Here the second chapter. Enjoy, guys. :)
Taemin belongs to SHINee and Sulli belongs to F(x)
SHINee and F(x) © SM Entertainment
OC : Kaemi belongs to Dew Hyun Soek a.k.a Dew Dew
The plot purely mine
.
A sequel of Seoul and Bandung, At Last Tokyo:
Tokyo and Seoul : Hide and Seek
# Chapter Two #
.
Seoul, minggu kedua Juni 2020.
Suara sunyi sang malam menemani sang gadis. Ia meringkuk dalam sudut apartemen kecilnya. Memeluk diri sendiri di keheningan malam.
Gadis itu terdiam. Merenungi nasib. Tatapan matanya nampak kosong dan sembap. Mukanya memerah. Rambut hitam kelam sepunggung yang biasa ia kuncir kuda itu, kini ia biarkan tergerai berantakan. Ada apa? Sebenarnya Tuhan melakukan apa padanya? Lihat, ia begitu kacau. Begitu rapuh.
Ditarik dan dihelanya nafas keras-keras. Kemudian gadis itu menundukkan kepala dalam-dalam. Matanya yang sembap itu terpejam. Dan tiba-tiba saja, sekelebat kejadian tempo hari di café tempatnya berkerja, kembali membayang. Menari-nari dalam pikirannya. Ah, ia bisa gila!
.
.
"Senang bertemu denganmu."
Wanita itu mendekat. Dan dengan gaya sedikit angkuh, ia berjalan mendekati gadis berkuncir kuda itu. "Aku Sulli, tahu kan? Dan aku benar-benar senang bisa ngobrol denganmu, semut."
Kaemi mengepalkan kedua tangannya keras-keras. Ingin rasanya ia menghajar paras rupawan nan angkuh milik wanita di depan gara-gara menyebutnya 'semut'. 'Panggilan 'semut' hanya untuk Taemin-oppa!' pikirnya. "Ka—kau," desis Kaemi tanpa sadar. Sulli hanya mengangkat sebelah alisnya heran.
"Hm? Ada apa? Ada yang ingin kau tanyakan?"
Gadis itu mulai mengontrol emosinya. Dihela nafas pendek sebelum ia berkata, "Silahkan duduk."
Dan dengan gerakan yang anggun, Sulli duduk di bangku terdekat. Tangannya menggapai menu yang tersedia. Sambil melihat-lihat menu, ia berbicara pada Kaemi, yang sudah berbalik dan hendak beranjak pergi. "Oh ya, Kaemi. Aku ingin kau yang melayaniku. Bisa?"
Ugh! Betapa kesalnya ia pada dunia. Oh, apa dayamu Kaemi? Kau di sini hanya pelayan. Hanya pelayan. Dan pelayan harus menghargai tuannya. Menuruti apa mau si tuan. Dunia berasa tidak adil baginya. Maka, dengan wajah sok ramah, ia berbalik dan tersenyum kaku. "Baiklah."
Sulli tersenyum penuh kemenangan. Ia menaruh kembali menunya. "Aku pesan satu steak ayam dan dua jus strawberry."
Dua? Dia pesan dua? Tetapi Kaemi tak ambil pusing. Ia dengan sigap mencatat pesanan sang tamu. "Silahkan tunggu," ujarnya sembari berbalik dan pergi ke arah dapur.
"Pesanan. Steak ayam satu. Jus strawberry dua."
"Oke. Ini jus strawberry. Steaknya tunggu sepuluh menit lagi."
Kaemi mengangguk, lalu tanpa lama lagi, ia mengambil nampan dan menaruh dua jus strawberry itu. Dia membawanya ke meja sembilan, meja di mana Sulli menunggu pesanan datang.
"Jus strawberry dua. Untuk steak, kami mohon waktu sepuluh menit lagi. Selamat menikmati minumannya." Ketika Kaemi hendak pergi ke dapur, Sulli menahannya dengan memegang pergelangann tangan Kaemi. Mencegah gadis itu pergi.
"Mau kemana?" tanya Sulli. Ia menatap langsung mata Kaemi dan melanjutkan kata-katanya, "aku ingin kau menemaniku. Kau ada waktu, kan? Kalau bosmu marah, biar aku yang tangani, okay? Nah, duduklah yang nyaman. Ada sedikit hal yang ingin aku bicarakan. Hanya sedikit. Aku janji, memang benar hanya sedikit."
Dengan pasrah Kaemi mengangguk. Ia menarik sebuah kursi di depan Sulli dan duduk. Ia mencoba duduk dengan nyaman. "Erm, jadi, ada apa sebenarnya?"
Sulli tersenyum. Diambilnya segelas jus yang ia pesan tadi, lalu dengan perlahan Sulli meminumnya. "Satu gelas itu untukmu. Ayo diminum. Aku yang traktir," ujarnya ramah. Dengan ragu-ragu Kaemi mengambil gelas yang tersedia dan meminumnya. Sulli tersenyum lagi dan berkata, "santai saja dulu. Habiskan ya."
Bak anak TK, Kaemi hanya mengangguk-angguk. Ia dalam sekejap, langsung menghabisan jus yang ada di depannya. Yah, dia sih memang tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan minuman jenis apapun. Setelah habis, Kaemi menatap lurus Sulli. "Jadi, ada apa?" tanyanya penasaran.
"Ya, aku hanya ingin bilang," mulai Sulli. Ia menyeruput jusnya kembali dengan tenang. Setelah itu dipandanginya Kaemi. "aku ini hanya ingin memperingatkanmu," lanjutnya.
"Tentang?"
Sulli kembali menarik bibirnya angkuh. "Taemin."
Deg! Serasa ditusuk duri, jantungnya menjadi sakit sekali. Ada apa ini? Apa yang ingin Sulli peringatkan untuk dirinya? Apakah—? Ah, membayangkannya saja membuatnya ingin sekali mual. Memuntahkan kembali jus yang sudah masuk ke perutnya. Perasaannya was-was bukan main. Ia khawatir bukan karuan. Dan sekarang ia berharap bahwa perasaannya ini akan salah. Ia mulai berdoa.
Wanita itu mulai membuka mulutnya. Dan satu kalimat retoris yang pendek keluar begitu saja pada si gadis, "Jangan dekati Taemin lagi." Oh bagus. Malah kalimat itu yang keluar dari mulut Sulli. Namun rupanya, Sulli belum selesai. Dengan wajah yang sinis, ia melanjutkan, "dia itu milikku. Aku mencintainya, begitu pula sebaliknya. Maka, jangan kau coba-coba dekati dia lagi. Mengerti?"
Kau tahu, Sulli? Sepertinya Kaemi benar-benar ingin memuntahkan isi perutnya ke arahmu. Tepat ke mukamu.
.
.
Tokyo, Juli 2020.
Dia meraih pensil yang terletak di ujung meja kerja. Matanya mulai meneliti berkas-berkas yang tertera dengan indah di depannya. Dia berusaha memahami. Berusaha untuk menyelami maksud dari berkas-berkas tersebut. Namun pada akhirnya, ia melempar kertas tersebut, dan menyebabkannya berserakan dimana-mana.
Berantakan! Satu kata itu menggambarkan semua. Mulai dari keadaan ruangan kerja, juga keadaan sang pemilik. Ia merasa frustasi. Tak bisa konsentrasi. Dia terus memikirkan orang itu. Entah mengapa, ia tak mau berhenti memikirkan orang tersebut.
Ia kini mencoba rileks. Ditutpnya kedua mata secara perlahan. Berharap pikirannya bisa sedikit lebih jernih. Tapi ketika ia menutup mata pun, hanya orang itu yang terpikirkan. Kenapa sebenarnya? Kenapa? Ia tak bisa menjawab pertanyaan ini sendiri.
Sosok itu mengacak rambutnya yang memang sudah agak berantakan. Ia bisa merasakan, kini dadanya sesak. Sesak oleh suatu perasaan abstrak yang tidak bisa diterima otaknya. Perasaan aneh yang selalu menghantuinya.
Cintakah ini? Ah, perutnya bergejolak mulas memikirkan satu kata itu.
Akhirnya sosok itu terbangun dari kursi, dan meraih jaket tipisnya. Dengan terburu-buru ia mengeluarkan motor dari garasi. Ia menaikinya dan mulai melaju di jalanan sore Tokyo yang padat. Dengan pasti, sudah ia tentukan tempat singgah.
Sekitar sepuluh menit kemudian, ia akhirnya sampai di tempat ini. Di sebuah apartemen. Oh tidak, tempat yang ia singgahi bukanlah apartemennya. Bukan pula apartemen kenalannya. Ia berkunjung ke apartemen orang yang ia tahu, namun belum ia kenal. Yah mungkin, inilah saatnya berkenalan.
Sosok itu menaiki tangga. Ia berjalan menuju pintu kamar apartemen nomor empat dengan perlahan. Diketuk pelan pintu tersebut ketika ia berhasil sampai. Ia berharap sesuatu yang baik akan terjadi.
Tak lama, pintu tersebut terbuka dan menampilkan sosok seorang gadis. Gadis itu menatap sosok di depannya dengan pandangan heran sekaligus takjub. Mata yang dibingkai kacamata itu menatap sosok di depannya lama. Sedikit rasa tidak percaya menjalari hati si gadis. "A—aa."
"Hai," sapa sosok itu. Dengan senyum yang mengembang, ia kembali melanjutkan perkatannya, "kau Fia? Kenalkan, aku Taemin."
.
Seoul, akhir Desember 2020.
Tiga puluh satu Desember diwarnai salju lembut yang turun ke tanah Seoul. Jalanan kini dipenuhi tawa canda anak-anak yang saling melempar bola salju. Juga ada anak yang tertawa bahagia karena berhasil membuat boneka salju yang lucu.
Tiga puluh satu Desember merupakan hari yang berbahagia di Seoul. Oh, seluruh dunia pun juga begitu. Karena malamnya akan diadakan malam pergantian tahun, di mana sorak-sorai kegembiraan akan lebih meriah pada jam dua belas malam nanti.
Mungkin hanya ada sedikit perasaan bahagia yang muncul di hati Kaemi. Ia lumayan bahagia hari ini karena sobatnya akan datang berkunjung ke Seoul.
Hm, Fia akan berkunjung ke Seoul. Gantian.
Ia tak bisa menahan kedut-kedut senyumnya. Memikirkan Fia akan datang sudah cukup mengobati rasa sakitnya. Gadis itu memang sangat merindukan sosok sahabatnya yang satu itu. Yah, ia ingin Fia cepat datang. Supaya ia bisa curhat.
.
Jam sebelas malam, jalanan Seoul begitu padat. Kaemi kini berdiri di pintu sebuah restoran. Matanya tak henti memperhatikan satu persatu pengunjung yang datang. Ia kembali menatap handphone oranye miliknya. Melihat salah satu inbox message.
Aku menunggumu di depan restoran keluarga FaFa. Jam sebelas. Fia.
Kali ini matanya menangkap sebuah sosok yang amat sangat dikenalnya. Sosok itu berlari ke arah restoran ini. Berlari ke arahnya.
"Sorry. Telat, hehe."
Fia. Dimatanya kini Fia terlihat lebih dewasa. Terlihat lebih matang.
Kaemi tak bisa menahan senyumnya. "Hai Onnie. Yah telat dua menit."
"Ohahaha, benarkah? Ah, padahal empat lebih bagus."
Kaemi mendengus kecil. "Tiga lebih bagus."
Kali ini Fia tertawa renyah. "Yuk masuk. Aku mulai kedinginan nih," ajaknya. Kaemi mengangguk setuju.
Suasana hangat nan nyaman menyapa mereka di dalam restoran. Mereka berjalan dan duduk di bangku dekat jendela, agar bisa sekalian menikmati pemandangan jalan Seoul yang padat.
Kaemi menatap sosok di depannya yang sedang asyik melihat-lihat jalanan Seoul. "Onnie. Aku senang kau mau berkunjung ke Seoul," ujar Kaemi. Fia menoleh lalu tersenyum lembut. "Aku juga senang bisa ada di Seoul. Gantian. Lagipula rasanya tidak adil jika kau pernah menginjakkan kaki di tanah Jepang, sedangkan aku tidak pernah menginjakkan kakiku di tanah Korea. Ya, aku ingin keadilan, moutochan. Haha."
Mereka berdua berbagi kisah, berbagi cerita. Memang asyik sekali mengobrol dengan teman yang sudah lama tidak kau jumpai. Satu jam pun terasa singkat bagi kedua insan ini. Jam kini menunjukkan pukul sebelas lebih lima puluh delapan menit. Dua menit lagi terompet pergantian tahun akan dibunyikan.
Fia menatap Kaemi dalam-dalam. Senyum kembali terpoles di parasnya. "Dua menit lagi, ya? Eh Kaemi, aku ingin kau menutup matamu. Dan bukalah ketika ada aba-aba dariku. Setuju?"
Gadis itu merapikan kuncir kudanya sebelum merengut dan bersungut pada sang sahabat. "Nggak mau. Nanti Onnie ninggalin aku, ya?"
Lagi-lagi gadis putih itu tertawa. "Ngapain aku kabur, eh? Lagian kalau kabur juga, aku bakalan kebingungan. Masalahnya satu, aku nggak bisa bahasa Korea, haha." Fia membetulkan letak kacamatanya. "Jadi, setuju? Aku janji nggak bakalan pergi."
"Baiklah, baiklah."
"Kalau begitu, tutuplah matamu sekarang."
Kaemi menurut. Ia dengan perlahan menutup kedua matanya. Menarik nafas, lalu membuangnya. Sebenarnya apa yang direncanakan oleh Fia? Ia begitu penasaran. Kemudian, ia bisa mendengar Fia berbicara, "Oh waktu tinggal sepuluh detik lagi. Ayo hitung mundur bersamaku, Kaemi." Kaemi hanya mengangguk lagi.
10.
9.
8.
7.
6.
5.
4.
3.
2.
1.
"HAPPY NEW YEAR!" sorak satu restoran tersebut. Kaemi bisa mendengar dengan jelas suara terompet yang ditiup. Dan sekarang, ia mulai gatal ingin membuka matanya. Duh, sebenarnya apa yang ada dalam pikiran sahabatnya itu? Sampai kapan ia harus menutup mata? Sampai ia tertidur?
Dan kemudian, suara Fia menggema menuju telinganya. "Nah, sekarang kau boleh buka matamu, Kaem."
Akhirnya ia boleh membuka mata. Maka dengan sangat pelan, ia membuka kedua matanya.
"Kaemi?"
Dengan cepat ia menolehkan kepala ke arah depan. Matanya membulat tak percaya. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dengan refleks, dia menutup mulut. Matanya yang terbelalak, kini mengurai linangan air yang jernih. Sejujurnya, ia sudah lelah menangis. Tapi jika begini kejadiannya, mau tak mau airmatanya keluar.
Dan Kaemi mengeluarkan suaranya, walau agak tercekat, "Ta—Taemin-oppa?"
.
# Tokyo and Seoul: Hide and Seek ; chapter 2: end #
Jeongmal mianhe! Aku update-nya ngaret nih. Dan rasanya chapter ini pendek banget ya? Ah, mian pemirsa. Dalam proses pembuatan chappie dua ini saya sedang menggalau. Lagi bete abis. Jadi maaf kalau pendek. Tapi tenang, chapter tiga alias chapter terakhirnya bakalan lebih panjang daripada chapter satu.
Seperti biasa, saya mengucapkan miliyaran terima kasih kepada yang sudah meriview. Makasih to the max! Read and review, ya. Lebih banyak review, saya akan lebih cepat update. Tapi itu juga kalau saya nggak kena penyakit WB.
.
Salam cokutam,
FiiFii Swe-Cho.
