Hey! Ketemu lagi dengan saia, RA a.k.a. Raden Ajeng a.k.a. Rempong Abyss /BUKAN. RA itu kalo di bahasa Jepang artinya minyak pedas buat ramen cina. HAHA /BUKANJUGA. RA singkatan dari Rokuna Aldebaran. Sungguh penname alay yang saia sendiri gatau kenapa saia pilih hahaha. Dulu saia nonton Monster Collection dan sangat ngefens sekali dengan Mondo dan saia juga suka sekali dengan kehijauan rambut pacarnya, yaitu Rokuna. Asli gak jelas banget saia. Dari kecil udah random. Yasuda...

Saia tau kok chapter 1 aja bahkan belum ada yg review hahay but I published chapter 2 anyway coz I wannit so bad... Dan saia lagi ada waktu! Ehem, jadi sekarang saia udah tingkat tiga. Tahun depan udah masuk lab. Jadi kalo kuliah jurusan IPA di sini, taun ke empatnya tu full lab. Jadi lab lyfe gitu deh, macem peneliti2 LIPI sungguhan. Man, that's cool and hardcore at the same tyme. So, kira2 kaya apa, ya, lab saia besok? Hardcore kah? Savage? Hellish? Hoho, besok aja mikirnya. Yang pasti saia ingin nilai saia up up up semester ini dan semester depan, karena semester lalu udah lumayan hancur. Tapi cincai lah. Apalah arti nilai bagus tapi hidup stres dan jadi cepat mati? No no no.

Apalah ini ya ampun. Sungguh a/n yang sangat tidak berfaedah. Anyway, moga fiction ini menghibur dan bikin penasaran tentunya. Jangan lupa review ya :) Tolong ya, Sing. Singa! Onegaisinga. Hohoho. Hadeuh. Capek ya ngelihat bahasa Jepang saia hehehe...


Pala Telesia

(May You Find Your Destiny)

.

DISCLAIMER

Dragon Nest © Shanda Games

I own all the OCs

.

Main characters list

Roris – Archer: elf muda yang berkelana untuk memenuhi takdirnya

Regillus – Cleric: manusia berhati lembut yang memiliki misi melindungi Lagendia beserta penghuninya

Giga – Warrior: antara prajurit dan pelawak, namun berhati ksatria

.

.


Chapter 2

Kabar Angin

.

Sejak pertemuan mendebarkan itu, siang dan malam silih berganti. Musim lari dan kembali. Cobaan menerjang dan berhenti. Orang datang dan pergi. Mereka setia bertiga.

Ia mendongak, menatap kelambu hitam yang terbentang di atas darat dan laut. Bergeming. Regillus tak terguncangkan. Dengan punggungnya ia memikul tanggung jawab: melindungi sahabat-sahabatnya. Ya, cobaan boleh menerjang dan berhenti, orang lain boleh datang dan pergi, namun, selama ia bersama Roris dan Giga, angka tiga itu tidak akan berkurang. Ia akan menjaganya.

Untuknya, itu adalah masa yang sangat indah. Saat-saat yang menyenangkan, dihiasi canda tawa, walau ada sejumput cerita sedih dan sejumput lagi sindiran-sindiran sinis. Terkadang mereka berpisah beberapa hari untuk melaksanakan spesialisasi job masing-masing. Tapi di luar itu, Giga, Roris, dan dirinya tidak terpisahkan. Selalu ada kisah untuk dibagi setiap malam, setiap api unggun memiliki kenangannya sendiri. Keingintahuan seorang menjadi keingintahuan bersama. Keinginan seorang menjadi keinginan bersama. Masalah seseorang ditanggung bersama. Tanpa disadari, cita-cita tiap pribadi menjadi cita-cita bersama. Giga yang tak sabar menjadi Barbarian terkuat dan menantang seorang knight bernama Velskud, Roris yang ingin cepat-cepat menemukan Telesianya di suatu tempat nun jauh di mata, dan dirinya. Dirinya yang ingin melindungi mereka berdua.

Roris dan Giga sering mengatainya. Katanya dia berjiwa udzur layaknya seorang kakek yang suka menasihati cucu-cucunya. Ia sering terlalu mengkhawatirkan mulut bocor Giga dan kecerobohan Roris, sampai mereka berulang kali komplain. Namun, Priest itu hanya tertawa setiap kali kedua sahabatnya mengerucutkan bibir dan marah-marah padanya. Keesokan harinya, ia tetap akan mengulanginya lagi.

Yah, tanpa disadari, Regillus mencintai hari-hari yang mereka habiskan bertiga. Ia mencintai protes kedua "cucu-cucunya yang menggemaskan". Dan, ketika ia sedang jatuh hati, Regillus lebih sering tersenyum.

Kelambu hitam itu bertaburan pasir perak dan emas. Berkelap-kelip tiada henti. Namun angin yang berhembus dari utara membawa aroma yang asing. Firasat buruk secara ganjil timbul tenggelam dalam hati, menghapus senyumnya. Mata Regillus tertuju kepada Roris. Elf itu gelisah, sama seperti dirinya. Namun ia harus mengabaikannya untuk sekarang. Sebuah hari yang melelahkan baru berakhir. Sekarang waktunya mereka bergabung dengan Giga—tidur.

Elf, sang humanoid, tenggelam dalam dunia mimpinya diiringi desahan dahan-dahan pinus, desahan-desahan yang membawa padanya pesan-pesan rahasia dari suatu tempat penuh misteri, tersembunyi di alam mimpi sang Dewi...

.

.

.

Dari lelap aku terbangun, mendapati kedua pasang mata itu tengah menyorot tepat ke titik di antara kedua mataku. Mereka heran. Terlebih lagi diriku!

"Ya?"

"Kamu mengigau," pungkas Giga geleng-geleng kepala. "Pagi-pagi sudah bikin orang panik saja. Tolong, dong. Keluargaku ada lemah jantung, nih."

Memangnya aku mengigau apa? Regillus kulirik. Sebagai balasan, botol potion merah disodorkannya. Untuk jaga-jaga, katanya. Sungguh tidak biasa kelakuan mereka. Efek terlalu capai, mungkin? Atau… Aku berusaha menggali ingatan tentang mimpi semalam, tapi tidak berhasil.

Yah, apa boleh buat. Regillus toh tidak mengatakan apa pun. Lebih baik aku tidak bertanya-tanya lebih jauh. Kukemasi perlengkapanku, bersiap melanjutkan perjalanan ke jantung Death Basin. Ah, hari ini akan menjadi hari yang panjang. Lagi.

Sepanjang perjalanan, Giga jauh lebih diam dari biasanya, dan Regillus berkali-kali melempar tatapan cemas pada diriku.

"Dia kelihatan baik-baik aja, kok," celetuk Giga, kaku dan terdengar tak yakin. Apakah kegelisahan mereka juga akibat kabar angin kemarin malam? Hah. Omong kosong. Hanya hanya Master Archer Ithilien yang mendengarkan angin dengan baik. Aku pun tidak! Hanya bulu kudukku yang mengerti. Kurang lebih.

"Awas!"

Tiba-tiba seekor ghoul pincang menerkam kami dari arah depan. Giga segera menebasnya sebelum taringnya menancap ke tempat lain.

"Hati-hati teman-teman! Kita sudah dekat!"

Archer ini, berlaku selayaknya pemanah, mengambil jarak dan menyerang dari jauh sambil memerhatikan teman-temannya bergulat dengan makhluk-makhluk setengah membusuk itu. Giga dan Regillus luar biasa. Tenaga mengerikan Giga serta Regillus dengan buff dan serangan sucinya adalah kombinasi sempurna. Aku sepertinya tak perlu banyak menyuport mereka. Lalu entah mengapa, aku mendengar suara ini bergaung di kepalaku.

Cepat atau lambat, kau akan berpisah dengan mereka dan bertarung sendirian, Roris… hanya kau sendiri, di tempat yang bahkan jauh lebih… mencekam…

.

Apa itu?

Kanan kiriku kosong. Entah dari mana suara itu datang, entah suara siapa pula, namun, yang Roris ini tahu, suara itu berbeda dari suara-suara lain yang pernah ia dengar. Suara itu gelap dan nyata, dan sang Archer bergidik karenanya. Sesuatu berada dekat, mengintai di balik pepohonan. Sesuatu yang…

.

Mengerikan.

.

"KRAAA!"

Sudah kuduga, kabut hanyalah awal dari segala kengerian Death Basin. Kengerian sesungguhnya adalah monster-monster arwah, muncul dan menghilang sesuka hatinya sambil membisikkan mimpi-mimpi terkelam. Rupanya yang mengerikan beberapa kali tertangkap mata elfku. Taring-taring mencuat dari rongga mulutnya, haus akan darah para petualang Lagendia. Dan aku bersumpah, sabit arwah-arwah itu tidak hanya tampak tajam. Penciuman elfku berkata, itu juga beracun.

"AHH!"

Otot leherku menegang. Apa lagi itu kalau bukan erangan Giga. Lalu, suara itu muncul.

"Akhirnya yang ditunggu-tunggu."

Membalikkan badan, aku mendapati jubah semerah sumba. Sabitnya nyaris menyobek wajahku. Kengerian itupun menyeruak kembali saat ia memperdengarkan tawanya. Suara yang dikeluarkannya adalah campuran rintihan kesakitan dan dengusan kesepian. Dan bukan hanya satu. Ia telah menelan jiwa para petualang yang berusaha menentangnya, menggunakan lolongan sarat keputusasaan mereka. Kekuatan gelap yang teradiasi dari sosoknya pekat, terwujud dalam asap hitam.

"Siapa kau?!" teriakku memberanikan diri. Ironisnya, rasa takutku justru terbongkar sempurna.

"Aku adalah akhir riwayatmu…."

Hening.

Lalu ia berdesis lagi. Kini ia begitu dekat. Bulu kudukku berdiri.

"Aku yang akan membuatmu jatuh, lagi, lagi dan lagi. Sampai lututmu berdarah. Sampai kakimu pincang. Sampai kamu menyerah, dan memohon kematian…"

Kukertakkan gigi.

"Kamul akan musnah di ujung panahku!"

"Oh ya? Kira-kira, apa kata temanmu yang sekarat itu, ya… Gehehehe…"

Kutembakkan enam panah dengan cepat, namun di saat bersamaan kepalaku terentak gagang sabitnya. Pandanganku mengabur. Detak jantung tak beraturan. Aku nyaris rebah. Hanya saja, monster itu pergi dari tempat itu, seolah sudah tidak tertarik untuk menghabisiku.

Sempoyongan, aku mendengar pertarungan di sisi lain rawa.

"Reg?!"

Tak lama kemudian, di suatu tempat di rawa itu, arwah berjubah merah itu sedang dibabat… Oleh Regillus kah? Tak ada dentuman perisai atau gada seperti Reg biasanya. Mungkin juga bukan Regillus…

.

.

.

Setelah entah berapa lama, tiba-tiba suasana menjadi senyap, dan kabut pun menipis. Tidak ada satu monster pun tersisa di tempat itu. Aku segera menyisir rawa, mencari keberadaan Regillus dan Giga.

Ketemu!

"Reg! Giga!"

Diriku tersentak menyaksikan sebuah pemandangan yang sulit dipercaya. Aku menyaksikan Giga, terkapar di tanah. Perutnya koyak, dan dari lukanya, cairan hitam mengalir keluar. Giga mengerang kesakitan.

Regillus merapal semua larik-larik sucinya. Namun hasilnya nyaris nol. Ia berkeras merapal ayat-ayat suci sementara napas Giga semakin jarang dan semakin lemah. Tiap tarikan semakin berat.

Potion, Roris!

Kucabut sumbat pada botol potion yang diberikan Regillus tadi, berusaha meminumkannya. Tepat ketika botol itu menyentuh bibirnya,

.

Lelaki itu meregang nyawa.

.

Aku bahkan tak sanggup berkedip.

Regillus jatuh lunglai. Bahunya turun dan ia berhenti melantunkan materanya. Bibirnya bergetar. Untuk pertama kalinya, punggungnya yang lebar itu terguncang. Regillus menggenggam tangan Giga. Tangan besar itu selalu menarik balik, menginisiasi sebuah pertandingan panco. Namun tidak kali ini.

Tidak kali ini…

Reg membisu, karena tidak ada kata yang tepat untuk menjelasan jeritan hatinya.

Lututku lemas. Terlalu cepat, Giga, sungguh. Masih banyak hal yang ingin kulakukan bersamamu.

Kilas balik demi kilas balik tentang pertemanan kami bergulir dalam memoriku. Giga yang menuangkan anggur ke dalam gelasku dan dengan hangat merangkulku; Giga yang sambil membopong Regillus yang sudah setengah pingsan, mengantarkanku sampai ke depan kamar dan berbisik, "sepertinya Reg suka padamu,"; Giga yang nyengir bodoh waktu aku bertanya siapa yang memakan sarapanku. Tak bisa dipungkiri, ia sudah menjadi bagian keseharianku, dari hidupku, dan diriku telah kehilangan dirinya.

"Giga… Jangan bergurau, ini tidak lucu," kataku. Kutepuk pipinya di saat air mata mulai menggenang.

Aku benar-benar berharap, ia akan membuka mata, nyengir, lalu terbahak dan menertawakan kami. Menertawakan kami yang menangisi kepergiannya. Namun, kami terus menangis, dan Giga terus membujur.

"Giga…"

"Tadi pagi," Regillus memulai. "Kamu mengigau, ingat? Igauanmu itu adalah tentang kematianku. Giga selalu di dekatku, memastikan itu tidak akan pernah terjadi. Tapi sekarang…"

Jadi… Ini semua berasal dari igauan itu…?

.

"Belum terlambat."

.

Aku belum sempa menyalahkan diri sendiri, ketika muncul orang ke empat di tengah-tengah nestapa ini. Ia nyaris tak terdeteksi karena atribut serba hitamnya. Aku mengenalinya sebagai sosok misterius di Raider's Den. Mata semerah rubi itu... Bagaimana mungkin aku tidak ingat.

"Bacakan ini untuknya," katanya. Ia melempar sebuah gulungan. Mata Regillus melebar. Resurrection scroll!Ia tak percaya orang itu memilikinya, dan menyerahkannya begitu saja!

"Tunggu apa lagi? Selamatkan temanmu!"

Orang itu benar. Ia tak boleh lambat. Segeralah Regillus merapal mantera pada scroll itu. Mantera itu bersinar dan keluar dari lembaran scroll, menyelimuti Giga, dan tak lama kemudian… Regillus mengira akan terjadi sesuatu.

Tapi tidak ada apapun.

Orang tak dikenal itu memotong, "Scroll yang kuberi itu bukan scroll yang sempurna. Kita masih harus menyembuhkan lukanya, atau dia akan mati, lagi. Aku tahu siapa yang bisa menawarkan racun dalam tubuhnya."

Mati lagi? Tapi tidak terjadi apapun—tunggu!

Napas Giga kembali! Aku bisa merasakannya! Giga tidak mati!

Regillus menatap nanar orang itu. Orang itu mengangguk kecil.

"Percayalah kepadaku."

Aku dan Regillus bertukar pandang. Memangnya, pilihan apa lagi yang kami punya?

"Tunjukkan wajahmu dan sebutkan namamu!" tuntut Reg, berhati-hati, seperti yang selalu dilakukannya.

Di luar dugaan, orang itu mau membuka kedoknya tanpa perlawanan.

"Namaku Chase." Lalu ia menutup cadarnya lagi. "Ikut aku sekarang!" perintahnya.

Maka kami pun masuk dan semakin jauh, menuju sisi lain hutan. Jauh sekali, sampai kami hampir melupakan seperti apa rupa cahaya di Calderock. Dalam dada ini ada rasa rindu. Rindu untuk kembali ke kota itu. Rindu pada istirahat, meski hanya sesaat. Tapi Roris jauh lebih merindukan Giga. Betapa sepinya perjalanan mereka tanpa celoteh Mercenary itu!

.

Pagi menjelang, dan ujung hutan mulai jelas. Tubuh Giga terluntang-lantung di punggung Regillus. Assassin itu pernah menawarkan diri untuk menggendong sang Warrior, namun Regillus menolaknya, membuatnya sedikit tersinggung. Sejak saat itu, ia diam. Sampai akhirnya,

"Beberapa kilometer dari ujung hutan ada sebuah desa. Datangilah rumah di tengah-tengah desa itu," kata Chase, lalu tanpa penjelasan pergi begitu saja.

Regillus mengepalkan tangannya. Aku menggenggam kepalan itu semampuku. Tangannya memang lebih besar, namun bukan berarti harapanku untuk Giga tidak lebih kecil dari harapannya.

"Giga akan hidup, Reg."

Regillus mengangguk. Sepertiku, ia berjuang mati-matian untuk percaya pada perkataanku itu.

.

Gubuk berwarna merah jambu yang hampir rubuh itu ada di depan mataku. Usianya mungkin sudah puluhan tahun. Seekor burung gagak hinggap pada atap jeraminya. Perasaaku kemarin malam kembali lagi. Burung itu terbang ketika aku menghiraukannya dan mengetuk pintu kayu coklat tua di depan wajahku.

Aku nyaris ikut terbang ketika seorang nenek tua berhidung besar menampakkan wujudnya. Ia memelototiku dari atas ke bawah. Aku memaksa diriku bersikap normal dan sopan. Syukurlah aku berhasil. Setelah tawar menawar beberapa saat, nenek itu mempersilakan kami masuk dan segera menangani Giga.

"Dia akan sadar beberapa minggu lagi. Sementara itu, kalian kuberi misi, misi seharga Elixir yang telah kuberikan pada teman kalian. Kalau berhasil menyelesaikan misi ini, hutang kalian kuanggap lunas."

Misi seharga item selangka Elixir. Kedengarannya berbahaya, tapi tentu saja kami tak dapat menolaknya.

"Bawa kembali perkamenku yang dibawa Assassin itu."

Kembali, aku dan Regillus bertatap-tatapan. Jadi kami telah memercayai seorang pencuri! Pencuri yang lihai bertarung, yang telah menyelamatkan teman kami… dan yang membingungkan. Memang, sepertinya misi ini tidak akan mudah.

.

.

.

"Roris, aku pikir kita harus berhenti sebentar. Badanku…"

Kami kembali ke Death Basin dalam keadaan kurang istirahat, dan Regillus sudah tampak tak sehat sejak tadi. Jadi kami naik ke atas dahan pinus yang agak besar, bermaksud untuk rehat sejenak.

Kulihat bercak darah menodai pakaian sutera Regillus di sana sini. Ia mengusapnya perlahan, nyaris dengan kasih sayang. Darah Giga lambat laut menjadi coklat. Suatu saat bercak itu akan menjadi noda permanen di sana, di bajunya, dan mungkin di hatinya.

"Pernahkah kamu merasa takut kehilangan seseorang, Roris?" tanya Regillus, setengah menutup mata. "Aku pernah. Aku pernah takut kehilangan orangtuaku. Aku pernah takut kehilangan pengasuhku waktu aku masih kecil. Lalu, aku kehilangan mereka semua…"

Aku menata pikiranku, menata kata-kataku. Namun kenyataannya, bagi elf, tidak ada yang namanya kehilangan…

"Yang ada hanyalah Telesia. Semua itu hanya bagian dari Telesiamu, Reg."

Regillus menatapku sedih. Ia baru mendapati, seorang Elf yang telah dikenalnya beberapa waktu ini ternyata berhati dingin.

"Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak ada… bisa terasa sangat menyakitkan?" tanyanya.

Ia menyentuh tanganku. Tangannya hangat. Di waktu yang sama, hatiku diserbu sebuah rasa, dan otakku diserbu ribuan memori tentang kebersamaan kami bertiga. Itu adalah memori tentang momen-momen yang mengenangkan, juga tentang saat-saat yang menyayat kalbu, masih segar seperti baru kemarin. Kemudian aku merasakannya: rasa sepi. Rasa sepi yang menyakitkan.

Aku tak tahu kenapa air mataku tiba-tiba mengalir begitu deras. Aku merindukan Giga. Aku takut dia takkan pernah kembali.

"Ya… Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak ada… terasa sangat menyakitkan, Reg?" aku berjuang mengatakannya.

"Karena persaudaraan itu, Roris, bukan sekadar konsep belaka… Persaudaraan adalah hal yang nyata." sisip Regillus sebelum ia jatuh tertidur.

Diriku terus menerus merenungkan percakapan barusan. Dalam dadaku telah tumbuh rasa yang tak pernah ada sebelumnya. Rasa sesak dan rindu. Semua emosi ini, benarkah mereka hanya ilusi? Aneh, karena aku merasa dekat dengan Telesiaku justru ketika aku bersama kedua pemuda itu.

.

Ya, aku ingat ketika Raja Elf, sebut saja Yuvenciel, menugaskan sebuah misi rahasia yang dijalankan diam-diam beberapa tahun yang lalu di Black Mountain. Kami menyebutnya Agresi Terlarang. Semua elf yang gugur dalam agresi tersebut, gugur karena itulah Telesia mereka. Mereka yang hidup pun, hidup karena itulah Telesianya. Selama ini, itulah yang aku percayai. Yang ada, dan akan terus ada, hanyalah Telesia. Kami ada di dunia ini karena Telesia. Kami adalah bagian dari Telesia. Semua ini adalah tentang Telesia.

Aku pun kehilangan seorang mentor dalam agresi tersebut, dan sama seperti yang lain, aku meletakkan busurnya di bawah Tree of Life. Aku begitu bangga waktu mengucapkan selamat tinggal pada busur itu. Mentorku telah memeluk takdirnya sampai akhir. Namun, ada sesuatu yang menahanku selama berjam-jam, bahkan bertahun-tahun setelahnya.

Rasanya ada yang kurang.

Dan sekarang aku tahu—yang kurang, adalah rasa kehilangan yang mencekik ini. Rasa yang telah diabaikan oleh elf selama beratus-ratus tahun semata-mata karena mereka tak ingin Telesia "terganggu".

—SYAT!

Kelebat bayangan hitam tertangkap ekor mataku, mengaburkan perenunganku. Aku kenal bayangan itu, maka akupun membuntutinya, percaya bahwa Regillus sudah berada di tempat yang tak terjamah musuh.

Aku nyaris kehilangannya. Bayangan itu muncul lagi bersama sesosok arwah bermantel merah. Kukira dia sudah musnah! Mimpi buruk itu ternyata masih hidup! Pembunuh Giga masih bebas berkeliaran!

Amarah memuncak sampai ke ubun-ubunku. Jadi, waktu itu Chase tidak benar-benar membunuhnya! Dan apa ini! Chase dan si monster yang ternyata bernama Scarlet Scythe justru berbincang-bincang layaknya sekutu! Tidak kulihat Assassin itu menyentuh senjatanya.

Penipu!

"Ah, jangan kau sangka aku tak tahu maksud kedatanganmu, Assassin. Semua Assassin selalu begitu. Mereka memohon sedikit kekuatan gelap kepadaku, mengira mereka bisa mendapatkannya begitu saja…"

"Ya… Tapi kali ini aku punya tawaran yang lumayan bagus untukmu."

"Oh. Rupanya kau pandai merayu. Katakan, apa tawaranmu itu, Manis?"

Chase melemparkan sebuah perkamen yang sudah compang-camping. Seutas tali merah menjaganya tetap tergulung.

"Aah… Sungguh sulit menolak tawaranmu itu. Resep Elixir rupanya…"

Itu resep yang dicari si Nenek! Mana mungkin kubiarkan resep itu jatuh kepada monster jelek itu!

Kualihkan perhatian mereka dengan sebongkah batu, lalu panah kutembakkan menuju gulungan tersebut. Kupanggil panah itu kembali. Tentu saja, baik Chase maupun Scarlet Scythe langsung menyadari apa yang terjadi.

"Kita dikerjai!"

Aku berlari sekencang mungkin, melewati pohon-pohon pinus. Andai ada skill mempercepat lari! Atau skill menyamar jadi batang pohon! Demi Desmodeus! Tidak adakah skill Archer yang berguna di saat mendesak ini?

Tiba-tiba bagian tumpul sebilah logam mengenai punggungku. Sambitan itu berhasil menumbangkanku ke depan. Terguling-guling, scroll itu terlontar. Aku segera menarik panahku, membidikkannya, berpikir, mungkin masih belum terlambat untuk memertahankan diri.

Namun monster itu tak ada di mana pun.

.

.

.

Atau, setidaknya kukira demikian...

.

"KRAAAAAAAA!"

.

Aku menatap wajahnya dan membatu. Pada lubang gelap itu tertulis sebuah kata.

Kematian.

.

.

.

Bersambung


RSVP! Review S'il Vous Plait :)