salam,
The Pelahap Maut
