Ichigo memandangi gadis yang kini tengah berjalan di depannya. Kalau boleh bicara, sebenarnya Ichigo sedikit tidak percaya tatkala gadis tersebut mengaku bahwa ia adalah Putri tunggal dari Kuchiki Byakuya. Sikapnya yang sebelumnya tidak menunjukkan kefeminimannya sama sekali. Oke, mungkin Ichigo terlalu cepat menilai gadis dihadapannya tapi pada kenyataannya memang itulah yang terlihat.

Rukia sama sekali tidak terlihat seperti halnya para Putri umumnya. Gadis itu bahkan terlihat berani mengacungkan pedangnya pada seorang pemuda berambut merah. Matanya sama sekali tidak menunjukkan ketakutan saat ia harus melawan seseorang yang dengan jelas memiliki bentuk fisik jauh di atasnya. Ia tidak terlihat lemah.

Dalam hati Ichigo berpikir, apakah memang itu hasil didikan dari Kuchiki Byakuya? Bahkan anak perempuan satu-satunya pun pandai memainkan pedang walau keluwesannya dalam menggunakan pedang masih perlu diasah lagi. Namun Ichigo yakin, Rukia pasti bisa menjadi satu dari Sepuluh pengguna pedang terbaik di zamannya kini bila gadis itu serius mengasah permainannya dalam mengayunkan pedang.

#

.

.

Bleach © Tite Kubo

Love or Treason oleh Clarette Yurisa

[tatkala dua hal yang saling bertolak belakang memenuhi hati dan hidupmu]

.

.

#

Sambutan yang penuh hormat membuat keyakinan Ichigo menguap sedikit demi sedikit. Pengakuan gadis itu tentang dirinya yang adalah Putri dari Kuchiki Byakuya mungkin memang benar. Sambutan ini merupakan salah satu buktinya.

Gadis Kuchiki itu berhenti untuk menatap Ichigo yang sejak semula berjalan di belakangnya. "Aku akan berbicara terlebih dahulu dengan Otou-sama, setelah itu aku akan memanggilmu."

Ichigo menganggukkan kepalanya dengan sikap hormat. Sejujurnya, dia enggan bersikap selayaknya orang lain yang patuh pada Rukia atau Byakuya, namun demi kesuksesan misi dia harus melakukannya suka maupun tidak. Yah, memang sudah menjadi resiko baginya.

"Permisi, Tuan," sapaan itu membuat Ichigo memusatkan dirinya pada seseorang yang memanggilnya, "Rukia-sama meminta kami untuk mengantarkan Tuan ke ruang jamuan. Putri juga berpesan bahwa mungkin Tuan akan menunggu dalam waktu yang agak sedikit lama."

Ichigo mengangguk. "Baiklah," sahutnya singkat.

Pemuda tersebut menganggukkan kepalanya sekali sebelum berjalan menuju sebuah ruangan dengan Ichigo yang mengekorinya. Pemuda berambut jingga tersebut hanya bisa membiarkan hatinya tertawa terbahak-bahak saat menyadari ruangan tersebut dipenuhi dengan berbagai macam makanan yang enak dan lezat.

Mungkin ada yang berpikir mengapa ia perlu tertawa?

Coba kalian bayangkan! Seandainya kalian datang ke sana demi sebuah misi untuk menculik sang Putri serta seluruh informasi kerajaan tersebut namun sambutan awal yang mereka berikan justru seperti itu, siapa yang tidak geli melihatnya? Ichigo bahkan sangsi mereka akan tetap menjamunya sedemikian baik bila mereka semua mengetahui niat dibalik kebaikannya tersebut.

Yah, sejujurnya Ichigo juga tidak punya niat buruk saat menolong gadis itu. Karena pada awalnya, ia hanya bergerak secara refleks saat ayunan pedang tadi hampir membuat gadis tersebut terluka. Mungkin Tuhan sedang berbaik hati untuk menolongnya.

"Tuan, silahkan anda duduk sembari menikmati jamuan yang telah kami suguhkan. Kami permisi keluar dan bila Tuan butuh bantuan, Tuan bisa memanggil kami kembali," ucapnya sopan.

Setelah Ichigo mempersilahkan pelayan tersebut keluar, ia mulai menikmati jamuan yang ada di hadapannya dengan lahap.

.

"Aku tidak mungkin menerimanya begitu saja, Rukia."

Ucapan itu adalah kalimat pertama yang Byakuya lontarkan setelah Rukia menceritakan tentang Ichigo kepada ayahnya. Gadis mungil itu terhenyak di tempat detik itu juga. Lalu, apa yang harus dikatakannya pada Ichigo? Pada pemuda yang sudah berbaik hati menolongnya?

"Tapi Otou-sama," Rukia memandang ayahnya dengan wajah memelas, "setidaknya biarkan ia menerima hasil dari kebaikannya. Aku tidak mungkin membiarkan ia begitu saja setelah menolongku."

"Alasan yang sedangkal itu tidak bisa membuatku memutuskan bahwa ia pantas mengisi kekosongan kursi penasihat kerajaan," Byakuya kembali menuturkan sanggahannya.

"Lalu apa yang harus kulakukan? Aku sudah terlanjur mengatakan padanya bahwa ia bisa mengisi kursi tersebut," jelas Rukia.

Byakuya menghela nafasnya. "Seharusnya kau tidak berbicara gegabah seperti itu, Rukia. Kita bahkan tidak tahu apakah ia benar-benar orang baik atau orang jahat yang memiliki niat untuk menyusup ke kerajaan."

Gadis mungil itu menundukkan kepalanya. "Aku minta maaf, Otou-sama."

Suasana hening sejenak sampai akhirnya Byakuya kembali membuka suaranya, "kudengar ia pandai bermain pedang. Apakah itu benar, Rukia?"

Putri Kuchiki itu menganggukkan kepalanya antusias. "Ia bahkan berhasil mengalahkan orang tersebut hanya dalam satu kali serangan."

Byakuya mengernyitkan dahinya tanda tidak percaya. "Kau tidak salah lihat?"

"Tidak," sahutnya sembari menggelengkan kepala.

Terlihat jelas Byakuya tengah berpikir keras sebelum akhirnya Raja tersebut memutuskan sebuah pilihan, "panggil pemuda tersebut untuk menemuiku di ruang latihan. Aku akan menguji permainan pedangnya. Kalau aku merasa cocok dengan permainan pedangnya, mungkin aku bisa menerimanya mengisi kursi kosong yang sebelumnya kau tawarkan."

Penjelasan yang membuat Rukia hampir melonjak kesenangan karenanya.

.

Ichigo tersenyum kecil. "Tidak masalah bila memang Raja menginginkan hal itu untuk menguji kelayakanku dalam mengisi kekosongan kursi penasihat tersebut. Aku justru merasa senang bisa menunjukkan kelebihanku pada Raja yang tengah berkuasa di tempat ini."

Rukia benar-benar tidak bisa lebih lega lagi dibanding kali ini. Lega karena pada akhirnya ia bisa menepati janjinya untuk membuat Ichigo menjadi salah satu kandidat pengisi kekosongan tersebut. Setidaknya ia tidak berbohong dalam ucapan sebelumnya. Kalaupun Ichigo tidak bisa diterima sebagai penasihat kerajaan, itu bukan salah Rukia seratus persen, kan?

"Kalau begitu, Ayo ikut bersamaku,"ajakan Rukia diterima dengan tangan terbuka lebar oleh Ichigo.

Pemuda tersebut untuk yang kedua kalinya kembali berjalan di belakang gadis Kuchiki tersebut. Pikirannya melayang saat mendengar syarat yang Byakuya ajukan untuknya yang disampaikan Rukia barusan. Justru syarat yang Byakuya ajukan membuat Ichigo bisa mengukur kemampuan yang dimiliki Byakuya dengan gelar Raja terkuat zaman ini.

Ichigo tidak mengerti mengapa gelar tersebut bisa Byakuya miliki. Yang jelas, hal itu disebabkan karena darah bangsawan yang mengalir dalam darah Kuchiki Byakuya. Sebetulnya, Ichigo tidak setuju dengan hal tersebut. Memangnya hanya para bangsawan saja yang bisa menjadi orang terkuat? Ichigo merasa bahwa organisasi yang dipimpin oleh Yamamoto banyak memiliki orang yang cukup pandai dalam memainkan pedang.

Lagipula, bila kekuatan yang Byakuya miliki jauh lebih hebat dibandingkan dengan kekuatannya berarti organisasi yang menaunginya tidak akan mungkin berhasil menyelesaikan misi ini, kecuali bila kekuatan Yamamoto berada di atas Kuchiki Byakuya. Mengapa begitu? Karena sejauh yang Ichigo ketahui dia merupakan orang terkuat setelah Yamamoto.

Langkah kaki Rukia yang terhenti membuat Ichigo memaksa dirinya untuk kembali menghadapi realitas yang ada. Halaman yang luas adalah kalimat pertama yang mucul saat matanya mendapati hal tersebut dalam irisnya. Yang terlihat selanjutnya adalah sesosok pria sedang berdiri membelakanginya tak jauh dari tempatnya berada.

"Otou-sama, aku sudah membawa Ichigo," perkataan yang Rukia ucapkan membuat Byakuya membalikkan badannya.

Pria itu terlihat berwibawa, pikir Ichigo. Terlihat melalui aura keseriusan yang menguar di tubuhnya sekaligus perasaan yang membuat orang lain mau tak mau pasti akan membuat diri mereka tunduk tanpa sadar pada sosok tersebut. Itulah apa yang muncul dalam benak pemuda pemilik rambut sewarna dengan senja.

"Kau Kurosaki Ichigo?"

Ichigo menganggukkan kepalanya sebagai jawaban diikuti dengan suara, "benar, nama saya Kurosaki Ichigo."

"Kalau begitu, aku tidak akan membuang waktu lagi. Mari kita mulai," ia berseru sebelum menyerang Ichigo.

Pemuda berambut jingga tersebut tentu saja terkejut melihat Byakuya langsung menyerangnya. Ia memang terkejut, tapi dengan sigap pemuda tersebut mengelak dari serangan Byakuya yang pertama. Ia menggeser tubuhnya selangkah ke kanan dari tempatnya semula.

"Refleksmu cukup bagus," Byakuya berkomentar, "tapi kau tidak mungkin menang melawanku tanpa menggunakan pedangmu."

"Aku mengerti," Ichigo menyahut dengan tenang.

"Kalau begitu, dimana pedangmu? Atau kau tidak berniat menerima pengajuan syarat yang kuberikan?"

Pemuda tersebut menggeleng kecil sembari menampilkan senyum tipis. "Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu, Kuchiki-sama. Aku justru senang dengan apa yang engkau ajukan padaku. Dengan begitu, aku bisa menunjukkan kelebihan dari bakat yang kumiliki padamu."

"Kalau begitu, gunakan pedangmu."

Anggukan kepala adalah jawaban yang Ichigo berikan untuk Byakuya. Pemuda itu mengangkat tangannya hingga tegak lurus dengan tubuhnya serta membentuk sudut Sembilan puluh derajat. Ia bergumam, "Zangetsu."

Setelahnya, Ichigo langsung menyerang Byakuya dengan cepat. Sementara pria tersebut terkejut dengan demonstrasi dari cara Ichigo memanggil pedangnya. Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa pemuda tersebut bisa memanggil pedangnya yang semula tidak berada di tangannya?

Ichigo bergerak lincah. Gerakannya teratur dan tertata rapi membuat Byakuya semakin mengernyitkan dahinya. Kembali bertanya-tanya, siapa sebenarnya pemuda yang tengah melawannya kini.

Saat pedang Ichigo hampir mengenai lengan kirinya, Byakuya segera menahan pedang besar tersebut dengan miliknya. Hal itu membuat desingan besi yang saling beradu mengudara bebas di angkasa.

"Kau cukup pandai bahkan kau bisa bergerak dengan cepat dan lincah. Aku salut dengan kelebihanmu," pria tersebut mengujarkan kalimatnya.

Ichigo lagi-lagi tersenyum tipis. "Terima kasih. Suatu kehormatan bagiku telah dipuji oleh seorang bangsawan sepertimu sekaligus Raja dari pemilik wilayah yang tengah kusinggahi kini."

"Kalau begitu, biarkan aku melihat sejauh apa bakat yang kau miliki itu," Byakuya menjeda sedetik, "Chire, Senbonzakura."

Ichigo sedikit membelalakkan matanya mendapati pedang pria di hadapannya berubah menjadi bunga-bunga sakura yang kini berada di sekitarnya. Otaknya berusaha berpikir, apa yang hendak dilakukan oleh Byakuya dengan kemampuan pedangnya sekarang.

"Mari kita mulai, Kurosaki."

Bersamaan dengan kalimatnya, bunga-bunga sakura di sekeliling mereka bergerak menuju arah Ichigo. Pemuda tersebut berkelit dan terus berkelit. Namun seperti sebuah ungkapan, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Seperti itulah keadaan Ichigo. Sepandai-pandainya ia berkelit, tetap saja beberapa goresan terbentuk akibat tubuhnya yang terkena bunga-bunga sakura tersebut.

Ichigo sedikit geram saat menyadari pakaian yang digunakannya mulai sobek di beberapa tempat. Pemuda berambut jingga tersebut memiliki kebanggaan yang tinggi dan rasa egois yang tidak menginginkan dirinya dianggap kalah sebegini mudah sementara ia belum mengeluarkan seluruh kemampuannya sama sekali.

Maka dengan itu, Ichigo mengangkat pedangnya sebelum berseru, "Zetsuga Tenshou."

Cahaya kebiruan tersebut membuat pedang Byakuya menghentikan pergerakannya. Byakuya bahkan tidak menyangka kalau bocah berambut jingga tersebut sanggup menghentikan serangannya. Hanya para kalangan bangsawan saja yang mampu menandingi wujud pertama dari pedangnya. Sekarang, pria tersebut justru dihadapi dengan kenyataan bahwa seorang pemuda yang tidak jelas asal-usulnya secara suksesnya berhasil menghentikan pergerakan wujud pertama dari pedangnya.

Saat itu juga, Byakuya merasa bahwa Ichigo bukanlah seorang pemuda biasa. Mungkin ada segelintir orang yang mampu menghadapi wujud pertama dari pedangnya, namun baru kali ini ia benar-benar mengalami langsung bagaimana rasanya hal tersebut.

"Cukup. Aku sudah melihat kepandaianmu," ucapannya membuat Ichigo menghentikan serangannya, "aku ingin bertanya beberapa hal padamu. Apa kau keberatan?"

"Selama aku bisa menjawabnya, aku akan menjawab apapun pertanyaan yang kau ajukan," Ichigo menyahut sembari menyarungkan pedangnya. Setelah itu, pedangnya lenyap begitu saja.

"Hal pertama, bagaimana kau bisa memunculkan dan menghilangkan pedangmu seperti barusan?"

"Aku tidak tahu. Yang aku ketahui hanyalah; di saat aku membutuhkan pedangku maka aku akan memanggilnya dan ia akan menyahut panggilanku dan ketika aku menyarungkan pedangku, maka ia akan menghilang dengan sendirinya."

Byakuya mengangguk kecil. "Hal kedua, aku mendengar kau menyerukan sebuah kalimat hingga muncul sebuah cahaya kebiruan yang membuat serangan dari wujud pertama pedangku berhenti. Bisa kau jelaskan?"

"Seruan yang kuucapkan adalah wujud dari kekuatan pedang yang kumiliki. Boleh dibilang, itu adalah serangan tingkat pertama yang kumiliki."

"Apa maksudmu dengan serangan tingkat pertama?"

"Kau pasti mengetahui bahwa setiap pemilik pedang memiliki kekuatan dari pedangnya. Sama halnya denganku. Pedangku memiliki tingkatan dalam penyerangan dan yang tadi merupakan tingkatan pertama dari seranganku," tutur Ichigo dengan jelas.

Sunyi sejenak sebelum Byakuya menanggapi, "tidakkah kau tahu bahwa setiap pengguna pedang belum tentu memiliki kekuatan dari pedangnya?"

Kini ganti Ichigo yang kebingungan dengan pernyataan Byakuya. "Maksudmu apa?"

"Seruan yang kau ucapkan tadi, apakah itu wujud pertama dari seranganmu?" pertanyaan Byakuya disahuti anggukan oleh Ichigo. Pemuda berambut hitam tersebut melanjutkan, "yang kumaksud adalah; tidak semua orang bisa mengaktifkan wujud serangan dari pedang mereka."

Heran mendengarnya, Ichigo kembali bertanya, "lalu mengapa aku bisa melakukan hal itu?"

Byakuya menggelengkan kepalanya pelan. "Aku juga tidak mengerti. Hal ini bisa disebabkan oleh dua faktor. Faktor pertama; kau memiliki pengalaman dan pelatihan yang cukup dalam permainan pedang hingga membuatmu bisa mengendalikan wujud pertama dari seranganmu, sedangkan faktor kedua; kau adalah seorang keturunan bangsawan."

Ichigo diam sesaat sebelum kembali berkata, "berarti aku termasuk ke dalam faktor yang pertama."

Pria tersebut kembali menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa dengan seenaknya menentukan bahwa kau termasuk dalam faktor yang pertama. Pertanyaan keduaku ini ternyata bercabang hingga membuatku harus menanyakan cabangnya padamu. Apakah kau memiliki wujud lain dari seranganmu ini? Karena berdasarkan apa yang sebelumnya kau katakan, kau bicara bahwa pedangmu memiliki tingkatan dalam penyerangan."

Pemuda itu menganggukkan kepalanya. Entah mengapa, kali ini ia terlihat sedikit ragu. Namun pada akhirnya, ia jawab juga pertanyaan Byakuya dengan bibirnya, "ya, aku masih memiliki serangan yang lain dari serangan yang sebelumnya kutunjukkan padamu."

"Bisa kau tunjukkan padaku?"

"Apakah ini ada hubungannya dengan syarat yang kau ajukan?"

Byakuya diam sejenak sebelum menghembuskan nafasnya pelan. "Aku tahu, maaf aku sedikit melenceng. Tapi apakah aku tidak boleh mengetahui sejauh mana kekuatan dari orang yang hendak menduduki kursi penasihatku nanti?"

Ichigo tahu kalau pertanyaan tersebut memang melenceng. Pemuda itu pun juga tahu kalau Byakuya sengaja memancingnya dengan umpan sejauh mana kekuatan yang dimiliki oleh calon penasihatnya. Perasaan ragu kembali menghadang pemuda tersebut. Haruskah ia menunjukkannya kepada Byakuya atau memilh untuk mundur saja.

Sayangnya, Ichigo bukanlah tipe pemuda yang akan mundur sebelum mencoba.

Ia pasti akan melakukan apapun demi menjaga harga dirinya. Dan bakat dari permainan pedang itu merupakan harga diri tertinggi yang dimilikinya. Maka dari itu, Ichigo menyahut pertanyaan yang Byakuya ucapkan dengan anggukkan kepala dan kata; baiklah, akan kutunjukkan padamu.

Pemuda itu kembali merentangkan tangan kanannya seperti semula sebelum pedang besarnya kembali muncul dalam genggaman tangannya. Setelah itu ia berkonsentrasi dengan memusatkan pikirannya pada satu titik.

Dalam waktu yang bersamaan, Byakuya merasakan perubahan atmosfer pada udara di sekitarnya. Hal yang semakin membuat pria tersebut bertanya-tanya siapakah Ichigo sebenarnya.

"Bankai," gumaman Ichigo tertangkap oleh Indera pendengaran Byakuya; hal lain yang kembali membuat Byakuya tercengang, "Tensa Zangetsu."

Sosok pemuda tersebut berubah. Ia memakai sebuah kimono panjang dengan sebilah pedang kecil yang panjang dalam genggaman tangannya. Perubahan itu tidak terlalu Byakuya perhitungkan. Namun kalimat yang tadi diucapkan oleh pemuda itulah yang menjadi masalahnya.

"Bagaimana kau bisa menguasai bankai?"

Ichigo menatap Byakuya dengan pandangan heran untuk yang kesekian kalinya. "Apa ada yang salah dengan kekuatan yang kumiliki?"

Suasana kembali hening. Pada akhirnya, Byakuya berhenti menuntut Ichigo dengan pertanyaan-pertanyaannya. Ia kembali membuka suara untuk mengatakan hal yang membuat Ichigo serta Rukia—yang masih berada di sana—terkejut dibuatnya.

"Aku memilihmu untuk mengisi posisi kosong dari kursi penasihat di kerajaanku," ujarnya sebelum meninggalkan Ichigo dan Rukia yang masih membatu di tempatnya.

Pria tersebut masih memiliki rasa penasaran yang besar dibenaknya. Namun, ia tidak mungkin memaksa Ichigo untuk menceritakan semua hal yang ingin diketahuinya. Setidaknya, sampai sejauh ini hanya sebuah masalah besar yang menyangkut di dalam otaknya. Bagaimana bisa seorang Kurosaki Ichigo yang notabane bukan siapa-siapa bisa menguasai bankai?

Hal yang pasti dan tidak akan berubah hanyalah satu; semua orang bisa menguasai wujud pertama perubahan pada pedang mereka namun yang bisa menguasai bankai hanyalah keluarga keturunan bangsawan.

Byakuya berani berkata dengan lantang bahwa Kurosaki Ichigo bukanlah keturunan bangsawan. Marga pemuda itu bahkan tidak pernah didengar namanya oleh Byakuya. Satu-satunya kegiatan yang akan dilakukan oleh pria tersebut; menyelidiki siapa sebenarnya sosok Kurosaki Ichigo.

.

Yak, terlalu banyak informasi di chapter ini. Yurisa tahu, alurnya mungkin terasa cepet banget dan sorry, guys, Yurisa ga sempet buat ngeditnya. Mohon dimaafkan apabila terdapat banyak kesalahan alias typos di dalamnya.

Special thanks to; delalice, ika chan, Kyucchi, wu, Euriko Ohane. Makasih untuk review minna-san, seneng sekali deh Yurisa atas sambutan baik yang kalian berikan :)

Satu kata penutup yang selalu setia Yurisa ucapkan pada kalian, mind to review?