©Anggara Dobby
Mas Sehun!
[Warning!] Bahasa Campuran —Alay teenlit kekinian gak baku—BoysLove alias Humu, DLDR, typo(s), Absurd.
Indonesia!AU
Chapter 2 : Luhan Jadi Anak Pramuka
Luhan mengentak-entakan kakinya kesal. Lelaki berusia 17 tahun itu sudah memakai seragam lengkap pramuka, ekskul barunya. Seragam pramukanya juga sudah lengkap dengan badge gudep, badge tunas kelapa, kacu berserta ring dan talikur. Dia juga memakai kaus kaki hitam dengan rajutan tunas kelapa di sampingnya. Sejak kedatangannya dua menit lalu, lelaki manis itu sudah menjadi bahan kegemasan kakak-kakak kelasnya. Baekhyun sudah kabur duluan, menghampiri Chanyeol yang sibuk mengatur barisan anak-anak. Luhan ditinggal sendirian, di tengah-tengah kakak-kakak cewek agresif ini yang terus memekik 'Ya ampun! Ada anak SD nyasar ke sini!'
Sialan.
Luhan tidak tahu dari segi mana dia terlihat seperti anak kecil. Apa karna rambutnya yang berponi? Atau seragam pramukanya yang konyol? Luhan tidak tahu pasti. Tapi, kakak-kakak ini masih saja menahannya dengan berdalih bahwa mereka harus mengenal anak baru. Padahal, Luhan sudah sering bertemu mereka di sekolah. Luhan tidak bisa marah atau berteriak kesal, dia harus sopan pada yang lebih tua, itu yang selalu diajarkan oleh Mama-nya. Jadi, lelaki mungil itu hanya tersenyum paksa kala tangan-tangan agresif kakak-kakak ini menyentuh-nyentuh pipinya, menarik-nariknya gemas.
Padahal, Luhan sudah berusaha ganteng. Dia mau jadi anak baru yang menyita perhatian di hari pertamanya jadi anak pramuka. Tetapi yang ada, bukan karna kegantengan wajahnya—alih-alih manis— dia malah menyita perhatian dengan wajah manisnya. Luhan juga terlihat seperti anak SD nyasar karna memakai seragam pramuka dan atribut lengkapnya. Coba saja jika Luhan memakai baret atau riboni di kepalanya, dia pasti benar-benar disangka anak SD.
"Kak, aku mau baris dulu," Luhan akhirnya membuka suara setelah bermenit-menit hanya terdiam membiarkan wajahnya di usel-usel oleh kakak kelasnya. heran, apa mereka tidak pernah melihat makhluk se-manis dirinya ya?
Luhan mulai narsis. Uhuk.
"Ya udah, deh. Tas-nya di taruh di kelas kosong sana aja, abis itu kamu langsung baris di barisan anak kelas sebelas, ya." ujar salah satu kakak kelas yang Luhan ketahui namanya adalah Kak Jessica. Kak Njess, begitulah Luhan memanggilnya. Agak alay memang, tapi yaa… namanya aja Luhan. bukan Luhan namanya kalau tidak alay, walau kadang sikap alay-nya itu dia sembunyi-sembunyikan.
Luhan mengangguk, "Iya, kak."
"Hati-hati nyasar, dek Luhan!"
Luhan merengut mendengar teriakan kakak-kakak agresif itu yang diselingi tawa. Memangnya dia anak kecil apa yang harus diperingatkan begitu? Luhan 'kan sudah besar, sudah 17 tahun, dia juga lelaki! Lelaki manly, macho, gagah, jantan dan ganteng! Jadi, Luhan tidak bakalan nyasar.
"Dek, mau kemana?"
Mata kiri Luhan berkedut ketika mendengar pertanyaan dari salah satu kakak kelas yang melintas di depannya. Sudah cukup! Luhan tidak mau harga dirinya terinjak seperti ini lagi! ini namanya pelecehan, penistaan umur!
"Aku bukan dedek-dedek! Jangan panggil aku dedek!"
.
.
Luhan sudah berbaris rapi di samping Baekhyun, masih dengan wajah merengut. Wajahnya juga memerah, karna terik matahari yang terasa menusuk-nusuk kulitnya. Dia tidak terbiasa panas-panasan, walaupun Luhan sering ikut futsal, tapi 'kan dia main futsalnya di dalam stadion, lapangan indoor. Jadi tidak terkena matahari secara langsung. Luhan tidak terbiasa, atau setidaknya belum terbiasa. Baekhyun juga sama sepertinya, apalagi anak itu termasuk tipe anak alay yang sangat menjaga kulit putih mulusnya. Anak tengil itu bahkan nyaris menghabiskan satu botol sunblock sebelum berangkat pramuka tadi. Benar-benar alay 'kan?
Baekhyun terus cengar-cengir di sampingnya, sibuk mengagumi Kak Chanyeol yang sedang merapikan barisan dengan komandonya. Luhan mendengus. Menurutnya, Kak Chanyeol itu seperti memiliki alter-ego. Dia itu sangat jahil, iseng, suka nyengir gak jelas dan berisik, tetapi jika sudah menyangkut ekskul kesayangannya ini, Ketua Osis itu berubah jadi sosok yang lain. Dia tegas, galak, suka ngebentak-bentak, dan semua ekspresi bodohnya hilang entah kemana. Luhan kadang merinding membayangkan Baekhyun yang dibentak-bentak oleh suara bass Kak Chanyeol ketika mereka sedang bertengkar. Baekhyun yang gampang mewek dan mungil itu pasti menyedihkan sekali jika harus kena bentakan super bass dari Kak Chanyeol.
"Upacara apel pembukaan pramuka siap dilaksanakan. Masing-masing barisan menyiapkan barisannya."
Apel pembukaan dimulai, semua anak-anak berbaris rapi dengan tegap. Upacara pembukaan ini berbeda dengan Upacara hari senin. Tidak ada pengibaran bendera, ataupun pembacaan Undang-undang Dasar. Yang ada, hanya pembacaan Tri Satya, Dasa Dharma Pramuka, amanat Pembina upacara dan Doa. Setelah upacara, maka anak-anak akan dibagikan tugas. Biasanya, untuk anak kelas sepuluh masuk ke dalam kelas untuk materi-materi, dan anak kelas sebelas di lapangan. Darimana Luhan tau ini? Oh, tentu saja dari si centil Baekhyun! Sebelum keduanya menjadi anak pramuka, Baekhyun sudah menjelaskannya banyak hal tentang ekskul yang satu itu, sumbernya dari Chanyeol. karna mana mungkin Baekhyun tahu-menahu soal pramuka, anak itu hanya sibuk dengan perawatan tubuh dan drama-drama Korea-nya. Iya, Baekhyun itu pecinta drama Korea atau sebut saja dia K-Drama Lovers!
Makanya hidup anak itu penuh dengan drama.
"Tri Satya…,"
Luhan yang tadinya tengah menunduk, memandangi sepatu hitam mengkilapnya itu, langsung mendongak ketika mendengar suara baritone dengan aksen sedikit cadel itu memenuhi lapangan. Mata rusanya langsung mencari-cari sumber suara, dan dia menemukan seorang lelaki tinggi dengan tangan terkepal di depan dada —berikrar— khidmat tengah mengucapkan Tri Satya yang diikuti oleh semua anak, kecuali Luhan.
Luhan tidak berkedip.
"—Demi Kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Negara—"
Ya ampun.
Itu siapa, sih?
Luhan baru kali ini melihat ada lelaki yang tampannya seperti itu. dia kira, selama ini dia yang paling tampan, tetapi sepertinya dia kalah jauh dengan lelaki itu. Luhan iri! Jelas saja, lelaki yang sedang mengucapkan Tri Satya itu memiliki tubuh tinggi yang tegap sekali, seragam pramuka dengan berbagai badge terlihat sangat pas di tubuhnya yang proposional, suara baritone tegasnya, tatapan tajam mematikannya—Ya ampun! Siapa sih dia? Siapa? Apa dia anak TNI yang di utus untuk mengajar Pramuka di sini?
Luhan mulai kepo. Memenuhi otaknya dengan berbagai pertanyaan yang tidak bisa dia jawab.
Luhan menoleh ke arah Baekhyun, ingin bertanya, siapa lelaki ganteng itu. Tetapi teman pendeknya itu tengah mengikrarkan Tri Satya dengan penuh khidmat. Baekhyun bahkan memejamkan matanya dan berdiri sangat tegap, seolah-olah dia sedang berjanji untuk menjaga negara dari ancaman bom nuklir.
Dasar alay!
Ketika pembacaan Tri Satya selesai, dilanjutkan dengan pembacaan Dasa Dharma, tetapi bukan lelaki itu yang membacakannya melainkan orang lain. Luhan merengut, padahal dia masih ingin mendengar suara berat-berat cadel itu. Tetapi, tidak apa-apa! karna Luhan masih bisa melihat lelaki itu di sana, di depan lapangan, berbaris dengan petugas Upacara lainnya.
Luhan tersenyum-senyum, mulai bertingkah idiot.
Aduh, itu siapa, sih?
.
.
Luhan kira, setelah ini dia dibiarkan masuk ke dalam kelas untuk mendapatkan materi. Tetapi nyatanya, dia harus tetap di lapangan. Tadi kak Chanyeol bilang, anak-anak yang baru masuk pramuka harus di lapangan untuk belajar PBB dasar dari para Pembina. Luhan sukses merengut season dua. Dia tidak suka baris-berbaris. Dia tidak suka pramuka. Eh, sepertinya dia mengulang-ulang kalimat itu terus ya? Ah masa bodoh! Luhan 'kan memang tidak suka ekskul ini.
Luhan menyeka keringat di pelipisnya. Matahari masih sama kejamnya seperti tadi. Ini baru jam dua, dan akan selesai jam lima sore. Luhan yakin, kulitnya pasti akan belang-belang setelah ini.
Anak-anak baru yang mengikuti pramuka ada sekitar 30-an, itu yang dari kelas sebelas. Sementara yang kelas sepuluh ada sekitar 40-an. Barisan mereka dipisahkan dan pastinya akan dibimbing oleh Pembina yang berbeda. Dan sepertinya Luhan benar-benar mendapat kebahagiaan di tengah-tengah kesialannya ini, karna yang menghampiri barisan mereka adalah kakak ganteng yang membaca Tri Satya tadi.
Luhan nyengir, ekspresinya langsung berubah menjadi penuh pelangi menggelikan. Dia juga mendengar bisik-bisik teman-temannya yang terpesona oleh kakak itu.
"Perkenalkan, nama saya Oh Sehun. Saya yang akan membimbing kalian sampai tiga bulan ke depan nanti."
Tiga bulan?
Yes! Yes!
Luhan pasti akan rajin datang pramuka setelah ini. Masa bodoh dengan kulitnya yang akan gosong seperti kak Jongin atau belang-belang seperti permen yang di iklan-iklan itu. yang penting, Luhan bisa terus bertemu dengan kakak ganteng ini. Siapa namanya tadi? Sehun! iya, Kak Sehun.
"Ada yang mau bertanya?" Kak Sehun memberikan sesi tanya-jawab. Wajahnya masih datar, lurus sekali, tanpa ada ekspresi. Nada suaranya juga dingin, membuat anak-anak jadi sungkan untuk bertanya, kecuali—
"Aku mau tanya, kak!" Itu suara Baekhyun, dan anak itu sudah mengangkat tangannya. Luhan sontak melirik teman unyilnya itu dengan kerutan dahi tidak senang. Jangan bilang kalau si cabe itu menyukai Kak Sehun juga? Luhan tidak rela!
Lho, memangnya kamu siapanya Kak Sehun, Luhan?
"Kak Sehun, udah punya pacar?"
Nah kan!
Luhan yang tadinya hanya merengut tidak senang, sekarang mulai menyenggol-nyenggol lengan Baekhyun sadis. Apa maksudnya coba bertanya seperti itu?
Sehun menggeleng, masih dengan wajah datar papannya. "Saya nggak punya pacar,"
Anak-anak centil lainnya bersorak heboh, kegirangan. Termasuk Luhan, tetapi dia tidak ikut bersorak norak seperti itu. Dia harus menjaga imejnya. Lagian, cowok manly sepertinya tidak pantas bersorak-sorak centil seperti itu. Sementara yang anak lelaki lain hanya melengos tidak suka karna merasa mendapat saingan baru yang berat.
"Kak Sehun, rumahnya dimana?"
"Kak Sehun, punya BBM? Boleh minta pin-nya?"
"Kak Sehun, punya Instagram? Mau aku follow, enggak?"
"Kak Sehun tipe idealnya kayak gimana?"
"Cara punya badan kayak Kak Sehun gimana?"
"Kak Sehun—"
"Kak Sehun—"
Luhan merotasikan bola matanya mendengar pertanyaan beruntun tidak bermutu dari teman-teman seperjuangannya. Dia'kan juga ingin bertanya, kalau seperti ini caranya Luhan tidak akan pernah mendapat kebagian untuk bertanya. Menyebalkan!
"Kamu!" tiba-tiba Sehun menunjuk Luhan yang masih merengut dengan tangan terangkat, siap bertanya. Luhan yang mendapat tunjukan itu mengerjap-ngerjapkan mata rusanya, bingung sekaligus senang. Teman-temannya yang lain sekarang juga ikut-ikutan menatapnya.
"Aku?" Luhan menunjuk dirinya sendiri dengan lugu.
Sehun mengangguk kecil, "Ya, kamu mau bertanya apa?"
Luhan yang menyadari tangannya masih teracung itu menurunkan tangannya dengan malu. Dia berdehem sebentar, menghalau rasa gugupnya yang mendadak datang.
"Boleh aku panggil Mas Sehun aja?" pertanyaan yang lebih mirip permintaan Luhan itu mengundang kernyitan bingung dari kakak Pembimbing-nya yang judes, sekaligus teman-temannya.
"Mas?" Sehun mengernyit bingung.
Luhan mengangguk, masih malu-malu, "Soalnya Kak Sehun mirip sama Pangeran-pangeran Keraton di Jawa. Jadi, aku boleh panggil Mas?"
Teman-temannya langsung tergelak geli mendengar penurutan polos Luhan. Mereka tidak heran lagi dengan tingkah Luhan yang seperti itu karna anak itu pada dasarnya memang sangat lugu, berbicara sesuai apa yang di pikirannya dengan gamblang, dan selalu berkata jujur apa adanya.
Sehun hanya menggeleng maklum mendengar permintaan junior-nya itu. "Ya, terserah kamu aja…, uhm,"
"Luhan. Nama aku Luhan, Mas."
Teman-temannya kembali tertawa mendengar Luhan benar-benar memanggil Sehun dengan sebutan 'Mas', dalam bahasa Jawa yang berarti Kakak lelaki. Luhan memang sudah biasa, sih, menyebut beberapa kakak kelas mereka dengan sebutan Mas. Maklum, Luhan itu 'kan memang anak asli dari tanah Jawa . Tetapi baru kali ini anak itu meminta izin dulu untuk memanggil Mas pada seseorang.
"Kenapa kamu di sini? Bukannya anak kelas sepuluh harusnya di sana?" tanya Sehun seraya menunjuk barisan anak kelas sepuluh yang sedang dibimbing oleh Jongin.
Luhan merengut, "Aku kelas sebelas, Mas."
Sehun tidak menanggapi terlalu jauh, dia hanya mengangguk mengerti. Walau beberapa anak sudah mentertawakan Luhan lagi karna dikira anak kelas sepuluh. Suruh siapa punya wajah kayak anak SD begitu! Orang-orang jadi sering salah paham karnanya.
"Oke, karna kalian masih baru di pramuka, jadi sekarang saya mau test Baris-berbaris dasar dulu. Ada yang tau apa saja PBB dasar itu?" tanya Sehun.
Anak yang berbaris paling depan, Hanbin, mengangkat tangannya. "Aku tau, Kak."
"Ya?"
"Sikap sempurna, Hormat, Istirahat di tempat, Lencang kanan, hadap kanan dan kiri, balik kanan, jalan di tempat." jawab Hanbin.
Sehun mengangguk, membenarkan. "Bagus."
Hanbin tersenyum bangga sekaligus sombong, membuat teman-temannya mendengus.
"Sekarang, saya mau test kalian PBB dasar. Peraturannya, jika kalian salah, saya akan memberikan kalian hukuman. Kalian tidak bisa protes atau saya akan tambah hukumannya. Mengerti?" ujar Sehun, tegas.
"Siap mengerti!"
Raut Sehun yang tadinya agak melunak, berubah menjadi sangat tegas. Seperti singa kelaparan yang siap menerkam mangsanya. Oh ini dia! Luhan mulai takut dengan ekspresi 'Mas' Sehun yang seperti itu. bagaimana jika nanti Luhan salah? Luhan 'kan tidak pernah mengikuti baris-berbaris seperti ini. Dia takut dihukum, apalagi wajah Sehun yang gahar seperti itu membuat nyalinya semakin ciut.
"Komando saya ambil alih, seluruhnya SIAP GERAK!"
Luhan nyaris terjengkang mendengar suara Mas Sehun yang menggelegar itu. Dia tidak menyangka jika orang setenang dan sedatar Mas Sehun bisa memiliki suara sekencang dan semengerikan itu. suaranya bahkan memenuhi lapangan, membuat anak-anak kelas sepuluh langsung menoleh bersamaan. Luhan kira, yang memiliki suara penuh otoriter dan tegas mengerikan itu hanya kak Chanyeol saja. Tetapi ternyata ada yang lebih mengerikan lagi. Serius, apa Mas Sehun pernah jadi Danton—pemimpin yang memberikan aba-aba— di Istana Negara saat Upacara 17 Agustus?
"Kalau saya sudah bilang 'Siap Gerak!' kalian langsung bersikap sempurna." Sehun mulai kelihatan galaknya saat ini. Mata tajamnya langsung memindai junior-juniornya yang berdiri tegap sesuai aba-abanya, tetapi belum terlalu sempurna.
Sehun mengitari barisan anak-anak dengan mata meneliti tajam, "Sikap sempurna itu tubuh kalian harus tegap, kedua tumit harus rapat, kedua telapak kaki membentuk sudut 60 derajat, lutut lurus, paha dirapatkan, berat badan di atas kedua kaki, perut ditarik sedikit—" dia menepuk perut seorang anak dengan cukup keras, membuat anak itu segera menahan napasnya.
Sehun kembali memeriksa junior-juniornya, sesekali menendang sepatu mereka, agar kaki mereka membentuk huruf 'V' yang sempurna.
"—dada dibusungkan, pundak sedikit ditarik ke belakang dan tidak dinaikkan," Sehun menarik bahu Luhan yang berdiri tegang itu, membuat bahu anak itu tegap. Luhan sedikit kaget dengan sentuhan tiba-tiba Mas Sehun itu, dia bahkan harus menahan napasnya spontan.
"—lengan rapat pada badan, pergelangan tangan lurus dengan jari-jari tangan terkepal tidak terpaksa, ibu jari harus segaris dengan jahitan celana, leher lurus, mulut harus tertutup tidak boleh kelihatan gigi, mata memandang tajam ke depan dan bernapas sewajarnya."
Di antara seluruh Pembimbing, Sehun adalah Pembimbing yang paling kolot dan perfeksionis. Dia bisa mengajarkan cara hormat yang benar selama dua jam kepada anak-anak agar cara hormat mereka benar-benar sempurna. Lelaki itu paling tidak suka melihat ada orang yang melakukan gerakan pramuka dengan tidak benar. Maka dari itu, bagi anak-anak yang sudah tau watak Sehun, mereka memilih mencari Pembimbing lain untuk mengajarkan mereka. Selain karna perfeksionis, Sehun itu juga galak sekali. Dia tidak segan-segan melakukan kekerasan, bentak-bentak, kepada anak-anak yang tidak mematuhi aba-abanya. Wajahnya sih memang datar dan terkesan tidak peduli, tetapi kalau sudah dibimbing olehnya, kalian harus siap-siap menerima bentakan dan tamparannya setiap hari.
Tetapi, walau begitu, ajaran Sehun sangat bagus. Seluruh trophy-trophy kemenangan lomba pramuka dan Jambore, itu berkat Sehun. karna ajarannya yang tegas, sekolah ini selalu menjadi unggulan dalam lomba-lomba pramuka. Lelaki berusia 18 tahun itu juga pernah terpilih untuk mengikuti Jambore Internasional di Swedia ketika menjadi Penggalang.
"Hormat gerak!"
Sehun kembali mengitari anak-anak dengan tatapan setajam katana. "Kalau hormat itu gerakannya harus cepat, jangan lelet! Kalian bukan keong! Gerakannya juga harus tegas, kalian pikir bendera kebanggaan para pahlawan dan masyarakat itu cuma main-mainan, hah?!"
Luhan dan yang lainnya terdiam, mulai merasa tegang. Mereka tidak pernah berpikir jika Kakak ganteng ini bisa se-ganas ini. Sepertinya Luhan salah menyukai orang.
"Ini apa-apaan pula, mana ada hormat macem kalian begini?" Sehun mendengus, nadanya terdengar mencemooh pedas. "Tangan kanan harus di angkat ke pelipis kanan, siku-siku serong 15 derajat ke depan, kelima jari harus rapat dan lurus, dan telapak tangan bagian dalam tidak boleh terlihat."
"Kalau kalian mau hormat ke bendera, lengan dan siku-siku kalian harus lebih terangkat. Bahu tetap tegap seperti sikap sempurna, dan pandangan mata harus menajam ke depan. Anggap saja di depan kalian ada musuh yang sangat kalian benci."
Luhan mulai membayangkan kak Jongin di depannya. Kenapa harus kak Jongin? Ya, karna Luhan tidak suka dengan Kakaknya Kyungsoo itu. kak Jongin itu ngeselin, suka sekali mengganggunya dan memperlakukannya seolah-olah dirinya ini adalah gadis kecil. Padahal 'kan dirinya ini lelaki gagah, manly, macho dan ganteng.
"Tangan kamu harus rapat, Luhan." Sehun tiba-tiba kembali ke arahnya, kali ini Luhan jauh lebih kaget. Karna seniornya itu berdiri tepat di depannya dan memegang tangannya, membenarkan cara hormatnya.
Luhan menahan napas. Tiba-tiba bayangan kak Jongin yang ngeselin itu berganti dengan Mas Sehun yang gantengnya kejam sekali. Bukan bayangan, tetapi memang realita. Nyata. Apalagi, Mas Sehun memegang-megang tangannya. Walau secara teknis, lelaki itu hanya membenarkan cara hormatnya yang asal-asalan itu.
Ya ampun.
Demi cilok seribu dapet lima!
Luhan rasanya mau berhentiin waktu. Biarin saja kayak gini. Dia sangat suka dengan wajah Mas Sehun yang ganteng itu, apalagi dengan jarak sedekat ini. Luhan mulai merona-rona menjijikan. Mas Sehun juga tingginya kebangetan, Luhan seperti kurcaci di depannya. Dan…, Ya ampun! Mas Sehun pakai parfum apa sih? kok aromanya bikin mabuk begini?
Luhan tidak kuat.
"Mas Sehun—"
"Nggak ada interupsi, Luhan."
Luhan langsung mingkem mendengar perintah mutlak yang judes itu. setelah itu, senior ganteng itu berlalu untuk memeriksa anak-anak lain.
"Kalau hormat saja kalian tidak bisa, saya tidak mau memberikan intruksi selanjutnya." Sehun mendengus. "Hormat saja tidak bisa. Dasar gak becus!"
Selain galak, Mas Sehun juga ternyata bermulut racun. Tetapi, tidak apa-apa, Luhan tetep suka kok sama Mas Sehun dan dia bakal rajin pramuka buat terus ketemu sama Mas Sehun.
Luhan mengklaim dirinya sudah menjadi Anak Pramuka sekarang, walau hormat saja masih tidak becus.
.
.
"Wah, wah, aku gak salah lihat nih siapa yang dateng pramuka sekarang?"
Luhan yang tengah menyedot minuman dinginnya itu melirik tajam ke arah Jongin yang datang menghampirinya bersama Kyungsoo, adiknya, yang kebetulan juga kekasihnya. Mereka incest? Iya, memang. Walau mereka bukan kakak-adik kandung sih, tapi karna Ayah Jongin menikahi Ibu Kyungsoo, jadi secara tidak langsung mereka jadi kakak-adik sekarang. tidak tahu bagaimana caranya Kyungsoo yang judes, jarang bicara tapi bermulut pedas itu mau-mau saja jadi bahan incest-an Kakaknya yang super nyebelin. Tapi yang jelas, Luhan sering melihat Kyungsoo jadi jinak pada Jongin saat di rumah. Hanya di rumah, karna di sekolah Kyungsoo selalu bersikap ketus pada Kakak sekaligus kekasihnya itu.
Dasar kak Jongin! Udah homo, incest pula. Laknat sekali memang.
"Luhan, kamu jadi kayak anak SD pakai seragam pramuka." Kyungsoo menyeletuk polos.
Luhan langsung melotot, "Heeeh! Kayak yang gak pendek aja. Sadar diri dong kamu!" tangannya menunjuk-nunjuk anak itu dengan sengit. Kyungsoo hanya menanggapi dengan wajah malasnya. Tuh kan! Kyungsoo dan Jongin itu memang sama-sama menyebalkan.
"Udah sana kalian! Jangan ganggu aku, aku mau istirahat sendiri aja." usir Luhan.
Dia memang sedang menikmati waktu istirahatnya sendirian di ujung lapangan, dekat pohon rindang. Sekaligus menghindari Kak Jessica dan kawan-kawan yang akan memburu pipinya lagi. Dia benar-benar sendirian, seperti penghuni pohon di sana. Baekhyun sudah melarikan diri bersama Chanyeol, sibuk berpacaran. Luhan kesal dengan anak itu. Baekhyun selalu saja menempel dengan Chanyeol, padahal setiap hari selalu bertemu. Dasar tidak setia kawan! Luhan akan balas dendam dengan anak itu nanti.
"Gimana, Lulu? Gak takut item karna ikut pramuka?" Jongin bertanya dengan cengiran isengnya.
"Jangan panggil aku Lulu, Kak!" protes Luhan. "Kalaupun aku item, aku pasti gak bakal se-item kak Jongin."
"Bocah ini!" Jongin siap-siap menjewer telinganya, tetapi Luhan menghindar gesit seraya cekikikan. Tetapi, saat dia berlari-lari seperti anak kijang, tubuhnya tidak sengaja menabrak badan tegap seseorang. Alhasil, Luhan terjatuh dengan posisi pantat lebih dulu mencium tanah.
"Aduh!"
Luhan mengusap-ngusap bokongnya seraya meringis. Dia hendak bangun, tetapi satu tangan tiba-tiba terulur ke arahnya. Luhan mendongak, mendapati Mas Sehun sedang berdiri di depannya dengan muka judes khas-nya. Oh, jadi barusan Luhan menabrak Mas Sehun? Luhan mendadak malu dan merasa bersalah.
"Bangun, Luhan." perintah seniornya itu.
Luhan menerima uluran tangan Sehun dengan malu-malu. Ini kedua kalinya tangannya bersentuhan langsung dengan tangan Sehun setelah latihan PBB dasar tadi. Tangan Mas Sehun itu tidak halus, melainkan kasar, khas seorang lelaki jantan yang sering kerja keras. tetapi, Luhan suka. Karna tangan Mas Sehun itu hangat dan setiap bersentuhan dengan kulitnya rasanya seperti di setrum-setrum listrik.
"Kalau kamu mau lari-larian, mending kamu kelilingin lapangan ini sambil ngehafalin Dasa Dharma. Saya yakin kamu belum hafal itu." Sehun berujar datar, agak ketus.
Luhan tersenyum malu seraya mengusap-ngusap tengkuknya canggung, dia memang belum hafal Dasa Dharma sih.
"Kenapa? Gak mau?"
Luhan jadi seperti sedang berhadapan dengan polisi penyidik. Walau dia menyukai kakak Pembimbingnya itu, tetapi bukan berarti Luhan mau-mau saja diperintah olehnya. Kalau Luhan tidak suka, dia pasti tidak mau melakukannya.
"Nggak, Mas." Luhan menggeleng. Membuat Sehun mengangkat satu alisnya. Dia hanya melakukan hal sepele itu, tapi kenapa rasanya menarik sekali untuk dilihat?
"Alasannya?"
"Aku capek, Mas." ucap Luhan terang-terangan, kalimatnya barusan malah terdengar seperti seorang istri yang lelah menghadapi tingkah suami bejad-nya. "Lagian, aku bisa ngehafalin Dasa Dharma nanti malem, kok. Aku janji! Kalau ngehafalinnya sekarang sambil lari, aku malah gak fokus. Aku juga belum makan, nanti kalau aku pingsan, gimana Mas?"
Sehun terlihat menghela napasnya, seperti menahan untuk tidak menceburkan Luhan ke got terdekat. Di antara anak yang lain, cuma Luhan yang selalu santai menanggapi ucapannya. Anak itu juga selalu mengatakan apa yang ada di pikirannya dengan apa adanya, tanpa penyaringan lebih dulu. Seperti tidak ada takut-takutnya sama sekali.
"Selama ini, kamu pernah ikut pramuka, nggak?" Sehun bukannya kepo, dia malah orang paling cuek sedunia. Tetapi dia perlu menanyakan ini pada junior barunya untuk mengetahui sejauh mana wawasan Luhan tentang pramuka.
"Nggak, Mas."
"Sama sekali belum pernah?"
Luhan menggeleng.
Sehun menghela napas, "Terus kenapa kamu ikut pramuka sekarang?"
"Aku dipaksa sama Kak Chanyeol." jawab Luhan, polos.
"Terus kalau nggak di paksa, kamu gak mau ikut?"
Luhan terdiam, cukup lama. Dia menunduk seraya memilin-milin kacu-nya yang panjang. "Aku…, sebenernya gak suka pramuka, Mas. Ini pertama kalinya aku ikutan pramuka. Aku gak berani bilang aku langsung suka sih, tapi aku ngerasa sedikit-dikit pramuka itu nyenengin. Apalagi kalau Mas Sehun yang ajarin."
Sehun berdehem saat Luhan mendongakan kembali kepalanya seraya tersenyum riang. Entah kenapa mendadak tenggorokannya gatal.
"Apa kamu bakal terus ikut pramuka atau berhenti di tengah jalan nanti?" Serius, Sehun belum pernah bertanya se-detail ini pada adik kelasnya yang lain. Tetapi, sepertinya dia harus tau tentang anak ini. Luhan. karna hanya anak ini satu-satunya lah yang terlihat berbeda.
"Aku gak tau, Mas." jawab Luhan. "Mas, Mas, pramuka itu… emangnya seru ya? Kak Jongin bilang pramuka itu ekskul yang paling seru dibanding yang lain. Emang bener, Mas?"
"Kalau soal ekskul paling seru sih, itu selera setiap orang. Gak semua orang suka sama pramuka. Kalau kamu tanya ke anak-anak ekskul lain, pasti mereka bakal jawab ekskul mereka yang paling seru. Aku gak mau bilang gimana serunya pramuka, karna nanti kamu bakal mikir keseruannya aja. Di pramuka itu banyak juga pahitnya, tapi kita selalu ngelewatin bareng-bareng." jelas Sehun. ini pertama kalinya Luhan mendengar senior kerennya itu berbicara panjang lebar seperti ini. Mas Sehun juga keliatan dewasa sekali.
Ya ampun.
Luhan makin suka.
"Kalau kamu ngerasa terpaksa dan gak cocok sama pramuka, mending kamu keluar dari sekarang. Daripada kamu merasa tertekan di sini, karna di pramuka kita hanya menerima keluarga baru yang mau susah-seneng bareng-bareng. Masalah Chanyeol, nanti aku aja yang ngomong. Gak seharusnya dia maksa anak-anak ikut pramuka gini." sambung Sehun seraya menatap Luhan yang terdiam mendengarkan.
Sehun berbalik setelah memberikan penjelasan panjang, mungkin ingin menemui Chanyeol. tetapi Luhan buru-buru mengejarnya, menghadang jalan kakak Pembimbing gantengnya itu.
"Mas Sehun, aku mau kok jadi anak pramuka." seru Luhan dengan cengiran riang. Sehun di depannya hanya mengangkat satu alisnya, cukup bingung.
"Tapi…," Luhan menggantungkan ucapannya dengan pandangan mata penuh rencana-rencana modus, "Mas Sehun yang ngajarin aku dasar-dasar pramuka, ya?"
Untungnya, Baekhyun selalu mengajarkannya cara mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Kenapa harus aku?" tanya Sehun, tak acuh.
Luhan semakin melebarkan cengirannya, "Karna pas liat Mas Sehun aku jadi langsung seneng sama pramuka."
Sehun berdehem, tenggorokannya tiba-tiba kering dan gatal lagi. "Aku sibuk." ucapnya, singkat, padat, jelas dan ketus.
"Gak setiap hari kok, Mas. Mau ya? Aku 'kan juga mau ikut kemah akhir tahun nanti. Aku belum pernah ikut kemah, aku mau ngerasain tidur di alam luar. Pasti seru! Aku juga mau belajar buat tenda, buat api unggun, makan makanan yang dicari di hutan kayak singkong, ubi jalar, terus nangkep ikan di sungai—"
"Luhan, kita itu mau kemah. Bukan hidup selamanya di hutan." Sehun berujar malas. Kepalanya mendadak pusing mendengar celotehan adik kelasnya yang banyak omong ini.
"Pokoknya aku mau jadi anak pramuka. Mas Sehun yang ngajarin aku. Mau ya? Nanti aku bakal kasih Mas makanan setiap hari, deh. Gimana?" Luhan masih mengemis dengan mata bulat lucunya.
"Itu sogokan?" Sehun kembali melanjutkan jalannya dengan cuek. Luhan tidak menyerah, dia masih mengekori seniornya itu dengan penuh harap.
"Mas Sehun...,"
"Luhan, jangan sampe saya ngehukum kamu." desis Sehun dengan mode galaknya lagi.
"Gak apa-apa, Mas. Aku rela dihukum kalo Mas mau ngajarin aku." Luhan jadi tidak tahu malu sekarang. Sifat aslinya keluar.
"Oke. Lari keliling lapangan 20 kali, push-up 100 kali, squat jump 50 kali sama ngehafalin Dasa Dharma sekarang juga."
Luhan nyaris menangis, "Mas kok tega?"
Sehun masih tak acuh seraya berjalan.
"Mas Sehun bukan Pembimbing pramuka yang baik. Masa' ada adik kelas yang mau belajar dasar pramuka malah gak dikasih. Mas gak cocok sama badge bantara di seragam Mas itu!"
Sehun berhenti berjalan, lalu berbalik ke arah Luhan yang kini terdiam takut. Ya ampun, sepertinya dia salah bicara. Lihat itu! Sehun sudah memasang wajah paling menyeramkannya. Luhan hanya ingin Sehun mengajarinya, kok. tetapi kenapa malah seperti ini? Luhan tidak mau ditampar, tolong.
"Setiap istirahat kedua di ruang Osis, Luhan. Jangan sampe telat, atau saya hukum kamu." ujar Sehun cukup ketus, lalu kembali melanjutkan jalannya.
Luhan mengerjapkan matanya.
Jadi…, dia berhasil?
Luhan mengepalkan tangannya dan berseru girang, "Yesssshh!" dan dengan tidak tahu malunya, anak itu sudah meloncat-loncat di tengah lapangan seperti anak kanguru.
.
Bersambung—
.
Ini bukan FF humor ya, jadi jangan ngarepin lawakan lebih. Dan jangan terlalu berekspetasi 'Wah bakal seru nih!' jangan ya.. soalnya takut ngecewain. FF ini cuma iseng-isengan doang kok, dan sekali lagi ini bukan based on true story! Gue cuma dapet ide mendadak 'gimana ya kalo Luhan jadi anak pramuka? terus Sehun jadi pembinananya?' disaat kemping kemarin xDD gue gak pernah cinlok di pramuka soalnya wkwk.
Daaaan, thanks buat yang udah ngasih tanggepan. Gak ngerti gue sama kalian, FF absurd begini aja bakal ditungguin. Serius gak ngerti gue wkwk. Gue kira bakal gak ada yang tertarik, eh ternyata responnya bagus-bagus XD
Last, see you soon gaes! Muaaah!
(btw, gue apdet cepet ya? Heuheu)
