Sakura mengikuti langkah kaki Sasuke di depannya dengan hati-hati. Pria itu membuka pintu rumahnya dan menarik Sakura ke dalam sebelum kembali mengunci pintu.
"Moegi!" Pria itu meneriaki sebuah nama lalu tak lama kemudian seorang wanita yang usianya tidak jauh beda dari Sakura muncul. Perempuan itu mengenakan pakaian pelayan dan menunduk ketika berhadapan dengan Sasuke.
"Ada apa Tuan Uchiha?"
Mata elang Sasuke melirik ke arah Sakura sebentar lalu kembali menatap Moegi yang berdiri gelisah,"Bawa perempuan ini ke kamar tamu. Siapkan semua keperluannya hingga yang paling kecil. Mulai hari ini dia tinggal di rumahku," Kemudian Sasuke berjalan tanpa beban meninggalkan Sakura sendirian seperti orang bodoh bersama Moegi.
"Ayo nona. Saya akan mempersiapkan anda," Moegi berujar lembut. Ia menarik pergelangan tangan Sakura lalu membawanya ke pintu kamar di dekat tangga.
"Moegi?"
Perhatian Moegi teralih ketika Sakura memanggilnya,"Ada apa nona?"
"Apa... Apa aku bisa keluar dari tempat ini?"
Moegi bergeming. Ia bingung untuk menjawab, memang sebelumnya tuannya itu tak pernah membawa gadis masuk ke rumahnya apalagi gadis yang tidak ia kenal sama sekali,"Saya tidak mengerti,"
Sakura menoleh,"Apa aku bisa pergi? Aku ingin kabur. Pria itu, Sasuke, dia membeliku dan menghinaku! Aku tak mau berakhir menjadi wanita murahan untuknya!" Sakura sedikit membentak dan itu membuat Moegi cukup terkejut. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali,"Tuan Uchiha membelimu?"
Sebuah anggukan lemah Sakura berikan padanya. Air matanya tumpah begitu saja dan ia mulai terisak. Benar, ia lega bisa pergi dari tempat terkutuk itu namun ini lebih parah. Tinggal bersama seseorang yang kapan saja bisa membuat nya menjadi wanita murahan kembali jauh lebih mengerikan.
"Tapi Tuan Uchiha tak mungkin-"
"Dia yang mengatakan itu padaku! Laki-laki sombong itu mengatakannya padaku! Kumohon bantu aku... Aku ingin pergi sekarang juga. Aku masih punya anggota keluarga. Biarkan aku pergi,"
Moegi menggeleng. Walau ia mengerti maksud Sakura tapi ia tetap tak bisa berbuat apapun karna rumah ini milik Sasuke. Apapun yang terikat dengan Sasuke tak akan semudah itu lepas darinya termasuk Sakura sendiri.
"Maaf nona tapi saya tak bisa. Terlalu sulit bagi anda untuk pergi dan terlalu mudah bagi tuan Sasuke menemukan anda kembali," Jawabnya penuh penyesalan.
Baru saja Sakura hendak menjawab, namun pintu kamarnya kembali terbuka menampilkan Sasuke Uchiha dengan wajah tampannya yang dingin. Ia meminta Moegi untuk pergi dan menutup pintu. Awalnya Sakura ketakutan. Ia tahu apa maksud kedatangan pria itu namun perasaan takut itu ia tepis jauh-jauh karena ia harus bisa bertahan untuk dirinya sendiri saat ini.
"Sakura," Panggilnya. Tapi Sakura merasakan sesuatu yang lain dari panggilan itu. Ketika mata hijaunya membalas tatapan mata tajam Sasuke, ia melihat gairah yang terpancar dari matanya namun sepertinya pria itu menahannya. Karna rahangnya kian mengeras.
"Jangan pernah mencoba untuk pergi dari sini Sakura. Aku benar-benar akan membuatmu menyesal jika kau melakukan hal segila itu," Ancamnya sembari berjalan pelan mendekati Sakura dan meraih pundak perempuan itu. Ia membuat Sakura kembali ketakutan,"Ku-kumohon lepaskan aku. Jangan lakukan hal ini padaku. Aku takut," Pintanya dengan air mata yang mulai bermunculan. Sasuke tersenyum congkak, ia melepas pundak Sakura lalu mengusap pipi gadis itu dengan dua jarinya,
"Kenapa? Seharusnya kau bersyukur karena aku yang membelimu. Setidaknya kau tidak merasakan bagaimana menjijikkan nya jika pria tua itu yang menunggangi mu,"
Pipi Sakura memerah. Ia benar-benar malu. Sasuke ternyata memiliki lidah yang pedas, ia bisa saja mengatakan beberapa hal hina di depan Sakura tanpa rasa bersalah.
Sasuke meraih dagu Sakura dan menariknya perlahan tapi ia tak menciumnya. Ia hanya mendekatkan bibir mereka walau ada satu perasaan yang mendominasi nya untuk melumat bibir Sakura saat itu juga,"Dan lagi... Tidak mungkin aku menyia-nyiakan sesuatu yang aku beli bukan? Kau itu sangat berharga disini Sakura. Kau seharga dua juta dollar. Itu sangat mahal,"
Tapi Sakura menamparnya. Ia tidak bisa kembali dihina semacam ini,"Jangan merendahkan harga diriku Tuan Uchiha! Aku tidak sehina itu,"
Sasuke kembali dengan wajah angkuhnya,"Oh ya? Memangnya seberapa besar harga dirimu itu? Kau tidak tahu ya? Kau itu hanya senilai dua juta dollar. Dan aku bisa mendapatkan yang lebih dari dua juta dollar,"
Sasuke berjalan menjauhi Sakura dan menduduki bibir ranjang. Menatapi Sakura yang berdiri tercenung karna ucapan itu. Senyum kemenangan kini tampil di wajah Sasuke. Ia tahu Sakura tak akan pernah menang melawannya karna Sasuke memiliki kartu As nya.
"Kemarilah sayang," Ucapnya sambil menepuk pahanya yang tertutupi celana panjang abu-abu. Sakura mendelik. Ia tak percaya Sasuke sebegitu brengseknya sampai memerintahkan nya seperti anjing betina yang siap disetubuhi oleh pejantannya.
"Aku bilang kemari Sakura. Jangan buat aku marah,"
"Aku tidak akan mau berada di pangkuan mu Uchiha! Aku tak akan pernah sudi untuk itu!"
Sasuke menggeram. Selama ini tidak ada satu wanita pun yang menolak ajakannya untuk bercinta. Seharusnya Sakura senang karna ia adalah wanita pertama yang menginjakkan kakinya di rumah ini. Tapi sepertinya Sakura menguji kesabaran Sasuke.
"Kemari Sakura. Kau tentu tak mau kuseret kan?" Sakura tetap menggeleng keras. Ia mengepalkan tangannya karna marah. Sasuke berdiri. Ia mengeluarkan aura gelap disekelilingnya dan itu membuat nyali Sakura kembali menciut.
"Jadi kau suka cara kasar? Baik, aku akan menunjukkanmu cara kasar yang aku punya,"
Sasuke mengambil langkah besar ke arah Sakura lalu menarik tangan perempuan itu dengan kasar membuat Sakura mengadu sakit. Sasuke mendorongnya ke ranjang ketika mereka sudah berada dekat di ranjang. Ia menindih Sakura dan mengunci kaki Sakura dengan kakinya yang lebih kuat. Sasuke merobek gaun tidur yang sebelumnya dikenakan oleh Sakura lalu membuangnya ke tempat yang cukup jauh dari pandangannya. Ia sempat terpana dengan penampilan menggairahkan di bawahnya. Satu tangannya meraih kedua tangan Sakura lalu menahannya di atas kepala.
Tangannya yang lain menyentuh bra yang masih melekat di tubuh Sakura sebelum menariknya kasar. Bra itu putus.
Kini kulit dadanya kian membakar api gairah di dalam tubuh Sasuke. Ia menempatkan tangannya di atas dada Sakura lalu meremasnya dengan penuh nafsu. Sakura tak bisa menahan desahannya dari mulut. Ia menggigit bibir bawahnya agar suara itu tak terdengar lebih jelas di telinga Sasuke atau pria itu akan merendahkannya kembali.
Tapi kini ia merasakan sesuatu yang basah mengganggu bibirnya, ketika ia membuka matanya, bibir Sasuke berusaha memasuki bibirnya dengan paksaan.
Mau tak mau Sakura membuka bibirnya karna gigi tajam pria itu mulai menyakiti permukaan bibirnya yang lembut. Bunyi khas dari ciuman itu kembali membuat Sakura mendesah ditambah remasan kuat yang dilakukan oleh Sasuke pada dadanya.
Sakura berusaha melepaskan tangannya dari Sasuke namun cukup sulit. Ia merasa pergelangan tangannya memerah karna tekanan yang diberikan Sasuke padanya. Perempuan itu merasakan salivanya menyatu dengan Sasuke ketika pria itu melepas ciuman mereka dan menarik napas sebanyak-banyaknya. Sakura menatap sayu ke netra hitam Sasuke. Perlawanan nya mulai melemah karna ia merasa kalau itu akan sia-sia.
Sasuke kembali mengecup bibir Sakura lalu beralih ke leher jenjang perempuan itu dan memberi banyak tanda kepemilikan. Sakura hanya mampu menggeleng dan sesekali mendesah namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak tergoda dengan cumbuan itu.
Bibir Sasuke terus bergerak hingga ke dadanya lalu mulai mencium dan menjilat puting dadanya dengan kuat. Hal itu membuat pertahanan Sakura runtuh. Ia mendesah cukup kuat dan memejamkan matanya.
Mata Sasuke teralih ke wajah Sakura, melihat bagaimana perempuan itu menikmati permainannya. Sasuke melepaskan tangannya dari Sakura dan meremas sebelah dada Sakura yang tidak terjamah. Sakura menggeleng berusaha kembali mengumpulkan kesadaran nya namun ia tak bisa. Ia sudah terbakar oleh gairahnya sendiri. Tanpa sadar ia meremas rambut hitam Sasuke dan terus mendesah.
Sasuke melepas hisapannya lalu membuka kemeja yang ia kenakan. Menampilkan tubuh berototnya yang membuat siapapun tergoda, termasuk Sakura. Pria itu menarik kasar celana dalam Sakura lalu membuka lebar pahanya.
"Kau basah sayang. Sepertinya kau sudah siap untukku," Katanya dengan nada menggoda. Sakura melotot lalu mendorong dada Sasuke dengan kakinya. "Hentikan ini Sasuke! Aku tak mau!"
"Tentu kau harus mau Sakura. Percaya atau tidak, kau akan menyukai ini," Balasnya lalu kembali mencium bibir Sakura. Perempuan itu merasakan sesuatu yang keras menyentuh pusatnya dan berusaha melesak masuk dengan perlahan. Napasnya tercekat, air matanya sudah menganak sungai sejak tadi. Sasuke hanya menciumi rahangnya dan bibirnya bergantian, demi berusaha meredakan perasaan sakit ketika ia memasuki Sakura.
"Ku-kumohon hentikan! Ini sakit sekali," Racaunya. Tapi Sasuke tidak berhenti sampai sesuatu yang menghalanginya berhasil ia tembus dan saat itulah Sakura menjerit kesakitan. Sasuke tersenyum congkak dan menikmati saat-saat ini.
"Tenang sayang... Rasa sakitnya akan segera berkurang jika kau tidak memberontak dan memberikan apa yang aku mau," Namun Sakura menolak. Ia berusaha menggerakkan badannya agar lepas dari tubuh Sasuke tapi rasa sakit itu semakin menyiksanya. Dirasanya sesuatu menetes dan membasahi seprai ranjang. Runtuh sudah, sesuatu yang ia jaga selama 20 tahun kini sudah terenggut oleh bajingan brengsek yang tengah menindihnya dan menikmati kegiatan yang ia lakukan itu.
"Sakit..." Cicitnya pelan. Air matanya terus mengalir beriringan dengan bergeraknya pinggul Sasuke dengan ritme yang sedikit cepat.
"Brengsek kau!" Jeritnya tertahan. Sasuke benar-benar bergairah mendengar ucapan kasar itu yang dilontarkan untuknya. Ia malah mempercepat gerakannya bukannya menghargai Sakura yang habis kehilangan keperawanan nya.
"Ini akibat kau menantang ku baby,"
Sasuke mengancingkan kemejanya dengan tenang. Ia melirik di atas ranjang, Sakura tengah meringkuk bagaikan janin dalam kandungan. Matanya menatap kosong ke arah meja kecil di samping ranjang dan tubuhnya bergetar karena menangis.
Sasuke sedikit merasa menyesal karna perbuatannya. Tadi malam, ia memaksa Sakura untuk bercinta berkali-kali. Entahlah, semalam ia benar-benar lepas kendali dan Sakura penyebabnya.
"Jika kau tak ingin kejadian serupa terjadi lagi nanti malam maka bersikaplah sebagaimana harusnya. Apa kau mengerti aku?" Tanyanya dingin. Sakura hanya diam.
Sasuke mencoba menunggu jawaban Sakura namun ia mendecih lalu berbalik ke arah pintu,"Bunuh saja aku..."
Langkahnya terhenti ketika mendengar suara pilu Sakura. Ia menoleh sebentar dan mengangkat alis,"Apa kau berbicara sesuatu?"
Sakura mencoba mengubah posisinya menjadi duduk lalu menarik selimut tebal untuk menutup dirinya yang telanjang. Ia menatap mata hitam Sasuke dengan tatapan benci,"Kau bunuh aku! Selesaikan urusanmu denganku sekarang juga. Aku tak mau hidup seperti ini, kenapa kalian begitu kejam hah? Kau bajingan! Kau dan pria-pria tua itu sama saja!" Ia menunjuk wajah Sasuke dan meluapkan kemarahannya.
Sasuke menyilangkan tangannya ke dada lalu bersandar pada dinding sebelah pintu,"Kenapa kau memintaku untuk membunuhmu? Bukankah kau yang berdoa agar bebas dari tempat itu? Dan lihat di sekeliling mu, kau dilimpahi kemewahan dan aku memberinya tulus untukmu,"
"Jangan berbicara semudah itu Uchiha! Kau pria kotor. Kau dan semua kesombongan mu hanyalah sampah!"
"Berhenti berbicara kasar sayang. Aku tak mau wanitaku memiliki lidah yang tajam. Jadi jaga bicaramu!" Ia membuka pintu dan keluar sebelum membantingnya keras. Sakura berdiri dan melilitkan selimut ke tubuhnya, ia mencoba untuk mengintip dari jendela dan bernapas lega ketika melihat mobil Sasuke telah menjauhi area rumah.
Ia berniat pergi. Ya... Apapun resiko yang akan ia tanggung, ia akan ambil itu dan tetap pergi.
Ditatapnya seprai dengan pandangan sendu dan tanpa sadar air matanya kembali tumpah,"Aku wanita kotor," Sakura menghapus air matanya lalu beranjak ke kamar mandi sebelum menutup pintunya dengan sangat keras.
Tiga puluh menit ia berada dalam kamar hanya untuk memastikan dan menyusun rencana sebaik-baiknya untuk keluar. Tadi, Moegi baru saja datang mengantarkan makan siang untuknya. Dia mengatakan kalau dirinya akan kembali datang sekitar dua jam lagi. Sakura sempat bertanya tentang penjagaan yang ada di rumah tapi Moegi hanya menjawab kalau saat ini hanya ada supir, para maid dan Sakura sendiri di rumah.
Hari ini penjagaan tak terlalu ketat.
"Ini kesempatan yang bagus untuk pergi," Ia mencari jaket tebal lalu memakainya ke tubuh dan juga meraih sepatu yang ia temui di dalam lemari. Entah itu milik siapa tapi benar-benar pas di kakinya.
Dibukanya pintu perlahan lalu mengedarkan pandangan.
Kosong.
Tak ada siapapun, memang aneh tapi Sakura memilih untuk terus berjalan. Ia tak mau mundur begitu saja walau keadaan tampak aneh baginya.
Ia berjalan setengah berlari ke arah pintu utama lalu membukanya lebar. Di halaman depan juga kosong, entah ini kabar baik atau buruk untuknya tapi itu menghasilkan secercah harapan baginya untuk pergi dan menyelamatkan diri dari kungkungan pria sombong itu.
"Tuhan... Bantulah aku," Ia berucap sambil tangannya menyentuh pagar dan mendorongnya sedikit. Cukup baginya untuk kabur dari sana.
Ia mendesah lega ketika tahu kalau kini ia bebas. Sakura terus berlari seperti orang gila dan menatap ke arah jalanan yang tidak terlalu ia hafal ini. Sampai sesuatu yang kasar menariknya dan mendorongnya tepat di gang sempit dan pengap.
Ia menatap seseorang yang menarik nya tadi lalu terkejut setengah mati.
"Kau mau kabur dariku Baby?" Dan ia tahu pemilik suara itu.
Sasuke Uchiha.
TBC
a/n : saya mau bilang apa ya? Hehe
pertama, saya minta maaf karna up nya telat dan words nya sedikit pula. Seperti yang saya katakan sebelumnya, fic ini saya ambil dari work saya di watty, jadi memang words nya paling banyak 2500-3000 aja. Rencana saya mau di next dua hari yang lalu, tapi enggak jadi karna papa ultah. Jadi waktu itu saya sama keluarga buat surprise deh ke papa! *Pibesdey papa ( malah curhat)
kedua, saya mau ucapkan banyak terima kasih buat yang baca. Dan bagi readers yang umurnya baru masuk 17, ckckck… kamu nakal ya :v. but, terima kasih buat respon baik yang kalian kasih hehe.
Saya gak bisa balas satu-satu reviews dari kalian karna jemari saya sedang sakit, kemarin ke iris pisau. Hehe tapi terima kasih banyak buat pembaca yang meninggalkan jejak. Oke, itu aja… kalo ada kesalahan cepat beritahu ya! Terima kasih.. love u readers *kecupbasah
Salam,
Beebeep
