Aoihoshi Fiqih's Presents..
Her First Fict In Saint Seiya Fandom..
Based On True Story
HORROR
Chapter 2:
KNOW
Saint Seiya belongs to Kurumada Masami-sensei
Warning!
Typo, OOC maybe, dan tentu saja seperti judul utamanya. Based On True Story.
Enjoy~
xxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
.
.
Kembali lagi ke dunia yang kali ini diberi kesempatan sekali lagi untuk merasakan kedamaiannya. Tanpa kekacauan ataupun ataupun peperangan—pengecualian untuk 'peperangan' yang berawal dari masalah sepele. Karena itu hanyalah kelakuan manusiawi yang dilakukan oleh para penghuninya, yang tampaknya sudah menjadi jadwal rutin setiap harinya.
Begitu pun dengan Sanctuary, tempat asal mulanya saint yang menjadi prajurit setia Athena, yang tidak luput dari masalah. Masalah kecil maupun besar. Masalah kecil mungkin bisa dicontohkan oleh beberapa orang yang mungkin selalu ribut nyaris setiap hari di dalam lingkungan dua belas kuil. Siapa lagi kalau bukan penghuninya?
Memang, walaupun mereka itu terkenal akan sikap mereka yang sangat serius, kekuatan mereka yang hampir tidak ada tandingannya, mereka tetaplah manusia yang kadang selalu melakukan hal-hal konyol yang memicu pertengkaran kecil—yang kemudian diakhiri dengan amukan penghuni kuil keenam yang dikenal tidak suka keributan dalam bentuk apapun.
Disamping kejadian diatas yang mungkin bisa mengundang gelak tawa siapapun yang melihatnya, walaupun tempat itu terisi cosmo-cosmo kuat milik para saint, ternyata tidak dapat dipungkiri bahwa tempat itu memiliki tempat misteriusnya tersendiri. Misalnya saja sebuah bengkel tua yang sudah terkunci selama puluhan tahun di dekat colloseum.
Tapi rasanya tidak seru jika memulai semua ini dari tempat itu, 'kan?
Mungkin kita bisa mulai dari kuil pertama dari dua belas kuil di Sanctuary. Lebih tepatnya mungkin penghuni kuil tersebut, yang kini tengah membereskan tiga buah kotak cloth rusak yang akan menjadi tanggungannya untuk beberapa hari ke depan.
Tidak ada masalah yang selesai tanpa meninggalkan kerusakan. Begitu juga dengan cloth itu, yang mungkin akan Mu perbaiki sore ini, setelah…
"Mu-sama, kapan kita latihan?"
"Setelah yang aku menyimpan yang satu ini, kita akan latihan!"
…ini.
Setelah saint Aries itu meletakkan kotak cloth yang ketiga sekaligus yang terakhir, pemuda berambut lembayung muda itu membawa bocah berambut jingga yang ia kenal sebagai muridnya itu untuk berlatih.
Bagi mereka yang memang memiliki ras yang sama, tentu yang mereka latih adalah teknik yang sudah turun temurun dilatih—atau mungkin memang sudah dimiliki—sejak masih kecil. Yang paling terkenal dari mereka tentu psychokinesis dan teleport mereka yang melegenda.
"Wah, akhirnya aku bisa melakukannya, Mu-sama!" bocak berambut jingga itu bersorak kegirangan setelah berhasil membuat sebuah batu besar melayang lima meter di atas tanah.
"Bagus! Kalau begitu terus, mungkin nanti psychokinesis-mu akan sempurna, Kiki." Jawab Mu sembari menepuk kepala bocah itu.
Langit yang tadinya cerah, agak sedikit mendung. Tampaknya hujan akan segera turun, mengingat akhir-akhir ini sering sekali hujan—mungkin sudah musimnya. Mengetahui itu, Mu segera mengakhiri acara pelatihan itu lebih awal, khawatir hujan akan terjadi tidak lama lagi, karena awan mendung kini lebih hitam dari sebelumnya.
"Kiki, kurasa latihannya kita akhiri dulu sampai di sini," ujar Mu sembari menggestur kepada Kiki utnuk segera masuk ke kuil. "Kita lanjutkan besok."
"Iya, Mu-sama."
Tampaknya acara memperbaiki cloth sore ini harus dimundurkan jadwalnya menjadi malam—jika hujan ini menjadi semakin deras.
.
.
.
xxxxxxxxxxxxxx
Mu tidak akan pernah menyangka jika hujannya cukup deras untuk memundurkan acara memperbaiki cloth rusak yang awalnya ia rencanakan sore, kini menjadi malam hari. Tampaknya dugaannya seratus persen tepat sasaran.
Beruntung tanggul di dekat desa yang ada di dekat Sanctuary tidak jebol. Kalau tidak, mungkin Mu harus memundurkan rencananya lagi sampai lusa. Sebenarnya bisa saja dia memundurkan rencana hari ini sampai besok, tapi sekarang ini Mu ingin menyelesaikannya dengan cepat, jadi nanti dia bisa tenang utnuk mengurusi masalah yang lain.
Mu memutuskan untuk memperbaiki dua cloth dulu malam ini. Mungkin satu sisanya bisa ia selesaikan esok hari.
Sebenarnya kali ini Mu sangat senang sekali karena sekarang ini ia mendapatkan asisten dadakan—Virgo Shaka. Tumben sekali mungkin untuk orang seperti Shaka keluar dari kuilnya, yang memang biasanya dia mengurung diri di dalam kuil hanya untuk bermeditasi.
Dan alasan mengapa sang Virgo keluar dari kuilnya membuat Mu maklum: di kuil Leo sedang ada keributan yang PASTI ditimbulkan oleh biang rusuh Sanctuary dan itu semua membuat Shaka sebal setengah mati karena tidak bisa bermeditasi dengan tenang di kuilnya dan keributan itu sampai terdengar oleh telinga pemuda berdarah India itu.
"Terima kasih sudah repot-repot membantu, Shaka,"
"Tidak usah sungkan, aku ikhlas, kok!"
Shaka sedikit mendelik sebal ke belakang ke arah kuil Leo sebelum melanjutkan perkataannya. "Lagipula lebih baik membantumu daripada duduk diam bermeditasi tak tentu karena mendengar keributan konyol dari sana."
Mu tertawa kecil. "Haha.. sudahlah, Shaka, kau tahu sendiri, 'kan, mereka itu kalau ribut seperti apa?"
"Ya, aku tahu itu. Dan setiap hari rasanya keributan itu menjadi musik yang memekakkan telinga untukku."
Mereka berdua pun berjalan menuruni tangga dari kuil Aries untuk menuju bengkel tua yang ada dekat colloseum. Mu memilih tempat itu karena bengkel di tempatnya sedang agak bermasalah, dan sampai masalah itu selesai, untuk urusan memperbaiki ia harus memakai tempat yang katanya pernah juga dipakai gurunya.
Tidak begitu lama mereka berjalan, akhirnya kedua saint itu tiba di depan bangunan yang tidak begitu besar. Penampilannya cukup tua, namun bangunan itu tampaknya masih bisa berdiri lagi untuk dua puluh tahun ke depan.
Mu membuka kunci gembok yang mengunci pintu bangunan itu selama beberapa tahun. Kuncinya sendiri ia dapatkan dari mendiang gurunya, Pope Shion. Setelah pintu terbuka, Mu dan Shaka segera menyimpan dan menyiapkan peralatan yang tadi mereka bawa. Beberapa diletakkan di meja, dan beberapa lainnya diletakkan di lantai.
Selama persiapan itu, hanya keheningan lah yang terdengar bersama suara rintik gerimis yang samar.
Di tengah kegiatan itu, Shaka merasa adanya kehadiran orang lain selain dirinya dan Mu di tempat itu. Seketika tangannya yang tadi dengan cekatan membereskan ini itu kini terhenti dan terdiam. Menyadari itu, Mu menjadi heran.
"Shaka? Ada apa?"
Ada jeda lama sebelum akhirnya pertanyaan sang Aries itu dijawab oleh si pemuda pirang. "Tidak, tidak apa-apa."
Setelah menjawab seperti itu, Shaka melanjutkan kegitannya yang terhenti sesasat. Namun kali ini gerakan tangannya tidak secepat yang pertama. Kali ini sepertinya ia sedikit was-was dengan kehadiran orang ketiga itu.
.
.
.
Waktu sudah semakin larut seiring tempaan palu di bangun itu. Mu dan Shaka duduk saling membelakangin satu sama lain. Shaka membereskan peralatan, sementara yang punya menempa cloth yang kini hampir selesai diperbaiki satu buah.
Ditengah kegiatan itu, Shaka tak henti-hentinya bersikap seolah ia kedatangan orang asing yang sama sekali tidak ia kenal. Mu cuma bisa menghela nafas memaklumi sifat waspada rekannya itu, seakan sudah biasa.
"Kau ini kenapa, sih, Shaka?" Tanya Mu.
Yang ditanya hanya mengedikkan bahunya. "Entahlah, Mu, aku hanya merasa sedikit tak nyaman dengan tempat ini." Shaka memijit pelipisnya pelan.
"Mungkin cuma perasaanmu saja, Shaka, kau itu terlalu serius. Sekali-kali santaikan pikiranmu itu."
Setelah itu, suasana kembali sunyi. Yang mengisi kesunyian itu hanyalah suara tempaan palu milik Mu yang terdengar beraturan.
Tiba-tiba, alunan tempaan itu berhenti di iringi gerakan Mu yang mendadak saja berdiri—membuat Shaka heran sendiri.
"Lho? Mu? Ada apa? Kenapa berhenti?" Shaka berbalik menghadap si pemuda Jamir di belakangnya.
"Tidak, Shaka, aku hanya baru ingat kalau aku meninggalkan sesuatu di kuilku," Mu menepuk keningnya, menyadari keteledorannya. "Aku akan mengambilnya ke kuilku. Kau tunggu disini dulu sebentar ya!"
"Aku saja yang mengambilnya, kau tunggu disini saja meneruskan pekerjaanmu itu," Shaka berjalan menuju pintu. "Aku akan segera kembali."
"Ya sudah, barangnya ada di kuilku, kau tanyakan saja pada Kiki letaknya dimana."
Seiring dengan perginya Shaka ke kuil Aries untuk mengambil alat yang tertinggal, Mu pun kembali pada pekerjaannya memperbaiki cloth yang kedua. Kalau diam menuggu saja tanpa kegiatan, rasanya sama saja seperti pengangguran.
Lima belas menit kemudian, Shaka kembali dan masuk ke dalam bengkel sementara Mu masih asyik sendiri dengan pekerjaannya. Menyadari itu, Mu pun membiarkan Shaka duduk di kursi yang membelakanginya.
"Oh, sudah kembali, Shaka? Kau simpan saja alat yang kuminta di mejamu, nanti kuambil sendiri."
Tidak ada jawaban dari teman seperjuangannya itu, membuat Mu memakluminya karena mungkin saint Virgo itu memang sedikit badmood hari ini. Tanpa menanyakan hal yang aneh-aneh, pemuda berambut lilac itu kembali lagi pada pekerjaannya yang tertunda. Ia ingin cepat-cepat membereskan yang satu ini.
.
.
Empat puluh lima menit berlalu semenjak Mu mengerjakan cloth keduanya, tidak ada yang bicara selama waktu tersebut. Lama-lama, Mu risih juga dengan kediaman ini. Ia merasa, Shaka yang ada dibelakangnya ini bukan Shaka yang biasanya. Apa segitu badmood-nya kah sampai-sampai pemuda pirang itu sebegitu diamnya?
Okay, kalau dia meditasi, Mu masih mengerti. Tapi, Shaka bukan tipe orang yang suka bermeditasi di tempat seperti ini. Haahh.. baru tiga jam ia memperbaiki cloth, tapi otaknya sudah penuh dengan hal-hal yang menurutnya ganjil seperti ini.
Dengan agak ragu, ia pun mencoba memulai pembicaraan.
"Shaka, kau baik-baik saja? Daritadi kau diam saja."
"…."
Hening. Tak ada jawaban dari pihak yang ditanya. Baik. Mu tampaknya harus sedikit bersabar karena ia merasa seperti bicara dengan tembok kali ini.
Drrtt.. Drrtt..
Sebuah suara getaran mengusik pendengaran pemuda Jamir itu. Ternyata ada pesan masuk ke ponselnya.
Hei, jangan heran. Ini abad ke dua puluh. Tentu di zaman itu ponsel sudah tercipta. Jangan terlalu heran jika seorang saint punya benda seperti itu. Mereka tetap manusia biasa, menginginkan kemudahan dalam hal komunikasi. Untuk kasus Mu, dia ingin hidup senormal mungkin, tanpa menggunakan telekinesis-nya kalau tidak sedang bertugas.
Dia meraih benda berwarna putih itu, menekan satu-dua tombol untuk kemudian membuka pesan yang masuk beberapa saat yang lalu.
From: Shaka
Mu, maaf baru memberitahu sekarang.
Aku minta maaf, aku tidak bisa kembali ke tempatmu saat ini. Saat aku menaiki tangga menuju kuilmu untuk mengambil barang yang kau minta, aku tak sengaja terjatuh dan kepalaku terbentur. Sekarang ini aku ada di kuilku.
Kembalilah. Sudah malam, jangan memaksakan diri.
Mu menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi sedikit terkejut. Dengan sedikit heran, dia membaca ulang pesan itu dengan sangat sangat seksama. Takut kalau matanya yang salah karena yang mengirimnya adalah Shaka. Yang dia tahu, Shaka itu ada di belakangnya sekarang.
Setelah dicek dan masih belum menemukan kesalahan pada matanya, dengan sedikit berat hati, pemuda Aries itu memalingkan wajahnya ke arah belakang tubuhnya. Dengan perlahan, sangat perlahan, ia menatap sosok pirang yang duduk dibelakangnya dengan wajah tertunduk, membuat sebagian wajahnya agak sulit terlihat karena tertutup poninya.
Nafasnya sedikit tercekat saat sosok itu mengatakan sesuatu yang tiap-tiap katanya mengandung arti tersendiri yang membuatnya membulatkan kedua matanya.
.
.
.
"Lho, Mu, kau sudah selesai atau SUDAH TAHU?"
.
.
.
Chapter 2: KNOW -OWARI-
Konnichiwa, Minna~
Selamat Hari Raya Idul Adha ya~
Maafkan saya yang tampaknya lumayan ngaret meng-update fic ini. Tampaknya profesi baru sebagai mahasiswi hampir membunuh saya dengan tugas-tugas maut-nya, hahaha.. *plak!
Entah kenapa karakter di dalam fic ini rasanya sesuai saja dengan hari ini. Padahal tidak ada rencana meng-update pada hari ini dan memilih karakternya dia, mungkin ini takdir Illahi Robbi *oke, gak nyambung
Cerita ini saya dapat berdasarkan cerita tutor bahasa inggris saya yang cerita soal bengkel kampus adiknya, yang katanya tidak boleh dimasukki tidak lebih dari jam tujuh malam. Dan itu dialami oleh adik tutor saya. Kampusnya sendiri di daerah Bandung, dan untuk nama kampusnya, saya tidak mau menyebutkannya disini. Kalau mau, tanya langsung saja ke saya.
Makasih, buat Asha D-san, review-mu saya balas lewat PM saja, ya? Terima kasih masukkannya!
Juga buat ScorpioNoKuga-chan, makasih ya sudah support saya dari berbagai macam media, dari twitter sampai LINE!
Dan terima kasih buat para silent reader yang berkunjung secara tidak sengaja kemari. Silakan~ :))
By the way, gimana cover buatanku? Saya pertama kali buat lho itu~
Akhir kata,
REVIEW?
15-10-2013
