Chapter 2
Grimmauld Place no 12, London. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat beberapa menit. Keluarga Potter sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi itu. Hanya James yang terlihat masih sibuk dengan kopernya di ruang tengah, memasukkan beberapa kantong barang-barang yang hendak di bawanya ke sekolah.
Hari itu tanggal satu september yang berarti bahwa semua penyihir usia sekolah di Inggris akan berangkat ke Hogwarts. Sekolah penyihir paling besar di eropa dan tempat paling menakjubkan di dunia.
"James." Panggil ibunya dari ruang makan. "Cepat kemari! Semua orang sudah bekumpul untuk sarapan."
"Sebentar mum." Jawab James sedikit berteriak. "Sedang menutup koperku."
James segera bergegas keruang makan setelah dengan susah payah menutup kopernya yang kelebihan muatan. Ia segera mengambil tempatnya di sebelah Al.
Di lihatnya ibunya sedang mengoleskan mentega ke roti ayahnya. Sedangkan ayahnya sedang menggelar Dialy Prophet di hadapanya. Sementara itu Albus sudah menghadapi roti panggangnya dan Lily masih membenamkan hidungnya ke dalam buku sejarah Hogwarts.
"Apakah semua perlengkapanmu sudah kau kemas dalam koper James?" Tanya Harry ketika James sudah mengambil bagian roti panggangnya.
"Sudah dad." Jawab James. "Tapi kurasa aku akan meninggalkan sebagian yang mungkin tidak akan kuperlukan lagi. Koperku sudah kelebihan muatan kelihatanya.
"Termasuk semua sampah yang kau ambil dari gudang paman George bersama Fred selama liburan musim panas ini kan James? Sela Ginny sambil menatap James dengan curiga. "Jumlah burung hantu yang mengirim kabar kenakalanmu selama di Hogwarts meningkat dua kali lipat lebih banyak di banding tahun lalu."
"Waw, fantastis." Celetuk Albus sambil menyeringai. Lily mengangkat wajahnya sedikit.
"Tentu saja mum." Jawab James tapi tak berani menatap mata ibunya. "Dan dari mana mum tau kalau aku dan Fred merampok gudang paman George musim panas ini?" Lanjut James sambil melayangkan lirikan curiga kearah Albus.
"Aku menemukan beberapa produk Weasley Wizard Wheezes saat membersihkan kolong tempat tidurmu kemarin." Kata Ginny. "Dan karena barang-barang itu tak bersegel, kurasa itu bukan barang yang kau beli dari toko kan? Dan apa yang selalu kau lakukan selama musim panas ini bersama Fred?"
James tidak tau harus menjawab bagaimana. Tentu saja ia berbohong kepada ibunya bahwa ia telah meninggalkan produk percobaan Weasley yang ia kumpulkan dari gudang paman George bersama Fred beberapa minggu yang lalu. Mereka berdua punya rencana bagus tahun ini dengan barang-barang itu.
"James." Kata Harry sambil melipat korannya. "Kurasa aku perlu bicara sedikit denganmu tentang kenakalan yang kau lakukan di sekolah."
James berhenti mengunyah rotinya dan memasang tampang serius ketika ayahnya berbicara. Harry menyeruput kopinya sebelum melanjutkan.
"Paman Nev mengatakan kepadaku bahwa kenakalanmu tidak begitu parah sebenarnya." Lanjut Harry. "Tapi itu tidak berarti kau boleh terus melakukanya tahun ini. Ingat, ini adalah tahun kelima mu di Hogwarts. Dan itu berarti pula bahwa tahun ini adalah tahun OWL-mu. Jadi aku mau kau fokus dalam pelajaranmu karena tahun ini akan sangat menentukan untuk masa depanmu."
"Jangan kawatir dad." Kata James. "Musim panas nanti aku akan pulang dengan membawa setidaknya delapan nilai Outstanding."
Albus mendengus kedalam gelas susunya dan Lily melempar pandangan mencela pada kakanya itu.
Sebenarnya bukan sesuatu yang mengada-ada jika James menjanjikan nilai-nilai tinggi dalam pelajaranya. Karena walaupun ia sedikit nakal, tapi selama ini prestasi akademisnya cukup baik. Dan ia seorang seeker andal dan mulai tahun ini kapten tim Quidditch Griffindor walau ia tak terpilih sebagai Prefek.
"Itu tak berarti kau bisa seenaknya tahun ini James." Kata Ginny.
"Dan ngomong-ngomong masalah kenakalan," Kata Harry kemudian. "Semalam aku menerima laporan intel bahwa akan ada penyelundupan ramuan berbahaya ke Hogsmead. Ramuan ini di buat oleh muggle tapi tetap berbahaya jika di konsumsi oleh siapapun termasuk penyihir."
"Untuk itu James dan juga kau Al, ku harap kalian berhati-hati ketika pergi ke Hogsmead. Sasaran para pengedar ramuan berbahaya ini adalah anak muda dan para pelajar yang masih sangat mudah di pengaruhi hal-hal baru. Jangan sekali-kali mencoba atau bahkan menyentuhnya. Kirim burung hantu padaku segera kalau kau melihat sesuatu yang tidak biasa. Kau mengerti James, Al?"
"Seperti apa ramuan berbahaya ini dad?" Tanya Albus yang telah menghabiskan porsi sarapanya.
"Errm..," Harry sedikit bingung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku belum tau seperti apa persisnya, aku belum pernah melihatnya secara langsung. Tapi menurut berita muggle yang pernah aku baca, ramuan ini berbentuk pil atau serbuk. Pokoknya kalian jangan pernah mau menerima barang-barang seperti itu dari siapapun. Ok?"
"Kalian semua, dengarkan kata-kata ayah kalian." Kata Ginny memandang tajam anak-anaknya terutama James.
Keluarga itupun menyelesaikan sarapan mereka dengan tenang sambil menunggu datangnya pukul sepuluh saat mereka semua akan berangkat ke stasiun Kings Cross. Kadang kadang di tingkahi James yang mengusili adik-adiknya dengan ejekan atau jitakan di kepala Albus yang membuat Ginny berseru "James, hentikan!"
Dan ketika jarum jam telah menunjuk angka sepuluh, semua orang telah nyaman berada dalam mobil dan semua koper telah aman dalam bagasinya. Hedwig dan Errol telah bertengger dengan aman dalam sangkarnya dan Arnold si pigmy puff bergelanyut di pundak Lily yang masih memangku sejarah Hogwartsnya.
"Ku rasa benar jika ku katakan kau tidak akan bersama-sama kami di Griffindor Lil." Kata James sambil tersenyum nakal kepada adiknya yang tahun ini merupakan tahun pertama Lily di Hogwarts. "Ku lihat kau lebih seperti Rose dan bibi Hermione dengan buku yang selalu kau bawa kemanapun itu, dan kau pantas masuk Revenclaw karenanya."
"Rose dan bibi Hermione di Griffindor kalau kau belum tau James!" Kata Lily kalem membuat tampang kakaknya itu seperti habis di hantam bludger dan Albus tertawa terbahak-bahak.
Harry dan Ginny yang duduk di tempat duduk depan bertukar pandang dan tersenyum simpul mendengar pertengkaran anak-anaknya. Mereka memeng pantas menjadi anak-anak Potter dan Weasley.
Ketika sampai di stasiun Kings Cross, waktu telah menunjukkan pukul sebelas kurang limabelas menit. Keluarga itu buru buru menjejalkan diri dengan hati-hati ke dalam palang rintang peron sembilan tiga per empat yang terlihat kokoh.
Di baliknya, sekelompok orang berambut merah tengah berkumpul dan berbicara dengan seru. Ketika melihat keluarga Potter datang, keluarga ini langsung menyalami mereka.
"Kau lama sekali Harry." Kata Hermione sambil menjabat tangan Harry dan kemudian merangkul Ginny. "Hallo anak-anak." Lanjutnya.
"Hallo bibi Hermy, hai Hugo." Jawab Lily, James melempar pandang geli.
"Ku pikir kau akan menerbangkan anak-anakmu dengan mobilmu seperti waktu kita menerbangkan Ford Angelia tua itu dulu" Kata Ron sambil tersenyum.
"Ini dia pahlawn kita datang." Sambut George. "Hay Harry, halo anak-anak."
"Halo paman George." Seru James nampak antusias. "Terima kasih atas Camp musim panasnya kemarin. Kami benar-benar menikmatinya."
"Aah, kau sudah mengucapkanya seribu kali James" Jawab George sambil mengibaskan tangannya. James tersipu malu.
Fred yang berdiri di sebelah ayahnya mengedip penuh arti kepada James dan mereka segera pergi berdua.
"Ma'af, kami harus segera mencari kompartemen." Seru Fred sambil menyeret kopernya bersama James dan merekapun menghilang di dalam kereta.
Sementara itu, Albus dan Rose sedang berdebat seru tentang PR ramuan mereka sedangkan Lily dan Hugo asik memperbincangkan tentang asrama yang mereka inginkan. Albus satu angkatan bersama Rose, sedangkan Lily seangkatan dengan Hugo.
"Bagaiman dengan tokomu George?" Tanya Harry. "Ku dengar Departemen Auror memesan Auror Surveillance Equipment dalam jumlah besar bulan ini."
"Yah, begitulah. Aku dan Caroline sampai kewalahan gara-gara para auror itu seperti anak kecil, mereka tak mau antre." Jawab George sambil mengedik ke arah istrinya dan nyengir jahil. "Tapi bukan termasuk kau tentunya." George menambahkan cepat-cepat karena sang auror yang ada di depanya itu tampak mengernyit. Harry mendengus geli.
"Apa kau juga sangat sibuk Caroline?" Kata Harry.
"Tentu. Selain pekerjaan toko yang sangat menguras tenaga, Camp musim panas itu hampir membuat aku gila." Jawab Caroline. "Belum lagi Fred yang mencoba meledakkan kamar setiap dua hari sekali. Dia mirip sekali dengan ayahnya ku pikir." LAnjutnya sambil menyikut tulang rusuk suaminya yang langsung mringis kesakitan.
"Anak itu selalu mengingatkanku pada almarhum pamannya." Kata George. Matanya menerawang mengingat kembarannya yang tewas dalam perang Hogwarts duapuluh satu tahun silam.
"Aku masih memimpikannya kadang-kadang." Kata Harry. "Fred."
Sesaat merekapun terbenam dalam kenangan menyedihkan itu. Saat mereka harus merasakan sakitnya kehilangan orang-orang yang mereka sayangi karena melawan Voldemort dan para pelahap maut. Mata George sedikit berkaca-kaca.
Ginny, Ron dan Hermione berdiri agak jauh di sebelah kereta, mereka sedang asik membicarakan tentang nilai ujian anak-anak merekadi Hogwarts.
"Ayo anak-anak," Kata George kemudian. "Hogwarts Express tak akan mau menunggu kita menyelesaikan obrolan. Sebaiknya kalian juga segera mencari kompartemen!"
Harry dan Ron membantu Lily dan Hugo menaikkan koper mereka dan mencarikan kompartemen yang nyaman untuk mereka berempat. James dan Fred sudah kembali berada di tempat keluarganya berkumpul ketika Harry dan Ron turun dari kereta.
Ginny mengecup pipi anak pertamanya itu dan berkata, "Hati-hati James. Dan tolong jaga adik-adikmu. Ingat pesan ayahmu tadi, ok!"
"Percayakan padaku Mum." Kata James melepaskan diri dari pelukan ibunya kemudian memberikan pelukan sekilas pada ayahnya lalu kabur lagi bersama Fred ke dalam kereta.
"Ron, apakah kau telah memperingatkan Rose dan Hugo tentang informasi Mundungus semalam?" Tanya Harry setengah khawatir. Ginny, Hermione dan Caroline sedang memberikan nasehat mereka kepada anak-anaknya yang menjulurkan kepala lewat jendela kompartemen.
"Apakah aku ketinggalan informasi penting?" Tanya George.
"Yaaah, semalam Dung memberikan informasi kepada kami bahwa Willy Widdershins bersama mafia muggle berencana menyelundupkan Narkoba ke Hogsmead." Jawab Ron. "Tentu saja aku langsung memperingatkan Rose dan Hugo Harry. Tapi ku pikir mereka terlalu manis untuk bisa terjebak oleh hal-hal seperti ini." Lanjut Ron.
"Dan demi celana Merlin, apa itu Narkoba? Tanya George lagi yang belum pernah mendengar tentang Narkoba.
Ron memutar matanya tak percaya menatap George yang kelihatan polos.
"Ramuan berbahaya yang diciptakan muggle untuk merusak generasi muda" Jawab Harry sambil melambai ke arah anak-anaknya ketika Hogwarts Express mulai bergerak. "Ramuan itu bisa menyebabkan kecanduan dan merusak saraf manusia."
"Oh, Itu adalah informasi yang sangat penting. Kenapa kalian tidak mengatakanya sejak kemarin?Aku akan langsung mengirim burung hantu kepada Fred begitu sampai di rumah kalau begitu." Kata George, juga sambil melambai.
"Tenang saja George, hari ini kami akan langsung membentuk tim khusus untuk menyelidiki hal ini dan Willy Widdershins sudah aman berada di Azkaban sebelum anak-anak sampai di stasiun Hogsmead malam nanti." Kata Ron mengawasi ekor Hogwarts Express yang mulai menghilang di tikungan. Harry tersenyum sangsi.
"Yah, semoga ucapanmu benar adik kecil, jadi besok kau sudah bisa libur dan datang ke toko untuk membantuku." Ucap George sambil menyambut Caroline yang kembali mendekat kepeda mereka.
"Tidak akan." Jawab Ron agak sewot. "Aku sudah bosan kau jadikan kelinci percobaan George." Beberapa orang tertawa.
Para orang tua yang mengantar anak-anak mereka perlahan beriringan meninggalkan stasiun setelah Hogwarts Express tak terlihat lagi. Beberapa tampak terburu-buru, yang lain tarlihat santai sambil mengobrol dengan keluarga-keluarga lain yang mereka kenal. Harry mendapat beberapa sapaan dari beberapa teman sekolahnya dulu dan teman-teman aurornya.
"Sepertinaya do'amu semalam terkabul Ron." Kata Harry ketika Ginny dan Hermione kembali bergabung bersama mereka.
"Apa?" Tanya Ron Bingung.
"Aku tidak melihat keluarga Malfoy disini." Semuanya terkekeh.
Ketiga pasangan itupun meninggalkan Stasiun Kings Cross bersama-sama sambil tertawa.
ooo O O O oooo
Ctt.
* Auror Surveillens Equipment milik Anindya (Penulis "A Day on the Auror Life's".) peralatan yang dibuatkan oleh Divisi Pengembangan Teknologi Sihi ini dapat digunakan untuk memantau posisi seseorang.
* Hedwig, Errol dan Arnold yang ada di buku Harpot yang dulu sekarang sudah mati semua. Yang ini adalah burung hantu dan Pigmy Puff baru yang di namai sama. (Susah sih bikin nama baru, .hags...)
