CHAPTER 2
"Selamat datang huang zhitao, maksudku wu zhitao." ,siwon tersenyum hangat yang disambut bahagia oleh namja manja yang selalu ceria itu
"Mulai sekarang kau adalah bagian dari keluarga ini dan akan tinggal bersama kami.. jika ada yang membuatmu tidak nyaman, katakan saja pada kris atau padaku, tidak perlu sungkan, disini adalah rumahmu sekarang" jelas tn. siwon lagi
kris hanya melihat bosan pada ayah dan seorang lainnya disana
"baik paman..." jawab tao dengan senyum lebarnya.
siwon tertawa kecil "hari ini kau sudah menikah dengan kris, jadi mulai sekarang panggil saja aku dengan appa, arraseo ?"
"nee a..ppa..." jawab tao dengan kikuk, namun kembali tersenyum
"semua pakaian dan barang2 milikmu sudah disiapkan di kamar jadi kau tidak perlu khawatir. Aaahh aku bicara terlalu banyak, hari sudah malam, dan kalian pasti lelah, tidurlah.." jawab siwon
Tanpa menjawab apapun, Kris berjalan begitu saja dengan ekspresi dinginnya, tanpa melihat namja yang baru saja ia nikahi, bahkan pada ayahnya. Kris masih tidak terima terhadap keputusannya mengenai pernikahan. Pandangannya hanya lurus kedepan, melangkahkan kaki jenjangnya dengan tegap. Tidak ada keramahan yang seharusnya ia tunjukan untuk memberi kenyamanan pada tao yang baru akan pindah kerumahnya.
"kriss..." panggil siwon sebelum langkah putranya semakin jauh, yang dipanggil hanya menoleh
"berjanjilah kau akan menjaganya...", pinta siwon sepenuh hati
Tanpa menjawab apapun, kris menundukan kepalanya hormat, dan pergi.
"Aku mohon jaga dia, kris...", batin siwon
Kris menyusul langkah tao yang tengah menunggunya, melangkah lebih depan mengisyaratkan tao untuk mengikutinya dari belakang. Tao sibuk untuk terus memandangi rumah mewah itu. rumah tao cukup besar tapi tidak semewah milik kris.
pertama mereka harus menaiki anak-anak tangga untuk tiba di lantai 2,. Tangga megah yang berdiri panjang agak bergeser semakin ke kiri saat menaikinya. Pegangan marmer yang terasa sangat dingin tiap kali tao menyentuhnya, terlihat betapa mahal semua properti itu. bahkan pijakan anak-anak tangga itu terbuat dari campuran bebatuan kecil, yang membuat kaki sangat nyaman ketika menyentuhnya.
Dari lantai 2, tao dapat melihat keseluruhan isi rumah di lantai satu, ruang tengah yang besar dengan kilau lampu sedikit kekuningan memenuhi cahaya pada setiap sudut ruang itu.
Kris masih terus berjalan, hanya berjalan sebentar lalu menaiki tangga dengan bentuk yang sama dari tangga pertama, hanya saja tangga yang sekarang lebih condong untuk berbelok ke kanan saat menaikinya. Dari tempat itu, tao mampu melihat ruaangan lain di lantai kedua, ruangan yang masih sangat besar walau tidak sebasar lantai pertama, karena lebih banyak sekatan untuk kamar hampir memenihi semua sisi lantai itu kecuali pada sisi kanan ruangan yang masih memiliki lorong yang entah akan tembus kemana, tao penasaran tapi ia terlalu lelah untuk menanyakannya, toh nanti juga ia akan mengetahuinya.
Krekkkk..
Kris membuka perlahan pintu kamarnya, masih dengan wajah dingin, ia duduk dengan elegan pada sofa panjang ditengah kamarnya yang tak jauh dari tempat tidur, kris duduk dengan elegan sambil membaca majalah yang ada pada meja didepan sofa itu, menyilangkan kakinya dan menyenderkan sebelah tangan kirinya pada ujung sofa.
"jadi disini kamarnya ? wahhhhh " ,komentar tao dengan senyum cerah yang ia lambungkan pada kris, tao terlalu bahagia untuk tidak menunggu jawaban apapun dari kris, ia langsung berkeliling kamar, yang baginya terasa sangat megah.
"..."
"jadi ini lemari bajunya,, wah bajuku sudah ada disini..." tao sedikit melompat karena senang, tak sadar sepasang mata tengah menatapnya tajam, kris menggigit bibirnya menahan kesal.
Tao kembali melangkah dan seolah ia sedang memikirkan sesuatu,
"emmm,, aku harus memanggilmu apa ? kris hyung ? kris gege?", tao berpikir sejenak.
"..."
"kris gege lebih cocok!"
Kris mendecih mendengar sebutan namanya, genggaman pada majalah di tangannya semakin kencang, kris benar-benar sedang menahan emosinya.
"dan ini adalah kamarmandi" tebak tao sambil membuka pintu lain dalam kamar itu "hyaaa benar...!" , teriak tao senang
"..."
"kris gege,, kamarmu sangat bagus.." tao membantingkan tubuhnya yang tinggi mungil pada ranjang tidur.. melepas pegal ia meregangkan otot2 tubuhnya
"..."
"kris gege... " panggil tao pelan
Tao berjalan ke tempat suaminya terduduk, ia tersenyum manis, dan menepuk perlahan pundak namja yang sedari tadi tidak menjawabnya itu. Hati tao berdebar kencang saat telapak tangan bersentuhan untuk pertama kali dengan tubuh kris. Menyentuh pundak seorang namja yang telah membuatnya tak bisa tidur nyenyak setelah pertemuan pertamanya di restoran tempo hari.
"kenapa kau hanya diam ? apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu ?" tanya tao
"ada banyak hal yang mengganggu pikiranku hari ini", jawab kris dingin
"kau bisa bercerita padaku jika kau mau..", tao tersenyum
Kris menutup majalah yang ia baca,,
"baiklah jika kau memaksa.. aku akan jujur, tanpa harus menutupi apapun,, menjadi seseorang yang munafik, bukan gayaku"
Tao melihat kris dengan tatapan tidak mengerti.
"aku bersedia menikah denganmu,, bukan karena keinginanku atau karena aku mencintaimu. Jadi,,, ingatlah satu hal, aku tidak bisa menjajikan apapun padamu selain PERCERAIAN" kris melangkah menuju tempat tidur, merebah pelan tubuh tingginya, dan membenamkan tubuhnya pada selimut coklatnya.
Meninggalkan lelaki bermata black pearl yang masih syok di sofa. Perlahan setitik air keluar menetes dari mata indahnya, langsung ia menengadah ke atas, berusaha agar air itu tidak terjatuh lagi.
'P-E-R-C-E-R-A-I-A-N'
Kata itu langsung menusuk kedalam relung hatinya, sebuah kata yang telah menghancurkan semuua harapannya, sebuah kata yang membuat hatinya seolah tertancap pisau. SAKIT
Semua itu sangat jauh dari apa yang ia bayangkan sebelumnya tentang keindahan pernikahan.
Baginya kris adalah namja yang sangat ia cintai, dengan cinta yang lahir dari ketulusan.
'mana ada pengantin baru yang membicarakan tentang perceraian di malam pertamanya', batin tao lirih
Sambil menahan tangis, ia melangkah ketempat tidur, duduk perlahan disamping namja angkuh itu -membelakanginya. Matanya hanya mampu ia alihkan kedepan
"jika kau tidak menyukaiku, kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal ? kenapa kau menikahiku lalu mengatakan hal semacam itu, berkata pada waktu yang membuatku tidak bisa berbuat apapun..." tao bernapas panjang untuk mengumpulkan ruang suaranya yang hampir terputus karna airmata yang sudah mulai terkumpul dalam matanya
"..."
"aku datang kemari karena kupikir kau mencintaiku..."
"kenapa aku menikah denganmu ?... aku tidak tau apakah jawabanku bisa memuaskan atau tidak.. tapii ,, karena itu sudah menjadi keputusan ayahku", jawab kris
"tapii aku sudah siap untuk hidup bersamamu.." ,
tao menghirup udara dari mulutnya, sebanyak yang ia bisa, menahan agar ia tidak menangis. Namun hatinya menolak keinginan tao untuk tidak menangis, titik-titik air mulai menetes dari sela mata beningnya.
"aku akan tidur di sofa,, bahkan ibu kandungku meninggalkanku karena membenciku,, kenapa orang lain harus mencintai manusia sepertiku" tao tersenyum tipis, sebuah senyum seindah malaikat tergambar dari wajah lugunya. Sebuah senyuman palsu, yang terkesan, menyedihkan.
Tao membawa bantal dan tidur di sofa, ia memiringkan tubuhnya pada sisi senderan sofa, menutupi wajahnya dari apapun disana bahkan dari bayangannya sendiri, kini ia tenggelam dalam alam pemikirannya sendiri. Harapan untuk bisa menjadi pengantin yang paling bahagia, kini lenyaplah sudah. Keinginan kuat dan mimpi untuk bisa bahagia dengan seorang kris, yang ia sangat cintai sejak pertemuan pertamanya kinii telah memudar. Tao menghela napas panjang , menelan kecewa. Napasnya tersesak, tangisnya semakin dalam..
Mentari mulai menampakkan diri dari seberang jendela kamar, burung kecil berkicauan bersama dengan teman2a dengan merdu, saling bersautan lalu terbang bebas memecah udara tanpa batas, pagi yang cerah. Tao mulai merapikan semua hal yang berada di kamarnya, ia melakukan apapun agar ia tidak perlu bertemu dengan suasana canggung bersama kris, atau terjebak pada perasaan patah hati seperti semalam. Sebenarnya dibandingkan merapikan, lebih tepatnya dia hanya menyibukkan diri, pakaian2 malang yang tersusun rapi dalam lemari ia keluarkan semua dan menaruhnya kembali kedalam lemari, mengeluarkan aksesoris dari lacinya lalu menyusunnya lagi, ia hanya sedikit merubah tatanannya berdasarkan warna atau apapun itu yang menurutnya bagus.
Kris keluar dari kamar mandi, dengan tubuh yang hanya diselimuti handuk putih menutupi tubuh bagian bawah hingga atas lututnya, tanpa sengaja ia berpapasan dengan tao, mata mereka bertemu, namun dalam waktu sepersekian detik, tao langsung berbalik dan membuka sebuah laci karena panik.
"heii,, jangan menyentuh laci itu..! " teriak kris sambil berlari ke arah tao. Kris langsung menutup laci itu dengan kencang
"ambil semua yang kau inginkan di rumah ini.. tapi biarkan laci ini menjadi satu-satunya ranah pribadiku.. MILIKKU !"
Ada beberapa detik dimana mata mereka kembali saling bertemu, tapi untuk kesekian kali tao pergi menjauh, terlihat sekali tao benar2 sedang menghindari kris apapun yang terjadi.
Kris tampak berpikir, saat itu,, benar2 sangat canggung, pagi pertama bersama seorang pengantin sekaligus orang asing. Kris ]kembali melanjutkan untuk berpakaian, ia memakai celana hitam panjangnya, lalu dengan setengan telanjang ia memakai kaos lengan pendek bewarna putih, dimulai dengan memasukkan satu per satu tangannya ia mencelupkan kepalanya pada kaos itu, tepat saat kepalanya keluar dari lorong kaosnya, merasa seperti sedang diperhatikan, kris menoleh ke samping, dan disanalah sesosok namja polos sedang memandangi kris.
Tao terkejut, karna tanpa sengaja ia jadi memperhatikan kris yang sedang berpakaian. Namun kembali ia salah tingkah dan mencari kesibukan lain dengan mengambil buku2 yang berserakan di atas meja dan mulai merapikannya. Kris kembali melanjutkan kesibukannya, memakai kemeja putih polos, mengikatkan dasi bewarna hitam di lehernya, mengancing kancing lengannya, memakai setelan jas hitam elegannya dan menggunakan pin hiasan di kantong jasnya. Kris sudah siap.
Tanpa memandang tao sedetikpun, tanpa kata, tanpa senyuman, kris selalu h memperlihatkan wajahnya yang sedingin es di kutub utara itu setiap hari, pergi berlalu meninggalkan tao yang hanya bisa berdelik sedih menatap punggungnya. Memandangi punggung pria dingin itu setiap hari yang terus menjauh darinya, semakin jauh.
Kris bersikap seolah tak ada tao disana, hanya ada dia dan dirinya sendirinya.
Tao tak ingin berpikir apapun, ia memilih untuk kembali dengan kesibukannya. Tanpa sadar tao kembali ke lemari aksesoris tempat dimana laci yan sudah di klaim oleh kris adalah 'miliknya'. Ia tarik perlahan laci itu, tampaklah sebuah liontin perak di laci aksesoris, terpisah khusus dari benda lainnya, dengan design yang terukir indah, begitu elegan. Tao tersenyum kagum, ia tidak pernah melihat lionton secantik itu.
Tao berjalan di ruang tengah berniat keluar sebentar mencari udara segar, ketika kejenuhan menguasai dirinya dirumah besar itu. namun tiba-tiba seseorang memanggil namanya, tao menoleh.
"bagaimana hari pertamamu disini, apa ada yang membuatmu merasa tak nyaman ?", tanya siwon pada tao, yang ditanya sedikit gelagapan
"aku baik-baik saja..", jawab tao ragu
"kris memang sedikit terlihat dingin dan acuh dari luar, bersabarlah, saat kau lebih mengenalnya, kau akan memahami dirinya... aku percaya padamu, sifatmu akan membuat kris kembali seperti dulu", nasihat siwon, tao hanya menundukan kepalanya sopan, walaupun hanya mengerti separuh dari perkataan namja yang semalam ia panggil appa.
"baik paman.. ehh appa", tanggap singkat tao
"biasanya kau suka melakukan apa dirumahmu ?", tanya siwon
"hemmm aku suka membaca buku, memasak, atau membersihkan rumah", jawab tao polos
"kau boleh menggunakan rumah ini sesukamu, dan nanti aku akan menyuruh kris untuk membelikanmu beberapa buku bacaan, kau suka karangan siapa ?", siwon tersenyum hangat selayaknya seorang ayah
"ahhh tidak usah paman,, dia pasti sangat sibuk.. apa paman tidak memiliki sesuatu untuk kubaca ?", tanya tao sedikit panik, dia tak ingin jika appa-nya menyuruh kris membelikan buku untuknya dan membuat namja angkuh itu semakin membencinya
"kemarilah... ", ajak siwon
Siwon mengarahkan namja itu untuk mengikutinya, menaiki tangga yang sama yang ia lewati semalam dan pagi tadi menuju lantai 2, dan berbelok ke kanan untuk sampai pada sebuah lorong yang hanya diterangi oleh lampu-lampu kecil yang berbaris di atas kepalanya di setiap 1 meter. Lorong yang sama yang membuat tao penasaran tadi malam. Tao berjalan mengikuti langkah namja gagah di depannya itu, menyelusuri lorong hingga sampai di depan sebuah pintu kayu dengan design antik seperti yang biasa tao lihat saat ia melihat film-film kerajaan di film barat.
Siwon membuka pintu antik itu, membawa tao masuk ke dalamnya. Tak kalah mengejutkan, tao terperangah melihat deretan rak-rak besar yang menyimpan deretan buku dengan jumlah melimpah. Mungkin ribuan.
"apa ini perpustakaan kota paman ?", tanya tao terperangah, sedikit polos
"kenapa aku harus menempatkan perpustakaan kota di rumahku tao ?", siwon tertawa geli
"maafkan aku ...", sesal tao, atas pertanyaan memalukan tadi
"ambillah buku sesukamu", siwon mempersilakan
"benarkah ? wahhhh.. terimakasih paman..", tao menudukkan kepalanya pada pria yang selalu baik padanya itu
"tao...", singgung siwon
"ohhh appa... terimakasih appa", tao terlihat sangat senang
Tao berkeliling mencari buku yang membuatnya tertarik, tapi diluar dugaan, niat hati ingin mengambil banyak buku untuk dibacanya. Tapi ini bukan daftar bacaan biasa, ini adalah daftar bacaan dari keluarga tak biasa. Keluarga Wu.
Lelaki bersurai hitam itu hanya menghela napas pasrah, tak ada satupun buku yang sanggup ia baca. Kebanyakan adalah buku yang berkaitan dengan bisnis, kalaupun ada selain itu, kebanyakan berbahasa inggris, tao tidak bisa berbahasa inggris. Dulu ia berkuliah di jurusan sastra, tentu saja tao merasa tak tertarik dengan semua buku disana. Ia terduduk sedikit kesal di tengah rak-rak besar itu, dan disanalah ia melihat beberapa buku tua. Buku lain terlalu berat, sedangkan buku yang bisa ia mengerti adalah buku tentang dongeng yang biasa dibaca oleh anak kecil.
'tak apalah, daripada tidak sama sekali', keluh tao kecewa dalam hati
"chaenyol hyung,, apa yang sedang kau lakukan ?" tanya baekyun sambil melompat ke samping tubuh kakanya, meniru posisi kakaknya yang sedang asik memandangi kulkas, sambil berjongkok, menatap setiap sudut kulkas itu." Ia melirik hal sama dengan chaengol mencari sesuatu yang dia pikir akan menarik.
"kau ingin aku mati muda ? kenapa mengejutkanku seperti itu.. hahhh kasian sekali jantungku yang terus kau ganggu seperti ini.."
"tidak ada yang menarik disini" keluh baekyun bosan
Chaenyol mendesah " kau pikir aku disini seperti orang bodoh yang akan tertarik dengan benda kotak dingin bernama kulkas?"
"jadi apa yang menarik disini ?"
Chaenyol kembali menghela napas panjang sambil melirik kesal adik kecil polosnya, "lapar..."
"cepat masaklahh,, aku juga lapar.. okey hyung selamat memasak, aku sedang sibuk bermain get rich.. hahahaha" ,, tawa puas baekyun memenuhi seisi rumah
"ketawamu mirip setan" koment chaenyol ketus
"apa katamu ?" jawab baekyun sebel sambil memanyunkan bibirnya ke arah chaenyol
"ishh wanita tak tau diri.." ledek chaenyol kepada adiknya yang selalu mengomel seperti wanita itu
"hyuungg,,,, aku bukan wanita"
"laki-laki tak tau diri.." ledek chaenyol yang semakin membuat baekyun memanyunkan bibir kecilnya
"akuu adikmuuu..." tangkis baek
"adik tak tau diri" jawab chaenyol datar
"hyuungggggg... !" baekyun merengek manja pada kakaknya
"hyungg,, hyungg,, hyungggg..." ,, chaenyol semakin memanyunkan bibirnya setiap penambahan kata hyung , ledekannya kepada baeki yang maanja itu
Baek hanya buang muka, sambil merajuk.. kembali bermalas2an di atas sofa, fokus memainkan game di hanphonenya.
Kris pulang dari kantor, membersihkan diri dan langsung tidur, terkadang ia tidak langsung tertidur, tapi mengerjakan pekerjaan kantor, dan tidur.
"kris gege, apa kau butuh sesuatu ?" tanya tao ragu
"tidak" jawab kris ketus
"jika kau mungkin butuh..."
"diamlah.." potong kris
Suasana kembali tegang
"sebenarnya besok, aku ingin pergi ke undangan pernikahan temanku di seoul, bolehkah ?" tanya tao sedikit khawatir
"lakukan sesukamu"
"apa aku boleh menginap disana ?", tanya tao lagi
"aku bahkan tidak mengharapkanmu kembali kesin" jawaban dingin kris, langsung menusuk batin tao.
"baiklah... maafkan aku.." jawab tao sedih
"tapii, ada sesuatu yang kupikirkan, hmm mungkinkah jika kau menemaniku kesana ? jika aku hanya sendirian kesana, itu sedikit memalukan"
"aku sibuk" jawab kris singkat tanpa berpikir
Sudah seminggu semenjak tao kembali, tapi tak ada perkembangan apapun antara dirinya dan kris.
-Tingg tongg...
Seorang maid segera membukanya,
"siapa yang datang ?" tao yang sedang menonton tivi di ruang tengah bertanya penasaran
"tao hyung,, kau ada disana ?, aku baekyun sepupu dari kris , kita bertemu di hari pernikahanmu, 2 minggu yang lalu, kau ingat ?"
"ouhh yaya , ada apa kau kemari ?, kris gege sedang kerja.."
"kalau itu aku juga tau, aku hanya ingin kemari menemuimu"
"bagaimana kabarmu, apa kalian baik2 saja ?" tanya baek sambil membuka kulkas
"yaa" jawab tao , tersenyum menutupi kesedihannya
Sambil mencari sesuatu yang menyegarkan di kulkas milik orang itu, baek melanjutkan"kris hyung, walaupun sangat dingin, dia orang yang baik ko, jika dia sudah nyaman dengan seseorang, dia akan menjadi laki2 yang sangat hangat, sangat perhatian. Jika dia berbicara kasar padamu, atau tidak mempedulikanmu. Biarkan saja,,, dan jangan terluka..." baek meraih sesuatu dari dalam benda kotak kegemarannya itu "dia juga sangat setia lohhh,, bahkan dia masih mencintai cinta pertamanya dan menunggu luhan hyung selama 2 tahun.." tak sadar dengan apa yang ia katakan, ia menutup pintu kulkas sambil menyeruput susu stawbery yang ia temukan disana.
Tao masih dalam mood terkejut.. 'cinta pertama', 'masih mencintai', 'masih menunggu'. Apa maksudnya itu, jadi kris bersikap dingin bukan karna ia belum menerimanya, bukan pula karena ia marah dengan pernikahan yang dipaksakan. Tapi karena ia telah mencintai wanita lain.
Kris meregangkan otot2 tubuhnya, sudah tengah malam, dan kris baru bisa kembali kerumah, rapat, pergi ke tkp dalam peluncuran produk terbaru perusahaan, kunjungan kerjasama di luar kota, rasanya seperti harus berlari 100 kali keliling lapangan sambil melompat. Kris mengeluh dalam hatinya sambil berjalan pelan menuju kamarnya. Baru saja ia ingin membuka pintu rumah, ia tanpa sengaja melihat ada orang lain selain dirinya disana, menggulungkan tubuh tingginya di kursi depan pintu rumah. Tapi alih2 membangunkan istrinya itu, atau bertanya kenapa ia disana, atau apapun yang dilakukan manusia bermoral, kris melanjutkan langkah panjangnya menuju kamarnya, merebahkan tubuh tingginya di atas kasur empuk, matanya mulai terpejam, sudah beberapa menit dia hanya menggeliat tak tenang disana,, ia membuka mata, dan langsung terduduk. Ia memutuskan kembali keluar, kris juga hanya manusia biasa, membiarkan seseorang tertidur diluar di udara sedingin ini, bukanlah hal yang benar.
'kenapa pula dia bisa tertidur disana', pikir kris dalam hati
Tao masih tertidur pulas, tak begerak sedikitpun. Kris menghela, ia menunggunya terbangun tapi ini sudah menit yang kesekian. Tak ada perkembangan, ia menatap tubuh tao perlahan, menatap wajahnya, wajah tirus yang tampak tidak bahagia, tubuh yang sangat kurus, poni yang tergerai menutupi matanya, tanpa ia sadari, ujung telunjuknya bergerak pelan merapikan poni itu ke pinggir, hingga nampaklah mata tao yang memiliki garis kehitaman, mirip mata panda.
Kau boleh berharap sebanyak yang kau inginkan, tapi kau hanya tau sedikit tentang kebenarannya.
Kalimat dari sehun yang tanpa sengaja kris ingat.
'kebenaran apa yang kau maksud,, sehun ?', kris mendecih
"heiii bangun...", teriak kris, sambil menggoyangkan sedikt tubuh tao, tao mulai tersadar dari mimpinya
"ooo geee, kau sudah pulang ?", tao mengerjap-kerjap kan matanya yang belum terbangun sepenuhnya, di tangannya sebuah buku ia genggam.
Kris hanya diam, dan pergi ke kamar , diikuti oleh langkah namja yang mengikutinya dari belakang
"kau mau aku ambilkan kopi hangat ?", tanya tao masih memegang buku
"terserah...", jawab datar kris dibalas dengan senyum oleh tao
.
.
Kembali pada suasana kantor. Kris berjalan penuh percaya diri menuju ruang kantornya.
"heii sepupu,, whatsupp...?!." alis chenyol terangkat genit pada kris yang hanya memandangannya kering.. lalu berjalan lurus lagi.. "hyaaa,, tuan kris yang menyebalkan, aku tau kita jarang berbicara sebelumnya, dan tentang kita yang selalu dibandingkan, ayolah, kita bisa memulai berteman bukan..?" chaenyol tersenyum begitu cute, kris hanya berdelik sesaat..
"ada apa ?" jawabnya biasa, dengan ekspresi datar
"huhhhh,, kau inii,, untung saja aku orang yang sangat baik hati, bijaksana, ramah tamah.. hehehe" jawab chanyol dengan kepercayaan diri tingkat dewa.. "hooo,, ayahnya tao titip salam untukmu.."
Kris sedikit terperangah penuh tanya "salam ?"
"hhmmm,, tao tidak bercerita ? saat ia sedang menunggu bus, aku tidak sengaja melihatnya, dan berhubung aku sedang tidak sibuk, jadi aku mengantarnya dan ikut kerumahnya"
Kris terdiam sesaat,, "Baiklah,, terimakasih.. kalau begitu aku permisi.." kris berjalan namun pikirannya kini melambung pada khayalannya 'apa2an dia itu, apa dia bahkan berkencan dengan orang yang sudah menikah ?' kris tampak kesal.
Buuukkk...!
Pintu kantor yang malang, menjadi pelampiasan perasan kris yang sedang marah. Baru saja kepala kris muncul pada ruang kerjanya, mata kris terbelalak, membulat terkejut. Ia memandangi dengan seksama, takut bahwa ini hanya khayalannya saja akan sosok namja mungil didepannya itu, tingginya hanya se dada kris, dengan perawakan langsing berisi, namja imut itu melemparkan senyum manis pada wajah kris sambil mengibaskan rambut hitam kemilaunya yang sudah agak panjang hingga setengah lehernya.
Tanpa ada jeda barang 1 menit, namja imut itu langsung loncat kedalam tubuh kris, memeluknya erat, melepas rindu, sambil tersenyum bahagia kris memeluk kembali namja itu. melepas rindu yang ia tahan selama 2 tahun..
"LU.. HAN..." ..
.
.
.
TBC
Sebelumnya terimakasih pada semua readers yang sudah mampir di FF ini. Ini adalah cerita pertama saya setelah mengenal dunia FF, jadi mungkin masih banyak typo, salah penamaan, dan hal-hal yang masih harus saya perbaiki. Mohon masukannya yaa...
Terimaksih juga sama semua reviewer yang sudah mengeluarkan pendapatnya buat tulisan ini.
Nama lengkap tao itu Huang Zhitao dehh.. jadi saya tulis 'zhitao' saja.. bagusan zhitao kan lagian ^^
Silakan di baca dan di riview..
Semoga kedepan saya bisa menulis tentang pairing TAORIS lebih banyak lagi, emang seneng banget sama couple yang satu ini..
