Percayakan Padaku.

Chapter 2.

Sebuah Boboiboy Fanfic karya LightDP AKA LightDP2.

Author note:

-Boboiboy dan seluruh karakter yang terkandung di dalamnya adalah milik pemegang hak cipta, saya hanya pinjam saja koq karakter-karakternya

-Terima Kasih untuk Serra (Rra012) untuk sarannya :)

.

Selamat Membaca.

.

"Jadi siapa yang jaga rumah?" Tanya Gempa.

"Menurutmu bagaimana?" Halilintar balik bertanya.

"Aku pribadi sih pasti tidak percaya sama Blaze kalau jaga rumah..."

"Memang kenapa Gem?" Tanya Taufan yang masih mengusap jidatnya yang memerah berbentuk sol sepatu.

Halilintar, Taufan dan Gempa masih berada di kamar mereka bertiga. Belum ada keputusan mengenai siapa yang akan ditunjuk untuk menjaga rumah selama ketiganya pergi menghadiri acara perpisahan sekolah mereka.

Gempa melipat tangannya di depan dada dan melempar deathglare kepada Taufan. "Memang kenapa, kau tanya? Kamu lupa ya waktu kamu ,Blaze dan Thorn kusuruh jaga rumah?"

Sorotan tajam Gempa seakan mampu melubangi jidat Taufan yang sekarang jadi cengengesan sambil menggaruk-garuk pipinya.

"Ya" Tambah Halilintar yang sudah selesai berpakaian lengkap. "Terakhir kalian bertiga jaga rumah, ranjangku kalian pakai jadi trampoline... Belum lagi dapur yang kalian buat berantakan."

"Eheheheheh" Taufan cengar-cengir saja. "Kan sprei kasurmu kubelikan yang baru, Hali."

"Sprei baru tapi kalau per springbed nya jebol sampai tembus keluar mau buat apa?" Dengus Halilintar yang juga melipat tangannya di depan dada.

"Dan apa maksudmu memasak mie instan dengan panci presto baruku sampai meledak ?" Serang Gempa. "Dan plafon dapur sampai ikutan bolong".

Belum sempat Taufan menjawab, Halilintar langsung menyambung omongan Gempa. "Dan kalian mainkan alat gymku sampai kakinya Solar ketiban barbel... ?". Oke, sekarang Taufan benar-benar di bully tanpa bisa menjawab.

"Perlu kutambahkan kalau kalian lupa mengunci pintu depan?. Bagaimana kalau ada maling, hmm?" Jelas sekali kalau Gempa memihak Halilintar.

"Salah, Gempa... Mereka lupa menutup pintu depan... Terbuka lebar sampai pagi" Koreksi Halilintar, yang sebenarnya ditunjukkan untuk menyindir Taufan, bukan Gempa.

"Iya, iya" Keluh Taufan yang menyerah diserang verbal bertubi-tubi oleh kedua saudara kembarnya. "Kalau begitu terserah kalian berdua deh. Aku ngikut saja."

"Jadi gimana, Hali ? Kamu 'kan yang tertua... Kamu deh yang memutuskan." Saran Gempa.

Halilintar berpikir keras dan terdiam lagi. Dia memiliki tiga pilihan 'Kalau Blaze nanti rumah bakal jadi kayak kapal pecah lagi... Kalau Thorn nanti semua bakal diiyakan, ujung-ujungnya mungkin malah lebih parah daripada Blaze... Kalau Solar, aku malah ngga yakin dia bisa mengontrol Blaze... Apalagi kalau Blaze kompak mendadak dengan Thorn...'

Akhirnya sang kakak tertua mengeluarkan mandat keputusannya. "Ya sudah biar... Solar yang jaga rumah."

Sebuah jawaban yang membuat Taufan dan Gempa terbengong-bengong.

"Ha ? Kamu yakin?"

Halilintar menganggukan kepala dengan yakinnya. "Ya... Aku yakin."

"Bagaimana... Bisa?" Tanya Gempa yang masih belum yakin dengan keputusan Halilintar.

"Aku mendengar ada suara-suara yang menyuruhku memilih Solar" Jawab Halilintar dengan entengnya.

'Alamak... Halilintar waham.' Gempa sweatdrop. "Ya... Sudah... Kalau itu keputusanmu..." Desahnya dengan helaan napas yang khawatir. "Yah... Setidaknya Solar itu yang paling benar jalan pikirannya diantara adik-adik kita..."

"Kalau kata peribahasa... Anak perawan di sarang penyamun" Sahut Taufan, yang langsung dihadiahi deathglare dari Halilintar dan Gempa.

"Wei !. Halilintar, Gempa, Taufan !". Terdengar seseorang memanggil mereka dari luar rumah, yang menyelamatkan Taufan dari amukan lebih lanjut kedua saudara kembarnya.

"Nah tuh, Fang datang!" Ujar Taufan dengan leganya. "SEBENTAR FANG!. MASUK DULU, NANTI KAMI TURUN!"

-Gyuut!-

"Wadaw !". Taufan menjerit dan meloncat kanget ketika pinggulnya serasa disengat sesuatu.

"Jangan teriak gitu... " Gerutu Gempa yang terlihat jari telunjuk dan jempolnya beradu setelah mencubit pinggul Taufan. "Berisik... Kau mau membuat kami tuli ?".

"Dasar sadis... Yang satu suka banget main jitak... Yang satu suka banget main cubit!" Ketus Taufan sambil mengelus pinggulnya yang disengat cubitan sayang Gempa sampai berbekas kebiruan.

"Ayo berangkat..."

.

.

Fang sudah menunggu di ruang tengah sambil mengobrol ringan dengan Blaze, Thorn dan Solar ketika Halilintar, Taufan dan Gempa keluar dari kamar mereka dan menuruni tangga rumahnya.

"Wow... Halilintar... Kau ini mau melamar kerja atau ke acara perpisahan?" Sindir Fang ketika melihat penampilan Halilintar yang formal.

"Kau sendiri Fang ? Sama saja..." Balas Halilintar sembari memperhatikan Fang yang berkemeja ungu, bercelana bahan hitam dan berjas hitam.

"Hey, kau kan tahu, Hali... Orang populer itu harus necis."

"Suka-sukamu lah, Fang..." Halilintar memutar bola matanya ke atas. "Toh survei masih bertahan aku yang lebih populer daripada semuanya."

Komentar tambahan dari Halilintar itu membuat Fang bermasam muka. Ingin sekali ia meledek balik, namun kenyataannya memang demikian, dirinya kalah populer dengan Halilintar.

"Sore Fang" Tegur Gempa sesampainya di lantai pertama rumahnya

"Sore, Gem," balas Fang yang masih bermuka masam.

"Halo, Fang".

"Halo... Taufan ?" Muka masam Fang berubah mendadak menjadi terbengong-bengong terbelalak melihat penampilan Taufan yang meriah.

"Yap... Uh... Fang, kenapa kau melihatku seperti itu?"

"Ah... Penampilanmu mirip dengan..." Fang terdiam, mencari kata-kata yang cocok untuk diungkapkan.

"Mucikari" Sambung Halilintar yang sudah tidak tahan lagi untuk berkomentar.

Dan seketika itu pula wajah Taufan langsung masam. "Hey, kita ini masih muda... Ekspresif sedikit lah." Taufan membela diri.

"Mucikari itu apa kak?" Thorn yang dari tadi menyimak pembicaraan kakak-kakaknya langsung bertanya dengan polosnya.

'Aih Hali... Mulutmu itu harus dipasang filter... Gimana ngejelasinnya ke Thorn coba' Gerutu Gempa dalam hati. "Mucikari itu... Jenis pekerjaan, Thorn. Untuk orang dewasa." Gempa menjawab dengan detail seminim mungkin dan berharap Thorn tidak bertanya lebih lanjut.

Untunglah Thorn hanya menjawab "Ooh...". Selamatlah kepolosan Thorn, untuk kali ini.

"Solar, Thorn, Blaze?" Halilintar memanggil ketiga adiknya. Sebuah kunci berada dalam genggaman tangannya

"Ya kak?" Solar menyahut. Si adik termuda itu sedang menghabiskan waktu di depan pesawat televisi, menonton film dokumenter yang menurut Blaze dan Thorn membosankan.. "Ada apa?" Tanyanya. Sementara Thorn dan Blaze hanya menengok ke arah Halilintar saja.

"Aku, Kak Taufan, dan Kak Gempa mau pergi dulu. Mungkin besok pagi kami baru pulang."

"Acara perpisahan sekolah ya kak?" Tanya Solar sambil menengok ke arah kakaknya yang berdiri di samping sofa tempatnya duduk.

"Iya.. Jadi salah satu dari kalian..." Halilintar menatapi ketiga adik-adiknya yang tersisa satu-persatu. "Akan kutitipi kunci rumah dan jaga rumah ini selagi kami pergi."

Perkataan Halilintar membuat Blaze mendadak tersenyum lebar. 'Hooreeeee... MERDEKAAA!' Pekik Blaze dalam hati.

"Aku tahu isi otakmu, Blaze. Bukan kamu yang pegang kunci rumah" Sahut Gempa sebelum Blaze punya pikiran aneh-aneh.

"Yahh..." Blaze langsung merengut ngambek. "Kan aku yang paling besar..."

"Aku lebih percaya.. Solar, kamu yang pegang kunci rumah..." Tunjuk Halilintar yang membuat Blaze semakin bermuka masam.

"Mana aci, Kak Hali..." Gerutu Blaze lagi. "Aku dong yang mestinya jaga rumah... Solar kan lebih kecil daripada aku."

Argumen Blaze membuat Solar menatap kesal padanya.

"Jadi kamu ngga setuju dengan keputusanku, Blaze?" Halilintar tersenyum manis... Lebih tepatmya menyeringai serigala.

Dan senyuman manis Halilintar itu membuat Blaze ngeri dan menelan ludah. "Aku... Ngga setuju..." Blaze masih mencoba memaksakan kehendaknya.

Gempa sekarang yang merasakan kepalanya berdenyut-denyut. 'Astaga... Malah jadi panjang nih urusannya' Lirihnya dalam hati. "Sekali-kali nurut sama kakakmu bisa kan-"

"Begini Blaze..." Halilintar memotong omongan Gempa dan mendekatkan diri pada adiknya yang masih ngotot itu.

Tidak ada yang bisa mendengar apa yang Halilintar bisikkan ke dalam telinga Blaze. Yang jelas setelah mendapat bisikan dari sang kakak tertua, si adik langsung memucat. "Ahahahahaha." Blaze tertawa sangat nervous. "Iya, iya, Solar saja deh yang jaga rumah. Blaze setuju sekali, seratus persen, Kak Hali terbaik!"

"Nah, gitu dong." Sekali lagi Halilintar tersenyum sambil membelai kepala adiknya yang mendadak jadi nurut itu.

Perhatian Halilintar kini beralih pada Solar. "Nah ini kunci rumah." Diserahkannya sebuah kunci kepada adiknya yang paling muda itu. "Kamu yang tanggung jawab rumah ini sampai kami pulang ya?. Paling cepat kami pulang nanti malam. Atau kalau lewat jam sebelas malam ngga ada kabar, berarti kami pulang pagi."

"Oke, Kak Hali. Have fun yah kak." Solar menerima kunci yang diserahkan Halilintar dengan sebuah senyum yang penuh kepuasan. Sementara Blaze, meskipun setuju, masih memasang tampang merengut. Thorn sendiri cuek saja, baginya tidak masalah siapapun yang jadi juru kunci sementara rumah itu.

"Sudah semuanya?" Tanya Fang.

"Ya, ayo kita berangkat."

"Eh, Hali..." Tegur Taufan.

"Ya?"

"Tadi kamu bisik-bisik apa sama Blaze koq mendadak dia jadi nurut?"

"Oh ? cuman saran saja koq"

"Apa itu ?" Tanya Taufan yang semakin penasaran.

"Aku cuma bilang kalau aku akan menggorok lehernya kalau rumah sampai jadi kapal pecah lagi".

Taufan langsung sweatdrop mendengar jawaban Halilintar dan langsung mengalihkan topik pembicaraan. "Omong, omong, kamu bawa mobil kakakmu lagi, Fang?"

"Ya, aku bawa mobil."

"Yang mana ? Nissan Stagea nya?"

"Itu sih ngga boleh, kan mobil dinasnya... Padahal aku juga ingin pakai yang itu."

"Jadi mobil mana yang kau bawa?" Tanya Halilintar.

"Itu...".

Ketiga kembar kakak beradik itu jawdrop serempak. Di depan rumah terparkir sebuah...

"Perodua Kancil? Kau bercanda Fang?"

Fang menggelengkan kepalanya. "Bang Kaizo memberikan mobil itu untukku"

"Alamak... Masa kita sudah rapi begini naik mobil itu!" Bahkan Taufan pun menggerutu ketika melihat mobil kecil yang bobrok dan keropos... Dan karatan itu. Dalam kata lain mobil nista.

"Hey... Bobrok begitu tetap masih bisa jalan lho!" Protes Fang yang membukakan pintu untuk ketiga temannya. "Silahkan...". Bahkan pintu-pintunya berderit menolak untuk dibuka.

Dengan raut muka pasrah dan masam ketiga kembar bersaudara itu masuk ke dalam mobil bobrok itu...

Yang langsung ikutan protes suspensinya dengan mengeluarkan suara deritan yang mengilukan.

"Hey, Fang, kau yakin benda ini bisa sampai ke sekolah?" Tanya Gempa.

"Yakinlah... ". Sebuah CD dimasukkan ke dalam ke head unit stereo mobil itu dan mengalunlah sebuah lagu yang mengantar keempatnya menuju acara perpisahan sekolah mereka.

Dansa med oss

Klappa era händer

Gör som vi gör

Ta några steg åt vänster

Lyssna och lär

Missa inte chansen

Nu är vi här med

Caramelldansen

.

.

.

Bersambung.

-Waham: Halusinasi verbal dimana penderita merasa ada suara-suara tanpa sumber, yang terdengar nyata dan meyakinkan si penderita berbuat sesuatu. Sementara orang-orang normal di sekitar penderita tidak mendengar suara-suara itu karena suara-suara itu tidak nyata.

-Perodua Kancil = Daihatsu Ceria kalau di Indonesia.

-Lirik di bagian akhir ? Itu lirik lagu Caramelldansen dari Caramell yang pernah jadi meme populer di masanya.