Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Written by Akashitty

.

.

AKASHITSUJI – The Fallen

An Akafuri Fanfiction

well, a little Kurofuri as well

.

.

Chapter I – Fiery


.

Do you know why people like violence? Because it feels good.

Humans find violence deeply satisfying. But remove the satisfaction, and the act becomes... hollow. (Alan Turing—The Imitation Game)

.

.

Pintu kayu reyot berpapankan label toilet itu sudah tak terhitung berapa kali berpapasan dengan buku jemarinya yang memerah dalam gebrakan menggema. Pupil senada pohon jati kian melebar dan menyempit, napas di ujung tanduk. Erangan abnormal meraung meronta-ronta, berkali-kali melampiaskan teror yang menghantui pada sang pintu tak bersalah.

Sayatan-sayatan yang mengalungi lehernya tak menyurutkan niat. Furihata Kouki memukul, menendang, mencakar-cakar pintu yang terkunci dari luar. Memenjarakannya dalam gudang tak berpenerangan, lantai dua kali tiga meter ini menyurutkan pasokan oksigennya. Ingin rasanya menggebrak lagi, namun pundaknya kian membiru. Menyamakan warna di sekeliling indera penglihatannya.

Kouki benci ruangan gelap.

Kouki benci ruangan sempit.

Kouki benci orang-orang yang menyeretnya kemari.

Kouki benci orang-orang yang menghajarnya membabi buta.

Kouki benci dirinya sendiri.

Kouki benci semua orang.

Kouki benci dunia ini.

Namun toh umpatan kedengkian yang ia lantunkan dalam hati takkan pernah berwujud dalam kenyataan.

Yang ia perdengarkan pada orang hanyalah rintihan lemahnya. Tawa paksanya. Anggukan pasrahnya.

Kouki benci menjadi lemah.

Ah, bukankah sekali lagi ia hanya mampu melantunkan cercaan dalam pikiran?

"Furi? Oi, Furi!"

Kouki mendengarkan, namun tak mempedulikan. Inderanya masih berfungsi dengan baik, namun otaknya mulai rusak.

"Ayolah, Furi! Jangan cengeng seperti gadis lemah begitu, dong!"

Fokusnya masih terpatri pada irisan jarum yang memanjang di sekujur lengannya. Kedua biji almond itu kini merenung hampa, kosong. Aroma amis dari toilet wanita usang yang tak terpakai itu menguar di sekeliling hidungnya. Namun sekali lagi, otaknya tak mampu memproses apapun. Lagipula di sana gelap. Mau memandang apapun percuma.

"Oh, ayolah, Cengeng! Tunjukan tangis dan jeritanmu lagi!"

"Mungkin dia belum makan?"

"Bohong! Padahal sudah kupaksa makan kaus kakiku sebelumnya!"

"Yang belum pernah kau cuci selama sebulan itu?"

"Serius? Hiiiiy!"

Kouki benci.

Kouki benci semua orang.

Tapi, seperti yang dikatakan, chihuahua pengecut sepertinya, hanya dapat memendam segalanya dalam hati.

Kan?

.

.

.

Di lain tempat di waktu sebelumnya.

Pagi-pagi buta biasanya Kouki telah bangun menjejal hari, berpapasan dengan ayam jago berkokok dalam perjalanannya ke sekolah. Agak risih karena embun penghujung musim dingin yang berjatuhan dari daun mapel yang berjejer sepanjang jalan menjatuhi kepala cokelatnya.

Seharusnya dengan berangkat sekolah, Kouki punya kesempatan untuk menghirup segarnya oksigen murni. Seharusnya dengan begitu ia dapat mengerjakan piket hariannya—ah, ini kebijakan khusus bagi Kouki oleh teman-teman sekelas, tentunya—dengan damai, tanpa interupsi berarti. Tas selempang yang ia sampirkan di meja agaknya sudah cukup untuk menandai eksistensinya di kelas selagi si pemilik surai brunet membuang sampah di halaman belakang… di mana segala kejadian buruknya tercipta.

Ia diseret oleh gerombolan anak-anak kelas lain. Dipukul, disiksa, dilucuti hampir semua pakaiannya, dikuncikan di toilet putri usang—meditasi, katanya—dan dibiarkan hingga terlupakan.

Well, kejadian ini tak berlangsung satu-dua kali.

Mungkin hanya si paras triplek, Kuroko Tetsuya lah yang menyadari kealpaan si rambut cokelat ketika nama pemuda itu terlewatkan dari garis mata sang guru dalam absensi kelas. Pemuda biru itu mungkin hanya satu-satunya orang yang memperlakukan Kouki ada. Meskipun eksistensi pemuda tanpa aura itu hanya dianggap urutan sepersekian dalam daftar orang-terpenting-bagi-Furihata-Kouki, Tetsuya tak pernah mempermasalahkannya.

Seperti saat ini pun. Tetsuya selalu mempunyai cara untuk mendapatkan duplikat kunci berbagai macam ruangan dalam gedung sekolah. Bahkan untuk yang satu ini pun tak terlewatkan. Diam-diam ia mengetahui aksi brutal anak-anak kelas lain pada si brunet yang selalu ada dalam jarak pandangnya. Maka pada saat bel istirahat siang bergema, Tetsuya tak menyiakan barang sedetik setelahnya untuk melesat ke halaman belakang, melancarkan aksi heroiknya terhadap Kouki, mengeluarkan si penderita claustrophobia dari nerakanya, kemudian mendekapnya dalam rangkulan kasih.

Setidaknya, itulah angan-angannya sesaat sebelum menemukan seorang pemuda asing yang juga berada dalam neraka Kouki-nya. Menggantikannya merengkuh si brunet dengan ka—bukan, itu bukan mata kasih, surai membaranya seolah memerintahkan Tetsuya untuk lari. Postur tubuhnya bukan postur proporsional untuk orang yang berbahaya, namun auranya mengatakan oposisinya. Pakaian yang ia kenakan senada dengan kobaran api—jas berekornya menjuntai hingga ke lantai, trouser marun dan sepatu yang mengkilap berkilau.

Dan lagi iris heterokromia yang menyala berbahaya, menyorotkan jarum-jarum ilusional yang menusuk tajam, seolah merobek gemuruh cemburu dalam dada Tetsuya. Pandangan si blunet terarah resah pada Kouki yang tak sadarkan diri, panik dengan cepat menguasai. Ia mempertanyakan orang asing yang kini menggendong pemuda cokelat itu dengan posesif, namun hanya sampai hati. Hanya sampai ketika si rambut merah—yang dengan entah bagaimana—menaikkan satu jemarinya ke arah mulut yang menyunggingkan seringai runcing, menggesturkan Tetsuya agar bungkam dan…

Keep it secret.

.

.

.

Furihata Kouki hidup sendiri dalam apartemen bobrok di pinggir kota, jauh dari hiruk-pikuk kesibukan Tokyo. Orangtuanya secara ajaib menitipkannya dalam panti asuhan tatkala si bocah berumur 9 tahun, usia yang cukup untuk mengetahui bahwa dirinya telah dibuang oleh orangtuanya.

Menyusahkan. Pengganggu. Jika kau tidak ada, kami bisa bercerai dengan mudah!

Itu hanya segelintir dari sekian bentakan yang didengarnya dari mulut sang ibunda tiap malam. Dan Kouki cukup tahu berterima kasih. Ia lari dari kenyataan dan lupa untuk membenci orangtuanya. Ia hidup dalam kehampaan, bahkan setelah panti asuhan tempatnya bernaung ludes dibakar si jago merah.

Bertahun-tahun hidup sendirian cukup untuk membuatnya ingat bahwa tatkala ia bangun dari alam mimpi, ia harus menjalani segalanya sendirian. Ia harus ingat untuk bangun sebelum pukul empat berdentang. Ia harus ingat untuk merebus air hangat tiap pagi dan malam. Dan ia harus ingat untuk memasak makanan sendiri untuk mengisi kelaparan.

Tapi ia tidak pernah mengingat aroma masakan yang ia buat sewangi ini. Bahkan dalam kuasa alam bawah sadar, Kouki dapat mengenalinya. Aroma bubur oatmeal dengan taburan arbei, potongan pisang segar, irisan buah kiwi yang tiba-tiba merangsang kelenjar parotisnya, cukup untuk membuat sepasang kelopak mata Kouki berkedut, sebelum akhirnya terbuka sayup-sayup.

Yang tertangkap dalam visinya kemudian justru bukan bubur penuh buah-buahan. Melainkan surai merah yang tiba-tiba memenuhi jarak pandangnya dan terasa menggelitik dahinya. Kouki mengedip sekali. Dua kali. Tiga kalipun belum cukup. Baru yang keempat ketika ia mengedarkan pandangan, menangkap sepasang manik dwiwarna menancap lurus ke arahnya.

"Who-oaa-AAW! Adududuh…" mulut Kouki kembali mengatup dari gerakan refleknya yang sembrono. Tak sadar akan tepi mulutnya yang robek dan mengucurkan banyak darah—seharusnya. Namun toh sebuah plester transparan mencegah likuid merah itu untuk mengucur dari sudut bibirnya.

Si kepala merah mundur, menjauhkan diri dari si brunet yang tengah menatapnya penuh curiga, bingung, takut, semua diaduk menjadi satu.

"Selamat pagi, Kouki-sama."

Kouki tak mengerti—dan selamanya mungkin takkan pernah mengerti—mengapa namanya yang dinistakan orangtuanya dapat terdengar begitu indah jika terlantun dari mulut sang orang asing ini. Kouki mematung untuk menit-menit berikutnya, mencerna baik-baik figur tampan yang berdiri dengan well-mannered dan anggun tersebut. Dari pakaiannya Kouki mengasumsi bahwa ia adalah semacam pelayan kelas atas dengan jas marun berekor menjuntai dan sarung tangan putih khasnya. Pandangan matanya yang sayu merendahkan, tajam dan menegangkan.

Yang jadi pertanyaan adalah, semenjak kapan apartemennya berubah menjadi kafe butler dadakan?

Bukan, bukan. Yang benar adalah; kenapa ada cosplayer menyasar kemari?

Responnya terlalu lambat. Begitu lambat hingga si kepala merah yakin bubur di atas meja kecil yang ia suguhkan mendingin.

"A-anu…" Kouki tergagap, kemarau serasa melanda tenggorokannya. Baru saja Kouki ingin membuka suara, si figur merah tiba-tiba sudah berada tepat di samping, menyodorkan segelas air putih yang entah datang dari mana.

"Jangan terburu-buru. Kouki-sama baru saja siuman setelah pingsan selama dua hari. Tenggorokan Anda pasti sakit." Melodi elegan itu kembali terdengar. Kouki jadi susah fokus untuk menegak minumannya.

Sesudahnya, Kouki disuguhi sesendok bubur menggoda indera tersebut. Pupil mungilnya mendelik, bingung padahal sedetik lalu si tangan bersarung putih baru saja menggenggam gelas bening mahal—yang diingatnya tak pernah masuk dalam jajaran koleksi gelasnya di dapur.

Ketika gumpalan bubur itu menjejaki indera pengecapnya, Kouki bersumpah ia takkan mati menyesal. Ia jadi bertanya-tanya apakah ia selama ini hidup sia-sia karena baru kali ini mengecap makanan demikian lezat. Menangkap kilau inosen dari si brunet, sudut bibir si kepala merah bergerak melawan gravitasi, menyunggingkan kurva samar. Nampaknya si pelajar SMA yang satu ini masih belum dapat menangkap kondisi di sekitar pasca siuman.

Sekitar lima belas menit kemudian, isi mangkuk bubur tersebut ludes oleh Kouki. Si kepala merah baru saja akan membawa mangkuk kotor tersebut ke dapur hingga tiba-tiba sepasang lengan ringkih mengetuk-ngetuk ujung jas mewahnya. Itu tangan Kouki, yang gemetar dan lemah.

"Maaf?"

Tremor itu berpindah dari ujung jari menuju ujung bibirnya yang tergigit skeptis, berusaha merangkai kalimat—atau minimal frasa—yang dapat menyuarakan pikirannya yang mengganjal sedari awal.

"A-anu, i-ini mungkin terdengar aneh, t-tapi… a-apa kau seorang cosplayer?"

Pertanyaan yang salah, Kouki. Sangat salah. Nampaknya bubur lezat itu memiliki efek samping terhadap kewarasanmu. Sedikit.

Meski konyol, si kepala merah tetap mempertahankan wajah tripleknya. "Bukan. Saya hanya seorang pelayan."

"Eh?" yang bertanya justru makin bertanya-tanya. "S-siapa namamu? Ke-kenapa kau ada di rumahku? A-apa yang terjadi selama… aku pingsan? A-apa k-kau yang membawaku kemari? K-kau juga menyebut nama depanku tadi. S-sebenarnya kau ini sia—uhuk, uhuk!"

Secepat kilat, pemuda yang mengaku pelayan itu melempar mangkuk kotor di tangannya hanya untuk mendarat dengan anggun di meja tidur, kemudian menghampiri Kouki dan menyuguhkannya air sekali lagi. "Saya sudah bilang untuk pelan-pelan. Saya mengerti ada banyak hal yang harus dijelaskan, tetapi Anda harus istirahat total untuk sekarang. Pikiran Anda sedang kacau."

Kouki meringis. Rasanya air yang mengguyur kerongkongannya tak membantu. Maka ia merebahkan dirinya pelan, menyesapi kenyamanan kasur empuk yang menyapa punggungnya yang perih sehabis tersayat. Kouki memilih untuk menyortir beribu pertanyaan yang menggerayangi pikirannya, dengan masih menahan ujung jas si pemuda asing.

"K-kalau begitu, saat itu kau… menemukanku di mana?"

"Di toilet wanita."

Kouki menggigit bibir keras-keras. Bodoh. Tak seharusnya ia menanyakan hal retoris. Toh ini tidak seperti memorinya akan kejadian lalu terhapus berkat—yang mana kali ini Kouki terus menyalahkan—oatmeal lezat barusan.

"K-kenapa k-kau bisa… kau tahu…" Kouki takut untuk melanjutkan.

"Itu tidak penting." Jawaban yang menggantung, tapi sekali lagi, Kouki memilih untuk menghabiskan daftar pertanyaan di otaknya. "Yang lebih penting sekarang, Kouki-sama, saya telah membereskan mereka semua."

Napas Kouki menolak untuk keluar dari laring tatkala mendapati seringai ganjil di wajah pemuda itu. Membereskan, katanya? Apakah mungkin pemuda asing ini mengetahui perihal tindak kekerasan teman-teman—ah, Kouki lupa, mereka bukan teman—nya? Siapa sebenarnya…

Kedua alis Kouki lama-lama tertarik gravitasi, lalu bertanya, "Kau ini sebenarnya siapa?" cepat-cepat hingga suaranya yang gemetar terkalahkan rasa penasarannya.

Si pemuda terkekeh kecil, lantas dengan gerakan yang anggun, tegas nan arogan, ia membungkukkan badan tepat empat puluh lima derajat dengan sebelah tangan tersampir di dada kirinya,

"Nama saya Akashi Seijuurou, Si Pelayan Merah."

.

.

.

tebece

.

.

A/N:

Aaaawh. Aku cuma mau ngucapin makasih yang baaanyak sama yang sudah meriviu prolog abal kemarin.

Ini kali kedua ngepost epep dan hyaa gitudeh ya banyak ekspektasi berseliweran.

Gimana chapter ini? Ya ampun aneh ya? Hnnnngg aku kurang banget nih soal ngebawa plot. Kalo ada kritik saran silakan mbak, maas. Tapi jangan diflame dulu, aku masih newbie di sini. Takut ._.

Cerita ini aku ngerasanya slow paced banget tapi pas ngeliat wordsnya… ih selama ini aku nulis apa sih -_-

Oh ya kenapa aku manggil Furi dan Kuro pake nama depan? Karna mereka berdua unyuh :3

Terima kasih buat yang sudah membacaa~ riviunya kutunggu~