A/N: HEHEHEHE. Udah di-apdet dooong XD #sarap #hajared

Listening to: Suneohair - Akai Coat

Standard disclaimer and warning applied.

Don't like, don't read!

.

.


[Second 1: Time is Money]

.

Rasa sakit menyerang kepalanya.

Pemandangan melebur di matanya.

Ia tahu bahwa ini adalah hal yang biasa.

Adalah waktu membawanya untuk berpindah masa.

.


.

Happy Time

.

© Akazora no Darktokyo

.


.

Matanya mengerjap-ngerjap. Waktu membawanya ke tempat lain lagi dalam sekejap. Tempat yang penuh dengan langkah-langkah yang berderap. Langit berisi jingga merayap.

Dimana aku?—pikirnya.

Dia berada di sebuah gang yang tersempil di jalan besar yang bukan main padatnya. Dia masih bingung ada di mana dirinya. Akhirnya, ia berusaha tidak berdiam untuk mencari jawabannya. Ia menghampiri seseorang untuk sekedar bertanya,

"Di sini di mana?" tanyanya.

Orang itu menjawab, "kau tak tahu ini di mana? Di kota termakmur seluruh Nippon; Inazuma. Tapi, kau tetap tidak tahu berada di mana?"

Orang itu menahan tertawa bernada ejekan. Ha, ha, ha—apakah sangat lucu, tuan? Namun, yang perlu dia lakukan; hanyalah memasang senyum palsu yang terlihat menawan dan membalas kata-kata orang itu dengan penuh kesopanan, "terima kasih, paman."

Ia melanjutkan berjalan, sambil memikirkan yang akan ia lakukan kemudian. Setiap kali waktu membawanya berpindah dunia, ia pasti harus menemukan cara bertahan hidup yang sesuai dengan tempatnya ia berada.

Lain ladang, lain belalang. Lain lubuk, lain ikannya.

Setidaknya, ia tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia harus menemukan jalanan yang lebih lengang. Sesaknya orang-orang membuat dirinya susah bernapas. Ia bingung kenapa orang-orang dapat berlalu-lalang dengan biasa disini tanpa miringnya waras.

Dia melihat ke jalur kanan, di sana ada sebuah taman. Mungkin akan bagus kalau ia bersantai sebentar. Hanya sekedar bersandar. Ia menuju sebuah bangku taman yang ada di sana dan langsung duduk tanpa melihat sekitar.

Dia mengambil ponsel yang ada di kantung jaketnya. Melihat apakah sinyalnya ada. Sekedar memastikan apakah dia benar-benar berpindah masa. Tidak ada sinyalnya. Berarti, lebih bagus kalau ponsel itu dijual saja. Bukankah itu lumayan untuk membiayai kebutuhan sehari-harinya?

Ia bersandar kembali, tangannya iseng memutar-mutar ponselnya yang dipasang tali. Matanya ditutup berusaha merelaksasikan diri. Tak disengaja ia mendengar kaki yang berlari. Suara lari itu makin dekat seperti ingin melewatinya. Yah, suara lari itu memang melewatinya—

—seraya membawa kabur ponselnya.

"HEI!" anak itu menjerit kaget.

Sang pembuat suara lari makin mempercepat derap langkahnya. Anak itu mengejarnya. Anak itu tidak mau kalah dalam mempercepat langkahnya, ia berlari dengan segera. Dan, dapat menjerat si pencopet itu dalam waktu yang tidak lama.

Akibat dari kerasnya jeratan, keduanya terjatuh di jalanan. Meski begitu, anak itu tidak melepaskan cengkramannya terhadap pencopet yang ada di hadapan.

Anak itu segera bangun berdiri, sambil menarik tangan pencopet itu untuk ikut berdiri. Pun setelah pencopet itu berdiri, ia tetap tidak melepaskan tangan pencopet itu sebelum pencopet itu mengembalikan benda yang ia curi.

"Hiii… Ampuni aku!" mohon pencopet itu dengan kedua tangannya memegang kepala. Seperti takut akan kemungkinan kontak fisik secara kasar dari anak di depannya.

"Aku hanya butuh ponsel itu, tidak yang lain," jawab anak itu. "Aku berharap kau mau mengembalikan ponsel yang telah kau curi tadi," lanjutnya berusaha tidak menakuti pencopet dengan nada suaranya.

"Ini!" kata anak itu sambil menyerahkan ponsel yang sempat ia curi. Kemudian ia berlari kembali.

Anak itu hanya menatap kepergian pencopet yang sekiranya seumuran dengannya. Atau mungkin umur pencopet itu lebih tua. Tua dalam artian fisik tentunya.

Katanya ini kota termakmur… Kenapa masih saja ada orang yang mencopet?—pikir anak itu.

Ia kemudian bersandar di bangku taman kembali, ke tempat duduknya tadi. Angin kini berhembus dengan sejuknya. Memberikan semat-semat rasa kantuk di mata. Sepertinya pula tidur tidak ada salahnya.

Mata itu perlahan makin berat, dunia mimpi makin mencengkeramnya erat.

"Itu orangnya!" sebuah suara mengagetkan anak yang hampir tertidur itu. Ia langsung membuka mata lebar-lebar. Reaksi akan suara yang pernah ia dengar.

Suara pencopet yang tadi baru kabur sebentar.

"Ada apa ini?" tanya anak itu.

Di hadapan anak itu sudah ada pencopet yang tadi. Dengan segerombolan teman-temannya—tiga orang— yang sepertinya ia bawa untuk melakukan konspirasi. Konspirasi untuk merebut ponsel yang sempat pencopet itu curi.

"Kemarikan benda itu!" seru si pencopet cilik yang tadi.

"Tidak mau," ujar anak itu kalem. Meski begitu, tidak tersirat nada dingin dalam suaranya.

Pencopet itu menepuk kedua tangannya sekali. Seperti sebuah tanda yang mengomandokan teman-temannya untuk mengeluarkan senjata yang bersembunyi. Dan, hal itu memang terjadi. Keempat orang itu mengeluarkan masing-masing senjatanya; mulai dari tongkat kasti sampai balok besi.

"Kemarikan benda itu!" perintah si pencopet cilik itu sekali lagi. Betapa ia merasa ia sudah diatas angin karena ia sudah tidak sendiri.

Anak itu tetap diam. Tidak sebersit pun niat beranjak dari kursi taman.

Jawabannya pun tetap sama. Sama tenangnya, sama intonasinya, sama saja dengan sebelumnya, "tidak mau."

"Kalau begitu… Serang!" perintah pencopet itu.

Anak itu tetap tidak beranjak. Dia tetap tak bergerak. Dia diam menunggu akan adanya suara hantaman di kepala. Namun, tetap saja…

Waktu berhenti meski ia tidak meminta.

Ketika waktu berhenti, baru ia beranjak dan berdiri. Lalu, berjalan di sela-sela celah dinding serangan yang dibuat oleh pencopet dan teman-temannya. Ia berjalan hingga ia sudah berdiri tepat di belakang para penyerangnya. Kemudian, anak itu membalik badan menatap punggung mereka.

Waktu kemudian berjalan kembali.

(Brakk!)

(Traang!)

Senjata mereka hanya memukul kursi taman tak berdosa.

"Hah! Kemana anak itu pergi!" tanya salah seorang diantara mereka. Entah siapa.

Salah seorang yang lain lagi langsung menengok ke segala arah, mencari targetnya yang hilang tanpa jejak arah. Dan, ketika ia melihat ke belakang, pandangan matanya langsung berubah.

Berubah ketakutan. Seolah orang yang ingin ia serang tadi adalah setan.

"Ke-kenapa kau bisa di belakang?"

Sebaris tanya itu pun membuat semua penyerang anak itu menoleh dan berbalik badan.

Anak itu hanya tersenyum biasa. Meski pandangannya menyiratkan beberapa perasaan yang tidak bisa terbaca. Seandainya orang itu sedikit lebih peka, dia pasti tahu bahwa anak itu menyiratkan pandangan duka.

Senyum anak itu meredup, perlahan kepalanya menunduk.

"Se-serang lagi!" perintah si pencopet itu lagi, meski nada suaranya terdengar kalut. Seperti ada rasa takut.

"Kalian berempat, berhenti!"

Suara yang lain menginterupsi realisasi perintah yang dilancarkan. Anak itu melihat arah datangnya suara yang berasal dari kanan.

"Someoka," gumam si pencopet itu menyebut nama sang interuptor.

Sesosok pemuda berambut pitak pink (ah, betapa anak itu ingin tertawa melihat warna rambutnya) menghentikan aksi pencopet itu. Kemudian, melayangkan kepalan tangannya ke kepala pencopet itu.

Bukk!—ah, itu pasti sakit.

"Bodoh sekali kau, Max! Kalau mau mencuri, mencuri saja!" seru orang yang bernama Someoka itu agak marah. Sedangkan yang dipanggil Max itu langsung mengelus-elus kepalanya yang kesakitan dengan ketakutan semoga kepalanya tidak mengeluarkan darah.

Yang dipanggil Max itu hanya menjawab, "aku 'kan mencopet, bukan mencuri…"

Bukk!hit combo dua kali.

"Apapun yang kau lakukan, jangan sampai baku hantam dengan orang!" seru Someoka marah lagi.

"Dia saja tidak menyerang! Apanya yang baku hantam?"

Bukk! Bukk!

Satu lagi dapat payung.

"Maksudku jangan sampai merencanakan untuk melukai orang!" bentak Someoka sebal.

"Sudahlah, hentikan saja Someoka," ujar seorang lagi.

"Toh, kata Max, benda yang ada di kantung jaket anak itu sepertinya benda berharga. Bukankah kita akan untung kalau kita dapat mencurinya?" ujar seorang lain lagi.

"Kita memang pencuri harta, tapi jangan sampai mencuri nyawa! Terutama, kalau korbannya tidak salah apa-apa," balas Someoka. "Mengerti, Handa, Kurimatsu? Kau juga, Shishido."

Suara tertawa kecil muncul dari mulut anak itu, ia merasa bahwa pemandangan yang di depannya benar-benar lucu. Semuanya berpaling ke arah anak itu.

"Maaf, kalau aku tertawa. Kalian, entah kenapa terlihat lucu sekali," jawab anak itu segera menghentikan tawa dan tersenyum tenang.

"Aku yang seharusnya minta maaf atas tindakan anak-anak ini. Maaf," lirih Someoka meminta maaf.

"Tidak apa-apa," kata anak itu. "Bolehkah aku sekedar bertanya?"

Someoka mengiyakan.

"Kudengar dari salah seorang yang ada di sini, bahwa di sini adalah kota termakmur sejagad raya. Kalau ini kota termakmur, kenapa masih ada pencuri seperti kalian?" tanya anak itu.

"Dari pertanyaanmu, sepertinya kau orang baru. Di sini memang kota termakmur sejagad raya… Tapi, jika kami tidak mencuri, kami juga bisa berhenti merasakan kemakmuran," jawab Someoka tenang.

"Di sini memang kota termakmur. Namun, makmur itu bukan berarti baik-baik saja," sambung pencopet itu—Max. "Disini, untuk menjadi makmur, dihalalkan segala cara."

Someoka menjelaskan, "di sini, jika seseorang mencuri, bukan berarti dia miskin. Begitu pula kami, kami adalah pencuri yang kaya raya dibandingkan dengan pencuri di luar kota. Dan, seperti yang kubilang tadi, jika kami tidak mencuri, kami juga bisa berhenti merasakan kemakmuran."

"Di sini, semua orang harus makmur bagaimanapun caranya. Di kota ini, kemakmuran adalah kewajiban. Kau pun jika ingin tinggal di sini, kau harus makmur terlebih dahulu," sambung Handa.

Anak itu terdiam sebentar, lalu berkata, "terima kasih atas penjelasannya. Permisi," sambil berlalu.

"Berhati-hatilah. Jika kau tidak cepat kaya, kau tidak akan bisa hidup lebih lama," nasehat Someoka dari belakang.

Anak itu menoleh ke arah Someoka dan tersenyum kepadanya sambil menganggukkan kepala.

Anak itu berpikir, bukankah bagus kalau ia tidak bisa hidup lebih lama? Yah, seandainya bisa. Namun, tugasnya sekarang adalah mencari orang yang menyayanginya. Lalu, ia bisa mati dengan tenangnya.

Dia pun berharap bahwa kota ini adalah tujuan terakhirnya.

Sayang sekali, sepertinya untuk menetap di kota ini adalah hal yang sulit.

Di sini sepertinya sudah mengadat-istiadat sebuah pepatah lama… Waktu adalah duit.

.


.

"Hei, Kazemaru, kau lihat tadi? Anak berambut putih keabu-abuan yang di sana itu tiba-tiba bisa berpindah dalam sekejap," ujar seseorang yang tadi membuntuti anak itu dari jauh tanpa diketahui.

Seseorang manis berambut blonde sebahu yang memegang sebuah teropong opera dengan partner-nya yang berambut hijau turquoise yang diikat ponytail.

"Ya. Aku melihatnya," ujar seorang yang dipanggil Kazemaru itu. "Kalau menurutmu, anak itu bagaimana, Miyasaka?"

Orang berambut blonde yang dipanggil Miyasaka itu menoleh ke arah Kazemaru, "Tidak tahu. Namun, ada satu hal yang aku tahu."

"Apa?"

"Dia orang yang masih miskin."

Kazemaru tersenyum, "berarti, cuma ada dua pilihan baginya jika ia masih di kota ini. Memakmurkan dirinya sendiri…"

"Atau dibunuh," sambung Miyasaka yang juga tersenyum sambil melirik Kazemaru.

"Kita lihat nanti, apa yang akan di lakukannya. Lagipula untuk hal itu, bukan kita yang memutuskannya."

Keduanya hanya tersenyum saja.

Kazemaru melanjutkan berkata, "Kita lihat, apakah dia bisa menjadi orang yang pantas di sini atau tidak. Bagaimanapun juga—"

"—tidak boleh ada kata 'miskin' di Inazuma."

.


.

Mulai darimana aku harus mencari orang yang menyayangiku?—pikir anak itu sambil berjalan tanpa arah.

Ia bingung apa hal pertama yang harus ia lakukan. Mencari orang yang menyayanginya atau mencari di mana kemakmurannya.

Atau ia sebaiknya pergi meninggalkan kota materialistis ini dan mencari penyayangnya di kota lainnya.

Oh, ya. Uang dari mana?

Hahhhh. Anak itu menghela nafas panjang.

Kembali ke niat awal, ponselnya harus dijual. Setidaknya uang hasil menjual ponselnya bisa ia pakai untuk hidup sementara dan modal.

Langit sudah mengelamkan warnanya, pertanda malam telah tiba.

Ia masih tetap berjalan tanpa arah, meski dirinya merasa lelah. Kakinya terasa pegal dan kaku, minta untuk duduk di bangku. Seharusnya ia bisa berjalan lebih lama dari sekarang, tapi, lebam yang kakinya dapat tak bisa membuat kakinya bertahan.

Ia berhenti sebentar untuk melihat langit malam. Cahaya bulan bersinar dengan temaram. Semuanya suram.

Namun, tidak dengan bintang jatuh yang menggurat lintasannya di malam kelam.

Ketika kau berharap sesuatu kepada bintang jatuh dengan menyebutkan harapanmu dalam hati sebanyak tiga kali, harapanmu akan terkabul—begitulah sebaris kata-kata yang pernah diujarkan ibunya.

'Semoga aku bisa bertemu dengan orang yang menyayangiku.'

'Semoga aku bisa bertemu dengan orang yang menyayangiku.'

'Semoga aku bisa bertemu dengan orang yang menyayangiku.'

Tiga kali. Terucap dalam hati.

Apakah bintang jatuh dapat mengabulkan harapannya ini? Dia hanya bisa menanti.

"Berharap pada bintang jatuh? Kau konyol sekali," ujar seseorang dari belakang.

Ia langsung menoleh ke arah orang itu. Seorang yang mempunyai rambut blonde yang panjangnya hingga bahu, dan iris mata hijau tua yang memandang dengan pandang bulu.

"Siapa kau?" tanya anak itu.

"Miyasaka Ryou," jawabnya.

"Bukankah anak pitak pink itu sudah memberi tahu kalau kau tidak cepat kaya, kau tidak akan bisa hidup lebih lama?" tanyanya.

Anak itu mengangguk.

"Aku akan katakan bahwa yang dikatakan anak pitak pink itu benar. Di Inazuma tidak boleh ada kemiskinan bagaimanapun caranya."

"…"

"Jadi, aku akan memberimu tenggat waktu seminggu untuk memperkaya dirimu sendiri. Tapi, jika kau tetap tidak bisa memakmurkan dirimu sendiri setelah tenggat waktu seminggu. Kau harus dibersihkan dari kota ini."

"Dibersihkan?"

"Kalau kubilang kau harus mati, apakah kau mengerti?"

"Memang kau punya hak apa untuk menghabisi nyawa orang?"

"Aku punya hak untuk itu. Secara legal."

Anak itu mundur satu langkah.

"Siapa kau sebenarnya?"

Miyasaka membalikkan badan dan melenggang pergi. Tanpa memberikan jawaban yang anak itu ingini. Sedangkan, anak itu hanya terpaku oleh punggung dari anak aneh bernama Miyasaka yang mengultimatumnya tadi.

"Hei, jawab pertanyaanku," ujar anak itu kukuh meminta jawaban pasti.

Miyasaka tidak ambil peduli. Dia tetap berjalan tanpa niat untuk menengok lagi.

'Kota ini benar-benar aneh,' pikir anak itu.

"Hei, anak yang tadi!" panggil seseorang. Ketika anak itu menengok ke belakang, dia melihat pencopet dan gerombolannya yang tadi. Di sana, juga ada Someoka.

"Siapa yang mendatangimu tadi?" tanya salah seorang yang seingat anak itu namanya adalah Handa.

"Ia mengaku bernama Miyasaka Ryou," jawab anak itu.

"Apa? Itu… Miyasaka?" tanya pencopet—Max— itu.

"Memang sebenarnya dia siapa?" tanya anak itu. Ingin tahu.

"Menurut kabar yang beredar, dia adalah salah seorang yang ditugaskan untuk menjaga kemakmuran di kota Inazuma," jelas Max.

"Siapa yang menugaskan dia?" tanya anak itu lagi.

"Pemerintah," jawab Someoka. "Pemerintah harus menjaga titel Inazuma sebagai kota termakmur di seluruh jagad raya. Untuk itu ditugaskan beberapa orang untuk mencegah kemiskinan."

"Karena kota Inazuma sudah berisi orang-orang yang makmur semua, mereka tidak mau repot ambil pusing terhadap orang miskin lainnya. Biasanya orang yang ditugaskan untuk mencegah kemiskinan yang ada di Inazuma akan memberi tenggat waktu bagi para penduduk baru untuk memakmurkan dirinya sendiri."

"…"

Handa melanjutkan, "kalau penduduk baru itu tidak bisa memakmurkan dirinya sendiri…"

Anak itu melanjutkan perkataan Handa, "dia akan langsung dihabisi."

Handa mengangguk.

"Aku bisa membantumu untuk tinggal di sini," Someoka menawari bantuan. "Untuk itu, aku harus tahu siapa namamu."

"Siapa namamu?" tanya Max.

Anak itu menyebutkan namanya,

"Fubuki Shirou."

.


.

To be Continued

.


.

A/N: Okeeee, jawaban dari tebak-tebakan kemarin sudah ketahuan… XDDD Yah, emang tokohnya susah diprediksi kalo misalkan adiknya gak saya bilang adik kembar. Hehe XD #plak Soal Kageyama (yeah, penyihir itu Kageyama) itu lumayan mengecoh ya? Muahahaha #plak Abisnya cuma dia yang pantes jadi tokoh antagonis *bows* #jdak.

SELAMAT UNTUK kazendou! XDDD Kalau anda mau me- request, request-annya ditunggu :)

Maaf ya, kalo chap. ini kurang menarik… Saya bikinnya agk buru-buru masalahnya… Dan, maaf jika agak melenceng sedikit dari dasarnya. Saya merasa… ini fail. TTATT. Mungkin akan ada saatnya ini akan di edit besar-besaran…

Bales ripiu (yang login, saya bales lewat PM) :

Hikary Tsubaki

Maaf, tebakan anda salah… ;A;. Di InaIre, adiknya Shuuya nggak mati kok, cuma koma aja… Hehehe, emang bener sih kalo dari kebakaran yang pas itu Shuuya… Namun, saya pengennya Fubuki… #plaaaak

Thanks for review XD

Kurokuro

Secara tidak langsung, sepertinya saya telah membales ripiu anda di GJ UI kemaren XDDD #PLAK Emang itu nasib deh… Kasian kamu Fubuki… *elus-elus Fubu* *di-Snow Angel*

Soal dia mati… Liat aja nanti, saya juga gak tau nanti chapter selanjutnya gimana XD #plakkkkkk

Gak kok… Gak masuk spam XD. Thanks review-nya XDDD

Jigoku Aya

Menurut saya, ini udah cepet. Tapi, maaf kalau lama :)

Sayang sekali… jawaban yang benar adalah Fubuki :( Ingin buat Mamo menderita? Ajak saya! #plakkkkk

Thanks review-nya XD

The Fallen Kuriboh

Lho? Kok jarang main? Jahat ah… #plak

Makasih X3. Namun, sayang sekali tebakan Dika-san salah… Jawaban yang benar dapat diliat di atas XD

Btw, kapan InaIre lovers ngadain event lagi? Mumpung libur nih….

Thanks for review X3

Saruwatari Michiko

Sebenernya jawaban anda udah bener… Tapi, anda sudah keduluan oleh sang pemenang, maaf ya… ;A; Alasan anda itu udah bener banget… Tapi, maaf banget ya… TTATT
Thanks review-nya XD

.

.

.

Review faster for update faster XD #PLAK