Hai, minna!
Saya nggak nyangka kalo akan ada yang suka sama fic ini *baper
Makasih untuk yg sudah fol, fav, dan review. Apalagi yg membangun agar kelanjutannya lebih baik. Terima kasih banyak *ojigi
Balasan review
Khoerun904: Coba tebak dulu
Sakucherry-nyan: Ini sudah. makasih
Luca Marvell: settingnya fantasy kak. Tapi sewaktu-waktu bisa aku campur-campur? Ini sudah lanjut
CEKBIOAURORAN: ini sudah
xiuka07: makasih ya ini sudah lanjut
Niayuki: ini sudah
lightflower22: wkwkwk iya ini lanjut
babyby: ini sudah
matarinegan: kan masih prolog kakak TT. nanti chapter selanjutnya diusahain lebih panjang kok. Ini sudah lanjut
megan091: wussss sudah kilat kah? baru dua hari wkwkwk
hanazono yuri: sudaaaaaaah
DeShadyLady: Coba tebak dulu. Sudah lanjut
Ibnu999: baca chap ini biar penasaran siapa Sasuke :v
finfinys: Ini sudah
ArizaEzakiya: update asap? Ini sudah
Shinigami Hime: Iya lanjut _- saya akan tanggung jawab wkwk
Guest: iya kayaknya wkwkwk *kejam
maya: Sudah lanjut
Angelzsky: ini lanjut
Disclaimer: Masashi Kishimoto
oOo
Warning: Typo bertebaran, ga jelas, OOC, DLDR
oOo
Selamat Menikmati
My Cute Lady
.
.
.
chapter 1
(Sakura POV)
Nyanyian burung kecil di depan jendela terdengar merdu di telinga. Saling menyahut dengan kawanannya seakan mengatakan 'ini hari cerah, hari baik'. Entahlah.
Yang kini membuatku kesal adalah siapa yang sudah membuka tirai jendela? ugh menyebalkan. Sinar matahari berhasil membangunkanku dengan gerutuan di bibir.
Ku renggangkan tubuhku sebelum melihat sekeliling kamar. Dimana Sasuke-nii? Ku kerucutkan bibirku sebal. Beraninya nii-chan meninggalkanku padahal dia sudah berjanji menjagaku.
Turun dari ranjang empukku dan berjalan keluar dari kamar sambil menghentak-hentakkan kakiku. Ku telusuri koridor dengan setengah berlari mencari nii-chan. Mengitari berbagai ruangan yang membuatku lelah sendiri.
"huft menyebalkan! Awas saja jika ketemu!" Ku putuskan untuk menuju ke dapur. Masih ku hentak-hentakkan kakiku saat menuruni tangga tanpa takut jatuh sekalipun. Mungkin jika nii-chan melihatku seperti ini dia akan memarahiku ini dan itu. Aku tertawa sendiri membayangkannya.
Sesampainya di dapur aku belum juga melihatnya. Hanya ada pelayan yang bersliweran yang akan menunduk sejenak jika berpapasan denganku sebelum melanjutkan tugas masing-masing.
"Apa ada yang bisa saya bantu nona?" tanya Ayame-san padaku. Dia salah satu pelayan yang mengurusi kebutuhanku. Sebenarnya aku bisa mengurusi diriku sendiri. Sungguh! Tetapi nii-chan selalu saja memperlakukanku seperti bayi kecil. Dia akan mengatakan 'kau tidak bisa, Saku', 'kau membutuhkan pelayan', atau 'kau terlalu ceroboh, Sakura' menyebalkan!
"tidak Ayame-san. Aku hanya ingin mengambil minum. Aku bisa sendiri," jawabku dengan senyum manis sebelum Ayame-san menawarkan diri untuk membantuku. Lalu Ayame-san memohon diri untuk melanjutkan pekerjaannya sebelum menunduk singkat padaku.
Ku buka lemari es yang terlihat menggoda itu. Seketika udara dingin menerpa tubuhku. Mengingat tadi aku sudah berlari sambil menggerutu membuat tenggorokan cukup kering. Ku lihat jejeran minuman yang ada dan ku putuskan mengambil susu coklat.
(Normal POV)
Sakura mulai meneguk susu coklat yang notabennya minuman favoritnya. Baru satu teguk ia minum namun dari arah belakang sudah ada yang berani mengambil paksa susu coklatnya. Di tolehkan wajahnya dengan raut sebal yang sangat kentara. Namun detik itu juga raut sebal itu luntur melihat tatapan tajam sang kakak.
"nii- nii-chan aku.." cicit sakura saat melihat Sasuke yang menatapnya marah. Harusnya sekarang ia merah. Tetapi karena tatapan sang kakak membuatnya takut seketika.
"Apa kau tau kesalahanmu, Saki?"
glek. Jika Sasuke sudah memanggilnya seperti itu berarti dia tengah serius. Sakura menunduk tak berani menatap mata kakaknya.
"Aku.. aku haus nii-chan. Aku hanya mi-minum"
"Apa kau tak tau meminum susu dingin di pagi hari itu tak baik untuk kesehatanmu? Bukankah aku sudah pernah mengatakannya?" timpal Sasuke semakin datar masih dengan mata tajamnya. Kemasan susu coklat tak bersalah tadi sudah remuk di tangan sasuke dan berakhir di tempat sampah. Membuat Sakura tersentak akibat suara kemasan susu yang menghantam keras tempat sampah. Sasuke terlihat geram saat mengetahui lagi-lagi Sakura mengabaikan kata-katanya. Hei, wajar jika Sasuke geram. Dia sangat menyayangi Sakura.
"ma-maaf nii-chan hiks..ta-tapi ini juga salah nii-chan! Tadi a-aku lari-larian mencarimu! hiks sampai haus seperti i-ini! hiks hiks.
Jika saja nii-chan tidak hiks, pergi aku tidak akan mencarimu, hiks"
"Hn.. kemarilah,"
Melihat Sakura yang sudah bersimbah air mata itu membuatnya tak tega juga. Ia dekap Sakura yang sekarang malah memukul-mukul dada bidangnya. Sasuke hanya menghela nafas pelan melihat tingkah Sakura yang sangat kekanakan itu. Ia usap surai merah muda Sakura, mencoba menenangkannya.
" nii-chan jahat! hiks. Selalu saja memarahiku, hiks. jahat! hiks jahat! Padahal aku hanya lupa, nii-chan! hiks hiks"
Lagi-lagi Sasuke hanya bisa menghela nafas. Tak taukah Sakura jika dirinya menghawatirkan kesehatannya? Bahkan Sasuke setia mengingatkannya untuk makan dalam keadaan apapun. Huft, tapi pada dasarnya adiknya itu terlalu tak peka untuk menyadari semua perlakuannya.
"Ssttt sudahlah. Aku tak memarahimu,"
"hiks, jelas-jelas nii-chan marah! hiks" Sungut Sakura masih tak terima.
"Hn. Lihatlah wajahmu itu. Kau terlihat semakin jelek jika menangis," goda Sasuke.
"Huwaaa hiks Onii-chan jahat, jahat, jahaaat! hiks hiks huwaaa hiks" raung Sakura sembari terus meronta dari dekapan Sasuke. Sasuke sendiri hanya bisa terkekeh pelan melihat tingkah Sakura. Semakin dieratkannya dekapannya pada Sakura lalu ia kecup lama pipi sakura yang sudah memerah karena menangis. Tak ayal perlakuannya membuat Sakura terdiam. Ia tatap wajah Sakura yang semakin merah padam karena ulahnya. Ia terkekeh pelan, lagi.
"ugghh nii- nii-chan! Se-selalu sa-saja menciumku se-suka hati. Aku ini sudah be-besar!" Dengan kesal bercampur malu Sakura menyembunyikan wajahnya di dada Sasuke. Melupakan sejenak jika ia tengah marah pada kakaknya.
"Hn, kau tetap gadis kecilku. Sekarang pergilah mandi. Setelah itu kita sarapan. Aku akan meminta Ayame membuatkan susu coklat hangat untukmu."
Dengan senyum tipisnya Sasuke memandang Sakura yang sudah berlari menuju kamarnya.
.
.
.
oOo
.
.
.
"nii-chan? Apa nii-chan dulu juga mengikuti pelatihan?" tanya Sakura di tengah perjalanan menuju camp tempatpelatihannya.
"Tentu saja. Kau harus berlatih dengan bersungguh-sungguh, Sakura. Di sana kau akan belajar untuk bisa menjadi gadis kuat," masih dengan menyetir, Sasuke menoleh melihat Sakura yang tengah memainkan kuku jarinya. Kebiasaan Sakura saat dia tengah gugup.
"Jangan gugup. Aku akan menunggumu sampai pelatihan selesai." lanjutnya.
"Te-tentu saja, nii-chan. Dengan begitu aku bisa melindungi nii-chan dari orang jahat. Aku akan memukuli mereka yang jahat pada nii-chan." Ucap Sakura heroik setengah ragu pada Sasuke yang malah di balas dengan kekehan pemuda itu.
"ya, Sakura. Tentu saja kau akan memukuli mereka," sambung Sasuke sambil melirik Sakura yang kesal karena merasa diremehkan.
"Aku serius nii-chan!" balas Sakura dengan kerucutan dibibirnya lalu membuang muka melihat luar jendela.
"Lihatlah siapa yang marah. Orang jahat pasti akan langsung melarikan diri melihat wajahnya," goda Sasuke membuat Sakura mencubit pinggangnya.
"ughhh rasakan ini! menyebalkan."
Tanpa menanggapi cubitan sakura pada tubuhnya yang mati rasa itu Sasuke malah tersenyum melihat Sakura yang sudah melupakan rasa gugupnya. Perhatiannya memang mudah dialihkan. Ya, tanpa sadar Sasuke membuatnya tak gugup lagi.
"Kita sudah sampai." Ucapan Sasuke sukses membuat Sakura memandang bangunan di depannya. Sebuah gedung besar- sangat besar bergaya eropa yang nampak kokoh. Hanya dengan melihatnya saja siapapun tau bahwa gedung- ralat- kastil itu memakan banyak biaya pembangunan. Dari segi manapun tempat ini tetlihat 'berseni' dan 'mahal' pikir Sakura. Dasar
"Kau mau turun, Sakura?" pertanyaan Sasuke menyadarkan Sakura.
"Tentu saja, nii-chan." dengus Sakura
"Hn."
Mereka berdua berjalan melalui lorong kastil. Bahkan di setiap dinding kastilpun banyak ukiran-ukiran yang rumit seperti sebuah cerita. Sakura tak henti-hentinya berdecak kagum melihat interior kastil. Dia terus saja mengoceh ini itu dan bertanya ini itu pada Sasuke. Si empunya hanya akan menjawab singkat, jika tak begitu ia akan melontarkan konsonan khasnya. Hn.
"Perhatikan jalanmu, Sakura. Jika tidak kau akan menabrak seseorang." Peringatan Sasuke hanya di balas dengan cengiran tanpa dosa ala Sakura. Di sana memang banyak orang. Dari anggota baru seperti Sakura hingga anggota lama camp.
Sasuke menuntun Sakura memasuki aula kastil. Di sana banyak remaja seusia Sakura, beberap tengah sibuk mencari tempat duduk yang cocok. Sakura sendiri mengamati seisi ruangan guna mencari tempat duduk yang masih kosong.
"ne, nii-chan kenapa ramai sekali? ughh, bagaimana jika aku tidak mendapat tempat duduk?" lagi-lagi rasa gugup melanda Sakura.
"Aa. Masih banyak tempat duduk, Saku." Sasuke membawa Sakura ke deretan bangku yang belum banyak diduduki.
"Duduklah di sini. Aku akan keluar sebentar." Sasuke langsung menoleh mendapati adiknya menarik ujung jasnya dengan raut gelisah.
"Tetaplah di sini nii-chan. Aku tak mau sendirian." rajuk Sakura.
"Sebentar saja, Sakura. Aku janji. Carilah teman selagi aku keluar."
"huft, baiklah."
Sasuke mengacak surai merah muda Sakura sebelum berlalu pergi. Sakura hanya diam hingga salah satu panitia acara naik ke podium. Sakura tidak terbiasa di tempat ramai tanpa Sasuke. Sambutan dari panitiapun bagai angin lalu yang tak ia hiraukan. Hingga seorang gadis pirang duduk di sampingnya.
"Hai! Bolehkan aku duduk di sini? Tempat lain sudah penuh." Tanya gadis itu dengan senyum cerahnya.
"Tentu kau boleh duduk di sini emm.. "
"Ah, perkenalkan aku Yamanaka Ino. Salam kenal," kata gadis bernama Ino itu sambil mengulurkan tangan.
"Salam kenal juga, Yamanaka-san. Aku Uchiha Sakura." Sahut Sakura menyambut tangan Ino.
"Panggil Ino saja, ne."
"Baiklah, Ino." Setidaknya Sakura tak lagi sendirian menunggu sambutan demi sambutan berakhir.
.
.
.
oOo
.
.
.
"Jadi akhirnya kau membebaskannya, Sasuke?" tanya seorang pemuda yang masih tak percaya akan tindakan temannya.
"Hn. Aku tak ingat pernah mengurungnya," perkataan pemuda itu sukses membuat Sasuke mengernyitkan dahi.
"Hei, kau kira dengan home schooling-nya selama ini tak mengurungnya? Kau berhasil membuatnya selalu dalam pengawasanmu, ne?"
"Hn. Cukup lakukan sesuai dengan keinginanku. Aku pergi."
"Cih. Selalu saja semaunya sendiri," mau tak mau sang pemuda berdecih menghadapi tingkah Sasuke.
"hh.. Tapi aku juga tak mungkin menolaknya." imbuh sang pemuda dengan seringaian di wajah rupawannya.
.
.
.
oOo
.
.
.
(Sasuke POV)
Ku layangkan pandanganku keseluruh ruangan. Hanya ada beberapa orang yang entah sedang apa dengan buku-buku mereka. Tak dapat ku tangkap surai merah muda kesayanganku. Sesegera mungkin ku cari Sakura di segala tempat yang bisa aku tuju. Tak biasanya Sakura meninggalkanku dari tempat yang jelas-jelas sudah janji akan ku datangi.
Setiap langkahku yang terburu-buru tak membuatku takut untuk menabrak seseorang nantinya. Entahlah, mungkin karena tubuhku yang bisa berkelok sendiri sebelum menabrak sesuatu. Yang terpenting sekarang adalah menemukan gadis nakal itu. Kenapa dia selalu saja mengabaikan perkataanku?
"Onii-chaaaan! Cepatlah," Ah, itu dia. Melambaikan tangan ke arahku dengan senyum tanpa dosanya. Bisa-bisanya dia bertingkah seperti itu!
Dengan cepat aku menghampirinya dan memeluknya erat. Mencoba menghilangkan rasa gelisah yang sempat merasukiku
"Kenapa kau tak menungguku di aula?"
"Eh? Aku bosan nii-chan.Ino juga sudah pulang lebih dulu," rajuknya di rengkuhanku.
"Ino?"
"huum, dia teman baruku. Dia sangat baik nii-chan, dan kakaknya juga pelatih di camp ini,"
"Aa. Sebaiknya kita cepat pulang. Kita lanjutkan ceritamu di rumah."
Segera ku gandeng tanganya menuju mobil. Menghindari tatapan seseorang yang sedari tadi memandang kearahku dan Sakura. Ku lirik kaca spion tanpa menanggapi celotehan gadis di sampingku. Ah, mata itu. Tanpa sadar kecengkeram erat kemudiku mengingat siapa dia. Bola mataku pun kini mulai berubah disusul taring yang mulai mendesak keluar. Kenapa dia muncul lagi?
Aku takut tangan itu menarikmu
Membawamu jau dari hidupku
Tapi takkan kubiarkan lagi
Karena dengan cara apapun
akan kusingkirkan dia
tbc
A/N:
Aduuuh maaf jika banyak typo yaaa. ini saya nyempetin waktu buat nulis sebelum besok mulai masuk sekolah lagi. Mungkin untuk chap selanjutnya update sekitar satu minggu lagi.
Jika berkenan silahkan fav, fol, and review. Kritik dan saran juga saya terima *
Special Thanks to:
unnihikari, gamaichans,
hanazoro yuri, azizaanr, lightflower22, Watashi Wa584, CEKBIOAURORAN, Ranindri, aindr433, sitieneng94, Amysuki, jun30
and Guest.
terima kasih untuk yg sudah fav, fol, and reviewnya yaaa. Tak lupa silent readers juga *
Sign
Fia Cherry H
