PARTNER

-TaeKook-

.

.

Disc: all Characters is not mine, but this Story is totally mine!

Note: (maybe) Mature content inside, typo(s), and if u are under age or dislikes BL, please just left this page!


Chapter II : Obsessed?

Jungkook kini menatap pantulan dirinya dicermin. Dengan mengenakan sweater putih, dan celana jeans hitam, tidak lupa pula dengan sepatu yang senada dengan celananya, menampilkan sesosok pria yang tampan namun imut dalam bersamaan.

Setelah selesai menjelaskan selut belut sekolah yang akan menjadi target mereka selanjutnya, Taehyung mengajak Jungkook untuk keluar. Sekedar membeli perlengkapan untuk rencana mereka besok, sekaligus beberapa kebutuhan pokok.

Jungkook selesai, begitu pula dengan Taehyung. Lelaki itu tampak terlihat sempurna walau hanya berbalut t-shirt hitam dengan celana dan sepatu yang senada. Oh, jangan lupakan dengan softlens grey dan topi berwarna putih yang menambah kesempurnaan seorang Kim Taehyung dimata Jungkook.

"Softlens huh? Aku jadi berpikir, kita hanya sekedar membeli perlengkapan atau akan pergi berkencan?"

Jungkook berdecak setelah menatap Taehyung dari ujung kaki hingga kepalanya. Dan hanya dibalas senyuman mengejek dari sang empunya.

"Penyamaran adalah yang utama Jungkook. Lagipula, jika kau berpikir seperti itu anggap saja sekaligus kita berkencan."

Taehyung mengangkat dagu Jungkook lalu mengecupnya. Jungkook yang lumayan terkejut , langsung memalingkah wajahnya yang merona, menghindari eye contact dengan Taehyung.

Soal hubungan mereka, Jungkook sendiri tidak tahu dengan jelas. Sampai saat ini Taehyung tidak pernah mengatakan apapun soal itu, yang ia tahu mereka hanyalah sebatas Partner tapi terkadang Taehyung memperlakukannya lebih dari sekedar Partner semata.

"Jeon Jungkook. Aku yang telah menolongmu, maka mulai saat ini kau adalah milikku. Dan apapun milik seorang Kim Taehyung, tidak boleh disentuh oleh siapapun tanpa seizinku!"

Jungkook masih ingat dengan sangat jelas, ketika Taehyung menyatakan kepemilikan dirinya pada malam itu. Dimana Jungkook melangkah masuk kedalam apartement milik Taehyung, seatap dengan Taehyung, dan juga mendesah dibawah Taehyung.

Jungkook menggelengkan kepalanya, menghilangkan bayangan-bayangan percintaannya dengan Taehyung malam itu, berusaha sekuat mungkin untuk tidak merona malu. Menyadari sikap Jungkook, Taehyung menyeringai.

"Sebaiknya kita pergi Jungkook, aku tidak ingin membuang waktu lama agar kita bisa bermain sepulang nanti"

Tidak butuh waktu lama untuk Jungkook mencerna maksud dari kata bermain seorang Kim Taehyung. Tidak ingin berlama dengan wajahnya yang makin merah, Jungkook berjalan mendahului Taehyung keluar dari apartement, dan Taehyung menyusulnya sambil mencoba menahan agar tawanya tidak lepas dengan sikap Jungkook yang pemalu seperti ini.

. . .

Taehyung dan Jungkook masuk kedalam sebuah pusat perbelanjaan diseoul, cukup ramai karena hari Jumat aktivitas perkantoran maupun sekolah dipulangkan lebih cepat dari hari biasanya.

Jungkook berpisah dengan Taehyung, mereka berbagi tugas disini. Taehyung mencari alat yang dibutuhkan besok, sedangkan Jungkook pergi mencari seragam yang akan ia kenakan besok.

Siswa baru tidak akan dicurigai dengan seragamnya yang masih lain daripada yang lain.

"Kita akan bertemu lagi disini, lima belas menit dari sekarang."

Jungkook menatap arloji yang melingkar dipergelangan tangan kirinya kemudian mengangguk. Ia dan Taehyung mulai berpisah, berjalan dengan arah berlawanan.

Jungkook menatap seragam sekolah yang tergantung, cukup mahal untuk Jungkook, tapi tidak dengan Taehyung. Ia mengambil set seragam kemudian berencana kembali menyusul Taehyung sebelum sebuah suara menghentikan kakinya.

"Jungkook? Itukah kau?"

Jungkook menatap pria yang lebih pendek darinya, kemudian Jungkook tersenyum ketika menyadari siapa yang memanggilnya.

"Lama tidak bertemu Jimin."

Jungkook tersenyum menampilkan gigi kelincinya, lalu melakukan pelukan kecil dengan sahabatnya dulu. Jimin dulu adalah sahabat Jungkook ketika masih kuliah diuniversitasnya dulu, Jimin merupakan salah satu orang terdekat Jungkook, terkadang ia akan menceritakan masalahnya kepada Jimin, dan akan diberi saran oleh sang empunya.

Namun pertemuan mereka adalah suatu kebetulan, mengingat sudah sebulan Jungkook menghilang dari kampus tanpa kabar.

"Aku merindukanmu kau tahu. Sebulan menghilang tanpa kabar, dan kini aku bertemu denganmu sedang membeli seragam SMA?"

Jimin tertawa kecil sambil menatap seragam yang sedang Jungkook pegang.

"Oh, aku juga merindukan wajah jelekmu itu, dan juga bukan untukku hm."

Jungkook berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan kepada sahabatnya kalau ia berhenti kuliah dan sekarang berubah menjadi buronan.

"Hey! Bahkan kau masih menyebalkan. Ngomong-ngomong, bisakah sesekali kita ngobrol lagi? Kau masih berhutang banyak penjelasan padaku Jeon Jungkook"

Jungkook tertawa, bahkan sifat sahabatnya yang kepo masih ada.

"Tentu saja. Ah- aku harus pergi Jimin. Aku akan mengabarimu nanti"

Jungkook menatap arlojinya yang sudah lima belas menit, Taehyung pasti sudah menunggunya. Sedangkan Jimin menatap punggung sahabatnya yang menjauh dengan tatapan sendu. Jungkook yang saat ini ia temui, sedikit berbeda dengan Jungkooknya yang dulu.

Sejujurnya Jimin penasaran apa yang sudah terjadi pada Jungkook. Kenapa ia menghilang? Jimin ingin menanyakan segalanya.

Jimin tersadar dari pemikirannya setelah merasakan handphonenya bergetar disaku kiri celananya, tertera kontak penelepon disana. Setelah menggeser tombol answer, Jimin meletakkan handphone dikuping kirinya.

"Ya, hallo?"

"Kau dimana Park sialan? Cepatlah kemari, banyak hal yang harus kau kerjakan!"

"Hey, aku sedang membeli sesuatu. Benarkah? Baiklah aku segera kesana."

Setelah panggilan diputuskan sepihak, Jimin memasukan kembali handphonenya kedalam saku kemudian beranjak pergi.

'kuharap kita akan bertemu lagi Jungkook ..' Kata Jimin membatin.

.

.

.

Jungkook berjalan setengah berlari, dia terlambat semenit dan semoga Taehyung tidak akan memarahinya. Lagipula Taehyung tidak sekejam itu kan? Memarahi Jungkook yang hanya terlambat semenit, oh salahkan Jimin yang bertemu dengannya.

Jungkook sampai, dan langsung disambut dengan tatapan dingin Kim Taehyung.

"Kau sudah selesai?" Tanya Taehyung dingin.

"Y-ya .. aku sudah membeli seragamnya."

Jungkook mencoba untuk bersikap biasa, tidak biasanya mood Taehyung berubah secara drastis seperti ini. Bukankan tadi lelaki ini sedang menggodanya? Dan ntah kenapa sekarang sikapnya berubah menjadi dingin mencekam.

"Bagus. Karena aku juga sudah selesai, ayo bayar dan segera pulang."

Taehyung menarik tangan Jungkook setengah menyeret, mengabaikan tatapan orang-orang yang menatap mereka kebingungan, layaknya sang suami tengah menyeret istrinya yang kedapatan selingkuh, moodnya sedang sangat jelek saat ini. Yang ia inginkan sekarang adalah pulang.

. . .

V'K Apartement

Taehyung mendorong tubuh Jungkook keatas ranjang, ia melempar topinya kasar dan langsung menyerang bibir Jungkook yang terbuka kaget. Ada yang aneh dari Taehyung, pikir Jungkook. Biasanya jika mereka akan melakukan seks, Taehyung akan menggodanya terlebih dulu, tidak seperti ini yang kasar.

"T-Taehyunghh .. apa yang terjadi padamu?"

Jungkook berusaha menahan Taehyung ketika lelaki itu mulai membuat kissmark dilehernya.

"Bukankah aku sudah pernah bilang padamu Jungkook, kalau aku tidak suka milikku disentuh orang lain. Dan siapa lelaki itu hah?"

Lelaki? Jangan bilang kalau Taehyung melihat dirinya dengan Jimin tadi.

"Akan kujelaskan Taehyung, tapi berhenti dulu aku- nghh .."

Terlambat.

Suara Jungkook tertahan, ketika Taehyung menyentuh dirinya dari balik celana. Jungkook terlalu sensitive, dan Taehyung sudah hafal dimana titik-titik sensitive Jungkook.

Tidak butuh waktu lama untuk Taehyung melepas pakaian yang mereka berdua kenakan sehingga mengekspos tubuh mulus Jungkook tanpa cacat sedikitpun. Sangat indah dipandang jika kini sudah terhiasi dengan tanda kepemilikan Taehyung. Ia tersenyum puas.

"Mendesahlah Kookie, desahkan namaku."

Dan tangan Taehyung kini beranjak turun kebawah, menyusup kebalik celana yang Jungkook kenakan, baru digoda sebentar dan Jungkook sudah sekeras ini? Taehyung tertawa dalam hati.

"T-taehyungghh .."

Tidak ingin menyiksa diri lebih lama, Taehyung menyingkirkan celana mereka, dan dengan sekali hentakan, Taehyung sudah berada didalam diri Jungkook. Tubuh Taehyung terasa terbakar merasakan bagian dirinya yang serasa dipijat oleh Jungkook.

Jungkook sendiri menutup matanya menahan sakit, memang ini bukan yang pertama kalinya dengan Taehyung, tapi entah kenapa milik Taehyung cukup besar sehingga Jungkook harus merona disela-sela kegiatan panasnya dengan Taehyung.

Taehyung mulai bergerak, menambah sedikit tempo. Tidak berdiam diri, tangan Taehyung menyentuh nipple milik Jungkook, bermain seakan menari-nari diatasnya. Bibirnya mencium bibir Jungkook, memaksa lidah Jungkook berperang dengannya.

"Ngghh .. Taenghh, fastt .."

Jungkook mendesah, dia merasa sebentar lagi akan keluar, dan Taehyung mulai menambah temponya. Tidak lama kemudian, cairan milik Jungkook menodai wajah tampan Taehyung. Sedangkan Taehyung, ia melepaskan segalanya didalam diri Jungkook.

Jungkook terengah, dan kemudian menutup matanya lelah. Bahkan hanya untuk ronde yang singkat, Taehyung selalu berhasil membuat Jungkook lemas. Taehyung mencabut dirinya dan mengecup dahi Jungkook sayang. Sebelum ia beranjak dari ranjang, Taehyung menaikan selimut sampai kedada Jungkook.

Langkah kakinya menuju toilet yang berada didalam kamar apartementnya, Taehyung menatap pantulan dirinya dicermin.

"Sialan!"

Taehyung menatap darah yang menetes dari hidungnya, dia tertawa miris sebelum mencuci tangannya yang berlumuran darah beserta hidungnya. Jungkook tidak boleh tahu soal ini.

.

.

.

-To be Continued-

Sebelumnya maafkan kuki kalau adegan naenanya ga hot :v kuki amatir soal begituan x'D (this is first time)

Nah, kuki nargetin ff ini hanya sampai sekitar 8-10 chapter saja (atau kurang). Soalnya kuki fokusin ke alur cerita sesungguhnya, dan gabakalan dibikin basa basi gitu(?)

Pendek gitu thor?

*Soalnya kuki udah mentok-in alurnya kayak gimana, dan memang seperti ini jadinya x'D kalau misal konfliknya disatuin, chapnya bakalan jadi ngerut sampe 3-4 chap doang wkwk :'v

Terus, kuki masih bimbang buat ff ini. Harus di Happy atau Sad endingkah? Kuki niatnya sad ending (maybe) x'D but nanti lihatlah jadinya gimana~ oh, and last bakalan banyak kejutan disini hoho.

Saran? Pertanyaan? Riview yah~ TvT ILY~

-Kuki