The Construction Empire
Disclaimer: Bukan Punya Saya!
Warning: Gaje, AU, AR, OC, OOC, Typo, Bahasa Tak Baku, Isekai, Fantasy, Dungeon, Easy Going Life, Military, Demi-human, Elf, Dragon, Kingdom/Empress, Noble, Etc, Don't Like Don't Read! Go Back!?
Summary: Hidupnya berubah saat, Namikaze Naruto, memenangkan Lotre berhadiah 9 Miliar Yen, diburu oleh mereka yang menginginkan uangnya, karena tak tahan iapun pergi kesuatu tempat didaerah Kyoto, disana ia dapat menikmati hidupnya dengan uang yang telah ia dapatkan, saat ia sedang memeriksa tempat tinggalnya yang baru Naruto dikejutkan oleh sebuah pintu yang terhubung dengan dunia fantasy!
Chapter 02
Silvers Rayleigh, itu adalah nama dari pria tua yang berada didepanku. Dia merupakan kepala desa dan Ayah dari Jeanne, kembang desa yang berada tepat disampingku.
Rayleigh, begitulah orang itu memintaku memanggilnya, tersenyum tipis pada-ku dan berkata."pertama-tama, aku mengucapkan rasa terimakasih-ku pada-mu. Berkat kau penyakitku telah sembuh sepenuhnya dan tak hanya itu, kau bahkan berbaik hati mengembalikan kaki kanan-ku yang telah putus. Aku tidak tahu harus dengan apalagi aku dapat membalas kebaikan-mu..."
Rayleigh menundukan kepalanya dengan penuh rasa syukur, sementara aku hanya dapat tertegun ditempat. Ini terlalu mengejutkan! Obat-Obatan yang aku berikan tidak hanya menyembuhkan penyakitnya yang sudah kritis tapi juga dapat menumbuhkan kembali kakinya yang telah putus!
"A-Ah... U-Uhm... Tidak, Tidak masalah. Aku senang melihat anda telah sembuh sepenuhnya, Rayleigh-san."
Aku mengaruk belakang kepalaku dan berkata dengan kikuk. Jujur, aku masih terkejut dengan fakta yang ada didepan mataku, proses regenerasi anggota tubuh yang telah hilang hanya ada difilm-film genre Sci-fi atau Novel-Novel genre fantasi, menyaksikan regenerasi anggota tubuh tepat didepan matamu itu benar-benar membuat-ku terkejut!
Rayleigh mengangkat kepalanya dan menatap lurus kearahku lalu dia tersenyum sambil berkata.
"Aku tahu rasa terimakasih saja tidak akan cukup, tapi aku pasti akan membalas kebaikan anda ini, tidak peduli meskipun harus memakan waktu bertahun-tahun, aku akan membayar Holy Elixir yang anda berikan padaku."
Holy Elixir...? Apa itu? Tidak menyadari kebingungan yang melanda diriku, Jeanne yang berada disebelahku berjalan menuju kearah meja dan mengambil botol yang ada diatas meja lalu dia berkata.
"Berkat Holy Elixir ini, ayahku bisa sembuh sepenuhnya, ini adalah ramuan paling ajaib yang pernah aku lihat, tidak hanya menyembuhkan penyakit tapi itu juga bisa meregenerasi anggota tubuh yang hilang. Aku sangat bersyukur Naruto-sama mau bermurah hati dan memberikan Elixir ini untuk ayahku."
Aku terdiam, tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Pandanganku terfokus pada botol yang berada ditangan Jeanne-san. Itu... Adalah botol dari minuman penambah stamina yang basa kau temui ditoko swalayan terdekat, mengatakan jika minuman penambah stamina sebagai Holy Elixir yang dapat meregenerasi anggota tubuh yang hilang itu agak sulit dipercaya.
Maksudku, ini hanya sebotol minuman penambah stamina yang biasa aku konsumsi selama beberapa bulan belakangan ini, lalu bagaimana bisa minuman penambah stamina memiliki efek ajaib seperti meregenerasi anggota tubuh yang hilang? Mungkinkah didunia ini efek minuman ini bertambah beberapa kali lipat akibat perpindahan dimensi paralel? Jika benar maka ini mungkin buruk...
Dari yang aku tangkap dari pembicaraan Jeanne-san dan Rayleigh-san, obat ajaib seperti ini memiliki harga yang sangat mahal yang berdasarkan perkataan Rayleigh yang mengatakan jika dia membutuhkan waktu selama beberapa tahun untuk bisa membeli satu botol obat ajaib seperti ini.
Aku tidak tahu berapa banyak pendapatan rata-rata orang-orang didunia ini, tapi jika kita mengambil perbandingan satu orang didunia ini menghasilkan ratusan ribu Yen dalam setahun maka harga obat ini akan menyentuh harga jutaan Yen!?
Itu terlalu mengejutkan mengingat harga minuman penambah stamina ini hanya beberapa ratus Yen untuk satu pack-nya, keuntungan yang diperoleh dari menjual minuman ini sangatlah besar, namun, tidak peduli dari manapun kau melihatnya minuman ini tidak boleh dijual secara sembarangan karena akan menimbulkan kacau. Aku tersenyum pahit dan menatap kearah Jeanne yang tersenyum indah.
"Aku senang melihat semua berjalan dengan baik..."
Jujur, aku ketakutan saat aku membayangkan Rayleigh-san meninggal akibat mengonsumsi obat-obatan yang aku berikan padanya, aku menghela nafas dalam hatiku, yup... Semua berakhir tanpa masalah. Saat aku sedang memikirkan itu, Jeanne-san memanggilku.
"Ehm... A-Ano, Naruto-sama, jika anda berkenan maukah anda memberikan beberapa Holy Elixir anda kepada beberapa penduduk didesa ini yang mengalami sakit parah dan cacat fisik?"
"Jeanne, kau tidak seharusnya-,"
"A-Aku tahu, Ayah... aku tidak pantas mengatakan ini disaat kita belum bisa membalas kebaikan yang anda berikan kepada kami, ta-tapi ada beberapa perempuan cantik didesa ini yang masih perawan termasuk aku, jika anda mau berbaik hati dan memberikan beberapa Holy Elixir maka anda bisa menjual aku dan beberapa perempuan didesa ini sebagai budak di-ibukota kekaisaran! A-Aku yakin kami akan terjual dengan harga tinggi, d-dan aku yakin, aku bisa membujuk perempuan-perempuan didesa ini, karena itu to-tolong-,"
"Tunggu sebentar!? Apa yang tiba-tiba kau katakan, Jeanne-san!? Budak?! Siapa yang ingin menjadi budak dan siapa yang ingin menjual-mu?!"
Aku terkejut, kenapa percakapan tentang meminta tolong berubah menjadi sesuatu tentang menjadi budak dan dijual! Juga, didunia ini ada perbudakkan?! Dunia fantasi sekali! Aku mengeleng pelan, ini bukan saatnya memikirkan itu!
Aku berjalan dan mencengkram bahu Jeanne-san yang menundukkan wajahnya, merasakan bahunya dicengkram Jeanne-san langsung menatap kearahku dengan mata yang berkaca-kaca... Dia memohon dengan sungguh-sungguh, dia gadis yang baik, dia tidak meminta tolong untuk dirinya sendiri tapi untuk semua orang yang ada didesa ini, melihat kebaikan hati seperti itu, aku tidak mungkin bisa menolak permintaannya, karena itulah aku akan membantunya...
"Dengar, tidak akan ada yang menjadi budak, tidak Jeanne-san tidak perempuan lain didesa ini, yang perlu kau lakukan adalah meminta tolong padaku dan aku akan membantumu..."
"Ta-Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapi, kau meminta tolong padaku, maka aku akan berusaha sekuat mungkin untuk menolongmu... Ini, ambillah beberapa botol minuman-, maksudku Holy Elixir, dan tunggu disini aku akan kembali lagi dengan membawa lebih banyak Holy Elixir untuk setiap orang didesa ini..."
Itu mungkin akan memakan biaya ribuan bahkan mungkin puluhan ribu Yen tapi itu bukan masalah karena aku punya hampir 8+ Miliar Yen dibuku tabungan-ku!
Setelah menyerahkan empat botol minuman penambah stamina atau Holy Elixir(Lol) pada Jeanne-san yang terkejut, aku segera bergegas meninggalkan rumah kepala desa dan pergi kekediamanku, jaraknya cukup jauh tapi karena fisikku sering kulatih maka itu bukan masalah sama sekali. Aku bergegas mengambil kunci mobil dikamarku lalu segera tancap gas menuju toko swalayan terdekat...
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam aku menemukan toko swalayan dan langsung masuk kedalam, didalam aku segera pergi kebagian toko yang menjual keperluan pokok.
Aku membeli delapan karung beras seberat 50kg, puluhan kantong garam seberat 1Kg, selusin kardus yang berisi susu bubuk, puluhan kilo daging, rempah-rempah dan bumbu penyedap lainnya dalam jumlah banyak serta tak lupa puluhan pack minuman penambah stamina, ah... Aku lupa aku harus membeli gerobak dorong prortabel yang terbuat dari Aluminium untuk membawa barang-barang ini ke desa Jeanne-san.
Setelah membayarnya pada kasir yang terkejut melihat barang belanjaanku yang cukup banyak, aku langsung bergegas kembali kerumah-ku dipuncak bukit.
Setelah sampai dihalaman, aku mematikan mesin mobilku, membawa masuk barang-barang yang telah aku beli kedalam rumah, mengangkutnya keatas gerobak protabel dan langsung bergegas menuju desa Jeanne-san.
Ini sulit dan melelahkan, kontur jalan yang tidak rata dengan banyak batu yang mencuat keatas, menarik gerobak seperti ini sangat menguras tenaga, tapi aku bisa melakukannya, setelah mendorong gerobak selama beberapa menit aku akhirnya sampai didesa Jeanne-san. Aku mendorong gerobak kerumah kepala desa, dan disana aku melihat Jeanne-san menunggu didepan rumah kepala desa seperti seorang istri yang menunggu kepulangan suaminya, tidak hanya Jeanne-san tapi juga banyak orang yang berkumpul disekitarnya. melihatku muncul senyuman indah terpatri diwajah Jeanne-san dan segera berjalan kearahku.
"Naruto-sama!"
"Yo, Jeanne-san... Sesuai janjiku aku kembali dengan membawa Holy Elixir bersamaku."
Aku menghentikan gerobak portabel didepan rumah kepala desa dan menyapa Jeanne-san yang berjalan terburu mendekatiku, Jeanne-san mengintip barang bawaan yang ada digerobak dan matanya melebar saat melihat banyaknya barang yang aku bawa, aku meregangkan tubuhku yang agak kaku karena menarik gerobak yang penuh dengan barang-barang yang cukup berat.
"Naruto-sama... Apa anda membawa ini semua sendirian?"
"Uhm? Ah, ya begitulah..."Aku mengangguk kecil dan mengambil satu pack minuman penambah stamina yang berisi enam botol minuman dan menyerahkannya pada Jeane yang memasang wajah rumit.
"Ini, berikan pada mereka yang membutuhkan, dan pada siapa kau memberikan Holy Elixir ini, aku sepenuhnya menyerahkannya pada Jeanne-san..."
Sebagai putri kepala desa, dia pasti lebih memahami kondisi orang-orang didesa ini ketimbang orang luar sepertiku, menyerahkan tugas pembagian pada Jeanne-san akan membuat semua menjadi lebih mudah.
Jeanne-san menatap enam botol Holy Elixir ditangannya dengan ekspresi rumit sebelum ia mengangguk kecil dan menatapku dengan ekspresi bersyukur.
"Naruto-sama, terimakasih... Anda tidak hanya membantu menyembuhkan ayah-ku tapi anda juga bersedia membantu orang-orang didesa ini, atas semua orang didesa ini, aku mengucapkan terimakasih..."
"Tidak, Tidak perlu berterimakasih padaku, aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan, karena itu jangan terlalu dipikirkan..."
"Ta-Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian. Kau meminta tolong padaku dan aku bersedia menolongmu, hanya itu saja... Lagipula, bukankah ada hal yang lebih penting yang harus Jeanne-san lakukan?"
Saat aku mengatakan itu dan menunjuk Holy Elixir yang ada ditangannya, Jeanne-san terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu namun ia tahan dan mengangguk kecil.
"Aku mengerti, tapi aku berjanji aku pasti akan membalas kebaikan Naruto-sama tidak peduli meskipun harus memakan waktu puluhan tahun aku pasti akan membalasnya..."
Aku tersenyum pada Jeanne-san yang mengatakan itu dengan tegas, Rayleigh-san dan Jeanne-san, mereka memang orang tua dan anak, kepribadian mereka sangat mirip.
Saat aku memikiran itu tiba-tiba orang-orang yang sejak tadi menatap penasaran pada barang-barang yang aku bawa menjadi ribut.
"Y-Ya ampun... Lihat... Kepala desa..."
"Ya Tuhan... Apa aku salah lihat..."
"Aku tidak sedang bermimpi kan?"
"Tidak, kau tidak bermimpi, aku juga melihatnya"
Aku yang bingung mendengar orang-orang menjadi ribut langsung mengikuti arah tatapan mereka dan aku melihat Rayleigh-san berjalan keluar dari rumahnya, ia memakai pakaian santai dengan jubah putih yang terlihat kusam, ia juga mengenakan kacamata yang melindungi mata hitamnya, Rayleigh berjalan kearah kami dengan senyuman ramah diwajahnya, melihat Rayleigh yang dapat berjalan dengan tenang seolah-olah tidak terjadi apapun membuatku benar-benar tak dapat mengatakan apapun.
Minuman penambah stamina telah berubah menjadi Holy Elixir.
Rayleigh berjalan mendekat kearahku sebelum ia berhenti tepat didepanku, ketika dia berdiri didepanku aku sadar bahwa dia memiliki tubuh yang besar dan tinggi, berada dihadapannya seolah aku berhadapan dengan tembok besar nan tinggi juga kokoh. Saat aku memikirkan itu Rayleigh menatap kearah Gerobak selama beberapa saat sebelum ia menghela nafas kagum dan menatap lurus kearahku.
"Tidak hanya anda sudah berbaik hati dengan menyembuhkan saya, anda juga mau mengulurkan tangan untuk membantu desa ini, sebagai kepala desa, saya menyampaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya..."
Rayleigh menyampaikan rasa terimakasihnya dengan sungguh-sungguh, aku tidak seperti tidak memahami hal ini, dia adalah pemimpin didesa ini, nasib warga didesa ini ada ditangannya, jika ia tidak bisa membawa kesejahteraan untuk rakyatnya maka dia gagal sebagai pemimpin, dan melihat ada orang luar yang mengulurkan tangan untuk membantu desa yang ia pimpim membuar Rayleigh tidak bisa tidak merasa malu, dia malu karena sebagai pemimpin dia tidak dapat menolong rakyatnya sendiri dan harus menerima uluran tangan orang luar. Aku memahami hal itu karena bagaimanapun hal seperti ini sering terjadi didunia modern dimana seorang pemimpin menundukan kepalanya dihadapan para rakyat saat ia tidak dapat membantu warganya yang kesusahan. Aku menghela nafas dan menatap Rayleigh.
"Sudahlah, aku hanya memberikan bantuan kecil, lagipula dobandingkan diriku, barang-barang ini akan jauh lebih bermanfaat untuk desa ini."
Ucapku dengan ringan, Rayleigh terdiam sejenak seolah-olah ia sedang memikirkan sesuatu sebelum akhirnya ia menatap kearahku dan berkata.
"Desa ini miskin, dan itu fakta. Kami yang tinggal disini harus hidup ditanah yang keras dan tidak subur ini, namun kami tidak dapat berbuat apa-apa karena kami merupakan orang-orang yang dibuang karena tidak berguna atau mengalami cacat permanen... Apa Naruto-sama tahu apa nama daerah ini?"
Aku tidak tahu apa yang ingin disampaikan oleh Rayleigh namun apa yang dikatakan merupakan fakta yang tak terbantahkan, tempat ini memiliki tanah yang keras dan tidak subur bahkan aku ragu apa tanah disini bisa menumbuhkan tanaman, lalu orang-orang yang tinggal didesa ini rata-rata adalah orang cacat fisik permanen, ada yang kehilangan lengan, kaki, mata dan bahkan aku melihat orang yang kehilangan separuh tubuh bawahnya namun ia masih dapat hidup diatas kursi kayu, keadaan desa ini menyedihkan, sangking menyedihkannya dapat mengundang empati dan simpati orang lain. Melihat diamku, Rayleigh tersenyum dan melanjutkan.
"Daerah ini bernama [Tanah Untuk Mereka Yang Menyerah Pada Hidup]... Mereka yang tinggal ditempat ini telah menyerah pada hidup mereka dan menantikan kematian mereka ditempat ini."
Ucap Rayleigh dengan nada sedih, aku terdiam dan menatap orang-orang yang sejak tadi memperhatikan percakapan antara aku dan Rayleigh, mereka semua menundukkan kepala mereka dengan sedih, aku menurunkan pandanganku dan melihat tangan mereka mengepal dengan erat, melihat itu aku menghela nafas dan menoleh kearah Rayleigh, aku menatap langsung kearah matanya, dan itu bukanlah mata dari seseorang yang memutuskan untuk menyerah pada hidupnya, mata itu dipenuhi harapan untuk terus hidup, aku mendesah kecil dan tersenyum samar.
"Aku rasa... Daripada mengatakan mereka yang tinggal disini telah menyerah pada hidup mereka, lebih tepat jika mengatakan mereka [Dipaksa] untuk menyerah pada hidup mereka... Apa aku benar, Rayleigh-san..."
.
.
.
Rayleigh melebarkan matanya, ia terkejut mendengar kata-kata Naruto... Benar, mereka bukan telah menyerah tapi dipaksa untuk menyerah! Setiap orang yang tinggal disini merupakan orang yang memiliki mimpi yang terbentang luas, mereka adalah orang-prang yang menikmati hidup mereka sepenuhnya sebelum mereka dipaksa untuk menerima keadaan diman mereka menderita cacat permanen. Jika bukan karena itu mereka yang tinggal ditempat ini pasti sudah menikmati hidup mereka dengan sepenuh hati...
Dulu, Rayleigh juga seperti itu, dia adalah seorang komandan dari pasukan elit Kekaisaran yang pernah berdiri digaris depan peperangan, sudah tak terhitung jumlahnya peperangan yang dimenangkan oleh Rayleigh, ia telah menerima penghargaan atas prestasinya, ia juga menerima beberapa julukan untuk dirinya sendiri dimedan perang, musuh-musuhnya dimedan perang akan takut hanya dengan mendengar namanya...
Mei'o, Sword Saint, God of War, King of Conqueror...
Sudah tak terhitung julukan yang ia dapat dipeperangan, namun saat peperangan terakhir ia dikhianati oleh rekan-rekannya, seluruh pasukan yang bawa dijebak dan dimusnahkan oleh musuh yang berjumlah puluhan ribu itu, hanya Rayleigh saja yang selamat dari peperangan itu, dia bukan lolos tanpa luka, dia sekarat! Ia merasa seperti akan mati kapan saja! Namun ia mampu bertahan dari ganasnya medan perang hanya karena ia mengingat putri kecilnya yang menunggunya dirumah! Saat sampai diibukota kekaisaran, Rayleigh tidak pergi keistana namun ia segera pergi menuju kediamannya, dan disana ia melihat rumahnya telah dikepung oleh pasukan kekaisaran, dan hampir seluruh keluarganya dibantai dengan alasan pengkhianatan yang ia lakukan! Hanya Jeanne, Hanya putrinya saja yang berhasil diselamatkan berkat bantuan orang-orang yang setia pada Rayleigh yang dengan gagah berani mempertaruhkan nyawa mereka demi melindungi Putri kecilnya, berkat itu Rayleigh berhasil melarikan diri dan pergi menuju disini, awalnya hanya Rayleigh dan Putrinya Jeanne yang tinggal disana namun perlahan orang-orang telah datang ketempat ini, mulai dari petualang yang telah dibuang dari party mereka, anak yang ditinggalkan demi mengurangi mulut untuk dimakan, pasukan elit yang terkhianati, bahkan Rayleigh juga bertemu dengan sahabatnya dimedan perang yang mengalami nasib sama seperti dirinya.
Waktu demi waktu berlalu dan orang-orang yang datang kedesa ini semakin banyak dan hampir sebagian besar dari mereka telah dibuang karena sudah tidak berguna lagi... Rayleigh saat itu tidak dapat membayangkan jika akan ada banyak orang yang senasib seperti dirinya, dikhianati, dibuang dan ditinggalkan...
Pada hari itu, Rayleigh dengan empat tertua yang mewakili tiap golongan memutuskan untik menganggap semua yang tinggal ditempat ini adalah keluarga, teman sekaligus sahabat yang akab terus bersama melewati suka dan duka, senang maupun susah, mereka berlima bertukar cawan untuk menegaskan persaudaraan diantara mereka dan begitulah desa ini lahir...
Tepat saat kelahiran desa, mereka memutuskan untuk menutup rapat diri mereka dari dunia luar, bersembunyi dari pihak luar yang kemungkinan akan melakukan hal buruk pada mereka, beruntungnya desa ini jauh dari kekaisaran, dan tersembunyi didalam hutan kematian...
Kata-Kata Naruto telah menembus hati Rayleigh, itu mengenai sasaran dengan sangat dalam hingga membuat Rayleigh mengenang kembali peristiwa yang menghantuinya disetiap tidurnya, Rayleigh mengepalkan tangannya dengan erat, benar... Mereka yang tinggal disini bukan telah menyerah tapi dipaksa untuk menyerah... Jika bukan karena penyakit dan cacat permanen yang mereka semua derita mereka tidak akan menyembunyikan diri dan membusuk didesa ini...
'Karena kaki kananku yang telah putus, aku hampir saja melupakan alasan kenapa aku terus hidup sampai sekarang... Benar, bagaimana bisa aku melupakan tujuanku... Aku, terus hidup sampai hari ini demi membalas semua pengkhianatan pada mereka semua, orang-orang bajingan yang berada di Kekaisaran, sekarang... Berkat Holy Elixir aku mendapatkan kembali kaki kananku, aku masih memiliki peluang untuk membalas mereka semua...'
Naruto yang memperhatikan Rayleigh terdiam saat ia melihat kilatan tajam dimata pria tua itu, entah kenapa melihat itu membuat Naruto merasa merinding, namun itu hanya sesaat karena tatapan Rayleigh kembali melembut saat menatap kearah Naruto.
"Apa yang dikatakan Naruto-sama benar, kami semua yang hidup didesa ini telah dipaksa untuk menyerah oleh keadaan, namun berkat banyaknya Holy Elixir yang anda bawa untuk kami, kami bisa kembali mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk tidak menyerah pada hidup ini, Terimakasih Naruto-sama..."
Rayleigh menundukan kepalanya membuat semua penduduk desa melebarkan mata mereka melihat itu, Rayleigh... Menundukan kepalanya pada seorang pemuda! Mereka bingung sesaat namun saat mereka mengingat kembali perkataan Rayleigh mereka memahami sesuatu...
Alasan kenapa Rayleigh yang sedang kritis bisa sembuh dan mendapatkan kembali kaki kanan-nya yang telah hilang itu semua berkat pemuda itu, berkat Holy Elixir yang dibawa pemuda itu, Rayleigh bisa sembuh seperti sediakala, dan mereka memgingat kembali jika pemuda itu telah membawa banyak sekali Holy Elixir untuk semua orang didesa ini, hanya dengan itu saja semua mata penduduk yang sebelumnya tanpa kehidupan telah dihidupkan kembali. Dalam hati mereka yang telah dipaksa menyerah pada hidup oleh keadaan mereka yang menyedihkan, mendapatkan kesempatan lain untuk keluar dari keadaan ini membuat rasa hormat, syukur dan terimakasih yang amat dalam muncul untuk pemuda itu, mereka dengan serempak menundukan kepalanya mengikuti Rayleigh.
[Terimakasih banyak, Naruto-sama!?]
Naruto terkejut, ia hampir saja melompat saat mendengat ungkapan terimakasih dari orang-orang didepannya, ia sudah terkejut melihat Rayleigh yang menundukan kepala padanya dan sekarang semua orang dibelakang Rayleigh ikut mengucapkan terimakasih dan menundukan kepala mereka padanya! Melihat itu entah kenapa Naruto merasakan rasa gatal dipunggungnya! Ini membuatnya tidak nyaman! Sebagai seorang pria yang diajarkan untuk rendah hati, mendapatkan rasa terimakasih seperti itu membuatnya tak nyaman!
"A-Apa yang kalian lakukan?! Angkat! Angkat kepala kalian! Rayleigh-san! Anda juga! Tidak perlu seperti itu padaku"
Ucap Naruto dengan panik, Jeanne yang berada disebelah Naruto menatap tingkah Naruto dengan senyuman tipis diwajahnya, pemuda itu sepertinya tidak mengetahui seberapa besar bantuan yang dia berikan untuk desa ini, bantuan yang telah diberikan oleh Naruto sangat besar hingga ia yakin, tidak percaya semua orang didesa akan menaruh rasa hormat dan terimakasih yang sangat dalam untuk mereka, didunia ini saat menerima bantuan dari orang lain maka mereka diharuskan untuk membalas kebaikan orang itu, tidak peduli meski mereka harus menyerahkan kesetiaab atau bahkan nyawa mereka, mereka akan menyerahkan semua itu tanpa ragu demi membalas kebaikan dari orang yang menolong mereka, Jeanne tanpa sadar tersenyum indah..
'Naruto-sama... Anda mungkin tidak sadar, tapi setelah anda memberikan bantuan sebesar ini untuk desa ini, kemungkinan besar semua orang akan mengikuti anda dengan setia... Bahkan aku yakin Ayah, dan empat tertua lain akan memandang akan lebih tinggi karena kebaikan anda ini...'
Jeanne tersenyum dan menatap kearah botol Holy Elixir ditangannya, ia tidak bisa berdiam diri, ia harus segera menyerahkan Holy Elixir ini pada empat tertua yang lain, mereka lebih membutuhkan Holy Elixir daripada orang lain.
'Aku harus cepat menemui Atalante, Beowolf, dan Lavinia untuk menyerahkan ini pada Tertua yang lain...'
And Cut~
Haha... Hahaha... Hahahahaha!?
Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku menerima tikaman tajam dari seorang Reader... Bahkan sangking lama-nya aku sampai lupa bagaimana rasanya...
Tapi ya, aku rasa aku tidak dapat marah karena aku terlalu ambigu dalam menyampaikan kata-kataku, aku rasa aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa karena hanya seorang pecundang yang akan memperbaiki harga diri mereka dengan kata-kata...
Namun ketahui hal ini, aku seorang penulis, untuk mendapatkan inspirasi aku melakukan banyak hal dan salah satunya membaca, dan secara kebetulan aku mendapat inspirasi saat aku membaca Manga [Takarakuji de 40 oku Atatta n dakedo]...
Memang plot awal dari fic ini mengambil dari manga itu, tapi aku disini menunjukan plot sebenarnya, dan juga apa kalian melihat TITLE Fic ini? Harusnya dari itu kalian sudah memahami inti dari fic ini dan kemana aku ingin membawa fic ini... Tidak ada jaminan aku akan mengambil Plot Takarakuji sepenuhnya, disini adalah titik awal, titik awal yang akan berbeda dari Plot Takarakuji...
Tapi maa, aku lupa, saat seseorang membenci orang lainnya mereka akan menunggu saat yang tepat, dan saat orang itu menunjukan kesalahan, maka itu adalah momen yang tepat untuk mereka melancarkan serangan beruntun untuk memperbesar kesalahan itu...
Yang lebih lucu lagi adalah mereka secara tidak sadar menunjukan seberapa inginnya mereka dipuji karena berhasil menyudutkan orang yang mereka anggap berada diantara jajaran atas... Padahal berkat mereka jugalah orang yang disudutkan menjadi lebih tinggi lagi, Aku tahu, manusia itu sangat profesional dalam menemukan kesalahan manusia lain, tapi ingatlah aku Author macam apa, aku menulis fic dengan inspirasi yang aku dapatkan dari karya orang lain.
The Worst One, The Almighty, The Noble of Trouble Maker juga mendapatkan inspirasi dari orang lain tapi aku merubahnya dengan gayaku sendiri... But, yah... Kalian tidak peduli karena dimata kalian [Ini adalah kesempatan untuk mencoreng nama-ku] tapi lucunya aku tidak peduli... Silahkan hujat, kritik, dan hina saja~ aku hanya akan mengabaikannya saja...
Well, kabar baik untuk kalian yang menantikan The Another One dan The Noble of Trouble maker, aku sedang mengerjakannya lagi... Jadi tunggu saja dengan sabar...
Itu saja dariku, Phantom! Sampai jumpa diwaktu, tempat dan dunia yang berbeda... Ciao!?
Phantom Out!
